Ruang kerja Mikaela tampak hening, wanita ringkih tersebut masih belum sadarkan diri. Sementara Minwo dan Judith masih setia menemaninya, tak banyak kata yang terucap, sepertinya mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Minwo POV.
"Apakah tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, Noona?"
Dia tidak sadarkan diri cukup lama, membuatku merasa sangat khawatir. Baru saja aku membuka pintu membawa nasi goreng kimchi, kupikir dia akan menyukainya. Namun, yang kulihat adalah Judith tengah menggendongnya keluar dari kamar mandi.
Wajahnya terlihat lebih pucat dengan bulir keringat yang membasahi.
Aku berlari membantu membaringkan tubuh lemah itu di atas sofa. Bersyukur aku telah memaksa Judith untuk memberi Mikaela ruangan pribadi yang cukup nyaman.
Tatapan iri dari karyawan lain menambah daftar khawatirku atas dirinya.
Mikaela selalu menyimpan rasa sakitnya sendiri, bahkan saat aku tahu ada salah seorang senior yang mengakui dan meng-klaim desain miliknya. Namun, tidak ada kalimat protes terlontar dari mulutnya, seakan gadis itu menerima begitu saja dan memilih melupakannya.
Aku pernah melihatnya keluar dari kamar mandi dengan mata terlihat sembab. Ada bekas air mata yang dia sembunyikan.
"Aku masih bisa membuat yang lain."
Aku tahu dalam kalimat tersebut ada rasa pahit dan kekecewaan.
Wajahnya selalu terlihat pucat. Aku berpikir kondisi fisiknya rentan, tapi dia berusaha memperlihatkan sebaliknya.
Dia juga sangat sensitif terhadap suhu rendah, hampir setiap hari masuk angin hingga begitu sering memuntahkan makan siangnya, menu dari kantin perusahaan.
Ini sungguh aneh, tetapi aku tetap berpikir mungkin dia belum terbiasa.
Maka kucoba mengajaknya makan bersamaku, makanan yang kumasak sendiri dari rumah. Anehnya, apapun yang kusuka dia juga suka dan tidak sekali pun memuntahkannya. Nampaknya, perut Mikaela bersahabat dengan perutku, selera kami tidak jauh berbeda.
Meski, menimbulkan rasa penasaran di dalam benakku. Bukankah mereka sama-sama makanan Korea?
Mikaela baru pindah ke Korea sekitar sebulan lalu setelah desain yang dia kirim melalui email terpilih untuk mendapat kontrak sebagai desainer pemula. Aku yang memilihnya.
Sebelumnya dia tinggal di Bangkok. Takdir membawanya pada kami. Dia membeli apartemen di sebelah milik kami, aku dan Noona.
Jadi, kami adalah tetangga.
Wanita muda yang berstatus janda di usia 27 tahun, berkulit cokelat bersih dengan mata berwarna cokelat terang. Rambut ikal sebahu yang lebih sering diikat, gadis kami tidak suka berdandan tebal. Sepertinya dia hidup dalam kesederhanaan, meski apartemen yang dia beli cukup mewah.
Beberapa hari aku mengamatinya baik di tempat kerja maupun saat berpapasan di rumah, belum kulihat tanda-tanda kebiasaan anehnya. Dia bahkan melewatkan hangout untuk minum atau pergi ke klub malam. Hanya bekerja, selebihnya keluar untuk belanja di supermarket. Dia tidak memiliki mobil, jadi menggunakan taksi kemana pun.
Sikapnya yang sangat mudah dibodohi dan seakan tidak memiliki rasa dendam membuatku dipenuhi rasa khawatir.
Selain, dia memakan apa pun yang kusukai. Itu poin utama aku suka dia.
Aku tidak memiliki alasan khusus lain untuk menyukainya.
Hanya saja, di antara karyawan wanita di kantor hanya Mikaela yang menatapku berbeda. Dari balik manik cokelat terangnya aku tidak melihat sorot hasrat atas diriku. Tidak seperti gadis lain.
Mikaela bukan seorang yang haus belaian pria atau bahkan memohon untuk sebuah rasa cinta. Tidak juga tatapan mata dengan menyimpan maksud untuk mencuri perhatianku karena hubunganku dengan Judith. Aku tidak berpikir dia haus akan uang.
Meski dia terlihat ketakutan jika berurusan pada para seniornya hingga memilih untuk menjaga jarak dan selalu mengalah. Tapi tidak padaku. Sikapnya padaku berbeda. Hanya Mikaela yang berani berdebat denganku jika itu menyangkut desain.
'Klik,' adalah kata yang tepat untuk kami.
"Minwo'ya, ambilkan minyak angin!" Suara Judith menjeda pikiranku.
Tanpa menjawab aku segera mencari benda tersebut di dalam tas hitam yang dibawa Mikaela. Judith melempar tatapan tajam padaku, aku hanya memicingkan mata dengan senyum miring. Sesaat tanganku menunjukkan benda yang tengah kami cari.
"Kau tahu benda itu ada di dalam tas?"
"Iya. Aku sering melihatnya mengambil dari sana," jawabku.
Dengan sedikit minyak yang diusapkan pada lehernya, hingga bau yang menguar menyegarkan hidungnya, sesaat kemudian mata bulat Mikaela mulai terbuka.
Dia terlihat terkejut dan berusaha mengangkat tubuhnya bermaksud untuk beranjak duduk. Tiba-tiba raut wajahnya berubah tegang dengan mengernyit hingga terlihat lipatan di dahinya, sepertinya Mikaela merasa perutnya kram. Bibirnya mendesis tipis. Oh bagaimana tidak, telah bermenit-menit dia memompa perut untuk muntah.
"Sssttt! Jangan bangun, Kae!" ucapku.
Air matanya menerobos dari sudut matanya. "Maaf!" ucapnya lirih.
Tanpa sadar tanganku terulur mengusap perlahan perutnya, hingga dia merasa lebih baik. Tatapan mataku beradu dengan Judith yang tengah merengkuh tubuh Mikaela. Kakakku tersenyum, lalu aku mengangguk tanda mengerti.
"Nyamankan dirimu, Kae! Sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang!"
"Tapi, Nona---" Kae menawar. Tatapan matanya masih berkaca-kaca, ada rasa menyesal dari sorot itu.
"No debat!" Judith berkata.
________
Judith POV.
Tatapan matanya yang berair sekali lagi menusuk jantungku.
Di usianya yang masih cukup muda tidak seharusnya dia menjadi seorang janda dan terkubur dalam pikirannya akan mantan suaminya. Bagaimanapun, kondisi mental seseorang akan mempengaruhi kesehatan fisiknya.
Mungkin lain kali aku harus mencari tahu hal yang dia sembunyikan dari kami.
Mikaela ....
Dari awal pemilihan desain baju malam, di antara ribuan pelamar, hanya goresan pensilnya yang menarik perhatianku. Lebih tepatnya Minwo.
Anak nakal itu mengatakan bahwa ada aura kepolosan serta percikan dari tiap goresannya. Aku tidak habis pikir dengan penilaiannya. Terlebih ketika Minwo bilang bahwa Mikaela berasal dari Thailand. Ini terlalu gila.
Aku bahkan bertanya apakah sepadan jika harus melintasi batas negara untuk posisi ini?
Sebuah posisi dengan label pemula.
Tampaknya Tuhan yang memilih jalan untuk kami semua bertemu. Secara kebetulan Mikaela telah menjadi tetangga kami.
Apakah Kalian berpikir bahwa semua ini telah direncanakan?
Untuk gadis sebodoh dia?
Oh, tidak. Aku telah memastikan sendiri hingga cukup yakin berapa ram di otaknya.
Aku telah mencari tahu semua tentang dia, baik pribadi maupun sekolahnya yang terputus, serta keluarganya, kecuali kehidupan pernikahannya dengan seorang pria Thailand bernama David.
Informasi tentang mereka berdua terputus. Aku tidak menggalinya lebih jauh karena bukan urusanku, maka aku melepaskan begitu saja masalah tersebut.
Setelah seminggu lebih dia bekerja di J.H Fashion kulihat gadis itu mulai menarik perhatian Minwo. Aku menyadari bahwa adikku mulai menambah bekal makan siang satu lagi untuk Mikaela. Saat itu, wanita muda yang lebih nyaman kusebut gadis tersebut masih belum menyadari bahwa aku adalah bosnya.
Kami tetangga, Mikaela tahu. Bahwa aku adalah saudarinya Minwo, dia juga paham. Tapi, untuk namaku, dia bahkan tidak pernah berminat untuk bertanya.
Hingga aku menghampiri mereka saat makan siang di kantin. Saat itu Mikaela seperti terkesiap atas kehadiranku, lalu menatapku lama dengan setengah melamun. Kurasa mungkin saat itu dia membeku olehku.
Atau mungkin juga telah menjadi sebuah kesenangan yang selalu dia lakukan.
Karena, mirip terpesona dengan wajahku.
Oh, ayolah ... kami bahkan baru saja bertemu.
Tapi, jika dipikir lagi, nampaknya gadis ini telah menyerah kalah atas diriku. Dia mirip seorang omega yang berpikir menemukan aku sebagai mate-nya. Itu terdengar sedikit konyol.
"Minwo, Kakakmu mencari!" bisiknya lirih saat aku melangkah mendekat.
Gadis konyol, dia bahkan tidak menyadari tatapan hormat dari semua karyawan yang ada di kantin, hingga Gauri datang.
Saat menyadari asistenku memanggilku 'bos', Mikaela terlihat sangat terkejut hingga spontan menutup mulutnya.
"Boss??" Seolah menjadi seorang paling bodoh di sana, dia menatap kami bergantian.
_______
Pagi ini untuk kesekian kalinya aku membawa Mikaela pergi dan pulang kerja bersamaku.
Entah untuk alasan apa, tapi aku merasa terganggu melihatnya dan Minwo terlalu dekat, termasuk duduk dalam satu mobil.
Mungkin aku telah menjadi kurang waras karena memaksa untuk mengambil alih tugas tersebut.
Di luar dugaan, alih-alih memprotes untuk bertahan dan tetap mau bersama gadisnya, Minwo merespon dengan bersorak menang. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalanya.
Kurasa semakin sering bergaul dengan Mikaela membuatnya tertular penyakit bodoh.
Namun, di sisi lain aku paham bahwa Mikaela secara perlahan telah menduduki urutan kedua dalam daftar orang yang dia khawatirkan keselamatannya setelah aku tentunya.
Aku cemburu?
Oh, ayolah! Itu pemikiran aneh.
Untuk apa?
Dia hanya seorang karyawan biasa seperti yang lainnya. Iya, seorang karyawan yang sedikit menarik perhatianku.
Ada sesuatu darinya yang menarikku untuk mendekat secara alami. Selain cara berbicaranya yang seolah menganggapku berada di level sama dengannya, cara dia menatapku pun cukup unik.
Mikaela sering menatapku lekat seolah dia mau tubuhku berada sangat dekat dengannya--atau bahkan menghimpit tubuhnya.
Aku sempat berpikir mungkin dia tengah berusaha mencuri untuk membauiku. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia berusaha keras menghirup dalam-dalam aroma tubuhku. Lalu mataku juga menangkap ketika tubuh gadis itu membeku beberapa detik. Ini mirip seseorang yang sakau dan menjadikanku candu atas kebutuhannya.
Perasaan membutuhkan yang sangat hingga mungkin akan mati ketika tidak mendapatkannya.
Benar, itu yang kutangkap saat kami berdekatan.
Selain ... kebiasaannya menggigit bibir bawahnya saat berada dalam situasi canggung.
Semakin kuperhatikan caranya menggigit bibir, ternyata cukup terlihat sensual. Bagaimana bibir lembut tersebut beradu dengan gigi putihnya.
Oh, terlintas dalam otakku untuk menggantikannya melumat dan menghisapnya lembut, lalu kuakhiri dengan gigitan kecil.
Aku menekan diriku dari mendesah ketika dia melakukannya. Namun, hal itu juga yang menjadikanku kesal untuk melihat dia melakukannya di depanku sambil menunduk canggung.
Semua karena hasratku tersulut.
Maka hari ini tak bisa lagi kutahan mulutku dari memprotesnya. Pilihannya hanya dua, yaitu memintanya berhenti atau memakan bibirnya saat itu juga--yang tidak mungkin berhenti pada bibirnya saja.
Apakah aku tadi berpikir untuk menjilat, menghisap, dan menikmati tubuhnya ..., terutama tubuh bagian bawahnya?
Setiap detail tentang dirinya mulai membuatku frustrasi.
"Tidak, jangan lagi!" perintahku.
"Iya?" Dia mendongak untuk menatapku penuh tanya.
"Jangan menggigit bibirmu lagi, Kae!" Sial! Mulutku kelepasan.
Sekilas aku melihat ketakutan di matanya atas kalimatku. Di saat yang sama dari manik cokelat terangnya juga menampakkan percikan bahagia. Sorot mata itu terlihat mirip sebuah cermin. Terpampang nyata tanpa hal yang tertutupi.
Aku terkesiap atas kata-kataku sendiri, wajahku mulai memanas, tak mungkin kubiarkan gadis ini membaca hal yang dia ingin tahu dari balik mataku. Maka aku secepatnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya.
"Sial! Bibirnya begitu menggemaskan. Hasratku meronta," aku menggeram pelan ketika sampai di ruanganku.
_______
"Nyamankan dirimu, Kae! Sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang!" aku berkata.
"Tapi, Nona …." Mikaela menawar. Tatapan matanya masih berkaca-kaca, ada rasa sesal tertangkap olehku. Mungkin juga dia merasa takut padaku, lalu ketakutan yang melebihi kesehatannya tersebut membuatku semakin gemas.
"No debat!" Keputusan akhirku.
Gadis yang aneh. Itu yang lagi dan lagi terpikirkan olehku. Dia bukan tipeku sama sekali--jauh dari sempurna dan hanya akan menjadi batu sandungan saja jika berpikir untuk memiliki.
Tapi, saat Minwo mengirim pesan singkat tentang keadaannya beberapa menit lalu, tanpa berpikir panjang aku berjalan cepat meninggalkan ruanganku. Mengabaikan beberapa tamu pentingku. Persetan dengan mereka semua.
Aku tidak tahu apa yang menjadikanku seperti ini. Kurasa sebentar lagi aku akan sulit berjauhan darinya karena rasa khawatir yang menyeruak setiap detiknya.
Aku bahkan tidak menggenggam alasan untuk setiap sikap impulsifku jika menyangkut dirinya.
Yang jelas, jiwaku terseret dengan rasa khawatir yang terasa mirip mencabik dadaku. Aku mau ada bersamanya saat ini juga.
Gadis ringkih itu, pagi ini memang terlihat kurang sehat--meski sejak pertama kerja dia telah terlihat menguatkan dirinya.
Saat aku memasuki ruangannya, adikku beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke pantry bermaksud memasakkan nasi goreng kimchi untuknya. Iya, pemeran utama kita yang tengah memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Aku berjalan cepat memasuki kamar mandi yang terbuka, tampak Mikaela tengah berjongkok masih dengan menggeram berkali-kali atas rasa tak nyamannya.
Tuhan, kurasa gadisku tengah masuk angin lagi.
Semua berjalan begitu saja tanpa melibatkan logikaku. Aku bahkan membiarkan jemariku terulur untuk memijit tengkuknya. Kurasakan tubuhnya berjengit, mungkin dia kaget. Tapi, kurasa apa yang tengah memerangkapnya belum mau melepaskannya bahkan untuk memalingkan wajahnya menatapku. Kurasa dia juga tidak menyadari keberadaanku.
Nampaknya, rasa mual membelenggu atensinya.
Hingga beberapa menit kemudian saat dia mencoba beranjak bangun, tubuh lemas tersebut meluruh jatuh jika saja aku terlambat merengkuhnya.
"Kae! Oh, God! Kaehh!" Aku berteriak berusaha menggugah kesadarannya tapi sia-sia.
Dia hanya bergumam lirih menyebut namaku sebelum akhirnya menyerah untuk pingsan.
___________
"Makanlah sedikit lagi, Kae!" bujuk Minwo. Gadis kami menolak, tapi setidaknya lima sendok nasi goreng itu telah memasuki perutnya.
"Ah-aku mual, Minwo!" Dia berkata lirih.
"Okay. Kita pulang sekarang!" Suaraku menginterupsi perdebatan mereka. Entah kenapa aku cukup terganggu bahkan ketika keduanya tengah berdebat. Bukan karena cemburu. Catat itu!
"Uhm ... akan kukerjakan tugasku di rumah, Nona." Mikaela bahkan masih memikirkan pekerjaannya.
Tanpa menjawab, segera kubantu dia untuk beranjak bangun. Tubuhnya masih lemas. Minwo merasa begitu tidak tega, maka dia menyelipkan tangannya pada bahu Mikaela dan meraih sisi belakang pahanya, lalu menggendongnya ala bridal menuju mobilku yang telah tersiapkan di depan kantor.
Aku sempat kaget atas tindakan tiba-tiba adikku. Untuk sesaat mataku membulat, namun aku paham semua karena dia khawatir pada tetangga baru kami. Benar ..., pasti itu yang terjadi.
"Apakah kau mau kuantar ke rumah sakit?" Aku berkata, sementara Mikaela bersandar di kursi yang berada di sebelahku dengan tubuh lemahnya memalingkan wajah malas untuk menatapku lekat.
Kurasa dia begitu menguatkan dirinya di depanku. Atau mungkin bersikap sok kuat. Aku bahkan tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya saat ini.
Sesaat, terlihat dari ekor mataku tubuhnya berjengit dan sedikit bergetar. Spontan dia menggunakan telapak tangan untuk menutup mulutnya. Sepertinya dia merasa mual lagi. Maka kupelankan laju mobilku untuk menepi dan berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Kau ingin muntah lagi?" Aku bertanya padanya.
"Maaf, Nona. Ti-tidak!" Ucapannya terdengar cukup tak jelas karena mulutnya masih dia bekap.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Apakah kita ke rumah sakit saja?" Aku kembali bertanya meminta persetujuannya.
"Ti-tidak. Hanya …." Kae mencicit.
"Katakan!" Aku meminta, bukan ... tapi memberi perintah. Sikapnya yang lamban sungguh sangat jauh dari seorang aku. Ada rasa gemas yang menyeruak setiap berbicara dengannya.
"Uhm ... tidak jadi," Dia merasa canggung. Lalu aku semakin tidak sabar. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya untukku menahan dari sikap keras kepalanya.
"Kae!" ucapku dengan memberi penekanan. Mataku menatapnya lekat. Sementara lipatan di dahinya semakin nampak.
"Bau parfum Anda, aku merasa lebih baik dengan menghirupnya." Akhirnya kalimat yang terdengar cukup absurd itu keluar dari tenggorokannya yang terdengar mirip tercekat ketika mengucapkannya.
"Maka lakukan!" Aku menyuruhnya. Dengan perasaan penasaran, apa yang akan dia lakukan dengan bau tubuhku. Gadis aneh.
Kae melepas sabuk pengaman untuk berusaha beranjak dengan susah payah, tubuh mungilnya menaiki pangkuanku, memeluk dan mengubur wajahnya di perpotongan leherku. Aku terkesiap hingga harus menekan napas, air liurku menumpuk di tenggorokan atas tindakannya yang tak kusangka. Aku bahkan menelan ludah kasar.
"Huhhh ... ahhhmmm ... maaf, Nona!" Dia berkata di antara kesibukannya mengendus dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhku. Beberapa saat, lalu kurasakan tubuh tegangnya perlahan rileks. Seakan setiap otot di sekujur tubuhnya yang sesaat lalu stress kini mengendur.
Ini telah berada sedikit jauh dari nalar, dari nalarku karena ekspresinya lebih mirip seseorang yang mengalami euforia setelah menderita oleh sakau yang mungkin akan mati jika tidak mendapatkan obatnya.
Aku merasa seperti candu baginya.
Tangannya bergerak melingkari punggungku untuk mengusapnya pelan. Lagi, aku merasakan desiran aneh mengisi laju darahku. Membuat tanganku terulur untuk mengusap rambut dan membelai punggungnya.
"Baby …." Dia bergumam lirih dengan napas menyembur teratur di dadaku. Mataku meliriknya, dia tertidur.
Tuhan, apa yang tengah dia alami?
Penyakit apakah yang membuat gadis muda ini begitu menderita?
Banyak kalimat tanya yang mulai mengambil posisi mereka untuk berebut memenuhi ruang di kepalaku.
Aku juga menyadari sesuatu yang bahkan tak dapat kumengerti, bahwa saat ini hatiku merasa tertusuk duri, namun ada rasa nyaman di saat yang sama.
Rasa nyaman setelah menyimpulkan berdasarkan asumsiku pribadi, bahwa aku adalah candu baginya. Benar, dia mungkin akan sering mencari pelukanku untuk mengendus bau tubuhku.
Mungkin dia telah menyeretku untuk jatuh bersamanya, mungkin juga aku yang telah rela untuk berpikir sama sepertinya saat ini. Aku tidak memiliki alasan jelas untuk. Hanya berpikir bahwa dia telah sangat membutuhkan bau tubuhku melebihi obat dari dokter, kurasa hatiku menghangat.
"Mikaela, aku milikmu." Aku bergumam lirih.
Bersambung.
Mikaela POV.
"Kau ingin muntah lagi?" Nona Judith bertanya.
"Maaf, Nona. Ti-tidak!" Kata-kataku mungkin tidak terlalu jelas karena mulutku masih kubekap.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Apakah kita ke rumah sakit saja?" Dia bertanya.
"Ti-tidak. Hanya--" Aku mencicit. Mengatakan yang kumau hanya akan menjadikanku seorang kurang ajar, aku hanya seorang karyawan biasa dengan rasa ingin yang terlalu aneh untuk seorang sepertinya. Dia bahkan tidak tahu bahwa semua ini karena hormon kehamilanku.
"Katakan!" Dia meminta.
"Uhm ... tidak jadi." Aku merasa canggung, di sisi lain juga sangat membutuhkan bau tubuhnya. Benar ..., hanya dia dan aroma parfum yang dipakainya.
"Kae!" Dia menatapku lekat ketika mengatakannya dengan memberi tekanan pada ucapannya.
Aku masih berdiri dengan keras kepalaku dan bertahan dalam kecanggungan. Namun, sepertinya sosok di dalam rahimku tidak menerima itu, seolah bergejolak kurasakan sesuatu mengaduk perutku--memaksa keluar, bahkan air liur telah mengumpul di tenggorokanku. Aku menelan ludah kasar, sensasi rasa yang mencekat ini sungguh menyiksa, sangat sulit menahan rasa mual yang tidak tahu tempat dan situasi. Tidak dapat lagi kutahan.
"Aroma parfum Anda. Aku akan merasa lebih baik dengan aroma tersebut--yang beradu dengan bau tubuh Anda. " Aku berkata.
"Maka lakukan!" Dia menyuruhku. Tidak ada kalimat setelah itu, hanya tatapan mata yang kutangkap sebagai rasa penasaran. Itu wajar, aku memahaminya.
Aku bahkan tidak sedang menggenggam alasan untuk mauku ini.
Serabutan jari-jariku melepas sabuk pengaman untuk berusaha beranjak dari tempatku. Susah payah kubawa tubuh ringkihku dengan perasaan tak karuan yang masih menyeruak memenuhi dadaku, untuk bergerak menaiki dan duduk di atas pangkuannya.
Hanya dengan menatap belahan dadanya yang tersingkap otakku dengan nakalnya telah berjalan menjauhi nalarku. Oh, kenapa di saat Baby menginginkan bau tubuhnya hasratku sedikit tercubit.
Kubiarkan diriku menyerah dengan mendekat untuk memangkas jarak di antara kami. Aku bahkan tak sungkan lagi memeluknya untuk kemudian mengubur wajahku di perpotongan lehernya.
Kurasakan tubuhnya berjengit, wajar jika dia terkejut atas sikap kurang ajarku. Namun, rasa mauku menjadikanku seorang egois dan memilih mengabaikan setiap respon tubuhnya.
Aku juga bisa merasakan bahwa dia tengah menekan napasnya. Dapat kurasakan Judith menelan ludah kasar.
"Huhhh ... ahhhmmm ... maaf, Nona!" Mulutku hanya mampu mengatakan sekenanya, sementara hidungku sibuk mengendus dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya untuk beberapa saat.
Sumpah, aku tidak memiliki alasan untuk ini. Tapi, aroma darinya yang tertangkap oleh hidungku membuatku membeku beberapa detik seolah aku adalah seorang yang sakau dan menemukan zat yang memberiku rasa nyaman.
Aroma tubuh Judith adalah candu. Perlahan tubuhku yang tegang kembali rileks, setiap rasa tak nyaman sesaat lalu seolah memudar, aku tidak lagi merasakan mual yang sangat. Karena, gejolak dalam perutku mereda, kurasa baby telah kembali tidur tenang di dalam rahimku.
Haruskah kucari tahu kenapa Baby sangat suka bau tubuhnya?
Ataukah harus kucari tahu juga tentang kesukaan Baby dan Minwo yang begitu sama dan selalu bisa mentolerir apa pun yang dia berikan untuk?
Ahhh ... persetan dengan semua itu. Kadang tidak butuh alasan untuk rasa suka.
Tanganku masih melingkari pinggangnya, tentu tubuhku menempel sempurna pada tubuh berisinya dengan sangat nyaman.
Sepertinya ..., Judith adalah rumah nyaman untuk baby. Bukan ..., tapi juga rumahku. Entah kenapa aku mau ini tidak pernah berakhir. Setidaknya hingga rasa puas menyapaku.
Lalu, tubuhku sedikit berjengit untuk bergetar ketika merasakan tangannya bergerak untuk mengusap rambutku dan membelai punggungku.
"Baby …," gumamku lirih. Perlahan setiap keresahanku sesaat lalu memudar seiring mengendurnya otot dan syaraf di sekujur tubuhku.
Sekali lagi aku menyerah oleh lelap yang menyeret kesadaranku dengan janji rasa nyaman lebih. Secara perlahan pula semua tampak putih. Aku terlelap dalam rengkuhan hangatnya.
"Mmmhhh …," rintihku lirih.
"Kau telah basah, Kae!" Dia berkata.
Sengaja aku mengabaikan kalimatnya dan memilih memejamkan mata menahan rasa nikmat ini. Tanganku meraih sprei semampu jemariku untuk merematnya kasar, berharap dia melakukan lebih pada bagian bawah tubuhku yang telah basah. Namun, dia berhenti. Aku merasa kecewa.
"Kau ingin aku manjakan dengan lembut atau kasar, humm?" Dia bertanya, memaksaku menatapinya lekat, entah sejak kapan senyumnya bisa membuai anganku. Di saat yang sama aku menjadi kesal karena dia berhenti dan membiarkanku tersiksa oleh rasa ingin yang tertunda. Dia memainkan emosiku.
"Nona--" Kalimatku menggantung. Bukankah seharusnya dia bisa membaca ekspresi kesal di mataku?
"Katakan!" Dia bertanya. Bukan ..., tapi memerintah.
"Aku mau bibir Anda." Aku mengucapkan kata terakhir dengan lirih karena malu. Pipiku memanas, kurasa wajahku telah merah.
Oh, tidak seharusnya mulutku mengatakannya, tapi aku mau lagi. Dan dia bukan seorang yang akan melepaskanku begitu saja untuk memberi mauku tanpa jawaban dari mulutku.
Sebelum aku melanjutkan kalimatku, dia telah mengubur wajahnya pada kewanitaanku. Bibirnya bulat penuh mulai mengecup, menghisap, melumat dengan lembut setiap bagian dari milikku yang mulai terbasahi cairan bening dan menjadi semakin basah ketika ujung lidahnya bergerak dengan sensual meneliti dan menyelidiki bagian yang sudah sangat sensitif tersebut.
"Aaakhh, Nona!" Tubuhku merespon dengan sedikit terangkat hingga punggungku terlihat melengkung membuat payudaraku lebih menyembul--menggoda tangannya untuk meremas lembut.
Namun, dia berhenti lagi. Oh, aku menjadi cukup frustrasi atas sikapnya yang tarik ulur.
"Judith! Panggil namaku!!" Tuhan, apapun maunya akan kuturuti. Aku mau ... aku ingin lebih
"Juh-dith …," desahku.
"Kae ... Kae! Are you okay?" Lamat kudengar suara serak basahnya membangunkanku.
Ini kejam, ketika aku membuka mata dan mengumpulkan kewarasanku hanya untuk tahu bahwa semua kesenangan tadi hanya sebuah mimpi. Rasanya ingin menangis.
Aku merasa lemas saat mencoba untuk bergerak memiringkan tubuhku, kurasakan tanganku masih memeluk perut seseorang. Lalu mataku membola, aku terkesiap dan mengerjapkan mata beberapa kali.
"Nona Judith?" Aku salah tingkah, segera kutarik mundur tubuhku darinya, sementara dia tengah asik mengamati sebuah buku sketsa berwarna biru dengan motif kupu-kupu. Seolah dia mengabaikan reaksi terkejutku.
"Kau sudah bangun?" Dia bertanya.
Aku beringsut menjauhkan diriku darinya, meringkuk untuk takut dan canggung bersamaan.
"Yes, miss? A-apakah kita sedang berada di kamarku?" Aku bertanya. Bulu-bulu halus di sekitar tengkukku telah bersiap untuk berdiri seiring aura dominan yang kurasakan menyeruak menguar darinya.
"Humm. Kamu tertidur di mobil tadi. Jadi aku tanya ke Minwo kunci rumahmu." Judit mengatakannya begitu saja seperti tanpa ekspresi. Aku semakin meremang oleh asumsiku sendiri.
"Uhm ... maaf." Aku berkata lirih.
Sungguh memalukan, rasanya aku ingin tenggelam di danau saat ini juga. Terakhir yang kuingat adalah ketika aku mengendus bau tubuhnya.
Oh, tidak. Besok pasti dia akan memecatku.
Pekerjaanku. Haishhh! Kenapa dengan hari ini?
Otakku dipenuhi oleh kalimat-kalimat menakutkan ketika aku memikirkannya lagi. Lalu mataku memanas dengan air mata yang kurasa telah menggantung.
"Kau merasa kurang nyaman, hemm?" Dia bertanya seolah aku adalah orang yang telah biasa melakukan setiap hal lancang tadi.
Aku hanya menggeleng. Air mataku jatuh setetes, ada rasa sakit menyeruak dalam hatiku. Aku akan kehilangan impianku karena sikap kurang ajarku.
"Hiks--" Mulutku tercekat, bagaimanapun aku menahan suara lebay tersebut tapi sia-sia.
"Sssttt! Hei, kenapa? Kenapa kau menangis Mikaela?" Sia kembali bertanya atas reaksiku.
"M-maaf, Nona." Aku menjawab dengan tergagap oleh rasa takut yang begitu menyergapku. Berpikir bahwa menangis pun adalah sebuah kesalahan, aku sungguh menahan mulutku dari terisak.
Alih-alih marah, dia hanya terkekeh. Meletakkan buku yang tengah menarik atensinya pada nakas, lalu bergerak merangkak mendekatiku.
Judith telah bergerak menuju padaku, membuat dadaku berdebar semakin berantakan ketika dia terlihat tidak berniat berhenti dan semakin memangkas jarak di antara kami. Lalu, jari-jari rampingnya terulur menangkup kedua pipiku, sementara aku begitu terkejut hingga harus menekan napasku.
Oh, kurasa debaran di dadaku terdengar olehnya.
Mataku mengerjap, ada setetes air mata yang menggantung kini terjatuh, ibu jarinya bergerak pelan mengusap lelehan yang membasahi pipiku.
Aku tidak dapat menolak ketika dia belum puas dan semakin mendekatkan wajahnya, hanya memilih untuk menutup mata perlahan.
Dadaku berdebar begitu keras hingga aku bisa mendengarnya. Kurasa Judith akan menciumku.
Namun, yang terjadi di luar nalarku. Tidak, apakah dia adalah Judith Han?
Alih-alih menciumku, ternyata dia hanya meniup keningku. Sontak kubuka mataku terkesiap oleh sikap tiba-tibanya.
Ini telah keluar dari jalur. Dia bukan seorang yang biasa untuk bermain atau menggoda seseorang.
Untuk beberapa detik otakku membeku, aku diam dan hanya menatapi bagaimana laju napasnya yang terasa sedikit bebeda dari biasanya. Harum napasnya menyembur wajahku--yang tertangkap olehku sedikit berantakan.
Adakah dia juga merasakan kegugupan sepertiku?
Sebelum otakku menggali kalimat asumsi lebih dalam aku telah dikejutkan oleh jarinya yang menyentil pelan dahiku. Aku hanya merespon dengan mengernyit takut.
"Gadis bodoh!" Dia berkata lirih. Kulihat senyum teduh tersungging di bibirnya seolah berkata bahwa tidak ada hal serius yang harus kutakuti.
Oh, aku bisa terkena serangan jantung dengan berpikir bahwa dia merespon rasaku. Rasa yang cukup aneh ketika di antara banyak wanita yang pernah kutemui hanya dia yang kumau secara s*xual.
__________
Judith POV.
"Gadis bodoh!" Aku berkata lirih sambil tersenyum. Dia sungguh aneh, tapi juga menggemaskan.
Ada saatnya gadis bodoh ini menyeret sukmaku untuk dengan suka rela mengikuti alurnya. Juga, ada kalanya dia menyusup masuk ke dalam pikiranku dan menetap beberapa saat--yang ketika pergi menyisakan kenangan-kenangan konyol namun manis. Hingga kadang membuatku mengulum senyum, atau bahkan menggeram pelan pada diriku sendiri.
Ketika tidur, Mikaela terlihat seperti bayi yang tanpa beban, atau mungkin seseorang yang meletakkan setiap masalahnya untuk sementara waktu.
Jika kuperhatikan lekat setiap inci wajahnya, kulitnya tidak putih, namun cukup bersih. Mikaela seperti batu dalam sungai yang tidak cukup berharga namun mampu menunjukkan seberapa dalam air tersebut.
Aku bahkan tidak memiliki alasan untuk setiap sikap impulsifku, termasuk mengusap pelan dahinya, juga ... menyelipkan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya. Dia terlihat sangat kelelahan.
Otakku mulai berpikir tentang penyakit yang tengah memerangkap tubuhnya.
Mikaela merintih dalam tidurnya mirip menggumam lirih, tertangkap oleh telingaku bahwa dia sedang menyebut namaku. Sementara keringat membasahi dahinya, namun wajahnya nampak memerah.
Terbersit pertanyaan aneh yang menggelitik rasa ingin tahuku. Apakah dia sedang bermimpi ... mesum?
Tiba-tiba wajahku memanas karena asumsiku sendiri. Maka kualihkan pandanganku menyapu ruangan yang cukup besar ini.
Tertangkap oleh mataku sebuah buku yang tergeletak di nakas, di atasnya nampak sebuah pensil dan sebuah karet penghapus. Itu adalah buku sketsa.
Maka aku memutuskan untuk mengambilnya.
Mikaela adalah gadis tekun untuk hal yang dia sukai. Ketika kubuka lembar demi lembar kertas putih yang penuh goresan-goresan pensil tersebut, ada satu di antara mereka yang membuatku tersedak. Tenggorokanku tercekat untuk sesaat, bahkan sulit menelan ludah.
Benar, satu desain yang membuatku lengah untuk sesaat hingga tanpa sadar aku mendaratkan diriku di samping tubuhnya yang tengah tertidur pulas.
Mataku menatap lekat goresan-goresan pensil tersebut. Padahal hanya desain baju bermain yang sederhana, namun hatiku merasa terkoyak dan dia menyusup dalam jantungku, ikut mengalir dalam darah yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dalam gambarnya aku dapat melihat diriku saat masih muda--dimana saat itu hanya ada bahagia bersama kedua orang tuaku. Mikaela dapat menggiring emosiku untuk kembali mengenang masa itu.
Mikaela telah sedang mencuri hatiku.
________
Aku beranjak dari ranjang menuju dapur apartemennya. Meninggalkan gadis bodoh tersebut yang masih diam seolah mematung atas sikapku barusan. Padahal hanya menyentilnya pelan. Kurasa dia telah menjadi serba salah. Apapun itu.
"Bubur? Tidak masuk. Nasi goreng kimchi? Tapi tadi sudah. Ssshhh ... apa sebaiknya aku menelpon Minwo?" aku bergumam sendiri.
Saat kulirik jam, ternyata telah memasuki sore, mungkin menyuruh Minwo pulang bukan ide buruk. Aku menyeringai, biarkan adikku yang melakukan tugas dapur.
Judith: "Minwo'ya. Pulang dan masakkan sesuatu untuk Mikaela!"
Minwo: "..."
Judith: "Sepuluh menit kutunggu di apartemen Kae. No debat!"
Klik.
Pasti saat ini dia tengah menyetir dengan frustasi. I don't even care. Sebaiknya aku melihat gadis itu.
"Kae? Apa yang mau kau ma--" Kalimatku terhenti ketika kakiku memasuki kamar luas milik Mikaela.
Gadis muda ini kembali terlelap. Mulutku melongo untuk sesaat. Lalu kubawa tubuhku mendekatinya yang meringkuk tertidur di pinggir kasur. Perlahan kuselipkan tanganku pada tengkuknya, dan tangan yang lain meraih bagian belakang lututnya, lalu kuangkat tubuh ringkih yang terlihat cukup berisi tersebut dan menidurkannya dengan posisi yang nyaman.
"Kau begitu cepat sekali tertidur, Gadisku!" Aku bergumam.
Ketika kutatap kembali ternyata Mikaela cukup cantik, meski agak ... bodoh. Rambut ikalnya yang terurai, meski hanya sepanjang bahu namun begitu lembut. Matanya cukup mempesona dengan bulu mata yang tidak terlalu tebal--bentuknya yang bulat, saat tertutup bagai sebutir bawang merah yang dibelah dua. Hidungnya yang bulat, tidak terlalu mancung, tapi pas dengan bentuk wajahnya yang bulat--sedikit chubby. Serta, bibirnya ….
Aku berjalan menuju sofa tunggal yang menghadap langsung pada tempat tidur king size tersebut. Mendaratkan pantatku, dan bersandar, kemudian melipat kedua lengan pada dadaku--sembari menatap bibir basahnya yang kurasa mungkin lembut jika bibirku melumatnya. Kurasa otakku sesaat travelling.
Mikaela menggeliat resah, tubuhnya yang cukup berisi bergerak pelan menambah kesan seksi. Matanya yang indah mulai terbuka, terulas senyum pada bibir lembutnya.
"Judith," dia berkata lirih. Senyum yang tersungging seakan mengundangku untuk mengecupnya. Tidak.
Gadis yang biasanya diliputi rasa canggung telah hilang, dengan percaya diri dia beringsut untuk beranjak dari kasur yang dia tiduri. Baju tidur berwarna hitam yang membalut tubuhnya, tipis, bergerak mengikuti gerakan tubuhnya yang sensual.
"Humm?" Aku bertanya. Namun tidak beranjak dari dudukku. Apa yang akan dia lakukan?
Mikaela menghampiriku untuk duduk di atas pangkuanku, wajahnya yang bersemu merah menatapku lapar.
Sepertinya dia tengah dimabuk asmara.
"Kau masih ingin mengendusi bau tubuhku?" aku bertanya.
Dia menggeleng pelan. Jari telunjuknya terulur untuk menutup bibirku, lalu sesaat kemudian bibir basahnya mulai mendarat pada bibirku.
"Mmmhh ...." Dia melenguh.
Seperti apa yang kubayangkan, bibir tebalnya ternyata lembut ketika beradu dengan milikku. Aku tidak menolak, tidak juga membalas. Matanya menatap lekat mataku. Itu hanya ciuman sekilas
"Cium aku, Judith! Ini perintah." Dia berkata seduktif.
Tidak lagi. Aku tidak bisa menahan lagi. Dia sungguh menggemaskan. Kubawa tangannya melingkari leherku, kucium bibir basahnya--sebuah ciuman liar, lapar, serta gemas. Bibir kami mulai berebut kemenangan, aku baru tahu rasa manis ketika bibir lembutnya kucumbu perlahan namun dalam. Ketika kusesap kuat bibir bawahnya, dan dia sambut dengan menyesap bibir atasku, kurasakan bahwa dia cukup berbahaya karena kapan pun bisa menyeret jauh kewarasanku.
Kae memiliki sisi nakal. Ini yang kusimpulkan.
Lidahnya yang hangat menggoda hasratku--sungguh menarik. Kusesap kuat dengan membelitnya kecapan-kecapan cepat mengabaikan bunyi kecipak yang memenuhi ruangan kamarnya.
Matanya terpejam, bibirnya mulai mengerang nikmat teredam bibirku yang memakannya dengan buas. Kurengkuh tubuh berisinya dalam gendongan koala dan berjalan menuju kasur king size. Kurebahkan tubuhnya perlahan untuk kembali menghujaninya dengan cumbuan pelan namun dalam.
Bagai sebuah kesempatan langka, atau suatu perasaan bahwa hari ini adalah akhir pertemuan kami. Atau perasaan ketika hari esok tidak lagi datang, akan aku makan tubuhnya saat ini juga.
"Mmmhhh. Jangan berhenti Juh-dith! I wan't more please!!" Dia menggeliat resah mendesahkan namaku ketika bibirku beralih untuk bermain pada payud*r*nya, bahkan menggigit kecil tonjolan miliknya yang mengeras. Bentuk yang sempurna, menyembul indah. Sementara jemariku meremas lembut miliknya yang lain. Mikaela menenggelamkan jemarinya dalam rambut panjangku, merematnya berkali-kali menahan rasa nikmat.
"Kau mau lebih?" aku menyeringai. Hari ini dia tampak berbeda ..., lebih nakal.
Aku beranjak berdiri, lalu dengan serabutan tanganku melucuti semua kain yang menempel pada tubuhku, lalu atensiku kembali tertuju pada tubuh Mikaela yang telah membangunkan hasratku.
Lingerie lembut yang panjangnya hanya setengah jengkal dari pangkal pahanya bahkan telah tersingkap ke atas dengan belahan dada yang telah terbuka. Mikaela terlihat sangat seksi.
"Just do it, Judith!! Aku mau lebih!" Dia berkata seduktif.
Maka segera kutarik tali dalaman yang dia pakai dan membuangnya. Kubuka lebar kedua kakinya untuk menempatkan diriku di antaranya. Kutekuk kedua kakinya dan dia sambut dengan merengkuh kedua lututnya. Matanya terpejam mulai menggigit bibir bawahnya mendesah pelan ketika aku mulai mengubur wajahku di sana.
Desahan pelan yang menggoda hasratku.
"Jangan kau gigit lagi bibir mu, Gadisku" Aku berkata.
Mikaela tampak terkesiap. Kulanjutkan dengan melumat lembut setiap inci area intimnya. Perlahan, namun khidmat. Dia menggeliat dan mendesis tipis. Tangannya merengkuh erat kedua lututnya yang tertekuk.
"Mmmhhh ...." Kae melenguh.
"Moan my name, Girl!" Perintahku.
"Judithhh, lagi! Aku mau lagi ..., kumohon!" Dia mendesah tertahan. Maka kuperdalam bibirku meneliti setiap bagian pada pangkal pahanya.
Aku terkejut. Tanpa aba-aba gadis ringkih di bawahku membanting dan membalik tubuhku hingga aku berada di bawahnya. Dapat kalian bayangkan bukan bagaimana posisi kami saat ini?
Dengan berpegangan pada kepala ranjang, pinggulnya bergerak maju mundur mengimbangi gerakan mulutku yang tengah menari di bawah.
Gerakannya semakin tak beraturan, otot bagian area pahanya telah sangat stress dan mulai bergetar. Sementara lidahku berkali-kali memompa dan menari membelai kewanitaannya. Dia mengerang keras ketika sampai.
"W-wait, Judith!!" Dia berkata. Napasnya memburu dan terdengar berat. Gadis polos yang malam ini cukup nakal menurunkan tubuhnya ke bagian bawah tubuhku. Menaiki pangkal pahaku, menyatukan milik kami setelah meraih kaki kiriku dalam rengkuhannya.
Mikaela menggerakkan pinggulnya menggesekkan miliknya. Ini terasa sangat nikmat, mulutnya pun mengerang untuk rasa yang memeluknya erat. Kepalanya mendongak, menggoda hasratku.
Oh, hanya dengan mendengar dia mendesahkan namaku saja rasanya percikan dalam dadaku berpijar dan memanaskan seluruh tubuhku.
Ketika rasa nikmat itu semakin merangkak memuncak, kuangkat tubuhku berusaha merengkuh tubuhnya, tanganku berusaha meraih pipi pantatnya dan kuremas perlahan. Tubuh kami bergerak berlawanan saling menggesekkan belahan yang telah sangat basah.
Mulutku menganga mengerang tertahan, sementara mataku menatap lekat wajahnya yang bersemu merah. Bulir keringat membayangi setiap senti kulit bersihnya.
Dapat kudengar berat napasnya yang semakin memburu. Dia menikmati setiap sentuhan-sentuhan pada bagian sensitif tubuhnya.
Aku yakin otot-otot di sekitar pangkal pahanya sama menegangnya dengan milikku, aku bisa merasakan itu. Sama seperti ketika tubuh bergetarku merasakan gemetarnya tubuhnya saat menjemput dunia putih kami.
Aku telah menyerah dan membiarkan diriku terbanting oleh rasa panas yang seakan berpijar hingga kurasakan mungkin kepalaku akan meledak.
"Hmmpphh! Su-sudah, Minwo! Aku mual."
Suara itu membangunkan ku. Sh*t! Rupanya ini hanya mimpi. Mataku mengerjap perlahan berusaha mengumpulkan nyawa.
Menatap Minwo di depan sana tengah membujuk gadis ringkih di atas kasur untuk makan--gadis kami.
Tanpa sadar bibirku merengut kesal melihat kedekatan mereka. Cemburu?
Tidak ..., kurasa tidak. Hanya sedikit terganggu saja.
Bersambung.