Brak!!
“Bilang sama Bapak! Kamu ikut jaringan yang diberitakan di TV itu, kan?”
“Demi Allah, Aruni tidak ikut seperti itu, Bapak.”
“Bapak tidak percaya, orang-orang kampung sini sekarang menatap kamu dengan pandangan sinis demikian juga ketika bertemu dengan Bapak. Pilihan ada di tanganmu, lepaskan baju-baju besarmu itu atau lebih baik Bapak kehilangan telur satu biji!
“Bapak!!”
“Istighfar, Aruni anak kita, Pak.
Aruni menatap Ibunya dengan wajah terharu, netranya sudah berkaca-kaca tak mampu mengucapkan sepatah katapun ketika Bapaknya dalam keadaan emosi. Hanya ibunya yang selalu membelanya di saat dia dimarahi Sang Bapak karena penampilannya, hanya Ibunya yang selalu menyela luapan amarah Bapaknya agar sedikit mereda.
“Pak, coba lihat sikap Aruni sekarang? Bukankah dia menjadi anak yang lebih penurut dibandingkan dulu? Aruni juga lebih santun dan sopan dengan kita, Bapak harusnya bersyukur, jangan memedulikan omongan orang.”
“Bagaimana tidak perduli, lihat penampilannya sekarang isu bom meledak sedang merebak, dan Aruni oleh orang-orang kampung dianggap ikut jaringan itu! Bagaimana tidak menjadikan pikiranku? Belum lagi sikap sinis mereka ketika bertemu denganku!”
“Tapi Aruni tidak melakukan kesalahan Bapak, apa yang Aruni pakai adalah pakaian yang dianjurkan sebagai muslimah kafah.”
“Bapak lebih ikhlas kamu pakai pakaian seperti dulu, jika itu bisa membuat status keluarga kita terjaga dari rasa malu! Lagi pula siapa yang akan menikahi kamu jika kamu tertutup begitu?
Aruni terhenyak, dia menatap wajah Bapaknya dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan, antara sedih, kecewa dan juga prihatin karena Bapaknya lebih memilih mengedepankan status sosial di masyarakat daripada melindungi keluarganya. Aruni tidak mampu mengatakan apapun selain air mata yang mulai menetes membasahi wajahnya, berikut jilbab yang dia kenakan.
Sebenarnya diamku adalah kemenangan di hadapan orang yang mengharapkan aku marah dan tegar adalah pilihan di hadapan orang yang mengharapkan aku menangis.
Aku harus bertahan, sebab aku sudah jatuh cinta dengannya ketika diam-diam dia menyapa lembut relung hatiku.
Dengannya, aku mulai merasakan manisnya iman, apapun rintangannya aku akan pertahankan atas apa yang aku cintai ini meskipun nyawaku akan tercabut karenanya.
(Aruni Prameswari)
===
“Run!”
“Astaghfirllah!
Aruni terlonjak kaget ketika pundaknya ditepuk tiba-tiba dari arah belakang, botol air mineral berukuran 300 ml yang dia pegang sampai terloncat dari tangannya, tetapi dengan sigap Aruni mampu menangkapnya kembali. Reflek dia menoleh dan matanya langsung membulat lebar ketika tahu siapa yang telah mengagetkannya.
Sila terkekeh melihat reaksi sahabatnya itu, yang menurutnya sangat lucu.
“Silaaaa, rese banget, lo!” umpat Aruni sambil menaruh botol air mineral itu di atas meja makan kantin di samping selembar kertas yang tadi sempat dia baca sambil berdiri. Aruni dengan wajah cemberut kemudian menarik kursi dan duduk.
“Sory, habisnya kamu kelihatan serius banget. Tadi lagi baca apaan, sih?”
“Eitttttsss, gue belum selesai baca! Gak boleh lihat dulu!” seru Aruni gegas mengambil selembar kertas ketika Sila hendak membaca.
Sila nyengir kuda, “Alah palingan surat peringatan dari kampus agar segera melunasi uang semester, iya kan?”
“Enak aja, bukanlah ... Bapak gue udah bayar kali.”
“Oo, surat dari calon suami pilihan Bapak, ya?” ujar Sila bernada pertanyaan sambil tertawa mengejek membuat Aruni melotot.
Suara tawa Sila mengundang beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin itu menoleh memperhatikan mereka.
“Ssstt, diem lo! Ketawa lo itu jadi bahan perhatian!” tegur Aruni.
Sila reflek menghentikan tawanya beralih dengan senyuman lebar kemudian menarik kursi dan duduk di depan Aruni.
“Jadi bener, itu kertas profil laki-laki pilihan Bapak?”
“Ngaco, bukanlah Bapak kan nggak ngebolehin aku nikah sebelum lulus kuliah.”
“Eh, siapa tahu? Kan lo pernah bilang kalau misal tu cowok kerjaan bagus, dari keluarga yang jelas bobot, bebetnya dan sudah mapan, katanya boleh-boleh aja langsung mengiyakan ketika dilamar?”
“Enggaklah ... udah stop! Jangan bicarakan nikah! Lagian kita juga baru semester 3, pacar aja nggak punya!” sergah Aruni.
Sila terkikik geli mendengar perkataan Aruni tentang sosok pacar.
“Kasihan banget sih, lo. Mau punya cowok aja harus diseleksi ketat macam ikut pendidikan aja,” ujar Sila masih tertawa membuat Aruni makin manyun bibirnya kek mulut teko.
“Bisa diem enggak? Gue cabut aja kalau masih mau ngeledekin gue.”
“Upppsss, okey ... kasih tahu dong dapat surat apaan, sih?”
“Janji ya, jangan teriak dulu.”
“Okey siap grak!!”
Aruni tertawa lirih melihat sahabatnya ini, meski mereka sering berantem tapi ni Sila nggak pernah tersinggung dan dia care banget sama dirinya, selalu sama-sama, jadi temen curhat dan rumah orang tuanya sering dijadikan rumah kedua baginya jika sedang berselisih dengan ibu terutama Bapaknya.
Aruni dan Sila sebenarnya sudah berteman sejak kecil karena mereka satu kampung hanya beda RT tetapi menjadi sahabat dekat setelah sama-sama satu kampus dan satu jurusan.
Aruni kemudian menyodorkan lembaran kertas pada Sila, Sila mulai membaca deret-deret kalimat cetak pada lembaran itu.
“Beneran, nih? Wah, selamat Run, ini beasiswa sampai nanti kelar kuliah, lho. Pingin juga dapat, tapi belum rezeki aku,” ujar Sila dengan mata berbinar tapi kemudian bibirnya mengerucut.
“Lha, bukannya lo juga dapat dari PPA?”
“Mana? Belum ada kabar.”
“Ajuin jalur yang lain coba.”
“Ntar deh coba aku cari info, eh ... tapi kenapa muka lo kelihatan kurang respek gitu dapat beasiswa ini?”
“Iya pasti lah, kayak nggak tahu aja situasi negeri kita.”
“Udah, nggak usah di pikirin, biar jadi bahasan mereka yang berkepentingan,” ujar Sila sambil mengibaskan tangannya di depan muka Aruni yang hanya tersenyum mengiyakan.
“Eh, mau pesan apa? Biar aku yang traktir, tanda syukur dong.”
“Asyik ... bakso aja deh sama es jeruk.”
“Siap.
Aruni segera beranjak dari duduknya dan kemudian membalikkan badannya, tetapi tiba-tiba ...
Bruk!!
Tubuhnya menabrak seseorang, buku diktat kuliah berserakan di lantai keramik kantin.
“Astaghfirllah, maaf. Saya tidak sengaja,” ujar Aruni kemudian berjongkok membantu cowok itu membereskan buku-bukunya.
“Tidak apa-apa, tidak usah dibantu, terima kasih,” ujar cowok itu kemudian berdiri setelah buku-buku itu berhasil dia bereskan sendiri.
Aruni merasa bersalah, sejenak dia berdehem kemudian, “Maaf ya, tadi aku tidak sengaja langsung berbalik badan,” ujar Aruni sambil mengulurkan tangannya untuk minta maaf.
Cowok itu hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk tanpa menanggapi uluran tangannya dan berlalu meninggalkan Aruni yang masih termangu heran dengan cowok berkaca mata tadi.
“Eh, tangan gue najis kali, ya? Tuh cowok nggak mau sentuh tanganku ... dasar cowok aneh,”
“Cieee, dilihatin terus, awas lho entar jatuh cinta. Jangan heran ma dia, tipe-tipe cowok penghuni surga, hehe,” ujar Sila membuat Aruni menoleh padanya.
“Lo kenal dia?”
“Kenal sih enggak, cuma tahu aja ... anak TP, paling anti tu sama cewek bawel seperti kita, jangan ngarep deh bakalan dekat dengan dia atau jadi pacarnya. Dia juga tipe-tipe ogah pacaran.”
“Eh, katanya lo nggak kenal? Tapi kenapa bisa tahu tentang karakternya?”
Sila nyengir sambil garuk-garuk kepala, “Dia kan cakep, wajarlah akunya penasaran.”
“Yeee, dasar!” ujar Aruni menjitak pelan kepala sahabatnya itu kemudian berlalu untuk memesan makanan.
***
Aruni berlari melalui lorong fakultasnya untuk menuju ruang laboratorium, “Duh, gue telat, nih. Sial, kenapa semalem nurutin saran Sila ... mana dia udah berangkat duluan lagi,” gumam Aruni masih dengan berlari kecil sambil melihat arloji yang melingkar manis di lengan kirinya.
Brak! Auw!
Tiba-tiba kepalanya berdenyut saat dia terjerembab jatuh ke lantai. Pandangannya sedikit kabur, Aruni beberapa kali menggelengkan kepalanya untuk memulihkan kesadarannya. Buku diktat kuliah yang dia pegang terlempar agak jauh dari tubuhnya yang ambruk setengah berbaring.
“Mbak, nggak papa?”
Suara khas seorang cowok terdengar menegurnya dari arah depan, Aruni menoleh....
"Mbak, nggak papa?”
Suara khas seorang cowok terdengar menegurnya dari arah depan, Aruni mendongak....
“Elo?” ujar Aruni terlihat kesal setelah tahu orang yang ditabraknya.
Cowok aneh itu lagi yang beberapa hari lalu pernah dia tabrak di kantin.
‘Sial banget gue, kenapa ketemu cowok aneh lagi.’ batin Aruni kemudian berdiri sambil mengibaskan menepuk-nepuk baju hem dan celana panjangnya dengan kedua tangannya kemudian merapikan jilbab segi empatnya.
Cowok itupun berdiri, pandangannya mengarah ke tempat lain, “Jika mbaknya tidak terluka, saya permisi ... assalamu’alaikum.”
Cowok berkacamata minus itu kemudian berbalik arah hendak meninggalkan Aruni yang masih sibuk merapikan jilbabnya.
“Eh, minta maaf kek, lo kan udah nabrak gue!” tegur Aruni merasa kesal melihat cowok itu tak acuh dengannya.
Cowok itu menghentikan langkahnya, ”Lho, bukannya Mbak yang tadi nggak lihat-lihat saat berbelok?” ujar cowok itu membuat Aruni tersentak.
‘Ah iya, tadi karena buru-buru aku nggak melihat jalan saat berbelok malah fokus melihat jam tanganku,’ batin Aruni menyadari kesalahannya. Tapi ... gengsi lah kalau aku harus minta maaf, ‘Nggak!’ lanjutnya berseru dalam hati.
“Tapi tetep aja! Lo harus minta maaf, lo kan cowok!” ujar Aruni sengit.
“Bukan saya yang salah kenapa harus minta maaf, Mbak?”
“Eh, emangnya gue kakak lo, kita seumuran tahu! Harusnya tadi Lo bisa menghindar, kan? Atau jangan-jangan lo ngambil kesempatan biar bersentuhan dengan cewek, dasar sok suci!”
Cowok itu mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan, mungkin dia heran dengan sikap Aruni.
“Gimana saya bisa menghindar Mbak, orang tadi mbaknya muncul tiba-tiba sambil setengah berlari, ya nggak sempet saya menghindar,” ujarnya dengan tenang.
Amarah Aruni langsung meredam sedikit, begitu mendengar penuturan cowok itu, ‘Bener juga sih, Dia. Tapi, eh ya enggaklah, tengsin dong kalau gue harus ngakuin salah dan minta maaf, dia kan cowok harusnya ngalah,’ batin Aruni.
“Cowok aneh!” ujarnya kemudian berjalan mendekati buku diktatnya yang tadi terlempar agak jauh dan berlalu dari hadapan cowok berkacamata itu. Apa yang dilakukan Aruni berbaik dengan yang bergejolak di hatinya, sebenarnya dia tahu yang salah dirinya tetapi rasa gengsinya menutupi untuk tidak meminta maaf.
Cowok itu masih berdiri mematung yang justru merasa heran dengan sikap Aruni, “Cowok aneh, bukannya justru dia yang aneh? Tadi marah-marah eh tiba-tiba saja langsung berubah,” gumannya pelan tanpa sadar ada senyum tipis terkembang dari sudut bibirnya.
“Hanif!
Hanif menoleh ketika namanya di panggil, Doni mendekati dirinya dengan langkah cepatnya.
“Nglihatin apaan? Serius amat?”
“Enggak tadi ada cewek jatuh,”
“Mana? Cantik enggak, Nif?” tanya Doni sambil celingukan.
“Kamu tu ya denger cewek langsung aja mata jelalatan, jaga tuh pandangan.”
“Aku kan bukan kamu, Nif. Kan sayang cewek cantik dicuekin.”
“Otak kamu perlu di sekolahin, perempuan itu bukan barang pajangan yang bisa dilihat-lihat,” ujar Hanif sembari memukul pundak temennya itu dengan pelan.
Doni terkekeh, “Yuk ah, ntar telat bisa kena nasehat panjang kali lebar dengan Pak Hata.”
Hanif tersenyum kemudian merangkul Doni dan berjalan beriringan menuju ruang kuliah.
***
Runi membanting bahunya di sandaran kursi ruang kuliah, “Syukurlah, aku kira udah telat,” guman Runi menarik nafas lega.
“Lo, nggak bareng mbak Ari?”
“Eh, ini gara-gara lo tahu enggak? semalem gue bela-belain begadang sesuai petunjuk lo! Sampai ketiduran tuh di depan TV, bangun-bangun kenal omel Ibu, karena subuhku telat.”
“Jadi beneran lo nungguin tu bintang favorit, lo?” ujar Sila bernada pertanyaan sambil tertawa.
“Si*lan, lo ngerjain gue?” Kali ini Aruni mendelik tajam ke arah Sila, sedang Sila masih terkekeh.
“Enggak ngerjain, beneran ada tapi emang malem mulai jam 1. Lo mungkin udah tidur deh,”
“Rese lo, tahu ah ... di rumah kena omel ee tadi di depan udah dibikin kesel juga.”
“Emang kenapa?” Sila terlihat serius, tidak ada lagi kekeh tertawanya.
“Gue ketemu lagi tuh sama cowok aneh.”
“Seriusan? Anak TP yang ganteng itu?”
“Dih, elo ya ... gue lagi kesel sama dia, lo malah muji.
Sila terkikik, “Yang kesel kan elo, bukan gue. Suka-suka gue dong, lagian kalau lo cermati wajah dia pastinya lo juga suka, alisnya bikin nggak kuat hati, cakep,” ujar Sila sembari membuat isyarat jempol.
Aruni hanya mencibik, sebenarnya dia juga setuju sih dengan pendapat Sila, ‘Cowok anak TP tadi tu lumayan ganteng juga, uppssss. Apaan sih, Run? Lo kan lagi sebel sama dia ngapain muji, coba? monolog Aruni dalam hati.
“Eh, tumben udah jam segini Bu Vera belum datang, Sil?”
“Tahu tuh, semoga aja nggak dateng biar gue bisa kabur ke kantin, tadi nggak sempet sarapan khawatir telat.”
“Sama, gue juga belum minum kopi.”
“Lo diet? Badan udah kayak lidi aja pakai diet.”
“Sembarangan, enggak! Gue emang demen kopi.”
“Eh, kesukaan kamu yang ini gue belum tahu lho, Run. Sejak kapan lo hobi kopi?”
“Udah dari SMA, kenapa?”
“Hmmm, pantes aja gue nggak tahu. Kita SMAnya berbeda.”
“Sekarang kan tahu, Sil. Sesekali traktir gue kopi dong.”
“Yeee, modus cari gratisan.
Aruni tertawa, pandangannya mengarah ke pintu kelas kemudian, “Sil, kayaknya beneran deh, sekarang nggak ada kelas. Cabut yuk, kita ke kantin,” ajak Aruni kemudian berdiri tetapi sebentar kemudian kembali duduk ketika terdengar sapaan teman-temannya ketika dosen mereka datang.
Sila tertawa lirih, Aruni hanya menoleh sambil mengacungkan tinju kepada Sila yang kemudian menutup mulutnya agar tertawanya tidak lepas.
===
“Motor siapa, nih? Parkir sembarangan, nambahin kerjaan aja,” gerutu Aruni sambil berusaha meminggirkan motor modif, “Duh, ternyata berat juga, asem,” umpat Aruni.
“Biar saya saja, Mbak.”
Tiba-tiba terdengar suara teguran, Aruni menoleh....
“Elo lagi! Ini motor lo? Eh, lo kan anak TP ngapain parkir di sini?” sengit Aruni bertanya sembari menarik standar motor GL yang sudah di modif.
“Bukan, Mbak. Saya cuma pingin bantuin Mbak aja, kelihatan tadi kesusahan menggeser.”
“Buruan gih, gue buru-buru nih, dan ... makasih,” ujar Aruni agak melembut.
Hanif tersenyum kemudian dia menggeser motor GL itu agar motor Aruni bisa keluar.
‘Eh, senyumannya manis juga,’ batin Aruni yang tadi sempat melihat Hanif tersenyum, ‘Dih, mikirin apa sih, Run? Sadar oiyy.’ lanjut hati Aruni sambil menepuk pipinya pelan.
“Sudah Mbak, silahkan,” ujar Hanif mengangetkan lamunan Aruni.
“Oh iya, terima kasih.
Aruni kemudian mengeluarkan motor bebek keluaran tahun 91.
“Eh, kalian udah saling kenal?
Tiba-tiba suara teguran terdengar mengagetkan Aruni dan Hanif, keduanya menoleh sumber suara hampir bersamaan....
“Eh, kalian udah saling kenal?”
Tiba-tiba suara teguran terdengar mengagetkan Aruni dan Hanif, keduanya menoleh sumber suara hampir bersamaan....
“Tio,” ujar Aruni dan Hanif bersamaan.
“Sampai barengan gitu negurnya,” ujar Tio sambil tertawa lirih.
“Yo, dia temen, Lo?” tanya Aruni kepada Tio temen satu jurusan dengannya.
“Tetangga gue, lo kenal?”
“Enggak!” tegas Aruni.
“Ketemu kebetulan saja,” sela Hanif.
“Iya, ketemu kebetulan dan tidak menyenangkan,” ujar Aruni sambil melirik sebel pada Hanif.
Tio tertawa, “Jangan judes-judes sama Hanif, Run ... ntar lama-lama suka, lho.”
“Rese, Lo,” ucap Aruni sambil mulutnya manyun pada Tio, kemudian menatap Hanif, “Jadi nama lo, Hanif?”
Hanif hanya mengangguk sambil garuk-garuk kepala dan terlihat tersipu.
“Sopan dikit, Run. Dia tu di atas kita satu tingkat,” ujar Tio.
“Aih beneran? Sory, kirain seangkatan. Lo juga manggil gue Mbak, sejak kapan kita bersaudara?”tanya Aruni mencibik kesal.
“Maaf kalau tersinggung, nggak mungkin juga kan aku panggil dik nanti dikira nganggep anak kecil dan lagi saya kan nggak kenal dengan anti.
“Nama gue Aruni, bukan Anti, sok tahu!” sela Aruni makin gemes.
“Lo yang sok tahu, Run. Anti itu bahasa arab artinya kamu perempuan,” sela Tio menjelaskan, “Gue juga baru belajar dari dia,” lanjut Tio sembari nyengir.
“Oo gitu, anti dari bahasa Arab,” tanggap Aruni sambil manggut-manggut kemudian, “Yo, gue cabut ya ... jagain tu temen lo, calon penghuni surga,” ujar Aruni sembari tertawa dan melajukan motor bebeknya meninggalkan halaman parkir.
“Woi, gue doain lo suka ma Hanif!” teriak Tio tertawa.
“Husstt,” protes Hanif sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Tio.
“Nif, Aruni tu manis, lho. Cuma emang tu cewek begitu, hmmm ... rada urakan, tapi pinter, kayaknya dapat beasiswa juga,” ujar Tio sambil memundurkan motornya.
“Terus apa hubungannya denganku?”
“Ya, gue cuma cerita aja, gue tahulah kriteria calon istri, Lo. Pastinya bukan Aruni cewek yang nggak asyik, kan?” ujar Tio sambil menaiki motornya.
“Pastinya bukanlah, cewek aneh gitu,” ujar Hanif pelan sembari membonceng motor Tio.
“Sebenarnya kalau Aruni santun dikit aja, gue juga mau jadi pacar dia,” ujar Tio tertawa sambil melajukan motornya.
“Dasar!”
***
Pagi harinya Aruni berangkat kuliah bareng dengan Sila, saat sampai di ruang kuliah keduanya terlihat keheranan karena temen-temennya sedang fokus membicarakan hal penting. Semuanya terpaku pada perkataan Alex sang ketua kelas.
Aruni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kuliah, dan matanya tertuju pada sosok perempuan satu-satunya di jurusannya yang memakai penutup wajah. Azizah biasanya selalu mengambil tempat duduk di pojok dekat tembok dan dia selalu sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti membaca buku atau sekedar menuliskan sesuatu di lembaran kertas. Aruni suka mengamati Azizah, entah mengapa dia terkadang penasaran dengan baju yang dipakai Azizah,
‘Apa tidak gerah dan panas? Kalau makan bagaimana?’ monolog Aruni dalam hatinya ketika memperhatikan penampilan Azizah yang sangat berbeda dengan teman-temannya termasuk juga dirinya.
Awal bertemu dengan Azizah, dia sempat kaget dan heran karena baru pertama kali Aruni melihat pakaian seperti itu, ‘Apa wajahnya jelek atau jerawatan hingga malu dan menutupinya dengan kain? Bagaimana nanti laki-laki akan menyukainya jika wajah ditutup begitu? Bukankah wajah menjadi salah satu daya tarik laki-laki?’
Beberapa pertanyaan penasaran itu hanya dia simpan dalam hati, Aruni tipe gadis yang sangat toleran, dia tidak mau menyinggung perasaan orang jika pertanyaan itu disampaikan, apalagi jika orang itu belum lama dia kenal. Tetapi setelah sekian bulan mengenal Azizah, pertanyaan Aruni terbantahkan. Nyatanya, wajah Azizah cukup cantik menurut penilaian Aruni dan itu tak sengaja Aruni ketahui ketika mereka satu ruangan di toilet. Azizah membuka kain penutup wajahnya ketika sedang mengaca di depan wastafel. Aruni saat itu baru keluar dari kamar mandi tentu saja bisa melihat wajah Azizah yang terpantul dari cermin.
“Azizah!” tegur Aruni.
Azizah menoleh dan tersenyum kemudian kembali disibukkan dengan membenahi jilbabnya.
“Kok, wajah Lo dibuka? Ternyata wajah Lo cukup menarik, lho. Tapi kenapa di tutup dengan kain ini?” tanya Aruni penasaran setelah mendekat pada Azizah dan memegang ujung kain yang menggantung di depan d*d*.
Azizah hanya tersenyum, “Nanti aku jelaskan jika sudah di luar, ya? Karena tidak adab membicarakan di kamar mandi,” ujar Azizah kemudian memakai kembali kain penutup wajah itu dan keluar kamar mandi, Aruni mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai di luar kamar mandi Azizah menarik tangan Aruni dan mengajaknya duduk di bangku agak sedikit jauh dari ruang toilet. Entah mengapa Aruni menurut saja, tanpa protes seperti yang biasa dia lakukan jika dengan Sila sahabatnya. Mungkin karena rasa penasarannya itu yang membuat Aruni ingin segera mengetahui jawaban dari pertanyaannya.
“Tadi kamu tanya apa?” tanya Azizah setelah keduanya duduk.
“Iya, aku heran saja kenapa wajah kamu ditutup lalu kenapa di buka saat di kamar mandi? Kan ada aku di situ?”
“Kamu kan perempuan sama sepertiku, jadi tidak apa-apa jika kamu melihat wajahku, lain hal jika kamu laki-laki tentu aku selalu menutup wajahku dengan cadar.”
“Ca-dar?”
“Heem, ini namanya cadar dalam bahasa arab disebut niqab.”
“Oo,” Aruni melongo sedikit tahu, “Terus kenapa wajahmu ditutup jika ada laki-laki?”
“Karena mereka bukan mahramku,” ujar Azizah sambil tersenyum dibalik cadarnya.
“Mahram? Apaan itu?
“Mahram itu seseorang yang tidak boleh dinikahi selama-lamanya.”
“Oo ... muhrim? Kalau itu aku tahu, Zah.”
“Bukan, yang benar mahram. Kalau muhrim itu pakaian untuk ihrom.”
“Pakaian untuk haji maksud, Lo?”
Azizah mengangguk masih dengan wajah tersenyum karena matanya terlihat menyipit.
“Apa Lo nggak merasa panas dan gerah memakai pakaian seperti ini?”
Azizah menggeleng pelan, “Sudah terbiasa, gerah pastinya iya kalau suasana panas,” ujar Azizah sambil tertawa lirih.
Aruni nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tertutup jilbab segi empat.
===
Beberapa hari kemudian, saat kelas tidak ada dosen, terlihat teman-teman Aruni sedang foukus mendengarkan penjelasan ketua kelas mereka.
"Run, gabung yuk dengan mereka sepertinya mereka sedang membahas rencana pekan kemarin,” ujar Sila membuyarkan lamunan Aruni tentang Azizah.
Aruni menoleh, “Enggak ah males, Lo aja deh ... aku tinggal tunggu info darimu aja,” ujar Aruni tersenyum.
“Maunya.” Sila manyun kemudian melangkah mendekati temen-temennya yang sedang fokus mendengarkan penuturan ketua kelas.
Aruni kemudian melangkahkan kaki mendekati Azizah. Sejak dia berbicara dengan Azizah di dekat toilet beberapa waktu lalu, dia semakin ingin tahu tentang sosok temennya itu.
“Zah, lo nggak ikut gabung?” tanya Aruni begitu di dekat Azizah.
“Wa’alaikumsalam,” Azizah justru menjawab salam yang membuat Aruni tersipu.
“Sori lupa salam, assalamu’alaikum,” ujar Aruni nyengir kuda.
“Wa’alaikumsalam,” balas Azizah dengan mata yang menyipit menandakan dia sedang tersenyum.
“Lo, nggak ikut nimbrung? Lagi pada bahas rencana pekan kemarin, ya?” tanya Aruni kemudian menarik bangku kuliah kemudian duduk di depan Azizah.
Mendengar pertanyaan Aruni, Azizah hanya mengangkat bahunya kemudian menggeleng pelan....
“Hmmm, Zah?”
“Ya, ada apa?”
“Anu....
Aruni menghentikan bicaranya sedikit bingung, sedang Azizah terlihat mengerutkan dahinya merasa heran dengan sikap Aruni.
“Anu apaan? Jangan aneh-aneh ya, kamu wanita normal, kan?”
“Hah!”