Bab 1

Dia hanya menatapmu, harusnya kau balas menatapnya.

Bukan berharap dan berfikir dia menyukaimu.

~ azalea~

“ Lea, lea, AZALEAAAAA KHAIRUNNISAAA.” panggil Rara yang sedari tadi tak ada balasan dari sang pemilik nama.

“ astaghfirullah ra, bisa ga sih lu gausah teriak teriak. “ jawab Lea pelan, karena saat ini Lea sedang menahan rasa malu, karena perbuatan Rara semua orang menoleh ke arah mereka.

“ ya habis lo, dipanggil dari tadi sampe suaraku mau habis gini, masih kaga nyaut sama sekali. Lo lagi mikir apa sih le? Kalau ada masalah tuh cerita. Sini cerita ke gue, gua siap kok dengerin semua cerita Lo.“ Rara bingung, akhir akhir ini sahabat nya itu selalu diam dan sering melamun. Tidak seperti azalea yang ia kenal, Lea yang slalu ceria, heboh dan banyak bicara.

“ maaf Ra “ jawab Lea singkat.

“ Lo kenapa sih le, kalau ada masalah tuh cerita, aku siap kok dengerinnya, dan kalau aku bisa bantu, bakal gua bantu. “ ucap rara sambil

menatap Lea sendu. Entah kenapa sahabat nya itu seperti lagi menyembunyikan sesuatu darinya.

Lea hanya diam sembari menatap Rara sendu. Lea bingung apakah dia harus cerita atau tidak, pasalnya tidak ada yang tau tentang perasaan Lea kepada lelaki yang berhasil membuat Lea tertarik dan jatuh hati. Lea memilih memendam sendiri perasaannya dan rasa penasaran nya kepada lelaki yang ia kenal sewaktu masih di pesantren. Bukan gimana gimana Lea hanya masih takut dan trauma akan kisah cintanya kemarin yang sudah usai. Sebuah cinta yang begitu dalam, namun harus selesai karena keegoisan masing masing.

***

Saat itu Lea sedang menuntut ilmu agama di sebuah pesantren yang

terletak di Bandung. Beberapa hari ketika dia masuk di pesantren itu, Lea tak sengaja berpapasan dengan seorang lelaki yang sedang berjongkok dan membujuk seorang anak perempuan untuk makan. Lea syok ketika turun dari tangga melihat ada lelaki di situ, ia lalu menundukkan kepalanya sambil berjalan melewati lelaki itu dengan perasaan yang aneh, jantung nya berdebar abnormal bahkan Lea ngerasa sangat gugup sekali padahal ia hanya melewati nya bukan mengobrol dengannya. Ketika dia sudah sampai di depan pintu asrama barulah dia memberanikan diri melihat ke arah lelaki itu berjongkok, lea tersenyum melihat lelaki itu yang dengan sabar dan telaten membujuk anak perempuan itu untuk makan, Lea tau siapa anak perempuan itu, ia anak bungsu umi pemilik pesantren.

Setelah cukup lama Lea melihat

lelaki itu, Lea lalu masuk ke asrama dengan rasa penasaran akan siapa lelaki itu, apa ia salah satu anak umi atau ia suami dari ustadzahnya, karena rasa penasaran nya cukup besar akhirnya ia memberanikan diri bertanya kepada temannya yang sudah lama berada disini.

“ dew “ panggil Lea kepada Dewi.

“ kunaon le “ ucap Dewi menggunakan bahasa Sunda, karena Dewi asli Sunda, beda dengan Lea yang hanya pendatang.

“ itu Lo dew, tadi pas aku turun dari tangga aku ga sengaja papasan sama cowo, apa dia suami ustadzah? “ tanya Lea memastikan

“ ciri cirinya gimana “ tanya Dewi

“ dia kurus, terus rambutnya botak “ ucap lea, yang sontak membuat Dewi ketawa mendengar aku mengatai lelaki tadi botak, pasalnya ia tidak

botak seperti di film Upin Ipin cuma emang cukuran rambut nya aja yang kayak gitu.

“ oh itu mah Gus Arhan, itu bukan suami ustadzah, suami ustadzah mah agak gondrong rambutnya terus agak gemuk.“ ucap Dewi sambil menahan ketawa karena perkataan ku tadi.

“ o itu yang namanya Gus Arhan, kalau suami ustadzah yang mana?“ tanya Lea lagi.

“ nanti juga kamu liat, intinya dia agak gemuk dan rambutnya gondrong “ ucap Dewi.

Setelah aku mendapatkan jawaban dari rasa penasaran ku, lalu aku pamit ke Dewi buat ke depan, aku tidak mau bertanya lebih. Aku tidak mau kalau Dewi mikir gimana gimana tentang aku.

***

Itulah pertemuan pertama Lea dengan lelaki itu, yang ternyata dia adalah Arhan Abdul Salim gusnya di pesantren tempat ia menimba ilmu agama.

Semenjak pertemuan pertama itu Lea tidak lagi bertemu dengan Gus Arhan, ia yang sibuk dengan kuliahnya di kota jarang sekali dia pulang.

Sebulan lea disitu, Lea harus pergi ke jakarta untuk berobat. Selama 1 minggu Lea dijakarta, tak sedikit pun dia teringat dengan Gus Arhan. Sampai tiba lea telponan dengan ustadzahnya sekaligus menantu umi, yang menanyakan kapan ia akan kembali ke pesantren.

Di tengah perbincangan, ustadzah memberi kabar bahwa Gus Arhan kehilangan montor juga hp nya. Entah kenapa saat mendengar nama itu, hati Lea kembali merasakan hal aneh seperti waktu pertama kali bertemu dengannya. Lea bahkan sampai bingung dengan dirinya, tapi Lea tak memusingkan nya, bagi Lea amar tetap nomor satu dihatinya. Hati Lea hanya milik amar, lagi pula setelah Lea menyelesaikan mesantrennya Lea akan kembali lagi dengan amar, bertemu dan bersama sama lagi dan mungkin menikah.

“ neng tau ga? “ tanya ustadzah wati, beliau ini ustadzahnya dipesantren sekaligus menantu umi ayu istri dari pendiri yayasan sekaligus pesantren dimana Lea belajar agama.

“ apa teh?” tanyaku penasaran.

“ itu montor umi hilang “ ucap ustadzah Wati

“ motor umi? “ tanyaku memastikan.

“ iya neng, yang biasanya dipake sama si om.” Ucap ustadzah Wati. Om itu panggilan buat Gus arhan dikeluarga besarnya, sebagai contoh buat

keponakan keponakan nya agar terbiasa manggil dia om.

“ kok bisa teh?” tanyaku kembali kepada beliau.

“ panjang neng ceritanya, nanti weh kalau kamu udah balik ke pesantren “ ucap ustadzah.

“ iya teh?“ ucapku pelan.

Oh iya jadi ustadzah emang maunya dipanggil teteh, jadi kami para santri terbiasa manggil teteh. Bukan ga sopan tapi emang beliau sendiri

yang gamau dipanggil ustadzah.

“ yaudah neng kalau gitu teteh tutup ya telponnya, neng sehat sehat ya disana dan kalau udah selesai langsung balik kesini ya. Nih si

adek udah kangen banget sama neng “ ucap ustadzah wati.

“ iya teh siap, teteh juga ya sehat sehat, salam buat adekk”

ucapku sambil tersenyum.

“ iya, assalamualaikum neng”

“ waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh teh."

***

Malam ini Lea ada janji buat bertemu amar, sebenarnya ini alasan kenapa ia menolak berobat dibandung dan memilih berobat ke jakarta, agar bisa bertemu amar. Lea rindu sekali dengan amar karena sudah 2 bulan tidak bertemu, ditambah Lea udah masuk pesantren dimana hp 1 bulan sekali dibagikan.

Ia senang dan bahagia sekali bisa kembali ke Jakarta dan pastinya bertemu dengan sang kekasih, tapi kebahagiaan itu tak berselang lama. Semua berawal ketika Lea tau tentang perjodohan amar dari teman lea, ia ngerasa kecewa karena ia tau bukan langsung dari mulut amar melainkan orang lain. Bahkan ketika bertemu beberapa hari lalu Amar tak mengatakan apapun terhadap Lea mengenai masalah perjodohan ini, bahkan amar bersikap biasa aja seperti tak ada apa apa.

Meski amar belum menerima perjodohan itu, tetap saja lea takut akan kehilangan amar. Lea sangat menyayangi Amar, Lea hanya mau menikah dengan amar.

Dan untuk memastikan semuanya, akhirnya Lea memberi pesan kepada amar untuk bertemu sekaligus makan malam bersama.

Sesampainya di restoran yang sudah mereka sepakati, lea pun turun dari mobil grab yang ia pesan dan menuju pintu masuk yang ternyata sudah ada amar yang menunggunya. Amar pun tersenyum hangat dan menyambut sang pujaan hati. Lalu mereka pun masuk dan duduk di tempat yang sudah tersedia. Mereka lalu memesan makanan dan minuman untuk menemani perbincangan mereka. Setelah memesan sembari menunggu pesanan Lea pun memulai obrolan.

“ mas boleh aku nanya? “ tanya Lea kepada amar ragu, jujur Lea ragu menanyakan hal ini, bagaimana pun dia seorang perempuan yang menurutnya sangat memalukan jika dia bertanya hal ini. Tapi Lea tak perduli, dia harus bertanya dan memastikan agar Lea pun kedepannya tau apa yang harus dia perbuat, apakah dia harus mempertahankan atau memilih pergi. Karena Lea pun tak akan sanggup jika dia harus kehilangan amar. Tapi lebih baik semua jelas diawal daripada mereka terus seperti ini, dan akhirnya berakhir saling menyakiti.

“ boleh dong, kenapa sih lu aneh, tiba tiba pakek aku lagi. Kenapa mau tanya apa hmm? “ tanya amar kepada Lea.

“ bagaimana dengan perasaanmu ke aku hm? Apakah kamu bener bener serius sama aku? Kalau iya. Ayo kita obrolin secara kekeluargaan, kita bawa ke jenjang yang lebih serius, aku siap mas “ ucap Lea pelan tapi tegas namun dengan tatapan sendu. Hati Lea sebenarnya hancur banget, lea tidak menyangka amar akan menyembunyikan hal sebesar ini. Ia tak sedikitpun memberi tau Lea, justru orang lain lah yang memberitahunya.

“ le, lu tau kan aku belum kepikiran ke arah sana. Aku masih mau selesai in S1 aku, lalu aku mau lanjut ke S2 aku, baru setelah itu aku fokus buat menikah. Untuk saat ini aku bener bener belum kepikiran kesana le “ ucap amar pelan, tapi entah kenapa ada sesuatu yang amar sembunyikan dari Lea. Lea hanya diam dan mendengarkan penuturan amar, meski dalam hati Lea sangat kecewa akan jawaban amar. Lea paham betul bagaimana perasaan amar saat ini. Tapi Lea juga ingin tau keputusan amar dalam menyikapi semuanya. Tapi ternyata jawaban amar memaksa Lea yang harus mengambil keputusan, mau tidak mau Lea harus tegas dengan hubungan ini. Lea udah cape seperti ini, amar enggan melepasnya namun juga tak kunjung memberi kepastian. Ia tak bisa terus terusan berada pada hubungan seperti ini, cukup sudah semuanya.

“ sudah lah le, sekarang tugas kita itu kerjasama le, a.... “ ucap amar yang langsung dipotong oleh Lea.

“ maaf mas, aku gabisa. Lebih baik kita saling cuek dan kembali asing aja seperti dulu.“ ucap Lea tegas meski dalam hatinya sakit banget, ia terpaksa mengambil keputusan ini demi kebaikan semuanya.

“ kenapa le, ngapain kita harus kaya gitu cuek cuekan hmm, aku gamau le, udah kek biasanya aja. Sekarang mending kita fokus sama mimpi masing masing dulu, kamu juga sekarang fokus aja sama mesantren kamu, hafalan kamu juga pokoknya gak ada cuek cuekan kayak gitu aku gamau “ ucap amar kesal dan ga percaya kalau lea akan mengambil keputusan seperti itu.

“ cukup mas, lebih baik kita cuek seperti dulu, agar nanti tidak ada yang menyakiti ataupun tersakiti “ ucap Lea diakhiri dengan senyum tipis lalu memilih meninggalkan amar sendirian tanpa memakan sedikit pun makanan yang sudah ia pesan.

Setelah kejadian malam itu, amar berusaha untuk terus menghubungi Lea dan berusaha untuk menyakinkan Lea bahwa semuanya akan baik baik saja.

Tapi tidak dengan Lea, Lea lebih memilih jalan ini. Lea sadar bahwa dialah alasan amar tidak juga menerima perjodohan itu. Lea sayang sama amar tapi Lea lebih sayang dengan uminya amar.

Ia tau karena masalah ini umi amar jadi sering sakit. Umi amar hanya ingin amar menikah agar uminya tenang kalau sudah ada yang bisa jaga amar. Umi amar takut kalau amar sampai melakukan hal hal yang tak seharusnya dia lakukan. Makanya umi amar sangat berambisi untuk mencarikan amar Istri.

Tapi karena aku, amar slalu mencari alasan agar perjodohan itu tidak terjadi. Padahal amar dulu telah menyerahkan urusan mencari istri kepada uminya.

Aku ngerasa kehadiranku hanya membuat amar berubah, tidak seperti amar yang dulu sangat patuh sama uminya bahkan sangat menjunjung tingi syariat agama Islam. Entah apa yang ada dipikiran amar, sehingga amar jadi seperti ini.

Benarkah ini yang dinamakan cinta itu akan membuat seseorang itu bodoh dan benarkah bahwa wanita adalah kelemahan laki laki, harusnya dari awal aku tak menerima tawaran nya, cukup menjadi teman yang saling mengenal saja tapi mau gimana lagi nasi sudah jadi bubur.

2 Minggu setelah kejadian itu Lea memutuskan kembali ke pesantren. Lea bahkan tidak pamit ke amar, karena beberapa hari sebelum Lea kembali ke pesantren. Amar dan Lea sempat bertengkar hebat, ya itu ulah Lea. Lea sengaja membuat masalah agar amar mau bener bener melepaskan Lea dan menerima perjodohan itu. Meski sebenarnya dalam hatinya, lea berharap perjodohan itu tidak pernah terjadi dan nantinya Lea dan amar bisa kembali dan menikah.

Bab 2

“ di... diaaa uda punya cewe raa “ ucap Lea lalu memeluk Rara, ia menangis dipelukan sahabat nya itu.

“ siapa yang lu maksud ha, dia? Bukannya dia uda menikah” tanya Rara bingung, karena setau rara saat ini Lea tidak lagi punya kekasih setelah berpisah dengan amar. Apalagi ketika mendengar kabar amar menikah, Lea bener bener acuh dan ga perduli lagi tentang cowo. Lea trauma, bagi lea semua cowo sama aja gaada bedanya semuanya sama sama brengsek.

Lea tidak menjawab pertanyaan Rara, ia masih setia menangis dipelukan sahabat nya itu. Rara paham akan keadaan Lea, ia membiarkan sahabat nya itu terus menangis untuk melampiaskan semua amarahnya. Nanti kalau udah tenang juga Lea bakal cerita.

Setelah Lea puas menangis Lea pun melepas pelukannya , Lea duduk menatap Rara dengan tatapan sendu. Iya bingung harus mulai dari mana.

“ Ra aku suka sama cowo yang berhasil membuat aku penasaran dengannya, disaat dimana hatiku masih sangat hancur, disaat aku tidak lagi ingin merasakan jatuh cinta Ra, disaat dimana aku ingin sendiri dengan kesendirianku sampai tiba dimana nanti aku bener bener nerima lelaki untuk kembali hadir dalam kehidupanku dan pastinya dalam ikatan yang halal bukan yang Cuma mau main main doang. Tta.. tapi dia berhasil membuatku penasaran dan jatuh cinta hanya dengan tatapannya yang seperti mengisyaratkan sesuatu, senyumannya yang indah dan begitu berarti. Aku penasaran dan makin penasaran akan sosoknya yang sangat misterius dan dingin kek kutub utara, bahkan Lo tau Ra setiap kali aku ga sengaja berpapasan dengannya dijalan atau didalem umi, jantung ku rasanya kek mau copot, dan ada perasaan aneh yang bahkan aku ga ngerti kenapa. Apalagi ketika hari dimana aku ingin pulang dan menunggu jemputan travel yang aku pesan. Dia ada disana, menatapku dan tersenyum manis, seperti ia ingin berkata sesuatu padaku. Tapi bodohnya aku mengabaikan nya tanpa mau tau apa yang sebenarnya terjadi, dan sejak hari itu setiap hari bayangan dia dihari itu terus menggangguku. Bahkan aku berfikir dia menyukaiku, dengan PD nya aku yakin dia menyukaiku Ra. Tapi kau tau, semalem aku memberanikan diri untuk nonton live nya, dia ngelive bersama dengan cewe dan di live nya dia menyebut nama cewe, dia bertanya akan keberadaan cewe itu kepada cewe yang live sama dia. Itu pasti cewenya, ia gamungkin nanya keberadaan cewe itu kalau bukan siapa siapanya kan ra. Aku kaget, aku bener bener ga habis fikir sama jalan pikiranku sendiri, aku terlalu mudah menyimpulkan bahwa dia menyukaiku hanya karena dia sering menatapku ketika tak sengaja bertemu, dan tersenyum manis ketika melihatku. Aku terlalu kepedean ra, harusnya saat itu aku balas menatapnya dan membalas senyumannya bukan malah membalas dengan perasaan dan berfikir dia menyukaiku. Padahal nyatanya setelah kepergian ku dari sana, dia tak pernah ngirim pesan setidaknya untuk berbadan basi, atau ngefollow Instagram aku. Itu semua tidak ia lakukan, bukankah katanya kalau cowok bener bener suka tuh effort nya besar, bahkan rela menemui cewenya sejauh apapun jaraknya. Tapi lihatlah tak sedikit pun dia lakuin ke aku, jangankan berusaha menemuiku, membalas pesanku waktu itu saja tidak. Dengan mudahnya aku menyimpulkan dia menyukaiku, bodoh ya Ra aku hiks hiks hiks dan menyakitkannya lagi Ra, semalem aku ngefollow dia dan kamu tau apa responnya? Dia ngeblokir Ig aku Ra hiks hiks hiks.” aku kembali menangisi diriku yang begitu bodoh dan kepedean. Malu rasanya aku berfikir seperti itu, siapa aku sampai berani berfikir begitu.

“ aku tau apa yang kamu rasain le, tapi udah gapapa yang sudah terjadi biarlah. Jangan difikirkan, masih banyak kok cowo diluar sana yang mau sama kamu. Lagian wajar kali kamu berfikir begitu, emang dasar cowok nya aja tuh yang brengsek. Mungkin saat itu dia penasaran le sama kamu makanya dia seperti itu, dan setelah kamu pergi mungkin dia bingung mau ngelanjutin atau berhenti. Pasalnya le, kalau semisal dia tetap ngelanjutin rasa penasarannya ke kamu, belum tentu kan dia siap buat LDR. Apalagi sikap kamu yang acuh ke dia, itu tambah bikin dia over thinking le, kalau secara langsung aja kamu cuek kayak gitu, gimana lewat pesan, bisa bisa chatnya kamu baca doang atau parahnya lagi kamu biarin, kan jadinya dia serba bingung. Dan soal cewe yang ia sebut di live mungkin bisa jadi benar mereka ada sesuatu, tapi kemungkinan tidak ada apa apa hanya teman saja. Pasalnya cowo kadang suka nanya nanya gitu, hanya untuk berbasa basi. Udah lah kalau emang kalian ditakdirkan pasti Allah persatukan, mau kamu diujung dunia juga bakal bersatu, mau kamu sama dia sekarang punya pasangan masing masing pun juga akan bersatu kalau udah jodohnya. Udah jangan sedih, fokus aja sekarang sama impian kamu, sama pendidikan kamu okk, ga penting mikirin cowo buang buang waktu. “ ucap Rara lalu kembali memeluk lea.

“ terus kenapa harus sampe blokir Ig aku ra hiks hiks hiks.” Tanyaku ke rara.

“ mungkin dia cuma gamau kamu tau aktivitas dia le, makanya dia ngeblokir kamu” ucap Rara menenangkan ku.

“ tapi kenapa harus blokir segala, cukup gausah diterima permintaan pertemanan juga gapapa kok. Lagian juga akunnya di privat juga” ucapku kecewa dan kesal.

“ ya aku gatau le kalau itu, kan aku bukan dia. Udah udah gausah lah dipikirkan, biarin aja dia mau ngapain. Sekarang kamu fokus aja sama mimpi mimpi kamu, capek mikirin cinta cintaan tuh” ucap Rara.

“ iya iya Ra, makasih ya Ra, kamu emang sahabat terbaikku “ ucap Lea sembari membalas memeluk Rara.

“ oh ya btw siapa namanya le “ tanya Rara sembari melepas pelukannya

“ namanya arhan “ ucap Lea

“ ooo, kenapa kamu bisa kenal dia” tanya Rara penasaran

“ dia gus dipesantren aku.” ucap Lea pelan, karena sebenarnya ia malu . Akan kebenaran dia menyukai gusnya sendiri, padahal siapa Lea dengan beraninya menyukai nya. Tapi sudah lah hati tak pernah perduli dengan siapa ia mencinta.

“ oalahhh, bagus tuh le. Sesuai mimpimu kan, buat punya pesantren. Kan dengan kamu nikah dengan dia, nanti kamu punya kesempatan kan buat belajar bagaimana mengelola dan mendirikan pesantren sama orang tuanya. Pasti dia juga penghafal Al-Quran, iya kan? Pas tuhh. Udah aku dukung deh kamu sama dia, aku doain le semoga kamu sama arhan berjodoh, aminnn “ ucap Rara antusias.

“ huhh ngawur kamu, mana ada konsepnya kaya gini. Itu pesantren milik Abi dan uminya, bukan milik dia. Lagian aku ga berharap buat jadi menantu kyai, soalnya berat tau. Ya kalau pun iya ya ga nolak juga si, hehe “ ucap Lea malu

“ dasar kau le, aminn deh aku doain yang terbaik buat kamu sama arhan “ ucap Rara dan lalu mereka berdua tertawa bersama

“ aminn, makasih ya Ra. Udah ah aku gamau bahas dia, nanti malah aku makin kepedean lagi. “ ucap Lea lalu fokus sama ponselnya.

“ le tahun baru kamu jadi ke jogja?” tanya Rara memastikan.

“ jadi Ra.” Ucapku pelan.

“ siapa aja?” tanya Rara.

“ biasa keluarga besar.” Ucapku singkat dan kembali memainkan ponselku.

“ o gitu.” Ucap Rara singkat.

“ kenapa gitu Ra?” tanyaku penasaran.

“ gapapa tadinya mau ajak kamu pergi, sekalian shoping tapi kamu udah ada agenda sendiri yaudah deh gajadi, kapan kapan aja.” Ucap Rara kecewa.

“ iya maaf ya, next time deh nanti kita pergi.” Ucapku.

“ Iya Sans aja.” Ucap Rara santai.

Bab 3

Pagi ini lea siap siap pergi ke jogja bersama keluarga besarnya. Rencana mereka berangkat habis subuh biar tidak terlalu sore sampainya karena pasti jalanan macet banget karena masih tahun baru.

Sebenarnya Lea males banget ikut, tapi karena lea gaada acara pergi dan Lea males juga kalau harus dirumah sendirian, jadi terpaksa lea ikut.

Disepanjang perjalanan seperti biasa Lea pasti tidur, bukan tidak mau menikmati perjalanan, Cuma Lea suka pusing kalau diperjalanan tapi untungnya Lea ga sampe mabuk perjalanan yang sampe mual mual gitu.

Destinasi pertama mereka di kiai langgeng di Magelang, tujuan buat nyenengin bocil bocil karena disana banyak sekali wahana permainan seperti di Dufan Jakarta, Wisata Bahari Lamongan ( WBL ) juga trans studio bandung. Cuma wahana permainan nya ga se ekstrim di Dufan Jakarta maupun ditrans studio bandung, lebih mirip wisata bahari Lamongan (WBL) sih.

Puas di kiai langgeng, mereka lanjut ke pantai Parangtritis Yogyakarta.

Sesampainya disana Lea yang pertama langsung lari kepantai dan mencari tempat yang agak sepi dan berteriak sekencang-kencangnya itulah kebiasaan lea kalau kepantai tapi Lea lupa kalau ini tahun baru, jadi semua tempat di pantai Parangtritis ramai dan ombaknya juga besar. Alhasil Lea hanya maen air ditepi pantai dan menikmati terjangan ombak yang besar. Lea sedikit kecewa karena menurut lea teriak di tepi pantai tuh vibes nya enak banget ditambah dengan aroma air pantai serta semilir angin pantai yang sejuk. Gemercik ombak serta pemandangan langit senja yang begitu indah menambah kesan yang mendalam, duduk termenung ditepi pantai sambil menangis itu hal yang sangat menyenangkan buat seorang Lea. Tapi karena pantai sangat ramai oleh wisatawan, jadi Lea tidak bisa melakukan kebiasaannya kalau dipantai.

Bagi Lea Pantai tuh begitu menenangkan apalagi ketika lagi galau dan patah hati dan gunung begitu menyenangkan apalagi ketika lagi suntuk, capek, stress sama beban hidup juga kerjaan yang menumpuk, kayak semua beban langsung hilang ketika sudah berada dipuncak gunung, serta menambah rasa syukur kita kepada Allah, terhadap ciptaan Allah yang sangat indah ini.

Puas main dipantai tujuan terakhir yaitu di Malioboro karena disana kita bisa kulineran juga bisa belanja apapun disana, apalagi suasana malam di Jogja tuh vibes nya keren parahh. Apalagi kopi arang nya uhh, mantep puoll.

Puas berkeliling Malioboro mereka memutuskan pulang karena esok harinya sudah mulai berangkat sekolah.

***

“ le, kamu jadi mau ke bandung lagi?” tanya Rara, karena Lea sempat cerita kalau ia mau kembali ke bandung.

“ iya Ra, rencana Minggu ini “ ucap Lea lalu kembali menatap ponselnya.

“ kamu yakin le, kenapa ga nunggu nanti aja habis lebaran, terus gimana sama kerjaan kamu disini hmm. Lagian baru juga kamu balik beberapa bulan yang lalu masa harus berangkat la We gi, kamu tega le ninggalin aku mulu” ucap Rara cemberut, habis ia kesal dengan keputusan Lea yang akan kembali ke bandung.

“ aku yakin Ra, dari sekian banyak tempat yang pernah aku kunjungi Cuma bandung yang berhasil membuat aku berat meninggalkan tempat itu. Rasa nyaman dan ketenangan, aku mendapatkan nya disana Ra. Bukan aku tak nyaman dengan tempat kelahiran ku disini, aku hanya tak merasakan sebuah kenyamanan yang aku rasakan disini. Aku punya rumah tapi seperti tak punya rumah, keluarga yang seharusnya menjadi rumah untuk ku tapi mereka tak ada saat aku butuh rumahku. Mungkin emang dari segi uang aku tercukupi, tapi bukan itu yang aku butuhkan ra, ku harap kamu ngerti. Di Bandung aku bebas menjadi diriku sendiri tanpa ada yang menghakimi, aku bebas pakai baju apapun, bebas pakai kaos kaki tanpa perlu ada yang nanya "kenapa kamu pakai kaos kaki, emang ga gerah", aku muak Ra, aku capek, disana aku bebas explore apapun tanpa takut celaan. Aku bebas membuat aturan untuk diriku sendiri. Aku bebas tanpa ada yang mencela masa laluku, Itu alasan kenapa aku memilih Bandung Ra, semoga kamu paham “ ucap Lea menjelaskan isi hatinya, ya selama ini Lea tertekan dengan keadaan ini. Bukan lea tak bersyukur tapi ini kenyataan, Lea slalu dituntut ini dan itu tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Lea. Mereka emang tidak gagal mendidik Lea namun mereka gagal memahami perasaan Lea. Mau bagaimanapun dan sampai kapanpun Lea akan slalu sayang sama mereka.

“ iya le aku paham, apapun keputusan mau aku doain yang terbaik le. Semoga dimanapun kamu berada Allah slalu menemani dan melindungi kamu le, tapi apa harus minggu ini, apa gabisa habis lebaran sekalian “ ucap Rara.

“ keputusan aku udah bulat Ra, Minggu ini aku bakal berangkat ke Bandung.” Ucap aku tegas.

“ Yaudah kalau itu keputusan kamu, semoga dimana pun kamu berada Allah selalu bersamamu.” Ucap Rara pasrah.

“ aminnn makasih ya Ra, semoga doa yang terbaik kembali ke kamu Ra “ ucap Lea lalu kembali menatap ponselnya tatkala ia mendengar notifikasi pesan masuk, Lea melotot tatkala ia melihat siapa yang mengirim ia pesan.

“ le, kenapa kamu melotot gitu, kamu liatin apa di le “ tanya Rara penasaran, yang tak di respon Lea sama sekali. Lea masih dengan posisi sama menatap ponselnya.

“ le liatin apa sii” tanya Rara kembali dan langsung mengambil ponsel Lea begitu saja, pasalnya Lea Cuma diam dan engga menjawab Rara. Ia pun ikut kaget ketika ia menatap ponsel Lea.

“ le ini beneran, dia nge chat kamu le seriuss. Atau ini orang lain yang kebetulan namanya sama“ tanya Rara nyerorcos yang hanya diangguki sang pemilik ponsel.

“ wah wahh kayaknya emang lu sama dia jodoh deh le “ ucap Rara bahagia.

“ ngawur kalau ngomong kamu Ra, tapi ini beneran dia ga sih, kan nomor dia udah aku blokir barengan waktu dia ngeblokir Ig aku“ ucap Lea sinis.

“ kamu blokir nomor dia?” tanya Rara memastikan.

“ iya.” Ucap Lea singkat.

“ huh dasar kamu ya le, gamau kalah.” Ucap Rara gahabis pikir sama tingkah laku temannya yang super duper aneh. Katanya cinta tapi baru diblokir Ig nya langsung balas blokir nomornya, padahal chatan juga kaga.

“ masa bodo.” Ucap Lea songong.

“ yaudah si paling nomor temennya tapi seneng kan hmm.” tanya rara menggoda.

“ apaan si udah deh diem” ucap Lea salting.

“ udah buruan bales tuh mas crushnya, siapa tadi namanya, ehmmm oh iya, Arhan. Udah cepetan bales tuh si arhannya, gausah sok jual mahal lagi. Nanti dia sama cewe lain nangissss “ ucap Rara kembali meledek sahabat nya ituu

“ diemmmm ra, iya iya aku bales “ ucap Lea lalu kembali menatap ponselnya dan kembali membaca pesan dari nomor tak dikenal itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Azalea

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED