“Na! Aku dengar kamu dapat proyek gede. Beneran, nih?” tanya Sally pada temannya, Fiona.
“Biasa aja sih, Sal. Gede apanya coba? Aku kan cuma seorang wedding planner yang rangkap jadi penjual bunga juga. Ga bisa dibandingkan sama proyek mega yang harga milyaran punya perusahaan kamu tahu!” Fiona terkekeh di ujung kalimatnya. Sally terlalu membesar-besarkan proyek yang ia dapat kali ini.
Fiona Russell adalah seorang wanita berusia 27 tahun. Ia akrab disapa dengan ‘Nana’ atau hanya ‘Na’ oleh orang-orang terdekatnya. Bentuk wajahnya yang oval, ditambah dengan gigi gingsulnya, serta paket lesung pipi yang manis di kedua belah pipi, membuat orang-orang betah menatap wajah putih bersih milik wanita itu.
Fiona hanya memiliki Sally sebagai temannya, selain mamanya, Bella Russell yang keturunan Skotlandia. Sementara itu, papanya adalah orang Indonesia. Namun, selama 27 tahun sudah hidupnya, Fiona belum pernah mengenal siapa ayah kandungnya. Sementara itu, Fiona sendiri juga tidak pernah lagi mau bertanya pada sang mama.
Fiona khawatir ia akan menguak luka lama yang mungkin masih belum sembuh. Jadi, Fiona memutuskan untuk mengubur rasa penasarannya itu. Lagi pula, hidup Fiona juga baik-baik saja tanpa kehadiran papanya.
“Ck! Miss Russell! Kamu lagi ngeledek, ya?” tanya Sally dengan memicingkan matanya menatap wajah cantik Fiona.
“Bukan begitu, sih, Sal. ‘Kan memang kenyataannya begitu. Lagian aku kan cuma karyawannya Mama. Sementara kamu? Kamu itu bosnya!” serobot Fiona cepat.
“Fiona ....”
“Eh, Nak Sally! Ternyata ada tamu. Fiona kok nggak ngasih tahu Mama, sih?!” itu adalah suara Bella Russell yang baru saja muncul dari balik daun pintu ruangan Fiona.
“Hallo, Ma,” panggil Fiona pada Bella Russell. Wanita itu hanya bisa menyeringai menatap sang mama yang mulai melangkah masuk ke dalam ruangannya.
“Maaf, Tante. Tadi aku mau bertamu ke kantornya, Tante, tapi nggak ngasih tahu Tante dulu sebelumnya, hehe,” ucap Sally dengan tertawa tanpa merasa bersalah. Ia segera bangkit dari kursinya lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya itu.
“Nggak apa-apa, kok, Sal! Tante, sih, senang-senang aja. Bentar, ya! Tante punya urusan sama Nana.” Bella mempersilahkan lagi Sally kembali ke kursinya dan memanggil Fiona untuk berbicara dengannya.
“Ya, Tante. Fiona sama Tante silakan mengobrol saja.” Sally lantas meraih tasnya. “Aku akan kembali ke kantor dulu, Na. Permisi, Tante. Maaf mengangguk,” ucap Sally dan mohon pamit.
“Loh, Sal? Kok buru-buru pulang?” Bella mengerutkan keningnya menatap sahabat putrinya itu.
“Aku cuma mampir sebentar doang, kok, Tante. Lagian bentar lagi aku juga harus bertemu dengan klien,” ucap Sally lagi. Kali ini ia terdengar sangat meyakinkan.
“Ya sudah, ga apa-apa, Ma. Biarkan saja Sally lanjut kerja. Kapan-kapan dia bisa datang ke rumah lagi. Iya kan, Sal?” Fiona mengedipkan sebelah matanya menatap Sally yang sepertinya mengerti akan kode darinya.
“Iya, Tante! Sally bisa datang ke sini kapan saja, kok! Sally pamit dulu, ya!”
Setelah kepergian Sally, Bella menatap anaknya dengan serius. Setelah berbasa-basi, kali ini mereka akan membahas pekerjaan.
“Na, apa kamu udah liat proposalnya?” tanya Bella pada putrinya.
“Udah, kok, Ma. Sepertinya klien mau bikin sebuah pesta yang mewah, ya?” cerocos Fiona. Tangannya tampak sibuk membenahi berkas-berkas di atas meja. Mejanya tidak berantakan, tetapi juga tidak bisa dibilang rapi. Karena tangannya senggang, jadi sekalian saja ia membersihkannya sambal berbincang dengan Bella.
Bella sekadar mengangguk. “Jadi, kapan kamu mau ketemu sama calon pengantinnya?” tanya Bella lagi pada putrinya.
Fiona menghentikan gerakan tangannya dan balas menatap sang mama. “Besok, Ma. ‘Ntar Nana minta Kimchi untuk menghubungi klien buat janji temunya,” jelas Fiona dan menyelesaikan kegiatannya menata berkas.
Setelahnya, Fiona lantas menggapai ponsel yang tergeletak di atas meja kerja yang sebelumnya tertutupi oleh kertas-kertas. Ia mengirimkan pesan pada asistennya, Kimchi, untuk segera menghubungi klien.
“Na, barusan kamu dari mana sama Sally?” Bella bertanya sekedar basa-basi.
“Dari Bandara ma, habis jemput kakaknya si Sally.” jawab Fiona. Melemparkan ponselnya sembarangan di atas meja.
Bella bisa melihat jika saat ini, pipi Fiona tiba-tiba bersemu merah, malah putrinya itu terlihat sedang mengulum senyum.
“Apakah mama sudah melewatkan sesuatu Fiona?” tanya Bella, mencoba meminta Fiona menceritakan apa yang sudah terjadi.
“Ada deh.” jawab Fiona singkat. Mengulum senyum dan matanya menatap kosong ke depan. Sekonyong-konyong, ingatannya kembali lagi pada peristiwa tadi.
Flashback On
“Na! Fiona Russell!” teriak Sally setelah Fiona tidak merespon panggilannya beberapa kali.
“Sally, kok teriak-teriak sih. Ini bandara tauk! Bukan hutan. Emang kamu tarzan modern?” kesal Fiona. Karena tidak sedikit mata yang sedang melihat ke arah mereka.
“Makanya kalo di panggil itu jawab Na, emang kamu lagi liatin apa sih?” tanya Sally sambil mengikuti arah pandangan Fiona.
“Noh Sal, pilot itu cakep banget deh sumpah.” celetuk Fiona. Jujur.
“Ciee… selera kamu memang pilot mulu kan Na, ga pernah berubah.” usik Sally.
“Ck! Apaan sih. Aku kan cuma bilang cakep saja. Bukan bermaksud aku jatuh cinta.” sanggah Fiona, sambil berdecak kecil.
“Biarlah aku menjadi pengagum rahasianya. Karena sebentar agi, aku pasti bakalan lupa sama wajahnya.” lanjut Fiona lagi sambil menatap ke arah seorang pria yang sedang menyeret koper kecilnya itu, lengkap dengan seragam resmi kerjanya.
Akhirnya kedua sahabat itu tertawa lucu.
Flashback Off
Pria matang yang tampan dan gagah berusia 29 tahun itu adalah David McLaren, atau lebih akrab disapa dengan Dave oleh teman-teman dan keluarganya. Ia merupakan seorang kapten pilot termuda di maskapai Eagle Indonesia Airlines. Di usianya yang ke 28 tahun, Dave telah dinaikkan jabatannya menjadi seorang kapten pilot karena hasil kerjanya yang begitu cemerlang dan sangat disiplin dalam bertugas.
Namun sayangnya, kehidupan pribadi pria itu tidaklah secemerlang kerjayanya. Dave harus terus menghindar dari kejaran Lifia, putri dari kolega bisnis mamanya.
Setelah usai pekerjaannya, Dave akhirnya sudah bisa pulang. Ia sudah tidak sabar untuk segera mengistirahatkan badannya. Pria itu mulai menyeret kopernya dan melangkah mantap menuju parkiran, tempat di mana supir Dave sedang menunggu untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Tiba-tiba saja, Dave mau tidak mau harus mengurungkan niatnya untuk pulang dengan cepat saat mendengar sebuah suara feminism dibalik punggung memanggil namanya.
“Dave …,” panggil satu suara wanita dari arah belakang David.
“Mbak Fiona, tadi aku udah nelpon klien dan kata mereka, kita bisa langsung ketemu di rumahnya sekarang juga.” itu adalah suaranya Kimchi, asisten Fiona yang tadi ia suruh untuk menghubungi klien karena mamanya yang meminta Fiona untuk memastikan bagaimana proyek yang akan mereka lakukan kali ini berjalan dengan lancar.
Sebelum Fiona sempat menjawab, Kimchi kembali melanjutkan ucapannya. “Itu juga kalau Mbak Fiona punya waktu hari ini.”
Fiona tampak berpikir, kemudian mengangguk kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Kimchi.
“Iya sudah, Kim. Kita langsung kesana sekarang,” ucap Fiona setelah menimbang-nimbang kembali, terlalu banyak yang harus ia lakukan untuk persiapan pesta pernikahan kliennya itu. Semakin cepat dilakukan, maka akan semakin cepat selesai juga, dan waktu juga akan tersisa lebih banyak jika-jika terjadi sesuatu yang diluar kendali.
“Sip, deh, Mbak. Kalau begitu saya siapkan dulu berkas yang harus kita bawa nantinya, ya?” izin Kimchi, lalu berbalik badan untuk segera pergi dari ruangan atasannya itu. Akan tetapi, langkahnya terhenti tatkala telinganya mendengar Fiona yang kembali berbicara.
“Tidak usah, Kim. Semua sudah ada di dalam tablet ini, loh. Kita nggak perlu repot-repot bawa berkas,” ucap Fiona sambil mengangkat tinggi tablet yang berada di tangan kanannya. Ia lantas melemparkan senyuman lucu yang penuh dengan kebanggaan akan usahanya.
“Astaga! Maaf, Mbak FIona!” Kimchi menepuk lembut dahinya. Bisa-bisanya dia melupakan kalau atasannya sekarang adalah Fiona Russell, bukannya Bella Russell yang kalau ketemu klien pasti akan membawa berkas-berkas yang merepotkan.
“Oh iya, Kim, tolong titipkan pesan buat Santi kalau stok bunga di gudang belakang harus segera di cek,” imbuh Fiona lagi dan lantas Kimchi menganggukkan kepalanya. Mengangkat kedua belah jempol akan perintah Fiona padanya.
***
Beberapa menit kemudian, seperti yang telah dirundingkan oleh Kimchi dan klien mereka, Fiona kini sudah pun berada di ruang tamu sebuah rumah mewah berlantai dua dengan nuansa putih kuning yang cukup memberikan kesan hangat dan elegan.
“Mbak, duduk dulu, ya. Sebentar lagi Nyonya sama Nona Alin turun,” ucap asisten rumah tangga itu dengan nada yang sopan setelah meletakkan jus jeruk di atas meja di hadapan Fiona dan Kimchi. Tak hanya itu, ia juga menyiapkan makanan-makanan kecil sebagai hidangan untuk para tamu. “Silakan diminum, Mbak. Saya izin kembali ke dalam dulu,” imbuh pembantu itu lagi.
Tak lama setelah asisten rumah tangga itu meninggalkan Fiona dan Kimchi di ruang tamu, terdengar bunyi deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah. Bunyi itu tidak hanya cuma satu, tetapi terdengar seperti ada dua buah mobil yang masuk dan parkir.
“Kim, apa calon pengantin prianya juga kemari?” Fiona menatap Kimchi dengan penuh tanda tanya.
Akan tetapi, belum sempat Kimchi menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Fiona, terdengar suara keributan dari arah pintu utama. Tentu saja itu membuat Fiona dan Kimchi bangkit dan saling lempar pandang kebingungan. Fiona tiba-tiba merasa jika ini adalah waktu yang tidak tepat untuk datang berkunjung.
Karena rasa penasarannya yang tinggi, Fiona memutuskan untuk melangkah ke luar dari ruang tamu, Kimchi membuntutinya dari belakang dengan rasa khawatir. Dilihatnya seorang pria dan wanita yang berjalan meninggalkan halaman parkir dengan langkah yang cukup cepat.
“David McLaren! Berhenti!”
Pria yang dipanggil itu tidak menoleh ada wanita di belakangnya dan terus berjalan ke arah pintu masuk rumah. David tersentak saat badannya hampir saja menabrak Fiona yang berdiri di dekat pintu masuk. Alisnya mengernyit tajam melihat keberadaan dua orang asing di dalam rumahnya.
Wanita yang tadinya terus mengikuti David dari belakang itu berhenti dan menatap tajam ke arah Fiona yang tidak tahu apa-apa. Ia menatap Fiona dan David bergantian. “Oh?! Jadi ini alasannya? Jadi ini alasannya kamu terus-terusan menolak aku Dave?” ucap wanita itu lagi sambil melangkah cepat menghampiri Fiona. Dave adalah nama panggilan akrab untuk David.
Sementara Fiona yang tidak mengenal dua orang itu hanya bisa melangkah mundur setelah wanita asing itu berdiri tegak di depannya. Dia bersedekap dengan tatapan seolah-olah bisa menelan hidup-hidup Fiona kapan saja.
“Tenang, Mbak,” ucap Fiona berusaha menenangkan wanita yang tidak tahu sopan santun itu. Seenaknya saja dia menyalahkan Fiona yang tidak tahu apa-apa.
“Mbak, Mbak? Saya Lifia! Nama saya Lifia!” serobot Lifia memotong cepat ucapan Fiona barusan. Sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dada. Ia menatap Fiona dengan sombong.
Fiona menarik napas untuk menenangkan diri. “Iya, Mbak Lifia. Maaf. Maaf, saya tidak tahu permasalahan kalian berdua, saya hanya orang asing yang ke sini cuma untuk urusan pesta pernikahan dan tidak—”
“Apa! Pernikahan?!” potong Lifia dengan cepat sebelum Fiona menyelesaikan penjelasannya. “Jadi kalian sudah mau menikah!” teriak Lifia lagi dengan suara cemprengnya.
Nadi Fiona berdenyut. Padahal ia tadi sudah jelas-jelas mengatakan jika dia hanya orang asing. Kenapa wanita di depannya ini sangat sensitif dan penuh emosi?
“Bukan begitu,” sanggah Fiona. “Tapi—”
“Oh iya, Sayang!” Lagi-lagi ucapan Fiona terpotong, kali ini oleh David. “Aku lupa jika hari ini kita akan membahas pesta pernikahan kita.”
Mata Fiona melebar saat menatap David, mulutnya bahkan sampai menganga lebar. Belum sempat ia memahami ucapan David, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar melingkari pinggang ramping Fiona. Badan David mendekat ke arah Fiona hingga ia bisa mencium aroma maskulin ria itu. Otak Fiona berusaha mengolah apa yang sedang terjadi. Ia tidak mengerti mengapa David berkata seperti itu. Lalu, sejak kapan Dave sudah berada di samping Fiona?
Fiona segera mendapatkan kembali kesadarannya tatkala ia merasakan tangan David yang meremas pelan pinggangnya.
“Apa?!” Kini, giliran Fiona yang menjerit kaget. Bukan hanya Fiona, Kimchi yang berdiri tak jauh dari Fiona juga terlihat sangat terkejut mendengar pernyataan yang meluncur dari bibir Dave. Kimchi tidak pernah mendengar pernyataan seperti itu dari FIona. Sungguh di luar dugaan.
“Apa-apaan ini? Apa yang kalian ributkan?” tegas satu suara yang muncul dari dalam rumah.
Semua mata terpaku pada sumber suara. Seorang wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan Bella Russell muncul dengan elegan dan berkarisma. Di sampingnya berdiri seorang wanita muda yang wajahnya mirip sekali dengan Dave.
Wanita muda yang mirip dengan Dave itu adalah Alin McLaren. Ia adalah alasan utama dari kedatangan Fiona ke rumah mewah itu. Namun sekarang, sepertinya Fiona malah terjebak dengan permasalahan yang muncul secara tiba-tiba. Padahal Fiona datang hanya untuk membahas proyek pernikahan.
“Tante Lisa.” Lifia sedikit mengendurkan nadanya dan menatap takut pada wanita paruh baya itu.
“Fia!” Wanita berumur itu menatap tajam Lifia. “Tante mohon sama kamu. Pulang sekarang! Tante masih punya banyak urusan,” perintah Lisa tanpa basa-basi.
Wajah Lifia memelas. “Tapi, Tante—”
“Lifia. Pulang. Sekarang.” Lisa menekan setiap katanya.
Lifia tidak bisa membantah lagi. “Baik, Tante Lisa. Lifia pulang dulu, tapi nanti Lifia bakal ke sini lagi, Tante. Aku butuh banget penjelasan dari Dave!”
“Tidak ada yang perlu untuk dijelaskan lagi Lifia! Kamu sudah melihat dan mendengarnya sendiri, ‘kan?” ucap Dave yang masih tidak mau melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Fiona. Meskipun wanita itu sudah berusaha kuat untuk melepaskan diri, tetapi usahanya berujung sia-sia. “Mulai detik ini, kamu berhentilah berharap Lifia. Karena sebentar lagi saya akan menikah,” imbuh Dave lagi dengan tampang tidak berdosanya.
Tidak kuat untuk terus berada di sana, Lifia akhirnya berlari keluar dari ruangan tamu menuju parkiran mobil, menahan perasaan kesal. Hatinya mendongkol geram dan berjanji akan membalaskan sakit hatinya saat ini.
Sementara itu, Fiona yang mulai risih akhirnya memberontak. “Bisa lepas gak sih? Kamu siapa? Kok tiba-tiba manggil Sayang segala? Kenal juga nggak!”
Fiona akhirnya bisa melepaskan rangkulan tangan Dave di pinggangnya. Ia lantas nyerocos tanpa jeda dan mengacuhkan kehadiran tiga orang lagi di ruangan tamu itu.
“Kamu itu calon istri saya, ‘kan?” ucap Dave sambil menatap lekat wajah cantik Fiona, wanita yang baru saja ia jumpai. Padahal, Fiona yakin jika Dave sendiri belum tahu siapa namanya. Bagaimana mungkin Dave akan menikah dengannya. Fiona sendiri juga tidak mau menikah dengan orang asing.
“Apa sudah jelas, hmm?” tanya Dave lagi, menekan setiap butir ucapannya.
“Halo? Kamu sepertinya salah makan sesuatu, deh. Siapa bilang saya itu calon istri kamu? Nggak usah aneh-aneh tahu!” Fiona sebisa mungkin untuk tidak berkata lebih kasar lagi. Karena ia masih menghormati Lisa yang sedang memperhatikan mereka.
“Oh iya? Kita lihat saja nanti,” ucap Dave lantas melengos pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu, melewati Fiona, Kimchi, Lisa, dan Alin tanpa pamit.
“Heh! Kamu!” jerit Fiona tertahan.
“Aduh, maafkan putra nakal saya Nona Fiona” ucap Lisa yang berusaha menenangkan amarah Fiona. Sontak itu membuat Fiona mengurungkan diri untuk memanggil Dave kembali.
Fiona jadi salah tingkah karena harus menunjukkan sisi buruknya pada Lisa yang anggun dan berkarisma. “Hee ... i-iya,” ucap Fiona. Padahal dalam hati, ia berusaha keras menahan rasa kesal dan amarah yang membara di dadanya.
“Jadi, apa bisa kita mulai mendiskusikan pernikahannya” Sekali lagi, Lisa membuka bicara. Fiona mengangguk menyetujui. “Kalau begitu, mari kita duduk.”
Pagi datang kembali seperti biasanya. Setelah sarapan bersama ibunya dengan tenang, Fiona segera melanjutkan pekerjaannya. Kali ini, ia disibukkan dengan memilah satu persatu berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Ia harus menyiapkan proyek-proyek lain di luar proyek pernikahan Nona Allin. Di tengah kesibukannya itu, konsentrasinya teralihkan saat mendengar pintu kantornya diketuk.
Sembari bertanya-tanya siapa yang datang berkunjung, Fiona mempersilahkannya. Biasanya yang akan masuk ke dalam kantornya adalah mamanya atau Kimchi, atau juga sahabatnya. “Masuk saja!”
Fiona mengarahkan siapa saja yang berada di balik daun pintu untuk segera masuk. Tanpa menunggu orang itu masuk, Fiona kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkasnya.
“Selamat pagi, calon istriku. Bagaimana kabarmu hari ini?” ucap satu suara bariton yang asing di telinga Fiona.
Wanita itu mengernyit cepat dan Fiona dengan segera ia mengangkat wajahnya saat mendengar kalimat yang biasa diucapkan oleh kekasih pada pujaan hatinya. Namun, Fiona tidak ingat pernah memiliki kekasih, bahkan orang yang menjadi calon suaminya.
“Kamu!” Alangkah kagetnya Fiona saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini. Bola matanya melebar sempurna, menatap pria itu dengan tatapan kaget dan tidak percaya.
Sementara itu, pria yang baru masuk itu hanya menyunggingkan senyum lebarnya, seolah-olah Fiona memang kekasih yang akan menjadi calon istrinya.
“Halo, Sayang,” jawab pria itu dengan sok ramah, yang justru membuat Fiona merinding saat melihat dan mendengarnya.
Fiona menoleh ke sana-kemari. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” Fiona tidak ingat pernah memberikan alamatnya pada pria di hadapannya itu. Namun, ia segera tahu jika tidak susah untuk mencari alamat dari Wedding Organizer miliknya dan ibunya.
Siapa yang ngasih izin kamu buat masuk ke kantor saya?” pertanyaan yang bakal membuat Fiona menelan salivanya sendiri nantinya.Seharusnya, sebelum mempersilakan orang masuk ke ruangannya, Fiona harus bertanya siapa dulu yang ada di depan pintu.
“Duh, bukankah kamu sendiri yang mempersilahkan saya masuk, hmm?” Dave lantas menarik kursi yang berada di hadapan meja kerja Fiona lantas menghempaskan bokongnya di sana sebelum Fiona mengizinkannya. Ia bersikap sangat santai seperti ruang kerja Fiona ini sudah menjadi tempatnya juga.
Seketika Fiona meraup kasar wajahnya. Sepertinya hari ini adalah hari yang kurang beruntung untuk Fiona setelah ia melihat kehadiran Dave di sana. Ia tidak pernah menyangka jika Dave akan bisa sampai di tempat kerjanya.
Fiona menatap lekat wajah pria di depannya itu saat ini. Iris hazelnya menyapu setiap inci wajah tampan yang bersih dan menawan itu.
“Apakah Anda sudah jatuh cinta pada saya Nona Fiona Russell?” Pertanyaan sarkas yang baru saja dilontarkan Dave membuat Fiona tersedak ludahnya sendiri.
“Percaya diri sekali, Anda!” seru Fiona lantas memalingkan wajahnya ke samping. Malu sekali rasanya saat ia tertangkap basah sedang memperhatikan wajah pria arogan di depannya itu.
Dave sekadar mengangkat kedua belah bahunya tanpa berniat untuk membalas ucapan Fiona barusan. Pria itu kembali membisu. Sementara matanya tidak pernah lepas dari menatap Fiona yang sepertinya sudah salah tingkah dan itu tentu saja membuatnya merasa menang.
“Sepertinya, justru Anda yang sudah jatuh cinta dengan saya, ‘kan?” balik Fiona menyerang Dave dengan ucapan yang sama. Ia tersenyum miring, tetapi tidak pernah mengurangi kecantikannya yang begitu alami.
Akan tetapi, Fiona harus merasa kecewa karena Dave tidak terlihat tertarik untuk menjawab serangannya. Dave memasang wajah serius dan duduk dengan tegak, lalu berkata, “Bekerjasamalah dengan saya Nona Fiona,” ucap Dave tanpa basa-basi.
Senyum seringai Fiona menghilang dengan cepat. Ia kembali menatap pria di depannya dengan serius sembari menunggu kalimat yang selanjutnya yang akan keluar dari bibir Dave.
“Pura-puralah menjadi calon istri saya dan saya akan memudahkan segala urusan Anda,” imbuh Dave lagi.
Seketika tawa Fiona meledak. Ucapan Dave barusan itu terasa menggelitik telinganya hingga membuat wanita itu tidak bisa menahan tawanya. Rasanya lucu sekali mendengar orang asing tiba-tiba memintanya untuk menjadi calon istri pura-pura dengan tawaran akan memudahkan segala urusan Fiona nantinya. Namun tidak berlangsung lama.
“Saya sedang tidak bercanda, Nona.” Dave bersuara tegas saat Fiona menghentikan tawanya. Fiona menarik napas panjang dan menatap Dave dengan tatapan miring.
“Memangnya kenapa harus saya?” balik Fiona bertanya sambil menghapus sudut matanya yang sedang mengalir buliran bening akibat terlalu banyak tertawa menggunakan sehelai tisu yang baru saja di ambilnya.
“Karena Anda sebelumnya sudah terjebak dengan saya. Jadi, saya menawarkan Anda untuk bekerja sama,” jawab Dave santai.
“Apanya yang terjebak? Itu kamu sendiri yang menyeret saya seenaknya, ‘kan? Enak banget kamu minta saya tanggung jawab dengan masalah yang kamu ciptakan sendiri? Ogah kali saya mau kerja sama dengan orang kayak kamu. Mending sekarang kamu pergi aja dari sini. Karena saya tidak punya waktu untuk meladeni permintaan yang super duper aneh kamu itu. Banyak pekerjaan yang harus saya lakukan, salah satunya adalah saudara kamu, Nona Allin.” Fiona mengusir Dave dengan cara halus, meski masih menggunakan kata-kata yang sarkas.
Akan tetapi, bukan Dave namanya jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Pria tampan itu kembali bersedekap sambil melemparkan senyum misteriusnya. Ia terlihat masih tidak mau meninggalkan kantor Fiona meski wanita itu sudah mengusirnya.
“Apa kamu tahu Lifia itu siapa?” Dave bertanya sambil memainkan kedua alisnya.
“Bodo amat! Mau dia siapa juga saya nggak peduli. Yang penting sekarang saya itu tidak mau ikut campur dengan urusan kalian. Titik.” tegas Fiona, nyerocos tanpa jeda. “Tolong bertanggung jawablah sendiri atas apa yang kamu perbuat! Jangan menyeret-nyeret saya! Saya hanya orang asing yang mampir sebentar ke kehidupan kalian.”
Dave menghela napas panjang. “Nona Russell, Lifia itu sudah mengenali wajah kamu. Dan mungkin saat ini dia sedang menyelidiki latar belakang kamu beserta dengan semua bisnis yang sekarang ini kamu tekuni.” Dave menjeda ucapannya. “Dan saya yakin sekali jika Lifia akan berusaha untuk menjatuhkan kamu dengan berbagai cara. Lifia itu orang yang menghalalkan segala cara demi keinginannya,” lanjut Dave lagi.
“Kalau begitu, kamu sendiri yang harus bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan pekerjaan saya, itu salah kamu! Kan kamu yang menyeret saya! Saya adalah korban di sini!” tegas Fiona lagi.
Dave berdecak sebal. “Nona Russell, ini akan menjadi urusanmu juga!” jawab Dave cepat.
“Maksudnya apa, ya?” Fiona bertanya dengan tatapan kurang mengerti dari ucapan Dave barusan, masih dengan emosi yang meningkat. Karena kali ini tidak ada Nyonya Lisa, ia bisa mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Dave menjawab, “Tentu saja kamu akan mengikuti ucapanku karena saya sendiri yang akan menghancurkan ‘ANA’S WEDDING DREAM’ sebelum Lifia yang melakukannya.” Kali ini Dave sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.
“Kamu!” Fiona menggeram dengan ancaman Dave padanya.
“Iya! Sekali lagi kamu menolak permintaan saya, maka saya bisa memastikan jika kamu akan kehilangan segalanya dalam sekelip mata,” teror Dave. “Saya memberikan tawaran baik-baik pada Anda. Jika Anda mau bekerja sama dengan saya, maka akan saya berikan segala kemudahan dalam pekerjaan Anda. Namun, jika Nona Russell menolak, maka mau tidak mau saya harus membuat Anda menderita dulu agar mau menerimanya.”
Pernyataan Dave yang di luar nalar itu seketika membuat Fiona tidak bisa berkata-kata.
‘Sial banget sih. Usaha ini Mama rintis dari nol lagi. Kalau semua ini hancur, maka aku sama Mama pasti harus kembali ke Edinburgh. Kalau kembali ke sana, aku pasti akan ketemu sama dia lagi.’ Fiona berperang dengan batinnya sendiri.
“Bagaimana? Apa kamu masih mau menolaknya?” Dave kembali bertanya dengan memasang wajah yang super duper menyebalkan.
Fiona menunduk dalam. Hatinya bergetar. “... Kenapa? Kenapa harus seperti itu?” tanya Fiona dengan kedua manik hazelnya yang berkaca-kaca.
“Karena ini jalan satu-satunya.” jawab Dave dengan suara yang lebih pelan. Ia seperti menurunkan emosinya yang tadi membawa. Ia tanpa merasa bersalah sekali pun saat menatap kedua kelopak mata Fiona yang sudah menjatuhkan bulir-bulir bening, seolah-olah Dave tidak punya pilihan lain meski harus menyakiti Fiona.
“Sekarang aku mau tahu jawabanmu apa?” Dave kembali melontarkan pertanyaannya. Ia butuh jawaban Fiona saat ini juga.
Tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mungil Fiona, wanita itu hanya bisa mengangguk lemah. Ia tidak mau membuat bisnis mamanya hancur begitu saja karena kesalahannya.
“Good!” Dave tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya memang menjadi lebih tampan saat menyeringai seperti itu, tetapi tetap saja membuat Fiona merasa kesal. Dave kemudian melangkah pergi menuju pintu ruangan dan menekan tuas lantas membukanya.
Sebelum benar-benar pergi, Dave berbalik dan berkata, “Agar rencanaku tidak berantakan, aku akan mengajarimu bagaimana caranya menjadi rekan kerjasama yang baik, Nona Fiona. Kalau begitu, aku akan menantikan kerja sama kita nanti.” Dave lantas menutup kembali daun pintu.
Setelah kepergian Dave, Fiona terus terdiam di posisinya. Otaknya berpikir keras hingga akhirnya sebuah ide muncul di benak Fiona. Matanya tidak lagi berkaca-kaca. Lengkungan muram di mulutnya berubah menjadi senyuman penuh misteri.
Fiona melipat kedua tangan di depan dada. “Kita lihat saja nanti. Oke, aku akan menerima kekalahan ini, tapi aku tidak akan membiarkanmu menang terus. Akan aku buat kamu menyesal karena sudah memaksaku untuk menyelesaikan masalahmu” gumam Fiona dengan seringainya.
Fiona segera menyusun semua rencana dalam otaknya dengan baik. Ia akan memberikan pelajaran pada pria itu untuk tidak pernah lagi menyeret orang lain dalam masalahnya.
***
Sementara itu di satu sudut yang lain,
“Kamu yakin wanita itu sudah kembali ke Indonesia?” tanya seorang pria lansia yang memiliki sorotan mata tajam seperti macan yang akan menerkam mangsanya.
“Saya sangat yakin Tuan dan saya juga sudah menyelidikinya. Tidak salah lagi jika itu memang benar dia,” jawab seorang pria jangkung yang lengkap dengan setelan hitam khas seorang ajudan.
“Berani sekali dia kembali ke sini lagi,” geram pria lansia itu.
Ia beralih menatap tajam foto yang ada di atas meja kerjanya. Dalam sepersekian detik, tangan keriputnya mulai beraksi. Lembaran foto itu ia ambil dengan cepat di tangannya dan lantas ia remas kuat hingga lecek dan tak berbentuk lagi.
“Awasi dia!” perintah pria lansia itu seterusnya sebelum melangkah meninggalkan ruangan yang bernuansa gelap dan menyeramkan itu.