Santi baru pulang dari bidan bersama Yanto suaminya dia baru saja memeriksakan dirinya yang beberapa hari ini muntah dan pusing sampai tidak bisa bangkit dari tempat tidur.
"Sakit apa katanya, Bu?" Tanya Putri.
"Ibu nggak sakit kok."
"Terus kalo nggak sakit apa dong?" Tanya Putri.
"Ibu hamil jadi kalian akan punya adik baru." Sahut Yanto ayahnya.
"Hah! Yang bener, Yah?" Tanya Dila adik Putri.
"Iya." Sahut ibunya tersenyum nampak wajahnya pucat sekali karena seharian tidak makan apa pun karena selalu memuntahkan apa saja yang masuk.
"Ye punya adik baru, sekarang Dila nggak di sayang lagi deh." Seru Putri.
"Apa sih kak, nggak kan bu?" Tanya Dila pada ibunya.
"Sudah-sudah ibu kalian mau istirahat." Ujar Yanto lalu membopong Santi menuju kamar.
Putri berusia 14 tahun dan baru kelas dua SMP sedangkan Dila berumur 9 tahun dan baru kelas tiga sekolah dasar, ayahnya sehari-hari berdagang ikan di pasar.
Untung Putri sudah bisa memasak jadi dengan mudah dia menyiapkan makan malam.
"Ibu mana yah?" Tanya Putri pada sang ayah.
"Ibumu Nggak bisa bangun, coba antar makanan untuk ibumu ke kamarnya." Perintah sang ayah.
"Baik, yah."
Putri membawa sepiring nasi lengkap ikan beserta sayurnya dan air teh hangat untuk sang ibu.
Saat memasuki kamar terlihat ibunya berbaring tak berdaya wajahnya pucat.
"Bu, ibu makan ya biar Putri suapin."
"Ibu nggak nafsu Put, kamu saja yang makan."
"Ibu harus makan, bu. Aku bantu bangun ya." Ujar Putri.
Dengan terpaksa Santi bangun di bantu Putri, dengan lembut Putri menyuapi sang ibu. Namun, setelah tiga suam sang ibu memuntahkan lagi makanan yang baru dia telan.
Beruntung ada ember kecil di samping ranjang yang memang ditaruh disitu agar memudahkan sang ibu mengeluarkan isi perutnya jika mual melanda.
"Ibu mau istirahat saja, Put." Ujar sang ibu lemah. Dengan wajah sedih Putri membantu ibunya berbaring kembali.
"Bagaimana, Put. Ibumu sudah makan?" Tanya sang ayah.
"Sudah tapi dimuntahkan lagi, yah." Jawab Putri.
"Ya sudah kamu makan dulu, ayah mau istirahat." Ujar ayahnya lagi seraya berlalu menuju kamarnya.
"Aku sudah selesai, kak. Aku duluan ke kamar ya." Kata Dila pada kakaknya Putri.
"Iya." Jawab putri singkat.
Setelah membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor Putri pergi ke kamarnya.
*****
Keesokan paginya setelah shalat subuh Putri memasak nasi goreng untuk sarapan.
Sang ayah yang memang biasa bangun pagi sekali karena akan pergi ke pasar untuk berdagang berjalan menuju dapur dan menghampiri Putri.
"Masak apa, Nak?" Tanya sang ayah di belakang Putri.
"Eh, yah. Aku masak nasi goreng." Ujar Putri berbalik menghadap sang ayah yang sangat dekat.
"Ayah cicip dong enak apa nggak masakan kamu." Ujar sang ayah.
"Tunggu sebentar ya, yah. Belum selesai." Jawab Putri.
"Sini ayah bantu." Ujar sang ayah menggenggam tangan Putri yang memegang sutil untuk mengaduk nasi goreng.
"Ih ayah, inikan mudah. Kayak berat aja nih jadi di bantu." Putri terkekeh saat sang ayah membantunya mengaduk nasi.
"Kamu belum mandi, ya. Bau acem nih." Ujar sang ayah mencium rambut Putri dari belakang.
"Iya Putri belum mandi, nanti habis ini Putri mandi." Ujar Putri.
Akhirnya nasi goreng buatan Putri selesai, Putri bergegas kekamar mandi.
Setelah selesai mandi Putri membangunkan Dila, Dila pun pergi ke kamar mandi.
"Put, liat tas ayah tidak?" Tanya sang ayah saat masuk ke kamar Putri, Putri yang sedang memasang seragam terkejut.
"Di atas lemarikan biasanya." Sahut Putri yang sudah selesai memasang seragamnya.
"Oh, tadi ayah cari di mana-mana nggak ketemu." Sang ayah lalu berlalu pergi.
Putri mencek lagi buku-buku yang harus dia bawa.
Saat Putri sarapan Dila menghampiri dia sudah rapi berpakaian seram merah putihnya.
"Oh iya, gimana ibu? Apa nggak apa aku tinggalkan?" Tanya Putri.
"Nggak apa kalian berangkat sekolah saja sebentar lagi ulangan kan, ayah juga cuma sebentar di pasar nanti cepat pulang ke rumah." Kata sang ayah.
"Kesian ibu, gara-gara kita mau punya adik baru ibu jadi sakit." Kata Dila.
"Husst nggak boleh gitu. Cepat kalian berangkat sudah hampir jam 7." Ujar sang ayah.
*****
Tidak terasa sudah satu bulan Santi hanya berbaring di tempat tidur, karena mual parah yang dideritanya.
Sudah dua minggu Santi harus memakai infus, Putri dan Dila tidak bisa izin dari sekolah karena mereka sedang ujian pertengahan semester. Terpaksa sang ayah harus bekerja sebentar, biasanya habis ashar dia akan pulang sekarang sebelum zhuhur dia akan pulang untuk menjaga sang istri.
****
Di sekolah saat akan pulang Putri di ajak temannya untuk belajar bareng di rumahnya.
"Aku nggak bisa, ibuku sakit di rumah." Ujar Putri.
"Masih sakit, Put? Duh semogha cepat sembuh ya."
"Iya Amin."
Karena sekolah hari ini cuma sampai jam 10:30 Putri pun bergegas pulang, Dila masih di sekolah belum pulang.
Saat di perjalanan tiba-tiba turun hujan dengan lebat, karena sedikit lagi sampai di rumah Putri pun sekuat tenaga berlari agar cepat sampai.
Tapi karena hujan yang lebat itu membuat seragam putihnya basah, saat tiba di rumah dengan cepat dia melepas kerudungnya. Takut lantai basah Putri melepas seragamnya dan tinggal memakai celana lejing dan kaos tanpa tangan behanya terlihat jelas karena kaosnya basah, Putri berlari menuju kamar saat hampir sampai ke kamar ayahnya mendadak keluar dari kamar dan tabrakan pun tak terhindarkan.
Putri dan ayahnya sama-sama terduduk di lantai.
"Astaga, Put. Kenapa lari-lari di rumah?" Tanya sang ayah bangkit berdiri.
"Ini aku mau cepat ganti baju." Ujar Putri.
Hening sesaat.
"Kenapa hujan-hujannan? Seharusnya berteduh dulu nanti sakit baru tau." Ujar sang ayah.
"Tanggung, yah. Hampir sampai rumah, sudah dulu ya Yah aku mau ganti baju." Putri segera berlalu menuju kamarnya.
Putri mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu, mengelap wajah dan tangannya.
Di hadapan cermin dia melihat pantulan dirinya dengan kaos agak basah yang mencetak jelas buah dadanya, Putri memiliki buah dada yang lebih besar dari teman seumurannya.
Putri melepas pakaiannya dan mengganti dengan pakaian kering, saat memasang celana ayahnya masuk.
"Ada apa, yah?" Tanya Putri.
"Dila mana? Nggak bareng kamu pulannya?" Tanya sang ayah.
"Dia masih di kelasnya tadi." Jawab Putri, ya memang sekolah Putri dan Dila tidak berjauhan biasanya mereka berangkat dan pulang bareng kalo sama-sama selesai pada jam yang sama.
"Oh, tadi ayah ada beli sop ayam. Kamu makan gih." Kata sang ayah seraya mengusap bahu Putri.
"Ibu sudah makan, yah?"
"Sudah tadi makan sedikit, terus tidur lagi sehabis minum obat."
"Bagus deh kalo ibu sudah mau makan."
"Ayah capek banget, Put. Bisa nggak pijitin punggung ayah sebentar." Pinta sang ayah yang langsung berbaring di tempat tidur.
"Baik ayah." Putri memijat punggung sang ayah dari samping.
"Kurang keras, coba duduk di atas pinggang ayah biar mijitnya lebih kuat. Putri menuruti keinginan sang ayah.
Dengan kuat Putri memijit punggung sang ayah dengan dia menduduki di atasnya.
Karena sering menekan dengan kuat menyebabkan pantatnya juga ikut menekan pinggan sang ayah.
"Ayah, kakak. Lagi ngapain?" Tanya Dila yang baru masuk ke kamar.
Putri menoleh ke arah pintu.
"Lagi mijitin ayah." Jawab Putri.
"Dila baru pulang? Sudah dulu Put ayah sudah agak mendingan."
"Iya baru pulang, tadi aku ngucap salam nggak ada yang nyahut." Ujar Dila menaruh tasnya dan mengganti bajunya dengan baju rumahan.
"Hujan sudah reda, Dek?"
"Iya sudah reda." Jawab Dila.
"Kalian cepat makan, tadi ayah ada bawa sop ayam nasi juga sudah ayah masak." Ujar sang ayah berlalu keluar.
"Ye makan sop ayam." Seru Dila. Memang setelah ibunya sakit Putri hanya menceplok telur atau menggoreng ikan asin.
Dengan lahap Dila memakan nasi di piringnya.
"Pelan-pelan, Dek." Ujar Putri pada Dila.
"Gimana tadi lancar nggak ujiannya?" Tanya sang ayah.
"Lancar kok, yah." Jawab Putri.
"Bagus lah, jangan sampai banyak pikiran kalo lagi ujian."
"Iya." Sahut Putri.
Tersengar Dila bersendawa tanda dia sudah kekenyangan.
"Aku mau lihat ibu dulu." Ujar Dila bangkit dari kursi makannya.
Putri masih menghabiskan makanannya yang belum habis, sang ayah masih menemaninya makan dia duduk di sebrang Putri dengan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Ayah sudah makan?"
"Sudah tadi."
"Ini masih banyak, aku simpan di kulkas saja biar bisa di panasin buat makan malam." Ujar Putri.
Setelah membersihkan meja makan Putri mencuci beberapa pakaian kotor, karena ibunya lagi sakit jadi Putri yang menggantikan ibunya.
Beruntung dia memiliki mesin cuci jadi dengan mudah dia mencuci beberapa pakaian kotor.
Mumpung hujan sudah berganti dengan panas yang terik, Putri menjemur pakaian di samping rumah baru setelah selesai dilanjut membersihkan rumah.
"Sudah biar ayah yang ngerjain, kamu belajar sana atau tidak istirahat." Ujar sang ayah mengambil gagang pel dari tangan Putri.
"Nggak yah, biar aku aja." Tolak Putri.
"Biar ayah saja. Sana kamu belajar atau istirahat."
"Ya udah, tapi nggak papa nih."
"Iya, biar ayah yang ngerjain."
Putri bergegas ke kamar mengambil buku pelajaran, matanya lelah karena terlalu capek dan Putri tertidur dengan buku di atas dadanya.
Dila sejak tadi keluar rumah biasanya dia akan ke rumah temannya yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumah.
Putri merasakan ada yang menyentuh dadanya dan dia perlahan membuka matanya.
"Ayah!" Ujar Putri bangkit dari pembaringan.
"Iya Put? Ini ayah mau ngambil buku ini."
"Oh, bikin kaget aja ayah ini." Ujar Putri.
"Kaget kenapa emang muka ayah serem." Sang ayah dengan gemas menarik hidung mancung anaknya.
"Aww sakit, yah."
Ayahnya tertawa dan menaruh buku di meja belajar lalu berjalan menuju pintu.
"Tidur lagi gih, ma'af ayah menggangu." Ujar sang ayah.
Karena sudah terbangun Putri tidak bisa tidur lagi dan memilih untuk menengok sang ibu di kamar.
Ibunya terbaring di atas kasur dengan infus di pergelangan tangan, tapi sekarang sang ibu sudah ada kemajuan dia bisa memasukan makanan ke mulutnya walau tidak banyak tapi masih pusing kalo bangun terlalu lama.
Putri duduk perlahan di samping sang ibu, perlahan ibunya membuak mata.
"Putri, kamu sudah pulang nak." Tanya sang ibu pelan.
"Iya, bu. Ibu apa butuh sesuatu?"
"Nggak ada kok, Dila mana?*
"Dila ke rumah temannya katanya mau belajar bareng."
"Kalo ayah kamu mana?"
"Ada di teras mungkin."
"Bisa panggilkan ayah, nak."
"Iya, tunggu sebentar ya, bu."
Putri menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi teras, tak sengaja mata Putri melihat apa yang ayahnya liat dari ponselnya.
"Yah." Panggil Putri.
"E-eh, Putri. Ada apa?" Tanya sang ayah yang cepat memasukan ponselnya ke celana kolor yang di kenakannya.
"Ibu manggil ayah." Ujar Putri, lalu Putri berjalan ke luar rumah tepatnya di samping rumah untuk memeriksa pakaian yang tadi jemur.
Putri mengambil beberapa kain yang sudah kering dari jemuran dan akan melipatnya.
Saat dia memasuki rumah terlihat sang ayah menggandeng ibunya ke kamar.
"Dari mana, bu?" Tanya Putri.
"Ibu habis dari kamar mandi."
"Oh."
Putri pun berlalu ke depan televisi dia akan melipat pakaian sambil menonton televisi.
"Assalamualaikum!" Ujar Dila memasuki rumah.
"Waalaikumsalam." Jawab Putri.
"Kakak ngelipat baju, mau aku bantuin?" Tanya Dila.
"Nggak usah, biar kakak aja."
"Ya sudah kalo nggak mau di bantu." Dila mengubah siaran di televisi menjadi flim kartun kesukaannya.
"Kok di ubah sih, tadi kakak lagi asik nontonnya." Putri mengambil remote dan mengubah kembali siaran televisi ke chanel yang menayangkan drakor kesukaannya.
Dengan cemberut Dila menatap layar televisi.
"Apa sih kak, aku nggak ngerti mereka ngomong apa." Ujar Dila protes.
"Itu kalo mau tau mereka ngomong apa, baca teks di bawah." Ujar Putri.
"Ih ribet banget, sini aku mau nonton upin-ipin." Rengek Dila.
"Coba liat pemainnya ganteng dan cantikkan?" Ujar Putri mengalihkan perkataan adiknya.
"Siapa yang ganteng?" Tanya sang ayah mendekati kedua putrinya.
"Tau kakak, aku mau ke kamar ibu aja." Ujar Dila bangkit lalu berjalan menuju kamar ibunya.
"Ini lo yah, flim drakor pemainnya cakep-cakep." Jelas Putri pada sang ayah.
"Oh ayah kira kamu nunjukin foto cowokmu ke adikmu."
"Ih ayah apa an sih."
"Haha kali aja anak ayah ini sudah punya cowok."
"Duh nggak boleh yah, masih kecil masa punya cowok."
"Iya juga, ya. Bagus deh kalo pemikiran anak ayah begitu." Ujar sang ayah menjawil pipi Putri.
Yanto lalu berbaring di samping sang anak, dia sesekali memerhatikan Putri yang melipat satu-persatu pakaian.
"Coba liat, yah. Yang cewek cantik-cantik ya kulitnya putih-putih." Ujar Putri.
"Menurut ayah masih cantikan Putri, liat mereka kurus kering begitu." Kata sang ayah.
"Itu bukan kurus kering, yah. Tapi langsing, aku juga nanti kalo sudah besar mau punya badan seperti artis korea."
"Wanita itu cantik kalau berisi kaya Putri gini." Cubit sang ayah pada lengan Putri.
Membuat Putri meringis lalu membalas cubitan ayahnya, mereka pun balas-membalas
Sampai Putri kalah karena ayahnya menggelitik pinggangnya sampai bajunya pun tersingkap ke atas.
"Sudah ayah, aku nyerah." Kata Putri.
Ayahnya tertawa.
"Cium ayah dulu." Pinta sang ayah. Putri pun mencium pipi sang ayah dan di balas ayahnya mencium di kedua pipi Putri.
Putri senang memiliki ayah yang sangat sayang padanya bahkan walau dia bukan anak kecil lagi, ayahnya sering mencium memeluk juga menggendongnya.
"Aku juga mau di cium." Ujar Dila.
"Sini sama ayah." Sang ayah merentangkan tangan dan Dila melompat ke arah ayahnya.
"Aduh, Dila tambah berat sekarang." Ujar sang ayah.
Dengan manja Dila berbaring sebagai lengan sang ayah menjadi bantalnya. Putri bangkit untuk menaruh pakaian yang telah rapi dia lipat.
Putri kembali untuk melanjutkan drakor yang di tontonnya tadi, Dila ternyata tertidur di pelukan sang ayah sambil ayahnya menepuk pantat Dila seperti bayi.
"Kecilin volumenya, Dila tidur." Pinta sang ayah.
"Iya." Jawab Putri tak lama yang di tontonnya telah selesai Putri pun mematikan televisi sedangkan sang ayah tertidur bersama Dila.
Putri melanjutkan membaca buku pelajaran sambil menghapal pelajaran.
Ditengah membaca buku Putri kehausan lantas ia ke dapur untuk mengambil minum. Dia melihat ayahnya dari depan kamar sedang bergerak-gerak entah melakukan apa.
Saat melangkah pintu kamar Putri menutup, ayahnya menengok kebelakang dan langsung bangkit dari tempatnya berbaring.
"Hooam,, ayah ketiduran ternyata." Ucap sang ayah sambil merentangkan tangannya.
Yanto bangkit mengikuti Putri ke dapur.
"Tolong buatkan Ayah kopi, nak." Pinta Yanto.
"Baik, Yah."
"Nih, Yah. Aku mau ke kamar mau lanjut belajar." Ujar Putri, setelah Ayahnya mengangguk Putri pergi ke kamar dengan gelas berisi es teh di tangannya.
Sore pukul 16:00 terdengar orang mengucapkan salam, Putri keluar untuk melihat siapa yang datang. Tapi sudah keduluan di buka oleh Ayahnya.
"Nenek, Tante Ismi!" Seru Putri menghampiri Neneknya yang datang bersama Ismi adik dari ibunya.
Putri memeluk Neneknya, karena sang Nenek tinggal di desa yang jaraknya lumayan jauh jadi membuat mereka jarang bertemu.
"Bantu aku bawa barang, Put." Kata Tante Ismi.
Banyak sekali buah-buahan dan sayur mayur yang dibawa Nenek dan tantenya, karena Nenekny suka berkebun.
"Mana Kakek, Nek." Tanya Putri.
"Kakek nggak bisa ikut, soalnya jaga kebun."
"Nenek!" Seru Dila, rupanya dia baru bangun.
"Ibu, kapan sampai?" Tanya Santi yang keluar dari kamar di bantu Yanto.
"Baru saja, Mbak." Jawab Ismi.
"Ya Allah, kamu sampai di infus segala, Nak." Ucap sang Nenek.
"Kata bidan, dia butuh nutrisi karena Santi kurang makan, Bu." Ujar Yanto.
"Ibu banyak bawakan buah kesukaan kamu Nak, biar banyak makan buah." Ujar sang Nenek.
"Putri, buatkan Nenek sama Tante minuman gih." Perintah Santi pada Putri.
"Baik, Bu."
"Put, ambilkan pisau juga buat ngupas buah." Kata Tantenya.
"Siap, Tan."
Tak berapa lama Putri datang membawa nampan berisi beberapa gelas teh, juga pisau untuk mengupas buah.
"Untung Putri sudah besar ya, jadi ada yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah." Kata Ismi.
"Iya, allhamdullillah. Tapi kesian, dia juga harus sekolah." Sahut Ibunya Putri.
"Mangkanya, Mbak harus kuat dan harus banyak makan biar strong." Ujar Ismi.
"Ngomong sih enak." Jawab Ibu Putri.
"Eh, tapi ngomong-ngomong. Mbak hamil berapa bulan?" Tanya Ismi.
"Kata bidan Lima minggu."
"Kamu kapan nyusul mbakmu, Is?" Tanya Yanto.
"Nyusuk apa, Mas?" Tanya Ismi bingung.
"Ya nyusul menikah terus punya anak."
"Nanti lah kalo sudah ada jodohnya." Jawab Ismi cengengesan.
"Jangan lama-lama,Is. nanti jadi perawan tua loh. Hahaha." Ucap Yanto.
Ismi sudah berumur 27 tahun saat ini tapi belum juga menikah, banyak pria di desa ingin meminangnya namun dia menolak.
"Kalo sudah ketemu jodohnya pasti lah aku menikah."
"Jodoh, yang melamar saja banyak kamu tolak." Sela sang Ibu.
"Kenapa begitu, Is? Nggak baik loh." Ucap Santi.
"Emm nggak srek mbak di hati." Sahut Ismi.
"Mau Mas kenalin sama teman Mas di pasar? Banyak loh yang masih bujang." Tanya Yanto.
"Nggak usah deh Mas makasih."
Tiba-tiba Santi pusing keringat dingin keluar dari wajahnya.
"Mbak nggak apa-apa?" Tanya Ismi.
"Nggak cuma pusing."
"Yuk Mas bantu ke kamar biar istirahat."
Santi di bawa Yanto ke kamar, tak lama dia keluar.
"Ibu kalau mau istirahat, istirahat saja dulu." Ucap Yanto.
"Iya, tapi ibu istirahat di kamar kalian saja ya. Sekalian Ibu mau urut Santi pake ramuan yang ibu bawa dari rumah."
"Iya, Bu." Jawab Yanto.
"Aku juga mau lihat Mbak Santi." Ismi berkata sambil berdiri.
"Ambilkan tas ibu tadi, Nak." Perintahnya pada Ismi.
*****
Kumandang adzan Maghrib terdengar, mereka shalat berjamaah di ruang keluarga kecuali Santi.
Baru setelah itu Putri memasak makan malam bersama Nenek juga Tantenya.
"Jadi kalau sarapan kamu juga Put yang masak?" Tanya Ismi.
"Iya, Tant." Jawab Ismi.
"Makas apa biasanya, kan kamu harus berangkat sekolah juga pagi."
"Paling masak nasi goreng, atau nggak ceplok telur." Jawab Putri.
"Beruntung Ibumu punya anak yang sudah bisa mandiri, jadi ingat waktu pertama kali Ibumu hamil kamu, Put." Ujar sang Nenek tangannya sambil mengaduk sayur di wajan.
"Kenapa, Nek. Ibu dulu." Tanya Putri penasaran.
"Ya ngidam begini juga, nggak bisa bangun mana nggak ada yang nolongin di rumah. Nenek cuma bisa sebentar."
"Keluarga Ayah nggak ada yang bantu?"
"Nggak ada, mereka sibuk masing-masing."
Asik mengobrol akhirnya masakan selesai semua.
"Mana Santi, To?" Tanya Nenek Putri.
"Dia di kamar masih pusing." Jawab Yanto.
"Terus makan bagaimana?"
"Nanti aku bawakan ke kamarnya, Bu." Jawab Yanto.
Selesai makan malam Nenek pergi untuk shalat isya ke kamar Santi, sedangkan Ismi dan Putri membersihkan dapur.
Yanto dan Dila menonton televisi di ruang keluarga.
Terdengar tawa Dila dari dapur.
"Asik betul si Dila." Ujar Ismi.
"Iya, biasanya Dila bercanda sama Ayah." Jawab Putri tersenyum.
Putri dan Ismi menghampiri Dila di ruang keluarga, terlihat Dila masih cekikikan.
"Seru banget, main apa nih?" Tanya Ismi.
"Aku main kuda-kudaan, Tant. Hehe kesian kudanya kecapekkan." Dila menunjuk sang Ayah yang berbaring tengkurap.
"Haha, Dila sudah besar main kuda-kudaan ya iyalah kudanya capek kan Dila berat." Ujar Ismi tertawa.
"Nggak kok, aku nggak berat. Iya kan, Yah?" Dila bertanya tepat di telinga ayahnya sambil menduduki pinggang sang ayah.
"Emh emh." Ayahnya bergumam.
"Apa nggak denger?" Tanya Dila lagi.
"Kata Ayah kamu berat." Sela Putri.
"Ih, kakak tuh yang berat." Sahut Dila berteriak dan menghentakan pa*tatnya.
"Aduh!"
"Kenapa yah?" Tanya Dila.
"Dila berat, pinggang Ayah serasa mau patah."
"Ih Ayah, tadi katanya aku nggak berat. Nih rasain." Dila menghentak-hentak pan**tnya dengan keras di punggung sang Ayah.
"Aduh, ampun. Ayah nggak tahan."
Ismi dan Putri tertawa.
"Sudah, Dek. Sana kamu tidur, besok sekolah."
"Iya, iya." Dila bangkit dan berlalu ke kamar, sedangkan sang Ayah menekan pinggangnya dengan tangan.
"Aduh pinggang ayah sakit." Keluh Yanto.
"Ayah sih." Ujar Putri.
"Nenek mana?" Tanya Yanto.
"Tau tadi katanya kan mau shalat di kamar Ibu." Sahut Putri.
"Bentar aku lihat dulu." Ujar Ismi berlalu ke kamar.
"Nenek tertidur di sebelah Mbak Santi." Ujar Ismi setelah keluar lagi dari kamar.
"Terus Ayah tidur di mana?"
"Ayah tidur aja di sini." Sahut Putri.
"Kalo Tante di mana? Tante ikut ke kamar kamu aja deh, Put."
"Tempat tidur di kamar cuma satu kalo mau tante seranjang sama kami." Ujar Putri.
"Oke lah." Sahut Ismi.
Ismi masuk ke kamar Putri, di ranjang yang cuma muat dua orang itu menjadi terasa sempit karena Dila tidur dengan kaki terbuka.
"Tante tahan aja kan kalo ketendang sama Dila, dia kalo tidur kakinya ke mana-mana."
"Waduh, apa nggak ada kasur lain. Kasur lantai misalnya."
"Cuma satu, Tant. Yang di pakai sama Ayah."
"Apa Tante tidur sama Nenek aja, kan tempat tidur Ibumu besar." Kata Ismi.
"Terserah Tante aja, sih." Sahut Putri.
"Ya udah Tante ke sana aja, di sini kayaknya nggak bakalan bisa tidur." Ujar Ismi lalu pergi keluar.
Putri memilih membaca buku dulu untuk persiapan besok, karena besok ujian terakhir.
Entah sudah berapa lama Putri membaca buku dia berhenti karena matanya sudah tak tertahankan. Putri lalu menggeser kaki Dila, Putri pun berbaring di samping Dila.
Putri merasakan ada seseorang yang memepet tubuhnya, dengan masih terpejam Putri mendorong tubuh itu.
"Dila, kamu terlalu mepet. Aku hampir jatuh." Ujar Putri.
"Ini Ayah."
"Emm, Ayah?" Ujar Putri pelan membuka matanya.
"Kenapa Ayah tidur di sini?" Tanya Putri menghadap sang Ayah.
"Ayah kenyamukan di luar, juga dingin lupa ngambil selimut di kamar tapi nggak enak masuk ke kamar."
"Oh, bentar aku ambilkan selimut ya, Ayah." Putri ingin bangkit namun di tahan oleh sang Ayah.
"Nggak usah, Ayah ikut selimut kamu aja, nak."
"Hemm, ya sudah." Putri lanjut berbaring di sebelah sang Ayah, karena berasa sempit Putri tidur dengan tubuh miring.
Tak lama terdengar dengkuran halus dari mukut Putri.
Yanto memeluk tubuh anaknya dari belakang, Putri tak bergerak lelap dalam tidurnya.
Tangan kanan Yanto masuk ke dalam baju tidur Putri mengelus perut ramping putrinya. Tangan yang sebelah kiri masuk ke dalam celananya sendiri.