Nadia berhenti di tengah jalan, dan perlahan memutar balik tubuhnya. "Aku sudah mendapat surat penerimaan dari Universitas Manhattan. Aku masuk ke Manajemen Bisnis. Aku sedang memikirkan bagaimana menyampaikan berita ini kepadamu, tetapi sekarang kamu sudah membuat itu jauh lebih mudah! Dan, sebelum aku pergi, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu..."
Terhibur melihat wajah Fiona yang iri terhadapnya saat itu, ia berkata secara perlahan-lahan dan santai. "Aku menginap di Kamar 1101 semalam."
Sementara itu, di Kamar 1101, Kresna sedang duduk cemberut di samping ranjang dan menatap uang dengan pecahan yang tidak sama di hadapannya.
Dia bahkan menghitung uang itu satu kali. Uang itu berjumlah 5 juta rupiah. 'Apakah perempuan itu mengeluarkan semua uang miliknya untukku?' Kresna berpikir dengan tidak percaya.
Ia sudah hidup selama lebih dari 20 tahun, tetapi ia belum pernah melihat wanita yang begitu berani. Ternyata ia meninggalkan uang dan pergi melarikan diri!
Kresna menjadi marah dalam hatinya saat memikirkan ini. Dengan ekspresi wajah dingin, ia menelepon kepada asistennya.
"Minta video pengawasan pada manajer hotel. Aku mau mencari seseorang."
Ia tidak memerhatikan suara sang asisten yang tunduk pada perkataannya melalui telepon. Saat itu mata Kresna terfokus menyipit pada sebuah anting kecil yang berkilau di atas salah satu bantal. Firasat buruk terlintas di matanya.
'Saat aku sudah menemukan perempuan tidak bermoral itu, aku akan memberinya pelajaran!'
Beberapa tahun kemudian di bandara...
Sebuah penerbangan yang awalnya direncanakan tiba pada pukul 3.10 sore tertunda lebih dari setengah jam karena kondisi cuaca. Orang-orang di dalam ruangan bandara mulai menjadi tidak sabar. Namun, ada seorang laki-laki dengan kemeja abu-abu muda, yang terlihat sangat tenang. Ia mengenakan kacamata berbingkai emas, dan tampak ramah dan tampan, sangat menarik perhatian banyak orang.
'Apakah itu Bagas Fadihan?' Beberapa perempuan di sekitarnya mengenali bahwa laki-laki tampan ini adalah pewaris Grup Fadihan, yang menempati peringkat kedua di Kota Ambo. Di seluruh kota, keluarga Fadihan hanya dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan sang CEO yang dingin itu - Kresna Gumelar. Tapi walau begitu, hal tersebut tidak menjadi masalah karena mereka masih sangat kaya. "Aaah! Dia tampan sekali!" pekik seorang perempuan dengan suara pelan.
Tidak diragukan lagi bahwa Bagas jauh lebih ramah daripada Kresna, si manusia es!
Tidak setiap hari orang-orang bisa bertemu Bagas. Seorang perempuan berjalan ke arahnya untuk memanfaatkan kesempatan itu. Ia sempat ragu untuk beberapa saat. Ia cantik, dan mengenakan gaun Valentino yang anggun. Dengan mengumpulkan keberanian, perempuan itu tersenyum pada Bagas dan dengan hati-hati memperkenalkan dirinya.
"Halo, Tuan Fadihan. Saya ingin bertanya apakah Anda akan memberi saya kehormatan untuk minum secangkir kopi bersama."
"Wah, saya beruntung menerima undangan perempuan secantik Anda,"
Bagas berkata sambil sedikit tersenyum. "Tapi maafkan saya. Orang yang saya tunggu sudah datang."
Ketika mereka melihat ke arah yang ia tunjuk, seorang perempuan cantik berusia kurang dari 25 tahun sedang berjalan ke arahnya. Perempuan itu memiliki rambut sebahu, dan tidak memakai riasan di wajahnya. Bahkan pakaiannya biasa dan sederhana -- kemeja putih sederhana dan celana jeans biru pudar. Terlepas dari kesederhanaannya, dia terlihat menonjol di antara banyak orang. Perempuan itu adalah Nadia.
Namun yang aneh, ia hanya membawa tasnya di satu tangan... Di sampingnya, seorang anak laki-laki yang lucu dan polos terhuyung-huyung mengejarnya, membawa sebuah koper kecil.
Begitu Nadia keluar, ia menyadari bahwa perempuan-perempuan muda itu menatap dirinya dengan iri dan penuh kebencian. 'Laki-laki itu sangat kelewatan karena sudah menggunakanku sebagai pelindung dirinya lagi!'
Dalam hati Nadia mengutuk bagaimana Bagas membuatnya sangat dicemburui dan dibenci oleh orang lain, tetapi ia masih tersenyum manis seolah ia adalah seorang istri yang manis dan ibu yang baik. Ia berjalan dengan cepat, memegang tangan Bagas dan memanggilnya dengan suara lembut.
"Suamiku, apa kamu sudah lama menunggu?"
Bagas secara santai merangkulnya dan tentu saja juga memanggilnya dengan kata "istriku". Sepenuhnya ikut serta dalam sandiwara tersebut, anak laki-laki di sampingnya juga melingkarkan lengannya di kaki Bagas dan memanggilnya dengan suara yang manis.
"Papa, Jaya sangat rindu padamu! Mengapa kamu menunggu kami di sini? Badanmu ada parfum, bau sekali!"
Perempuan-perempuan di dekatnya batuk-batuk dengan canggung dan pergi meninggalkannya dengan kesal. Dengan senyum lebarnya, Bagas meminta Jaya untuk duduk di atas koper, menarik koper itu dengan satu tangan dan menggandeng Nicole dengan tangan lainnya. Begitu mereka naik mobil, Nadia mencubit pipi Bagas dengan keras.
"Aku bersumpah ini akan menjadi yang terakhir kalinya kamu bisa menggunakanku sebagai pelindung dari klub penggemarmu!"
"Jangan begitu... Kita adalah teman lama di Manhattan yang pernah mengalami kesualitan bersama. Lagi pula, siapa lagi yang bisa membantuku selain kamu?"
Bagas melihat koper di belakang Jaya dengan satu alis terangkat. "Benarkah? Kamu dan putramu tidak kembali selama enam tahun dan hanya itu yang kamu bawa?"
"Mama bilang kami bisa membeli barang-barang yang kami butuhkan di sini. Aku pikir ini cara yang paling efisien," kata Jaya.
"Ya. Kita dapat menghemat sangat banyak energi dan ruang dengan membuang sesuatu yang tidak perlu. Seperti itulah efisiensi."
Nadia setuju dengan putranya. Tapi Bagas tidak terlihat terlalu senang akan hal itu.
"Hei, Jaya baru berusia enam tahun. Bahkan jika dia anak yang jenius, kamu tidak perlu mengajarinya dengan cara yang seperti ini! Di mataku, bayi yang konyol adalah yang paling lucu. Benarkah, anak baikku?" Bagas kemudian mengulurkan tangan untuk menggelitik kaki Jaya.
Anak lelaki itu menggoyangkan kedua kaki kecilnya dan dengan jijik menyingkirkan tangan Bagas, sambil menatapnya dengan dingin.
"Di sini zona aman dan tidak ada perempuan lain yang akan datang dan mengganggumu. Aku tidak perlu berpura-pura menjadi anakmu, Om Fadihan."
"Astaga, Nadia Nismara! Anak macam apa yang kamu besarkan di sini?"
Tersenyum puas, Nadia mengacungkan jempolnya kepada Jaya dan melihat pemandangan ke luar jendela sudah dikenalnya.
Ia belum berusia genap 18 tahun ketika ia pergi ke Manhattan tujuh tahun lalu. Hidup sendiri, Nadia merasa tidak bersemangat. Dan kemudian, seluruh hidupnya berubah. Karena suatu malam gila yang dialaminya tujuh tahun lalu, Jaya muncul ke dalam hidupnya. Untungnya, saat itu ia berteman baik dengan Bagas dan ia banyak membantu Nadia.
Kadang-kadang, ia bertanya-tanya bagaimana keadaan pria tujuh tahun lalu itu saat ini...
Meskipun ia tidak dapat mengingat dengan jelas seperti apa rupa pria itu, Nadia yakin bahwa pria itu adalah pria yang sangat tampan. Jika pria itu tahu ada orang asing yang melahirkan anaknya, ia pasti akan terkejut!
Sebelum kembali ke rumah, Nadia sempat khawatir akan Jaya. Jaya cerdas dan dewasa untuk anak seusianya, dan ia sudah lama menerima kenyataan bahwa ia tidak memiliki papa. Walau begitu, tetap saja tidak mudah bagi hidup seorang anak tanpa cinta dari seorang papa. 'Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika aku bisa menemukan pria itu dan dia menerima Jaya sebagai putranya. Tetapi jika aku tidak dapat menemukannya, atau pria itu sudah menikah dengan seseorang, apa yang harus kulakukan?'
Ketika ia sedang memikirkan hal ini, ia mengerutkan kening dengan rasa khawatir. Jaya sudah memahami pikirannya, jadi ia menepuk bahu mamanya dengan lembut.
"Mama, jangan merasa gundah. Aku tahu baik bagiku kalau aku mempunyai seorang papa. Tapi tidak punya papa juga tidak masalah kok!"
Selama perjalanan dalam mobil, Bagas terus-menerus tertawa dan bercanda, yang membuat Nadia merasa tidak begitu gundah. Perusahaan di mana Nadia akan bekerja sudah menyediakan tempat tinggal untuknya. Bagas datang ke bandara untuk menjemput Nadia dan Jaya. Selain itu, ia bahkan menemani mereka pergi ke supermarket untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkan. Setelah itu, Bagas memberi tatapan serius pada Nadia.
"Apa kamu tahu? Aku ingat aku sudah memberitahumu bahwa selama aku ada di Grup Fadihan, aku bisa memberimu pekerjaan dengan mudah. Aku tidak mengerti mengapa kamu pergi bekerja di Grup Gumelar. Apakah kamu tidak tahu betapa sulitnya menghadapi orang seperti Kresna Gumelar?" Bagas mengatakan hal itu pada Nadia dengan sikap serius dan sedikit menggodanya.
"Ayolah, jangan begitu! Kalau aku mengambil tawaranmu, kamu akan terus menerus menggunakan aku sebagai pacar palsumu."
Nadia dengan tersenyum menggoda Bagas dan membawa dompetnya sambil berpegangan tangan dengan anaknya untuk mentraktir Bagas makan.
"Lagi pula, bukankah ini sudah saat yang tepat bagimu untuk mendapatkan pacar? Aku sudah cukup lelah berpura-pura menjadi pacarmu," ucap Nadia.
'Ya, jika kamu merasa lelah, mungkin kamu bisa menjadi pacarku yang sebenarnya... '
Kalimat ini telah berada di dalam hatinya untuk waktu yang cukup lama. Hanya saja, ia tidak cukup berani untuk mengucapkannya pada Nadia. Bagas membenci dirinya sendiri atas sifat penakutnya ini. Dengan senyuman kecewa, dengan cepat ia menyusul Nadia.
Setelah sampai di rumah baru mereka, Nadia dan Jaya merasa lelah, jadi mereka langsung tidur. Keesokan paginya, Nadia mengantar Jaya ke sekolah dasar yang sudah dia hubungi sebelumnya. Dengan senang, sang kepala sekolah dan guru kelas turun tangan secara langsung menjemput Jaya. Saat mereka mengetahui bahwa anak berbakat seperti Jaya akan mendaftar di sekolah mereka, mereka sangat senang.
Nadia agak khawatir akan putranya beradaptasi di tempat baru dan ingin mengatakan sesuatu, tapi putranya sangat dewasa untuk anak seusianya! Ia bahkan membantu Nadia sedikit merapikan tasnya.
"Mama, lebih baik Mama mengkhawatirkan diri sendiri daripada aku. Hari ini adalah hari pertama Mama bekerja. Mama harus melakukan pekerjaanmu dengan baik. Aku tidak mau mati kelaparan!"
"Dasar kamu anak nakal!"
Nadia sedikit marah sambil menatapnya. Setelah Jaya diantar ke sekolah, Nadia naik taksi ke Grup Gumelar. Setelah tiba, Nadia terus memikirkan bahwa presiden perusahaan yang terkenal ini memiliki selera yang bagus. Seluruh lantai terbuat dari kaca, membuat jadi terlihat begitu sederhana namun elegan. Hanya ada satu masalah...
'Bagaimana aku bisa berjalan di atas lantai kaca ini! ?'
Nadia melihat sepatu haknya yang setinggi 8 cm dengan manis asam. Dari lubuk hatinya dia mengagumi wanita-wanita di depannya yang berjalan dengan cepat di atas lantai itu sampai seperti sedang terbang. Nadia menggertakkan gigi dan mengambil langkah maju dengan yakin. Tepat saat ia baru melangkah, Nadia terpeleset di lantai yang licin.
'Sialan! Apa ini benar-benar harus terjadi padaku di hari pertama bekerja! ?'
Kejadian itu sudah tidak terelakkan lagi sekarang. Nadia menutup matanya rapat-rapat dan bersiap untuk jatuh. Tapi saat itu juga, sepasang tangan yang kuat menahan dirinya.
Sambil sedikit mengintip, Nadia merasa bahwa pria yang membantunya ini tidak asing.
Begitu Nadia mengangkat kepalanya, dia melihat wajah tegas dan dingin pria itu. Pria itu seperti patung sempurna yang diukir oleh pengukir yang handal. Saat Nadia mencoba memikirkan di mana ia pernah melihat pria ini sebelumnya, pria itu dengan hati-hati melepaskannya. Pria ini melihat cara Nadia menatap wajahnya, dan pria ini menatap Nadia lalu mengangkat alisnya.
"Apa kamu sudah selesai menatapku?"
'Sial! Apa yang sedang kulakukan!' Nadia dengan gugup mencubit tangannya. Langsung berdiri tegak, dia merapikan pakaiannya dan tersenyum elegan.
"Terima kasih tuan."
'Hm... Wanita ini mampu menenangkan diri dengan begitu cepat.'
Menyipitkan matanya, pria ini merasa pernah melihat Nadia sebelumnya. Dengan cemberut, ia melihat ke arah asisten di belakangnya.
"Siapa wanita ini?"
pria ini bertanya dengan suara yang kecil.
"Tuan Gumelar, wanita ini adalah Nona Nadia. Dia baru saja lulus dari Universitas Manhattan bulan lalu. Dia adalah direktur yang direkrut dari luar negeri."
Perkataan asisten itu jelas mengejutkan mereka berdua. Kresna hanya sedikit mengangkat alisnya, dan Nadia dengan kaget hampir membuka mulutnya.
Tidak mungkin, kan? Ini adalah hari pertama pekerjaan Nadia dan ia dipermalukan seperti ini di depan Kresna Gumelar yang lebih menakutkan daripada hantu dalam legenda!
Sambil memikirkan perkataan putranya, Nadia sangat sedih hingga dirinya hampir menangis. 'Jaya, sepertinya ibumu tidak bisa mempertahankan pekerjaannya lebih dari satu menit saja!'
Sesuai pemikiran Nadia, Kresna Gumelar menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi menghina.
"Direktur?" Kresna mendengus dengan ejekan.
Ada hinaan dalam kata-kata pria itu. Nadia menggertakkan giginya. "Saya bisa membuktikan kepada Anda bahwa saya layak untuk pekerjaan ini, Tuan Gumelar.
Setiap orang memiliki dua sisi pada kepribadian mereka. Saya mengakui bahwa kecerobohan saya pasti meninggalkan kesan pertama yang buruk bagi Anda. Tapi saya percaya Anda adalah orang yang mampu menentukan orang berbakat ketika Anda melihatnya. Saya rasa cara saya memasuki gedung ini tidak bisa disamakan dengan etika kerja saya.."
'Wanita ini, memang pandai bicara!' Kresna menatapnya sekilas, lalu berkata dengan nada yang datar.
"Aku harap kamu bisa membuktikan perkataanmu, Nona Nadia."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kresna masuk ke gedung perusahaan tanpa menoleh ke belakang. Nadia terkejut. Berhati-hati dalam melangkah, akhirnya Nadia bisa berjalan dengan lancar di lantai kaca itu dan masuk ke dalam dengan percaya diri.
Nadia tidak tahu penyebabnya, tetapi saat ia melihat Kresna, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ada perasaan yang aneh dan tak asing di dalam dirinya. Tetapi, karena Nadia adalah direktur, ia memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan waktunya dipenuhi oleh segala macam laporan dan kontrak. Saat ini tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain.
Walaupun Nadia adalah orang dengan kepribadian yang tidak banyak memperhatikan hal kecil, dia akan menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna. Hanya dalam satu pagi saja, ia sudah sangat paham akan semua bisnis Departemen Pemasaran yang berada di bawah pimpinannya. Nadia mengadakan rapat dengan semua staf, dan meninggalkan kesan mendalam pada mereka tentang dirinya. Dengan cepat seluruh Grup Gumelar tahu semua tentang direktur Departemen Pasar yang cantik dan gigih.
Karena hal itu, Nadia mendapatkan rasa hormat dan posisi yang kokoh di Grup Gumelar. Ia sangat beruntung mendapat rencana kerja sama yang besar, tidak lama setelah ia memimpin departemen tersebut. Ia tegas dalam berbisnis dan berhasil memenangkan banyak kesepakatan di bulan pertamanya bekerja, hal ini membuat semua orang di perusahaan mengaguminya. Bahkan Kresna pun terkesan melihat hal ini. Untuk pertama kalinya, Kresna memesan hotel dalam rangka mengadakan pesta perusahaan untuk menghormatinya.
Di dalam semua keluarbiasaan dan kesuksesan serta kata-kata pujian yang ia dapat, Nadia merasa sedikit sedih.
Dahulu sekali, ketika papanya masih hidup, perusahaan mereka makmur. Pada saat itu, sebagai putri tertua dari keluarga Nismara, Nadia sering bertemu banyak orang selama acara sosial sambil tersenyum, seperti yang ia lakukan sekarang. Tapi alih-alih dengan papanya di samping Nadia, ada Kresna.
Setelah makan malam, band di hotel memainkan musik, dan para eksekutif senior perusahaan menari di lantai dansa. Melihat ini, Nadia memijat pelipisnya yang sakit dan menghela napas.
Semua orang sangat bersemangat akan pesta ini. Nadia harus tetap terlihat semangat, apalagi pesta ini yang diikuti serta banyak eksekutif senior. Jangankan dia, bahkan Kresna pun juga tidak bisa merusak semangat pesta ini. Nadia secara diam-diam melirik Kresna yang berdiri di sampingnya dengan wajah murung. Menarik napas yang dalam, ia mengambil inisiatif dan mengulurkan tangan pada Kresna. "Maukah Anda berdansa bersama saya?"