Bab 8

"Dengan begini, lain kali kamu nggak akan tersesat." Daniel mendekatkan diri ke kaca sambil menatap Yasmin dengan tajam.

"Ja ... jangan .... Aku nggak boleh mati ...." Tubuh Yasmin yang sudah tidak bertenaga merosot ke lantai. Suhu di sekitarnya membuat Yasmin menempel erat ke pintu kaca. Dia seakan-akan ingin menghirup udara segar di luar. "Lepaskan aku. Aku benar-benar ... nggak boleh mati .... Aku sudah menghilang dari hadapanmu, kenapa kamu menangkapku lagi?"

Semua ucapan Yasmin tidak berguna. Dia mengarahkan matanya ke atas dan hanya bisa melihat kedua mata Daniel yang sinis seperti binatang buas itu. Daniel seolah-olah ingin dia mati!

Yasmin mencengkeram dadanya yang sakit. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. "Jangan .... Aku berjanji aku nggak akan lari lagi. Ampuni aku .... Aku nggak mau mati, aku juga nggak akan lari lagi ...."

Setelah Yasmin selesai berbicara, dia terjatuh ke lantai karena tidak ada oksigen yang bisa dihirupnya lagi.

Pandangannya mulai kabur, tapi sosok pria di luar pintu kaca terlihat sangat jelas. Daniel seperti iblis yang menetap di dalam benak Yasmin.

Ketika kegelapan telah menyelimuti seluruh pandangan Yasmin, dia pun pingsan dan air matanya bahkan masih mengalir.

Dia menangis bukan karena dia takut, tapi karena dia merindukan anak-anaknya.

Kalau Yasmin mati, bagaimana dengan mereka? Mereka masih sangat kecil ....

"Ahh!" Yasmin terbangun dari kegelapan. Dia mengubah posisinya menjadi duduk di tempat tidur. Rasa takut memenuhi tatapan matanya dan napasnya terengah-engah. Keringat dingin menghiasi keningnya.

Apa dia sudah mati?

Yasmin tercengang saat melihat kamar yang familier ini. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar kalau ini adalah kamar yang sebelumnya dia tinggali.

Ini berarti dia masih hidup?

Daniel mengeluarkannya dari ruang sauna!

Yasmin menundukkan kepalanya untuk melihat tangannya, kemudian dia menyentuh wajahnya sendiri. Itu belum cukup juga. Dia pun turun dari tempat tidur dengan panik, lalu lari ke depan kaca kamar mandi.

Setelah melihat dirinya yang utuh, dia baru merasa tenang.

Walaupun dia masih hidup, rasa takut ketika berada di ambang kematian pada saat itu masih mencengkeramnya.

Daniel terlalu kejam!

Yasmin berani mempertaruhkan nyawanya dengan memakan seafood karena dia berani menjamin Daniel tidak akan membiarkannya mati.

Setidaknya, Yasmin tidak akan begitu cepat mati.

Setelah seekor binatang menangkap mangsa, ia akan langsung menggigit leher mangsanya atau bermain dengannya sampai ia bosan sebelum memakannya.

Daniel adalah tipe kedua.

Namun, kali ini ketika Yasmin dikurung di ruang sauna dan dipanggang hidup-hidup, dia sungguh mengira Daniel ingin membunuhnya.

Daniel melepaskannya pasti karena Yasmin sudah berkata dia tidak akan melarikan diri lagi.

Dia terlalu mengerikan ....

Yasmin yang teringat pada sesuatu lari kembali ke kamar. Dia mencari paspor dan KTP-nya, tapi dia menyadari kedua benda itu tidak ada.

Dia merasa panik sehingga air mata mengalir, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia tahu kalau paspor dan KTP-nya berada di tangan Daniel dan Daniel tidak akan memberikannya kepada Yasmin.

Tanpa kedua benda itu, bagaimana dia bisa kembali ke sisi anak-anaknya?

Yasmin berkata dia tidak akan melarikan diri lagi, tapi itu hanya rencana sementara ....

Harapan palsu ini membuat Yasmin merasa putus asa sehingga dia kesulitan bernapas.

Seharusnya hari ini dia sudah bisa kembali ke sisi anak-anaknya, sudah bisa memeluk tubuh-tubuh kecil mereka yang lembut dan wangi, mendengar suara mereka yang menggemaskan ....

Yasmin kembali ke tempat tidur, lalu menangis.

Pada saat ini, Yasmin sangat merindukan anak-anaknya.

Dia menunggu langit menggelap untuk menelepon video anak-anak.

Tante Rita yang untuk sementara tidak bisa pergi pasti sangat lelah menjaga tiga anak sendirian.

Yasmin terbangun sampai jam dua pagi yang berarti hampir jam sepuluh pagi di luar negeri.

Dia turun dari tempat tidur untuk mengunci pintu kamar, lalu menuju ke kamar mandi.

Setelah membentuk lapisan pertahanannya, Yasmin baru mengeluarkan ponselnya dari dalam branya. Dia menghidupkan ponselnya, lalu menghubungi nomor Tante Rita. Dalam beberapa saat, teleponnya sudah tersambung.

Wajah cemas Tante Rita memenuhi layar ponsel. "Yasmin ...."

"Mama!"

"Mama!"

"Mama!"

Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, suara putra dan putrinya terdengar. Tiga kepala kecil berdesak-desakan di depan kamera. Mata besar dan indah yang berbinar-binar itu menatap layar.

Ketika melihat wajah-wajah mereka yang lucu, Yasmin hampir menangis. Dia berusaha menahan dirinya sebelum berkata, "Mama di sini. Apa kalian ada mendengarkan Nenek di rumah?"

"Ada!"

"Ada!"

"Ada!"

"Baguslah ...." Yasmin menatap ketiga anaknya dengan sedih. Dengan tangan gemetar, dia hanya bisa menyentuh layar ponsel untuk mengungkapkan kerinduannya.

"Mama, kapan Mama pulang?" tanya Julia, putrinya, dengan lemah dan sedih. Air matanya sudah mau jatuh.

"Mama bilang Mama cepat pulang!" kata Julian, putranya, dengan keras dan marah. Matanya berkaca-kaca.

"Sudah sepuluh hari!" Julius, si putra kedua, yang pendiam tampak kecewa. Air mata juga memenuhi kelopak bawah matanya.

Hati Yasmin terasa sakit sekali.

Dia pun menundukkan kepalanya untuk menenangkan perasaannya yang hampir meluap.

Beberapa detik kemudian, Yasmin mengangkat kepalanya. Dia memaksakan seulas senyuman sambil berkata, "Mama masih ada sedikit urusan di sini. Setelah urusan Mama selesai, Mama pulang. Oke?"

"Berapa lama lagi?" tanya Julian.

Yasmin juga tidak tahu berapa lama lagi, tapi dia tidak boleh memberi anak-anak jawaban sepertinya. "Seharusnya tidak lama lagi. Tapi, Mama janji beberapa hari ini akan menelepon video kalian. Oke?"

"Mama ..." rengek Julia dengan suara serak.

"Sayang, jangan menangis, ya. Mama akan berusaha cepat-cepat pulang. Oke?" Yasmin merasa sangat sedih, seakan-akan ada pisau yang menyayat hatinya.

"Ya ..." jawab Julia dengan tak berdaya. Lalu, dia menghela napas. Kasihan sekali.

"Harus setiap hari!" kata Julian.

Yasmin tidak tahu apa dia bisa menelepon video mereka setiap hari, jadi dia berkata, "Mama usahakan, ya ...."

"Kangen Mama ..." ucap Julius. Sorot matanya tampak redup.

"Mama juga kangen kalian, banget ..." kata Yasmin sambil menahan air mata.

Dia berharap dia bisa langsung melompat ke dalam layar ponsel untuk memeluk anak-anaknya. Kesedihan karena terpisah dari anak-anaknya ini sungguh sulit ditahan.

Meskipun anak-anak baru berusia dua tahun dan belum bisa berbicara dengan lancar, kepintaran mereka jauh melampaui anak-anak seusia mereka.

Yasmin menatap wajah ketiga anaknya. Julia adalah cerminannya, sedangkan Julian dan Julius sepenuhnya adalah cerminan Daniel.

Ini membuat Yasmin merasa makin resah.

Dia tidak akan tidak mencintai mereka hanya karena mereka mirip dengan Daniel. Dia hanya takut putra-putranya akan diambil darinya.

Bagaimana mungkin Daniel memperbolehkan wanita yang dibencinya melahirkan anaknya?

Yasmin mengobrol bersama anak-anaknya, kemudian menemani mereka makan siang.

Anak-anaknya yang baru berusia dua tahun sudah bisa makan sendiri.

Tangan mereka yang mungil memegang sendok, lalu menyuap diri mereka sendiri. Gambar di layar ponsel pun menyembuhkan hati Yasmin sedikit.

Rasa takut dari kemarin juga perlahan-lahan menghilang.

Ketika Yasmin sedang menatap ketiga anaknya dengan kasih sayang, dia tiba-tiba mendengar ada suara dari luar dan itu membuatnya langsung mematung.

Tidak ada suara dari pintu kamar mandi.

Namun, sesuatu yang mengerikan sepertinya sedang perlahan-lahan mengarah ke tempat ini.

Aura di dalam kamar menjadi aneh. Sosok Daniel yang tinggi tiba-tiba muncul. Melihat tidak ada orang di dalam kamar, tatapan matanya yang tajam pun tertuju ke arah kamar mandi yang terang.

Bab 9

Pintu kamar mandi dibuka tanpa peringatan. Yasmin pun berdiri di tempatnya dengan tegang. Dia menatap pria yang tiba-tiba muncul dengan gugup.

Tatapan mata Daniel tampak sinis saat dia berkata, "Kamu mengunci pintu di wilayahku? Siapa yang memberimu izin?"

Yasmin tidak menjawab karena tempat ini memang bukan kamarnya.

Seluruh Teluk Bulan, termasuk Yasmin sendiri, adalah milik Daniel.

Akan tetapi, Yasmin tidak boleh mengatakan alasan dia mengunci pintu.

"Aku ... aku takut ..." kata Yasmin dengan lemah.

Mata tajam Daniel tertuju pada ponsel yang berada di tangan Yasmin. "Berikan."

Yasmin paham maksud Daniel, dia pun menggenggam ponselnya makin erat.

Dia sungguh tidak menyangka pada waktu ini Daniel akan mendatangi kamarnya. Semua ini sangat tidak terduga ....

"Jangan membuatku mengulangi ucapanku!" Suara Daniel yang penuh ancaman menggemparkan satu kamar mandi.

Jantung Yasmin berdebar. Dia pun terpaksa menyerahkan ponselnya.

Setelah ponselnya berada di tangan Daniel, detak jantung Yasmin makin meningkat.

Dia takut Daniel akan mengetahui rahasianya ....

Ketika Daniel memeriksa ponsel Yasmin, Yasmin berkata dengan lemah, "Aku ... aku mimpi buruk. Aku sangat takut, jadi aku ingin menelepon Tante. Tapi, aku takut kamu marah, makanya nggak jadi. Lalu, kamu kebetulan masuk ...."

Yasmin sempat menghapus log panggilan terbarunya, jadi Daniel tidak akan menemukan apa-apa.

Daniel mengarahkan tatapan matanya yang tajam ke Yasmin saat berkata, "Kamu boleh coba."

Yasmin menatap balik Daniel dengan bingung.

"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi padanya kalau dia membantumu melarikan diri?" tanya Daniel. Tatapan matanya penuh dengan amarah.

"Bukan seperti itu. Aku yang meminta Tante mengantarkan pasporku. Itu nggak ada hubungannya dengan Tante. Dia nggak tahu apa-apa! Aku ... aku berjanji padamu, lain kali aku nggak akan meneleponnya lagi ..." sumpah Yasmin.

Yasmin terlalu naif.

Daniel tidak boleh menyentuh Klara, jadi bagaimana mungkin Yasmin diizinkan untuk menghubungi Klara?

Demi keamanan tantenya, Yasmin tidak boleh menghubunginya ....

Daniel melangkah maju, lalu langsung mencengkeram wajah Yasmin. Dia memaksa Yasmin melihatnya sebelum berkata, "Ingat, jangan mengetes kesabaranku. Kamu nggak akan bisa menanggungnya. Paham?"

"Pa ... ham," jawab Yasmin dengan mata berkaca-kaca.

Ponsel Yasmin tiba-tiba berdering dan bergema di kamar mandi yang hening ini.

Pada saat yang sama, jantung Yasmin pun langsung berdebar.

Siapa? Siapa meneleponnya? Semoga bukan Tante Rita dan anak-anak. Jangan!

"Sepertinya kamu gemetar?" Daniel seakan-akan sedang bermain dengan mangsanya. Jemarinya yang sedang menggenggam rahang Yasmin dapat merasakan dengan jelas kalau Yasmin gemetaran.

"Ng ... nggak." Yasmin memalingkan wajahnya, lalu dia buru-buru hendak mengambil ponselnya. "Aku angkat telepon dulu ...."

Perlawanan Yasmin membuat Daniel marah. Daniel pun langsung menggenggam bahu Yasmin, kemudian mendorongnya ke kaca di sebelah wastafel dengan kuat. Setelah itu, terdengar suara pecah yang jatuh ke lantai ....

"Aa!" Yasmin ketakutan sampai kedua kakinya menjadi lemas.

Daniel terlalu kuat!

"Tenanglah!" Daniel menyipitkan matanya sambil melihat nomor telepon yang tidak disimpan di layar ponsel. Setelah dia menjawab panggilan, muncul suara laki-laki.

"Yasmin?"

Saat mendengar suara itu, tubuh Yasmin gemetar sedikit sebelum dia menghela napas lega di dalam hati.

Itu adalah suara mantan pacar yang Yasmin kenal sekali.

Kenapa laki-laki itu menelepon?

Namun, saat ini, selama penelepon bukanlah Tante Rita dan anak-anak, Yasmin bisa menerimanya ....

"Yasmin, sudah lama kita nggak mengobrol. Bagaimana kabarmu? Semenjak kita putus, aku sering merindukanmu. Aku nggak bisa melupakanmu ..." kata Nico.

Yasmin tertegun, lalu melirik ke arah Daniel.

"Yasmin, aku tahu kamu belum melupakanku. Kalau nggak, kamu pasti sudah mengganti nomormu, 'kan? Dengar-dengar, dua tahun lalu kamu cuti sekolah dan sudah pulang ke negara kita. Besok aku juga pulang, jadi mari kita bertemu. Bagaimana?" tanya Nico.

"Nggak perlu."

"Yasmin, kamu nggak akan bisa menemukan pria lebih baik dariku."

"Aku ...." Sebelum Yasmin sempat menolak Nico lagi, Daniel sudah mengakhiri panggilan.

Yasmin yang sedang ditatap oleh Daniel buru-buru berkata, "Dia adalah mantan pacarku dan sudah lama kita berpisah. Karena aku patah hati, aku nggak lanjut sekolah dan ambil cuti. Aku nggak menyangka dia akan mencariku. Hubungan kami benar-benar sudah berakhir."

"Kamu kira aku peduli?" ucap Daniel sambil tersenyum sinis.

Yasmin tampak malu, lalu dia melihat ponselnya yang ada di tangan Daniel.

Itu seakan-akan Yasmin sendiri. Dia telah menjadi benda yang berada di genggaman Daniel.

Daniel mendadak berkata, "Karena besok dia sudah pulang, kamu perlu menjumpainya."

Yasmin yang tidak menginginkan itu bertanya, "Kenapa aku harus pergi menjumpainya?"

"Aku bukan sedang berdiskusi denganmu."

Yasmin tidak tahu apa yang ada di dalam benak Daniel, tapi itu pasti bukan hal baik.

Firasat buruk di hatinya pun membesar.

Namun, Yasmin tidak berani menolak Daniel. Kalau tidak, Yasmin akan mati!

...

Nico membuat janji di bar.

Setelah Yasmin masuk ke bar, dia tidak hanya melihat Nico, tapi juga sosok seseorang di kursi VIP lantai dua. Sosok itu tersembunyi di dalam kegelapan dan sedang melihat ke bawah.

"Yasmin, di sini!" Nico juga sudah melihatnya.

Yasmin memalingkan wajahnya, lalu berjalan ke arah Nico.

Meskipun Yasmin telah mendapat persetujuan Daniel, dia tetap merasa gelisah.

Karena dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Daniel. Bahaya yang tidak diketahui ini membuat Yasmin gugup.

"Yasmin, lama nggak bertemu. Aku benar-benar senang dapat melihatmu lagi," kata Nico dengan emosional.

Yasmin tidak membalasnya.

Nico Harvis adalah senior Yasmin di universitas luar negeri. Nico telah mengejar Yasmin selama hampir dua bulan.

Lalu, karena mereka sama-sama orang Kota Imperial, mereka pun pacaran.

Tak disangka, kurang dari enam bulan, Yasmin malah melihat Nico bersama wanita lain di atas tempat tidur.

"Aku sudah memesankan jus beralkohol rendah untukmu. Kamu nggak pandai minum, 'kan?" Nico bertingkah seperti pacar yang perhatian.

"Ada apa kamu mencariku?" Yasmin dapat melihat kalau Nico hanya berbasa-basi dan dia juga tidak ingin menerima kebaikan apa pun dari Nico.

"Yasmin, nggak peduli aku bersama siapa, aku nggak bisa melupakanmu. Aku benar-benar menyesal. Yasmin, jadi pacarku lagi, ya. Aku janji nggak akan melakukan kesalahan itu lagi!"

"Kamu tahu kalau aku adalah orang yang nggak memberi kesempatan kedua."

"Kalau memang seperti itu, kenapa kamu mau bertemu denganku lagi? Kamu juga pasti belum bisa melupakanku!" Nico pun hendak meraih tangan Yasmin.

Namun, Yasmin segera menarik tangannya.

Matanya tertuju ke atas. Tidak peduli seberapa jauh Yasmin, dia tidak bisa mengabaikan tatapan mata yang tajam itu.

Yasmin ingin pergi!

Namun, dia tidak tahu kapan dia boleh pergi.

Kalau Yasmin belum bisa melakukan hal yang membuat Daniel puas, dia tidak bisa membantah perintah Daniel!

Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, terdengar suara seseorang.

"Loh? Yasmin Tanoto? Aku hampir nggak bisa mengenalimu karena pakaianmu." Seorang pria berambut rapi mendekat untuk ikut mengobrol. Dia bertingkah seperti telah berpapasan dengan teman lama.

Bab 10

Wajah Yasmin langsung menjadi merah. Dia berpikir apakah ini tujuan Daniel? Untuk mempermalukannya?

Sepertinya ini baru permulaan.

Benar saja, raut wajah Nico pun berubah. "Apa maksudnya?"

"Apa ini tamu barumu? Pantas saja sudah lama nggak melihatmu. Apa dia memberimu lebih banyak uang daripadaku?" Pria itu lanjut menghina. "Katakan padaku, berapa dia memberimu? Aku akan melipatgandakannya."

Yasmin sekali lagi melihat ke atas. Daniel masih di sana. Sambil memegang gelas birnya, dia sedang menonton kejadian ini dengan penuh minat.

"Apa yang dikatakannya benar?" Sikap Nico telah berubah.

"Masa aku berbohong? Kalau kamu nggak percaya, tanyalah orang-orang di bar ini apa aku mengatakan hal yang sebenarnya." Setelah itu, pria itu menarik seorang pelayan. Dia menunjuk Yasmin sambil bertanya, "Apa kamu mengenalnya?"

"Kenal. Dia adalah salah satu putri favorit tamu-tamu di sini," jawab pelayan itu.

Setelah itu, pria itu menarik orang lain lagi dan orang itu mengatakan hal yang sama.

Yasmin melihat sekeliling pelayan dan tamu bar ini. Ada yang sedang sibuk sendiri, lalu ada yang sedang menatapnya dengan tatapan mendambakan dan gairah.

Mereka terlihat natural, tapi Yasmin berani menjamin kalau semua orang di bar ini adalah suruhan Daniel.

Daniel kuat sekali!

Yasmin tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Dia pun bangkit, kemudian berkata, "Aku mau pergi ke toilet."

Dia tidak berani pergi dari bar. Untuk sementara, dia hanya bisa meninggalkan tempat yang berbahaya ini.

Namun, saat Yasmin baru saja masuk ke kamar mandi, pintu di belakangnya sudah didorong oleh seseorang.

Ekspresi Nico tampak penuh dengan hina. "Ternyata kamu jalang sekali!"

Yasmin menarik napas dalam-dalam, tapi dia diam saja.

"Waktu kita masih pacaran, kamu nggak membiarkanku menyentuhmu selama setengah tahun. Kamu pura-pura suci di depanku, tapi sebenarnya kamu adalah wanita jalang yang entah sudah dipakai berapa banyak pria!"

"Sudah cukup?" tanya Yasmin dengan ekspresi masam.

"Belum. Aku juga ingin mengambil apa yang kulewatkan!"

"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Yasmin yang melihat Nico mendekatinya.

Nico langsung memerangkap Yasmin di antara dirinya dan wastafel.

"Aaa! Nico, lepaskan aku!"

"Kenapa aku nggak boleh menyentuhmu?" Nico menarik baju Yasmin dengan kuat sehingga kerahnya koyak dan menunjukkan kulit Yasmin yang putih. Pandangan itu pun membuat mata Nico berkelip.

"Nico!" Yasmin mendorong Nico dengan sekuat tenaganya dan jantungnya tidak berhenti berdebar.

Apa ada yang lebih keterlaluan daripada diperkosa oleh mantan pacar?

"Aku akan membayarmu!" Nico pun hendak mencium Yasmin.

Yasmin tentu saja tidak mengizinkannya.

Tak disangka, Nico langsung mengayunkan tangannya ke pipi Yasmin.

"Ah!" Yasmin pun terjatuh ke lantai. Kepalanya terasa pusing dan pipinya terasa perih.

Nico masih belum merasa puas. Dia menuangkan semua air di ember ke badan Yasmin.

Yasmin berteriak. Seluruh tubuhnya basah dan dia terlihat menyedihkan.

Nico hendak maju lagi, tapi kemudian ada orang yang membuka pintu kamar mandi.

Nico baru ingin naik darah, tapi ketika dia melihat pria yang masuk menyebarkan aura mengancam yang kuat, Nico pun terdiam.

Dia tidak pernah bertemu dengan pria yang bisa membuat orang takut hanya dengan tatapan matanya.

Jadi, Nico langsung pergi.

Mata sinis Daniel melirik ke arah Yasmin sambil berjalan menghampirinya dengan anggun. Sosok Daniel yang menjulang membuatnya terlihat seperti raja.

Yasmin menggigit saat dia duduk. Dia mengangkat wajahnya dan matanya berkaca-kaca. "Apa aku sudah boleh pergi?"

Daniel menatapnya dengan sinis dan menjawab, "Malam masih panjang. Di rumah bosan."

Yasmin memeluk kaki Daniel, lalu dia menangis sembari memohon, "Mempermalukanku sampai begini sudah cukup, 'kan? Kumohon, biarkan aku pergi. Kumohon ...."

Daniel mencondongkan tubuhnya untuk mencengkeram rahang Yasmin. Dia memperingati Yasmin, "Padahal aku ingin menonton adegan kesatria menolong tuan putri. Kamu benar-benar telah mengecewakanku."

Yasmin ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.

"Bicara!" marah Daniel.

"Yang sebenarnya ingin kamu lihat adalah Nico dikepung dan aku memohon padamu." Yasmin meneteskan air mata, lalu berkata, "Tapi, dia bukan orang seperti itu ...."

"Apa kamu sudah pernah disentuh?" tanya Daniel dengan suara rendah.

Yasmin langsung panik.

Kata-kata Nico pasti kedengaran oleh Daniel. Dia tahu kalau mereka tidak pernah sampai tahap itu.

Yasmin pun menebalkan mukanya, lalu menjawab, "Be ... belum ...."

"Apa aku perlu memeriksamu dulu, hm? Kalau kamu ketahuan berbohong padaku, aku akan membunuhmu!"

Sekujur tubuh Yasmin pun gemetar. "Jangan .... Mantanku sungguh nggak pernah menyentuhku. Karena itu, dia selingkuh. Semua yang kukatakan ini benar!"

Begitu Daniel memeriksanya, dia tidak hanya akan tahu kalau Yasmin sudah bukan seorang perawan, tapi dia juga akan melihat bekas luka operasi sesar di perut Yasmin.

Karena Yasmin sudah melahirkan, di mana anak-anaknya?

Akan tetapi, bagaimana Yasmin bisa menarik kembali apa yang dia telah katakan? Bagaimana dia bisa tahu kalau Daniel ingin memeriksanya?

Daniel menunduk dengan tatapan matanya yang sinis itu. Aura di sekitar perlahan-lahan terasa berbahaya. Dia seolah-olah ingin memberi wanita yang sedang berlutut di depannya itu kematian yang lambat.

Suara getar ponsel yang datang dari saku Daniel memecah suasana menakutkan ini.

Yasmin bahkan tidak berani bernapas.

Daniel melepaskan rahang Yasmin, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengangkat panggilan. "Bicara."

Entah apa yang telah dikatakan orang di ujung telepon. Setelah itu, Daniel pun mengakhiri panggilan. Dia melirik sinis wanita menyedihkan yang berada di lantai sebelum melangkah pergi.

Tubuh Yasmin langsung menjadi lemas dan dia hampir jatuh ke lantai.

Menghadapi Daniel yang menakutkan selalu menghabiskan seluruh kekuatan Yasmin.

Apa Daniel sudah melepaskannya? Atau ini hanya untuk sementara?

Yasmin menopang tubuh lemahnya untuk berdiri. Sekujur tubuhnya basah. Dia sama sekali tidak boleh menetap lebih lama lagi.

Jadi, dia sudah boleh pergi, 'kan?

Yasmin keluar dari kamar mandi. Kemudian, ketika dia melewati koridor yang penuh dengan ruang VIP, kebetulan dia melihat satu adegan di salah satu ruangan.

Seorang pria ditendang ke depan Daniel. Pria itu pun menggertakkan giginya karena rasa sakit di lututnya.

"Kamu cuma pantas berbicara denganku saat berlutut." Daniel sedang duduk di sofa dan aura kuatnya terasa sangat menakutkan.

Pria itu tidak berhenti berkeringat dingin. "Aku ... aku adalah orang Keluarga Guntur. Kamu ... kamu nggak boleh memperlakukanku seperti ini!"

"Siapa yang mengutusmu untuk menyelidikiku?" tanya Daniel.

Di bawah tekanan aura Daniel yang kuat, pria itu pun hanya bisa menjawab, "Nyo ... Nyonya Klara ...."

Begitu nama Klara disebut, Yasmin melihat kilatan putih melewati pandangannya. Setelah itu, dia mendengar teriakan melengking keluar dari mulut pria itu.

"Aah!"

Daniel sangat kuat sehingga bilah dan gagang pisaunya menancap ke pergelangan tangan pria itu. Darah pun memuncrat dan langsung mewarnai karpet di ruangan menjadi merah.

Wajah Yasmin memucat karena ketakutan. Dia terus melangkah mundur, setelah itu dia berlari tanpa menoleh ke belakang.

Yasmin langsung berlari keluar dari bar. Setelah dia menghirup udara segar di luar, dia baru merasa tenang.

Daniel kejam sekali. Dia gila!

Yasmin tidak tahu apakah dia menggigil karena angin malam ini sangat dingin.

Pisau itu seakan-akan bukan menusuk pergelangan tangan pria itu, tapi tubuh Yasmin!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari “B45822” di Goodnovel untuk membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B45822
Salin
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED