"Ibu ngomong apa?" Fei Livi masih berharap, jika semua itu hanyalah mimpi belaka.
Ya! Fei Livi memang masih berharap jika perjodohan itu hanyalah mimpi buruknya saja. Tapi, itu u bukanlah bunga tidur. Melainkan kenyataan pahit yang harus Fei Livi jalani dengan terpaksa menikahi pria yang belum pernah ia temui.
Sebagai gadis yang baru saja lulus sekolah, Fei Livi sangat ingin menjadi gadis bebas yang melakukan apapun. Semenjak dirinya sekolah di sekolah menengah atas, sudah banyak sekali pekerjaan paruh waktu yang ia lakukan.
Fei Livi memiliki beberapa tabungan juga untuk dirinya hidup mandiri di luaran sana. Sayangnya, sebagi gadis pinggiran kota Busan, yang memang jauh dari kota besar, sangat sulit baginya untuk bergerak.
"Aku tetap akan menikah, Bu. Setelah ini, mari kita ke kantor urusan agama untuk mengurus semuanya." ajak Fei Livi meski hatinya terluka.
Fei Livi menarik nafas dalam-dalam. Lalu, mengatakan bahwa dirinya siap menikah dengan putra nyonya Lee.
"Kamu yakin?" tanya Cha Yeon Jae kembali. "Ibu hanya tidak mau jika kamu berubah pikiran ketika acaranya sudah dekat!" tegasnya.
Fei Livi kembali menghela nafas panjang. "Huh, aku yakinkan diriku sendiri, Ibu. Tapi sebelumnya … bisakah Ibu mempertemukan aku atau memberikan kontak dari putra nyonya Lee itu kepadaku? Aku hanya ingin mengenalnya sebelum pernikahan itu terjadi, Bu." Fei Livi meminta.
Cha Yeon Jae mengatakan bahwa dirinya dilarang menceritakan apapun tentang siapa putra dari nyonya Lee. Wanita berusia 36 tahun itu hanya bisa menyebutkan namanya saja. Tidak mungkin menyebut statusnya, atau Fei Livi nantinya tidak mau menikah dengan pria itu, karena statusnya yang sudah menduda. Cha Yeon Jae sangat tahu sikap dari putrinya itu yang selalu mempertanyakan apapun yang ingin Iya ketahui.
"Kamu akan bertemu dengan putra nyonya Lee di saat hari pernikahan nanti, Fei," terang Cha Yeon Jae.
"Mengapa seperti itu? Bukankah syarat menikah yang sebenarnya itu adalah__" ucapan Fei Livi terpotong.
"Itu yang mereka katakan. Anak dari nyonya Lee sedang berada di luar negri saat ini. Jadi, kamu tidak bisa bertemu maupun menghubunginya, Fei!" tegas Cha Yeon Jae terkesan takut jika putrinya berubah pikiran.
"Setelah menikah nanti, kamu akan di bawa olehnya ke Seoul. Jadi, biasakan dirimu. Jangan pernah memalukan Ibu, sebagaimana aku yang telah merawatmu dan mendidikmu dengan baik selama ini, paham!" lanjut Cha Yeon Jae.
Tapi dirinya sendiri saja belum pernah bertemu dengan anak dari nyonya Lee. Bagaimana mungkin Cha Yeon Jae bisa mendeskripsikan bagaimana wajah dan juga kriteria dari putranya nyonya Lee itu.
Tak ada yang perlu di bahas lagi. Fei Livi hanya bisa diam menanti hari pernikahan itu datang.
***
Setelah selesai sarapan, Cha Yeon Jae bersama dengan Fei Livi segera datang ke kantor urusan catatan sipil untuk mengurus berkas miliknya. Sebagai gadis yang memiliki kewarganegaraan ganda, Fei Livi harus memilih salah satu dari kewarganegaraan tersebut. Diketahui, memang ayahnya Fei Livi adalah orang China, sedangkan Ibunya asli orang Korea. Tapi, kedua orang tua Fei Livi belum pernah ditemukan sama sekali oleh Cha Yeon Jae.
Sekitar 15 menit selesai, masih dengan wajahnya yang murung, Fei Livi pamitan kepada ibunya untuk berangkat bekerja di cafe milik temannya yang bernama Yoona Min Young (21). Gadis berwatak keras dan selalu menyangka jika Fei Livi adalah adik kandungnya yang dibuang oleh Ibunya.
"Iya, kamu hati-hati di jalan," ucap Cha Yeon Jae memberi ijin.
"Baik, Bu."
Setelah Fei Livi pergi~
"Fei, ini semua Ibu lakukan juga demi kebaikan kita. Ibu sudah lelah terus-terusan merawat kamu. Ibu tidak sabar lagi untuk bisa menemukan pasangan yang Ibu inginkan. Maafkan Ibu, Fei," gumam Cha Yeon Jae.
"Jadi, kamu harus mengalah untuk saat ini. Kamu menikah lebih dulu, agar Ibu juga bisa menikah." imbuhnya berlalu pergi.
***
Fei berjalan dengan pelan mengayuh sepedanya. Harapannya pupus untuk menjadi seorang dokter karena dipaksa menikahi pria yang sama sekali belum ia jumpai itu, sekali lagi. Sepanjang perjalanan, Fei Livi terus saja memikirkan seperti apa orang yang hendak dinikahkan dengannya itu.
"Semoga saja … pria itu tidak jahat. Aku takut sekali jika pria itu tidak mudah aku senangi." Fei Livi bergumam.
Apesnya, sebelum sampai ke cafe, ban sepeda Fei Livi mengalami kebocoran. Hingga dia harus mendorong jauh sampai menemukan bengkel terdekat. Fei Livi tidak tahu kenapa dengan sepedanya hari itu. Padahal, tempat bengkel tersebut lumayan sangat jauh. Dan hanya ada satu di Kota Busan.
"Ya Tuhan, segala bocor ban sepedaku. Sudah jam berapa ini? Aku janji dengan Min Young mau datang lebih awal pula!"
Tak lama kemudian, Fei pun menemukan bengkel tak jauh dari tempat dirinya mengalami bocor di ban sepedanya. Bengkel yang amat tua dan sudah tidak memungkinkan. Tapi, harus Fei Livi jamah supaya ban sepedanya bisa cepat teratasi.
Usai menambal ban sepedanya, Fei Livi segera pergi ke cafe sahabatnya. Dahulu, Fei Livi pernah menyelamatkan si pemilik cafe dengan mendonorkan darahnya. Maka dari itu, si pemilik cafe menawarkan pekerjaan kepadanya memang saat itu Fei Livi sedang membutuhkan pekerjaan.
"Huh, akhirnya sampai juga," batin Fei Livi.
Setelah sampai di cafe, Fei Livi langsung mencari Min Young dan mengatakan, "Hai, selamat siang manager, sorry aku terlambat!" teriak Fei Livi padahal belum dekat dengan Min Young berada.
"Astaga, kau kemana saja? Ini jam berapa, Fei? Jika saja aku ini adalah managerny yang galak, aku mungkin sudah memecatmu!" Canda Min Young.
"Iya, tadi sepedaku bocor. Ban yang bocor, hehe. Jadi harus mencari tukang tambal dulu. Itu aja masih pakai antri segala. I'm sorry I was late. No next time, I promise!" lanjut Fei Livi.
"Santai saja, Fei. Kau minum saja dulu sana. Setelah itu, kau istirahat sebentar dan baru mulai kerja jika lelahmu sudah hilang. Aku ingin keluar sebentar. Bisakah kau menjaga my cafe has the best coffee and desserts in town?"
Min Young sangat baik kepada Fei Livi karena sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Selama bekerja di cafe, Fei Livi selalu menerima perlakuan khusus dari Min Young. Apapun yang ada dalam pikirannya hanya kebaikan untuk sahabatnya itu. Sampai di mana, Min Young kembali dari urusannya dan mulai berbincang dengan Fei Livi kembali.
"Fei, masuk ke kantor. Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu." panggil Min Young.
Segera mungkin Fei Livi segera memenuhi panggilan dari managernya, atasannya. Tak ingin membuat seorang yang telah berbaik hati kepadanya menjadi kecewa, Fei Livi sampai berlari ke kantor untuk tidak membuat Min Young menunggu.
"Ada apa lagi, Bos? Kenapa kau memanggilku?" tanya Fei Livi dengan nafas ngos-ngosan karena berlari.
"Duduk dulu." Perintah Min Young dengan cuek. Memang orangnya seperti itu. Gadis berusia 21 tahun itu tiba-tiba sangat cuek kepada siapapun. Bahkan dengan pria saja selalu dingin sikapnya.
"Aku dengar dari beberapa karyawan kau lulus dengan nilai yang hampir sempurna. Jadi, terima ini sebagai hadiah karena kamu berhasil lolos dengan nikah yang baik," ucap Min Young sembari menyodorkan sebuah kertas.
"Ah, kenapa harus repot-repot? Aku sangat berterima kasih kamu menerimaku sebagai karyawan paruh waktu. Masa iya masih menerima hadiah? Aku tidak enak hati dengan karyawan lain," kata Fei Livi memang tidak enak hati.
"Kenapa harus merasa tidak enak? Semua karyawan kan tau benar kalau kamu ini adikku, bukan karyawanku. Tidak ada salahnya dong jika aku memberikan kamu hadiah kelulusan? Ayo buka!" jawaban Min Young membuat Fei Livi terharu saja.
Betapa mengejutkannya hadiah dari Min Young untuk Fei Livi. Beasiswa kuliah jurusan desainer untuk 2 semester itu seperti yang dia inginkan ada di depan matanya dan dipegang dengan tangannya sendiri. Merasa menyesal karena harus menolak, Fei Livi hanya bisa menangis dan terus menangis.
"Loh, kok, kamu nangis gini? Ini bukan tangisan bahagia. Kamu kenapa, Fei?" tanya Min Young heran.
"Huaa … Aku tidak bisa menerima beasiswa ini, Min Young. Kenapa kamu selalu baik kepadaku? Aku tidak enak hati menolaknya__" Fei Livi semakin tidak terkendali.
"Iya, kenapa? Bukankah kamu ingin sekali kuliah di kejuruan ini? Kenapa kamu tidak bisa menerimanya? Apa karena Ibumu lagi?" Yoona Min Young masih berusaha menanyakan alasannya sahabatnya itu menolak.
Belum bisa mengungkapkan, Fei Livi masih menangis saking bingungnya. Bibirnya sulit untuk mengatakan bahwa dirinya dipaksa menikah karena hutang Ibunya. Dan keterpaksaan itu berlandaskan bayar hutang.
"Fei, kamu kenapa?" tanya Min Young masih lembut. Tapi tangisan Fei Livi malah benar-benar membuat gadis berambut panjang lurus itu menjadi kesal karena tidak berterus terang kenapa dirinya menangis.
BRUAK!
Suara meja di gebrak oleh tangan mulus Min Young.
"Hei, Fei Livi! Katakan! Jika kau tidak mau mengatakan, maka aku akan menyobek mulutmu itu dan memaksamu untuk bicara saat ini juga! Apa kau mau kehilangan mulutmu itu, ha?" bentak Min Young sembari menggebrak meja.
"Aku akan menikah!" terkejut, spontan Fei Livi mengatakan tentang pernikahan pasangan bersama dengan putra mantan majikan ibunya.
Seketika, Min Young menjadi tercengang. Dia terus memandangi Fei Livi dengan pandangan sedih. "Apa ini karena hutang Ibumu itu?" Min Young malah mampu menebak.
Fei Livi menunduk diam. Tidak tahu harus menjawab apa dengan temannya itu. Tapi bagaimanapun juga, memang sudah tidak ada jalan untuk Fei Livi keluar dari perjanjian pernikahan itu.
BRUAK!
Kembali Min Young menggebrak meja. Gadis berusia 21 tahun itu tidak terima jika Fei Livi harus menikah dengan pria yang sudah tua.
"Hei, Fei, kenapa kamu diam saja? Berapa hutang Ibumu, biarkan aku yang membayarkannya. Kenapa juga kamu harus menikah dengan pria yang tidak kamu sukai hanya karena membayar hutang Ibumu?" Min Young terbawa emosi sampai menggebrak meja lagi.
"Ibuku hutang juga karena membiayai hidupku. Dan ini bukan masalah nominal, keluarga lintah darat itu menginginkan keturunan," jelas Fei Livi.
"Jadi?" Min Young masih menyulut.
"Aku harus menikah dengannya sampai bisa memberi mereka keturunan. Setelah itu, anak dari lintah darat itu akan menceraikan aku." Ucap Fei Livi dengan hati yang luka.
Tak terima temannya di perlakukan seperti itu oleh Ibunya, Min Young pun mengepalkan tangannya. "Jadi kamu nikah kontrak? Bukankah itu--" ucapan Min Young terhenti saking tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Aku nikah resmi. Tolong, kamu jangan marah padaku." sela Fei Livi dengan menundukkan kepalanya.
Ingin sekali Min Young melunasi hutang Ibu dari sahabatnya itu. Namun, sudah terlambat karena Fei Livi sendiri tidak ingin Min Young melakukan hal itu. Jika Min Young membayarkannya, itu tidak akan menyelesaikan masalah karena yang diminta nyonya Lee adalah seorang keturunan. Bukan uang.
Kesal, Min Young pun merobek beasiswa yang dia berikan kepada Fei Livi sebelumnya. Kemudian memeluk sahabatnya itu serta menguatkannya, juga akan mendukung apapun yang Fei Livi lakukan.
"Hei, maafkan aku__" ucap Fei Livi dengan wajah penuh penyesalan.
Masih dengan hanya bisa menghela napas. Ia sendiri tak mungkin mencampuri urusan Fei Livi terlalu dalam. Hanya saja, gadis berambut panjang itu sangat menyayangkan jika Fei Livi tidak melanjutkan pendidikannya lagi.
"Haih, untuk apa kau meminta maaf padaku? Itu semua sudah menjadi keputusanmu untuk menikah dengan pria itu, bukan? Kamu menyetujuinya, 'kan?" kata Min Young dengan suara lirih. "Andaikan saja kemarin kamu tidak langsung menerima, pasti aku akan datang dan melawan rentenir itu untukmu." imbuhnya menyentuh bahu gadis berambut sebahu itu, Fei Livi.
Sebenarnya, bukan hanya Min Young saja yang menyayangkan keputusan Fei Livi. Tapi Fei Livi sendiri juga menyesali keputusannya sendiri. Akan tetapi, ia harus berusaha ikhlas karena yang dilakukannya demi keluarga.
"Jadi, kapan acara pernikahannya?" tanya Min Young bersuara lemas. "Bagaimana dengan perguruan tinggimu?" imbuhnya masih berharap jika Fei Livi bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setelah menikah. "Dan lagi, apa kamu masih bisa kerja di cafeku? Aku takut ketika kamu sudah menikah nanti, kita tidak bisa bertemu kembali."
Fei Livi hanya diam saja.
"Cukup tau saja. Aku masih tidak menyangka kamu akan seperti ini nasibnya," lanjut Min Young.
"Jadi, kamu tidak meneruskan pendidikanmu, kan, ya? Apakah kita sudah tidak bisa bersama menghabiskan waktu lagi? Seperti apa sebenarnya anak dari rentenir itu?"
Min Young masih saja terus bertanya meski tak ada satupun pertanyaannya dijawab oleh Fei Livi yang hanya bisa diam terpaku. Fei Livi kemudian memeluk kembali sahabat rasa kakak itu. Mengingat semua kebaikan Min Young kepadanya, sulit untuk dijelaskan bagaimana sulitnya melakukan pernikahan di atas keterpaksaan.
***
Hari yang ditunggu telah tiba. Selama dua minggu, Cha Yeon Jae tidak membiarkan putri angkatnya pergi terlalu lama agar tidak terlihat buruk ketika tiba acara pernikahannya. Memang pernikahan itu terkesan sederhana. Tidak banyak orang yang datang dan mengetahuinya. Pernikahan juga hanya dilakukan di gereja setempat saja.
"Apa ini? Orang kaya, tapi tidak mengadakan resepsi? Apa mereka begitu sayang uang? Sehingga, untuk resepsi pernikahan saja tidak mampu?" protes Min Young kesal.
"Kamu ini, biarkan saja seperti ini. Mereka tidak melakukan kawin kontrak saja sudah bersyukur!" tepis Cha Yeon Jae.
Gaun putih sederhana yang dipakai Fei Livi memang tidak terlalu buruk. Postur tubuh dan wajah manisnya seolah sudah menutupi gaun sederhana itu. Min Young sedikit kesal karena keluarga dari orang kaya seperti keluarga Lee itu belum juga datang di waktu yang sudah ditentukannya.
"Haduh Bibi, mereka tidak menipu kita, 'kan?" tanya Choi Minyo kepada Cha Yeon Jae.
Siapa Choi Minyo? Dia adalah teman Fei Livi juga. Sebelumnya, mereka pernah terlibat dalam satu kerjaan paruh waktunya dan menjalin sebuah persahabatan. Fei Livi sudah menganggap Choi Minyo sebagai kakaknya sendiri.
"Jika menipu juga tidak apa-apa. Hutang kalian, nanti aku yang bayar!" ketus Min Young dengan memasang wajah yang cemberut.
"Jikapun aku gagal menikah, maka itu akan jauh lebih baik. Aku bisa fokus dengan pendidikan dan karirku nanti. Daripada harus menjadi istri dan ibu yang jahat dikemudian hari." gumam Fei Livi dalam hati.
Selang lima belas menit, akhirnya keluarga rentenir itupun datang. Masih sangat misterius karena mempelai pria belum juga turun dari mobil mewahnya.
"Ayo, segera masuk!" ketus nyonya Lee tanpa meminta maaf untuk kesalahannya yang terlambat hampir tiga puluh menit.
"What? Anda tidak minta maaf dan malah mengucapkan kata itu dengan sinis, nyonya?" protes Min Young. "Where's the attitude of a big madam?"
"Hei, sudahlah!" tegur Cha Yeon Jae. "Mari, nyonya. Kami yang datang lebih awal, jadi masih menunggu terlalu lama." Cha Yeon Jae begitu tunduk kepada nyonya Lee.
Nyonya besar Lee menghampiri Fei Livi dan memujinya cantik. Nyonya besar Lee masih berhati baik, jadi beliau tidak akan memasang wajah jutek maupun acuh kepada calon cucu menantunya.
"Maaf jika saya lancang. Dimana calon suami, adik saya?" tanya Choi Minyo menoleh ke arah mobil.
Kemudian dengan ramah, Nyonya besar Lee meminta nyonya Lee untuk memanggil putranya keluar dari mobilnya.
Nama putranya itu adalah Lee Seung Jo. Berusia 29 tahun dan sudah menyandang status duda karena istrinya meninggal akibat kecelakaan satu tahun lalu. Beliau memang paling malas untuk membahas pernikahan karena memang baginya, mendiang istrinya tidak akan pernah tergantikan.
"Ck, merepotkan sekali!" sulut nyonya Lee.
Di bukalah pintu mobil dan nyonya Lee meminta Lee Seung Jo untuk turun. "Turun, cepat!" perintah nyonya Lee dengan tegas.
"Aku sedang menyelesaikan pekerjaan, Bu. Untuk apa diadakan pernikahan ini? Aku sudah katakan, bukan? Aku sudah tidak mau menikah lagi!" tegas Lee Seung Jo.
"Jangan mengacaukan segalanya, nak. Ibu hanya mau yang terbaik saja dikemudian hari. Hanya setelah dia melahirkan, kamu boleh berpisah dengannya nanti." bisik nyonya Lee.
Tak percaya ibunya akan mengatakan itu, Lee Seung Jo memutar bola matanya. Merasa jika Ibunya benar-benar sudah gila karena memaksanya segera menikah. "Astaga, belum saja menikah sudah memikirkan perpisahan. Apakah Ibu anggap pernikahan itu hanya main-main?" protesnya.
Meski dirinya juga enggan menikah, Lee Seung Jo tetap akan menikah demi Ibunya. Ia pun turun dari mobilnya dengan kaki jenjangnya itu. Lalu, berjalan menuju gereja dengan badan yang tegap. Tanpa melihat sama sekali wajah Fei Livi, Lee Seung Jo memintanya untuk segera selesaikan urusan pernikahan itu tanpa menunda waktu lagi.
"Apa? Dia bahkan tidak memandangku?" gumam Fei Livi dalam hati. "Pria ini ... aku ingin sekali menendang bokongnya itu!" sambungnya kesal, meski dalam hati.
"Apa ini? Dia calon suaminya, Fei? Sungguh tidak berakhlak. Aku harus hentikan pernikahan ini!" ketus Min Young.
Aksi Min Young dihentikan oleh Choi Minyo. Bagaimanapun juga, itu adalah keinginan sahabatnya untuk menikah. Choi Minyo hanya tidak ingin Min Young terlalu ikut campur dalam masalah pribadi Fei Livi.
"Hei, Minyo, kau tau? Pria itu, sangat tidak cocok untuk sahabatku. Aku harus menghentikan pernikahan ini!" ketus Min Young.
"Aku rasa … kita tak seharusnya ikut campur dalam masalahnya. Sudahlah, ayo kita masuk dan menjadi saksi untuk pernikahan sahabat kita." ajak Choi Minyo dengan lembut.
Di sisi lain, Choi Minyo ini adalah sahabat dari Min Young sejak kecil. Choi Minyo sendiri baru saja lulus kuliah dari jurusan sastra dan hendak masuk ke perusahaan milik ayahnya yang lumayan besar di ibu kota jika Choi Minyo berniat.
Hubungan antara Choi Minyo dan Min Young memang terkesan sederhana seperti persahabatan pada umumnya. Tapi, kebersamaan mereka juga bukan sederhana, Choi Minyo sudah mulai menyukai Min Young sejak mereka masuk di sekolah menengah pertama.
***