"Wajahku bisa habis kalau kamu terus menatapku begitu," ujar Edwin Tomato, pria tampan berusia 24 tahun, sambil menatap gadis yang berbaring di sampingnya.
Gadis itu terkikik jahil sebelum menyembunyikan wajahnya di dada bidang Edwin, pria yang telah menemaninya selama setahun terakhir. "Hahaha, mana mungkin wajah idola kampus bisa habis hanya karena ditatap?" balasnya, tertawa kecil saat melihat mata cokelat Edwin yang kini memeluknya dengan manja.
"Oh iya, ngomong-ngomong, hari ini adalah hari terakhir ujian kelulusan kita. Apa yang kamu ingin dariku sebagai hadiah perpisahan? Tapi jangan yang mahal ya, aku belum sekaya itu," ucapnya sambil bangun dari tempat tidur.
Hubungan mereka bermula dari rasa penasaran, lalu berujung pada cinta. Layaknya musim gugur yang selalu menghadirkan debaran di hati.
"Kapan aku pernah meminta sesuatu yang mahal? Aku bukan gadis matre, tahu!" protes Adelia Van Odelius, yang seusia dengan Edwin.
Edwin membungkukkan tubuhnya, menatap lembut gadis cantik di hadapannya, lalu berkata, "Aku tidak bilang kamu matre. Aku hanya ingin hadiah kelulusan ini menjadi kenangan terindah bagi kita, tanpa harus mengeluarkan banyak uang."
Sebagai seseorang yang memahami betapa mahalnya biaya hidup di Venezia, Edwin harus bekerja siang dan malam demi mendapatkan ratusan dolar. Berbeda dengan Adelia, yang lahir di tengah kemewahan dan belum sepenuhnya memahami nilai uang yang diperjuangkan Edwin.
"Iya, iya. Kamu selalu berbicara seolah aku tidak pernah merasakan hidup di jalanan," gumam Adelia. "Daripada membahas hadiah, aku lebih ingin kita menghabiskan sisa liburan dengan berkencan."
Edwin melirik ponselnya, memeriksa agendanya hari itu, sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Hmm, baiklah. Kita akan pergi ke mana?"
Senyum Adelia merekah, matanya berbinar penuh antusias. Ia sudah menyiapkan kejutan kecil untuk hari ini.
Beberapa jam setelah mereka bersiap-siap, Adelia masih belum memberi tahu Edwin ke mana mereka akan pergi.
"Adel, kamu masih belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya kita akan pergi ke mana?" tanya Edwin berkali-kali saat mereka berada di dalam mobil sewaan.
"Bawel banget, deh. Toh, nanti kamu juga akan tahu begitu kita sampai. Jadi, cukup duduk diam dan kenakan sabuk pengaman," jawab Adelia dengan senyum jahil, sebelum tiba-tiba menekan pedal gas dengan kuat.
Cara mengemudi Adelia terlihat amatir, membuat Edwin pusing dan mual. Meskipun ia berasal dari keluarga kaya, Adelia tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar menyetir seperti gadis lainnya.
"Ugh... Adel, kamu benar-benar berniat membunuhku?" keluh Edwin sambil memuntahkan isi perutnya begitu mereka berhenti di sebuah pantai.
"Tahu begini, aku tidak akan membiarkanmu menyetir. Bisa-bisa banyak korban nanti," gerutunya masih merasa pusing, sementara Adelia justru terdiam, mengalihkan pandangannya ke hamparan pasir putih di hadapannya.
Melihat tatapan Adelia yang begitu terpukau oleh pemandangan pantai, Edwin menyadari sesuatu. Di balik matanya yang jernih, ada kesedihan yang begitu dalam.
Meskipun mereka telah bersama cukup lama sebagai sepasang kekasih, Edwin merasa masih belum sepenuhnya memahami kehidupan Adelia. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya. Mungkin Adelia tak ingin menceritakan semuanya, sama seperti dirinya yang tak pernah mengungkapkan bahwa ia hanyalah seorang anak haram yang ditinggalkan.
Setelah lama terdiam, akhirnya Adelia membuka suara. "Edwin..."
"Iya, Adel?" jawab Edwin, sedikit bingung mendengar nada lirih di suara kekasihnya.
"Andai suatu hari nanti kita berpisah, dan akulah yang memulainya, apa yang akan kamu lakukan? Aku hanya berharap saat itu tiba, kamu tidak akan membenciku," ucap Adelia tiba-tiba, membahas tentang perpisahan.
Jantung Edwin berdegup kencang. Tanpa sadar, ia membalik tubuh Adelia hingga mereka saling bertatapan. "Memangnya kamu ingin berpisah dariku?" tanyanya serius.
Adelia menggeleng cepat, lalu tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, Edwin."
Namun, bagi Edwin, kata-kata itu terlalu nyata untuk dianggap lelucon. "Kamu tidak terdengar seperti sedang bercanda, Adel. Jika suatu hari kamu benar-benar meninggalkanku, aku akan mencarimu, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun."
Adelia tersenyum jahil. "Memangnya kamu punya cukup uang untuk melakukan itu?" tanyanya dengan nada menggoda.
Edwin terdiam. Suasana di antara mereka mendadak terasa dingin karena pembicaraan tentang perpisahan. Namun, sebelum Edwin sempat menjawab, Adelia tiba-tiba mengecup bibirnya singkat, lalu berlari ke tengah ombak sambil tertawa.
"Saat hari itu tiba, aku akan mengabulkan semua keinginanmu," serunya riang.
Edwin masih terkejut merasakan sentuhan lembut bibir Adelia di bibirnya. Namun, melihat gadis itu berlarian di tepian air, ia segera mengejarnya. "Adel, tunggu saja. Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
Dalam satu tarikan tangan, Edwin berhasil menangkapnya, namun keduanya justru terpeleset dan jatuh ke air. Kaos putih dan celana jeans mereka basah terkena ombak, tetapi di antara suara deburan air, tawa mereka terdengar begitu indah.
Setelah puas bermain air, Edwin membeli dua es krim-stroberi untuk Adelia, rasa favoritnya, dan cokelat untuk dirinya sendiri. Mereka duduk di tepi pantai, menikmati es krim sambil sesekali saling melempar candaan. Setelah es krim mereka habis, keduanya kembali ke mobil untuk beristirahat sejenak.
Di dalam mobil, suasana terasa lebih tenang. Edwin menatap Adelia dengan intens sebelum akhirnya mengecup bibirnya dengan lembut. Kecupan itu berubah menjadi lebih dalam, penuh rasa, membuat keduanya hanyut dalam momen tersebut.
"Lihat, kita masih basah kuyup," gumam Edwin sambil tersenyum usil.
Adelia tertawa kecil. "Air asin ini masih terasa lengket di tubuhku. Kamu yakin ingin melanjutkan ini sekarang?" tanyanya dengan nada menggoda.
Edwin menatapnya lekat, jemarinya dengan lembut menyibak helai rambut basah Adelia yang menempel di wajahnya. "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu, Adel. Seolah waktu berhenti di sini, hanya ada kita berdua."
Namun sebelum momen itu semakin larut, ponsel Adelia bergetar di dalam tasnya. Edwin menghela napas, sementara Adelia melirik layar ponselnya yang terus berdering.
"Mungkin penting..." gumamnya ragu.
Edwin tersenyum kecil, menyentuh pipinya dengan lembut. "Angkatlah. Aku tidak akan ke mana-mana."
Meskipun enggan mengakhiri momen itu, Adelia akhirnya meraih ponselnya, sementara Edwin kembali menyandarkan kepala di kursi, menunggu gadis yang dicintainya menyelesaikan panggilan tersebut.
Adelia menatap layar ponselnya yang menyala, nama "Ayah" tertera di sana. Ia mengerutkan kening, hatinya dipenuhi tanda tanya. "Kenapa Ayah meneleponku?" batinnya.
"Halo?" ucapnya setelah menggeser tombol hijau.
Dari seberang, terdengar suara berat dan tegas. "Ke mana saja kamu? Orang tuamu sedang sakit, tapi kamu malah asyik keluyuran! Cepat pulang, jangan buat aku menunggu!"
Adelia mengepalkan tangan. Amarahnya membuncah. "Aku tidak akan pulang sebelum Ayah membatalkan perjanjian itu!" serunya lantang, membuat Edwin yang duduk di sampingnya terkejut.
Belum sempat Edwin bertanya, suara ketukan keras terdengar dari luar jendela mobil. Sejumlah pria berbadan tegap, utusan ayah Adelia, telah berdiri di sana.
"Sebaiknya kau menurut, kalau tidak ingin dipaksa," ujar suara dingin dari telepon sebelum sambungan terputus.
Edwin yang tidak mengenal mereka segera turun dari mobil, namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, para pria itu menyeret Adelia keluar. Edwin mencoba melawan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Ia terdesak, merasakan perih dari pukulan yang mendarat di tubuhnya.
"Edwin, lebih baik kamu pergi! Aku mengenal mereka!" seru Adelia dengan mata penuh ketegasan, sebelum ia didorong masuk ke dalam mobil mewah yang menunggunya.
Edwin hanya bisa terpaku, dadanya sesak melihat kekasihnya dibawa pergi. Saat itu, ia belum menyadari bahwa kepergian Adelia adalah awal dari perpisahan yang tak terhindarkan.
Di dalam sebuah ruangan kerja yang megah, seorang pria paruh baya duduk dengan kaki bersilang, matanya tajam menatap berkas-berkas di mejanya. Ketika suara ketukan terdengar di pintu, raut wajahnya sedikit mengernyit.
"Masuk."
Seorang pria berbaju hitam membungkuk hormat sebelum berbicara. "Tuan, Nona Adelia sudah berhasil kami bawa kembali."
Tuan Caraton Van Odelius, ayah kandung Adelia sekaligus CEO terkemuka di dunia perbankan Venezia, perlahan mengangkat kepalanya, wajahnya penuh wibawa, sementara ekspresi dinginnya tak berubah.
"Bawa dia masuk," perintahnya tegas, suaranya menggema di ruangan megah itu.
Dua pria lain masuk sambil menggiring Adelia yang terus meronta. "Aku tidak ingin berada di sini! Lepaskan aku!" serunya, suaranya penuh perlawanan.
Namun, permintaannya tidak digubris. Salah satu pria itu mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
Tuan Caraton menatap putrinya dengan sorot mata tajam, amarahnya jelas terlihat. "Ayah sudah bersikap baik dengan mengizinkanmu tinggal di luar rumah, tapi apa yang kamu lakukan? Justru menjalani hubungan dengan pemuda miskin itu!"
Adelia mendongak, menatap ayahnya dengan penuh keteguhan. "Tapi Ayah, dia pemuda yang baik," ucapnya, mencoba meyakinkan.
Tuan Caraton terkekeh sinis. "Baik saja tidak cukup Adelia. Jangan terlalu naif dan keras kepala."
"Justru Ayah yang keras kepala!" balas Adelia, suaranya bergetar. Ia berlutut, tangannya menggenggam erat ujung jas sang ayah. "Aku mohon, batalkan perjanjian Ayah dengajn Tuan Muda Louis!"
Namun, permohonannya tak lebih dari suara rengekan yang tak ingin didengar.
Tuan Caraton menghela napas, lalu memutar gelas wine di tangannya. "Perjanjian ini sangat menguntungkan keluarga kita, Adelia. Seharusnya kamu memanfaatkannya, bukan malah menolaknya."
"Itu keputusan Ayah, bukan untukku!" teriak Adelia penuh amarah. Ia begitu muak dengan sikap ayahnya yang selalu mengatur hidupnya seolah-olah ia tidak memiliki pilihan.
Tuan Caraton yang geram dengan perlawanan putrinya mengangkat tangan dan menampar pipi kirinya dengan keras. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras. "Dasat anak tidak tahu diri! Semua yang kulakukan adalah demi masa depanmu, demi menjamin hidupmu tetap terjaga! Tapi kamu justru berani menentangku demi seorang pemuda miskin yang bahkan tidak jelas asal usulnya!"
Adelia terdiam sejenak, merasakan panas yang menjalar di pipinya. Namun lebih dari itu, hatinya yang terasa perih. Dengan mata memerah, ia menatap ayahnya tajam. "Ya, mungkin aku memang tidak tahu diri. Tapi itu sebabnya, aku tidak akan membiarkan Ayah mengambil keputusan atas hidupku!"
Tuan Caraton menatap putrinya dengan senyum licik. "Kita lihat saja," ucapnya penuh tantangan. Lalu ia melirik ke arah seorang pria berjas hitam. "Dante, bawa dia ke ruang bawah tanah. Jangan beri makanan atau minuman sampai dia sadar dan menyesali keputusannya."
"Baik, Tuan." Dante membungkuk sebelum bergerak mendekati Adelia.
Adelia menegakkan punggungnya, sorot matanya tetap penuh perlawanan. "Aku tidak akan menyesal, Ayah. Apa pun yang terjadi, aku tetap pada pendirianku."
Kata-kata itu menggema di dalam ruangan sebelum tubuhnya kembali diseret keluar dengan paksa.
Beberapa hari kemudian, tibalah hari kelulusan. Namun, di tengah suasana bahagia para siswa, Edwin justru tampak gelisah. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Adelia, gadis itu belum kembali, bahkan tak sekalipun menghubunginya.
"Aku harus bertanya pada siapa?" batinnya cemas. Ia tidak tahu harus mencari ke mana. Meskipun Adelia berasal dari keluarga kaya, itu tidak berarti Edwin mengetahui semua seluk-beluk tentang keluarganya. Kebingungan semakin menghantuinya.
Saat berjalan melewati sekelompok teman sejurusannya, Edwin mendengar mereka membicarakan Adelia yang tak tampak di acara penutupan siswa. Tanpa ragu, ia segera mendekati mereka.
"Kalian tahu di mana Adelia?" tanyanya penuh harap.
Mereka saling bertukar pandang sebelum menggeleng. "Kami juga tidak tahu. Dua hari ini dia tidak masuk, dan sepertinya hari ini pun tidak akan datang," jawab salah satu dari mereka sambil mengangkat bahu, lalu pergi meninggalkan Edwin dalam kebingungan.
Edwin kembali duduk di bangku kayu taman, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut. Napasnya berat, pikirannya penuh dengan kekhawatiran.
"Semoga kau baik-baik saja, Adelia. Aku sangat mengkhawatirkanmu," gumamnya pelan.
Di tengah kegelisahannya, seorang gadis berambut pirang mendekatinya. Jessica Copper, sahabatnya, menatap wajah Edwin yang tampak muram sebelum duduk di sampingnya.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Edwin? Dan di mana gadis manis yang selalu bersamamu?" tanyanya dengan nada penasaran.
Edwin menatap sahabatnya dengan tatapan lelah. Ia tak bisa menjawab apa pun, karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan situasi terakhir bersama Adelia. Menyadari kesedihan yang tergambar di wajah Edwin, Jessica mencoba menghiburnya.
"Kenapa bersedih? Hari ini adalah hari kelulusan kita. Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya kamu selangkah lebih dekat dengan impianmu, Edwin. Jangan biarkan perasaanmu hancur hanya karena seorang gadis," ujarnya dengan nada ceria.
Namun, bukannya terhibur, kata-kata Jessica justru membuat Edwin marah.
"Apa yang kamu tahu? Ini bukan sekadar soal perasaan, Jessica. Adelia sudah menghilang selama beberapa hari, dan kamu malah mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal," balasnya kesal sebelum beranjak pergi, meninggalkan Jessica sendirian di taman.
Tanpa memedulikan pidato kelulusan atau kesempatan berfoto untuk kenangan, Edwin memilih meninggalkan universitas dan langsung kembali ke basement tempat ia dan Adelia biasa tinggal. Sejak kepergian gadis itu, rasanya ia kehilangan semangat untuk melakukan apa pun.
Namun, setibanya di sana, Edwin terkejut mendapati Adelia tengah duduk sendirian di atas ranjang, memeluk lututnya dengan ekspresi kosong.
"Adelia, ke mana saja kamu? Apa yang terjadi?" tanya Edwin, langsung mendekat dan memeluknya erat, sebelum mengecup kening gadis itu dengan penuh kerinduan.
Adelia perlahan mendongak, menatap Edwin dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.
"Kamu sendiri kenapa ada di sini? Bukankah hari ini hari kelulusanmu?" tanyanya dengan suara lirih.
"Itu tidak penting sekarang, Adel. Aku hanya ingin tahu, ke mana saja kamu selama ini?" tanya Edwin, mengabaikan pertanyaan Adelia.
Gadis itu terdiam sejenak, menghela napas panjang sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu yang mengguncang hati Edwin.
"Kamu tidak akan pernah mengerti, Edwin. Tapi sebelum semuanya terlambat, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu..."
Ia menatap Edwin dengan sorot mata serius sebelum melanjutkan, "Aku akan segera menikah. Dan aku ingin kita putus."
Edwin tertegun. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan lembut, ia memegang kedua pipi Adelia, berharap itu hanya sebuah lelucon.
"Kamu bercanda, kan?" tanyanya nyaris berbisik.
Adelia menggeleng pelan. "Aku serius, Edwin. Empat hari lagi aku akan menikah, dan aku harap kamu bisa melupakanku."
Tangannya perlahan berusaha melepas genggaman Edwin, sementara hati laki-laki itu terasa hancur berkeping-keping.
Air mata Edwin mengalir tanpa bisa ia tahan, sementara Adelia membuang wajah, menghindari tatapannya. Dengan suara bergetar, ia kembali bertanya, seolah masih berharap ada celah untuk memperbaiki semuanya.
"Kamu benar-benar ingin mengakhiri semuanya seperti ini? Apa aku telah melakukan kesalahan?" tanyanya, penuh luka.
Adelia terdiam sejenak sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya. Ia tak ingin Edwin melihat air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
"Kamu tidak bersalah, Edwin. Hanya saja... aku terlalu buruk untuk tetap berada di sampingmu," ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi.
Edwin segera mengejarnya. Ia mengenal Adelia lebih dari siapa pun, dan ia tahu betul bahwa gadis itu tidak akan semudah itu mengucapkan kata perpisahan jika tidak ada alasan yang lebih besar di baliknya.
Namun, langkah Edwin terhenti seketika saat sepasang sepatu mahal berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya. Perlahan, ia mengangkat wajah, dan keterkejutan menyelimuti dirinya saat mendapati sosok yang begitu familiar tengah menatapnya dengan dingin.
Langkah Edwin tiba-tiba terhenti saat sepasang sepatu mahal berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya. Perlahan, ia mengangkat wajah, dan seketika keterkejutan menyelimuti dirinya. Sosok yang begitu familiar berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin.
"Tinggalkan putri saya. Saya akan memberikan apa pun yang kamu inginkan, asalkan kamu pergi dari Adelia," suara Tuan Caraton terdengar tegas. Ia muncul setelah kepergian Adelia, membuat Edwin tersentak kaget. Tatapan pria itu penuh ketidaksetujuan.
Edwin mengeratkan rahangnya. "Saya tidak akan meninggalkan Adelia, meskipun Anda memintanya," balasnya dengan penuh ketegasan.
Tuan Caraton tertawa kecil, nada sinis terselip dalam suaranya. Mata tajamnya menelusuri pemuda di hadapannya, kegigihannya begitu mirip dengan putrinya.
"Pffft... Apa kamu bisa memberikan putri saya segala yang ia inginkan?" sindirnya, meremehkan Edwin yang tak memiliki apa-apa selain wajah tampan dan tubuh yang tegap.
Edwin menatapnya tanpa gentar. "Saat ini mungkin belum, tetapi suatu hari nanti, saya akan memberikan apa pun yang Adelia minta," ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Suatu hari nanti?" Tuan Caraton mengulangi kata-kata itu dengan nada mengejek. Senyum dingin terukir di wajahnya saat ia melangkah mendekati Edwin, menatapnya dengan tajam. Sebelum berbalik pergi, ia meninggalkan satu peringatan terakhir.
"Sebaiknya menjauh sebelum kamu menyesalinya."
Sementara itu, Adelia mengurung diri di kamarnya, hatinya dipenuhi penyesalan setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan kepada Edwin. Ia sadar, apa yang telah ia katakan telah mengakhiri hubungan mereka. Dengan mata yang mulai memanas, ia menatap beberapa foto kenangan saat mereka masih bersama.
"Seharusnya aku tidak melakukan ini padamu, Edwin..." batinnya, kesedihan jelas tergambar di wajahnya.
Di sisi lain, Tuan Caraton baru saja tiba di rumah. Tanpa menunda waktu, ia segera memerintahkan pelayannya untuk memanggil Adelia ke ruang kerjanya. Beberapa menit kemudian, Adelia datang dengan langkah berat, mendapati ayahnya tengah duduk angkuh di balik meja kerjanya.
"Katakan sesuatu, Adelia," ucap Tuan Caraton dengan senyum penuh arti, matanya menatap putrinya lekat-lekat.
Adelia, yang sejak tadi menundukkan pandangannya, akhirnya mengangkat wajahnya dengan penuh keberanian. "Apa yang harus aku katakan? Aku sudah menuruti keinginan Ayah. Sekarang, Ayah yang harus menepati janjinya kepadaku," ujarnya tegas.
Tuan Caraton bangkit dari tempat duduknya, lalu menyerahkan beberapa dokumen kepada putrinya. "Lihat ini," katanya, nada suaranya penuh keyakinan. "Kerja sama dengan HJ Group ini sangat menguntungkan bagi perusahaan kita, juga untuk seluruh keluarga ini. Jika kau menolaknya, apa yang akan kau dapatkan, Adelia?"
Mata Adelia membulat sempurna begitu melihat tanda tangan ayahnya bersama keluarga Nores. Napasnya tercekat, jemarinya sedikit bergetar saat menggenggam dokumen itu.
"Ayah berbohong padaku!" serunya tak percaya. "Ayah berjanji, setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Edwin, Ayah akan membatalkan pernikahan ini! Apa sekarang Ayah ingin mengingkari semuanya?"
Tuan Caraton mendengus kecil, ekspresinya berubah dingin. "Lalu apa? Pemuda itu tidak akan pernah bisa memberimu apa yang telah aku berikan," katanya tajam. "Jadi, jangan pernah berani-berani berteriak kepadaku seperti itu!"
"Ayah benar-benar keterlaluan... Ayah tidak pernah mencoba memahami apa yang benar-benar aku inginkan," isak Adelia, suaranya bergetar penuh kekecewaan. Dengan hati yang remuk, ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu.
"Adelia, jangan pergi! Kamu tidak bisa lari dari takdirmu seperti ini!" seru Tuan Caraton, suaranya menggema di ruangan. "Kamu tetap akan menikah dengan Tuan Muda Louis! Jika kamu menolak, jangan harap bisa melihat Ayah lagi!"
Namun, Adelia tak menghentikan langkahnya. Punggungnya yang semakin menjauh menjadi satu-satunya jawaban bagi ancaman sang ayah.
Di ruang bawah tanah, Edwin duduk gelisah. Segalanya terasa begitu kacau. Ia mulai merasakan firasat buruk tentang hubungan mereka yang seolah berakhir begitu saja. Keputusan Adelia terasa terlalu sepihak, dan hatinya menolak untuk percaya bahwa gadis itu benar-benar menginginkannya.
Dengan penuh tekad, Edwin mengangkat ponselnya dan menelepon Adelia. Syukurlah, nomornya belum diblokir. Beberapa detik menunggu terasa begitu panjang, hingga akhirnya suara isakan terdengar di ujung telepon. Seketika, Edwin bangkit dari ranjangnya.
"Halo, Adel? Kamu kenapa?" tanyanya dengan nada cemas.
"Maafkan aku... karena telah menyakiti perasaanmu," jawab Adelia lirih.
Edwin menghela napas lega. "Tidak apa-apa, Adel. Aku tahu kamu tidak benar-benar menginginkannya."
Hening sejenak sebelum suara Adelia kembali terdengar, kali ini penuh keputusasaan.
"Edwin, bawa aku pergi bersamamu... Aku ingin menjauh dari tempat ini."
Edwin terdiam. Keinginannya untuk membawa Adelia pergi begitu besar, tapi kenyataan berkata lain. Ia belum memiliki cukup uang. Kata-kata Tuan Caraton kemarin kembali terngiang di benaknya, membuatnya berpikir dua kali.
"Adelia... Untuk saat ini, aku belum bisa membawamu pergi. Tapi, bisakah kamu menungguku sampai aku punya cukup uang?" tanyanya ragu.
"Kapan, Edwin? Kita tidak punya banyak waktu..." suara Adelia terdengar semakin putus asa. "Ayahku akan segera menikahkanku dengan partner bisnisnya."
""Bersabarlah, aku berjanji akan segera membawamu pergi jauh dari kota ini," ucap Edwin penuh keyakinan, berharap Adelia tetap percaya padanya.
Mendengar ketulusan dalam suara Edwin, Adelia akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan menunggu sampai saat itu tiba," balasnya sebelum keduanya mengakhiri panggilan.
Tak lama setelahnya, suara ketukan terdengar di pintu kamar Adelia.
"Nona, ada kiriman untuk Anda," ujar seorang pelayan dari balik pintu.
Adelia bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu. Di tangan sang pelayan, terdapat sebuah kotak berwarna merah muda yang kemudian diserahkannya kepada Adelia.
"Ini dari siapa?" tanyanya curiga, matanya menyipit.
"Saya tidak tahu, Nona. Tapi Tuan Besar meminta saya mengantarkannya kepada Anda. Selain itu, besok pagi pukul sembilan, Nona harus datang ke kafe untuk bertemu dengan calon suami Anda," jawab pelayan itu sebelum pergi meninggalkan Adelia yang masih terdiam di ambang pintu.
Perasaan tak nyaman menjalari hatinya. Ia menutup kembali pintu kamarnya, lalu perlahan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terlipat rapi sebuah gaun berwarna krem, disertai sebuah surat bertulisan tinta hitam.
"Aku harap kamu menyukai hadiah ini untuk pertemuan kita besok."
Adelia meremas surat itu dengan penuh emosi. "Aku tidak sudi memakai ini," gerutunya kesal.
Keesokan paginya, Adelia berusaha keluar dari rumah secara diam-diam, tetapi usahanya sia-sia. Para penjaga dengan sigap menangkapnya dan membawanya ke kafe tempat pertemuan dengan calon suaminya akan berlangsung.
Sementara itu, Edwin semakin terdesak dengan masalahnya. Ia berusaha mati-matian mengumpulkan uang sebanyak mungkin demi bisa membawa Adelia pergi, tetapi kenyataannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.
Di sisi lain, Adelia akhirnya tiba di kafe dan berhadapan langsung dengan Louis Neoris, putra kedua dari perusahaan menengah HJ Group. Pria itu menatapnya dengan penuh ketertarikan sebelum berkata dengan nada sopan, "Silakan duduk, Nona Adelia."
Adelia menarik kursinya dengan enggan, wajahnya masam. "Untuk apa kamu repot-repot mengirim barang yang tidak ada gunanya itu?" ujarnya ketus.
Louis menatapnya sejenak sebelum menyunggingkan senyum tipis. "Kamu tidak menyukainya?" tanyanya ringan.
"Bukan hanya itu," Adelia menatapnya tajam. "Aku ingin kerja sama antara kamu dan ayahku dibatalkan."
Louis tertawa kecil mendengar permintaan Adelia, seolah sudah menduganya. "Hahaha... Aku bisa saja melakukannya. Tapi ada syaratnya."
Adelia mengernyit. "Syarat apa?" tanyanya dengan nada penuh kewaspadaan.