"Tolong panggilkan siswi bernama Jenara, suruh menghadap ke ruangan saya!" perintah pak Edward, selaku wali kelas XII IPA 1.
"Baik pak," jawab Dani, selaku ketua kelas XII IPA 1.
Sementara menunggu Jenara datang, Edward memeriksa ponselnya.
Ada banyak pesan dari mamanya untuk memintanya pulang.
Edward memijit pelipisnya kala membaca pesan mamanya tentang perjodohan dan makan malam yang tengah disiapkan.
"Sampai kapan kontes perjodohan ini berakhir?" gumam Edward dengan heran.
Tiba- tiba pintu diketuk membuat Edward menoleh.
"Masuk," pintu terbuka dan menampilkan Jenara.
"Bapak manggil saya?" Edward hanya mengangguk, mematikan ponselnya.
"Kamu kemarin sudah konsultasi dengan BK untuk memilih jurusan?" tanya Edward seraya mencari berkas Jenara.
"Sudah pak," jawab Jenara dengan cepat. Ia sedang menahan sesuatu yang sangat sakit saat ini. Rasa nyeri berdenyut ini membuatnya sangat tidak nyaman untuk diajak mengobrol saat ini.
"Lalu apa pilihanmu? Apa kata guru BK?" tanya Edward menanyakan tentang hasilnya.
Jenara meremas erat roknya sembari menunduk menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang berdenyut dan sakit.
Edward mengangkat kepalanya menatap Jenara yang malah menunduk, "Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Edward dengan dingin.
Jenara langsung mengangkat kepalanya, menatap Edward dengan mengetatkan giginya, menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Kata bu Deli saya diminta untuk memilih Universitas Milan saja, sepertinya akan lebih baik karena sesuai dengan jurusan yang saya pilih, namun saya keberatan untuk biayanya pak, karena itu saya memilih Universitas pilihan kedua, kata bu Deli itu terserah saya, karena saya memilih jurusan yang saya kuasai, saya bisa memilih universitas manapun," jelas Jenara tentang hasil konsultasinya kemarin.
Edward mengangguk membuka biodata Jenara, melihat transkip nilai serta catatan dari guru BK.
"Lalu kamu akan tetap memilih universitas Milan atau pilihan kedua? Bukankah kamu sangat gencar untuk memilih Universitas Milan?" Jenara menelan salivanya kala benda kenyalnya begitu berkedut keras dan semakin nyeri.
"Saya tetap memilih universitas pilihan kedua pak, kemungkinan untuk mendapatkan beasiswa tidak terlalu sulit," jawab Jenara dengan spontan.
Edward manggut- manggut dengan paham, menutup berkas milik Jenara.
Ia menatap Jenara yang sejak tadi menunduk meremas roknya. Hingga tatapannya menangkap sesuatu pada seragam putih Jenara.
"Kenapa seragammu basah?" tanya Edward dengan lancang dan spontan.
Jenara mengangkat kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya meringis kesakitan.
"Maaf pak, tapi bisa tolong hisa....., Saya sudah tidak kuat.... ini sangat sakit sekali," kata Jenara dengan spontan tanpa berpikir panjang.
Edward menelan salivanya dengan terkejut melihat tingkah Jenara yang menahan rasa sakit seraya meremas dadanya.
"Apa maksudmu? Jangan berkata tidak sopan, kamu sedang berada di sekolah, kamu tahu apa yang barusan kamu lakukan?" tanya Edward dengan marah.
Jenara yang sudah tidak kuat, sontak langsung menghampiri Edward.
"Maaf pak, saya lupa bawa pumping, biasanya saya tidak pernah begini, tapi hari ini saya benar- benar tidak bisa menahannya, bisa tolong bantu saya?" kata Jenara yang mana ia sudah berdiri di samping Edward saat ini.
Edward dibuat canggung dan bingung harus bagaimana, namun melihat sesuatu merembes dari balik seragam putih Jenara membuat Edward bingung harus bersikap.
Jenara sontak langsung melepas kancing seragamnya, membuat Edward memalingkan wajahnya.
"Maaf pak, bisa cepat lakukan, saya tidak kuat lagi, ini sangat sakit dan berdenyut, rasanya sungguh sakit saat tidak bisa keluar," kata Jenara dengan panik sembari meremas meja menahan rasa sakitnya.
Edward yang tidak ingin lebih lama lagi melihat Jenara kesakitan, sontak mengangkat tubuh Jenara ke atas mejanya, menatap dengan canggung Jenara.
"Akhhh terus pak hisap," lenguh Jenara panjang kala Edward mulai menghisap ASInya.
Edward melepas hisapannya menatap mata Jenara yang sendu, "Pelankan suaramu sebelum orang- orang membakar ruanganku."
Jenara mengangguk, menggigit bibir bawahnya.
Edward kembali menghisap ASI Jenara, sesekali ia meremasnya dengan kuat.
Jenara mendongakkan kepalanya ke atas, menikmati sensasi puas dan lega dengan hisapan Edward.
Tanpa Jenara sadari, ia meremas rambut Edward.
Edward yang sedikit terbuai, seolah lupa dengan posisinya saat ini. Hingga keduanya teralihkan dengan ketukan pintu.
"Cepat sembunyi," kata Edward seraya mencecap sekilas bibirnya.
Jenara mengancingkan kembali seragamnya, langsung bersembunyi di bawah meja Edward.
"Masuk," kata Edward sembari duduk kembali di kursinya, memasang wajah sesantai mungkin.
Jenara yang kini duduk di antara kaki Edward benar- benar dibuat salah fokus dengan apa yang berada di depannya.
Ia benar- benar di posisi yang salah saat ini.
'Aku sudah gila, aku benar- benar sudah gila, bagaimana bisa aku meminta guruku untuk menghisap ASIku,' batin Jenara dalam hati.
"Pak Edward ini biodata anak- anak kelas bapak yang kemarin konsultasi dengan saya," ujar bu Deli seraya menyerahkan berkasnya.
"Terima kasih bu," kata pak Edward seraya menerima berkasnya.
Bu Deli hanya mengangguk namun ia tak kunjung pergi dari sana.
"Ada yang lain bu?" tanya Edward kala bu Deli masih berdiri di sana.
"Saya ada tiket nonton malam ini, bagaimana jika kita berdua pergi bersama?" tawari bu Deli pada Edward.
Edward dengan senyum canggung menggelengkan kepalanya pelan, "Maaf bu Deli, saya benar- benar sibuk untuk menyiapkan berkas anak- anak, dan nanti malam kebetulan sekali saya ada acara keluarga."
Bu Deli hanya bisa mengangguk dan pamit keluar begitu saja. Edward dengan napas lega memundurkan kursinya ke belakang.
"Keluarlah!" kata Edward pada Jenara.
Dengan canggung dan malu, Jenara keluar dari persembunyiannya.
Jenara menunduk di depan Edward dengan malu, meremas kuat roknya.
"Sejak kapan?" tanya Edward membuat Jenara mengangkat kepalanya.
Jenara yang paham kemana arah pembicaraan Edward sontak kembali menunduk dan menjawab, "Sejak kelas dua pak. Biasanya saya selalu menampungnya di pumping untuk disalurkan ke bank ASI. Karena hari ini lupa, jadi saya tidak bisa menahannya."
Edward memalingkan wajahnya seraya menelan salivanya.
"Jika kamu tidak bisa menahannya, apa yang akan kamu lakukan? Tidak mungkin kan kamu meminta teman laki- lakimu untuk melakukannya?" Jenara langsung mendelik kesal dan menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin saja melakukan itu, lebih baik saja mati kesakitan di toilet," kata Jenara dengan tegas membuat Edward menaikkan sebelah alisnya.
"Lalu tadi?" Jenara langsung menundukkan kepalanya kembali.
"Itu karena anda sudah mengetahuinya lebih dulu dan saya tidak bisa keluar dengan seragam basah begini," jawab Jenara dengan jujur membuat Edward langsung berdiri dari kursinya dan mendekat pada Jenara.
Jenara mengangkat kepalanya menatap Edward dengan takut.
"Bapak boleh hukum saja apapun itu, tapi saya mohon, jangan beritahukan hal ini pada siapapun pak, saya benar- benar bodoh dan ceroboh tadi, saya juga sudah tidak sopan pada bapak, saya pantas dihukum, saya memang murahan namun itu juga bukan keinginan saya pak," kata Jenara dengan pasrah.
"Saya tahu, itu karena kamu kelebihan hormon galaktorea," kata Edward yang paham tentang hal itu.
Jenara menelan salivanya, menunggu apa yang akan Edward lakukan padanya.
"Mulai sekarang, biarkan saya menghisap ASImu sebagai gantinya saya akan tutup mulut!" Jenara mengangkat kepalanya dengan terkejut.
Jenara langsung kembali ke kelasnya dengan kepala yang terus ia gelengkan dengan keras.
“Aku pasti sudah gila, ya aku pasti sudah gila, mana bisa aku melakukan itu tadi, bagaimana bisa kau bodoh Jenara, bagaimana bisa?” Jenara merutuki akan kebodohannya yang benar- benar sangat fatal.
“Jenara!” pekik Mora dengan kesal kala sahabatnya itu terus berjalan tanpa menghiraukan panggilannya.
“Mora, dari mana kau datang?” tanya Jenara yang tidak menyadari akan panggilan Mora sejak tadi.
“Awww sakit,” ringis Jenara kala Mora menarik telinganya.
“Kau sungguh tidak punya telinga? Aku memanggilmu dari lorong ujung hingga ke sini, kau bahkan tidak menoleh atau berhenti,” omelnya seraya melepas telinga Jenara.
“Ya maaf, aku sedang fokus,” ujar Jenara seraya mengusap telinganya.
Mora mendelik kesal dengan Jenara membuat Jenara langsung memeluknya.
“Iya iya maaf sayangku, besok enggak diulangi lagi,” Mora berdecih mendengar ucapan Jenara.
“Kau dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi,” kata Mora dengan kesal.
“Oh tadi dipanggil pak Edward ke ruangannya, biasalah untuk ditanyai perihal universitas,” kata Jenara menjelaskan meski ia kembali teringat akan perihal hisap ASI tadi.
Mora manggut- manggut menggandeng lengan Jenara sembari berjalan ke kelas.
“Nanti malam kita keluar yuk, jalan- jalan atau nonton,” ajak Mora membuat Jenara mengangguk dan teringat satu hal.
“Kau tahu, tadi aku dengar bu Deli mengajak pak Edward pergi nonton bareng, tapi sayangnya pak Edward menolak karena ada acara keluarga,” kata Jenara memberitahu.
“Hah? Serius? Gila sih bu Deli,” Jenara langsung membungkam mulut Mora.
“Kecilkan suaramu sebelum bu Deli membunuhmu,” Mora hanya mengangguk membuat Jenara melepas tangannya.
“Tapi siapa sih yang enggak jatuh cinta sama pak Edward, aku aja yang sebagai siswinya tergila- gila apalagi bu Deli, secara pak Edward guru paling muda paling tampan, paling kaya, paling perfect dan paling seksi di sekolah. Orang gila mana yang enggak tahu itu, orang buta aja cuma ngeraba tubuhnya udah pasti milih pak Edward, secara kalau aku disuruh milih dengan mata tertutup dengan meraba tubuhnya tentu aku bisa mengenali jika itu pak Edward,” Jenara hanya manggut- manggut mendengar pujian Mora yang selalu terlontar setiap kali mereka membahas pak Edward.
“Kenapa otakmu begitu lancar begitu kita membahas tentang pak Edward, lalu kemana otak lancarmu itu ketika pelajaran matematika sedang berlangsung?” Mora hanya menyunggingkan senyum manisnya dan berkata, “Sepertinya hilang sebagian.”
Jenara hanya mengangguk setuju dengan ucapan Mora.
Jenara menelan salivanya dengan malu kala mengingat apa yang terjadi di ruangan pak Edward tadi.
Ia benar- benar tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan pak Edward nanti.
***
Pelajaran ketiga dimulai, di mana sialnya sekarang waktunya biologi dan itu tepat pak Edward yang mengajar.
“Kau kenapa? Habis maling apa? Kenapa wajahmu tampak sangat gelisah seperti itu?” tanya Mora dengan penasaran.
Olea yang mendengar hal itu sontak langsung menatap wajah Jenara, “Kau kepergok ngapain, hah? Panas dingin gitu.”
Jenara mendesis kala mereka berdua begitu berisik sekali.
“Diam, atau aku akan menjahit bibir kalian, bukannya tenang aku malah semakin cemas,” Mora dan Olea saling melemparkan tatapannya.
“Gara- gara mau maju presentasi ya?” tanya Mora mendekte.
Jenara menggelengkan kepalanya, “Oh aku tahu, karena Steven pasti.” Jenara berdecak kala Olea selalu membahas Steven.
“Enggak ada apapun, kalian diam saja, aku akan atasi ini sendiri,” Mora mengedikkan bahunya kala ditatap oleh Olea.
Tidak lama beberapa siswa masuk berbondong- bondong ke dalam kelas.
Jenara menelan salivanya kala melihat pak Edward memasuki kelasnya. Ia menundukkan kepalanya, menyibukkan diri menatap bukunya.
“Selamat siang semua,” sapa pak Edward seraya menyalakan monitornya.
“Siang pak,” pak Edward langsung menyalakan laptopnya, membuka materi untuk pelajaran hari ini.
“Bagaimana dengan presentasinya? Sudah siap?” tanya pak Edward yang langsung ingat dengan tugas yang ia berikan.
“Sudah pak,” jawab mereka serempak membuat pak Edward mengangguk mantap dengan senang.
Sekilas ia menangkap Jenara yang menundukkan kepalanya, terbesit ide usil dalam pikirannya.
“Kelompoknya Jenara sudah siap?” tanya pak Edward tiba- tiba membuat semua mata langsung tertuju pada Jenara.
Jenara mengangkat kepalanya, menatap teman- temannya lalu pak Edward sekilas.
“Sudah pak,” jawabnya dengan sedikit gelagapan.
Pak Edward mengangguk dan mempersiapkan Jenara untuk segera maju bersama dengan kelompoknya.
Pak Edward lalu memilih duduk di bangku Jenara, untuk mengamati presentasinya.
Ada rasa ingin tertawa dan juga senang melihat Jenara maju ke depan, Edward bisa merasakan bagaimana canggungnya dan malunya Jenara saat ini untuk bertemu dengannya.
Sementara Jenara dan kelompoknya presentasi, Edward melihat- lihat meja Jenara.
Tanpa sengaja ia membuka buku tulis pink yang ia yakini milik Jenara.
Steven.
Nama itu tertulis dengan kaligrafi yang amat sangat bagus sekali dengan hiasan doodle di sampingnya.
Edward langsung menutup buku Jenara, menangkap coretan bolpoin nama Steven di atas meja lagi.
Ada banyak sekali nama Steven di meja Jenara.
Entah kenapa mendadak Edward kesal saat ini.
“Sudah pak,” kata Mora membuat Edward hanya mengangguk dan beranjak dari bangku Jenara.
Jenara dengan cepat kembali ke bangkunya dengan helaan napas yang lega.
“Tolong catat beberapa materi yang sudah saya rangkum, kemungkinan akan keluar saat ujian nanti,” perintah pak Edward seraya mengganti slide materinya.
Semua langsung membuka bukunya untuk mulai mencatat.
Jenara membuka mulutnya menganga tak percaya kala bukunya dirobek.
“Kau yang merobek bukuku?” tanya Jenara pada Mora.
Mora menoleh, menatap buku tulis Jenara bagian belakang.
“Kalau yang nulis namanya Steven di sana aku, tapi kalau yang ngerobek bukan aku,” kata Mora dengan jujur.
“Dan bukan aku juga,” kata Olea dengan cepat sebelum dia mendapatkan tuduhan dari Jenara.
Jenara mencoba mengingat lagi, jika tadi sepertinya bukunya masih utuh, ia juga masih melihat nama Steven di lembaran terakhir bukunya, lalu siapa yang merobeknya?
Jenara perlahan mengangkat kepalanya, menatap pak Edward.
Pak Edward menaikkan sebelah alisnya kala Jenara menatapnya dengan penuh selidik membuat Jenara langsung menundukkan kepalanya bersiap untuk menulis materi yang pak Edward perintahkan.
“Menurutmu mungkin enggak sih pak Edward yang nyobek kertasnya? Secara dia yang duduk di sini tadi,” tanya Jenara pada Mora.
“Kau sudah gila? Mana mungkin pak Edward melakukan hal konyol seperti itu? Apa hubungannya denganmu? Gabut banget guru nyobekin kertasnya murid,” Jenara menatap datar dan dingin Mora.
Mora langsung memeluk Jenara kala menyadari akan kesalahannya yang bersuara keras.
“Iya- iya maaf, aku salah. Mungkin hantu sekolah yang menyobeknya, tapi jika kau menuduh pak Edward, aku membantahnya dengan keras,” kata Mora yang mana ia selalu menjadi fangirl garis keras untuk pak Edward.
Jenara berdecak dan memilih untuk menulis dan mengabaikan hal barusan.
Sedangkan pak Edward keluar kelas untuk membuang kertas yang ia robek barusan.
“Dasar kekanak- kanakkan, apa sekarang masih zaman menulis nama seseorang yang disuka di lembaran terakhir buku tulis? Sungguh menggelikan,” kata Edward yang mana ia kembali ke dalam kelas dengan tatapan penuh selidik pada Jenara.
Jenara tiba di rumahnya, pikirannya benar- benar kacau karena pak Edward.
“Kau sudah pulang?” Jenara mengangkat kepalanya, saudari tirinya tampak berdiri di ambang pintu.
“Kakak, ada apa?” tanya Jenara dengan bingung.
“Cepat ganti baju dan bantu para maid untuk masak besar, nanti malam akan ada makan malam dengan keluarga Salamos. Kak Zeline akan dijodohkan dengan pewaris tunggal keluarga Salamos, jadi jangan kecewakan mereka dengan hidangan yang kurang sempurna,” kata Ula dengan nada sinisnya.
Jenara menghela napas gusar, “Bukankah ada banyak maid di mansion, kenapa aku harus membantu mereka, mereka bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri, aku sedang sibuk menyiapkan ujian, jadi aku tidak bisa membantu mereka.”
Jenara hendak masuk namun Ula mendorong bahunya dengan keras, “Kau berani membantahku? Lakukan perintahku atau aku akan mengadukanmu pada papa.”
“Adukan saja, siapa takut, kamu kira kau pemilik mansion ini? Kalian hanya menumpang di rumahku. Bersikaplah selayaknya tamu yang datang ke rumah orang. Kau bukan putri papaku, bukan juga saudariku, jangan bersikap seolah kau seorang putri,” marah Jenara yang kesal dengan sikap kakak tirinya tersebut.
Ula tersenyum dengan sumbang mendengar hal itu, “Berani sekali kau bicara seperti itu padaku.”
Ula sontak langsung melayangkan tamparan keras pada Jenara.
“Itu balasan untuk orang yang tidak bisa berbicara dengan baik,” kata Ula dengan penuh penekanan.
Ula melihat mobil papanya memasuki pelataran mansion membuatnya langsung berpura- pura jatuh di lantai.
Jenara berdecih seraya memalingkan wajahnya ke samping, muak dengan drama yang Ula buat.
“Ula, ada apa denganmu sayang?” tanya Atmis begitu melihat Ula terjerembab di lantai.
“Ula sayang, apa yang terjadi denganmu?” Weli dengan dramatis langsung membantu putrinya untuk bangun.
“Aku hanya mengatakan pada Jenara, untuk membantu maid yang sedikit kewalahan karena masak besar, tapi Jenara malah mendorongku dan mengatakan jika aku tidak pantas tinggal di sini apalagi memerintahnya,” adu Ula dengan pandainya dia bersilat lidah.
Plak
Jenara tertegun bukan main, Weli dan Ula pun juga terkejut dengan hal itu.
Bagaimana bisa Atmis menampar putrinya sendiri dan begitu percaya dengan cerita Ula?
“Kamu benar- benar keterlaluan, bisa- bisanya kamu bicara seperti itu pada kakakmu. Dia kakakmu, dia saudarimu, kenapa kamu berkata seperti itu? Dia hanya memintamu untuk membantu para maid, apa ada yang salah dengan itu?” tanya Atmis dengan marah.
Jenara mengusap pipinya dengan mata yang berkaca- kaca.
“Aku hanya mengatakan kenapa harus aku, bukankah banyak maid di mansion? Jenara juga punya kesibukan pa, Jenara harus belajar buat persiapan ujian, jika bisa kakak, kenapa aku? Lagian kakak juga tidak melakukan kegiatan apapun,” kata Jenara membantah dan membela dirinya.
Atmis hendak melayangkan tamparannya lagi namun Weli menahannya.
“Udah mas, jangan sakiti Jenara, biarkan saja. Namanya juga anak- anak,” kata Weli bersikap layaknya ibu yang baik dan adil dengan anak- anaknya.
“Bersyukurlah kau memiliki mama tiri sebaik Weli, entah apa jadinya jika aku menikah selain Weli, kau mungkin bisa habis olehnya,” Jenara meremas kuat roknya.
Sebelum masuk ke dalam mansion, Atmis kembali menyempatkan untuk berbicara pada Jenara, “Setelah ini bantu maid untuk masak persiapan nanti malam. Dan nanti malam, jangan munculkan dirimu di makan malam keluarga Salamos. Aku malu punya putri pembangkang sepertimu.”
Jenara menahan air matanya sebisa mungkin mendengar ucapan papanya, kenapa rasanya begitu menyesakkan dada dan terasa amat sakit.
Atmis langsung masuk ke dalam mansion membuat Weli menghembuskan napas lega.
“Aduh, maaf ya, kamu jadi kena tampar sama papa kamu karena putriku,” kata Weli dengan penuh drama.
Ula yang mendengar hal itu hanya terkikik geli, “Aduh maaf ya, tadinya cuma mau drama, eh enggak tahunya papa beneran marah sama kamu. Maaf ya, jadi kamu yang kena tampar.”
Jenara meremas kuat roknya menatap tajam mereka.
Plak
Ula terkejut bukan main kala Jenara menampar mamanya.
“Kau kira hanya kau yang bisa drama? Aku juga bisa. Jangan kau kira kau hanya seorang pelakor di sini kau bisa berkuasa, aku akan melakukan apapun untuk merebut apa yang menjadi milikku, jangan kira aku takut karena keberadaanmu, aku juga bisa membalikkan keadaan sesuai kemauanku,” kata Jenara dengan berani.
Ula yang melihat keberanian Jenara sontak ikut melayangkan tangannya.
Brak
Jenara dengan kasar mendorong Ula hingga punggungnya menabrak pintu.
“Tadi kau jatuh sebelum kudorong kan, ini balasannya atas tamparan papa tadi,” kata Jenara dengan berani di mana ia langsung lewat sengaja menginjak kaki Ula.
“Aduh mama sakit,” ringis Ula merintih kesakitan karena injakan sepatu Jenara.
Weli langsung membantu Ula untuk berdiri seraya memicingkan matanya dengan tajam pada Jenara.
“Awas saja kamu, besok atau nanti, aku akan membuatmu menangis dan kelaparan,” gumam Weli dengan penuh dendam.
***
Malam hari telah tiba, maid dan Jenara sibuk mempersiapkan makan malam dan beberapa desert untuk keluarga Salamos.
“Pa mereka datang,” kata Zeline membuat Atmis dan Weli langsung berjalan ke depan.
Namun sebelum itu Atmis menatap Jenara, “Cepat masuk kamarmu dan jangan keluar sebelum mereka pulang.”
Jenara langsung melepas apronnya dan pergi ke lantai atas dengan sesuka hati.
Ula dan Zeline yang melihat hal itu hanya tersenyum penuh kemenangan, mereka lalu berjalan ke depan untuk menyambut keluarga Salamos.
“Mereka benar- benar keterlaluan, membuat nona Jenara memasak seharian dan menyuruhnya diam di kamar,” gumam maid yang merasa iba dengan Jenara.
“Mak lampir itu benar- benar keterlaluan. Kita harus memberinya pelajaran besok,” usul maid satunya yang diangguki setuju oleh lainnya.
Makan malam pun berlangsung, di mana mereka asyik membicarakan tentang perkenalan Zeline dan Edward.
Edward yang merasa bosan dan jenuh, hanya diam enggak ikut mengobrol dengan papanya dan Atmis.
“Bukalah mulutmu dan katakan sesuatu, jangan hanya diam dan tolah- toleh ke kanan dan ke kiri,” omel Yala yang geram dengan sikap putranya.
“Ngomong apa? Bukankah papa sudah banyak bicara?” Yala langsung mencubit pinggang putranya saking gemasnya.
“Punya putra sepertimu benar- benar membuatku darah tinggi,” kata Yala dengan pasrah.
Edward hanya bisa mengusap pinggangnya menahan sakit.
“Jadi bagaimana menurut kalian berdua, kalian mau tukar cincin dulu atau langsung menikah?” tanya Salamos pada putranya dan Zeline.
Edward menghirup dalam napasnya dan berkata, “Saya masih belum siap untuk menikah sekarang, jadi jika tuan Atmis tidak keberatan, saya ingin kita tukar cincin lebih dulu. Bukankah Zeline juga baru saja selesai menempuh S1 nya? Pasti masih butuh melakukan beberapa kegiatan dan pekerjaan yang ia inginkan, bukan begitu Zeline?” tanya Edward pada Zeline.
Zeline dengan mantap mengangguk di mana rona merah di pipinya membuat Edward merasa geli dan jijik sendiri.
Yala yang mendengar jawaban putranya, mengetatkan rahangnya dengan kuat seraya bergumam, “Sekalinya bicara malah menghancurkan semuanya. Tahu gitu kau diam saja sejak tadi biar mama yang jawab.”
Edward mengulum bibirnya menahan senyum mendengar ucapan mamanya barusan.
“Saya ke belakang sebentar,” pamit Edward yang langsung beranjak dari kursinya dan pergi ke belakang.
Saat keluar dari kamar mandi, tiba- tiba seseorang menabraknya membuat Edward terkejut.
“Bapak!”