Bab 2

Ada sebuah daerah di mana terdapat bangunan yang terbuat dari batu berjajar di jalanan, dan ada juga daerah yang penuh dengan bangunan yang terbuat dari kayu. Mereka sekarang sedang berada pada jalanan bebatuan yang penuh dengan begitu banyak persimpangan,  sehingga sulit untuk melihat kearah mana tujuan mereka. Air berlumpur mengalir pada saluran air yang sempit di kedua sisi jalanan yang luas, tapi tidak dalam jumlah besar. Bau busuk yang tercium kemungkinan addalah limbah manusia tercium oleh hidung mereka, tapi, setelah bebereap saat berjalan, hal yang tidak menyenangkan itu sudah tidak mereka rasakan lagi.

Hyou memimpin kelompok yang terdiri dari 12 orang menuju ke kota yang telah terlihat dari atas bukit. Menurut dia, kota ini disebut Edirne. Kelompok ini melewati sejumlah manusia yang sepertinya adalah warga kota ini. Meskipun waktunya masih dini hari, kesibukan sudah terlihat di beberapa tempat pada kota ini. Penduduk kota menatap para pendatang baru seolah-olah mereka adalah hewan eksotis. Tapi kelompok yang terdiri dari 12 orang ini juga melakukan hal yang sama karena mereka melihat para warga mengenakan pakaian yang aneh menurut mereka. Pakaian mereka jauh lebih sederhana, tanpa hiasan, dan agak lusuh dibandingkan dengan pakaian yang tengah mereka kenakan.

“Tempat apa ini….” Si pria tak-pernah-susah memulai percakapan. “Maksudku, apakah tempat ini seperti suatu negara asing?”

“Ahh…” Pria berambut berantakan memiringkan kepalanya ke satu sisi seolah-olah dia tahu jawabannya. “Suatu negara asing. Negara? Tunggu dulu, berasal dari negara mana diriku? Aneh, aku tidak bisa mengingat apapun. Aku juga tidak ingat alamat tempat tingalku…. Kenapa?”

“Kau masih belum menyadarinya?” Sahut pria berambut abu-abu dengan nada yang rendah. “Aku juga tak ingat apapun selain namaku sendiri.”

Pria itu terganggu oleh gaya bicara si pria berambut abu-abu.” Tak ingat apapun,” makna dari kalimat itu berbeda jika dibandingkan dengan “Aku sudah lupa.” Mungkin hal yang sama juga terjadi kepada pria berambut abu-abu ketika dia mencoba mengingat memori tertentu, karena disaat dirinya mencoba mengingat memori itu hilang begitu saja.

“Nama?” Pria berambut berantakan memukul dadanya.”Namaku Rylan… Tapi err, aku tidak ingat apa-apa lagi. Memoriku hilang? Serius?” Nada bicaranya terdengar seperti orang bijak yang berbicara kepada seorang pelawak.

“Kalau begitu…” Pria itu pun merasa bahwa dirinya sedang memainkan peran sebagai si bodoh. Dia melakukannya tanpa sengaja, dan dia sedikit menyesalinya, tapi, dirinya tidak bisa berhenti sekarang. “Kedengarannya seperti… Kau mengalami amnesia… Atau…. Sejenisnya.”

“Hei.” Rylan mendesah.”Jika kau hendak memerankan si bodoh, maka lakukan dengan lebih…. Yahh, kau tahu lah, Katakan dengan lebih percaya diri. Jika kau mengucapkannya dengan ragu-ragu, maka lawakannya tidak akan lucu dan tak seorangpun bakalan tertawa. Ah, sudahlah, biarkan saja… Lantas, siapa namamu?”

“Kau…. ‘Membiarkannya saja’?”, dia memerankan si bodoh… Tidak… Lebih tepatnya, dia memang benar-benar bodoh. Namun, siapakah namanya? “Namaku…. Sepertinya namaku Rio.”

Si pria berambut berantakan, Rylan, semakin bertingkah lebay. “Sepertinya??? Jangan bilang kau bahkan melupakan namamu sendiri! Kita semua disini mengalami hal yang sama, kan?” Kita yang semua berada disini tak ingat apapun kecuali nama kita, kan???”

Pria ini… Pria ini sungguh menyebalkan… Begitulah pikir Rio, sambil menatap pria berambut abu-abu yang terus berjalan di belakang Hyou. Siapakah nama pria berambut abu-abu itu? Dirinya ingin tahu, tapi dia terlalu taku untuk bertanya kepadanya. Sebenarnya Rio tidak ingin menghindari si pria berambut abu-abu itu, namun masih sulit bagi dirinya untuk menanyakan hal itu. Akhirnya, dia pun mengalihkan rasa penasarannya pada pria berambut lurus di sampingnya. “Kau, namamu siapa?”

Pria berambut lurus memberikan senyum pada Rio. Dia tampak seperti seseorang yang penyabar. “Namaku Minato. Aku senang bahwa kita semua seumuran, karena aku akan merasa canggung jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.”

“Ya, tentu saja itu akan terasa canggung.”

Minato hanya meringis dan Rio menanggapinya tanpa berpikir panjang. Jika dilihat dari luarnya, Minato tampak seperti orang yang baik dan bisa dipercaya. Sementara itu, nama pria yang menyebalkan itu adalah  Rylan. Sama halnya dengan pria berambut abu-abu, Rio cukup ragu mengajukan pertanyaan pada pria berambut cepak yang tampaknya kurang bersahabat. Rio berkesan bahwa gadis berpenampilan mencolok berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengannya. Si pria berkacamatak sepertinya cukup mudah di dekati, namun entah kenapa, dia juga merasa sungkan menanyakan sesuatu kepadanya.

Dia berkata dengan pelan, “Permisi.”

“…. I…. Iya…?”

“Anu…. Ah…. Sebenarnya ini tidak penting…. Dan aku tidak bermaksud untuk mencari tahu…”

“Namaku Amagi!!” Pria tak-pernah-susah menyela dengan nada yang keras, sembari berpose aneh.”Lupakan pria ini, mari kita mulai dengan para gadis! Bagaimana kita saling mengenal satu sama lain?”

Si gadis berkepang memirinkan kepalanya ke samping. “Nggak ah.”

“Awww…” Amagi yang tak pernah susah, diacuhkan secara tragis.

Rio berpikir itu semacam gangguan, namun berkat itu dia jadi sedikit lebih tenang. “Siapa namamu?” Tanya dirinya kepada gadis mungil-pemalu, dan Rio berusaha sekeras mungkin untuk memberikan pertanyaan yang sangat singkat. “Maksudku, sepertinya akan lebih mudah untuk berbincang-bincang jika kita saling mengenal satu sama lain. Yah, daripada tidak tahu.”

“Umm…” Gadis mungil-pemalu menundukkan pandangannya dan menyembunyikan matanya di balik poni, seolah-olah dia sedang berusaha keras untuk menghindari kontak mata secara langsung.

Tubuhnya biasa-biasa saja, namun ada sesuatu di wajahnya yang membuat dia tampak begitu manis. Pasti ada yang disembunyikan olehnya.

“Aku… Namaku Yuna. Mungkin itu nama depanku. Maaf…”

“Tidak usah minta maaf.”

“Maaf, itu sudah menjadi kebiasaan ku. Maaf, aku akan lebih berhati-hati.”

Yuna terlihat gemetaran saat mengatakan ucapan maaf yang berulang. Apakah dia sungguh akan baik-baik saja? Rio khawatir setelah melihat tingkah si gadis kecil yang bernama Yuna dan dia merasakan semacam rasa ingin melindungi gadis itu.

“Kau terlihat cukup tinggi,” Rio berkata kepada pria besar namun tampak cukup sopan. “Berapa tinggimu?

Pria yang terlihat seperti raksasa itu berkedip, ekspresinya agak kosong. “Tinggi? 167 cm.”

“Seratus enam puluh tujuh!?” Rylan menyela. “Maksudmu, aku cukup pendek dibandingkan dengan tinggimu?”

“Tidak, itu tidak benar…” balas si raksasa. “Mungkin saja tinggiku sekitar 185cm. Oh, sepertinya namaku adalah Albert.”

“Berikan aku 10 cm tinggi mu padaku, Albert!” Rylan meminta hal yang mustahil sambil mencoleknya. “Jika aku mendapatkan 10 cm, maka tinggiku akan menjadi 170-an, dan kau juga 170-an, sehingga kemungkinan akubisa lebih tinggi darimu! Mengagumkan, bukan?”

“Aku akan memberinya jika aku bisa…”

Rio hanya sedikit merasa bersalah dikarenakan kurangnya interaksi dirinya sehingga Rylan menyela dan mengambil alih percakapannya dengan Albert. “Tinggimu kemungkinan tak lebih dari 160 cm, mungkin kau hanya 163 cm.”

“Diam! Dan apakah itu buruk bagimu? Dilihat dari penampilan mu, kau tidak jauh berbeda dariku!”

“Kalau tinggi ku sih pasti kurang dari 165 cm.”

“Kau seperti seekor keledai! Seekor keledai yang hanya bisa merendahkan orang lain hanya karena tinggi mu kurang bebera sentimeter!”

“Kau sungguh terlihat seperti bocah tengik.”

“Apa kau mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarmu. Apa yang baru saja kau ucapkan?”

“Tidak ada. Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Pembohong! Kau baru saja mengatakanku dengan sebutan bocah tengik! Kau tidak bisa menipu telinga ku yang peka ini! Sangat jelas aku mendengar ucapanmu itu! Dan juga kau mengatakan ‘kembalilah ke neraka dasar setan berambut berantakan’, iya kan!??”

“Sepertinya telinga terlalu peka sekali.”

“Dan kau memanggilku dengan sebutan rambut berantakan! Tak seorang pun boleh memanggilku dengan sebutan itu! Itu adalah kata-kata terlarang!”

“Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Jangan menuduh orang lain mengatakan hal yang tidak dia sebutkan.”

“Aku sangat mendengarmu dengan jelas! Telinga setan rambut berantakan ini sudah mendengar banyak hal! Aku mendengarkan begitu banyak sampai-sampai aku bisa jadi tuli! Terserah. Untuk saat ini, ingat hal ini dengan baik! Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang memanggilku dengan sebutan rambut berantakan! Siapapun yang melakukannya akan aku beri hukuman mati. Hukuman mati ingat itu!”

“Hei rambut berantakan,” Sahut pria rambut abu-abu, sembari berbalik. “Kau itu sangat ribut sekali. Diamlah.”

“B-baik.” Rylan si rambut berantakan tampak patuh sekali.”Aku minta maaf. Aku akan berhenti bicara.”

“Bukannya tadi kau bilang bahwa tidak akan memaafkan siapapun yang menyebutmu rambut berantakan,” kata Rio sambil mengangkat bahu.

“Bodoh,” kata Rylan sambil berbisik. “Aku adalah tipe orang yang memilih waktu dan kondisi yang tepat. Aku pernah dijuluki sebagai Master pemilih. Aku akan menjadi seorang raja yang memberi keputusan!”

“Ya baiklah. Jadilah apapun yang engkau inginkan wahai Raja putus.”

“Bukan Raja putus, tapi Raja keputusan! Kelak saat aku menjadi seorang raja aku akan memperlihatkan semuanya kepadamu…”

“Hei, bisakah kau diam.” Pria rambut abu-abu berhenti dan berbalik untuk melihat Rylan.

Rylan dengan cepat dia berlutut dan membungkuk.” Hamba mohon pengampunan darimu!”

Bab 3

“Daripada menjadi seorang raja,” kata Rio sambil menatap ke arah Rylan di bawah, “kenapa kau tidak jadi seorang pelayan saja?”

“Pelayan?! Tidak mungkin! Tidak peduli seberapa aku bersujud, aku masih terlihat sangat keren!”

“Hei, jangan membuatku mengulangi ini sampai ketiga kalinya.” Nada pria berambut abu-abu berubah menjadi mengerikan.

Rylan kembali berlutut dan membungkuk begitu rendahna, sampai-sampai dahinya menyentuh jalanan berbatu. “Aku sungguh sangat minta maaf padamu! Mohon berikan belas kasih anda kepadaku.”

Orang ini sudah pasti jadi sang pelayan, pikir Rio, tapi dia tidak ingin mengatakannya. Jika dia mengatakan hal itu, maka Rylan akan terus mengoceh tanpa akhir. Mereka berjalan dengan diam smapai Hyou membawa mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang terbuat dari batu setinggi dua lantai.

Benda yang dinaikkan di atas bangunan itu adalah bendera bergambar bulan sabit berlatar langit malam, dan simbol yang sama muncul di papan nama.”PAS---CAD---BATAS---EDIR” ditulis disana, tapi ada sesuatu yang tidak benar terlihat. Setelah dilihat lebih dekat, ia tahu bahwa bagian kata-kata tersebut sudah memudar, dan beberapa huruf telah jatuh.

“Tada!” Hyou menunjuk ke tanda tersebut.”Akhirnya kita tiba! Ini adalah tempat yang terkenal! Pasukan Cadangan Perbatasan Edirne, dan ini adalah Markas Blue Moon.”

“Blue Moon,” Rio menarik napas, dan melihat tanda itu sekali lagi. Memang benar jika huruf yang hilang jika ditambahkan kembali, itu akan terbaca: Pasukan Cadangan Perbatasan Edirne, Markas Blue Moon.

“Ayo kita masuk!” Sembari didorong oleh Hyou, mereka memasuki bangunan itu, dan akhirnya mereka sadar bahwa bagian dalamnya terlihat seperti bar. Ruangannya luas, dilengkapidengan meja dan kursi, dan ada juga meja counter dibelakang. Terlihat seorang pria tengah berdiri dibalik meja counter. Tidak ada orang lain selain pria itu.

“Disinilah tugas ku berakhir!” Hyou membungkuk pada pria di balik meja.”Perlakukan mereka dengan baik Fran dan jelaskan segala macam rincian tugas yang akan diberikan pada mereka.”

“Baik,” pria yang disebut Fran itu menjawab, dan melambaikan tangannya pada Hyou.

“Kalau begitu, aku pamit dulu, sampai jumpa!”

Ketegangan diruangan tersebut tampak meningkat setelah pintu terayun dan ditutup oleh Hyou. Mungkin ini terjadi karena cara Fran  memandangi mereka, seolah-olah dia tengah melakukan inspeksi. Tidak… Itu tak benar… Mungkin alasan utama dari ketegangan ini adalah karena kehadiran Fran itu sendiri. Dia sangat aneh. Sangat aneh sekali.

Fran mencondongkan tubuhnya ke depan, menempatkan siku di meja, dan menyandarkan dagunya di atas jari-jemari yang dilipat. Rio melihat bahwa pria itu memiliki dagu yang terbelah. Rambutnya yang berwarna biru terang. Bibirnya berwarna hitam, tapi mungkin itu hanyalah lipstick. Dia memiliki alis yang lebat dan panjang yang melingkar di  mata berwarna coklat ke kuningan dan itu membuatnya terlihat sedikit menakutkan. Wajahnya ditutupi dengan make-up yang tebal, dan tulang pipinya terlihat jelas karena dia mempertebalnya dengan blush warna merah terang.

Tapi, tak peduli seberapa serius Rio menatapnya, ia masih terlihat seperti manusia biasa.

“Hmmm… Sangat bagus,” kata Fran, sembari mengangguk. Dia meluruskan tubuh dan melanjutkan ucapannya,”Selamat datang wahai anak-anak muda. Namaku Francis. Aku adalah seorang Komandan, atau jika kalian mau, kalian bisa menyebutku dengan’bos’. Aku berasal dari Pasukan cadangan Perbatasan Edirne, Blue Moon. Kalian juga boleh memanggilku’komandan’ atau’Fran’. Semuanya terserah dengan kalian, tapi pastikan kalian memanggilku dengan rasa penuh kasi sayang seperti seorang anak yang memanggil ibunya sendiri, paham?”

“Komandan.” Pria berambut abu-abu melangkah ke depan meja, dan dia memiringkan kepalanya ke satu sisi.”Jawab aku. Aku mengerti kalau tempat ini disebut dengan Edirne. Tapi, apa maksud dari Pasukan Cadangan Perbatasan itu? Apa Pasukan Cadangan itu? Kenapa aku bisa ada disini? Kau pasti mengetahui sesuatu, kan?”

“Kau memang punya keberanian!” Fran berkata dengan gembira sambil tertawa.”Aku suka anak-anak sepertimu. Siapa namamu?”

“Julius. Aku tidak suka dengan orang banci sepertimu.”

“Apakah begitu?”

Apa yang terjadi selanjutnya, Rio tidak cukup mengerti. Gerakan Fran tidak hanya cepat, tapi juga halus bagaikan sebuah benang.

“Julius. Biarkan aku memberikan beberapa alasan kepadamu,” Fran berkata sambil menyipitkan matanya. Tapi Rio menyadari apa yang tengah terjadi saat ini, Fran sudah menodongkan ujung pisau tepat dibawah dagu Julius.” Tak seorangpun yang memanggilku banci bisa hidup lama setelah keluar dari sini. Kau tampak seperti anak yang pintar, jadi kau pasti memahami apa yang kukatakan, ‘kan? Masih ingin lanjut mengejek diriku?”

“Sungguh?” Jawab Julius. Rio tersentak saat Julius meraih pisau tersebut dengan tangan kosong. Dia mencengkeramnya dengan cukup keras sambil mengepalkan genggamannya, perlahan darah mulai mengalir dari sela-sela jarinya.”Aku tidak pernah memiliki niat untuk hidup lama, dan sifatku membuat diriku tidak pernah mundur menghadapi ancaman. Jika kau berniat membunuhku, maka lakukan sekarang juga, wahai Komandan Banci.”

“Akhirnya…” Fran menjilat bibirnya sendiri dan membelai pipi Julius.”Aku akan melakukannya lagi dan lagi dengan sangat sempurna, sampai-sampai kau tidak akan melupakannya.”

“Kau tahu,” Rylan berbisik kepada Rio,”Ketika ia mengatakan ‘melakukan’, maksudnya mungkin adalah hal-hal yang tak biasa. Ya, pasti begitu.”

“Ngelakuin apa sih?” Tanya si gadis berambut kepang kepada Rylan dengan ekspresi bingung.

“Err, yahhh, maksudku… Dia akan meletakkan ‘itu’ pada tempat yang tak semestinya. Kau tahu kan, ‘itu’ adalah tempat dimana biasanya ‘itu’muncul. Kau tahu apa maksudku? Iya kan, Rio?”

“Jangan memulainya. Jika kau memulai percakapan ini, maka kau harus tanggung resikonya nanti.”

“Dingin sekali. Apa kau itu orang anti-sosial atau sejenisnya? Orang-orang sepertimu memiliki keterampilan dibawah titik nol.”

“Hei, hei.” Amagi yang tak-pernah-susah menyela perselisihan antara Julius dan Fran.”Bukankah kalian berdua baru saja bertemu? Lantas, apa gunanya saling berselisih? Mari saling memaafkan dan melupakan masalah ini! Mari kita bergembira dan berteman satu sama lain, oke?”

“Apa kau bercanda?” Julius mencemooh dan memelototinya. Namun demikian, ia melepaskan pisau itu.

Fran juga tampak menarik pisaunya, dan menyeka darah yang berlumuran di pisau nya dengan menggunakan kain.”Tampaknya selalu ada orang bego dalam suatu kelompok. Delapan pria empat wanita. Jumlah wanitanya cukup sedikit, tapi sepertinya itu tak masalah. Pria cenderung lebih baik dalam pertempuran daripada wanita.”

Alis Minato menyipit.”Pertempuran?”

“Oh, kau mendengarnya dengan jelas, kan?” Fran terkekeh dengan pelan. Kemudian Rio mengulanginya dengan suara yang sedikit serak.”Bertarung.”

“Tempat ini adalah markas pasukan cadangan, sehingga…” Minato melirik kebawah.”Itu artinya kami adalah pasukan relawan?”

“Tepat sekali!” Fran menepuk tangannya dengan perlahan.”Kau tampak menjanjikan. Tepat sekali. Kalian semua disini bisa menjadi pasukan relawan. Meskipun begitu, kalian benar-benar tak punya pilihan unutk menolak.”

“Wahai sang ahli membuat pilihan…,” Kata Rio sembari menepuk punggung Rylan.”Sepertinya bakatmu sangat dibutuhkan disini.”

“Oh? Ah! Betul! Betul! Aku… Dibutuhkan?”

“Kalian semua bisa memilih,”kata Fran sembari menjetikkan jari telunjuknya dengan ringan pada mereka.”Mengambil tawaranku atau pergi meninggalkannya begitu saja. Dan tawaranku adalah: Daftarkan diri kalian sebagai Pasukan Cadangan Perbatasan Edirne, Blue Moon. Nah, kalian akan memulai sebagai peserta pelatihan, itu berarti kalian akan belajar menjadi seorang prajurit secara mandiri.”

“Apa,,,,” tanya gadis berpenampilan mencolok, ekspresinya terlihat ketakutan,”kami harus mengerjakan pekerjaan sebagai pasukan cadangan?”

“Tentu saja kalian harus bertarung.”Fran menjentikkan tangan dengan jengkel, seakan-akan dia enggan memberi penjelasan.”Disini, di daerah perbatasan, kita sebagai manusia berselisih dengan ras-ras lainnya. Dan ras-ras tersebut adalah makhluk yang biasa kalian sebut dengan monster. Pekerjaan pasukan perbatasan adalah membunuh monster itu dan melindungi perbatasan kita. Tapi jujur, itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kalian akan disibukkan dengan pekerjaan melindungi daerah Edirne sebagai markas terdepan. Disitulah kita, sebagai pasukan cadangan, dibutuhkan.”

“Dengan kata lain,” pria berkacamata mendorong kacamatanya sampai menempel di hidungnya,”selagi pasukan perbatasan melindungi kota ini, pasukan cadangan keluar untuk mengurangi jumlah monster-monster itu. Apa aku benar?”

“Sebenarnya…” Kata Fran sembari membuka tangannya lebar-lebar bagaikan bunga mekar. Dia melakukan hal itu agar terlihat manis, namun pada kenyataannya pemandangan itu terliha menjijikkan.”Sebenarnya, kita adalah bagian dari pasukan perbatasan reguler. Kita melindungi daerah perbatasan bukan hanya dengan bertarung. Kalian juga akan ditugaskan keluar perbatasan untuk memukul mundur lawan yang hendak memasuki kota. Namun, operasi skala kecil itu tak membutuhkan pasukan reguler dalam skala besar. Bergerak bersama pasukan besar memerlukan: perencanaan, persiapan logistik, jalur pasokan, dan berbagai hal yang merepotkan lainnya. Itulah yang berbeda pada kita.”

Amagi mengangguk dengan antusias dan lebay ketika mendengarkan setiap keterangan dari Fran.”Jadi maksudnya ‘kita berbeda’?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED