Bab 1

“Bangunlah”

Seperti suara yang terdengar memanggilnya dengan samar, pria itu pun membuka matanya.

Gelap, apakah ini malam hari? Itulah kesan yang diberi oleh pria yang baru saja membuka matanya tersebut. Tetapi, tidak terlalu gelap dia melihat sebuah cahaya dari sebuah lilin. Bukan sebuah cahaya dari sebuah lilin melainkan cahaya dari lilin yang berjejer sepeerti lingkaran. Seakan ada seseorang yang menyalakan lilin-lilin yang bergantungan di dinding yang terlihat tidak memiliki ujungnya tersebut. Dimana ini? Saat dirinya memikirkan hal itu, entah kenapa dia merasa kesulitan dalam bernafas. Dirinya menyentuh dinding tersebut dan dia merasakan sebuah sensasi yang keras dan kasar. Sebenarnya itu tidak bisa disebut dengan sebuah dinding karena permukaan keras dan kasar melainkan lebih tepatnya sebuah batu. Dan tentu saja, jika seseorang tidur diatas hamparan batu maka punggungnya akan terasa sakit. Mungkinkah dirinya saat ini tengah berada didalam sebuah gua? Memang terasa seperti itu. Gua? Kenapa dia bisa sampai berada didalam gua?

Lilin-lilin yang berjajar didinding itu diletakkan cukup tinggi diatasnya, tapi jika dia bangun dan menjulurkan tangannya, mungkin dia bisa menggapai lilin-lilin tersebut. Namun, tempat ini sungguh lah gelap sehingga dia bahkan tidak bisa mengukur seberapa panjang lengannya untuk mencapai lilin yang bergantungan tersebut, dan dia sendiri bahkan hampir tidak bisa melihat apa-apa dibawah kakinya.

Dia bisa merasakan keberadaan orang lain disekitarnya. Jika dia mempertajam indra pendengarannya, dia bisa mendengarkan nafas yang terengah-engah dari orang lain tersebut. Orang lain? Apa yang akan dirinya lakukan jika ada orang lain bersamanya? Dia tidak tahu apa yang akan dirinya lakukan, tapi dia merasa kalau ini cukup lah gawat. Meski demikian, suara itu berasal dari orang lain.

“Apakah ada orang disini?” Dirinya memanggil dengan sedikit ketakutan.

“Ya.” Balasan segera terdengar. Itu adalah suara seorang laki-laki.

“Aku disini,” Dia mendengar suara lainnya yang menjawab, dan kali ini berasal dari seorang wanita.

“Sepertinya begitu,” ada lagi orang yang menjawabnya

“Ada berapa orang disini?

“Kenapa dirimu tidak mencoba untuk menghitungnya?”

“Yang lebih peting, saat ini kita berada dimana?

“Aku tidak tahu…”

“Apakah tidak ada yang tahu dimana kita saat ini?”

“Apa-apaan ini?”

Dirinya kebingungan saat ini. Ada apa ini? Kenapa dia bisa ada disini? Seberapa lama dirinya berada disini?

Pria itu mengepalkan tangannya dengan erat di dadanya, seakan-akan dia ingin merobek sesuatu. Dirinya tidak mengerti. Sudah berapa lama dia berada disini, kenapa dia bisa ada disini? Ketika memikirkan tentang hal itu semua, dia merasa bahwa ada bagian tertentu di otaknya yang mengetahui jawaban atas semua pertanyaan tersebut, namun itu lenyap sebelum dia mampu mengingatnya kembali. Dirinya yang tidak tahu tersebut membuatnya sangat kesal. Dia tidak paham apapun yang tengah terjadi saat ini.

“Kita tidak bisa diam disini selamanya,” seseorang berkata. Itu adalah suara yang berasal dari laki-laki yang parau dan rendah.

Dia bisa mendengar suara batu yang di injak dari bawah telapak kakinya. Sepertinya orang yang baru saja berbicara itu bangkit dari duduknya.

“Kemana kau akan pergi?” Kali ini suara wanita yang bertanya padanya.

“Aku akan mencoba mengikuti lilin-lilin yang tertata di dinding ini.” Dirinya menjawab untuk menunjukkan bahwa hanya itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan.

Tidakkah pria tersebut merasa takut? Kenapa dirinya tidak marah? Pria yang berjarak sejauh dua lilin ini cukup tinggi. Dia bisa melihat kepala pria itu sedikit karena cahaya remang-remang yang berasal dari lilin. Rambutnya tidak lah hitam… Melainkan berwarna abu-abu.

“Aku juga ikut,” salah satu gadis bilang begitu.

“Sepertinya, aku juga ikut,” seorang lainnya juga mengatakan hal yang sama, itu adalah suara dari laki-laki.

“T-tunggu sebentar! Kalau begitu, aku juga ikut!” Suara bocah yang lain juga  membalasnya.

“Ada juga jalan di arah sebaliknya,” kata orang lain. Suaranya sedikit bernada tinggi dan melengking, tapi mungkin dia adalah seorang pria, “Namun, tidak ada lilin disana.”

“Jika kau ingin pergi kearah sana silahkan saja,” pria berambut abu-abu tersebut menjawabnya dengan tak acuh, sembari terus berjalan.

Sepertinya semua orang mengikut pria berambut abu-abu tersebut. Jadi, pria lainnya juga mengikutinya. Dia tidak mau ditinggal sendirian, sehingga dia buru-buru bangkit untuk berdiri. Dirinya berjalan bersama mereka dengan kaku, salah satu tangannya meraba sepanjang dinding yang terbuat dari batu. Tanah yang mereka lewati tidaklah rata, dan agak bergelombang, namun dia masih bisa melintasinya.

Ada beberapa orang didepan dan dibelakangnya, tapi dia tidak tahu siapakah mereka. Dari suaranya, dia menduga bahwa semua orang di sana berusia muda. Meskipun hanya satu atau dua orang, “sepertinya ada yang aku kenal didalam kelompok ini” pikirnya.

“Seseorang yang kukenal? Seorang kenalan? Seorang teman? Aneh,” tak ada satupun hal yang bisa dirinya pikirkan. Tidak, bukan itu. Lebih tepatnya, wajah orang-orang yag disebut “kenalan” atau “teman” menghilang begitu saja ketika dirinya mencoba mengingat-ingatnya. Dia tidak bisa mengingat satu hal pun. Dia merasakan kalau memorinya hilang. Lebih tepatnya memorinya terhisap oleh sesuatu ketika dia mencoba mengingatnya.

“… Mungkin lebih baik tidak usah terlalu memikirkan tentang hal-hal seperti itu.” Kata pria itu pada dirinya sendiri.

Suatu balasan datang dari seseorang di belakangnya. Pasti itu adalah seorang gadis muda. “Tidak memikirkan tentang apa?”

“Tidak, tidak ada. Tidak ada apa-apa… Hanya saja…”

“Tidak ada? Sungguh? Apakah benar-benar tidak ada? Apa yang dimaksud dengan “hanya saja?”

Pria itu menggeleng. Pada suatu tempat, tampaknya mereka perlu berhenti. Namn, mereka terus melanjutkan perjalanan mereka. Akan lebih baik tidak memikirkan suatu hal apapun saat ini. Dia punya perasaan bahwa jika dia semakin mencoba untuk mengingat hal-hal yang dirinya lupakan maka akan semakin banyak hal yang akan dirinya lupakan.

Deretan lilin masih melingkar berjajar tanpa henti. Dia tidak pernah tahu kapan deretan lilin-lilin ini berakhir. Seberapa jauh mereka mesti harus berjalan? Mungkin mereka harus berjalan cukup jauh. Atau mungkin tempat tujuan mereka tidak terlalu jauh lagi. Apapun itu, dirinya tidak tahu karena dia telah kehilangan kepekaan waktu dan ruang.

“Hei, ada sesuatu disini,” seseorang didepannya berkata. “Apakah itu sebuah lampu?”

“Ada gerbang,” kata pria berambut abu-abu, lantas pria lainnya pun menjawab “Mungkinkah itu sebuah jalan keluar?”

Segera setelahnya, kaki pria itu terasa lebih ringan. Meskipun ia tidak bisa melihat apapun, dia punya perasaan bahwa mereka tengah menuju kearah yang tepat. Langkah kaki mereka perlahan semakin dipercepat, dan tak lama kemudian mereka bisa melihatnya. Lebih terang dari lilin yang menerangi mereka, itu adalah sebuah lentera yang tergantung pada tembok. Benda itu memberikan cahaya pada suatu bangunan yang terlihat seperti sebuah gerbang.

Pria berambut abu-abu menjulurkan tangannya dan menggoyangnya dengan kasar. Selain rambutnya yang berwarna abu-abu, ia juga berpakaian seperti seorang preman. “Aku akan membukanya,” kata pria berambut abu-abu tersebut, dan ketika dirinya menggoncang lebih keras, gerbang itu terbuka dengan mengeluarkan suara yang berderit.

“Whoa!” Beberapa orang berteriak sekaligus.

“Bisakah kita keluar dari sini? Kata seorang gadis, yang tepat berada dibelakang orang itu. Pakaiannya agak mencolok, bahkan sangat mencolok sekali.

Pria berambut abu-abu itu mengambil beberapa langkah maju melalui pintu gerbang. “Ada tangga disini. Sepertinya kita bisa naik ke atas.”

Tangga itu menuju ke sebuah koridor sempit yang berjamur dan berbau yang tehubung pada tangga batu lainnya. Tida ada lilin yang menerangi koridor ini, tapi terlihat sebuah sumber cahaya yang berasal entah dari mana. Semua orang pun langsung membentuk barisan dan mulai naik sedikit demi sedikit. Dibagian atas, ada gerbang lagi, tapi yang satu ini tidak bisa dibuka.

Pria berambut abu-abu menggedor beberapa kali pintu gerbang tersebut dengan kepalan tangannya “Apakah ada orang dibalik sana? Tolong buka gerbangnya!” Teriaknya. Dari teriakannya terdengar kalau dia sangat marah saat ini.

Gadis yang berpenampilan mencolok di belakangnya pun ikut bergabung, dia berteriak dengan segenap udara yang terhimpun di dalam paru-parunya. “Apakah ada orang disana?! Buka gerbangnya!”

“Hei! Buka pintu gerbanya cepat!” Orang dibelakang mereka, yaitu pria berambut pendek dan berantakan juga ikut berteriak.

Sesuatu terjadi tak lama setelahnya. Pria berambut abu-abu menarik tangannya dari pintu tersebut dan mundur sedikit. Sepertinya seseorang telah datang di balik pintu itu. Si rambut berantakan dan gadis yang mencolok juga tiba-tiba terdiam. Terdengar suara gelas yang terjatuh, dan pintu pun terbuka.

“Keluar,” Kata seseorang. Entah kenapa, pria itu tahu bahwa itu adalah suara dari orang yang telah membuka kunci pintu ini.

Tangga itu menuju ke suatu ruangan yang dibangun dari batu. Tidak ada sebuah jendela untuk bisa melihat keluar dari tempat ini. Tetapi, pencahayaan terus menyala pada ruangan ini, ada juga satu set anak tangga yang menuju kearah lantai selain yang mereka naiki saat ini. Ruangan itu sendiri terlihat agak primitif dan berbau, yang pasti, itu bukanlah sebuah ruangan yang seperti pada umumnya di jaman sekarang ini. Orang yang membuka pintu gerbang juga berpakaian aneh. Dan yang membuatnya semakin aneh adalah, pakaian yang menutupi tubuhnya tidak hanya terbuat dari sebuah kain, melainkan juga dari logam… Apakah itu benar-benar… Sebuah baja?

Dan yang menutupi kepala orang itu… Si pria benar-benar ingin menyebutnya helm perang. Benda yang tergantung di pinggang orang itu bukanlah tongkat. Mungkinkah itu sebuah pedang? Armor, helm, dan pedang. Jaman apakah ini? Atau, jika dia mempertimbangkan hal lainnya, bukankah seharusnya situasi ini membuatnya sedikit khawatir?

Saat pria ber-armor itu menarik sesuatu yang dipasang ke dinding, dinding dan lantai tempat mereka berdiri bergetar sedikit, dan suara berat bergema di seluruh ruangan. Beberapa bagian dari dinding bergerak, dan terbuka secara perlahan. Dinding batu masuk, dan sebuah lubang berbentuk persegi muncul dihadapan mereka.

“Keluar,” Kata pria ber-armor itu sekali lagi, sembari mengarahkan dagunya pada lubang tersebut.

Pria berambut abu-abu pergi terlebih dahulu, diikuti oleh gadis yang berpenampilan mencolok. Lantas, orang-orang lainnya mengikuti si rambut abu-abu begitu saja, seakan-akan mereka ditarik oleh dirinya. Diluar. Kali ini, mereka benar-benar berada diluar. Apakah waktunya adalah senja atau fajar? Tak seorang pun yang mengetahui nya. Langit yang terlihat remang-remang membentang tanpa henti ke segala arah. Mereka saat ini tengah berdiri di atas bukit yang cukup tinggi, dan di belakang mereka, suatu menara besar yang menjulang tinggi. Apakah tadi mereka semua berada didalam bangunan tersebut? Atau mungkin lebih akuratnya mereka baru saja berada di bawahnya…

Jika dihitung jumlah orang yang berada disana, ada delapan orang laki-laki termasuk pria berambut abu-abu, pria berambut berantakan, dan pria itu sendiri, dan ada juga empat orang gadis termasuk gadis berpenampilan mencolok, sehingga jumlah total mereka adalah 12 orang. Suasana nya masih cukup gelap sehingga dia tidak bisa melihat sosok setiap orang secara detail, tapi jika dinilai dari sosok, pakaian, gaya rambut, dan raut wajah secara umum… Pria itu sama sekali tidak mengenali mereka semua.

“Itu terlihat seperti sebuah kota,” Kata seseorang. Dia memiliki rambut yang halus dan fisiknya ramping sambil menujuk pada suatu ara di luar bukit tempat mereka berdiri.

Ketika melihat kearah itu, si pria melihat bangunan yang berdesak-desakan. Itu adalah suatu kota. Itu sungguh terlihat seperti sebuah kota. Itu pasti kota. Disekitarnya terdapat pagar yang menjulang tinggi… Tidak… Itu bukanlah pagar. Lebih tepatnya, itu adalah dinding yang kokoh yang menjulang tinggi.

“Itu terlihat lebih mirip suatu benteng daripada kota,” Pria kurus yang mengenakan kacamata berbingkai hitam yang dari tadi diam saja mulai angkat bicara.

“Suatu benteng,” Pria itu berbisik kepada dirinya sendiri. Mengapa suaranya tidak terdengar seperti dirinya sendiri?

“Jadi, dimanakah ini?” Seorang gadis mungil yang terlihat pemalu dan gugup tersebut bertanya dari balik tubuh pria berambut abu-abu.

“Tidak ada guna nya bertanya kepadaku, karena aku pun tak tahu dimana kita saat ini,” Jawab pria itu.

“Ah, maaf. Apakah ada yang tahu? Dimana kita saat ini?”

Tidak ada satu pun yang tahu dimana mereka saat ini, kecuali jika ada beberapa orang yang sengaja memberikan masalah pada gadis mungil nan pemalu itu, atau jika ada orang-orang yang menyembunyikan informasi dari mereka semua karena beberapa alasan tertentu.

“Seriu!” Kata si pria berambut berantakan sembari menyiri rambutnya yang acak-acakan.

“Ah!” Kata pria lain yang mengenakan kaos bergaris, sembari ia menepuk tangannya. Dia memiliki semacam aura yang terkesan ‘tidak pernah-susah’.

“Mengapa kita tidak bertanya padanya, yaitu pria ber-armor yang menjaga gerbang tadi?”

Semua orang mengalihkan perhatian mereka ke pintu. Akhirnya mereka menyadari sesuatu. Pintu itu perlahan berubah menjadi sempit. Batu itu naik dari tanah, dan sedikit demi sedikit menutup celah tempat mereka keluar.

“Tunggu…” Pria tak-pernah-susah bergegas menuju ke dalam dengan panik, tapi dia tidak berhasil tepat waktu. Celah itu menghilang, dan kembali menjadi dinding yang seakan-akan tidak pernah terbelah.

“Tunggu, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Siapapun yang melakukan ini, cukup sampai disini, dan hentikan semuanyaa…” Katanya, sembari menyeka tangannya di atas permukaan tembok. Dia melakukan pekerjaan yang sangat sia-sia dengan menggedor-gedor dinding keras itu karena tidak ada hal yang terjadi.

Tak lama kemudian ia menyerah dan merosotkan tubuhnya ke tanah.

“Ini tidak baik,” Seorang gadis dengan rambut panjang yang dikepang berkata dengan aksen yang sedikit janggal.

“Selamat datang!!” Teriak dari seorang pria yang menggema disekitar mereka.

Siapa itu? Ada tiga gadis dan seorang pria : si gadis berpenampilan mencolok, si gadis berambut kepang, si gadis pemalu, dan akhirnya seorang yang tampak seperti pria yang kemungkinan tingginya hampir sama dengan pria berambut abu-abu.

“Semuanya sudah muncul, ya, aku ucapkan selamat datang kepada kalian semua. Kalian bertanya-tanya dimanakah ini? Sini, kuberitahu kalian!”

“Dimana ini?!” Pria tak-pernah-susah berteriak, sembari melompat untuk berdiri.

“Tenang dulu, jangan berteriak-teriak seperti itu.” Sahut pria yang tersebut kepada dirinya.

“Halo. Apa kabar. Selamat datang di Midgar. Namaku Hyou, izinkan aku untuk menjadi pemandu kalian.”

“Entah kenapa cara bicaramu yang terkesan santai itu membuatku kesal,” Pria berambut cepak berkata seperti itu. Rahangnya digertakan dengan begitu keras, sampai-sampai suara gemertak giginya terdengar.

“Wah!! Tahan, emosi mu aku ini adalah pecinta kedamaian dan melarang segala macam kekerasan.”

Saat dia mendengarkan hal itu pria berambut cepak hanya mendecakkan lidah kepadanya.”Kalau begitu jangan membuatku kesal!”

“Diiiimengertiiii-!” Hyou membukuk didepan mereka semua seolah seperti memperkenalkan dirinya dengan etika.”Hyou akan bertingkah sopan mulai dari sekarang! Saaangat sopaaan! Apakah tidak masalah bagimu? Tidak apa-apa kan?”

“Kau melakukan itu dengan sengaja kan!”

“Ups, sepertinya aku ketahuan! Kumohon sekali lagi tidak ada kekerasan karena aku menyukai kedamaian. Jadi, bisakah kita memulai pembicaraannya?”

“Cepat dan lakukan itu,” kata pria berambut abu-abu dengan suara rendah. Tidak seperti pria berambut cepak, dia tidak terlihat marah. Namun, suaranya terdengar sedikit mengancam.

“Baiklah.” Hyou terlihat tersenyum lebar. “Aku akan melanjutkan pekerjaanku, oke?”

Langit menjadi perlahan menjadi lebih terang daripada beberapa menit yang lalu, dan berangsur-angsur menjadi semakin cerah. Waktunya bukanlah senja, tetapi, sebaliknya, ini adalah pagi hari. Malam berubah menjadi fajar.

“Untuk saat ini, ikutlah denganku. Atau, aku akan meninggalkan kalian…”

Hyou yang berjalan sambil mengayunkan tongkat disalah satu tangannya berjalan kearah mereka. Terdapat suatu jalan yang mengarahkan menara ini ke bawah bukit. Pada kedua sisi jalan terbuat dari tanah hitam hamparan rumput, dan pada padang rumput disekitar bukit, sejumlah besar batu putih bertebaran. Jumlah batu-batuan tersebut sangatlah banyak, dan seakan-akan disusun dengan suatu pola tertentu. Mungkin ada orang yang sengaja menempatkan batu-batu itu disana.

“Hei, apa itu…” Pria berambut berantakan menunjuk kearah batuan. “Apakah itu batu nisan?”

Pria itu mulai merinding. Si pria berambut berantakan benar juga, terlihat ada beberapa tulisan yang terpahat pada permukaan batu. Beberapa batu bahkan memiliki bunga yang ditempatkan didepannya. Kuburan. Apakah seluruh kawasan bukit ini merupakan sebuah pemakaman?

Hyou, berjalan ke depan kelompok, dia bahkan tidak menghiraukan pandangan pemakaman tersebut. Dia hanya berjalan ke depan sambil bersiul menyanyikan sesuatu.

“Mungkin saja. Siapa tahu. Tapi, jangan khawatir, dan tidak usah dipikirkan. Karena, belum waktunya kalian berada disana.”

Pria berambut cepak mendecakkan lidahnya lagi pada pria yang tersenyum lebar yang kembali melanjutkan siulannya. Dia terlihat marah karena mendengarkan perkataan Hyou, tapi, tampaknya dia bersedia mengikuti Hyou kemanapun ia pergi. Pria berambut abu-abu terus mengikutinya, begitupun dengan pria berkacamata, gadis berpenampilan mencolok, dan juga gadis mungil.

Si pria tak-pernah-susah berteriak, “Oi! Oi! Aku juga ikut, aku juga ikut!” Dan dia pun mulai mengejar pria berambut abu-abu sambil terjatuh-jatuh.

Tidak banyak pilihan disini, tapi kemanakah Hyou mengarahkan mereka semua? Dimanakah ini? Pria itu mendesah dan mengalihkan pandangannya ke langit. “A…..pa….” Dia terperanga.

Apa itu tadi?

Bendar itu tergantung cukup rendah di langit, akan tetapi, itu bukanlah sebuah matahari. Itu terlalu besar untuk menjadi sebuah bintang, lagipula wujud benda itu semakin menyusut. Bentuknya mirip seperti setengah bulan ataupun bulan sabit. Mungkin benda itu adalah bulan. Tapi, jika itu bulan, harusnya tidak berbentuk seperti itu…

“… itu berwarna merah.”

Pria itu berkedip beberapa kali dan melihat benda tersebut lagi dan lagi. Tidak peduli seberapa banyak dirinya melihat, warnanya jelas-jelas merah bagaikan batu Ruby. Di belakangnya, si gadis mungil-pemalu juga menyadarinya. Pria itu menoleh dan mendapati bahwa gadis itu juga menatap bulan yang terlihat aneh tersebut.

“Apa….” Si gadis berkepang tampaknya juga sudah menyadarinya. Dia berkedip beberapa kali lalu terkekeh-kekeh dengan pelan. “Oh wahai bulan yang besar, engkau sungguh kelihatan merah sekali. Sungguh sangat indah.”

Pria berambut halus menatap bulan merah yang tergantung di langit fajar. Ekspresi wajahnya tampak takjub.

“Whoa,” kata pria berambut berantakan dengan tatapan mata terbelalak.

Ada pria lain yang badannya terlalu besar, tapi tampaknya dia hanya bergumam dengan nada rendah dan santun. Pria itu tidak tahu dimanakah dia berada, dari manakah dirinya berasal, atau bagaimana bisa dia sampai disini. Dia tidak bisa mengingat apapun yang berhubungan dengan hal-hal tersebut. Tapi, ada satu hal yang benar-benar dirinya yakini, yaitu di tempat dirinya berasal bulan tidak terlihat merah seperti ini. Artinya, dia bukan berasal dari tempat ini.

Bulan yang merah itu sungguh…. Tidak wajar.

Bab 2

Ada sebuah daerah di mana terdapat bangunan yang terbuat dari batu berjajar di jalanan, dan ada juga daerah yang penuh dengan bangunan yang terbuat dari kayu. Mereka sekarang sedang berada pada jalanan bebatuan yang penuh dengan begitu banyak persimpangan,  sehingga sulit untuk melihat kearah mana tujuan mereka. Air berlumpur mengalir pada saluran air yang sempit di kedua sisi jalanan yang luas, tapi tidak dalam jumlah besar. Bau busuk yang tercium kemungkinan addalah limbah manusia tercium oleh hidung mereka, tapi, setelah bebereap saat berjalan, hal yang tidak menyenangkan itu sudah tidak mereka rasakan lagi.

Hyou memimpin kelompok yang terdiri dari 12 orang menuju ke kota yang telah terlihat dari atas bukit. Menurut dia, kota ini disebut Edirne. Kelompok ini melewati sejumlah manusia yang sepertinya adalah warga kota ini. Meskipun waktunya masih dini hari, kesibukan sudah terlihat di beberapa tempat pada kota ini. Penduduk kota menatap para pendatang baru seolah-olah mereka adalah hewan eksotis. Tapi kelompok yang terdiri dari 12 orang ini juga melakukan hal yang sama karena mereka melihat para warga mengenakan pakaian yang aneh menurut mereka. Pakaian mereka jauh lebih sederhana, tanpa hiasan, dan agak lusuh dibandingkan dengan pakaian yang tengah mereka kenakan.

“Tempat apa ini….” Si pria tak-pernah-susah memulai percakapan. “Maksudku, apakah tempat ini seperti suatu negara asing?”

“Ahh…” Pria berambut berantakan memiringkan kepalanya ke satu sisi seolah-olah dia tahu jawabannya. “Suatu negara asing. Negara? Tunggu dulu, berasal dari negara mana diriku? Aneh, aku tidak bisa mengingat apapun. Aku juga tidak ingat alamat tempat tingalku…. Kenapa?”

“Kau masih belum menyadarinya?” Sahut pria berambut abu-abu dengan nada yang rendah. “Aku juga tak ingat apapun selain namaku sendiri.”

Pria itu terganggu oleh gaya bicara si pria berambut abu-abu.” Tak ingat apapun,” makna dari kalimat itu berbeda jika dibandingkan dengan “Aku sudah lupa.” Mungkin hal yang sama juga terjadi kepada pria berambut abu-abu ketika dia mencoba mengingat memori tertentu, karena disaat dirinya mencoba mengingat memori itu hilang begitu saja.

“Nama?” Pria berambut berantakan memukul dadanya.”Namaku Rylan… Tapi err, aku tidak ingat apa-apa lagi. Memoriku hilang? Serius?” Nada bicaranya terdengar seperti orang bijak yang berbicara kepada seorang pelawak.

“Kalau begitu…” Pria itu pun merasa bahwa dirinya sedang memainkan peran sebagai si bodoh. Dia melakukannya tanpa sengaja, dan dia sedikit menyesalinya, tapi, dirinya tidak bisa berhenti sekarang. “Kedengarannya seperti… Kau mengalami amnesia… Atau…. Sejenisnya.”

“Hei.” Rylan mendesah.”Jika kau hendak memerankan si bodoh, maka lakukan dengan lebih…. Yahh, kau tahu lah, Katakan dengan lebih percaya diri. Jika kau mengucapkannya dengan ragu-ragu, maka lawakannya tidak akan lucu dan tak seorangpun bakalan tertawa. Ah, sudahlah, biarkan saja… Lantas, siapa namamu?”

“Kau…. ‘Membiarkannya saja’?”, dia memerankan si bodoh… Tidak… Lebih tepatnya, dia memang benar-benar bodoh. Namun, siapakah namanya? “Namaku…. Sepertinya namaku Rio.”

Si pria berambut berantakan, Rylan, semakin bertingkah lebay. “Sepertinya??? Jangan bilang kau bahkan melupakan namamu sendiri! Kita semua disini mengalami hal yang sama, kan?” Kita yang semua berada disini tak ingat apapun kecuali nama kita, kan???”

Pria ini… Pria ini sungguh menyebalkan… Begitulah pikir Rio, sambil menatap pria berambut abu-abu yang terus berjalan di belakang Hyou. Siapakah nama pria berambut abu-abu itu? Dirinya ingin tahu, tapi dia terlalu taku untuk bertanya kepadanya. Sebenarnya Rio tidak ingin menghindari si pria berambut abu-abu itu, namun masih sulit bagi dirinya untuk menanyakan hal itu. Akhirnya, dia pun mengalihkan rasa penasarannya pada pria berambut lurus di sampingnya. “Kau, namamu siapa?”

Pria berambut lurus memberikan senyum pada Rio. Dia tampak seperti seseorang yang penyabar. “Namaku Minato. Aku senang bahwa kita semua seumuran, karena aku akan merasa canggung jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.”

“Ya, tentu saja itu akan terasa canggung.”

Minato hanya meringis dan Rio menanggapinya tanpa berpikir panjang. Jika dilihat dari luarnya, Minato tampak seperti orang yang baik dan bisa dipercaya. Sementara itu, nama pria yang menyebalkan itu adalah  Rylan. Sama halnya dengan pria berambut abu-abu, Rio cukup ragu mengajukan pertanyaan pada pria berambut cepak yang tampaknya kurang bersahabat. Rio berkesan bahwa gadis berpenampilan mencolok berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengannya. Si pria berkacamatak sepertinya cukup mudah di dekati, namun entah kenapa, dia juga merasa sungkan menanyakan sesuatu kepadanya.

Dia berkata dengan pelan, “Permisi.”

“…. I…. Iya…?”

“Anu…. Ah…. Sebenarnya ini tidak penting…. Dan aku tidak bermaksud untuk mencari tahu…”

“Namaku Amagi!!” Pria tak-pernah-susah menyela dengan nada yang keras, sembari berpose aneh.”Lupakan pria ini, mari kita mulai dengan para gadis! Bagaimana kita saling mengenal satu sama lain?”

Si gadis berkepang memirinkan kepalanya ke samping. “Nggak ah.”

“Awww…” Amagi yang tak pernah susah, diacuhkan secara tragis.

Rio berpikir itu semacam gangguan, namun berkat itu dia jadi sedikit lebih tenang. “Siapa namamu?” Tanya dirinya kepada gadis mungil-pemalu, dan Rio berusaha sekeras mungkin untuk memberikan pertanyaan yang sangat singkat. “Maksudku, sepertinya akan lebih mudah untuk berbincang-bincang jika kita saling mengenal satu sama lain. Yah, daripada tidak tahu.”

“Umm…” Gadis mungil-pemalu menundukkan pandangannya dan menyembunyikan matanya di balik poni, seolah-olah dia sedang berusaha keras untuk menghindari kontak mata secara langsung.

Tubuhnya biasa-biasa saja, namun ada sesuatu di wajahnya yang membuat dia tampak begitu manis. Pasti ada yang disembunyikan olehnya.

“Aku… Namaku Yuna. Mungkin itu nama depanku. Maaf…”

“Tidak usah minta maaf.”

“Maaf, itu sudah menjadi kebiasaan ku. Maaf, aku akan lebih berhati-hati.”

Yuna terlihat gemetaran saat mengatakan ucapan maaf yang berulang. Apakah dia sungguh akan baik-baik saja? Rio khawatir setelah melihat tingkah si gadis kecil yang bernama Yuna dan dia merasakan semacam rasa ingin melindungi gadis itu.

“Kau terlihat cukup tinggi,” Rio berkata kepada pria besar namun tampak cukup sopan. “Berapa tinggimu?

Pria yang terlihat seperti raksasa itu berkedip, ekspresinya agak kosong. “Tinggi? 167 cm.”

“Seratus enam puluh tujuh!?” Rylan menyela. “Maksudmu, aku cukup pendek dibandingkan dengan tinggimu?”

“Tidak, itu tidak benar…” balas si raksasa. “Mungkin saja tinggiku sekitar 185cm. Oh, sepertinya namaku adalah Albert.”

“Berikan aku 10 cm tinggi mu padaku, Albert!” Rylan meminta hal yang mustahil sambil mencoleknya. “Jika aku mendapatkan 10 cm, maka tinggiku akan menjadi 170-an, dan kau juga 170-an, sehingga kemungkinan akubisa lebih tinggi darimu! Mengagumkan, bukan?”

“Aku akan memberinya jika aku bisa…”

Rio hanya sedikit merasa bersalah dikarenakan kurangnya interaksi dirinya sehingga Rylan menyela dan mengambil alih percakapannya dengan Albert. “Tinggimu kemungkinan tak lebih dari 160 cm, mungkin kau hanya 163 cm.”

“Diam! Dan apakah itu buruk bagimu? Dilihat dari penampilan mu, kau tidak jauh berbeda dariku!”

“Kalau tinggi ku sih pasti kurang dari 165 cm.”

“Kau seperti seekor keledai! Seekor keledai yang hanya bisa merendahkan orang lain hanya karena tinggi mu kurang bebera sentimeter!”

“Kau sungguh terlihat seperti bocah tengik.”

“Apa kau mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarmu. Apa yang baru saja kau ucapkan?”

“Tidak ada. Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Pembohong! Kau baru saja mengatakanku dengan sebutan bocah tengik! Kau tidak bisa menipu telinga ku yang peka ini! Sangat jelas aku mendengar ucapanmu itu! Dan juga kau mengatakan ‘kembalilah ke neraka dasar setan berambut berantakan’, iya kan!??”

“Sepertinya telinga terlalu peka sekali.”

“Dan kau memanggilku dengan sebutan rambut berantakan! Tak seorang pun boleh memanggilku dengan sebutan itu! Itu adalah kata-kata terlarang!”

“Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Jangan menuduh orang lain mengatakan hal yang tidak dia sebutkan.”

“Aku sangat mendengarmu dengan jelas! Telinga setan rambut berantakan ini sudah mendengar banyak hal! Aku mendengarkan begitu banyak sampai-sampai aku bisa jadi tuli! Terserah. Untuk saat ini, ingat hal ini dengan baik! Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang memanggilku dengan sebutan rambut berantakan! Siapapun yang melakukannya akan aku beri hukuman mati. Hukuman mati ingat itu!”

“Hei rambut berantakan,” Sahut pria rambut abu-abu, sembari berbalik. “Kau itu sangat ribut sekali. Diamlah.”

“B-baik.” Rylan si rambut berantakan tampak patuh sekali.”Aku minta maaf. Aku akan berhenti bicara.”

“Bukannya tadi kau bilang bahwa tidak akan memaafkan siapapun yang menyebutmu rambut berantakan,” kata Rio sambil mengangkat bahu.

“Bodoh,” kata Rylan sambil berbisik. “Aku adalah tipe orang yang memilih waktu dan kondisi yang tepat. Aku pernah dijuluki sebagai Master pemilih. Aku akan menjadi seorang raja yang memberi keputusan!”

“Ya baiklah. Jadilah apapun yang engkau inginkan wahai Raja putus.”

“Bukan Raja putus, tapi Raja keputusan! Kelak saat aku menjadi seorang raja aku akan memperlihatkan semuanya kepadamu…”

“Hei, bisakah kau diam.” Pria rambut abu-abu berhenti dan berbalik untuk melihat Rylan.

Rylan dengan cepat dia berlutut dan membungkuk.” Hamba mohon pengampunan darimu!”

Bab 3

“Daripada menjadi seorang raja,” kata Rio sambil menatap ke arah Rylan di bawah, “kenapa kau tidak jadi seorang pelayan saja?”

“Pelayan?! Tidak mungkin! Tidak peduli seberapa aku bersujud, aku masih terlihat sangat keren!”

“Hei, jangan membuatku mengulangi ini sampai ketiga kalinya.” Nada pria berambut abu-abu berubah menjadi mengerikan.

Rylan kembali berlutut dan membungkuk begitu rendahna, sampai-sampai dahinya menyentuh jalanan berbatu. “Aku sungguh sangat minta maaf padamu! Mohon berikan belas kasih anda kepadaku.”

Orang ini sudah pasti jadi sang pelayan, pikir Rio, tapi dia tidak ingin mengatakannya. Jika dia mengatakan hal itu, maka Rylan akan terus mengoceh tanpa akhir. Mereka berjalan dengan diam smapai Hyou membawa mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang terbuat dari batu setinggi dua lantai.

Benda yang dinaikkan di atas bangunan itu adalah bendera bergambar bulan sabit berlatar langit malam, dan simbol yang sama muncul di papan nama.”PAS---CAD---BATAS---EDIR” ditulis disana, tapi ada sesuatu yang tidak benar terlihat. Setelah dilihat lebih dekat, ia tahu bahwa bagian kata-kata tersebut sudah memudar, dan beberapa huruf telah jatuh.

“Tada!” Hyou menunjuk ke tanda tersebut.”Akhirnya kita tiba! Ini adalah tempat yang terkenal! Pasukan Cadangan Perbatasan Edirne, dan ini adalah Markas Blue Moon.”

“Blue Moon,” Rio menarik napas, dan melihat tanda itu sekali lagi. Memang benar jika huruf yang hilang jika ditambahkan kembali, itu akan terbaca: Pasukan Cadangan Perbatasan Edirne, Markas Blue Moon.

“Ayo kita masuk!” Sembari didorong oleh Hyou, mereka memasuki bangunan itu, dan akhirnya mereka sadar bahwa bagian dalamnya terlihat seperti bar. Ruangannya luas, dilengkapidengan meja dan kursi, dan ada juga meja counter dibelakang. Terlihat seorang pria tengah berdiri dibalik meja counter. Tidak ada orang lain selain pria itu.

“Disinilah tugas ku berakhir!” Hyou membungkuk pada pria di balik meja.”Perlakukan mereka dengan baik Fran dan jelaskan segala macam rincian tugas yang akan diberikan pada mereka.”

“Baik,” pria yang disebut Fran itu menjawab, dan melambaikan tangannya pada Hyou.

“Kalau begitu, aku pamit dulu, sampai jumpa!”

Ketegangan diruangan tersebut tampak meningkat setelah pintu terayun dan ditutup oleh Hyou. Mungkin ini terjadi karena cara Fran  memandangi mereka, seolah-olah dia tengah melakukan inspeksi. Tidak… Itu tak benar… Mungkin alasan utama dari ketegangan ini adalah karena kehadiran Fran itu sendiri. Dia sangat aneh. Sangat aneh sekali.

Fran mencondongkan tubuhnya ke depan, menempatkan siku di meja, dan menyandarkan dagunya di atas jari-jemari yang dilipat. Rio melihat bahwa pria itu memiliki dagu yang terbelah. Rambutnya yang berwarna biru terang. Bibirnya berwarna hitam, tapi mungkin itu hanyalah lipstick. Dia memiliki alis yang lebat dan panjang yang melingkar di  mata berwarna coklat ke kuningan dan itu membuatnya terlihat sedikit menakutkan. Wajahnya ditutupi dengan make-up yang tebal, dan tulang pipinya terlihat jelas karena dia mempertebalnya dengan blush warna merah terang.

Tapi, tak peduli seberapa serius Rio menatapnya, ia masih terlihat seperti manusia biasa.

“Hmmm… Sangat bagus,” kata Fran, sembari mengangguk. Dia meluruskan tubuh dan melanjutkan ucapannya,”Selamat datang wahai anak-anak muda. Namaku Francis. Aku adalah seorang Komandan, atau jika kalian mau, kalian bisa menyebutku dengan’bos’. Aku berasal dari Pasukan cadangan Perbatasan Edirne, Blue Moon. Kalian juga boleh memanggilku’komandan’ atau’Fran’. Semuanya terserah dengan kalian, tapi pastikan kalian memanggilku dengan rasa penuh kasi sayang seperti seorang anak yang memanggil ibunya sendiri, paham?”

“Komandan.” Pria berambut abu-abu melangkah ke depan meja, dan dia memiringkan kepalanya ke satu sisi.”Jawab aku. Aku mengerti kalau tempat ini disebut dengan Edirne. Tapi, apa maksud dari Pasukan Cadangan Perbatasan itu? Apa Pasukan Cadangan itu? Kenapa aku bisa ada disini? Kau pasti mengetahui sesuatu, kan?”

“Kau memang punya keberanian!” Fran berkata dengan gembira sambil tertawa.”Aku suka anak-anak sepertimu. Siapa namamu?”

“Julius. Aku tidak suka dengan orang banci sepertimu.”

“Apakah begitu?”

Apa yang terjadi selanjutnya, Rio tidak cukup mengerti. Gerakan Fran tidak hanya cepat, tapi juga halus bagaikan sebuah benang.

“Julius. Biarkan aku memberikan beberapa alasan kepadamu,” Fran berkata sambil menyipitkan matanya. Tapi Rio menyadari apa yang tengah terjadi saat ini, Fran sudah menodongkan ujung pisau tepat dibawah dagu Julius.” Tak seorangpun yang memanggilku banci bisa hidup lama setelah keluar dari sini. Kau tampak seperti anak yang pintar, jadi kau pasti memahami apa yang kukatakan, ‘kan? Masih ingin lanjut mengejek diriku?”

“Sungguh?” Jawab Julius. Rio tersentak saat Julius meraih pisau tersebut dengan tangan kosong. Dia mencengkeramnya dengan cukup keras sambil mengepalkan genggamannya, perlahan darah mulai mengalir dari sela-sela jarinya.”Aku tidak pernah memiliki niat untuk hidup lama, dan sifatku membuat diriku tidak pernah mundur menghadapi ancaman. Jika kau berniat membunuhku, maka lakukan sekarang juga, wahai Komandan Banci.”

“Akhirnya…” Fran menjilat bibirnya sendiri dan membelai pipi Julius.”Aku akan melakukannya lagi dan lagi dengan sangat sempurna, sampai-sampai kau tidak akan melupakannya.”

“Kau tahu,” Rylan berbisik kepada Rio,”Ketika ia mengatakan ‘melakukan’, maksudnya mungkin adalah hal-hal yang tak biasa. Ya, pasti begitu.”

“Ngelakuin apa sih?” Tanya si gadis berambut kepang kepada Rylan dengan ekspresi bingung.

“Err, yahhh, maksudku… Dia akan meletakkan ‘itu’ pada tempat yang tak semestinya. Kau tahu kan, ‘itu’ adalah tempat dimana biasanya ‘itu’muncul. Kau tahu apa maksudku? Iya kan, Rio?”

“Jangan memulainya. Jika kau memulai percakapan ini, maka kau harus tanggung resikonya nanti.”

“Dingin sekali. Apa kau itu orang anti-sosial atau sejenisnya? Orang-orang sepertimu memiliki keterampilan dibawah titik nol.”

“Hei, hei.” Amagi yang tak-pernah-susah menyela perselisihan antara Julius dan Fran.”Bukankah kalian berdua baru saja bertemu? Lantas, apa gunanya saling berselisih? Mari saling memaafkan dan melupakan masalah ini! Mari kita bergembira dan berteman satu sama lain, oke?”

“Apa kau bercanda?” Julius mencemooh dan memelototinya. Namun demikian, ia melepaskan pisau itu.

Fran juga tampak menarik pisaunya, dan menyeka darah yang berlumuran di pisau nya dengan menggunakan kain.”Tampaknya selalu ada orang bego dalam suatu kelompok. Delapan pria empat wanita. Jumlah wanitanya cukup sedikit, tapi sepertinya itu tak masalah. Pria cenderung lebih baik dalam pertempuran daripada wanita.”

Alis Minato menyipit.”Pertempuran?”

“Oh, kau mendengarnya dengan jelas, kan?” Fran terkekeh dengan pelan. Kemudian Rio mengulanginya dengan suara yang sedikit serak.”Bertarung.”

“Tempat ini adalah markas pasukan cadangan, sehingga…” Minato melirik kebawah.”Itu artinya kami adalah pasukan relawan?”

“Tepat sekali!” Fran menepuk tangannya dengan perlahan.”Kau tampak menjanjikan. Tepat sekali. Kalian semua disini bisa menjadi pasukan relawan. Meskipun begitu, kalian benar-benar tak punya pilihan unutk menolak.”

“Wahai sang ahli membuat pilihan…,” Kata Rio sembari menepuk punggung Rylan.”Sepertinya bakatmu sangat dibutuhkan disini.”

“Oh? Ah! Betul! Betul! Aku… Dibutuhkan?”

“Kalian semua bisa memilih,”kata Fran sembari menjetikkan jari telunjuknya dengan ringan pada mereka.”Mengambil tawaranku atau pergi meninggalkannya begitu saja. Dan tawaranku adalah: Daftarkan diri kalian sebagai Pasukan Cadangan Perbatasan Edirne, Blue Moon. Nah, kalian akan memulai sebagai peserta pelatihan, itu berarti kalian akan belajar menjadi seorang prajurit secara mandiri.”

“Apa,,,,” tanya gadis berpenampilan mencolok, ekspresinya terlihat ketakutan,”kami harus mengerjakan pekerjaan sebagai pasukan cadangan?”

“Tentu saja kalian harus bertarung.”Fran menjentikkan tangan dengan jengkel, seakan-akan dia enggan memberi penjelasan.”Disini, di daerah perbatasan, kita sebagai manusia berselisih dengan ras-ras lainnya. Dan ras-ras tersebut adalah makhluk yang biasa kalian sebut dengan monster. Pekerjaan pasukan perbatasan adalah membunuh monster itu dan melindungi perbatasan kita. Tapi jujur, itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kalian akan disibukkan dengan pekerjaan melindungi daerah Edirne sebagai markas terdepan. Disitulah kita, sebagai pasukan cadangan, dibutuhkan.”

“Dengan kata lain,” pria berkacamata mendorong kacamatanya sampai menempel di hidungnya,”selagi pasukan perbatasan melindungi kota ini, pasukan cadangan keluar untuk mengurangi jumlah monster-monster itu. Apa aku benar?”

“Sebenarnya…” Kata Fran sembari membuka tangannya lebar-lebar bagaikan bunga mekar. Dia melakukan hal itu agar terlihat manis, namun pada kenyataannya pemandangan itu terliha menjijikkan.”Sebenarnya, kita adalah bagian dari pasukan perbatasan reguler. Kita melindungi daerah perbatasan bukan hanya dengan bertarung. Kalian juga akan ditugaskan keluar perbatasan untuk memukul mundur lawan yang hendak memasuki kota. Namun, operasi skala kecil itu tak membutuhkan pasukan reguler dalam skala besar. Bergerak bersama pasukan besar memerlukan: perencanaan, persiapan logistik, jalur pasokan, dan berbagai hal yang merepotkan lainnya. Itulah yang berbeda pada kita.”

Amagi mengangguk dengan antusias dan lebay ketika mendengarkan setiap keterangan dari Fran.”Jadi maksudnya ‘kita berbeda’?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED