Bab 1

"Mas nanti jam berapa pulang reuninya?" Jihan meraih sepatu pantofel dari rak, dan memberikannya pada Tommy. Saat membungkuk di depan rak sepatu, Jihan meringis. Kandungannya telah memasuki bulan ke delapan. Sekarang gerakannya semakin melamban. Tidak segesit dulu lagi.

"Ya, belum tau dong, Han. Pergi juga belum, kamu kok sudah nanya-nanya soal pulang sih?" Tommy menerima sepatu dari Jihan. Memakainya tergesa karena reuninya akan berlangsung sekitar setengah jam lagi. Ia takut terjebak macet.

"Bukan begitu, Mas. Kita 'kan sudah lama tidak mengunjungi Ibu. Jihan janji akan menjenguknya hari ini bersama Mas dan Niko. Karena Jihan pikir kalau hari Jummat, Mas pulang kantor lebih cepat. Jadi kita bisa bersama-sama menjenguk Ibu," terang Jihan sabar.

Tommy tidak menjawab. Pikiran Tommy seperti tersita oleh masalah lain. Alih-alih merespon ucapannya, Tommy malah sibuk membalas chat-chat yang berbunyi tiada henti. Walaupun demikian, Jihan tidak putus asa. Ia kembali mencoba melanjutkan argumennya. Siapa tau, Tommy masih bersedia memenuhi permintaannya.

"Jadi kalau Mas pulangnya cepat, kita masih sempat mengunjungi Ibu. Itu maksud Jihan, Mas," lanjut Jihan panjang lebar. Ia berusaha memanjangkan sabarnya. Entah mengapa, akhir-akhir ini suaminya sering kali emosi hanya karena hal-hal sepele. Sebagai istri yang baik, ia hanya mencoba sabar dan mengalah. Rumah tangga akan hancur saat dua orang di dalamnya saling mengumbar emosi bukan?

"Menjenguk Ibumu 'kan bisa kapan saja, Han. Toh Ibu nggak akan ke mana-mana. Tapi kalau reuni ini, entah kapan sekali baru akan berlangsung," Tommy mendecakkan lidah. Jihan ini kalau sudah punya mau, susah sekali dipengaruhi. Walau terkesan lembut dan sabar, sesungguhnya istrinya ini keras hati.

"Ya sudah kalau begitu. Jihan akan pergi berdua saja dengan Niko." Jihan akhirnya mengalah. Untuk apa juga pergi bersama Tommy, kalau orangnya saja tidak niat. Daripada ibunya tidak enak hati melihat muka masam Tommy, lebih baik ia berangkat sendiri.

"Terserah kamu saja. Tapi ingat, kamu sedang hamil besar. Hati-hati menjaga kandunganmu. Minta Pak Untung agar berhati-hati saat berkendara."

Tommy memeriksa penampilannya sekali lagi. Setelah merasa cukup rapi, ia mengembangkan kedua tangannya ke arah Niko. Putra tampannya seketika menghambur ke dalam pelukannya.

"Ayah pergi dulu ya, Niko? Niko ikut bunda saja ke rumah nenek ya?" Kepala mungil dalam dekapan Tommy mengangguk menggemaskan. Tommy mengacak-acak sayang surai hitam putra tampannya.

"Anak pintar. Mas berangkat dulu ya, Han? Kalau nanti kamu sudah tiba di rumah ibu, kabari Mas. Biar Mas tenang." Jihan mengangguk singkat.

"Anak ganteng, Ayah pergi dulu ya?" Tommy mencium gemas putranya sekali lagi.

"Oke, Ayah. Dadah." Niko menggoyang-goyangkan tangan gemuknya. Tommy membalas lambaian tangan putranya sembari melangkah menuju garasi. Sejurus kemudian mobilnya meluncur keluar dari pekarangan rumahnya yang luas.

Sepeninggal Tommy, Jihan memanggil Bik Nanik. ART yang sesekali ikut mengasuh Niko apabila ia sedang repot. Ia memang tidak menggunakan jasa pengasuh, karena ia ingin merawat Niko dengan kedua tangannya sendiri. Menurut hematnya, selagi ia mampu mengasuh anaknya sendiri, maka akan ia lakukan. Toh Yang Maha Kuasa telah menganugerahinya sepasang kaki dan tangan yang sehat dan kuat. Kecuali mungkin saat bayi dalam kandungannya ini lahir bulan depan. Saat itu, mau tidak mau, ia harus mencari satu orang pengasuh untuk mengurus kebutuhan Niko. Ia tidak bisa mengasuh Niko secara penuh karena ada bayi yang baru dilahirkan. Sebagai seorang ibu, ia harus adil dalam membagi kasih sayang untuk kedua anak-anaknya.

"Iya, Bu." Bik Nanik datang menghampiri.

"Tolong jaga Niko sebentar ya, Bik? Saya mau mengganti pakaian dulu."

"Baik, Bu." Bik Nanik segera mengambil posisi duduk di samping Niko, sembari menghidupkan televisi. Saat melihat tayangan Ipin dan Upin, Niko pasti akan duduk anteng. Ia suka melihat kisah dua anak kembar yang lucu itu.

Karena Niko sudah ada yang menjaga, Jihan segera masuk ke dalam kamar. Sebelum pergi, ia bermaksud mengganti pakaian terlebih dahulu dulu. Tidak praktis rasanya memakai gaun lebar ke mana-mana. Apalagi akhir-akhir ini sedang musim penghujan. Tiupan angin kencang terkadang menaikkan rok lebarnya. Jihan membuka lemari pakaian. Memandangi susunan pakaian sejenak sebelum meraih sebuah kulot dan sweater berwarna moka. Dengan cepat Jihan mengganti pakaiannya. Setelah rapi, ia meraih pasmina berwarna coklat tua yang simple namun anggun. Lima menit kemudian tampilan cermin di kamarnya memperlihatkan seorang ibu muda hamil yang simple dan praktis. Ia kemudian menyiapkan segala keperluan Niko dalam satu tas praktis. Pakaian, susu, dan pernah-pernak lainnya ia masukkan semuanya ke dalam satu tas. Setelah semuanya beres, barulah ia berjalan ke depan.

Saat melewati ruang kerja Tommy, pintu masih dalam keadaan terbuka separuh. Pasti suaminya itu terburu-buru karena takut terlambat menghadiri acara reuni. Jihan menggeleng-gelengkan kepala. Ada-ada saja. Tommy bertingkah seperti anak SD yang takut terlambat masuk ke dalam kelas. Saat ia akan menutup pintu, pandangannya tertuju pada ponsel suaminya yang sepertinya tertinggal di meja kerja. Lihatlah, saking buru-burunya ponsel tertinggal pun Tommy tidak sadar. Jihan mengernyitkan dahi. Perasaan tadi sebelum berangkat Tommy masih sibuk membalas chat-chat yang masuk. Berarti ponselnya tidak tertinggal bukan? Lantas, ini ponsel siapa?

Karena penasaran, alih-alih menutup pintu ruang kerja, Jihan malah masuk ke dalam ruangan. I mengambil ponsel. Ia bermaksud memetikda ponsel yang ada di atas meja kerja suaminya itu. Pada saat itulah ia baru menyadari bahwa ponsel itu berbeda dengan ponsel suaminya yang biasa. Jantung Jihan mendadak berdebar. Apakah selama ini suaminya memiliki dua ponsel yang tidak ia ketahui? Dengan perasaan bercampur baur, Jihan berusaha membuka ponsel itu. Terkunci! Jihan mencoba membukanya dengan password suaminya yang biasa. Tidak terbuka. Jihan berpikir keras. Menduga-duga apa password yang mungkin Tommy gunakan. Ia mencoba dengan memasukkan tanggal, bulan, dan tahun perkawinan mereka. Tidak bisa juga. Begitu juga dengan tanggal lahir suaminya. Semuanya tidak bisa juga. Ide terakhir Jihan memasukkan tanggal lahir Niko. Dan password pun terbuka!

Dengan tangan gemetar Jihan membuka ponsel lain suaminya. Air matanya jatuh berderai saat melihat apa isi ponsel rahasia suaminya ini. Photo-photo mesra suaminya dengan Diana. Tetangganya sekaligus mantan pacar suaminya. Diana ini baru enam bulan lalu bercerai dari Wahyu, suaminya. Wahyu berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri, Tania, dan menceraikan Diana begitu saja. Padahal sudah ada seorang anak perempuan manis buah hati  pernikahan mereka. Diana enam bulan lalu sampai nekad bunuh diri di tengah malam buta. Dirinya yang kala itu tengah hamil muda, membawa Diana ke rumah sakit dan menjaganya semalaman di sana.

Jihan limbung. Ia nyaris jatuh ke lantai. Untungnya ia masih sempat meraih meja kerja suaminya. Ia menangis meraung-raung di sana. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Diana sejahat ini. Lebih dari itu, ia sama sekali tidak menyangka kalau Tommy, sanggup menghianatinya.

"Bu, ada apa?" Nanik yang mendengar tangis histeris nyonya mudanya, berlari mendatangi asal suara dengan Niko dalam gendongannya. Tidak biasanya nyonya mudanya kehilangan kontrol diri seperti ini.

"Tidak apa-apa, Bik. Tolong Bibik dan Niko tunggu di luar saja. Sebentar lagi saya menyusul," tukas Jihan dengan suara parau. Sebisa mungkin ia menahan keinginan untuk menjerit-jerit histeris. Ia manusia biasa. Seorang perempuan yang kebetulan tengah hamil besar pula. Hormonnya menggelegak meminta pelampiasan penyaluran emosi. Namun ia sadar, ia berteriak hingga langit runtuh pun tidak akan ada gunanya. Yang harus ia lakukan adalah mencari fakta dan kebenarannya. Setelah itu barulah ia akan mengambil tindakan.

"Benar Ibu tidak apa-apa? Ibu mau minum teh manis hangat dulu barangkali? Saya buatkan ya, Bu?" Nanik tidak yakin kalau nyonya mudanya ini baik-baik saja. Tangisan penuh luka dan matanya yang memerah, menjelaskan segalanya. Nyonya mudanya sangat jauh dari kata baik-baik saja.

"Benar, Bik. Tolong, Bibik dan Niko tunggu di luar saja ya?" Walau merasa enggan, tak urung Nanik meninggalkan nyonya mudanya juga. Tapi ia bermaksud berdiri di depan pintu ruang kerja tuan mudanya ini saja. Jadi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ia bisa langsung cepat menolong. Ia sungguh khawatir melihat piasnya wajah nyonya mudanya.

Sementara di dalam ruang kerja, Jihan membaca chat mesra antara Tommy dan Diana. Air matanya mengalir lagi. Ia sama sekali tidak mengira kalau mereka tega menghianatinya sekeji ini. Ketika ia membaca chat sekitar satu jam lalu soal reuni, pahamlah Jihan mengapa Tommy membohonginya. Ternyata Diana yang memang satu sekolah dengan Tommy dulu ada di antara para peserta reuni. Pantas saja Tommy membohonginya dengan mengatakan kalau semua peserta reuni adalah laki-laki. Jahat! Ini semua tidak bisa dibiarkan.

Dengan darah mendidih Jihan bermaksud menyusul ke tempat reuni dengan membawa serta Niko. Ia sudah tidak berhasrat lagi untuk mengunjungi ibunya. Ia bahkan tidak minta diantar oleh supir. Satu tekad kuat telah tumbuh di hatinya. Ia tinggal membuktikan satu hal. Kalau memang Diana bersama dengan suaminya nanti, ia tidak akan pulang lagi ke rumah ini lagi. Titik.

***

Jihan tiba di mall, tempat diselenggarakannya reuni terselubung Tommy. Dadanya panas membara. Menurut chat terakhir yang tadi ia baca di ponsel rahasia Tommy, mereka akan mengadakan reuni di Starbuc*. Tanpa membuang masa, Jihan segera melangkahkan kakinya ke tingkat dua mall. Emosi telah membuat fisiknya yang biasanya ringkih menjadi lebih kuat. Dengan perut buncit karena kehamilan delapan bulannya, ia masih sanggup berjalan segesit ini. Kemarahan telah membuat sistem tubuhnya dua kali lebih kuat dari biasanya.

Ketika akhirnya ia tiba di gerai Starbuc*, semua dugaannya benar. Ia melihat suaminya tengah memeluk mesra Diana di tengah teman-teman sekolahnya dulu. Tidak ada yang ia kenal selain Haikal di sana. Haikal adalah sahabat Tommy sedari kecil. Kedua orang tua Haikal dan Tommy mempunyai perkebunan kopi besar di Desa Sukawangi. Dulu sewaktu ia berpacaran dengan Tommy, ia pernah ke perkebunan beberapa kali. Makanya ia mengenal Haikal. Haikal juga mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Safa. Di sana ia juga pernah bertemu dengan Kanaya. Anak sahabat lama ayah Haikal. Dan dari IG Safa yang ia lihat baru-baru ini, ia baru tahu kalau Haikal sekarang telah menikahi Kanaya.

Jihan mempercepat langkah menghampiri pintu masuk ke gerai kopi. Bola matanya nyaris keluar dari rongga, saat ia melihat Diana mengelus-elus rahang Tommy mesra. Benar-benar perempuan tidak tahu malu. Ia berani bermesraan dengan suami orang di depan umum!

Pandangannya berpindah pada pada Haikal. Jihan mendengkus jijik melihat kelakuan dua perempuan yang sepertinya dulu teman sekelas Haikal. Tingkah polah keduanya juga tidak kalah mencengangkan. Mereka berdua tampak terus berusaha menyentuh-nyentuh Haikal. Padahal Haikal terlihat begitu gerah. Haikal juga berkali-kali menepis tangan-tangan nakal mereka.

Geraham Jihan saling beradu. Reuni model apa ini? Katanya semua yang datang adalah laki-laki. Tetapi sepenglihatannya banyak sekali perempuan-perempuan yang bertebaran di sana sini. Tommy memang seorang pembohong ulung. Lihat saja, ia akan membuat acara mereka bubar sebelum waktunya. Baru saja ia bermaksud masuk ke dalam gerai kopi, seseorang memanggil namanya.

"Mbak Jihan," seseorang itu menahan laju tubuhnya, yang sedianya akan masuk ke dalam gerai kopi. Jihan menoleh ke samping. Mencari tahu siapa orang yang telah memanggilnya. Jihan mengernyitkan dahi. Memperhatikan lebih teliti wanita muda yang memanggilnya. Ah, ia ingat garis wajah sendu ini. Sepertinya gadis cantik ini adalah Kanaya. Walaupun telah sepuluh tahun tidak berjumpa, wajah Kanaya tidak banyak berubah. Ia tetap cantik dan anggun seperti dulu. Hanya saja auranya sudah berubah. Kanaya tampak lebih dewasa. Terakhir kali ia melihat wajah Kanaya adalah di IG Safa beberapa waktu lalu. Kalau berhadapan muka langsung seperti ini, baru kali ini setelah sepuluh tahun berlalu.

"Kanaya 'kan? Apa kabar, Nay? Kabarmu pasti baik ya? Kamu 'kan baru saja menikah dengan Haikal? Mbak kemarin dulu melihat photo pernikahanmu dan Haikal di IG Safa," cecar Jihan tanpa henti. Saat bingung ia memang cenderung cerewet.

Setelah mengajukan berondongan pertanyaan, Jihan menepuk keningnya sendiri. Ia menjadi linglung karena telah bertanya namun ia sendiri yang menjawab pertanyaannya.

"Walah, Mbak yang nanya, malah Mbak sendiri yang menjawab. Maaf ya, Nay. Mbak agak-agak error ini karena sedang emosi," guman Jihan.

Sesuatu melintasi benaknya. Ingatan tentang dua orang wanita yang terkesan terus mengganggu Haikal di dalam gerai kopi. Pasti Kanaya ke sini karena ingin memata-matai suaminya seperti dirinya.

"Mbak yakin, kamu juga pasti merasakan hal yang sama bukan? Buktinya kamu mengintai Haikal dari sini," sergah Jihan gemas. Teringat pada tujuan utamanya yang ingin melabrak Diana dan Tommy, Jihan merasa emosinya kembali naik ke titik tertinggi. Ia akan menghabisi mereka berdua. Dengan adanya Kanaya, itu lebih membesarkan hatinya. Setidaknya ada seorang lagi yang akan membantunya melabrak perempuan-perempuan tidak punya akhlak seperti perempuan-perempuan kegatela* di dalam sana. Memikirkan semua itu, Jihan kian bersemangat.

"Ayo kita labrak saja, perempuan-perempuan perebut suami orang itu, Nay," desis Jihan geram. Ia menarik tangan Kanaya agar mengikutinya masuk ke dalam gerai. Namun sayangnya, Kanaya malah melepaskan cengkramannya.

"Sabar, Mbak. Ingatlah, dalam keadaan apapun, jangan biarkan emosi mengalahkan kecerdasan kita, Mbak. Ingat, yang salah bukan hanya wanita itu, tapi Mas Tommy juga 'kan? Tepuk tangan tidak akan berbunyi kalau hanya sebelah tangan."

Kalimat Kanaya bagai air es yang menyiram kepala Jihan. Kalimat tepuk tangan tidak akan berbunyi jika hanya satu tangan, menyadarkannya. Tommy juga menginginkan perselingkuhan ini. Tommy menikmatinya. Sebenarnya yang paling salah di sini adalah Tommy. Seberapa hebat pun seorang perempuan menggoda, kalau imannya kuat, pasti tidak akan kejadian. Buktinya ya seperti Haikal tadi. Kedua wanita itu begitu beringas menggodanya terang-terangan, namun Haikal terang-terangan menolak. Haikal terus menepis tangan-tangan nakal mereka. Jadi intinya di sini, bukan pelakornya saja yang mau, tetapi lakornya juga setuju. Kalau begitu untuk apa lagi ia melabrak Diana bukan? Toh memang suaminya juga kooperatif dan menikmatinya.

Memikirkan kebenaran kalimat Kanaya, Jihan tidak kuasa menjawab. Ia hanya berdiri terpaku dengan bibir bergetar dan air mata membanjir. Ia menyadari semua kebenaran kata-kata Kanaya. Hanya saja ia masih belum bisa menerima kenyataan. Kilasan-kilasan kejadian beberapa bulan lalu, semuanya berdesakan dalam benaknya. Mereka seakan berlomba-lomba ingin mengejeknya. Mengejek kenaifannya, hingga ia dengan mudah bisa dikelabuhi seperti ini. Keadaannya mungkin membuat Kanaya khawatir. Kanaya berkali-kali menanyakan apakah ia baik-baik saja.

"Mbak tidak apa-apa, Nay. Mbak hanya sakit hati saja," desah Jihan pilu.

"Kamu tau tidak, wanita di samping Mas Tommy itu namanya Diana. Diana itu mantannya Mas Tommy, sebelum Mas Tommy berpacaran dengan Mbak. Diana itu juga tetangga baru kami, Nay. Diana juga baru saja diceraikan suaminya, karena suaminya ingin menikahi sekretarisnya. Enam bulan lalu, Mbak siang malam menghiburnya. Membesarkan hatinya. Tapi lihat? Bagaimana balasannya pada, Mbak? Wajar 'kan kalau Mbak ingin mengunyeng-unyeng dirinya?" adu Jihan sedih. Jujur ia memang seperti anak kecil yang meminta pembenaran. Tapi apa yang dikatakannya itu benar bukan? Kanaya tidak mengatakan apa-apa. Kanaya hanya mengelus-elus punggungnya lembut. Berusaha terus membesarkan hatinya.

"Mbak, memang benar Diana itu jahat. Tapi coba dengarkan baik-baik kata-kata saya. Seberapa pun jahatnya Diana kepada Mbak, Mbak tidak boleh menyerangnya."

Jihan meradang. Sebenarnya Kanaya ini berpihak pada siapa. Saat ia ingin menyangkal kata-kata Kanaya, mengangkat tangannya. Isyarat tanpa kata kalau ia tidak ingin kalimatnya dipotong.

"Dengar dulu penjelasan saya, Mbak. Begini, kalau Mbak menyerang Diana, ia bisa melaporkan Mbak ke pihak yang berwajib atas dasar penganiayaan. Jika bukti visum membuktikan kalau ia terluka oleh serangan Mbak, Mbak bisa dipolisikan. Sampai di sini Mbak paham 'kan?"

Jihan mengangguk. Walau pahit, tapi apa yang dikatakan Kanaya itu memang benar. Jihan sekarang memahami konsekuensi apabila ia tetap bersikeras melabrak Diana. Ya, ia tahu kalau melabrak Diana selain bisa membuatnya masuk penjara, ia juga hanya mempermalukan dirinya sendiri. Tommy toh bukan barang yang bisa dicuri, diambil atau dirampas. Tommy memang mau dengan Diana. Titik.

Tetapi sebagai seorang istri, rasa-rasanya berat sekali dipaksa harus menelan kenyataan ini. Dadanya kian berombak-ombak. Tangisnya yang tadi hanya berupa lelehan air mata tanpa suara, kini berubah menjadi isakan-isakan kecil. Akibatnya Niko jadi ikut-ikutan menangis karena melihatnya menangis. Demi Tuhan, hatinya perih bagai luka yang disiram dengan air garam.

Sesuatu pikiran melintasi benak Jihan. Tidak bisa begini. Ia harus mengakhiri semuanya. Cukup sudah selama ini ia mengalah. Untuk pertama kalinya, ia akan membuat satu keputusan besar tanpa campur tangan siapa pun. Dia adalah manusia yang mempunyai akal dan pikiran sendiri. Untuk itu, ia akan memutuskan nasibnya sendiri.

Bab 2

Kata-kata Kanaya membuat Jihan bungkam. Jihan sadar kalau ia memang tidak boleh menyerang Diana. Negara ini negara hukum. Hukum di negara ini akan melindungi setiap warga negaranya dari tindak pidana. Tetapi hukum tidak akan melindungi seorang istri dari tindak keji seorang pelakor. Maka jika ia menyerang Diana, Diana bisa membuat laporan pada pihak kepolisian, kalau dirinya adalah korban serangan brutal. Tetapi ia tidak bisa membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah korban perselingkuhan. Hukum memang tidak mengatur urusan dalam rumah tangga warganya. Kecuali ada laporan KDRT, yang dilengkapi dengan visum dari rumah sakit dan saksi-saksi. Ia akan kalah telak dalam hal ini.

Namun Jihan tidak puas sebelum ia menangkap basah kecurangan Tommy dan Diana. Ia akan mengkonfrotasikan kecurigaannya secara langsung. Enam tahun berumah tangga membuat Jihan khatam dengan tindak tanduk Tommy. Jadi sebelum menuduh, Jihan ingin melihat sikap Tommy. Dan apabila kecurigaannya terbukti, barulah ia akan mengambil sikap.

Ia bukanlah type perempuan yang akan memohon-mohon untuk dipertahankan apabila ia memang sudah tidak diinginkan. Ia tidak mau bernasib seperti ibunya, yang hanya bisa menangis dan meratap setiap kali ayahnya berulah. Ia muak melihat perempuan diperlakukan begitu tidak adil hanya karena takut ditinggalkan.

Ia tidak menyalahkan ibunya atau wanita mana pun yang pasrah menerima perlakuan seperti itu. Tiap orang punya pemikiran sendiri-sendiri. Entah karena takut tidak punya pasangan atau takut tidak bisa makan. Ia menghargai pilihan mereka. Apapun keputusan mereka, pasti telah mereka pikirkan baik buruknya. Tapi kalau dirinya, sungguh ia tidak akan mau. Karena menurutnya dirinya bukan pilihan. Lagi pula untuk apa lagi ia meminta Tommy untuk memilih? Tommy sudah jelas memilih Diana. Karena kalau memang benar Tommy mencintainya, Tommy tidak akan menyelingkuhinya. Titik. Ia tidak mau menghibur diri sendiri dengan kalimat mungkin Tommy sedang khilaf. Karena khilaf itu perbuatan yang tidak sengaja. Sementara Tommy sangat lancar berucap saat membohonginya. Khilafnya Tommy memang sudah diniatkan. Artinya simple saja. Tommy memang menginginkan Diana. Habis cerita.

"Kamu mau menemani Mbak ketemu dengan mereka, Nay?"

Pertanyaannya membuat Kanaya terdiam sejenak. Jihan mengerti, pasti Kanaya takut kalau ia akan membuat kericuhan di dalam sana.

"Apa tujuan Mbak ke sana? Mbak ingin melabrak Diana?"

Benar 'kan dugaannya? Kanaya takut kalau ia membuat huru hara. Pertanyaan Kanaya pun ia jawab dengan gelengan tegas.

"Tidak, Nay. Mbak sudah kehilangan amarah sekarang. Seperti yang kamu katakan tadi, tepuk tangan tidak akan bersuara kalau hanya satu tangan saja. Mbak hanya ingin mengucapkan beberapa patah kata, dengan menatap mata mereka berdua. Mbak janji. Mbak hanya akan berbicara, Nay. Mbak tidak akan merendahkan diri Mbak sendiri dengan bersikap seperti orang tidak waras di sana. Yang diselingkuhi itu, Mbak. Masa iya Mbak mau mempermalukan diri Mbak di sana? Sudah dihianati, masuk penjara pula. Mbak masih punya akal sehat, Nay." Jihan berusaha meyakinkan Kanaya. 

"Kuatkan Mbak ya, Nay?" pintanya lagi. Kanaya mengangguk. Kanaya bahkan meremas jemarinya. Jihan mengerti kalau Kanaya mencoba memberikan dukungan padanya sebagai sesama perempuan. Setelah membaca bissmillah dan menarik napas panjang beberapa kali, Jihan masuk ke dalam kafe dengan menggandeng Niko.

Seperti yang sudah ia prediksi, kedatangannya dan Kanaya membuat suasana seketika hening. Tommy langsung melepaskan rangkulannya pada bahu Diana. Sementara Diana sendiri tidak berani memandang wajahnya. Air muka Diana dan Tommy sama-sama pucat. Jihan paham sekali kalau Diana dan Tommy merasa malu karena terciduk. Makanya mereka berdua tidak berani mengangkat wajahnya. Dalam keheningan itu Tommy lebih dulu sadar.

"Ji--Jihan. Kamu jangan salah sangka. Mas--Mas akan menjelaskan semuanya." Tommy akhirnya bersuara juga. Tommy berdiri dari kursi tergesa. Tommy bahkan tidak menyadari kalau kursinya telah terjatuh. Rasa gugup telah mengambil alih kewaspadaannya. Sementara Diana tetap dalam posisi duduk. Hanya saja air mukanya tampak serba salah. Diana memandang ke segala arah, tetapi tidak berani menatapnya. Begitu sikap para penghianat apabila tertangkap basah.

"Baik. Jihan siap mendengarkan. Silahkan jelaskan Mas," sahut Jihan tenang. Saat ini ia dan Niko berdiri tepat di hadapan Tommy. Jihan bahkan tersenyum kecil. Mungkin bagi Tommy dan Diana, sikapnya terlihat tenang. Tidak ada riak yang berarti di air mukanya. Hanya saja tidak ada yang tahu, bahwa tangan kanannya mengepal begitu erat dibalik kantong celana kulot lebarnya. Jihan berusaha semampunya menahan emosi dan kepedihan hatinya.

"Mas--Mas--" Tommy tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tau harus mengatakan apa. Kedatangan istri dan anaknya secara tiba-tiba membuat otaknya ngeblank. Ia tidak tahu harus mengarang cerita mulai dari mana. Jihan bukan anak kecil yang bisa ia bohongi. Jihan telah melihak bukti kecurangannya. Ya, dirinya sudah tertangkap basah.

"Karena Mas tidak bisa menjelaskan, biar Jihan saja yang bertanya ya, Mas? Supaya tidak buang-buang waktu," tukas Jihan datar.

Tommy menelan salivanya sendiri. Sungguh ia tidak mengenal Jihan yang dingin seperti ini. Biasanya Jihan itu pengalah dan penyabar. Namun kali ini tatapannya begitu berbeda.

"Tadi Mas bilang reuni ini khusus untuk laki-laki semua. Makanya Mas tidak mengajak Jihan. Pertanyaannya Jihan, apakah Diana sekarang telah melakukan operasi kelamin?

Satu lagi, apa laki-laki di sini biasa memakai lipstick dan highheels ya, Mas? Coba jawab pertanyaan Jihan yang itu saja dulu,"

Hening. Tidak ada satu pun dari peserta reuni yang bisa menjawab pertanyaan Jihan. Para wanita hanya diam tertunduk. Sementara yang laki-laki berdeham rikuh atau berpura-pura bermain ponsel. Beberapa pengunjung di meja lain, memperlihatkan reaksi beragam. Ada yang mencuri-curi pandang. Ada yang berbisik-bisik dengan teman-temannya. Sampai ada yang terang-terangan menonton sambil memvideokan. Para peserta reuni mudah resah. Mungkin mereka takut kalau kehadiran mereka di sini, terlihat oleh pasangan resmi mereka masing-masing di media sosial. Wajah-wajah cemas mereka saling memandang satu sama lain. Kegelisahan terbias dari raut wajah mereka.

"Dan kamu Dian. Kamu ingat tidak, siapa yang menemanimu siang malam saat kamu terpuruk enam bulan lalu? Siapa yang membawamu ke rumah sakit tengah malam buta, saat kamu mencoba bunuh diri? Siapa juga yang mengatakan kalau seharusnya para pelakor di dunia ini ditembak mati? Siapa, Dian?" cetus Jihan sinis. Seperti yang tadi ia katakan pada Kanaya, saat ini ia menatap Diana tepat di matanya.

Kalimatnya sukses membuat para pesera reuni terperangah. Mereka pasti tidak tahu betapa tidak tau berterima kasihnya Diana. Sudah dianggap seperti saudara. Namun dengan tega terus menusuk punggungnya dari belakang.

"Karena sekarang kamu sudah menjadi bagian dari para pelakor itu, maka pertanyaannya aku ubah. Kapan kamu mau menembak dirimu sendiri?"

Diana menundukkan wajahnya kian dalam. Diana tidak kuasa menjawab sesuku kata pun pertanyaan-pertanyaannya.

"Kalau sekarang aku ingin bunuh diri karena depresi sepertimu enam bulan lalu, apa kamu bersedia membawaku ke rumah sakit? Atau kamu malah bertepuk tangan dan menari-nari kegirangan dan membiarkan aku mati? Coba jawab, Dian?" Suasana kian hening. Para peserta reuni kian gelisah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Jihan tepat menghujam mata hati mereka. Mereka semua salah. Hanya karena euphoria masa lalu, mereka mengabaikan kehidupan mereka di masa kini. Mereka menyesal.

"Aku minta maaf, Jihan. Aku salah," jawab Diana dengan suara tersendat. Wajahnya kian merah sampai ke telinga-telinganya. Diana pasti malu karena banyaknya pengunjung Starbuck* yang memandangnya dengan tatapan geram. Beberapa orang yang merekam ada yang memakinya pelakor tidak tau diri.

"Dan kamu, Mas Tommy. Ingat tidak janji Mas, tujuh tahun lalu, saat Mas melamar Jihan. Mas bilang, Mas akan setia dan mencintai Jihan sampai maut memisahkan. Ingat tidak, Mas?"

Kali ini pertahanan Jihan goyah. Teringat pada masa-masa indah di waktu lalu, dan membandingkannya dengan keadaan sekarang, hatinya serasa diiris kecil-kecil. Pedihnya tidak terucapkan. Air matanya mengalir perlahan. Merembes keluar dari sudut-sudut matanya. Menetes satu demi satu dalam tangis tanpa suara. Perut buncitnya tiba-tiba bergerak-gerak. Jihan refleks mengaduh dan mengelus-elus perutnya perlahan. Ketegangannya mungkin membuat bayinya tidak nyaman.

Tommy refleks maju dan bermaksud memeluk Jihan. Melihat Jihan menangis tanpa suara saat hamil besar seperti ini, membuat nuraninya bergetar. Istimewa melihat Niko, ikut menjebi-jebi. Putranya itu tampak kebingungan melihat ibunya menangis.

Sementara Jihan yang melihat Tommy ingin memeluknya, mundur beberapa langkah. Hingga pinggulnya membentur kursi di belakangnya. Ia tidak sudi lagi disentuh oleh tangan suaminya yang baru saja merangkul wanita lain. Tommy gentar. Enam tahun menjadi suami Jihan, ia sangat memahami karakter istrinya. Jihan ini walau lembut dan pengalah, tetapi sangat keras hati. Jika ia sudah mengatakan tidak, sangat sulit untuk membuatnya berubah pikiran. Tommy berkeringat dingin. Sepertinya rumah tangganya akan hancur hanya karena sensasi sesaat.

"Maafkan Mas ya, Jihan? Mas bersumpah, Mas tidak pernah berbuat hal yang dilarang agama dengan Dian. Kami hanya beberapa kali bertemu saja. Mas terjebak perasaan di masa lalu. Hanya itu, Sayang. Percayalah pada, Mas." Tommy kembali berusaha menyentuh Jihan. Biasanya jika Jihan sedang marah, sebuah elusan lembut di ubun-ubun serta ucapan maaf tulus, akan meredakan amarahnya. Namun kali ini, Jihan menepis lengannya kasar. Saat ia memaksa mencengkram pergelangan tangan Jihan, istrinya membentak marah. Kuatnya suara Jihan, membuat Niko sekarang menangis kencang. Niko pasti merasa ketakutan melihat mereka bertengkar. Jihan segera membujuk Niko dengan kalimat-kalimat menenangkan. Jihan sadar kalau nada suaranya yang tidak biasa, telah mengejutkan putranya.

"Mas, selingkuh itu tidak harus berhubungan badan. Dengan Mas saling berbalas chat mesra, dan langsung menghapusnya karena takut dilihat oleh Jihan saja, itu artinya sudah selingkuh Mas. Sudahlah Mas, Jihan tidak ingin lagi berpanjang kata. Dengar baik-baik, Mas. Mulai hari ini dan seterusnya, Jihan tidak akan lagi pulang ke rumah kita. Karena Jihan akan kembali ke rumah orang tua Jihan. Masalah selanjutnya biar ayah dan ibu saja yang akan membahasnya dengan, Mas. Jihan permisi dulu," Jihan membalikkan tubuh dan bermaksud berlalu dari hadapan Tommy. Ia ingin menenangkan Niko terlebih dahulu. Selain itu perutnya juga terasa kram. Mungkin karena sedari rumah tadi perasaannya sudah tidak karuan. Hingga mempengaruhi janin dalam kandungannya.

"Nay, Mbak pulang dulu ya? Mbak mau istirahat. Terima kasih karena kamu telah menemani, Mbak," pamit Jihan seraya berlalu. Jihan meninggalkan Starbuck* dalam keadaan sama-sama berlinang air mata dengan putranya.

Usai sudah. Jangan menangis, Jihan. Kamu harus kuat. Di dunia ini semua bisa berakhir. Orang bisa berubah. Satu hal yang pasti, hidup akan terus berjalan!

Bab 3

"Mengapa kamu belum pulang juga? Kamu bodoh sekali. Memberikan singgasana kamu begitu saja kepada orang lain yang cuma kebetulan singgah. Perempuan itu pasti bagaikan mendapatkan lotere sekarang. Pakai otakmu, Jihan!"

Pak Syahnan yang bermaksud mengecek apakah Jihan sudah pulang ke rumahnya sendiri, naik pitam saat mendapati putrinya itu masih ada di rumahnya.  Jihan ini keras kepala sekali. Hanya karena memergoki suaminya bersama dengan wanita lain, anak perempuannya ini langsung patah arang. Putrinya ini naif sekali. Laki-laki sesekali mencari kesenangan di luar rumah itu biasa. Namanya juga laki-laki. Yang penting mereka tetap pulang ke rumah.

Pak Syahnan yakin, Tommy tidak mencintai selingkuhannya itu. Tommy hanya iseng saja. Seperti dirinya dan semua laki-laki kaya di muka bumi ini. Menantu laki-lakinya itu memiliki segalanya. Harta, karir, nama besar keluarga, dan juga pernikahan yang sempurna. Makanya Pak Syahnan yakin, Tommy hanya sekedar iseng saja. Sudah menjadi rahasia umum kalau lagi-laki kelas premium itu mempunyai gaya hidup yang berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Karena memiliki segalanya, mereka juga ingin menikmati semuanya. Mereka salah? Tidak juga. Jiwa seorang laki-laki memang seperti itu. Petualang dan pemburu. Mereka tidak akan pernah puas terhadap wanita, sama seperti wanita yang tidak pernah puas akan uang. Perkara ini memang sudah ada dari zaman dahulu. Bedanya dulu dilakukan dengan terang-terangan karena dilegalkan. Sementara sekarang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena banyaknya lembaga-lembaga yang membela kaum perempuan. Tetapi prakteknya toh sama saja. Laki-laki kerap memenuhi hasratnya dengan berbagai cara. Intinya apapun usaha yang dilakukan perempuan untuk mengekang kegemaran mereka, hasilnya tetap nihil. Jadi untuk apa ambek-ambekan bukan? Prinsipnya hanya satu. Yang penting suami tetap pulang dan menafkahi. Habis cerita.  Mau mencoba mengubah insting dasar mereka, ibarat seperti mengharap matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur. Alias tidak mungkin! Ada laki-laki yang ingin membantah? Berarti selain pembohong, mereka juga munafik. Titik.

"Rumah tangga bukan perusahaan, Yah. Bisa dihitung untung dan ruginya secara signifikan. Rumah tangga itu isinya adalah tentang cinta dan kepercayaan. Kalau dua hal itu sudah tidak dimiliki, jadi apa nantinya rumah tangga kami?"

Jihan berupaya memberi pengertian pada ayahnya. Sembari melipat selimut, ia menjawab pertanyaan ayahnya sekedarnya. Sedari belum menikah pun, ia memang tidak pernah sependapat dengan ayahnya. Pandangan mereka berdua jauh berbeda.

Sudah seminggu ini Jihan menginap di rumah kedua orang tuanya. Jihan memang tidak mau lagi pulang ke rumah, setelah memergoki perselingkuhan Tommy. Keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Tommy. Sebenarnya pada hari pertamanya minggat, ia masih mempunyai  pemikirannya untuk berbaikan pada Tommy. Apalagi saat ibunya mengingatkan tentang kandungannya. Bulan depan ia akan segera melahirkan. Jadi ia tidak boleh egois hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada anak-anak yang juga harus diperjuangkan masa depannya. Menurut ibunya beri saja Tommy satu kesempatan lagi, dan ia pun setuju.

Tetapi setelah seminggu di sini dan Tommy tidak pernah menginjakkan kakinya untuk meminta maaf secara langsung, Jihan pun mengubah semua rencana hidupnya. Jihan merasa tidak ada gunanya lagi untuk melanjutkan rumah tangganya. Karena Tommy tidak merasa apa yang dilakukannya adalah sesuatu hal yang salah. Tommy menyebutnya dengan kata khilaf. Klarifikasi Tommy pun hanya melalui sambungan telepon saja, setelah Tommy gagal mengejarnya di kafe tempo hari. Jihan sekarang benar-benar sadar bahwa ternyata dirinya tidak sepenting itu bagi Tommy. Ia sekarang sudah melek.

"Resiko menikahi pria mapan, ya seperti itu, Han. Kamu pikir pejabat, pebisnis, dan para tokoh terkenal itu tidak punya selingkuhan?  Semuanya juga punya, Jihan. Jumlahnya puluhan atau berapa pun tidak ada yang tahu. Hanya saja, di atas kertas dan dalam bermasyarakat, mereka tetap setia pada satu istri. Istri-istri mereka juga tahu. Istri-istri mereka hanya berpikir, yang penting suami-suami mereka tetap pulang dan uang bulanan tidak kurang. Sudah sampai di situ saja. Kamu tidak percaya dengan kata-kata Ayah?"

Pak Syahnan terus mengomeli putrinya di ambang pintu. Ia kesal melihat Jihan yang sedari dulu tidak pernah akur dengannya. Beda sekali dengan Nihan, kakaknya. Yang selalu menuruti nasehat-nasehatnya. Makanya hidup Nihan dan keluarga kecilnya selalu adem ayem saja di London sana.

"Percaya sekali, Yah. Ibu adalah salah satu contoh nyata dari wanita-wanita itu. Dan Jihan adalah saksi hidup, bagaimana Ibu terus menangis setiap kali Ayah menyambangi madu-madu Ayah, atau perempuan mana pun itu untuk memuaskan nafsu sesaat Ayah. Dan Jihan bersumpah, kalau Jihan tidak mau menjadi bagian dari wanita-wanita itu. Jihan muak melihat bagaimana seorang suami yang seharusnya menyayangi dan melindungi istrinya, malah jadi orang yang paling menyakitinya. Jihan tidak mau mengalami nasib yang sama seperti Ibu, Yah!" terang Jihan dengan dada sesak.

Ia miris melihat kaumnya yang tidak bisa melawan karena memang tidak berdaya. Status sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan uang suami, serta malu karena nama baik menjadi buruk di masyarakat, membuat ibunya dan banyak perempuan-perempuan lain rela menahan luka batin.  Dan ia tidak mau ikut masuk ke dalam barisan sakit hati itu." Jihan tetap berpegang teguh pada prinsipnya.

"Kalau begitu, menikahlah dengan laki-laki kere yang hanya untuk memberi makan mulutnya sendiri saja susah, apalagi menyuapi mulut perempuan lain. Tapi dengan satu catatan juga. Kalau suatu saat mereka kaya, pasti mereka akan mencari makanan lain juga. Ingatlah, Han. Laki-laki itu hanya setia kalau mereka sedang susah. Coba kalau sudah sugih, pasti mereka akan bertingkah juga. Percayalah pada Ayah. Ayah sudah hidup setua ini!" bentak Pak Syahnan emosi. Bantahan putrinya semakin membuat Pak Syahnan naik darah. Idealisme tah* kucing seperti ini tidak akan membahagiakan putrinya juga. Percayalah.

Sungguh, ia sama sekali tidak mengira, kalau putrinya bisa sekeras kepala ini. Entah apa yang merasuki pikirannya. Putrinya ini belum tahu betapa sulitnya hidup sebagai seorang janda. Apalagi dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil. Terlebih lagi Jihan ini sudah terbiasa hidup enak sedari kecil. Mana mungkin putrinya ini bisa survive hidup sendiri? Ujung-ujungnya pasti akan menyusahkannya juga. Belum lagi mereka akan menjadi bahan omongan tetangga. Baru menikah beberapa tahun sudah bercerai. Aib ini akan mencoreng nama baik keluarga mereka tentu saja.

Jihan memandang ayahnya dingin. Sedari kecil ia telah dicekoki dengan perlakuan ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Keluarga ayahnya menerapkan sistem patriakri dan feodalisme. Di mulai dari kakeknya, Syahrul Jayawijaya yang masih keturunan ningrat, kemudian ayahnya, Syahnan Jayawijaya hingga dua orang pamannya. Mereka semua masih memperlakukan budaya perseliran. Adalah hal yang biasa jika para laki-laki di keluarga ini, memiliki istri simpanan, baik sah secara agama, ataupun hanya sekedar jajan-jajan saja. Mereka menganggap hal tersebut wajar-wajar saja, selama mereka tidak menelantarkan anak dan istri mereka. Pokoknya selama keluarga intinya cukup sandang, pangan, papan, maka mereka harus tunduk pada suami. Dan Jihan muak dengan segala ketidakadilan zaman feodal ini.

"Mungkin saja yang Ayah katakan itu benar. Istimewa karena Ayah berkelakuan sama seperti mereka, makanya Ayah berpikir kalau semua orang sepemikiran dengan Ayah. Tetapi laki-laki yang baik juga banyak, Yah. Jihan tidak suka menyamaratakan orang. Satu hal yang pasti  Jihan tidak sudi memunguti serpihan sisa-sisa cinta dari laki-laki jahat penyiksa psikologis perempuan. Maaf, Jihan tidak bisa bersikap seperti Ibu, yang selalu tersenyum walau telah Ayah perlakukan seperti keset wellcome."

Air muka ayahnya menghitam saat mendengar argumennya. Tangan kanan ayahnya seketika terangkat ke udara. Jihan memejamkan matanya. Siap-siap menerima perlakuan kasar ayahnya. Sikap ayahnya selalu seperti ini. Menggunakan kekerasan apabila ayahnya tidak bisa membantah kebenaran argumennya. Satu hal yang tidak Jihan duga adalah ibunya tiba-tiba saja menerobos ke dalam kamar. Sepertinya ibunya sudah cukup lama berdiri di balik pintu kamar yang memang terbuka separuh.

"Jangan pernah menyakiti Jihan lagi, Mas! Jihan sedang susah. Sebagai orang tua, seharusnya Mas mendukung Jihan. Bukannya terus menekannya."

Bu Rianti menyerbu masuk ke dalam kamar. Dengan sigap ia menahan laju tangan suaminya. Sudah cukup selama ini ia menjadi korban keegoisan suaminya. Ia tidak mau kalau putrinya juga ikut teraniaya. Sekarang ia sudah tua. Ia sudah tidak takut apapun lagi. Ia sudah muak dengan segala urusan duniawi. Namun selama ia masih hidup, ia akan terus berusaha melindungi anak-anaknya.

"Aku bertahan selama ini, demi anak-anak dan nama baik keluarga kita. Tetapi kalau Mas kembali main tangan seperti ini, aku tidak akan mengalah lagi, Mas," sergah Bu Rianti tegas.

Jihan terkesima. Untuk kali pertama, Jihan melihat ibunya berani menentang ayahnya. Tatapan ibunya juga berbeda. Jika biasanya ibunya mengalah dan manut-manut saja, kali ini tatapan ibunya membara. Ibunya bersikap galak seperti seekor induk ayam yang melindungi anak-anaknya. Ayahnya sejenak tertegun, sebelum mendengkus kesal.

"Baik! Kalau kamu tidak mau menerima nasihat Ayah, terserah! Tapi ingat, jangan menyusahkan Ayah dan mencari perlindungan di rumah ini. Pokoknya, selama Tommy tidak mengantarkan kamu pada Ayah, Ayah tidak akan menerima kehadiranmu. Ayah tidak suka kalau kamu sedikit-sedikit minggat dari rumah. Seperti tidak diajari tata krama oleh orang tua saja!"

Pak Syahnan bergegas keluar dari kamar setelah memperingati putrinya. Perempuan sekarang memang banyak maunya. Tidak seperti perempuan di zamannya dulu. Semua hal mereka pasrahkan kepada orang tua. Apalagi kali ini, Rianti ikut-ikutan menentangnya. Entah mengapa akhir-akhirnya ini anak-anak dan istrinya banyak tingkah. Sebaiknya ia ke rumah madunya saja. Di sana ia akan disambut seperti raja dan diperlakukan penuh cinta.

Akan hal Bu Rianti, ia hanya bisa menarik napas panjang, saat suaminya berlalu sembari membanting pintu. Dulu ia selalu mengalah mengingat anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Ia takut kalau ia tidak mampu membesarkan anaknya dengan layak, apabila ia menentang Syahnan. Ia hanyalah seorang ibu rumah tangga, yang mengandalkan uang suami. Menentang artinya tidak makan. Makanya ia terus bersabar walau hatinya berdarah-darah. Namun kini tidak lagi. Ia sudah tua. Usianya pun mungkin tidak akan panjang lagi. Oleh karena itu, selama ia masih hidup, ia akan terus mendukung anak-anaknya. Karenanya mulai sekarang ia harus kuat, agar bisa membagi kekuatan pada putrinya juga.

Karena Syahnan tidak memperbolehkan Jihan tinggal di rumah ini, Bu Rianti pun mempersiapkan sebuah rencana. Intinya ia akan selalu mensupport Jihan, sampai batas kemampuannya.

***

Irama musik EDM menghentak-hentak penuh gairah di Exodus. Pada dini hari seperti ini, memang waktunya para pecinta dunia malam beraksi. Di dance floor, para wanita-wanita muda berpakaian seksi bergoyang panas dengan gaya sensual. Mereka sedang berlomba-lomba mencari perhatian para pria hidung belang berkantong tebal, atau sekedar bergembira ria melepas kepenatan. Sementara para eksekutif muda yang sedang dugem, tertawa mesum sembari mengamati para penjaja cinta semalam yang bisa mereka booking. Sejurus kemudian para eksekutif muda itu telah memindai wanita-wanita incaran mereka. Dan kini kedua kubu yang sama-sama saling membutuhkan itu, tengah melakukan transaksi jual beli syahwa*.

Di tengah para penikmat dunia malam itu, Tommy duduk sendirian di bartender. Di depannya tersaji tiga gelas whiskey yang telah kosong, dan satu yang masih terisi setengahnya. Tommy menikmati minuman beralkohol itu untuk menghilangkan bayangan Jihan dan Niko. Namun semakin ia mabuk, bayangan istri dan anaknya itu malah semakin terbayang-bayang di benaknya.

Karena efek alkohol tidak jua bisa membuatnya tenang, Tommy meraih sebatang rokok. Setelah rokok dibakar, Tommy menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian ia menghembuskan asapnya dalam bentuk bulatan-bulatan berwarna kecil putih. Ia terus melakukannya berulang-ulang, demi membunuh rasa bosan.

Tanpa Tommy sadari, sesosok tubuh langsing langsung memindainya, saat masuk ke dalam club. Sosok itu mengembangkan seulas senyum bahagia, saat melihat pria pujaannya duduk sendirian di bartender. Sepertinya sang pria pujaannya itu belum berbaikan dengan istrinya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini adalah saat yang tepat untuk mencoba peruntungannya. Dan wanita itu pun perlahan berjalan menghampiri sosok Tommy. Waktunya berjudi dengan keadaan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED