Bab 1

Jarum jam sudah menunjukan pukul 07:00 AM.

Seorang gadis bercadar tampak sibuk menjejal bekal nasi dan ponsel ke dalam tas. Kini Ia telah bersiap untuk berangkat kerja.

Ketika hendak keluar dari kamarnya, kakinya mendadak terhenti tepat di ambang pintu.

Kepalanya mendongkak menatap wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapan dengan jarak dekat. "Ibu?"

"Tadi Sera datang buat jemput kamu. Tapi udah Ibu usir!" kata Ibu dengan nada yang terkesan ketus.

Mata gadis itu melebar. Ia tidak percaya jika Ibunya akan bersikap seperti itu pada teman kerjanya yang hendak memberi tumpangan motor. "Tapi kenapa, Bu? Aku kalau tidak naik motornya bisa telat," Gadis itu mulai terlihat gelisah. Wajah dibalik cadar itu tampak panik dan sesekali ia melirik Jam di dinding.

"Ibu sengaja mengusir dia biar kamu enggak usah kerja, Haura."

"Ya Allah ... Kok Ibu tega sih?" Haura merasakan pening di kepalanya. Sampai tangannya menyentuh kening yang mendadak terasa sakit. "Bu, Haura udah sering libur. Bisa -bisa gajinya dipotong besar. Padahal akhir bulan nanti, Kepengen Haura untuk melunasi hutang kasbon,"

Lea Nama Ibunya. Ia kerap kali meminta uang pada Haura dari hasil jeri payah selama kerja di toko Busana muslim. Kadang memaksanya untuk kasbon dengan jumlah melebihi dari gajinya pada majikan. Tentu saja Haura merasa keberatan. Tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan Ibu lantaran takut dicap anak durhaka.

Haura adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya telah lama meninggal. Menjadikan dirinya pengganti tulang punggung dalam mencari nafkah untuk keluarga.

Kakak perempuan yang bernama Erin sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di kota lain.

Jadi, tinggal Haura sendiri yang harus bertanggung jawab dalam membiayai sekolah TK adiknya yang bernama Choki yang usianya sekitar Lima tahun.

Bukan hanya itu saja, Ia juga membiayai kebutuhan sehari-hari seperti untuk kebutuhan dapur dan sebagainya.

Lea tidak bekerja lantaran sibuk mengurus Choki, anak bungsu yang paling manja. Mulai dari mengantarkan sampai menjemputnya di sekolah TK.

Lea sebagai Ibu kelihatannya pilih kasih dalam bersikap baik terhadap anak. Terbukti perlakuannya terhadap Haura sangat berbeda jika dibandingkan dengan Erin dan Choki yang selalu di sayang dan dimanja oleh Lea.

Tapi, apa boleh buat? Haura hanya bisa bersabar hati. Walau bagaimana pun Lea adalah Seorang Ibu yang melahirkannya, nan harus dihormati.

"Hallahhh ... Kasbon! Ngapain dipikirin? Kan bisa juga bulan depan?!"

"Iya bisa, Tapi aku keberatan dengan ini. Hutang itu Dosa, Bu."

"Jangan sok suci kamu! Pake bilang itu dosa-itu dosa! Dipikir Ibu enggak tahu kelakuan kamu diluar sana kaya apa?!"

"Astagfirulloh ... " tangan Haura bergetar lemas. Tidak menyangka akan penilaian Ibunya terhadap dirinya berprasangka buruk. "Istighfar, Bu!"

"Kalau tentang Video ituloh, bagaimana?"

Haura benar-benar tidak mengerti yang dimaksud Sang Ibu. "Video? Video apa?"

"Itu makanya Ibu gak nggak ngasih kamu izin untuk kerja hari ini karena ada yang ingin ibu bicarakan tentang video itu,"

Lea berbalik menghampiri kursi di ruang tamu. "Sebaiknya kita ngobrol sambil duduk saja. Kaki Ibu pegal kalau kelamaan berdiri di situ,"

Mau tidak mau, Haura mengikuti langkahnya hingga dirinya sampai menduduki sebuah kursi.

Haura sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Ibu. Jari-jemarinya sudah nampak berkeringat tengah meremas gaun gamis yang sedang dikenakan.

Entah, kenapa ia merasakan tidak enak hati. Seperti ada sesuatu yang buruk bakal terjadi padanya.

Haura menatap lekat-lekat ke arah sang Ibu yang tengah sibuk dalam mengotak-atik ponsel.

Kemudian, Lea menyerahkan ponselnya pada Haura. "Nih, kamu lihat ini!"

Dengan wajahnya yang diliputi oleh kebingungan dan rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun, ia meraihnya dan segera menatap layar ponsel.

DEG!

Layar ponsel itu telah menampilkan adegan tak senonoh, membuatnya terkejut!

Sontak saja ia buru-buru menutup bola matanya dengan perasaan serba salah.

Berkali-kali suaranya terdengar tengah beristighfar.

Ponsel yang masih dalam genggaman tangan Haura tampak ikut bergetaran mengikuti perasaan gadis itu, lemas.

Lea buru-buru merebut ponsel itu. Membuat bola mata Haura membulat.

"Ini kamu kan yang ada di video ini?" tuduh Lea seraya mengacungkan ponselnya.

Haura menggeleng cepat. Ia membantah kalau pemerannya itu bukanlah dirinya. "Bukan Bu. Demi Allah, aku tidak pernah melakukan itu,"

"Bohong!" ucap Ibu tak percaya. Ia melirik lagi pada layar ponsel yang masih menampilkan adegan syurnya Seorang lelaki dengan perempuan bercadar. Namun, setengah telanjang dengan gamis bagian bawahnya yang di tilap ke atas. "Ini Rainer lagi main sama kamu. Gak usah mengelak deh, hanya karena kamu telah tertangkap basah sama Ibu,"

Di balik cadar bibir bawah Haura tampak bergetar. Menahan rasa sakit hati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. "Ibu, itu bukan aku. Ibu harus percaya sama aku," mohonnya dengan suara lirih.

"Bagaimana Ibu mau percaya sama kamu," Sembari menunjuk layar ponsel. "Ini aja terbukti, nih! Ini bukannya pakaian gamis dan cadar warna merah itu punya kamu?"

Haura membenarkan Bahwa Gamis bermotif kotak-kotak warna merah senada dengan cadar yang dikenakan pemain wanitanya sama persis seperti miliknya. Ia pernah kehilangan pakaian itu satu bulan yang lalu. Tapi, ia bersumpah bahwa wanita itu bukanlah dirinya.

"Udah ngaku aja, ngapain malu sama Ibu? Ibu akan minta pertanggung jawaban sama Rainer biar kamu segera dinikahin!"

DEG!

Badan rasanya mulai lemas.

Bahunya tampak menurun.

Jantung yang tiada hentinya berdetak lebih cepat.

Sosok Rainer dimatanya bukanlah pria yang diidamankan. Ia merasa keberatan dengan keinginan sang Ibu.

Reiner kerapkali bersikap kasar terhadapnya meski keduanya tidak ada hubungan apa-apa.

Seringkali Haura mendapat ancaman dari Rainer hanya karena dirinya menolak cinta. Dari jauh sebelumnya sudah terlihat tanda Redplag pada diri Reiner membuatnya ragu untuk menerimanya.

Sungguh, saat itu hingga kini Haura tidak menginginkan hubungan seperti pacaran.

Bahkan, Haura sendiri mengakui telah menemukan sosok pria lain yang membuatnya jatuh hati meski dalam diam. Begitupun dengan pria tersebut. Terlebih Pria ini sangat baik dan ramah. Itulah yang membuatnya kian jatuh dalam pesonanya. Ia sangat mengharapkan pernikahan dengan pria yang bernama Ali dalam lantunan setiap do'a ketika menghadap Sang Maha Khaliq.

Tapi kembali lagi, Haura tidak menyangka bahwa ancaman dari Rainer rupanya tidak main-main!

Air bening tampak menggenang di kedua bola matanya. Menahan berat beban yang ia pikul sendiri rasanya ia sudah tidak sanggup lagi.

Hatinya menjerit disertai dengan isak tangis yang tak mampu ia bendung.

Cadarnya yang masih melekat di wajah tampak ikut basah karena tetesan air mata.

Kenapa ujianku begitu berat Ya Allah ...

Sungguh, ini rasanya menyakitkan dituduh berbuat mesum.

"Tapi, Ibu mendapatkan video itu dari mana?" dalam hatinya ada rasa was-was dan situasi yang seperti ini sangat menegangkan. Takut jika video itu telah tersebar selain kepada Ibunya. Meski dalam video itu bukan dirinya. Akan tetapi, gamis dan cadar yang dipakai pemain sama persis dengan milik dirinya. Siapapun akan berpendapat sama seperti Ibu. Menuduhnya.

"Ya, si Rainer sendirilah yang kirim. Katanya salah kirim, dan bilang mau dikirim ke ponsel kamu,"

Ternyata firasatnya itu benar, bahwa pelakunya tak lain tak bukan adalah Rainer sendiri.

Rainer telah sengaja melakukan hanya agar terjadi pernikahan antara dirinya dengan Haura.

Begitulah akal liciknya yang pinter manipulatif.

Untuk mendapatkan Haura cukup mudah. Tentunya Rainer bisa memanfaatkan kebaikan Ibunya Haura, Lea. Ia telah mengetahui hubungan Antara Ibu dan anak itu sedang tidak baik-baik saja.

Caranya dengan mendekati Lea dan mencoba akrab layaknya Ibu dan anak kandung.

Hidupnya sebagai seorang CEO, dengan karir yang sudah cukup sukses di usia Dua puluh tahun. Apapun yang Rainer inginkan akan jauh lebih mudah tergapai. Terlebih keinginan untuk mendapatkan Haura.

Sikapnya yang pura-pura baik dengan memberi lembaran uang merah pada Lea setiap kali berkunjung ke rumahnya. Dengan begitu, pasti wanita paruh baya seperti Lea akan berpikir jika Rainer lebih cocok sebagai menantu karena jaminan hidup yang tak main-main untuk kesejahteraan di masa depan putrinya, Haura.

Rainer yang selalu mengusahakan untuk bersikap sopan dan ramah demi menarik simpati Lea. Dengan drama yang ia perankan dengan apik, membuat Lea merasa kasihan.

Pada akhirnya Lea memilih berpihak pada Rainer dan mulai mendukung untuk menikahkan Rainer dengan Haura.

Lea yang lebih mempercayai Rainer daripada Haura, anak kandungnya sendiri. Membuat Haura membatin getir.

Sejak itu, Pada malam harinya Rainer akan datang ke rumah atas permintaan Lea.

Ini sudah saatnya untuk membicarakan keseriusan mereka.

Rasanya, Rainer sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk segera meminang Haura. Wanita bercadar, berusia Dua puluh tahun. Sosok gadis yang membuatnya penasaran dan semakin ingin untuk memilikinya.

Rainer membuka pintu Ferrari California HS30 berkelir kuning. Kemudian mendudukannya di kursi kemudi.

"Rainer!"

Rainer segera menurunkan kaca jendela mobil. Membiarkan wanita itu untuk berbicara padanya. "Iya kenapa?"

"Kamu mau kemana? Kita baru saja bersenang-senang. Kok, malah mau pergi lagi?" tanya seorang wanita yang bernama Agnes.

Wanita muda yang cantik dan juga seksi dengan balutan kaos putih polos berpadu celana pendek sebatas paha. Sementara rambut panjang sepinggang dibiarkan tergerai.

Dia adalah kekasih Rainer yang sebenarnya. Rainer telah menyembunyikan sosok wanita ini di daerah terpencil yang jauh dari pusat kota.

Mereka berdua sudah lama tinggal bersama di sebuah Villa tanpa ikatan pernikahan.

Terlebih di sana benar-benar tidak mendukung signal.

Tapi, bagi Agnes itu tidaklah masalah. Yang terpenting baginya tinggal bersama Rainer membuat hari-harinya dipenuhi oleh rasa bahagia.

"Udah, kamu enggak usah tahu aku mau pergi ke mana. Nanti juga aku bakal balik lagi kok, buat kamu,"

Tangan yang penuh oleh gambar tato itu mencubit hidung gemas milik Agnes. Membuat Gadis itu meringis sembari memundurkan wajahnya.

"Bener ya, kamu bakal balik lagi?"

Rainer mengangguk senyum. Tangannya tampak mengelus surai milik gadis itu. Membuat gadis itu nyaman dan merasa hanya dirinya yang paling disayang oleh Rainer.

"Kira-kira, mau balik laginya jam berapa?"

Agnes merasa takut jika ditinggal lama sendirian di Villa dimalam hari. Terlebih posisi Villa berada di tengah perkebunan yang luas milik Rainer.

Villa itu tidak memiliki tetangga. Maka dari itu, wanita muda tersebut hanya menghabiskan waktunya di villa dengan menikmati makanan, melihat pemandangan alami, negym yang alatnya sudah tersedia di dalam villa. Ia benar-benar menikmati semua aktivitasnya agar bisa menghilangkan rasa jenuh. Terlebih Rainer yang selalu menemaninya dengan penuh kehangatan. Membuatnya merasa nyaman tinggal di Villa.

"Enggak akan lama kok, di situ. Nanti bakal balik lagi setelah membeli gamis dan cadar untuk kamu,"

Dahi gadis itu tampak berkerut samar. "Kamu mau aku pake busana kayak gitu setiap hari?"

Rainer menggeleng senyum. "Tidak, itu hanya sekali buat kamu pake nanti saat melakukan ritual ranjang bersamaku,"

Bersambung ...

Bab 2

Lea tergopoh-gopoh membuka pagar rumahnya. Membiarkan mobil Ferarri memasuki pekarangan.

Setelah itu, ia menutup kembali dan segera menyambut Rainer dengan penuh antusias saat keluar dari mobil.

Lelaki bertubuh jangkung itu diapit untuk segera masuk ke dalam rumah berbentuk minimalis.

Di ruang tamu sudah ada Erin bersama suaminya, Leo.

Lea sengaja mengundangnya karena ada yang ingin ia bicarakan mengenai rencana pernikahan Haura dengan Rainer.

Erin yang datang jauh-jauh dari Taraju, tentu saja ia tidak keberatan untuk mengunjungi rumah sang Ibu, dan sekalian menginap mungkin beberapa hari ke depan setelah poses acara adiknya selesai.

Saat Rainer datang dengan kaki melangkah masuk, ia segera menyalami Erin, juga suaminya.

Aroma farpum kian terasa menyegarkan.

Terlebih Lelaki itu, enak dipandang dengan penampilan elegan, berkelas dan berwibawa.

Serta wajahnya yang sangat tampan dengan pahatan yang paling sempurna. Seperti memiliki hidung mancung dan manik mata yang kian mempesona.

"Ya Ampun, calon suaminya Haura ternyata tampan, ya," Erin memuji Rainer. Kemudian, ia menatap suaminya. Begitu juga suaminya berpendapat yang sama, yaitu Rainer memiliki paras yang sangat tampan. Bahkan kulitnya sangat putih seperti susu.

Mendapat pujian seperti itu, pipi Rainer mendadak berubah warna menjadi merah merona.

"Tuh, kan, apa yang Ibu bilang, kalau calonnya adikmu itu memang ganteng. Kamu sih, gak percaya," Lea begitu bangga dalam memuji calon menantunya yang sangat tampan itu.

Erin sempat tidak percaya bahwa akan ada yang mau melamar adiknya, Haura. Sebab, adiknya itu terkenal orang yang sangat tertutup. Seperti tidak memberikan jalan bagi laki-laki yang ingin menggaet hatinya.

Jarang Erin melihat adiknya dekat dengan seorang laki-laki. Apalagi pacaran tidak ada di kamus adiknya.

Erin sempet akan menjodohkan adiknya dengan teman-temannya yang bukan orang sembarangan. Tapi, lagi-lagi Ia hanya bisa sabar terhadap penolakan dari sang adik.

Lebih kecewanya, Haura malah memutuskan untuk bercadar. Tentu saja hal itu malah semakin memberatkan dirinya dalam mencarikan pasangan untuk sang adik.

Siapa yang mau kalau wajahnya saja tidak kelihatan?

Umur adiknya sudah pas untuk menikah.

Namun, kedatangan Rainer yang mau menerima Haura apa adanya telah membuat Erin dan Leo merasa terharu.

Wajahnya yang sangat tampan dan masih muda. Terlebih lelaki itu memiliki bisnis yang sudah sukses.

Erin merasa tidak percaya lelaki yang memiliki paket komplet ini telah bersedia untuk meminang Haura tanpa melihat wajah alias apa adanya.

Sekarang, Mereka terlibat obrolan ringan. Bercerita tentang aktifitas masing-masing seraya duduk santai di sofa ruang tamu.

Sementara Haura, Gadis itu tampak cemas dan gelisah.

Beberapa kali kakinya mondar-mandir di lantai kamar.

Memikirkan bagaimana agar pernikahan dengan Rainer itu tidak terjadi.

Sungguh, ini bukan keinginannya.

Kalau saja Video itu tidak ada, kemungkinan rencana ini tidak akan terjadi. Ia akan menolak mentah-mentah pinangan dari Rainer.

Ia tahu bagaimana seorang Rainer. Membuat Video mesum itu untuk menjebaknya.

Haura benar-benar tidak percaya, Rainer telah melakukan sesuatu diluar batas kesabarannya.

Kini, kakinya berhenti. Haura telah memiliki Ide untuk bisa menghancurkan video itu, yang pastinya file rahasianya sedang ada di tangan Rainer. Ia harus mendapatkannya sebelum pernikahan itu terjadi.

Tok!

Tok!

Tok!

Haura menoleh ke arah pintu yang tengah diketuk oleh seseorang dari luar sana.

Tangan kanannya memutar knop pintu.

CKkleeek!

Ketika pintu itu sedikit dibuka, menampilkan sosok pria maskulin dengan kemeja putih sebagai atasan berpadu celana hitam formal dibawahnya. Serta sepatu hitam yang terpasang di kakinya itu sengaja membuka pintu itu agar lebih lebar.

Lelaki itu menarik sudut bibir dengan gaya smrk.

Haura merasakan darahnya seketika mendidih saat memandanginya.

Ia benar-benar merasa muak!

Ada rasa ingin marah bercampur rasa jengkel di dalam benaknya.

Ia begitu benci atas apa yang sudah pria ini lakukan terhadapnya.

Membuat video mesum, lalu menuduhnya. Apa itu tidak keterlaluan?

Meski bukan ia pemerannya, tapi apa yang bisa Haura lakukan? Mengingat pemerannya memakai pakaian miliknya, pasti siapapun akan menyangka kalau pemerannya adalah dirinya.

Kedua bola matanya kian menajam ke arah sosok pria di depannya seiring kedua telapak tanganya mengepal kuat.

Namun, ia tersadar dan beristighfar sambil menundukkan kepalanya.

Akhirnya ia bisa mengendalikan emosi itu yang sempat menyerangnya.

Air matanya satu-persatu mulai menetes dari sudut matanya.

Maafkan aku Ya Allah ...

Aku khilaf ...

Haura terisak dengan penuh perasaan bersalah.

Ia hanya manusia biasa tidak luput dari setiap kesalahan.

Memiliki perasaan emosi kapan saja akan meledak jika sudah tidak sanggup untuk menahannya lagi.

Haura tampak mencoba untuk sabar dengan napas yang diaturnya.

Tegar dalam menjalani hidup yang penuh dengan lika-liku ini.

Segala kepahitan hidup yang saat ini dirasakan, Tapi ia percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkan hal terindah untuk dirinya suatu saat nanti.

Ia sangat percaya itu.

Biarlah kali ini dirinya menikmati sekenario yang sedang Tuhan rencanakan.

"Kenapa?" Lelaki yang tak lain tak bukan ialah Rainer tengah menyeringai sambil mencodongkan wajahnya ke arah Haura.

Ia merasa puas dalam mempermainkan gadis polos ini. "Kamu marah? Ayo, marahi aku sesuka hatimu kalau bisa,"

"Dengar, Ibu dan Kakakmu sedang berada di pihakkku sekarang. Sesusah apapun kamu menjelaskan Video itu, mereka tidak akan mempercayaimu, ingat itu!" Peringat Rainer dengan matanya yang kian tajam.

Haura semakin terisak. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa?

Dadanya merasakan sakit.

Rainer begitu tega menyakitinya.

Haura mendongakkan kepala. Bola mata yang sudah berembun itu menatap dengan lekat-lekat wajah Rainer. "Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku?"

Rainer tersenyum puas. Tidak tahu kenapa ia merasa senang sekali kalau melihat Haura menangis karena dirinya.

"Kamu masih gak nyadar salahmu di mana? Ingat gak, waktu aku nembak di tempat kerja kamu?"

Haura tertegun. Bahkan bola matanya tampak kosong saat mengingat waktu itu, Ia tidak dapat berkata-kata lagi.

"Kamu menolakku mentah-mentah membuatku merasa dipermalukan seperti aku sudah tidak ada harga diri,"

Benar, saat di depan toko tempat kerja Haura, Rainer datang sembari membawa sebuket bunga untuk diberikan padanya sebagai kejutan.

Rainer telah menyewa Beberapa penari untuk bernyanyi dan menari ketika dirinya sedang menyatakan cintanya dihadapan Haura.

Hal itu agar terkesan Sweet dan romantis.

Rainer telah bekerja sama dengan pemilik toko alias majikan Haura untuk memperlancar segala rencana.

Rainer bersimpuh di hadapan Haura. Bahkan bola mata gadis itu masih dalam keadaan tertutup kain hitam.

Sementara orang-orang berdatangan ingin menyaksikan moment romantis yang dilakukan seorang pria untuk gadis bercadar. Mereka telah mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel.

Ketika rekan kerjanya membantu melepaskan kain hitam itu, Kedua bola mata Haura nampak membulat sempurna saat memandang sekelilingnya.

Tubuhnya tampak tegang dan kikuk ketika tahu bahwa dirinya telah menjadi pusat perhatian orang lain.

Dirinya juga terkejut ketika mendapati Rainer tengah bersimpuh sembari tangannya yang sedang menggenggam sebuket bunga terulur ke arahnya.

Ia mulai paham dengan situasi ini.

Haura menebak jika Rainer sedang menembaknya.

Tapi mau bagaimana, Haura tidak memiliki perasaan apapun terhadap Rainer.

Tapi, ia juga merasa berat untuk menolaknya.

Takut kalau ia melakukannya justru akan mempermalukan lelaki itu dan membuatnya kecewa.

Hanya ada satu orang yang masih tersimpan di dalam hatinya.

Dia adalah Ali yahya. Rekan kerjanya di toko.

Ali Bekerja sebagai kepala toko. Lantaran kerja di tempat yang sama, membuat keduanya hampir tiap hari bertemu.

Bahkan keduanya kerap kali terlibat obrolan mengenai pekerjaan.

Sedekat itu jika mereka bersenda gurau penuh dengan canda tawa. Entah karena bicara selain pekerjaan mereka juga membahas hal yang paling lucu dalam kesehariannya.

Tanpa sadar, kedekatannya itu membuat rasa nyaman semakin melekat dalam benaknya.

Seiringnya waktu terus berjalan, rasa nyaman itu seketika bertambah menjadi rasa yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Haura yakin bahwa itulah yang dinamakan cinta. Setelah mencarinya dan bertanya-tanya bagaimana rasanya?

Tapi, Kehadiran Ali, membuat segala pertanyaan dalam benak akhirnya terjawab.

Mungkin, Ali adalah cinta pertamanya.

Haura melirik Ali dengan diliputi oleh rasa bersalah.

Ia tahu arti dari ekapresi Ali ketika menatapnya. 'Cemburu'

Ali hanya bisa membuang wajah. Menyembunyikan rasa kecewa yang kian meresap dalam relung hati.

Dengan perasaan hati kian merasa bimbang dalam dilema, Haura harus membuat keputusan mutlak.

Keputusan yang harus ia ambil dengan segenap hati.

Ia harus memilih salah satu diantara Rainer atau Ali untuk masa depannya.

"Haura, aku .. aku mencintaimu. Mau kah kamu menerima perasaanku? Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak mampu untuk menahan gejolak hati untuk mendapatkanmu. Aku janji, aku akan membuatmu bahagia dengan caraku sendiri," ungkap Rainer dengan sungguh-sungguh.

Dibalik sikap beraninya dalam menyatakan cinta, ada rasa deg-degan juga rasa tak percaya diri.

Sungguh, ia takut salah dalam berucap. Ia bukanlah orang yang pandai dalam merangkai kata mutiara seperti Marry Riana.

Tapi ia berharap, Haura dapat mengerti maksud dalam setiap ucapannya barusan.

"Maaf ... "

"Eh???"

Kepala Rainer mendongkak menampilkan ekspresi tak percaya. Rainer terkejut dengan jawaban itu walaupun hanya satu kata yang terucap dari bibir wanita itu.

Dari Kata Maaf saja, sudah membuat hati Rainer sakit. Ia paham dengan maksudnya, tapi ia juga ingin mendengar kata selanjutnya ...

"Aku tidak bisa menerima kamu,"

DEG!

Jantung dalam diri Rainer seketika berhenti berdetak.

Waktu seolah kian melambat.

Dunia pun ikut berhenti berputar.

"Aku ... " Haura menoleh pada Ali. Wajah teduhnga itu seperti tengah mengungkapkan sebuah perasaan.

Reiner mengerti arti dari tatapan Haura yang sedang tertuju pada Ali.

Ia bangkit sambil tersenyum getir.

Inikah balasan yang harus ia dapatkan setelah bersusah payah memberikan apapun untuk Haura dan keluarganya?

Rainer telah menghabiskan berpuluhan juta untuk Haura dan keluarga agar kehidupannya lebih mudah. Termasuk soal pekerjaan.

Haura yang memilih pakaian cadar akan sulit rasanya untuk menemukan suatu pekerjaan.

Tapi bagi Rainer itu hal yang mudah. Cukup dengan uang, ia bisa meminta orang lain untuk menerima lamaran kerja gadis impiannya.

Namun, ia tidak menyangka, atas balasannnya dari Haura yang sungguh mengiris hatinya.

Miris memang. Kisah cintanya tidak seberuntung Ali.

Ali, seorang lelaki yang begitu digilai dan cintai oleh gadis impiannya.

Hatinya sakit dan merasa malu saat tahu cintanya ternyata tengah bertepuk sebelah tangan.

Bersambung ...

Bab 3

Rasa sakit itu perlahan merayap ke dalam hati lantaran Haura lebih mencintai Ali dari pada dirinya.

Hal itu membuatnya semakin menumbuhkan rasa benci yang kian menguasai dalam jiwa.

Berkat kekuasaannya bisa memiliki koneks yang kuat bisa membuat hidup seseorang lebih muram.

Rainer telah melakukan sesuatu hingga membuat Ali berakhir dengan pemecatan kerja.

Tentu saja Rainer memiliki tujuan tertentu dalam membuat keputusan itu.

Karena hal itu agar Ali tidak sering bertemu lagi dengan gadis impian.

Ia terlalu lengah untuk menjaga gadis pujaannya. Ia pikir, tidak akan ada seorang pun yang menyukai Haura karena wajah gadis itu memakai cadar. Namun, anggapannya ternyata keliru.

Sudah sejak lama ia mencium gelagat aneh dari keduanya yang mencurigakan.

Keduanya sangat dekat satu sama lain layaknya sebuah perangko.

Seperti memiliki hubungan lebih dari sekedar rekan kerja.

Rainer tidak terima dengan kedekatan mereka yang dinilai terlalu berlebihan.

Ia merasa cemburu ...

Untuk memberikan pelajarannya, Rainer sudah meminta pada setiap perusahaan untuk tidak menerima lamaran kerja Ali.

Biarlah lelaki itu menikmati hidup tanpa pekerjaan dan uang.

Itulah akibatnya jika berani macam-macam pada seorang Rainer!

"Bagaimana perasaanmu melihat Ali yang kamu cintai kehidupannya sekarang sedang melarat?"

Haura menggelengkan kepala seraya terisak. "Kenapa kamu tega melakukan ini, Rai? ucapnya dengan suara sengau.

"Kalau saja waktu itu kamu menerimaku, mungkin kehidupan Ali tidak akan seperti sekarang,"

"Tapi sekarang aku menerimamu, jadi aku mohon hentikkan semua ini?!"

Jari telunjuk milik Rainer mengacung seraya berputar tepat di depan bola mata Haura, "No, No, No, tidak semudah itu,"

"Ali tidak pernah melakukan kesalahan sama kamu, kenapa kamu membawanya ke dalam masalah kita? Ini tentang kita,"

"Yeahhh .. kamu benar, ini tentang kita antara aku," menunjuk dadanya sendiri, "kau .. " menunjuk dada milik Haura, "dan dia!" ucap Rainer dengan jari telunjuk mengarah ke samping.

"Dia datang sebagai penghancur! Dia ... Dia telah mengambil kamu dariku, aku tidak terima! Perubahan sikapmu Membuatku malu di depan semua orang. Jadi biarlah ini pelajaran untuknya agar tidak berani macam-macam lagi denganku,"

"Kamu bukan siapa-siapa aku, tapi kamu selalu saja mengaturku, menuntutku! kamu tahu, aku tidak suka itu!"

"Dari dulu juga kamu enggak suka, kan, sama aku? Aku dari dulu sudah bersikap baik sama kamu, memberikan barang mewah, apapun yang keluargamu mau aku selalu kasih, tapi malah ini balasan yang aku dapatin dari kamu,"

Bola mata yang sudah berair itu menatap Rainer lekat-lekat, "Aku tidak pernah meminta apapun dari kamu, kamunya aja yang ngasih sendiri tanpa aku minta, jadi gak usah ngasih lagi kalau ujungnya diungkit lagi!"

Kedua tangan Rainer meremas bahunya Haura. Membuat gadis itu terperanjat.

Tegang, dan panik. Itu yang gadis itu tengah rasakan.

"Katakan, apa alasan kamu tidak menyukaiku? Aku memiliki wajah tampan, bisnisku sudah sukses, punya rumah yang besar, juga mobil mewah, aku bingung dengan seleramu disaat perempuan lain berlomba-lomba untuk mendapatkanku. Tapi sayangnya aku lebih memilih kamu. Sedangkan Ali? Bahkan pria itu tidak memiliki apa-apa. Dan aku yakin, masa depannya tidak akan menjamin bisa membahagiakanmu!" Rainer melepaskan cengkraman dari bahu milik Haura.

Haura menutup kedua telinganya beriringan bola matanya tertutup.

Gadis itu seakan tidak kuat untuk mendengarkannya, "Cukup!"

Haura tidak tahan mendengarkan tentang nasib kehidupan Ali yang dibuat hancur oleh Rainer.

Rainer mengatupkan bibirnya dengan rapat.

Perlahan kelompak mata basah itu terbuka, dan semakin berembun. "Tolong, hentikan, Rai. Aku mohon ... " pinta Haura dengan nada getir.

***

"Ali, kamu enggak kerja, Nak?" tanya wanita paruh baya yang bermana Lela.

Dia adalah Ibu kandung Ali yang tengah berjuang melawan penyakit misterius yang di deritanya selama ini.

Penyakit yang menggerogoti tubuhnya, membuatnya terus berbaring tak berdaya.

Sudah lama ia harus menanggung penyakitnya. Membuat segala aktivitasnya sangat terbatas.

Ali sudah berusaha membawanya ke beberapa Dokter. Namun, penyakitnya memang tidak terdeteksi. Sehingga ia hanya bisa memberikan resep obat dari Dokter untuk mengurangi rasa sakitnya.

Semenjak Ibunya sakit, Ali yang harus menjadi tulang punggung untuk membiayai pengobatan sang Ibu, juga biaya tanggungan sekolah adiknya yang bernama Mira.

Ia telah bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik buat ke depannya. Impiannya melihat sang Ibu bisa tersenyum kembali dengan bahagia, dan bukan ringkihan yang harus ia lihat seperti sekarang. Ia tidak sanggup.

Rasanya tidak sanggup melihat Ibunya kesakitan karena penyakit misterius yang terus menggerogotinya.

Harapqnnya, Ia menginginkan Ibu sehat seperti semula dengan wajah berserinya. Ia merindukan itu.

Ali menghapus air matanya yang sudah menggenang di dalam kelompak mata.

Apa yang harus ia katakan?

Sekarang, ia tidak bisa lagi untuk bekerja di toko busana muslim. Ia telah di pecat satu bulan yang lalu, dan tanpa alasan yang jelas. Membuatnya jadi pengangguran yang tak berkesudahan.

Sudah bersusah payah mencari pekerjaan ke sana ke mari. Tapi, tidak ada hasilnya.

Tampaknya semua perusahaan menolak lamaran kerja dengan alasan sedang tidak membutuhkannya.

Entah, apa yang terjadi dengannya? Padahal ia sangat pintar dan memiliki skill pengalaman di bidang manapun. Bahkan ia pernah terpakai dan selalu dipercayai oleh para Boss perusahaan sebelumnya.

Namun, kini hidupnya semakin menyusahkan dan menyedihkan!

Mira, adiknya terpaksa harus berhenti sekolah karena masalah biaya yang menunggak selama beberapa bulan.

Ali benar-benar sedih dengan kehidupan yang sekarang seperti apa.

Serba kekurangan.

Untuk makan saja harus minjam pada para tetangga.

Nasib yang sungguh memilukan.

Bahkan orang yang sangat ia cintai kini telah berpindah hati pada pria lain.

Ia mencintai Haura, gadis bercadar yang mempunyai sikap lembut dan murah hati. Sudah sejak lama ia mengaguminya.

Rasanya ingin untuk memiliki dan segera untuk menghalalkannya di umur yang sudah sama-sama berusia Dua puluh Tahun.

Keduanya cukup dewasa dan sangat cocok untuk berlanjut ke jenjang yang lebih serius.

Namun, ia seolah dibuat ragu pada kenyataannya. Ia merasa belum mampu untuk berpikir sampai ke situ.

Masih banyak tanggungan mengurus Ibu dan adik perempuannya untuk segala biaya kebutuhan sehari-hari.

Mengetahui Rainer juga mencintai Haura, Ali pikir, mereka memang terlihat cocok.

Haura pantas untuk bersamanya mengingat sosok Rainer adalah orang yang terpandang.

Dan ia memilih mundur dari kehidupan Haura.

Demi Rainer, ia harus mengubur rasa cinta yang sudah tumbuh di dalam hatinya untuk Haura.

Walau bagaimana pun, wanitanya harus bahagia.

Ia pun akan ikut bahagia.

Meski kenyataannya dibalik sikap tenang, ada rasa putus asa dan sempat menyalahkan takdir atas nasibnya yang pilu dan menyedihkan.

"Kenapa menangis, Nak?" Tanya Lela sembari mengusap Air matanya Ali, anak sulungnya.

Rasa sakit yang di deritanya membuat segala energi dalam tubuh sudah terkuras habis. Wajah Lela kian kusut dan lemah. Ia hanya bisa terduduk di pembaringan seraya menatap sang anak dengan penuh linangan air mata.

Tapi, Lela sangat hebat bisa bertahan sejauh ini dalam melawan penyakit. Ini semata demi kedua anaknya.

Hatinya belum siap untuk meninggalkan kedua anak kesayangan.

Jika ia pergi, ia tidak akan sanggup membayangkan bagaimana kedua anaknya hidup tanpa dirinya? Itu sangat mengkhawatirkannya.

Terlebih Ayah mereka yang lebih dulu pergi karena sebuah kecelakaan. Membuat Lela semakin ingin untuk menjaga Ali dan Mira untuk tetap hidup.

"Ceritalah sama Ibu, Nak? Apa yang terjadi sama kamu?"

Ali menggelengkan kepalanya. Bibirnya tersungging lebar dengan matanya yang semakin berkilau. "Tidak Ibu, tenang saja. Aku sedang libur kerja. Akan aku hubungin Boss lagi untuk mempertanyakan kapan aku mulai masuk lagi,"

Harus kah ia berbohong untuk alasan agar sang Ibu tidak mengkhawatirkannya?

Rasanya Ali tidak tahan .. Berkali-kali air matanya terjatuh membasahi pipi.

Tapi Ali cukup pintar berbohong bahwa air matanya jatuh karena terharu.

Terharu karena masih bisa bersama sang Ibu. Ia tengah berusaha keras untuk kesembuhan sang Ibu agar dirinya tetap hidup.

"Semoga saja ini benar ya, Nak. Kamu tidak sedang membohongi Ibu,"

DEG!

Bibirnya bergetar seiring hatinya kian rapuh. Ia segera memeluk tubuh Ibunya yang sudah terlihat kurus kering. "Bu, Ali hanya ingin kesembuhan Ibu. Aku sedang berusaha. Jadi aku mohon, Ibu jangan banyak berpikiran yang tidak-tidak. Ibu lihat, kan, aku masih mampu membelikan Obat untuk Ibu, biar Ibu segera sembuh. Jadi patuhi semua atas saran Dokter agar bisa pulih secepatnya,"

Lela tidak tahu bahwa uang yang dimiliki Ali untuk berobatnya adalah hasil dari meminjam pada orang lain.

Ia juga tidak tahu bahwa Mira, putrinya sudah putus sekolah karena masalah biaya yang sudah menunggak.

Ali sengaja meminta kepada Mira untuk tidak memberitahunya pada Ibu mereka soal ini.

Walau bagaimana pun, Ali tidak ingin sampai Ibunya banyak pikiran.

Ibunya sudah sangat lemah.

Biarlah ia pikul sendiri segala tanggung jawab dan berperan seperti tidak terjadi apa-apa.

Rasanya tidak tega melepar beban berat pada Ibunya pasti akan semakin parah.

Ali tidak ingin hal itu sampai terjadi.

"Bang?"

Ali menoleh pada Mira yang baru saja datang sembari memanggil. "Iya, Mir, kenapa?"

Lela pun memperhatikan kedatangan Mira.

"Ada tamu di tengah rumah,"

Kedua alis milik Ali tertaut. "Siapa?"

"Kak Sera. Teman kerja Abang di toko busana muslim,"

Ali melirik ke arah Lela. "Bu, aku tinggal dulu sebentar, ya. Ada yang ingin kami bicarakan. Lebih baik Ibu istirahat. Nanti Siang Ibu harus makan obat lagi sesuai anjuran Dokter,"

Lela mengangguk senyum. Ia mengubah posisinya jadi berbaring dengan dibantu oleh Ali juga Sera.

Dalam hati, Lela merasa ini terlalu merepotkan kedua anaknya. Ia sangat mengharapkan dirinya agar segera sembuh, dan bisa kembali melakukan aktivitasnya. Ia tidak pernah berhenti untuk berdoa.

Ali menutupi tubuh wanita paruh baya itu dengan selimut tebal. Lalu, ia mencium pipi sang Ibu sebagai tanda bakti.

"Mir, tolong jaga Ibu, Abang mau nemuin Sera," pinta Ali pada Mira.

Mira mengangguk senyum. "Iya, Bang. Jangan khawatirkan soal Ibu. Aku akan menjaganya. Lebih baik abang temui saja Kak Sera. Sudah sedari tadi dia menunggu di ruang tamu,"

Ali mengacak-acak pucuk rambut kepala Mira seraya terkekeh walaupun bola matanya tampak berembun.

Terkadang ia sering jail kepada adiknya. Suka banget kalau mancing keributan dengan sang adik dan berakhir dirinya dimarahi sang Ibu. Terlepas dari itu, Ali sangat menyayangi Mira sebagai adik satu-satunya.

Apapun keinginan sang adik selalu ia penuhi.

Tapi untuk sekarang, tidak ada lagi yang harus ia lakukan untuk adiknya. Impian sang adik terpaksa harus terkubur. Ia merasa sedih karena hal ini.

Ali sedih karena merasa belum menjadi Abang terbaik untuk sang adik.

Maafkan Abang ya adikku, Abang belum bisa mewujudkan segala impian untuk masa depanmu ...

Tapi jangan khawatir, Abang akan selalu berusaha dengan cara apapun. Abang ini pantang sekali untuk menyerah ...

Semua yang Abang lakukan untukmu, juga untuk Ibu kita ...

Abang harap, kalian bisa sabar menunggu sesuatu yang indah ...

Kita harus yakin akan keajaiban ini dari Tuhan kita ...

Bersambung ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED