'Tidak! Apa yang terjadi di antara kita?'
Gadis itu terbangun dengan menyadari tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun. Seorang CEO kaya raya dan tampan telah merenggut kesuciannya.
Baca ....
Baca ....
Akhirnya wanita itu menjadi istri CEO kaya raya tersebut dan dicintai sepenuh hati.
"Gila!" Nesta sampai memelotot sendiri, setelah selesai baca novel online.
Omong-Omong, alau Nesta ketahuan dengan ibunya dia asyik baca novel online bukannya sibuk cari pekerjaan atau Usaha apa biar bisa dapat uang tambahan, bisa kena marah.
Tapi, 'kan, yang namanya manusia tetap dong butuh hiburan biar jangan sampai stres ataupun frustrasi.
Nesta cuma butuh selingan dari realita yang begitu pahit. Soalnya, dia sudah berusaha untuk dapat pekerjaan. Ck! Susahnya bukan main.
Hidup perempuan dalam novel yang dia baca ini tuh idaman banget. Bisa nikah sama cowok ganteng, kaya raya, dan dicinta. Padahal awalnya tidak saling kenal.
Kalau Nesta ketemu bos ganteng begitu, tidak akan dia model-model jual mahal. Tancap gas, kalau itu bos mau.
"Kan, lumayan kalau dinikahi.
Astaghfirullah, Nesta baru sadar otaknya murahan amat. Lupa sama dosa.
Lagi pula, umur dia sebetulnya masih muda banget untuk mikirin masalah pernikahan. Harusnya, sih, sekarang dia kuliah. Sudah mulai semester pertama.
Dasar nasib buntu, baru juga kelar dijemur panas-panasan kayak ikan asin, eh bapaknya malah kecelakaan dan Nesta jadi tidak bisa lanjut kuliah.
Ditambah sama Nesta yang memang kurang niat untuk kuliah, ya, cocok.
Balik lagi soal novel. Nesta pikir perempuan tuh, seperti komoditi yang layak diperjuabelikan. Mana harganya mahal.
Bayangkan saja, biaya operasi sepuluh milyard bisa lunas hanya tidur satu malam dengan pria kaya.
Nesta butuh duit, kalau dia mau ikutan begitu. Cari CEO, di mana ya?
Secara, lingkaran pertemanannya orang miskin semua.
Yah, bukan main one night stand, sih--takut dosanya--paling jauh model dijodohkan begitu.
Tapi, cari calonnya di mana?
Minta tolong bapaknya?
Heuh! Yang ada bukan dapat jodoh bos, malah diumpanin ke juragan jengkol.
"Heh!" Ningsih menggebrak dipan tempat Nesta tiduran. "Enak banget ya, kamu, malah santai di sini. Bukannya bantu orang tua beres-beres."
Nesta bangun. Apa dia bilang, kalau ibu tirinya tahu dia sedang berbaring santai begini pasti bakalan diprotes.
"Itu, bak kamar mandi kosong. Bukannya kamu isi!"
"Loh, kok kosong?" Nesta kaget.
"Kamu lihat pakai mata. Kosong begitu, bukannya isi. Buka keran air aja males."
"Ya, bukannya begitu, Bu." Nesta mau mengelak. "Nesta baru sikatin kamar mandi, terus Ibu suruh jemur pakaian. Rebahan bentar, Bu. Biar badan nggak pegel." Nesta menjelaskan panjang lebar, itupun belum selesai juga. "Lagian, kalau soal air di bak, itu tadi udah Nesta isi."
"Dipakai Yato, kosong lagi."
"Ya, berarti Yato yang suruh isi lagi."
"Yato, 'kan, mau sekolah. Wajar kalau dia buru-buru. Kamu yang nganggur di rumah kerjain semua sendiri, dong."
Nesta bangun, pergi ke kamar mandi. Kalau dibiarkan ibunya akan bisa mengoceh sampai besok tidak selesai.
Dia membuka keran. Sembari menggerutu. Urusan sederhana begini saja, ibunya bisa protes. Dan, lagi kenala cuma Nesta yang jadi sasaran untuk diomeli sementara Yato selalu selamat. Mentang-mentang cuma Yato yang anak kandung.
Bapaknya yang kurang kerjaan malah tanya kenapa Nesta ada di kamar mandi lagi.
Ya jelas dong, di kamar Mandi lagi. Kan ibunya yang paksa. Kalau bukan begitu, mah, buat apa? Nesta bukan keturunan jentik nyamuk yang betah di bak.
Setelah melewati masa-masa yang menjengkelkan itu, Nesta akhirnya bisa balas dendam ke Yato ketika bocah tengik satu itu baru pulang sekolah.
Sepak bokongnya, waktu dia di kamar.
"Aku baru pulang main disepak sembarangan, bilangin ibu, loh!"
Nesta jewer dia. "Kamu anak laki tukang ngadu. Nggak malu sama burung!"
Yato memelotot matanya. "Aku salah apa, sih?"
"Kamu yang pakai air kenapa nggak isi lagi?"
"Air apa?"
"Air di bak!" Masa iya, Nesta mau bahas air zam-zam.
"Lupa. Aku habis BAB terus ingat kalau ada tugas."
Nesta jewer lagi dia. "Ini, gara-gara kelakuan kamu, Kak Nesta yang kena imbasnya. Diomelin ibu!"
Yato, sok polos. "Ya, ibu, 'kan, emang gitu. Tiap hari ngomel. Tapi, ngomelnya ke Kak Nesta aja." Dia kegirangan bisa meledek Nesta.
"Besok kalau kamu pakai air, isi lagi yang benar. Kalau nggak, semua celana dalam kamu Kakak buang!"
***
"Kamu belum dapet kerjaan, Nes?"
Ganggu, nih, si bapak. Anak perawan lagi nonton serial azab malah ditanya masalah ekonomi.
"Belum, Pak."
"Yang kemarin kamu taruh lamaran, enggak ada yang terima?"
Nesta geleng-geleng.
"Loh, kenapa?" Sarwani berjengit heran. "'Kan, nilai ijazah kamu lumayan bagus, udah gitu kamu cantik juga. Masa enggak ada yang nerima."
"Enggak tau." Nesta mengangkat bahu. "Terakhir, Nesta langsung ditolak gara-gara kurang tinggi. Katanya nanti ketutupan etalase."
Sedih hati Sarwani. Gara-gara kecelakaan motor membuatnya jadi harus pensiun dini. Mana kebutuhan keluarga makim besar.
"Gimana ini kehidupan kita ke depan, Pak?" Ningsih beres dari dapur datang-datang mencerocos. Remote yang ada di meja diambil, terus dia ganti acara konser dangdut.
Hih, 'kan, serial azabnya belum kelar.
"Sabar, Bu. Nanti juga ada rezeki."
"Sabar terus, kapan kita bisa maju kalau modal sabar."
Yah, 'kan, ribut. Mana di TV lagi nyanyi gubuk derita. Cocok.
"Kamu itu usaha, Nes!" Ningsih memarahi Nesta. "Cari kerja apa aja, kita ini butuh uang. Kita butuh makan, Yato belum beres sekolahnya."
Yato yang baru selesai kerjakan tugas sekolah, ke belakang ambil singkong goreng.
Any way, itu bocah biar kata tengil dan kupret habis, urusan sekolah dia tidak main-main. Dari SD rangkin satu terus dia. Mujur amat dia.
"Kalau enggak ada kerjaan, kamu mending kawim aja sama Mang Uya."
Uya di sini, bukan Uya Kuya selebritis yang kaya raya. Dia kenalannya Ningsih juragan laundry yang sudah berumur uzur menjelang akhir hayat.
"Idih, Yato aja sana Ibu jodohin sama dia." Nesta marah.
"Mana ada!" Habis ambil singkong, Yato ke ruang tengah untuk membalas ucapan kakaknya. "Yah kali, malam pertama main anggar."
"Ya terserah, pokoknya yang penting kawin!" Nesta mendengus.
Ningsih masih mengomel soal Nesta yang harus daoat kerja. Tidak peduli apa pun caranya, dia harus dapat kerja.
Oke deh, iya. Besok Nesta cari kerja.
*
Demi modal hidup, Nesta terpaksa harus jual satu-satunya perhiasan miliknya. Lumayan dapat uang bisa dipakai untuk modal hidup sambil tunggu dapat kerja.
Nesta mau tinggal di daerah yang lebih memiliki peluang untuk dapat kerja.
Meski bapaknya sedih harus ditinggal anak gadis, pokoknya Nesta sudah bertekad. Percuma dia di rumah kalau harus rebutan remote TV.
Dia juga sedih meninggalkan partner membacot dan bertengkar terbaik--Yato.
Semua demi uang dan demi kehidupan yang lebih baik, Nesta harus pergi.
Setelah beberapa hari mencari, akhirnya Nesta dapat tempat kost.
Oke, waktunya dia cari kerja.
Lamar sana sini, kepentok tidak dapat juga. Sudah satu minggu berjuang belum ada. Putus asa rasanya.
Tapi, ingat kata Ipin, putus asa tak apa asal jangan putus makan.
Selama masih ada makanan, selama itu dia akan bertahan sampai dapat kerja.
Malam, di saat rebahan di lantai kamar kost hanya beralaskan karpet, Nesta melihat iklan yang menarik.
Ada pekerjaan, dengan gaji lumayan besar.
Tapi, posisinya office girl.
Masa iya, gadis muda yang baru menjajaki hidup ini, harus bekerja seperti itu. Padahal, khayalannya, bisa jadi SPG minimal.
Gajinya besar. Terakhir pendaftaran besok. Boleh apply lewat email untuk dipanggil test.
Lamar, jangan?
Ah, masa bodoh soal posisi yang penting dapat kerja.
Buka portalnya, Nesta isi data yang diminta lalu submit.
Kalau memamg rezeki, tidak akan ke mana.
*
PT Gold Taruna.
Tiga hari setelah isi form lamaran, Nesta dipangil untuk ikut tes lamaran kerja.
Kalau mau jadi OG, kira test-nya apa, ya?
Apa itu semacam bertanya merk cairan pel terampuh?
Atau ada pertanyaan lain?
Tidak tahunya, waktu Nesta buka lembar soal pertanyaan malah agak aneh.
Dia cuma suruh jawab;
Apakah Anda siap bekerja?
Apakah Anda tahan dengan segala bentuk tekanan?
Apakah Anda tahan dengan tantangan?
Dan sederet pertanyaan aneh lainnya. Nesta jawab dengan jujur.
Omong-omong, hari ini yang ikut test lumayan banyak. Dilihat dari ukuran kantornya yang besar, kelihatannya ini perusahaan bonafit.
Nesta harus dapat pekerjaan ini! Minimal, dia tidak perlu ditolak lantaran tingginya.
Satu hari setelah test tertulis, Nesta dipanggil untuk ikut test wawancara.
Begitu sampai di kantor sekitar jam tujuh pagi, Nesta diminta untuk langsung menemui manajer SDM di ruang wawancara.
Nesta cuma membatin soal sistem mereka yang cukup ketat, soal penerimaan perusahaan padahal cuma untuk OG.
Masuk ke ruangan, Nesa dipersilakan duduk sama laki-laki yang masih lumayan muda.
Dia memperkenalkan diri dengan nama Ivan.
Basa-basi sebentar, Ivan tanya-tanya soal kehidupan Nesta dan motivasi kerja.
Ya, sudah pasti demi duit motivasinya.
"Kerja di sini lumayan berat, loh, kamu sanggup?" Ivan kasih gambaran suram dulu.
Seberat apa pun itu, Nesta akan tetap terima. "Saya butuh kerjaan, Pak."
"Bos di sini enggak ada baik-baiknya, dia galak, perfeksionist, dan kadang agak rewel. Kamu siap, hadapi kondisi kayak gini?"
"Asal Bapak tahu, saya sudah biasa digituin sama ibu tiri saya."
Ivan membulatkan mata. "Kamu punya ibu tiri?"
"Iya, Pak. Ibu kandung saya meninggal setelah melahirkan saya."
Suasana jadi hening. Kalau membahas soal ibu, kadang Nesta sedih Tapi, biarpun galak, Ningsih bukan ibu tiri yang 'cinta pada ayahku saja'. Dia mau mengurus Nesta, tidak ada KDRT. Cuma mulutnya saja yang kayak terompet kalau marah.
Ivan manggut-manggut setelah mendengar penjelasn Nesta.
"Jadi, kamu yakin mau kerja di sini?"
Nesta menatap Ivan dengan yakin. Demi duit, walau harus satu kantor dengan singa, Nesta lakoni.
"Asalkan saya digaji sesuai, saya terima untuk kerja di sini."
Ivan anggap ini kesepakatan akhir. "Ok, deal!"
Teriakan Viano menggelegar ke mana-mana. Dia menunjuk gadis di depannya, bertanya dengan kesal siapa dia.
"Saya, Pak?" tanya gadis itu sendiri.
"Iya, kamu!" ketus Viano.
"Saya--"
Belum selesai kalimat gadis itu, seseorang membuka pintu. "Ada apa ini, Pak?"
Ivan bukannya malaikat atau manusia punya indra keenam yang bakal bis langsung tahu kalau bos-nya lagi marah-marah.
Dia kebetulan mau diskusi sama Viano soal laporan kinerja karyawan, tapimalah dibuat kaget dengan keberadaan Nesta--dengan muka cengoknya-- dan juga Viano yang marah. Firasat dia mengatakan pasti sudah terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di sini.
"Apanya yang ada apa! Kamu gak liat ini." Viano menunjukkan celananya yang ketumpahan kopi panas. Lebih tragis lagi, kopi itu tumpah di 'area terlarang'.
"Maafin saya, Pak." Si pelaku berusaha menjelaskan.
"Aduh ...." Ivan menepuk jidat. "Maafin dia, Pak. Dia OG baru.
Viano mendengkus. "Pecat dia sekarang juga!"
Ivan melirik pada Nesta--OG yang baru saja menumpahkan kopi.
Nesta panik. Masa iya, baru kerja sehari sudah dipecat? Mana, ada rencana makan-makan awal bulan, mau jalan-jalan.
Belum lagi si Yato yang sudah menodong hadiah macam-macam ke Nesta, ibunya yang minta daster baru sekalian ganti kompor, dan bapaknya yang diam-diam meminta sepatu kulit.
Hih! Kalau dipecat, bisa sirna harapan empat orang rakyat jelata.
Nggak banget, deh!
"Pak, maafin saya." Nesta mengambil tisu coba untuk bersihkan noda yang ada di celana Viano.
"Mau ke mana tangan kamu!"
"Mau bersihin celana Bapak."
Astaga! Ivan geleng-geleng.
Viano mundur satu langkah. "Jangan coba-coba, ya! Kamu istri saya aja bukan, mau pegang-pegang."
"Istri?" Nesta mengernyit bingung. Apa ini yang dinamakan nasib kacung, sana-sini salah melulu.
Dia bodoh atau bagaimana? Mana mau, Viano membiarkan perempuan asing menyentuh dia sembarangan.
"Keluar kamu dari ruangan saya!"
"Hah?" Asli ini mulut Nesta menganga dia merasa bego banget dalam situasi ini.
Ivan mengambil alih situasi. "Kamu keluar dulu, ya."
"Tapi, Pak." Mau bilang saya jangan dipecat, kok kelihatan menderita amat. Makanya Nesta tahan itu omongan.
"Udah, keluar aja dulu. Ini biar saya yang urus."
Nesta menurut. Dia permisi keluar pada para bos.
"Sial! Cewek itu dari mana, sih? tanya Viano setelah Nesta menutup pintu.
"Itu, 'kan, karyawan kemarin kita rekrut, Pak," jelas Ivan.
"Terus kamu ambilnya asal-asalan?"
"Loh?" Ivan tidak terima tuduhan Viano. Sembarangan dibilang asal. Dia sampai lembur. "Kan, Bapak sendiri yang bilang pilih karyawan yang hasil tesnya terbaik. Dan itu yang terbaik, Pak."
"Terbaik dari mananya!" Viano menukas. "Kamu enggak lihat, dia numpahin kopi panas ke sini." Viano menunjuk celananya. "Gimana coba masa depan saya!"
Ivan hanya menghela napas.
Setelah emosinya sedikit reda, Viano duduk di office chair-nya.
"Pokoknya saya nggak mau tahu, pecat itu karyawan hari ini juga!"
Ivan menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Kita udah keseringan pecat karyawan, Pak. Kalau kali ini kita pecat dia, itu namanya Bapak zalim. Dia masih karyawan baru, kita harus kasih kesempatan. Biasanya kalau di tv-tv, Bos zalim kena azab."
Viano meradang. "Kamu yang saya pecat!"
Ivan jadi sakit kepala. "Tapi, Pak, di luar itu, dia kemarin udah tanda tangan kontrak dengan kita. Dia minimal kerja 1 tahun dengan kita. Kalau dia berhenti di tengah jalan, kita kenakan denda 3 bulan gaji. Sedangkan kalau kita memecat dia kurang dari 1 tahun tanpa alasan fatal, kita akan kenal penalti seratus juta."
Viano tersentak. "Gila! Seratus juta? Orang bego mana yang buat aturan itu?"
"Bapak sendiri yang buat."
Damn! Viano merasa begitu bodoh buat aturan semacam itu. Semuanya karena dia kesal dengan diri sendiri, karena tak bisa menahan diri untuk tidak memecat karyawan yang menjengkelkan.
"Jadi gimana?" Ivan penasaran dengan keputusan Viano.
Pria 34 tahun itu menyandarkan tubuh di kursi.
"Gimana apanya? Sana kerja lagi."
"Saya kira, Bapak masih ada yang mau diomongin."
"Nggak ada." Viano kini mengetuk-ketuk meja. "Lagian, Van, kalau yang begini mau lama-lama kita bahas, itu namanya buang waktu! Kamu nggak paham apa, kalau waktu itu sangat berharga."
"Iya, Pak. Paham."
"Ya sudah sana kalau paham, kembali ke ruangan kamu. Kerja."
Viano dengar dengkusan Ivan. Persetan soal itu, dia bos di sini.
Ivan sidah biasa menghadapi ini. Kalau bos terdesak, pasti langsung cari alasan lain biar dia langsung kembali ke ruang kerja.
***
Nesta pergi ke pantry untuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Tangannya sedikit gemetaran. Bagaimana ya kalau dia benar-benar dipecat?
Baru juga memikirkan akhir bulan bisa gajian, akhir tahun bisa jalan-jalan ke Bali malah sudah dipecat. Kalau begini sih, akhir tahun bukan jalan-jalan ke Bali, tapi ke BIKINI BOTTOM. Lihat si Kuning sama si Pink ketawa-ketawa tidak jelas.
Lusi tiba-tiba datang mencengkeram tangan Nesta.
Nesta mengaduh kesakitan.
"Tadi kamu ngapain aja di ruangan Pak Viano?"
"Bikin Vlog," jawabnya santai. Lagi pula, pertanyaan Lusi terlalu aneh. Nesta di ruangan Viano? Ya sudah pasti membawakan kopi.
"Jangan main-main kamu, ya!" Lusi galak bukan main ke Nesta.
"Ibu aneh, udah tahu saya lagi kerja masih ditanya apa."
"Kamu nggak pernah diajarin sopan santun, ya! Ngomong sama atasan nggak ada sopan-sopannya."
"Bukan gitu, Bu. Ibu justru yang aneh, datang-datang main kekerasan fisik. Terus, saya juga bingung kenapa Ibu penasaran banget."
Lusi mencebik. "Ada ribut-ribut apa tadi?"
"Tadi saya numpahin kopi ke celananya Pak Viano."
Lusi mengernyit. "Kok bisa?"
"Ya, Habisnya waktu saya mau tanya Pak Viano kopinya mau ditaruh di mana dia diem aja."
"Terus?"
"Karena dia diem aja pas saya panggil, saya tepuk pundaknya. Dia malah kaget. Tumpah semua, deh, kopinya."
"Kamu berani banget pegang Viano!"
"Bukan pegang, Bu, tapi cuma tepuk. Di sini ...." Nesta menujukkan pundaknya. "Itu pun cuma pakai kuku, pelan lagi," tambahnya. Belum tahu saja, Nesta kalau sama Yato bisa pakai sandal jepit buat panggil adiknya.
"Ih!" Lusi mulai kesal. "Kamu banyak omong, ya."
"Nanti kalau saya diam aja, Ibu bingung."
"Ya, Tuhan ...." Lusi semakin kesal. "Awas sana!" Dia menggeser tubuh Nesta.
Bergeser, Nesta kembali melanjutkan pekerjaannya. Lusi kembali ke ruangan.
"Aneh dia yang tanya, dia yang marah-marah. Dasar sekretaris carper. Sok cantik." Nesta mengomeli gelas kotor.
Nesta harus sabar. Namanya orang kerja begini. Penting untuk diingat, tidak punya uang lebih horor, daripada dimarahi Bos!
***
Ivan masih ada di ruangan Viano. Mendengarkan ocehan atasannya tersebut. Nasib dia memang sial hari ini. Dia diam, Viano mengusir. Dia mau pergi, Viano juga marah-marah lagi. Kelihatannya belum selesai marah-marah.
Apes!
"Kamu, kok bisa salah pilih karyawan begini, Van? Biasanya kamu enggak pernah salah rekrut karyawan."
Ivan hanya diam.
"Coba bayangin, baru satu hari kerja udah begini. Kamu tumben nggak becus pilihnya."
Kali ini, Ivan menjawab. "Lho, bukannya Bapak sendiri yang minta supaya saya pilih karyawan sesuai dengan keinginan Bapak?"
"Keinginan saya gimana?" sergah Viano.
"Bapak bukannya bilang, pilih karyawan yang kuat, rajin, bisa kerja, gak baperan, tahan banting kalau Bapak lagi marah, nggak mudah tersinggung."
Viano memijit kepala saat dengar penjelasan Ivan.
"Waktu saya tes, Nesta itu, yang jawabannya paling mendekati kriteria Bapak. Karena, dia bilang dia udah biasa dengan situasi begini." Ivan mengetuk meja kerja Viano supaya diperhatikan. "Dia tinggal sama ibu tirinya yang cerewet."
"Jadi maksud kamu, saya sama cerwetnya dengan ibu tiri dia?"
Ivan mengerucutkan bibir. Pikir aja sendiri!
Viano coba mengingat. "Emang saya minta begitu?"
"Saya bisa tunjukin rekamannya ke Bapak." Ivan hendak mengambil ponselnya. Ivan memang selalu siap sedia, karena Viano itu labil. Dia memang punya strategi bagus untuk urusan project bisnis. Namun, soal emosi dia nol besar.
Sering disalahkan, Ivan akhirnya mengatur strategi. Setiap kali Viano memerintahkannya, dia akam rekam di ponsel. Sebagai cadangan, kalau boss-nya itu 'kumat'.
Viano buru-buru mencegah. "Nggak usah. Yang penting mulai hari ini, saya nggak mau lihat dia lagi."
"Tapi kita nggak bisa main pecat gitu aja, Pak, karyawan juga punya hak asasi."
"Terserah kamu. Pokoknya saya nggak mau lagi lihat dia."
"Oke, Pak, kita bisa atur supaya Bapak nggak lihat dia lagi."
"Saya nggak percaya kamu lagi. Saya buatin aturan sendiri, nanti kirim ke email kamu."
Ivan menunggu, kalau-kalau Viano masih ada perlu.
"Kok, kamu masih diem. Lanjut kerja, Van!"
Mendesah, Ivan permisi. Awas, kalau Viano masih mau 'ceramah' lagi! Bisa-bisa, nanti dia yang mengajukam resign.
"Misi, Pak!" Ivan taham emosi.
"Humh!" Viano mana peduli.
Kembali ke ruangan, Ivan duduk di kursi. Mengatur napas sebentar, dia menelepon Nesta, meminta gadis itu masuk. Nesta datang tak lama setelahnya.
"Masuk!" Ivan mempersilakan, ketika ada yang mengetuk pintu. Tebakannya, Nesta yang datang.
Nesta masuk. "Permisi, Pak." Dia duduk di depan Ivan, dalam hati menebak kalau dia pasti akan dipecat.
Ivan menatap Nesta. "Kamu tahu, pagi ini kamu sudah keterlaluan," ujar Ivan.
Nesta hanya menunduk. "Maafin saya, Pak."
Ivan berdecak, lalu dia salin sebuah file dari ponselnya ke komputer. Nesta mendelik, ketika sesuatu tercetak dari mesin printer.
Ivan membacanya sekilas, kemudian dia lipat rapi kertas tersebut. "Ini untuk kamu." Ivan menyodorkan hasil print-nya.
Yah, beneran dipecat, deh.
"Baca itu baik-baik, dan jangan sampai ada kesalahan."
"Baik, Pak."
"Kamu boleh kembali kerja."
Nesta keluar dari ruangan Ivan. Sebelum mulai kerja, dia baca kertas yang tadi diserahkan Ivan. Matanya terbelalak. Bukan surat pemecatan. Namun, ini LEBIH BAHAYA.
Viano gila!