Bab 1

Jam 6 pagi di kediaman keluarga Ananta telah ramai dengan suara menggema walaupun hanya ditempati oleh 4 orang karena papa dan opa Feli yang semenjak dia kelas 6 SD telah meninggal karena kecelakaan mobil. Sedangkan oma Felicia atau ibunda almarhum papa Felicia meninggal saat Felicia duduk di taman kanak- kanak. Rumah yang hanya ditempati oleh Felicia,mama Felicia,dan oma Felicia alias ibunda mama Felicia serta opa Felicia atau ayahanda almarhum papa Felicia. Teriakan masih menggema dari mulut gadis kelas 9 SMP yang akan menjalani ujian semester sebelum ujian nasional dan tryout di sekolahnya. Gadis SMP yang kini sedang kalang kabut mempersiapkan barang-barang untuknya nanti.

"Mam tas Feli di mana? Kok nggak ada di kamar Feli." tanya Felicia dari kamar sambil mencari tas sekolah miliknya.

"Udah di bawah, Fel dari malam setelah kamu selesai belajar lalu bawa turun." balas mama Feli dari arah ruang makan menunggu Felicia keluar dari kamar.

Setelah 5 menit Felicia turun dengan penampilan rapi dengan jas sekolah yang dia bawa ditangannya.

"Pagi mam." sapa Feli sambil terus mengecupi pipi mamanya.

"Pagi Fel." balas mama Feli sambil menuangkan nasi goreng kesukaan putrinya.

"Mama antar Feli sekolah sekalian ke toko?" tanya Feli sambil memenuhi pipinya dengan nasi goreng buatan mamanya.

"Iya Fel." jawab mama Feli sambil menuangkan minum ke gelasnya dan Feli.

"Berarti nanti Feli pulang ke toko dulu ya mam." balas Felicia sambil meneguk air di gelas yang telah dituangkan mamanya dan mulai berdiri ke tempat sepatu untuk memakai dan menyusul mamanya yang mulai masuk mobil untuk menyetir.

Setelah 5 menit perjalanan Felicia berusaha mencari topik pembicaraan untuk dibicarakan dengan mamanya.

"Mam boleh nggak kalau setelah Feli ujian semester kita ke kuburan papa?" ucap Feli sembari menolehkan kepala ke mamanya yang menyetir.

"Lihat keadaan dulu ya, Fel mama nggak janji tapi mama usahain." jawab mama Feli sambil masih fokus menyetir.

"Semoga mama bisa soalnya, Feli kangen sama papa." balas Feli sambil merayu agar mamanya segera mengiyakan.

"Iya Feli, tapi setelah pembagian raport ok?" ucap mama Felicia yang dibalas anggukan penuh semangat dan senyum dari Felicia.

Setelah 20 menit berlalu Felicia pun sampai di sekolahnya. Dia berpamitan dengan mengecup kening mamanya sekilas. Lalu dia berjalan menuju ke ruangan tempat ujian semesternya.Banyak pasang mata yang melihat Felicia kagum dan ada juga yang melirik sinis.

"Pagi Fel!" sapa Ashima temen sekumpulan Felicia dengan penuh semangat.

"Pagi juga. Gue mau langsung ke ruangan kumpul setelah pulang aja ya," ucap Felicia membalas sapaan dan memberitahu setelah pulang sekolah mereka akan berkumpul.

"Ok!" bales Angel, Ashima, Dina bersamaan.

Setelah mengatakan hal tersebut Felicia melanjutkan jalannya menuju ke ruangan yang akan dia tempati. Dia duduk diluar ruangan yang masih lumayan dekat dengan ruangannya. Dia mengecek dimanakah id card yang akan dia pakai nanti. Setelah mendapatkannya dia melanjutkan kembali perjalanannya untuk menuju keruangan yang akan dia tempati.

Felicia masuk ke ruangannya setelah menyapa orang yang telah sampai lalu mendudukkan dirinya tempat yang telah tertulis namanya. Dia menengok kesamping kursinya ternyata teman semeja-nya adalah adik kelas dan sialnya adalah cowok. Karena Feli terlalu malas berlama-lama untuk mengamati sekitarnya dia pun mengambil buku materi yang akan dijadikan ujian semester pada jam ini.

"Woy Fel, nanti join ya kita waktu ngerjain uraian." ucap Neil yang berada di belakang tempat duduk Feli yang merupakan teman sekelasnya. Felicia hanya membalas anggukan kepala sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya yang artinya ok.

"Wah Lut, kakak kelas yang jadi teman semeja loe cakep bener deh." puji Arkan yang memasuki ruangan teman kelas sebelahnya.

"Yoi dong, Lutfi Cahaya gitu loh Ka." Lutfi membalas dengan nada sombong.

"Lumayan loe, Lut dapat bening bening disaat stress soal." ucap salah satu teman Arkan dan Lutfi.

"Awas aja tuh kakak kelas hari 3 ujian semester bakal gue pepet gimana pun caranya." ucap Arkan sambil melirik Feli dari atas sampai bawah.

"Pede amat loe, Ka dia aja udah terkenal dengan gadis es batu," ledek teman sekumpulannya.

"Pede dong jelas, gue bisa kali minta akun instagram dan nomornya sama semeja." balas Arkan sambil tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah mata.

Kring...Kring...Kring...

Bel pertanda harus memasuki ruangan masing - masing pun berbunyi. Guru - guru yang akan menjadi pengawas setiap ruangan sudah mulai keluar sambil membawa beberapa map yang berisi kertas soal, lembar jawab, aturan selama ujian semester berlangsung, dan absensi setiap ruang.

Guru yang akan mengawasi ruangan Felicia telah datang membuat ruangan yang awalnya berisik dengan suara janjian untuk menyontek dan pembahasan lainnya pun seketika diam. Guru tersebut terlebih dahulu meminta untuk seisi ruangan membaca doa sesuai kepercayaan masing masing agar dapat mengerjakan dengan lancar.

"Siapa yang akan membimbing untuk melakukan doa di ruangan ini?" tanya guru berkacamata dan berbadan gendut itu.

"Itu bu guru. Murid yang duduk di pojok kanan dekat pintu dia ketua kelas." ucap salah satu anak perempuan yang duduk ditengah paling belakang.

"Ok, kamu yang duduk dekat pintu cepat pimpin doa," perintah guru gendut dan berkacamata dengan setengah berteriak.

"Baik bu, di tempat duduk siap grak. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing- masing dimulai," perintah anak cowok yang duduk dibelakang pintu kepada teman seruangnya.

Setelah 5 menit melakukan doa dilanjut dengan pembacaan aturan yang berlaku selama ujian semester berlangsung. Selesai dengan doa bersama dan pembacaan tata tertib yang berlaku keadaan ruangan seketika hening hanya ada suara tinta yang menghiasi lembar jawab.

"Woy Fel, woy join no 25 apa loe?" ucap anak lelaki ketua kelas tadi sambil berbisik dan berpura-pura menjatuhkan penanya.

"Nggak tau. Belum sampai sana." balas Felicia tanpa menoleh dan membalas dengan suara berbisik.

"Fel Feli." panggil Neil sambil sedikit menendang kursi yang dipakai Felicia. Dia hanya membalas dengan sedikit mendongakkan kepalanya lalu kembali menunduk. Neil tak henti hentinya berusaha untuk mencontek Feli dengan cara mengganggunya. Hingga tanpa disadari Neil guru pria botak dan kurus bak pensil itu sudah berdiri dibelakangnya.

Ehem panggil guru itu dengan berdeham untuk menyadarkan salah satu murid nakalnya ini.

" Eh ba--pak hehehe a--pa kabar pak? Baik pak?ini pak sa--ya cu--ma lagi pinjam pe--na milik Felicia saja kok pak." Neil terbata-bata, sedangkan Felicia yang berada didepan Neil menggigit bibir bawahnya menahan tawa dengan tingkah laku ajaib temannya satu itu.

"Benar Feli? Neil hanya ingin meminjam saja?" tanya guru itu sambil menatap Feli penuh selidik bermaksud agar muridnya mengatakan sejujurnya.

"Iya pak benar kok, maksud saya bener kalau Neil ingin mencontek saya." jawab Felicia jujur dan dibalas dengan ekspresi datar Neil, sementara Neil harus menahan umpatan didalam hatinya.

"Ya sudah, Feli kamu kerjakan sendiri apabila ada yang ingin mencontek atau teman semejamu meminta bantuan jangan mau." ucap guru pria itu menasehati Felicia.

Bab 2

Bel pertanda bahwa waktu telah habis berbunyi semua siswa - siswi yang berada dalam ruangan diperintahkan oleh masing-masing pengawas ruangan untuk keluar terlebih dahulu. Beberapa murid ada yang tetap fokus belajar untuk mata pelajaran berikutnya dan ada pula yang ke kantin untuk mengisi perut yang kosong seperti tahu pong karena habis untuk berpikir.

"Feli, ke ruangan sebelah yuk dicariin Devi loe, sekalian minuman kesukaan loe udah ada." ucap Neil sambil berjongkok untuk berbicara dengan Felicia yang berada dibawahnya.

"Duluan aja sana. Gue mau masukin buku sebentar." balas Felicia sambil memasukkan buku paket yang tadi dia pegang lalu membersihkan rok seragamnya.

Dia berjalan menuju ruangan sebelah ruangannya yang masih termasuk teman sekelasnya karena kelas Felicia dibagi menjadi dua ruangan. Sesampainya di ruangan sebelah Felicia duduk berhadapan dengan Devina.

"Kenapa, Dev tumben loe panggil gue?" tanya Felicia sambil meminum gelas yang berisi minuman kesukaannya.

"Fel, tadi gue denger anak cowok yang semeja Kevin sepertinya suka sama loe." jelas Devina sambil mengunyah makanan di mulutnya. Felicia hanya membalas dengan dehaman.

Kring...Kring...Kring...

Bel pertanda mata pelajaran selanjutnya dimulai, Felicia dan teman-temannya yang tidak menempati ruangan itupun keluar dan memasuki ruangan mereka sendiri. Saat Felicia ingin keluar dia tidak sengaja menabrak seorang pria yang lebih tinggi beberapa cm darinya yang tidak lain adalah Arkan.

"Sorry!" ucap Felicia mendongak sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Menarik ucap Arkan dalam batinnya.

Arkan dan Felicia pun langsung menempatkan diri ketempat mereka masing-masing setelah kejadian tersebut. Tidak lama kemudian guru pengawas setiap ruangan datang. Guru membagikan kertas absensi terlebih dahulu untuk ditandatangani setiap siswa-siswi. Setelah membagikan kertas absensi kini berganti kertas soal dan lembar jawab.

Felicia mengerjakan dengan hening dan tenang tanpa suara hanya suara pena yang tergores pada benda putih polos dan tipis saja. Dia membaca soal dengan teliti dan memikirkan jawaban secara matang dan tepat.

"Kak." panggil Lutfi berbisik yang membuat seketika konsentrasi Felicia hilang. Felicia menolehkan kepalanya sembari mengangkat sebelah alisnya yang memberi arti apa.

"Kak Feli lagi suka sama seseorang?" tanya Lutfi dengan suara berbisik.

"Gue jawab nanti aja waktu pulang sekolah." ucap Felicia menunda untuk memberikan jawaban dari pertanyaan Lutfi.

Dia kembali mengerjakan soalnya sampai waktu menunjukkan kurang 15 menit untuk pengumpulan Felicia dengan segera mengoreksi selama 10 menit kemudian setelah yakin dia berdiri dan mengumpulkan miliknya.

Kring...Kring...Kring...

Bel pertanda waktu habis telah berbunyi guru pengawas telah berteriak agar siswa-siswi segera mengumpulkannya. Setelah mengumpulkan Lutfi segera menghampiri Felicia yang masih berada di depan ruangan menunggu bersama Ashima, Dina, Angel.

"Cie udah move on dari yang itu cie." ejek Ashima sembari menepuk- tepuk lengan Felicia.

"Diem loe emak-emak sayur kol." bales Felicia pedas yang membuat Ashima seketika diam tak berani mengucapkan sepatah katapun.

"Ada apa Lut, tanya tentang seseorang yang gue suka?" tanya Felicia langsung sasaran dengan ekspresi datar.

"Itu kak. Ada kelas sebelah keliatannya suka sama kakak." jelas Lutfi kepada Felicia yang dibalas anggukan kepala Felicia dan wajah bertanya-tanya temannya.

"Nama loe siapa, dek?" tanya Angel dengan senyuman di bibirnya.

"Tutup botol sirup m****n ( maaf cil sensor ya merknya) gue bukannya udah sebut kalau namanya Lutfi?" ucap Felicia gemas dengan temannya satu ini yang terlalu telmi alias telat mikir setiap ada orang berbicara.

"Kelas mana dek yang suka mak lampir kita ini?" tanya Dina dengan penuh penasaran. Yang langsung mendapatkan hadiah tatapan tajam dari Felicia.

"Kelas G kak," balas Lutfi.

"G!" pekik Felicia dan Ashima kaget secara bersamaan.

"Lah kok kalian berdua malah kaget?" tanya Angel dengan wajah kebingungan serta dahi berkerut seperti squidward.

"Mereka berdua kan mantan kelas anak G nang ning neng nong." ucap Dina gemas dengan temannya satu ini.

"Kalau udah selesai loe boleh pulang Lut." ucap Felicia agar teman semeja segera pulang agar tidak ketularan teman-temannya ini.

Setelah berbicara dengan sang adik kelas yang tak lain adalah Lutfi, Felicia dan teman-temannya langsung menuju kantin terlebih dahulu lalu ke samping laboratorium tempat biasa mereka berkumpul.

"Feli, loe kenal siapa yang dimaksud tuh bocah bolo-bolo tadi?" tanya Ashima peduli karena tidak ingin temannya kembali salah pilih.

"Nggak kenal dan nggak peduli gue." ucap Felicia tanpa melihat Ashima dan justru melihat langit yang menjadi kesukaannya.Setelah selesai mereka langsung pulang ke rumah masing-masing karena cacing diperut mereka yang telah berkonser.

"Feli. Kita pulang duluan ya." ucap mereka bertiga yang dibalas anggukan dan senyuman dari Felicia.

Bab 3

Sekolah telah sepi banyak murid, guru, penjaga kantin sudah pulang hanya tersisa 1 satpam saja. Felicia bertanya-tanya tumben sekali mamanya terlambat menjemputnya, bahkan biasanya Felicia belum keluar kelas pun mamanya sudah menunggu di tempat parkir.

Apa Feli minta tolong pak satpam minta anterin pulang ke toko ya?

Minta tolong nggak ya? Batin Felicia menimbang-nimbang keputusannya.

Karena jam yang menunjukkan semakin hampir sore dia pun akhirnya minta tolong kepada satpam SMP N 1 Samudera.

"Pak, boleh minta tolong nggak?" ucap Felicia sopan.

"Minta tolong apa non?" tanya pak satpam karena tumben sekali murid yang terkenal most wanted, tetapi dinginnya melebihi kutub ini belum pulang jam segini.

"Minta tolong anterin Felicia ke toko mama." ucap Felicia setengah ragu bagaimana kalau pak satpam sekolah tidak mau. Tidak mungkin kan dia harus menginap di sekolah bersama para penjaga legend sekolahnya.

"Ayo non, mari saya antar." ucap pak satpam sambil mengambil jaket dan kunci motor miliknya. Felicia menyunggingkan sedikit senyum sembari mengucapkan terima kasih.

Dikarenakan jarak antara toko milik mama Felicia dengan sekolah yang lumayan dekat sehingga perlu waktu 15 menit untuk sampai. Dia membuka pintu toko roti mamanya yang seketika langsung berhadapan dengan kasir. Kedatangan Felicia membuat banyak tatapan pembeli yang langsung mengarah pada dia. Dia terus berjalan menuju kasir dan menanyakan di mana keberadaan mamanya.

"Mama di mana ya, kak?" tanya Felicia kepada laki-laki yang menjadi kasir di toko.

"Nyonya Tesa sedang keluar sejak jam 11 tadi nona." ucap laki-laki kasir tadi sembari melayani pelanggan toko.

"Terima kasih kak, kalau begitu biar saya tunggu saja." ucap Felicia sembari duduk diujung paling belakang sambil membaca buku.

Setelah hampir 30 menit Felicia menunggu dia mendadak ingin ke kamar mandi. Saat ingin menuju ke kamar mandi dia melihat mamanya dengan seorang pria sedang bermesraan di depan toko dengan mobil merah milik mamanya. Felicia yang penasaran pun memutuskan untuk keluar dari toko dengan tas disalah satu bahunya dan buku di tangan satunya.

"Mam." panggil Felicia yang seketika membuat sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara itu menengok.

"Fel, mama bisa jelasin." ucap mama Felicia sambil melepas tangan pria yang dia gandeng.

"Jelasin apa mam? Tenang mam tenang, saya hanya ingin meminta kunci rumah." ucap Felicia berpura-pura tidak tau apa yang terjadi dan hanya meminta kunci rumah karena dia tidak mau terlalu lama menjadi pusat perhatian dan ingin segera beristirahat dengan tenang lalu makan. Mama Felicia seketika membuka dompet dan memberikan kunci rumah kepada Felicia.

"Ini Fel, kamu mau mama anterin? Atau biar mama suruh pegawai mama temanin?" tanya mama Felicia.

"Terima kasih mam. Nggak perlu mam Felicia bisa pulang sendiri." ucap Felicia datar lalu berjalan meninggalkan dua sejoli yang merupakan mamanya dengan pria asing entah siapa pun itu.

Felicia jalan menyusuri jalan raya yang begitu ramai namun dia masih bertanya-tanya siapa pria yang bersama mamanya tadi.

Mengapa mereka melakukan itu?

Tidak mungkin apabila itu rekan kerja mamanya?

Setibanya di halte dia menunggu bus yang rutenya sejalan dengan rumahnya. Bus pun tiba setelah 10 menit dia sampai. Dia duduk sendiri di samping jendela menikmati angin yang setidaknya mampu meringankan kepalanya.

Tak terasa 15 menit kemudian giliran Felicia yang turun. Felicia turun dan berjalan menuju rumahnya sendirian. Begitu sampai rumah dia langsung membersihkan dirinya,berganti baju, meletakkan tas didalam kamar, menyiapkan buku untuknya belajar di meja ruang tamu lalu membuat mie instan untuknya makan.

Ding... Dong... Ding... Dong...

Felicia terus menikmati makanannya hingga tak sadar bel rumah terus berbunyi dia berharap bahwa mamanya yang pulang ternyata harapannya pupus begitu melihat ketiga sahabat setianya. Sahabatnya sebenarnya banyak hanya saja mereka berubah membenci, mencaci maki, membully, berubah total karena banyak rumor tidak enak tentang Felicia dan hanya tersisa 3 permen loli milkita yang sekarang didepan rumahnya. Felicia mencuci piring secepat kilat lalu bergegas membukakan pintu.

"Ujung buset loe cuma pakai tanktop transparan sama hotpants nih nyambut kita?" ucap Ashima melihat penampilan Felicia dari atas sampai bawah.

"Loe kagak chat gue kagak tau." ucap Felicia santai sambil menutup pintu rumahnya.

"Gue kira loe mau ngedate Fel." ucap Angel yang tidak sadar dengan penampilan Felicia.

"Sama saha hah? Noh ngedate sama buku matematika Feli." ucap Dina sambil menunjuk buku-buku Felicia dimeja tamu.

"Ya kali gue ngedate pakai tanktop sama hotpants doang mau cari pangkalan atau gimana?" ucap Felicia lalu menuju dapur mengambilkan minum untuk mereka berempat.

"Fel, loe kagak cari anu lagi gitu?" ucap Ashima sambil meletakkan gelas minum yang telah habis sekali teguk.

ANU?!" pekik kaget Felicia, Angel, Dina tepat pada kedua telinga dan diatas kepala Ashima.

"Telinga gue asw." ucap Ashima emosi bercampur gemas dengan ketiga sahabatnya.

"Ashi kagak jamet kan?" ucap Felicia.

"Ashi bukan ASI utuh? Sehat? Kagak geserkan?" sambung Dina.

"Kayanya itu yang kampret bukan gue lagi deh tapi ada Ashima juga." ujar Angel menimpali ucapan kedua temannya yang sukses mendapat pukulan indah dari Ashima.

Mereka terus bersenda gurau hingga tak sadar apabila jam telah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Ashima, Dina, dan Angel berpamitan pulang dari rumah Felicia. Dia kembali merasakan kesepian yang selalu dia rasakan setelah papanya tiada dan hanya bertemu mamanya saat pagi itupun jika beruntung karena mamanya tidak berangkat terlebih dahulu bahkan saat sebelum tidur tidak pernah bertemu.

Dia menuju kembali ke ruang tamu membersihkan sampah yang berserak dilantai bekas teman-temannya tadi. Setelah dia membersihkan lalu dia belajar untuk materi besok sambil menunggu mamanya yang belum pulang.

Mendadak dia kembali kepikiran, siapakah pria tadi?

Apakah itu alasan dia jarang bertemu mamanya?

Apa yang mereka lakukan setelah Felicia pulang?

Mengapa mereka melakukan tadi?

Karena Felicia tidak ingin terlalu larut dalam pikirannya dia memutuskan belajar di kamarnya saja. Dia begitu masuk kamarnya langsung mengambil meja lipat kecil, lalu dia belajar sambil duduk bersandar. Dia terus belajar hingga ketiduran di atas tempat tidurnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

ARFESO

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED