Bab 1

"Ampun, Bu. Ampun ..., ku mohon hentikan, Bu. Sakiiit ...."

Teriakan Mutia di tiap harinya akan selalu terdengar sampai kerumah-rumah tetangga.

"Rasakan ini, masih kurang, kesini kamu! Dasar kamu memang anak s*al".

Plak plok plak plok ....!!

Dengan ringannya tangan ibu Mutia memukul anak sulung nya tersebut. Dan dari setiap kali selesai dengan amarahnya, ia akan selalu meninggalkannya begitu saja setelah dia puas memukulinya.

Bu Narti, itu adalah dirinya. Entah apa yang membuat dia bersikap begitu kasar pada Mutia, anak sulungnya itu. Baru juga Mutia lulus SMA, tapi Bu Narti sudah mencecarnya dengan berbagai macam kata kasar. Bu Narti hanya ingin Mutia segera bekerja agar bisa menghasilkan uang, untuk membantu membiayai adik Mutia yang masih sekolah.

"Bu, hari ini Mutia pamit mau cari kerja di kawasan industri, ya." Pagi itu Mutia meminta izin dan segera berpamitan kepada ibunya.

"Mau di kawasan, mau di kota, mau dimana terserah kamu, Mutia. Yang penting kamu bekerja, punya penghasilan. Kapan kamu bisa membahagiakan ibu dan bapak jika kamu terus menumpang sama ibu." Begitu sakit jawaban yang ibunya berikan.

"Iya, Bu. Mutia berangkat dulu. Assalamualaikum." Mutia pergi dengan linangan air mata di pagi hari yang cerah itu.

'Ya Allah, apa salahku kepada ibu, hingga beliau begitu membenciku?" ratap Mutia pilu di dalam hatinya.

Mutia berjalan dengan langkah kaki yang terlihat lesu menuju jalan besar untuk mencari angkutan umum. Di sepanjang jalan, beberapa tetangga menyapa Mutia yang berjalan dengan wajah tertunduk lesu. Warga sekitar begitu menyukai Mutia, bukan dari parasnya yang pas-pas an, tapi mereka menyukai sikap dan kesantunan Mutia terhadap orang lain.

"Mau kemana, Nduk. Pagi-pagi kok wajah sudah ditekuk begitu, ilang loh ayune," goda mbak Tutik saat Mutia lewat. Mbak Tutik adalah tetangga satu RT Mutia.

"Mau ngelamar kerja, mbak Tut. Jenuh jika harus di rumah terus," jawab Mutia sekenanya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

"Yo, ati ati yo, Nduk. Ojo lali Bismillah." Kata mbak Tutik kepada Mutia, dan Mutia pun hanya mengangguk dan tersenyum kepada mbak Tutik.

Di sana, kebetulan sedang berkumpul ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran.

"Yu Sari, yu Asih, kasihan banget yo si Mutia. Tiap hari dimarahi, dipukuli, sampai kayak gitu sama bu Narti. Aku kok ndak tega lihatnya," ucap mbak Tutik pada yu Sari dan yu Asih yang sedang memilih sayur didepan rumah mbak Tutik.

"Iyo kok, jan to wis gendeng tenan iku ibune Mutia. Anak gadis kok disia-sia. Ndak takut azab datang tiba-tiba." Yu Sari berkata dengan bibir mencebik khas para emak-emak yang lagi ghibah sambil beli sayur.

Sesaat kemudian, bu Narti juga datang untuk membeli sayur. Seketika, mbak Tutik dan Yu Sari terdiam dan berlalu setelah membayar belanjaannya.

"Lah, udah to belanjanya?" tanya Bu Narti yang baru saja datang.

"Sudah, Bu. Duluan, yo." Ketiga orang itu menjawab hampir bersamaan.

"Lah, aku baru datang kok mereka malah sudah pergi," cebik Bu Narti sambil memilah-milah sayuran.

**

Mutia menarik napas panjang, dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dia menatap sebuah pabrik garment di hadapannya. Pabrik yang begitu besar dan begitu terkenal di kotanya.

"Bismillahiromanirrohim, semoga semua dilancarkan, ya Allah. Semoga aku diterima dan dapat segera bekerja ditempat ini," gumam Mutia lirih saat mulai melangakah masuk ke dalam gerbang.

Setelah itu, Mutia menuju ke kantor satpam. Dimana banyak pelamar lain juga yang antri berjajar rapi disana. Pak satpam mulai mengumpulkan berkas para pelamar yang akan diserahkan kepada HRD. Lalu para pelamar kerja di arahkan menuju ke ruangan interview. Dari sepuluh orang pelamar, mereka hanya menerima lima orang saja sesuai kriteria. Pada saat interview juga sudah dijelaskan tentang sistem penggajian, jam kerja, jam istirahat, pemakaian seragam, dan juga tentang hari libur.

Usai dari ruangan interview para pelamar yang diterima langsung ditempatkan pada masing-masing bagian, mereka diantarkan oleh satpam untuk kemudian tanggung jawab dialihkan kepada para pimpinan bagian masing-masing departemen.

"Mutia Astuti," panggil kepala bagian kepada Mutia.

"I--iya, Pak," jawab Mutia dengan sedikit terbata.

🍁🍁🍁

Bab 2

"I--iya, Pak," jawab Mutia sedikit terbata. Ia terkesiap ketika mendengar namanya di sebut.

"Hari ini juga kamu mulai bekerja, ya. Kamu akan saya tempatkan di bagian packing produksi. Tugas kamu sementara ini memasukkan barang produksi kedalam polybag dan selanjutnya masukkan ke dalam karton sesuai nama dan size nya." Kepala bagian yang bernama Pak Joko tersebut menginterupsi.

"Iya, Pak. Saya mengerti," jawab Mutia mantap.

Hari itu Mutia lakoni dengan pekerjaan yang menurutnya tidak terlalu sulit. Ia pun dapat melewatinya tanpa gangguan yang berarti. Keuletannya dalam menyelesaikan pekerjaan yang memang baru pertama kali dilakoninya itu membuat pengawasnya puas. Tak perlu banyak bicara, hanya diajari sedikit saja, Mutia sudah tahu akan tugasnya.

Tepat pada pukul 4 sore, Pak Joko sang kepala divisi datang menemui Mutia.

"Mutia, hari ini adalah hari pertama kamu bekerja, dan saya nilai kinerja kamu cukup bagus. Kedepan lebih ditingkatkan lagi ya. Sekarang kamu boleh pulang," kata Pak Joko seraya tersenyum manis.

"Iya, Pak. Terima kasih," balas Mutia dengan senyum khas manis gadis kampung yang gulanya masih alami belum tercampur pemanis buatan.

Hari itu, Mutia pulang dengan wajah yang sangat lelah dan tanpa makan siang. Mutia yang baru pertama mencoba peruntungan melamar kerja, tidak tahu jika dia akan langsung bekerja pada hari itu juga.

"Assalamualaikum, Bu. Mutia pulang," ucap Mutia lelah sambil masuk kedalam rumahnya.

"Wa'alaikumsalam, gimana Mut, sudah dapet kerja kamu? Kerja dimana? Gajinya berapa sebulan?" tanya Bu Narti memberondong Mutia dengan banyak pertanyaan.

"Mbok ya biar istirahat dulu to Bu anaknya. Capek kui, kesel loh dia baru saja pulang kerja," sela pak Supri, suami Bu Narti.

"Wes to, Pak. Ibu kayak gini juga karena Bapak. Karena bapak sakit-sakitan, terus bapak di PHK. Sekarang kita cuma bisa mengandalkan hasil tani saja, Pak. Apa cukup kalau Mutia ndak bantu kerja? Rifki juga masih sekolah. Siapa yang mau biayain dia sekolah kalau Mutia ndak bantuin pak?" Kembali Bu Narti berkata dengan nada yang lebih ketus.

Pak Supri hanya bisa diam dan menunduk menyesali dirinya. Dia merasa begitu tidak berguna sebagai seorang ayah dan juga kepala keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan istri dan juga anaknya.

"Maafkan Bapak ya, Nduk." Pak Supri berkata lirih kepada Mutia dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Ndak apa-apa, Pak," jawab gadis itu seraya mengusap pundak sang ayah dengan lembut.

"Mutia sudah diterima bekerja, Bu. Tadi juga sudah mulai bekerja. Gajian Mutia nanti setiap tanggal 1 di awal bulan." Dengan perlahan Mutia menjelaskan kepada Bapak dan Ibunya perihal pekerjaannya. Tentang apa yang ia kerjakan dan bagaimana sistem kerjanya di tempat itu.

"Ya sudah, kerja yang bener yo. Pikirin sekolah adikmu dulu. Ndak usah kamu mikir cinta-cintaan, ndak usah pacar-pacaran dulu. Cari uang yang banyak baru kamu mikirin masa depanmu. Setelah adikmu selesai sekolah." Begitu jawaban Bu Narti atas penjelasan Mutia.

"Iya, Bu. Mutia paham. Mutia sekarang mau mandi dulu ya, Bu," ucap Mutia singkat karena memang dirinya sudah terlalu lelah bekerja seharian.

Esok paginya, dengan senyum yang mengembang, Mutia berpamitan untuk berangkat kerja kepada Bapak dan Ibunya. Dia memang sengaja berangkat lebih pagi dan ingin cepat-cepat sampai di pabrik karena tidak ingin bekerja dengan mood yang berantakan.

"Eeeh.... Kok pagi sekali Mut kamu berangkatnya. Sudah sarapan belum? Ayok sarapan dulu," ajak Pak Joko halus saat mereka sudah bertemu di depan gerbang.

"Mmmhh .. sudah kok, Pak. Saya sudah sarapan tadi di rumah. Terima kasih, Pak." Mutia secara halus menolak ajakan pak Joko. Karena Mutia merasa sedikit canggung sebab dia memanglah masih anak baru.

Dengan buru-buru Mutia menuju mesin absen pagi dan masuk ke area kerja. Di dalam sana masih terlihat sepi karena Mutia memang yang berangkatnya kepagian.

Dari samping meja kerja Mutia, muncullah seorang gadis dengan hidung mancung dan berkulit kuning langsat.

"Hei, kenalin aku Hilda. Salam kenal ya, Mut," sapa Hilda, salah satu senior yang sudah cukup lama bekerja di sana.

"Iya mbak Hilda, salam kenal juga. Saya Mutia," sahut Mutia yang langsung menerima uluran tangan dari Hilda.

"Kalau boleh aku saranin nih Mut, kamu jangan terlalu deket sama pak Joko. Tadi aku melihatmu di depan bersamanya. Dia itu laki-laki mata keranjang Mut, pacarnya banyak, dimana-mana. Bisa jadi kamu adalah mangsa dia selanjutnya," papar mbak Hilda pada Mutia.

Tentu saja Mutia yang masih karyawan baru langsung kaget, takut dan harus waspada. Takut jika apa yang baru saja dikatakan oleh Hilda itu akan terjadi padanya.

"Terima kasih atas sarannya mbak Hilda, sudah kasih tahu saya," ucap Mutia sambil tersenyum.

🍁🍁🍁

Bab 3

Bel masuk pun sudah berbunyi, saatnya mereka untuk bekerja. Seperti hari sebelumnya, Mutia bekerja dengan sangat lincah. Dia memang seorang gadis cerdas, jadi mudah baginya mempelajari hal-hal yang baru.

Saking seriusnya dia bekerja, dia sampai tak menyadari jika dari kejauhan sana ada sepasang mata yang terus menatap Mutia saat bekerja.

Kriiiiiing...

Kriiiiiing...

Kriiiiiing...

Bel istirahat sudah berbunyi, para karyawan keluar berbondong-bondong keluar gedung. Mutia beranjak dari tempatnya bekerja dan berjalan perlahan menuju ke kantin pabrik. Dia sudah membawa bekal dari rumah. Di kantin itu Mutia hanya membeli es teh manis untuk menghilangkan haus yang sejak tadi dia tahan.

"Boleh ndak kalau aku duduk di sini ?" tanya seorang laki-laki tinggi dengan rambut sedikit ikal dan tubuh yang sedikit kurus.

"Boleh kok, silahkan," jawab Mutia.

"Kenalin nama saya Andi, kamu Mutia kan, si anak baru?" tanya lelaki itu.

"Iya, Mas," jawab Mutia singkat.

"Pelit amat sih jawabnya, amat aja gak pelit loh Mut." Andi berkata sambil terkikik. Namun, Mutia hanya diam dan fokus makan.

"Rumahnya dimana nih?" tanya Andi lagi.

"Di daerah Kalideres mas," jawab Mutia lagi.

Bukan Mutia tidak menghormati orang lain. Tetapi Mutia yang masih anak baru tidak mau jika nanti dia akan menjadi bahan omongan orang-orang, pasti dia akan sangat malu. Iyo to, iyo ra? Paham to, mosok yo ora ...

"Oh, ya deket dong. Kapan-kapan aku main ke rumah kamu boleh kan, Mut?" tanya Andi sambil tersenyum, kemudian dia pun bergegas membayar makanannya. Lalu kembali masuk ke dalam.

Dari semenjak hari itu, pertemanan antara Mutia dan Andi dimulai. Andi sering mengajak Mutia untuk makan bersama di kantin saat Mutia tidak makan bareng sama teman-temannya.

Hari-hari terus berlalu, setelah hampir satu bulan Mutia bekerja disana, dia semakin akrab dengan Andi. Karena ternyata memang mereka satu bagian produksi. Bedanya Andi di lantai atas dan Mutia di lantai bawah.

Sejak pertama kali Mutia masuk kerja, Andi sudah menaruh hati padanya. Mutia memang bukanlah seorang gadis yang cantik, kulitnya juga tidak terlalu putih. Tapi Andi menyukai senyum itu, senyum yang tulus dari seorang wanita yang baik, pikirnya.

Apalagi setelah Andi tahu bahwa pak Joko diam-diam selalu mendekati Mutia. 'Jangan sampai aku keduluan sama pak Joko," batin Andi.

Hari ini adalah hari gajian pertama Mutia. Betapa bahagia nya dia. Dia bekerja sangat semangat sekali hari itu.

"Mut, nanti pulang kerja mau ndak tak ajak makan bakso mau ndak? Bakso yang segede bola tenis itu loh di warunge kang Ujang, deket prapatan, tenaaang ..., Aku yang traktir," kata Andi yang tiba-tiba muncul dari belakang Mutia.

"Ehm, piye ya, Mas." Mutia terlihat ragu-ragu.

"Tapi ya ndak apa-apa sih, Mas. Sekalian aku mau ambil gaji di ATM dekat situ," ucap Mutia menyetujui ajakan Andi.

**

Gurauan dan candaan pun hadir di tengah mereka saat ini. Suasana senja menghiasi obrolan yang terjadi di antara mereka berdua. Cahanya kemerahan mulai terlihat di langit yang mulai menggelap perlahan. Menyembunyikan pancaran sinar yang hendak bersembunyi.

Di sela-sela mereka yang sedang makan. Mutia mulai menceritakan kisah hidupnya yang pilu kepada Andi. Baru kali ini ia bisa membuka diri untuk berbagi cerita, setelah sekian lamanya semua luka itu ia pendam sendiri. Ia terus mengatakan apa yang ia rasakan sambil mengusap sedikit air mata yang begitu saja lolos meski sudah ia tahan-tahan agar tak terjatuh.

Mutia mulai bercerita tentang bagaimana perlakuan Bu Narti padanya, cacian serta pukulan yang sering dilayangkan hanya karna materi yang selalu dianggapnya kurang. Dan bagaimana sakitnya perasaan Mutia saat setiap hari dia harus meminum jamu pahit dari ibunya tanpa bisa dia muntahkan. Jamu yang berwujud rentetan umpatan yang hanya bisa Mutia pendam.

"Astaghfirulloh ... ya Alloh ... Aku ndak bisa berkata-kata lagi. Adakah seorang ibu yang bisa berbuat seperti itu terhadap darah dagingnya sendiri. Yang sabar ya, Mut. Kok aku jadi geregeten yo sama ibumu, kalau tak BOM nuklir gitu boleh ndak sih, Mut?" ucap Andi sambil mengusap pelan pundak Mutia dan sedikit berusaha menghiburnya.

"Aku itu sama sekali ndak pengen jadi anak yang durhaka, Mas. Tapi kok ya sakit kalau setiap hari dijadikan tempat pelampiasan dari amarah ibu." Sekarang, Mutia sudah tak kuasa lagi untuk membendung tangisnya. Untung saja baksonya sudah habis. Ternyata benar ya, walau hanya untuk bersedih pun kita butuh tenaga.

"Sing sabar ..., Gusti Alloh maha melihat dan maha mendengar, Mut. Kamu masih punya iman, kamu masih punya Allah untuk mengadukan seluruh keluh kesahmu. Dan kamu masih punya aku yang dapat kamu jadikan sebagai tempat untuk berbagi." Andi kembali mengusap lengan Mutia dan mencoba untuk terus menyemangatinya.

🍁🍁🍁

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED