Taman Putri Kaca Mayang, Pekanbaru.
Jum'at, 5 Agustus 2022.
Siang hari, 14.00 WIB.
Azra sedang duduk di salah satu tempat yang ada di taman Putri kaca Mayang Pekanbaru. Matanya menatap kosong ke depan menerawang sesuatu yang sudah beberapa hari ini membuat sesak dadanya. Sekuat mungkin Azra menahan air mata yang terus saja mendesak ingin keluar. Berbagai macam beban bertumpu di pundak. Belum selesai satu masalah, sudah datang lagi masalah yang lain sampai Azra sendiri bingung bagaimana caranya mencari solusi agar dapat keluar dari segala kerumitan ini.
Hah!
Azra menghembuskan nafas panjang. Mencoba tersenyum sembari menatap anak-anak yang berbahagia tengah bermain bersama keluarga mereka. Terlintas di pikiran Azra, andai saja dia dapat tertawa lepas bahagia seperti anak itu mungkin semuanya akan terasa sangat ringan tanpa beban. Getaran ponsel mengalihkan perhatian Azra. Senyuman manis terukir di bibirnya mendapati pesan dari seorang pria yang sangat dia cintai.
"Lagi di mana, Dek? Udah pulang dari klinik, belum?" Isi pesan singkat dari Bima, pria yang sudah menjalin hubungan dengannya beberapa bulan terakhir. Hanya pesan singkat seperti itu saja, tetapi berhasil menghangatkan hati Azra.
"Udah, Mas. Nih, aku lagi duduk di Kaca Mayang," balas Azra dengan cepat. Dia tidak mau Bima terlalu lama menunggu pesan balasan darinya.
"Gimana kata dokter, Dek?" tanya Bima akan kesehatan Azra yang memang sedikit terganggu beberapa bulan terakhir.
"Semuanya udah mulai baik, Mas. Cuma, bulan depan tetap harus check up lagi. Setiap bulan harus ke klinik sampai benar-benar sembuh." Azra mengetik dengan gerakan yang sangat cepat. Wajar saja, dia yang menggunakan ponselnya untuk mencari uang tambahan tentu sudah terbiasa mengetik cepat.
"Maaf, Mas ngak bisa ngantar," lanjut Bima dengan emoticon sedih.
Mengirimkan balasan dengan senyuman yang terdapat love di sana, Azra berusaha menunjukkan kalau dia sekarang sedang baik-baik saja.
"Ngak papa, Mas. Aku ngerti, ko."
"Lagian, aku udah biasa kemana-mana sendiri. Jadi, aku nggak kaget lagi. Mas tenang aja. Mas tahu kan, kalau aku pemberani?"
Dua kali Azra mengirimkan pesan singkat balasan. Azra tidak mau Bima mengetahui kalau sebenarnya saat ini dia sedang membutuhkan sandaran.
Berbagi cerita dan keluh kesah sembari mengeluarkan segala apa yang tertahan di hatinya. Sayang sekali, kesempatan itu belum datang padanya saat ini.
"Iya, Mas tahu. Cuma, rasanya lain aja. Biasanya, kan Mas bisa ngantar Adek, tapi karena kerjaan Mas yang bener-bener ngak bisa ditinggal, jadi Adek harus pergi sendiri," balas Bima mengungkapkan penyesalannya.
Yah, sebelumnya Bima tidak pernah absen mengantarkan Azra pergi ke klinik memeriksakan kesehatannya. Hanya saja, kali ini pekerjaan yang menumpuk benar-benar tidak bisa ditinggal. Bahkan beberapa berkas kantor yang akhir-akhir ini menggunung membuat Bima harus lembur tiap malam.
Azra tersenyum kecut membaca pesan dari kekasihnya. Dia sama sekali tidak marah. Bukan teman pergi ke klinik yang dibutuhkan Azra, tapi teman untuk berbagi masalah yang saat ini mengganggu pikirannya.
"Yah, Mas rasanya memang lain. Bukan cuma karena Mas Bima yang nggak bisa ngantar aku ke klinik, tapi ada hal lain yang lebih besar dari itu. Sesuatu yang membuatku terganggu dalam tidurku. Sayangnya, Mas Bima nggak pernah mau membicarakan hal itu bersamaku," gumam Azra pelan sembari menatap ponsel dalam genggamannya. Membaca pesan Bima yang sampai saat ini sudah lebih dari 15 menit belum juga dia balas.
"Belum lagi tentang ibu yang kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu? Sementara gajiku dari bekerja ditambah dengan tabunganku masih jauh dari kata cukup," lanjut Azra yang masih menatap ponsel seolah Bima mendengar apa yang menjadi kegelisahannya saat ini.
Belum sampai Azra mengetik pesan balasan untuk Bima, pesan baru yang masuk dari pria itu membuat Azra hanya bisa tersenyum terpaksa.
"Ya, udah dulu ya, Dek. Mas mau lanjut kerja biar nanti malam ngak lembur. Mas pingin pulang cepet biar bisa istirahat cepet juga," isi pesan Bima. Lalu tidak lama kemudian pesan kedua dari Bima menyusul.
"Nanti kalau mau pulang, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut. Oh, ya, jangan lupa kasih tahu sama Mas kalau udah sampai rumah. Assalamualaikum."
Senyuman tipis terbit di sana, Azra menggeleng tidak mengerti. Padahal Bima tahu kalau rumahnya tidak jauh. Masih sekitaran Pekanbaru, tapi pria itu menganggap rumahnya seolah berada di ujung dunia sampai harus memberikan pesan seperti itu.
"Yang semangat kerjanya, Mas. Kalau capek natap laptop terus, Mas istirahatkan sebentar matanya. Jangan lupa menjaga kesehatan. Nanti kalau udah kayak aku, jadinya malah payah buat sembuh." Pesan pertama sudah Azra kirimkan. Dia kembali mengetik pesan kedua untuk membalas pesan kedua Bima.
"Ya, nanti kalau aku udah sampai di rumah, aku kasih tahu Mas Bima. Jangan lupakan kalau rumahku sebenarnya deket, cukup 30 menit saja udah sampe. Jadi, Mas Bima ngak usah khawatir banget sama aku. Wa alaikumussalam."
Pesan sudah terkirim keduanya, tapi belum bercentang biru. Padahal saat ini Bima masih aktif. Mungkin pria itu sedang sibuk dengan rekan kerjanya, pikir Azra mencoba untuk selalu berpikiran positif.
Merasa dia sudah cukup mengistirahatkan pikirannya di tempat itu Azra beranjak dari tempat. Dia berjalan sembari membawa minuman di tangan kanannya. Tas ransel sederhana selalu setia menemani kemanapun Azra pergi.
Saat sudah hampir sampai di tempatnya meletakkan sepeda motor, Azra yang sedang sibuk dengan ponselnya tidak fokus melihat keadaan. Dia hampir saja terserempet oleh orang yang tengah melintas dengan kecepatan tinggi. Bahkan bisa dibilang orang itu termasuk ugal-ugalan dalam membawa sepeda motor di tempat yang tidak seharusnya.
Beruntung sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Tepat ketika Azra hampir saja terserempet, seseorang menariknya cepat menyelamatkan.
Azra merasa tubuhnya tertarik kuat. Spontan, Azra tidak sadar langsung mengalungkan kedua tangannya di leher orang yang sudah menyelamatkan dia sembari memejamkan matanya erat.
Syukurnya ponsel Azra tidak terjatuh. Benda pipih itu masih tetap berada dalam genggaman meski saat ini dia memeluk leher orang yang sudah menyelamatkannya.
"Orang itu sudah pergi, Nona. Anda sudah bisa tenang, sekarang. Lain kali berhati-hati lah kalau sedang berjalan. Jangan hanya karena sebuah ponsel justru membuat nyawa anda berada dalam bahaya," ucap seorang pria yang saat ini kedua tangannya memeluk pinggang Azra.
Posisi mereka berdua terlihat begitu mesra. Jika orang tidak tahu mengenai kejadian yang sebenarnya pasti mereka mengira yang tidak-tidak tentang Azra dan pria itu.
Suara seorang pria yang terdengar sangat dekat membuat Azra membuka pejaman matanya. Seketika dia langsung disambut oleh mata indah pria itu. Azra seperti terhanyut di dalamnya. Bahkan dunia terasa berhenti berputar.
Bukan hanya itu saja, orang-orang yang tengah melintas dan melihat mereka berdua yang masih dalam posisi berpelukan menganggap seolah dunia hanya milik mereka berdua, yang lain cuma numpang.
"Terpesona oleh ketampananku, Nona?" Pria itu bertanya setelah tidak mendapatkan tanggapan Azra.
Ternyata, pertanyaan itu masih belum dapat menyadarkan Azra. Akhirnya pria itu kembali membuka suara sembari melepaskan sebelah tangan kanannya yang tadi memeluk pinggang Azra.
Sementara tangan kiri masih tetap berada di sana menahan tubuh Azra. Dengan tangan kanan menyingkirkan rambut halus yang menutupi wajah Azra, perkataan pria itu berhasil membawa wanita di hadapannya kembali pada kesadaran saat ini.
"Apa aku terlalu mempesona sampai membuatmu melupakan duniamu, hmm? Atau aku perlu membawamu langsung menghadap kedua orang tuamu lalu merubah status kita berdua menjadi sah?"
Azra mengerjapkan kedua matanya mendengar kata sah yang terucap. Satu kata yang sangat diharapkan hadir dari seorang pria yang dia cintai. Sayangnya, satu kata itu semakin terasa jauh untuk menyatukan mereka berdua.
Azra mulai menyadari posisinya saat ini. Dia melepaskan pelukannya dari leher pria itu dan mundur satu langkah. Salah tingkah dengan keadaan mereka tadi yang sangat dekat membuat Azra mengalihkan hal itu dengan merapikan rambutnya yang berantakan. Kemudian dia tersadar ketika tanpa sengaja melihat jas pria itu kotor oleh minuman yang dia bawa tadi.
"Terima kasih sudah menyelamatkan aku, emm ...." Azra bingung. Keningnya berkerut ketika dia berpikir harus memanggil pria di hadapannya dengan panggilan apa.
Kalau dipanggil Mas, rasanya sangat tidak cocok. Dilihat dari wajah pria itu sepertinya dia bukanlah orang Indonesia.
"Tuan, terima kasih karena sudah menyelamatkan saya. Dan mohon maaf pakaian Anda harus kotor karena minuman saya." Akhirnya Azra memutuskan memanggil pria itu dengan panggilan formal dan meralat perkataannya sembari meminta maaf.
Azra ingin maju membersihkan cairan yang tertempel di sana, tapi rasanya hal itu akan sangat tidak sopan. Sehingga Azra memilih mengambil sapu tangan yang berada di dalam tas dan memberikan kepada pria itu agar membersihkannya sendiri.
"Ini, Tuan tolong bersihkan sendiri cairan yang mengotori pakaian Anda. Sekali lagi saya berterima kasih atas bantuannya. Saya permisi, Tuan." Azra menunduk sedikit menghormati lalu kemudian dia berbalik dan lanjut berjalan menuju sepeda motor yang terparkir tidak jauh dari sana.
Pria itu menerima sapu tangan Azra, tetapi dia belum menggunakan untuk membersihkan jas miliknya yang kotor. Dia masih terus memandang pada kepergian Azra yang saat ini menuju sepeda motor matic berwarna merah.
Tidak sekalipun Azra berbalik untuk kembali memandangnya. Padahal dia sangat ingin wanita itu memberikan senyuman kepada dia setidaknya sekali saja.
"Tuan, dia," ujar Erick, sekretaris pribadinya menggantung.
"Yah!"
"Azra Guzel Nawala. Dia wanita itu. Dia wanita yang selama ini kucari. Setelah sekian lama akhirnya kami dapat bertemu kembali. Meskipun mungkin menurut Azra ini merupakan pertemuan pertama kami," katanya menanggapi perkataan sekretaris pribadinya.
Sejak tadi Erick menunggu bos besarnya di jarak yang cukup jauh. Setelah sang bos bertemu Azra, Erick mendekati untuk memastikan kalau mereka tidak salah orang. Ternyata memang benar, Azra adalah orang yang selama ini dinantikan oleh bos besarnya itu.
Daren Yilmaz Adshaka, pria berkebangsaan Dubai, UAE. Dia datang ke Indonesia untuk melakukan perjalanan bisnis.
Beberapa saham yang ditanamkan di banyak perusahaan besar kelas internasional membuatnya harus berkeliling ke berbagai penjuru negara. Untuk perusahaan miliknya yang berada di Pekanbaru, bukan tanpa alasan Daren mendirikannya di tempat itu. Ada seorang wanita yang dia cari sampai membuat Daren rela melakukan semuanya.
Yah, beberapa bulan yang lalu ketika Daren sedang berada di Pekanbaru untuk melakukan perjalanan bisnis tanpa sengaja dia bertemu dengan Azra di salah satu mall yang ada di Pekanbaru.
Daren yang tengah berjalan-jalan mencari hiburan melihat Azra sedang bermain Timezone bersama dua orang sahabatnya. Mungkin itulah yang dinamakan sebagai Cinta pada pandangan pertama untuk Daren. Terlebih lagi waktu itu Azra tidak sengaja menabraknya saat sedang berjalan. Sesuatu yang Daren anggap sebagai peristiwa mengesankan.
Setelah itu Daren terus terbayang-bayang wajah Azra meski dia sudah kembali ke negara asalnya. Satu-satunya wanita yang berhasil merusak ketenangan seorang Daren. Padahal tidak sedikit wanita yang mendekati pria itu dan berharap untuk dijadikan sebagai tambatan hati.
Bukan hal yang sulit bagi seorang Daren untuk mengetahui seluruh identitas Azra. Karenanya, tanpa berkenalan sekalipun Daren sudah mengetahui seluruh seluk beluk kehidupan Azra. Bahkan Daren juga mengetahui masalah yang saat ini tengah dihadapi oleh Azra.
Begitu besarnya niat Daren mendapatkan Azra sebagai pendamping hidupnya membuat pria itu memerintahkan salah satu detektif pribadi untuk mengawasi seluruh pergerakan Azra dan memberikan informasi kepada dia.
Sepertinya Azra memang menjadi wanita yang sangat diincar oleh Daren. Segala sesuatu tentang Azra wajib Daren ketahui meski hanya dari hal yang terkecil sekalipun.
"Persiapkan semuanya dan beritahu Mommy kalau aku akan pulang membawa menantu yang sangat dia harapkan," perintah Daren kepada sekretaris pribadinya sembari berjalan menuju mobil yang terparkir di sana.
Sapu tangan milik Azra masih berada dalam genggaman Daren. Dia tidak rela mengotori sapu tangan wanitanya karena benda itu akan dijadikan oleh Daren sebagai obat rindu kepada Azra. Tentang jasnya yang kotor, Daren tidak mempedulikan. Cukup dibuang saja dan semuanya selesai.
"Sesuai yang Anda perintahkan, Tuan," sanggup Erick sembari berjalan mengikuti dan mengotak-atik ponsel miliknya menghubungi seseorang yang berada di seberang sana.
"Siapkan kamar sekarang juga. Tuan Adshaka akan segera menuju ke hotel," ucap Erick pada sambungan telepon.
***
Pagi ini sama seperti biasanya. Azra pergi ke kantor membawa beberapa bekal sarapan sesuai dengan banyaknya pesanan dari teman kantor satu divisinya.
Selain bekerja di kantor bagian administrasi, Azra juga menjadi seorang penulis novel platform online dan membantu orang tuanya yang membuka usaha sarapan pagi untuk menawarkan kepada teman-temannya. Karena itu setiap hari dia selalu membawa beberapa untuk mereka.
"Azra, kamu sudah tahu kabar dari Bima?" tanya salah satu dari mereka ketika Azra memberikan pesanan sarapan paginya.
"Kabar dari Bima?" tanya Azra tak mengerti.
"Tidak tahu. Memangnya ada apa? Bukannya Bima baik-baik saja?"
'Sejak kemarin kami tidak ada komunikasi lagi. Terakhir ketika aku pulang dari klinik. Ketika aku sampai di rumah dan memberinya kabar tidak satupun pesanku dibalas Mas Bima. Jangankan dibalas, bahkan dibaca pun tidak,' batin Azra meringis.
'Entah mengapa aku merasa Mas Bima seperti menjauhi ku. Padahal Mas Bima bilang akan berusaha untuk mendapatkan restu dari keluarganya, tapi mengapa yang aku rasakan sekarang justru sebaliknya.'
"Tapi Bima masuk rumah sakit. Kamu beneran nggak tahu?"
Perkataan selanjutnya itu berhasil membawa Azra tersadar dari lamunannya. Bahkan Azra tidak dapat menyembunyikan raut terkejut dari wajahnya yang secara tidak langsung mengatakan kalau dia benar-benar tidak tahu perihal Bima masuk ke rumah sakit.
"Iya bener, Azra. Aku tahu dari teman satu kantornya. Katanya Bima sedang dirawat di rumah sakit sama calon istrinya yang dokter itu karena kondisi kesehatannya semakin memburuk," sahut wanita yang juga memesan sarapan pagi.
Deg!
Tiba-tiba Azra teringat pria yang dia cintai. Seseorang yang selalu memandangnya dengan lembut, memberikan kasih sayang serta ketulusan, dan harapan masa depan yang bahagia. Namun, berita yang dia dengar saat ini membuat hatinya terasa sangat perih sampai dia sedikit kesulitan untuk bernafas.
'Azra, status hubungan kita sudah sah menjadi pacar. Sepasang kekasih yang saling mencintai,' kata Bima Azra dengan penuh kasih sayang.
'Memangnya apa pentingnya status, Mas? Yang paling penting dari semua itu hanyalah sebuah ketulusan, saling percaya, dan menerima keadaan satu sama lain. Kalau status kita berpacaran, tapi tidak ada hal itu di dalamnya semua akan percuma, Mas,' balas Azra dengan suara lembut sembari tersenyum simpul.
'Bagiku itu sangat penting. Kalau aku tidak memiliki status hubungan yang jelas denganmu, aku khawatir kamu akan diambil orang,' terang Bima membuat senyuman kebahagiaan di wajah Azra semakin terlihat.
'Lalu apa gunanya semua kata-kata itu kalau ternyata saat ini gosip kamu yang memiliki tunangan sudah menyebar kemana-mana, Mas?' batin Azra meringis perih.
"Shut! Kamu ini!" tegur seseorang mengingatkan kalau Azra masih berstatus sebagai kekasih Bima.
Suara mereka berhasil membawa Azra kembali pada kesadarannya.
"A ... aku," gagap Azra yang wajahnya langsung memucat.
Azra sadar kalau seluruh keluarga Bima tidak merestui hubungan mereka dan mencarikan seorang wanita yang lebih sempurna untuk menjadi calon istri pria itu. Namun, tetap saja kata-kata yang tidak disengaja oleh temannya itu menusuk ke dalam hatinya.
Secara tidak langsung perkataan singkat itu mengungkapkan bahwa sudah banyak orang yang mengetahui kalau ternyata Azra dan Bima tidak akan pernah bersatu. Bahkan berita perihal Bima yang sudah memiliki calon istri pilihan keluarganya juga sudah tersebar kemana-mana.
Disaat Azra bingung akan menanggapi perkataan mereka dering pesan masuk dari ponselnya berhasil menyelamatkan. Azra membuka pesan masuk dengan gerakan cepat dengan tangan gemetar.
'Putri Zahrana, nama pena yang indah. Azra Guzel Nawala, nama asli yang tidak kalah indahnya. Aku tahu siapa kamu dan semua identitas mu.'
'Tinggalkan semua pekerjaanmu hari ini dan temui aku di alamat ini dalam satu jam ke depan. Aku tunggu kamu di sana.'
Pesan dari nomor asing itu mengandung kalimat perintah yang tidak boleh ditolak oleh Azra. Hal itu membuat keningnya berkerut tidak mengerti sembari melihat alamat yang tertera di sana.
Belum sampai Azra membalas pesan itu, ponselnya kembali berdering. Ternyata panggilan masuk dari Ziya, teman baiknya yang sudah bersama sejak mereka masih kecil.
"Azra, cepat ke rumah sakit. Ibu masuk rumah sakit lagi dan kondisinya kritis. Aku tidak tahu harus bagaimana." Suara Ziya dengan panik dan isak tangis langsung menyambut pendengaran Azra.
"Kamu tunggu aku datang. Sekarang juga aku ke rumah sakit," jawab Azra dengan cepat.
Tanpa menunggu lama Azra langsung menuju ke parkiran sepeda motornya berada. Dia tidak lagi kepikiran untuk meminta izin terlambat masuk atau bahkan libur. Yang ada di pikiran Azra hanya ibunya. Namun, sekuat mungkin berusaha untuk tenang dan fokus.
"Ibu masuk rumah sakit dan nomor asing itu meminta aku untuk menemuinya. Bahkan nomor itu juga menyuruhku untuk meninggalkan semua pekerjaan hari ini."
"Kenapa semuanya kebetulan seperti ini?" gumam Azra sembari mengendarai sepeda motornya ke rumah sakit.
Air mata tidak berhenti mengalir sepanjang perjalanan mengingat kondisi kesehatan ibunya yang akhir-akhir ini memang mengkhawatirkan. Terpikirkan sesuatu, Azra menepi dan membuka ponselnya. Dengan cepat jemarinya mengetik sesuatu.
'Ziya, kamu tenang sebentar, ya. Tunggu ibu dan jangan tinggalkan dia. Aku ada urusan sebentar,' kata Azra dalam pesan singkatnya.
'Aku tidak punya waktu satu jam ke depan. Aku akan menemuimu sekarang,' lanjut Azra menuliskan pesan dan mengirimkan kepada nomor asing sebelumnya.
'Okey. Datanglah. Aku menunggumu sekarang.'
Balasan dari nomor asing itu dengan cepat Azra dapatkan. Sementara dia mengabaikan pesan balasan dari Ziya. Selanjutnya Azra melajukan sepeda motornya ke alamat seseorang misterius di sana.
"Pengobatan ibu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau orang itu tahu identitas ku dan namaku dalam dunia literasi, itu artinya kemungkinan dia orang yang mengenalku dengan baik," pikir Azra dalam perjalanan.
"Baik buruknya akan aku hadapi nanti di depan. Sekarang aku hanya berharap semoga kebaikan dan pertolongan yang besar akan datang. Aku yakin Tuhan akan memberikan rezeki tak terduga untuk pengobatan ibu."
Azra meyakinkan diri sendiri dalam kegundahannya kali ini. Bagaimana tidak, seluruh tabungan dia tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit nanti.
Kalau pergi tanpa membawa uang yang cukup, itu hanya akan membuat Ziya dan ibu menjadi sedih. Harapan Azra kali ini semoga saja ada yang mau meminjamkan dia uang. Entah itu nomor asing tadi atau siapapun yang Tuhan kehendaki.
"Silakan masuk, Nona Azra. Tuan sudah menunggu anda di atas," ucap Erick begitu bertemu Azra di lobby.
"Emm ... terima kasih." Azra menjawab seadanya, tetapi dia tetap berdiri di sana sembari memperhatikan Erick.
"Mari ikuti saya, Nona. Jangan khawatir karena anda akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada anda," jelas Erick mengetahui pandangan waspada Azra kepadanya.
"Saya Erick, sekretaris pribadi tuan," imbuh Erick merasa perlu untuk memperkenalkan dirinya mengingat mereka akan sering bertemu di masa depan.
Begitu mengetahui Azra akan datang lebih cepat, Erick sengaja menunggu di depan pintu lobby untuk menyambut sekaligus mengantarnya sampai ke atas menemui Daren. Namun, Erick tidak lagi membuka suara lebih banyak untuk menjelaskan sesuatu karena semua itu akan disampaikan sendiri oleh bos besarnya.
"Selamat pagi, Sweety," sapa Daren begitu Azra masuk ke dalam.
"Maaf sudah membuatmu repot untuk datang ke sini. Seharusnya aku yang langsung datang menemuimu, bukan malah sebaliknya seperti ini," kekeh Daren melanjutkan sembari tersenyum.
"Kamu ...." Azra terkejut mendapati pria di depannya. Dia merasa tidak mengenal pria itu dan mereka tidak sengaja bertemu hanya satu kali saja.
"Maaf, apakah ada masalah di antara kita?" tanya Azra langsung pada intinya setelah dia dipersilahkan duduk di sofa yang ada di sana.
"Bukankah saya sudah meminta maaf atas kejadian waktu itu? Dan saya juga sangat berterimakasih atas bantuan anda yang sudah menyelamatkan saya. Lalu, seharusnya sudah selesai semuanya disaat itu juga, bukan?"
Merasa putus asa atas harapannya mendapatkan pertolongan untuk tambahan biaya pengobatan sang ibu, Azra merasa tidak perlu lagi berbasa-basi di sini. Semakin cepat pergi dari tempat ini, maka semakin baik. Terlebih ada Ziya yang sedang menunggu dia segera ke rumah sakit.
"Jangan terburu-buru, Sweety. Aku mengundangmu kesini bukan untuk membahas kejadian itu," sanggah Daren disertai senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Padahal sebenarnya Daren termasuk pria yang hanya memiliki ekspresi dingin dan datar. Hanya saja, setelah bertemu Azra, dia merasa senyumnya muncul lebih cepat dengan sendirinya ke permukaan.
"Lalu? Aku sama sekali tidak memiliki lebih banyak waktu disini bersamamu untuk membicarakan omong kosong dan hal yang tidak penting," balas Azra dengan cepat. Dia sama sekali tidak takut pada laki-laki di hadapannya yang sepertinya memiliki kekuasaan besar.
"Baiklah kalau begitu. Aku langsung saja pada intinya."
Daren menatap Azra dengan serius. Dia tahu benar apa yang membuat Azra terburu-buru seperti ini. Karenanya Daren juga tidak akan menahan lebih lama di sini setelah menyampaikan niatnya. Meskipun sebenarnya dia sangat menginginkan hal itu.
"Azra, menikahlah denganku. Aku mau kamu menjadi istriku."
Glek!
Azra menelan salivanya susah payah. Dia memicing menatap wajah Daren yang terlihat sangat serius dan tidak ada jejak bercanda di sana.
"Kamu melamarku, heh?" kata Azra meremehkan. Kemudian dia bangkit dan hendak pergi dari sana tanpa permisi.
"Azra, aku serius dengan perkataan ku." Daren mencegah Azra pergi dengan menahan lengan tangan kirinya.
"Aku mau kamu menjadi istriku."
"Azra Guzel Nawala, menikahlah denganku. Jadilah istriku dan ibu dari anak-anakku. Satu-satunya wanita yang akan melahirkan keturunanku," ulang Daren dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.
Hati Azra bergetar begitu mendengar nama lengkapnya diucapkan dengan lugas.
'Kenapa?'
'Kenapa nama lengkapku terdengar begitu indah saat kamu mengucapkannya?'
'Kenapa bukan Mas Bima yang datang kepadaku dan memintaku untuk menikah dengannya?'
'Kenapa bukan orang yang kucintai yang melamarku saat ini?'
'Kenapa keluarga Mas Bima tidak merestui hubungan kami?'
'Apa salahku? Di mana letak kesalahan besarku kepada mereka?'
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Azra. Semua hal indah yang sudah diganggunya bersama Bima terlintas begitu saja.
Di sudut hatinya, Azra masih berharap kalau Bima akan memperjuangkan cinta mereka. Walau saat ini dia sudah sakit hati atas berita yang simpang siur mengenai pertunangan kasihnya itu dengan seorang dokter.
Mencoba melepaskan tangannya namun gagal, membuat Azra membuka suara tanpa berbalik menatap Daren yang berada sedikit di belakang.