Bab 1

Juli 2015

Pagi yang cerah ini menjadi hari pertama para murid masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih lima puluh menit, sebentar lagi upacara akan segera dimulai.

SMK Cahaya Bangsa adalah salah satu sekolah kejuruan terbaik yang menyandang predikat sekolah favorit. Segudang penghargaan telah didapat yang membuat sekolah ini harum namanya. Yang menjadi ikon adalah predikat sekolah terbersih di kota ini.

Tidak mudah untuk bisa sekolah di sini. Anak-anak yang terpilih sudah melalui tes atau berdasarkan nilai akhir ujian. Selain itu, SMK Cahaya Bangsa juga menerapkan peraturan yang sangat ketat dan menerapkan punishment and reward.

Namun, pasti ada saja murid yang yang tidak begitu tunduk pada peraturan. Salah satunya adalah seorang siswi yang baru saja melewati gerbang sekolah dengan langkah santai. Bahkan dia tidak peduli dengan murid lain yang tidak sengaja menabrak bahunya dari belakang.

"Kak Rania, ayo bentar lagi upacara nya dimulai!"

"Udah sana duluan aja," balasnya pada orang lewat yang ia tidak kenal tadi.

Dia adalah Rania Ghassani, siswi kelas 12 jurusan Pemasaran yang cukup aktif di sekolah. Karena bel terakhir sudah berbunyi, gadis itu tidak bisa menyimpan tas terlebih dahulu di kelas sebelum mengikuti upacara. Alhasil dia terpaksa menyimpan tasnya sementara di UKS.

"Itu yang namanya Kak Rania anak kelas 12 PS-2 itu?"

"Iya. Keliatan biasa aja, 'kan?"

"Iya ya. Tapi kok bisa bikin peraturan keramat sekolah diganti gitu aja karena dia?"

"Ada sesuatu kali?"

"Ap‒"

"Heh bukannya keliling, malah ngobrol! Cepet cek anak-anak yang upacara!"

"I-iya, Kak."

Rania mengangkat sudut kiri bibirnya saat tidak sengaja mendengar pembicaraan orang-orang itu. Mungkin ini salah satu konsekuensi menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) yang akhirnya bisa mengubah aturan sekolah paling kuat.

Bagi mereka yang tidak mengenal Rania, seringnya berpikir kalau gadis itu adalah orang yang dingin dan cuek. Ekspresi wajah yang terlalu jujur daripada mulut juga menjadi ciri khas. Apalagi ketika merasa tidak suka dengan seseorang.

Sekitar tiga puluh menit berlalu, upacara hari Senin pun selesai. Rania bergegas mengambil tas yang ada di ruang UKS. Matanya mungkin tidak melihat, tetapi dia bisa merasakan tatapan dan suara bisik-bisik yang mengarah ke padanya.

Rania tidak mau ambil pusing, langkahnya tetap santai menuju kelas Pemasaran 2 (PS-2). Rasanya tidak sabar ingin segera masuk ke kelas untuk bertemu teman-teman kelas dengan wajah baru. Kabarnya kemarin ada pengaturan ulang untuk setiap kelas.

Saat Rania baru sampai di ambang pintu, beberapa anak sudah berkumpul di depan kelas sambil tersenyum lebar ke arahnya. Rania seketika tertawa geli sambil menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya.

"Weh ini dia pahlawan kitaaaa."

"Rania Ghassani si pembawa perubahan!"

"Panutanku!"

Rania berjalan ke arah mereka sambil masih tertawa. "Apaan sih lo pada? Biasa aja kali."

"Coba aja dari dulu ada yang berani ngomong kayak gitu, udah dari dulu kali itu peraturan diganti," ujar seorang perempuan dengan tulisan nama Saras di baju seragam.

"Yaudah lu pada traktir gue, ya. Buat tanda terima kasih!" seru Rania.

Mereka semua pun tertawa bersama. Beberapa anak masih ada yang mengungkit-ungkit kejadian saat LPJ kemarin. Hingga akhirnya tawa Rania hilang setelah melihat wajah seorang laki-laki yang familiar muncul dari kerumunan.

"Hai, Raniaaa."

Gadis itu langsung memasang wajah sebal sambil berdecak. "Hendra anjing."

Rania melangkahkan kaki menuju bangku ketiga dari depan di barisan paling kanan. Laki-laki yang bernama Hendra itu langsung mengapit leher Rania yang tinggi tubuhnya lebih pendek darinya. Tangannya pun ikut usil mengacak rambut gadis itu yang tergerai.

"Dosa apaan gue sekelas sama lo lagi," gerutu Rania sambil menjauhkan tangan Hendra.

Sudah bukan pemandangan baru kalau Hendra senang menggangu Rania. Ini adalah kegiatan rutinn sejak mereka masih kelas 1 SMP. Kebetulan mereka bersekolah di SMP yang sama dan sempat dua tahun di dalam kelas yang sama.

Jangan tanya bagaimana tersiksanya Rania dan bahagianya Hendra saat itu. Sayang sekali, ini adalah tahun ketiga mereka berada di kelas yang sama. Padahal Rania sudah sangat berharap di tahun terakhir SMK ini dia tidak sekelas dengan Hendra lagi.

"Lo tuh harusnya bersyukur bisa sekelas lagi sama gue, Ran," timpal Hendra.

"Bersyukur apanya?! Anjing lo!" kesal Rania.

Hendra langsung menyentil bibir Rania. "Mulut lo kasar banget! Enggak boleh!" serunya dengan nada yang dibuat-buat membuat si gadis semakin kesal.

"UDAH AH SANA! JANGAN GANGGU GUE!" teriak Rania sambil mendorong tubuh Hendra menjauh.

Hendra hanya tertawa puas dan kemudian berjalan ke bangku yang menjadi tempat berkumpul para murid laki-laki. Rania menjatuhkan tasnya di atas meja dengan asal karena suasana hati seketika memburuk. Keberadaan Hendra di hidupnya bahkan lebih menyebalkan dari apa pun yang ada di sekolah ini.

Situasi di dalam kelas PS-2 cukup ramai. Biasanya kalau setelah selesai upacara, anak-anak akan pergi ke kantin untuk membeli sarapan. Namun, kali ini Rania memilih untuk mendengarkan lagu menggunakan earphone sambil menenggelamkan wajah di balik tangannya.

"Raannn, ada yang nyariin tuh," ucap seorang perempuan dengan suara keras.

Namun, Rania tidak merespon sama sekali. Dia terlalu larut dalam alunan musik hiphop dengan tempo dan lirik yang cepat.

"Ran! Ada Gia nih nyariin lu!" Kali ini gadis itu datan menghampiri dan kemudian menekan-nekan tangan Rania.

Rania seketika mengangkat wajahnya dan menatap siswi tersebut yang ternyata adalah Sonya. Gadis itu kemudian duduk di sebelah Rania sambil menyimpan tas di atas meja. Sepertinya Sonya akan menjadi teman sebangku Rania tahun ini.

"Lo tidur, Ran?" tanyanya.

"Enggak. Kenapa?"

"Tuh ada Gia di depan kelas. Nanyain lu," jawab Sonya sambil menujuk ke arah pintu kelas.

"Oh oke."

Rania akhirnya bangkit dari bangku sambil melepaskan kabel earphone dari ponsel dan meletakkan gulungan itu di bawah meja. Dia berjalan menuju pintu kelas dengan benda pipih itu di genggaman tangan.

"Kantin?" tanya Gia dengan senyum lebar.

"Ayok!" jawab Rania dengan semangat.

***

Raynaldi Saputra adalah salah satu siswa berparas rupawan yang terkenal sering tebar pesona dari kelas Pemasaran 1 (PS-1). Ray juga salah satu anggota MPK, tetapi dia sudah tidak terlalu aktif semenjak setahun yang lalu. Meski begitu, tak lantas mengurangi kepopulerannya.

"Gila gila gila!!!" seru seorang siswa Bernama Andri yang baru saja datang sambil membawa satu plastik kecil berisi gorengan hangat.

"Apa sih tiba-tiba gila? Lo gila?" tanya Gilang sambil menatap keheranan.

Andri langsung menoyor kepala Gilang karena tidak terima disebut gila. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Gilang dan Andri yang saling toyor-menoyor kepala. Ray yang duduk di antara kedua temannya itu hanya bisa tertawa.

"Lu lagi malah ketawa!" timpal Andri sambil menoyor kepala Ray. "Si Ray nih diem-diem deketin si Nabila juga," ucapnya dengan berapi-api.

"Nabila mana?" tanya Gilang sambil mengambil bakwan milik Andri secara diam-diam.

"NABILA ADIK KELAS KITA YANG ASOY ITU!!!" seru Andri yang semakin heboh.

"ANJIR??? INI BARU HARI PERTAMA SEKOLAH, PLEASE???"

Andri dan Gilang langsung merapat pada Ray, membuat tubuhnya terhimpit agar tidak bisa pergi. Padahal mereka sedang berada di depan mini market sekolah. Kalau yang orang namanya Nabila itu lagi ada di sini, bagaimana coba?

"Bagi-bagi coba kalo punya stok cewek tuh, Ray," ucap Gilang.

Ray tiba-tiba tertawa. "Ya gue gampang kalo mau bagi. Mereka nya mau enggak?"

"Mulut lo!"

"Tapi nih ya, ini nasib si Nabila bakal sama kayak cewek-cewek sebelumnya, enggak?" tanya Andri.

"Emang kenapa?" tanya Ray.

"Halah pura-pura bego! Antara lo yang mundur karena milih si doi atau Nabila yang mundur terus doi lu nambah musuh," tutur Gilang. Andri mengangguk semangat.

"Doi gue siapa?" tanya Ray.

Bukannya menjawab, Gilang dan Andri langsung bangkit dari duduknya sambil menyampirkan tas ke bahu mereka. "Udah lah si Ray tinggalin aja," ajak Andri.

"Pusing sama yang kebanyakan cewek mah," sahut Gilang.

Ray langsung berdiri di tengah mereka berdua kemudian merangkulnya. "Jangan gitu dong sob."

"Sab sob sab sob!"

Ya, seperti itulah Ray. Satu sekolah tahu bagaimana sikap Ray ke setiap siswa perempuan. Manis banget sampai susah untuk ditolak. Bukan hanya di kalangan siswa, guru-guru saja tahu bagaimana tingkahnya.

Namun, meskipun begitu, satu sekolah juga tahu kalau hanya ada satu nama perempuan yang selalu berkaitan dengan Ray di manapun dan kapanpun. Jadi, julukan playboy tidak bisa disematkan padanya.

"Rania!" Teriak Ray saat melihat gadis itu berjalan menuju mini market. Tas ransel sudah digendong, sepertinya siap untuk pulang.

"Paduka Ratu datang nih!" seru Gilang.

"Apa sih lo!" balas Rania sambil mencubit lengan Gilang.

"Udah ah gue sama Gilang balik duluan. Dadah Rania!" ucap Andri sambil menarik tas Gilang.

"Gue engak di dadahin juga?" tanya Ray.

"NAJIS!" seru Andri dan Gilang secara bersamaan.

Ray dan Rania hanya tertawa sambil melihat Andri dan Gilang yang berjalan melewati gerbang sekolah. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk duduk di depan mini market setelah bel pulang berbunyi. Banyak yang berkumpul untuk sekedar mengobrol, jajan, dan masih banyak lagi.

"Gia mana?" tanya Ray.

"Masih di kelas. Katanya nanti nyusul," jawab Rania sambil mengeluarkan ponsel dari saku seragam.

Seketika Ray ikut memperhatikan Rania dan ponselnya yang sedang diutak-atik. Di layer, terpampang kolom obrolan dengan kontak bernama 'Kak Jovan'. Ray langsung memalingkan wajahnya sambil menghembuskan napas kasar.

"Masih aja sama Kak Jovan?" tanya Ray.

"Ya masih dong. Udah mau tiga tahun, langgeng kan gue?" balas Rania dengan bangganya.

Ray langsung menoleh pada Rania. "Halah! Awas aja kalo nanti gue sampe di telepon sama Kak Jovan lagi cuma gara-gara lo ngga ada kabar," ujar Ray yang terlihat kesal. "Eh tau nya malah jalan-jalan ke CFD sama kenalan baru!"

Rania langsung memukul bahu Ray cukup kerasa. "Masih diungkit aja!"

"Sakit, Ran! Lo kuat banget sih," Ray meringis kesakitan sambil mengusap bahunya.

"Tau ah lo nyebelin," balas gadis itu yang kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. "Daripada handphone lo udah kayak asrama putri, tapi enggak ada yang berhasil satu pun," ejeknya.

"Ya bagus gini dong!" Sanggah Ray dengan bangganya. "Jadi gue bebas jalan sama siapa aja. Enggak terikat status kayak lo yang tau-tau berantem aja. DUAR!!!"

"Bener-bener setan ya punya sahabat kayak lo! Tai lah," kesal Rania sambil memukul bahu Ray sekali lagi.

Pesan yang sudah diketik pun tak kunjung dikiri karena Raina sibuk menyerang Ray dengan cubitan, tetapi beberapa berhasil dihindari. Sampai tidak lama kemudian ada tangan asing yang melingkar di leher Ray dengan cukup kuat.

"GUE KECEKEK INI!" seru Ray yang hampir terjatuh ke belakang sambil memegangi tangan asing itu.

"Hukuman buat playboy kayak lo!" seru Gia yang kemudian melepaskan tangannya dari leher Ray.

"Jangan dicekek doang, Gi. Botakin sekalian," kata Rania sambil tertawa puas.

"Bagus juga ide lu! Oke nanti kita botakin Ray!" seru Gia sambil tertawa juga.

"ENAK AJA!" protes Ray.

Mereka bertiga kemudian duduk di bangku kosong di depan penjual lumpia basah yang kebetulan berjualan di depan mini market sekolah. Ternyata Gia datang sambil membawa tiga botol minuman dingin kesukaan mereka.

"Seneng banget enggak sih udah kelas 12 lagi aja? Bentar lagi lulus," ucap Ray setelah minum.

"SENENG BANGET LAH GILA! Kita lengser dari MPK, enggak perlu ekskul lagi, terus langsung jadi senior. Yang paling penting, kita enggak usah pramuka wajib lagi," ujar Rania yang terlihat bersemangat.

"Bener banget!" sahut Gia yang tidak kalah semangat. "Gue terima berapa aja nilai pramuka dah."

"Gue juga bener-bener nerima berapa pun nilai pramuka. Orang tiap dites enggak pernah lulus," timpal Rania.

Ray hanya bisa menertawakan obrolan dua gadis itu yang selalu malas dengan kegiatan tersebut semenjak aturan wajib pramuka diberlakukan di sekolah. Tiba-tiba pedagang lumpia basah menawarkan jualannya dan mereka bertiga pun setuju untuk memesan.

Perempuan yang baru bergabung itu namanya Gianna Michelle. Berbeda dengan kedua sahabatnya, Gia ini anak jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Meskipun wajahnya terlihat imut dan manis, Gia memiliki fisik yang lebih kuat sampai disamakan seperti laki-laki.

"Pulang, Nab?"

Rania dan Gia langsung mengikuti arah pandang Ray yang sedang menyapa seorang siswi yang baru saja lewat. Gadis itu tersenyum tipis sambil mengangguk. Pertama menatap Ray dan kemudian beralih memandangi Rania dan Gia sekilas.

"Iya, Kak."

"Hati-hati, ya," ucap Ray sambil tersenyum.

Namun, wajah gadis itu terlihat sinis saat melihat Gia dan Rania yang duduk bersebelahan. Sadar dengan perubahan ekspresi itu, Rania tetap memasang wajah datar sambil terus mengikuti siswi yang tidak ia ketahui namanya.

"Nab? Siapa lagi sih anjir baru aja masuk sekolah udah adaaaaaa aja mangsa baru," oceh Gia.

Rania pun menoleh pada Ray. "Nab? Jenab?"

"Nabila, anjir. Main asal ganti nama orang aja," jawab Ray.

"Yeu mana gue tau," ucap Rania dan Gia bersamaan.

"Doain yang ini lancar sampe jadian. Masa iya gue doang yang jomblo. Kalah sama kalian," ujar Ray.

"Dikira pacaran kek lomba agustusan," celetuk Rania.

Gia langsung tertawa kemudian menepuk pelan bahu Ray. "Iya, gue doain ya sama si Jenab ini lancar sampe jadian."

"NABILA GUE BILANG!" seru Ray.

"JENAB!" seru dua gadis itu.

***

Bab 2

Rania menyimpan ponselnya di atas meja setelah membaca pesan dari Ray. Sambil tersenyum, dia memperhatikan teman-teman kelas yang sekarang sudah bisa bebas memakai ponsel pintar untuk belajar tanpa takut disita bagian kesiswaan atau anggota OSIS.

Selain terkenal dengan sekolah favorit, SMK Cahaya Bangsa juga terkenal dengan peraturan sekolah yang cukup unik dan berbeda dengan sekolah lain. Ada salah satu peraturan yang sering disebut 'Peraturan Keramat' dan hal ini tidak jarang dijadikan pertimbangan murid baru untuk mendaftar ke SMK Cahaya Bangsa.

'Peraturan Keramat' itu adalah dilarang untuk membawa ponsel yang memiliki fitur kamera. Dalam kata lain, smartphone tidak akan ditemukan di sekolah ini. Peraturan ini berlaku untuk semua murid tanpa kecuali.

Kabarnya peraturan itu sudah ada sejak lama dan merupakan peraturan tertulis yang tidak bisa diubah apalagi dihapus. Banyak rumor yang beredar tentang penyebab diterapkannya peraturan itu. Namun, tidak ada satupun guru atau pihak sekolah yang mau mengkonfirmasi kebenarannya.

Tentu saja peraturan ini cukup memberatkan para murid di zaman yang modern ini. Di mana teknologi internet menjadi kebutuhan primer yang tidak bisa diabaikan. Mereka yang bersekolah di SMK Cahaya Bangsa hanya bisa membawa ponsel jadul yang hanya berfungsi untuk mengirim SMS dan telepon.

Meskipun begitu, SMK Cahaya Bangsa bisa memanjakan muridnya dengan koneksi Wi-fi yang cepat di setiap sudut sekolah. Mau tidak mau, bagi mereka yang membutuhkan akses internet harus membawa laptop. Karena smartphone sangat ditentang apapun alasannya.

Pada akhirnya 'Peraturan Keramat' itu bisa ditaklukan saat acara LPJ di akhir semester kemarin. Acara LPJ merupakan kegiatan tahunan rutin yang dihadiri oleh OSIS, MPK, dan beberapa orang perwakilan kelasnya masing-masing. Dihadiri juga oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah I & II, bagian Kesiswaan, dan beberapa guru, tapi mereka hanya hadir saat pembukaan dan penutupan acara. Mereka akan menyerahkan seluruh rangkaian acara pada seluruh murid.

Semua peraturan di SMK Cahaya Bangsa dibuat oleh murid, dari murid, dan untuk murid. Maka dari itu, acara LPJ ini sering menjadi ajang para anak-anak untuk mengubah, menambahkan, atau menghapus peraturan yang sebelumnya sudah ditulis. Namun, tetap saja pengukuhan ada ditangan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, dan bagian Kesiswaan.

Penaklukan 'Peraturan Keramat' terjadi di saat bagian pembahasan peraturan sekolah yang di mana para murid perwakilan kelas bisa mengutarakan aspirasi dari teman-teman kelasnya yang sudah ditampung. Sesi ini adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang yang hadir di sana.

Saat itu, seorang siswi dengan berani maju ke depan sambil membawa buku LPJ yang tebal. Dia harus menunggu tiga orang lagi untuk bisa menyuarakan pendapat yang sudah ditampung. Jantungnya berdetak cepat dengan keringat dingin yang mulai mengucur.

Siswi itu adalah Rania Ghassani. Dia menjabat sebagai sekretaris I di MPK. Namun, pada hari itu ia duduk bersama dengan para perwakilan kelas. Sedangkan kedua sahabatnya, Gia dan Ray duduk di depan sejajar dengan OSIS. Di MPK, Gia menjabat sebagai Ketua dan Ray sebagai Wakil Ketua.

Setelah gilirannya tiba, kalimat yang dilontarkan perempuan bersurai hitam legam itu langsung mengundang riuh seisi ruangan. Jangan ditanya bagaimana reaksi para perwakilan kelas, mereka semua terlihat seperti mengharapkan sebuah cahaya.

Mereka yang berada di jajaran OSIS langsung memberikan reaksi tidak percaya. Sedangkan Gia dan Ray hanya bisa tertawa melihat Rania yang terlampau berani. Tidak ada yang bisa menghalangi ketika gadis itu kuat dengan keputusannya

"Di sini saya ingin menyampainkan salahsatu aspirasi semua siswa. Thank me later, guys." Rania menampilkan senyum remeh di depan semua orang. Mereka tahu kalau Rania termasuk murid anti OSIS yang terang-terangan menunjukkan sikapnya.

"Saya ingin mengubah peraturan Pasal II ayat 3 tentang 'Dilarang membawa alat komunikasi (ponsel) yang memiliki fitur kamera dan video ke sekolah.' menjadi‒"

Saat itu, Rania sengaja memotong kalimatnya sendiri, karena ia tahu anak-anak akan sangat berisik saat ia membahas 'Peraturan Keramat' itu. Dan benar saja seisi ruangan langsung riuh bersorak senang.

Tidak sedikit dari mereka yang menyerukan nama Rania dengan bangga. Setelah salah satu anak OSIS menyuruh mereka untuk kembali kondusif, Rania pun melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum tipis.

"Menjadi 'Alat komunikasi atau ponsel yang bisa mengakses internet diperbolehkan saat Kegiatan Belajar dan Mengajar atau KBM berlangsung. Dalam kondisi jika pelajaran tersebut membutuhkan koneksi internet.'"

Suara riuh pun kembali mengisi aula yang besar itu, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. Rania langsung menutup buku LPJ dan menatap mereka semua sambil tersenyum penuh harap. Gia dan Ray mendukung sambil mengacungkan dua jempol. Sedangkan mereka yang di jajaran OSIS ada yang ikut senang, tetapi ada juga yang sepertinya terlihat tidak setuju.

Sesuai dugaan Rania, setelah itu langsung ada perdebatan di antara dirinya dengan anak-anak OSIS yang kebanyakan kurang setuju dengan pendapat tersebut. Tentu saja akan begitu karena mereka ada di pihak Kesiswaan.

"Kan masih bisa pake laptop kalo mau searching?" sahut seorang anggota OSIS perempuan.

Rania langsung meraih mikrofon di depannya. "Ribet, berat, dan enggak semua murid punya laptop. Saya sakin semuanya tahu tentang ini."

"Kalo gitu, ponsel yang memiliki fitur kamera dan video diperbolehkan dong?" tanya seorang anggota OSIS laki-laki.

"Ya menurut lo aja gimana," jawab Rania dengan santai

Rania tidak merasa berdiri sendirian. Para perwakilan kelas satu persatu ikut menyuarakan hal yang sama. Mereka semua membantu dan membela Rania agar 'Peraturan Keramat' ini ditangguhkan meskipun harus bersyarat.

Kejadian itu menjadi hari yang panjang bagi Rania. Di mana pada akhirnya dia harus menghadap Kesiswaan dan Wakil Kepala Sekolah I & II di depan mereka semua. Dengan jantung yang terus berdetak kencang dan tangan bergetar, Rania menjelaskan mengapa ia mengusulkan peraturan itu harus diubah dengan sejelas-jelasnya.

Setelah memakan waktu yang cukup lama untuk berunding, akhirnya Wakil Kepala Sekolah II mengumumkan bahawa usulan peraturan Rania diterima. Semua anak bersorak bahagia atas kemenangan mereka melalui suara Rania. Meskipun ada syarat yang harus diterima, mereka tetap senang karena akhirnya 'Peraturan Keramat' itu dihilangkan.

Itulah sebabnya banyak yang mengelu-elukan Rania karena keberaniannya menyuarakan pendapat semua siswa. Namun, tidak sedikit dari mereka yang jadi tidak menyukai Rania setelah kejadian itu. Mereka yang membencinya berpikir kalau Rania menggunakan suaranya untuk cari perhatian dan menambah pekerjaan anak OSIS.

Syarat yang harus diterima para murid adalah smartphone yang digunakan hanya untuk kebutuhan belajar. Jika ketahuan digunakan di luar KBM maka akan disita. Jika peraturan ini bermasalah dan masih ada yang melanggar, maka Rania yang harus bertanggung jawab.

Itulah sejarah baru yang terjadi saat sebelum liburan sekolah dimulai. Nama Rania langsung ramai dibicarakan bahkan setelah acara LPJ selesai. Rania sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan datang di masa depan.

Terlalu larut saat mengenang kejadian itu membuat Rania tidak sadar kalau bel pulang sudah berbunyi. Rania baru sadar ketika melihat teman-temannya yang mulai keluar dari kelas sambil membawa tas. Dia pun langsung mengambil tasn dan segera keluar dari kelas dengan langkah gontai.

***

"Ran, punya seribu, enggak?"

"Enggak."

"Ngobrol sama orang tua tuh yang sopan!"

Rania langsung mengembuskan napas kasar. Jarinya juga ikut berhenti mengetik dari atas papan ketik laptop. Untuk kesekian kalinya ia diganggu oleh orang rumah yang ditambah dengan suara bentakan.

"Apa sih, Kek?" tanya Rania dengan nada suara yang sedikit kesal sambil matanya menatap wajah Kakeknya.

"Punya uang seribu, enggak?" tanya Kakeknya lagi.

"Rania kan udah bilang enggak punya," jawab Rania.

"Punya cucu pelit banget!"

Sang Kakek langsung menutup pintu kamar Rania dengan keras. Gadis itu berjengit kaget dan seketika mood untuk menulis cerita pun hilang begitu saja. Tanpa dimatikan dulu, Rania langsung menutup laptopnya dan didorong sampai ke sisi kasur.

Rania membaringkan tubuh, membuatnya menatap kosong ke langit-langit kamar. Pikirannya terbang untuk bagaimana caranya keluar dari rumah ini. Rasanya ingin kabur saja karena sudah tidak kuat tinggal bersama orang-orang yang hanya bisa menambah beban mentalnya.

Di kota ini, Rania tinggal bersama Kakek, Nenek, Om, dan Bibi dari keluarga sang Ayah. Kedua orang tuanya sudah bercerai sejak Rania kelas 2 SD. Ibunya tinggal di Bandung dan Ayahnya tinggal di Cianjur karena katanya ada urusan pekerjaan.

Rania selalu terlihat baik-baik saja di sekolah. Dia mendapat pujian dan rasa kagum teman-teman yang berpikir kalau Rania memiliki hidup yang sangat baik dan tidak memiliki masalah yang berarti.

Padahal banyak rasa sakit yang dipendam oleh perempuan pecinta warna merah muda itu. Rania selalu menanggapi teman-temannya dengan senyuman tanpa menjawab lebih. Bukan karena ingin memakai topeng dan membiarkan mereka berpikir seperti itu selamanya, tapi karena Rania tahu kalau dirinya bukan untuk semua orang.

Masalah miliknya biarlah tetap menjadi miliknya. Rania tidak mau berbagi semua rasa sakit itu. Rania pikir yang terpenting adalah dirinya tidak menyusahkan orang banyak. Namun, siapa sih manusia di dunia ini yang bisa menghindari masalah?

Ketika sedang hanyut dalam lamunan, tiba-tiba ponsel Rania berdering. Seketika kesadarannya kembali dan langsung memeriksa benda pintar itu. Ternyata pacarnya yang menelepon. Rania langsung menggeser ikon berwarna hijau dengan senyum sumringah.

"Halo, Ran?"

"Halo Kak. Tumben nelpon."

Jovan terkekeh. "Ganggu enggak? Tiba-tiba kepikiran kamu. Udah pulang?"

"Udah. Ini lagi nyantai aja kok," jawab Rania.

"Hmm gitu, ya. Kakak lagi istirahat bentar di kantor. Lumayan buat nanti sebelum ke kampus."

"Oh gitu. Jangan lupa makan, Kak. Jaga kesehatan juga."

"Iya, kamu juga. Kamu baik-baik aja kan disana?"

"Aku baik-baik aja kok."

"Inget, selalu cerita kalo ada masalah atau apapun. Jangan dipendam sendirian. I'm here, okay?"

"Got it!"

"Yaudah kalo gitu nanti malem Kakak telepon lagi, ya? Dipanggil bos nih."

"Iya, sana gih."

"Dah~"

"Dah~"

Telepon pun dimatikan oleh pihak Jovan. Meski hanya sebentar, mendengar suara sang pacar cukup membuatnya merasa lebih baik. Ponsel itu kembali diletakkan di atas kasur dan Rania balik menatap langit-langit kamar.

Rania dan Jovan sudah tiga tahun menjalani hubungan jarak jauh beda kota. Hubungan mereka sempurna, ada komitmen yang mereka jaga. Salah satu kunci sukses hubungan mereka adalah komunikasi dan kepercayaan. Jangan dibayangkan seberapa besar kepercayaan Rania pada Jovan. Rasanya seperti laki-laki itu adalah bagian terpenting dari dirinya.

Jovan berusia tiga tahun lebih tua dari Rania. Orangnya dewasa, pendengar yang baik, pengertian, dan sangat perhatian. Dengan kepercayaan yang diberikan, Jovan adalah salah satu orang yang tahu bagaimana kehidupan Rania di rumah ini. Jovan tahu, mengerti, dan selalu menjadi tempat gadis itu untuk besandar.

Maka dari itu, hanya telepon sebentar pun dapat membuat suasana hatinya kembali membaik.

Rania mengambil laptop dan kemudian dibuka lagi. Sekarang ia akan menulis self-journal untuk hari ini. Rania selalu menuliskan apa saja yang ia alami dan apa yang ia rasakan untuk membantu self-healing. Kebiasaan ini sudah ia lakukan sejak masih duduk di bangku SMP.

Luka batin memang bukan main rasa sakitnya. Tapi jika dibiarkan begitu saja, hanya akan membuat dirinya hancur secara perlahan. Bagi Rania, di dunia ini hanya ada satu yang bisa menolongnya agar menjadi lebih baik. Yaitu, dirinya sendiri.

***

Bab 3

Ray membuang napas kasar, matanya kembali menatap layar ponsel yang masih menampilkan ruang obrolan dengan sahabatnya. Rania bilang hari ini akan langsung pulang dan menolak tawaran Ray untuk mengantarnya.

Menurut Ray, biasanya jika Rania tiba-tiba seperti ini berarti dia memang sedang ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Namun, Ray jadi ikut kepikiran apa yang membuat sahabatnya seperti ini. Seketika dirinya menjadi lebih khawatir kalau Rania sedang ada masalah.

Setelah beberapa menit bel pulang berbunyi, Ray memilih untuk bangkit dari duduknya. Ia memasukkan ponsel ke saku celana dan tasnya segera ia sampirkan ke bahu sambil berjalan ke arah pintu kelas.

"Pulang, Ray?"

Ray langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata Andri yang memanggilnya.

"Iya, pulang. Gue duluan," jawab Ray sambil mengangkat tangannya.

Saat Ray baru keluar dari kelas, ia bisa melihat Rania yang sudah berjalan meninggalkan kelas PS-2. Ray pikir mungkin Rania akan menghampiri Gia di kelas TKJ-2, maka dari itu ia mengikuti Rania secara diam-diam.

Namun, perkiraan Ray salah. Rania tetap berjalan meskipun sudah melewati belokan yang dekat dengan kelas Tkj-2. Rania terus berjalan, seperti tidak sadar kalau Ray sedang mengikutinya dari belakang.

"Kak Ray!"

Ray langsung melotot kaget saat Nabila tiba-tiba muncul sambil memanggil namanya dengan suara keras. Ray yang tidak mau Rania menyadari keberadaannya pun langsung menghampiri Nabila dengan panik.

"Sshhh!" Ray meletakkan telunjuknya di depan bibir. Memberi tanda agar Nabila jangan berisik.

"Kenapa, Kak?" tanya Nabila dengan suara pelan. Wajahnya seketika terlihat panik, tapi bingung.

Ray langsung melihat ke depan lagi dan ternyata Rania sudah menghilang. "Hmm enggak apa-apa kok," jawab laki-laki itu sambil tersenyum pada Nabila. Setelah itu, matanya kembali mencari-cari sosok Rania.

Nabila pun jadi ikut mengedarkan pandangannya karena penasaran. "Kakak lagi ngikutin orang, ya?"

"Hah? Ngga kok. Kamu ngapain di sini? Kok bawa tas?" tanya Ray yang berusaha terlihat biasa saja.

"Ya mau pulang dong, Kak. Kan udah bunyi belnya," jawab Nabila.

Ray yang langsung menyadari kebodohannya pun langsung terkekeh malu. "Eh iya ya."

Tiba-tiba Nabila tersenyum lebar. "Kak Ray inget enggak pernah janji mau anter aku pulang? Sekarang aja yuk!"

"Sekarang? Ya b-boleh aja sih," jawab Ray dengan gugup.

Ray dan Nabila pun berjalan bersama menuju parkiran khusus murid. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol seputar sekolah sambil diselingi bercanda. Gadis itu tersenyum malu saat tangan Ray tidak sengaja menyentuh tanganya.

Nabila adalah murid kelas 10 PS-3. Dia menjadi salah satu siswi baru yang terkenal karena wajahnya yang cantik. Sebenarnya Ray dan Nabila bisa dekat bukan karena kebetulan. Tidak banyak orang yang tahu kalau Nabila juga adik kelas Ray, Rania, dan Gia saat masih SMP.

Mereka berdua semakin akrab semenjak Ray selalu mencuri kesempatan untuk mendekati Nabila saat masa orientasi sekolah dan jurusan. Namun, sampai saat ini Ray belum ada rencana untuk menyatakan perasaannya pada Nabila.

Saat mereka sampai di parkiran, langkah Ray terhenti ketika melihat sosok Rania sedang bersama seorang laki-laki di dekat motor. Terlihat laki-laki itu membantu Rania memasangkan tali pengaman helm di bawah dagu. Kemudian mereka berdua tertawa bersama sebelum meninggalkan parkiran sambil naik motor.

Ray mengerutkan dahinya bingung sambil terus melihat kepergian dua orang itu. Tentu saja Ray tahu siapa laki-laki yang membonceng sahabatnya. Pertanyaannya, bagaimana bisa Rania akrab dengan laki-laki itu?

Karena yang Ray tahu, Rania adalah tipe orang yang tidak mudah akrab dengan seseorang kecuali kalau memang sering berinteraksi.

"Kak Rania, ya?" tanya Nabila.

"Huh?" Kesadaran Ray seketika kembali. "Iya, itu Rania. Ayo ke motor aku."

Namun, sebelum Ray melangkah, tiba-tiba Nabila menahan tangannya. "Aku boleh nanya enggak, Kak?"

"Hm? Tanya aja," jawab Ray.

"Kak Ray sama Kak Rania... sebenarnya ada hubungan apa?" tanya Nabila dengan hati-hati.

"Aku sama dia sahabatan. Sama Gia juga yang anak TKJ," jawab Ray.

"Sahabat apa sahabat?" tanya Nabila dengan tatapan yang berbeda.

"Sahabat."

Salah satu hal yang paling Ray tidak suka adalah ketika orang-orang meragukan hubungan persahabatannya dengan Rania. Ray pikir orang-orang terlalu sok tahu untuk menebak hubungan mereka berdua. Padahal Ray sudah tegaskan kalau mereka hanya bersahabat yang sudah seperti keluarga sendiri.

Dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi gelap, Ray langsung berjalan menuju motornya dan Nabila mengikutinya dari belakang. Kalau bukan Nabila, sepertinya Ray sudah tidak mau mengantar pulang.

Selama di perjalanan, mereka berdua hening. Nabila sadar dengan perubahan sikap Ray dan ia tidak berani bertanya. Dengan wajah laki-laki itu yang terlihat datar saja sudah membuatnya merinding.

Tiba-tiba Ray teringat obrolannya dengan Andri dan Gilang waktu itu.

"Tapi nih ya, ini nasib si Nabila bakal sama kayak cewek-cewek sebelumnya, enggak?" tanya Andri.

"Emang kenapa?" tanya Ray.

"Halah pura-pura bego! Antara lo yang mundur karena milih si doi atau Nabila yang mundur terus doi lu nambah musuh," tutur Gilang. Andri mengangguk semangat.

Waktu itu, Ray hanya berpura-pura bodoh di depan mereka. Itu karena dia malas kalau harus membahas hal yang dia benci. Ray tahu betul apa yang sebenarnya membuat dia tidak pernah berhasil mendapatkan perempuan yang ia suka.

Ray sering dihadapkan pertanyaan seperti:

"Kamu pilih aku atau sahabat cewek kamu itu?"

Dan jawaban Ray selalu sama. Yaitu:

"Aku pilih Rania sama Gia. Maaf."

Semuanya selalu berakhir seperti itu, dengan Ray yang selalu memilih sahabatnya. Sebenarnya tipe perempuan yang Ray cari tidak sulit. Dia hanya ingin perempuan yang baik, perhatian, dan pengertian. Terutama mengerti kondisi Ray yang memiliki sahabat perempuan yang tidak akan pernah dia tinggalkan.

Hampir semua perempuan yang Ray dekati selalu cemburu pada sahabatnya, terutama pada Rania. Jawaban Ray selalu sama, dia akan memilih sahabatnya dan secara otomatis perempuan itu akan menjadi musuh Rania dan Gia.

Seketika pertanyaan Andri dan Gilang terngiang lagi di telinga. Membuat Ray berpikir sedikit tentang nasib romansanya. Apakah dia akan tetap memilih Rania dan Gia jika seandainya Nabila menanyakan hal itu? Apakah Nabila akan sama seperti perempuan-perempuan sebelumnya? Atau Nabila bisa membuat Ray berputar haluan?

***

Sudah tiga menit Ray menatap layar ponsel dengan harap-harap cemas. Bahkan setelah lagu kesukaannya berhenti pun Ray masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari ruang obrolan bersama Rania.

Kontak yang bernama Rania itu tak kunjung mengirim sesuatu atau minimal menunjukkan niatannya untuk membaca pesan. Entah mengapa Ray merasa sedikit gundah karena hal tersebut. Mengingat Rania yang menolak tawarannya saat pulang sekolah tadi sore.

Tiba-tiba Ray teringat suatu hal dan membuatnya menunduk lesu. Ia pikir untuk apa menunggu pesan dari Rania? Dia kan sudah punya pacar. Apa yang Ray harapkan? Namun, Ray mengangkat kembali wajahnya untuk menatap layar ponsel. Ray yakin Rania pasti akan mengirim pesan.

"Apa gue bakal tetep kayak gini kalo udah jadian sama Nabila?" gumam Ray. "Tetep butuh Rania meskipun gue udah punya pacar?"

Bukan hanya Jovan, Ray juga tahu bagaimana keadaan keluarga Rania. Ray tidak mau melihat Rania sedih atau merasa tertinggal sendirian. Itulah mengapa penolakan pulang bersama tadi sore menjadi tanda tanya.

Ray adalah tipe orang yang memiliki rasa cinta persahabatan yang tinggi. Bukan hanya pada Rania atau Gia, tapi juga sangat perhatian pada teman-temannya yang lain. Maka dari itu, tidak jarang ada orang orang salah paham dengan niat baik Ray.

"Apa gue telepon aja, ya?" gumam laki-laki itu sambil memandangi ikon berwarna hijau. Ray memang ragu, tapi dia memilih untuk langsung menlepon Rania.

Tuuttt...

Tuuttt...

Tuuttt...

"Apa lo telepon telepon?" tanya Rania diujung sana yang terdengar jutek.

"Dih baru nongol udah nyolot. Kenapa belom tidur?" Ray sebenarnya senang, tapi berusaha untuk tidak terlihat seperti itu.

"Suka suka gue lah. Lo juga kenapa belom tidur?"

"Kepikiran sama lo." Ray tidak bisa lagi menutupinya.

"..."

"Halo, Ran? Kok lo diem? Baper, ya?" tanya Ray sambil tersenyum jahil.

"Males banget kudu baper. Gue barusan abis cek nama kontak yang nelpon gue. Siapa tau salah sambung."

"Yeu!"

"Kenapa lo mikirin gue? Apa yang lo pikirin?"

"Lo lagi enggak ada masalah, 'kan?" tanya Ray, sedikit penasaran.

"Emang hidup siapa yang enggak punya masalah? Pengen tukeran deh."

"Serius, Ran. Gue kepikiran gara-gara lo nolak ajak pulang bareng tadi."

"Hadeuh Raayyy lo tuh kebiasaan suka mikirin hal-hal enggak penting. Udah deh‒"

"Tapi lo penting‒ maksud gue, lo itu selalu bisa ngandelin gue, Ran."

"Lo tidur gih. Besok sekolah," ucap Rania yang sepertinya tidak peduli dengan kalimat Ray.

"Lo juga sekolah. Makanya tidur juga."

"Iyaaa, ini mau. Daahhh~"

Telepon langsung dimatikan begitu saja oleh Rania saat Ray baru saja membuka mulut untuk menjawab. Namun, itu tak apa bagi Ray asal mengetahui keadaan sahabatnya sedang baik-baik saja.

Ray pun menyalakan mode pesawat dan mengabaikan semua pesan yang masuk, termasuk dari Nabila. Sekarang rasa berat di dadanya sudah menghilang dan berubah menjadi lega. Sekarang Ray siap pergi ke alam mimpi dengan tenang.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED