"Tolong jangan bun*h saya … saya akan melunasi semua hutang-hutang saya pada Tuan Andrew …” pria itu mengatupkan kedua tangannya berusaha memohon ampun padaku, namaku Mery, aku adalah seorang wanita pembun*h bayaran.
Aku sedang berada di dalam apartemen yang cukup mewah milik si pria botak ini.
Aku menodongkan pistolku tepat di hadapan di wajahnya.
Pria itu duduk bersimpuh di hadapanku, pemandangan seperti ini sudah sering kulihat bila aku hendak melenyapk*n target pembun*hanku.
“Semuanya sudah terlambat! Dasar tol*l!” umpatku padanya, aku memasukkan kembali pistolku ke dalam saku jaketku.
“Cu*h!” Aku meludah tepat di wajahnya yang sudah tua itu. Pria itu tak marah sedikit pun padaku saat aku meludahi wajahnya, tentu saja karena dia takut kepadaku. “ hm,” aku mendengus kesal. Aku ingin sekali melihat penolakan yang berapi-api dari para targetku, bukannya pasrah seperti ini, sungguh sangat membosankan sekali.
Aku mendekati pria berkepala plontos itu dengan berjalan secara perlahan-lahan.
“Silahkan kamu pilih, mau dengan cara apa kamu mat*?” Aku menatap pria itu dengan sorot mata tajam.
“Ti, tidak! Aku tidak mau ma*i sekarang! Aku masih ingin hidup! Kumohon ampunilah aku Nyonya … tolong sampaikan kepada Tuan Andrew, bahwa aku sangat menyesal … aku akan segera membayar semua hutang-hutangku padanya…” Pria itu berderai air mata hingga meleleh di pipinya yang sudah dipenuhi dengan kerutan serta flek hitam di wajahnya itu.
Aku menghembuskan nafas dengan kasar.
“Aku sudah sangat sering menemui manusia-manusia bod*h sepertimu! Manusia yang telat menyadari kesalahannya. Saat akhir dari kehidupan
telah hampir tiba di depan mata kalian, barulah kalian menyadari bahwa nyawa kalian jauh lebih berharga dari pada harta yang kalian tanam dalam rekening kalian. Ingatlah! Harta itu tidak akan pernah bisa menyelamatkan nyawa kalian!” ucapku berbisik kepadanya.
“Aku tanya sekali lagi padamu wahai pria botak yang sangat menggemaskan, mana cara kemat*an yang ingin kamu pilih?” tanyaku lagi seraya membungkukkan badanku di hadapan pria botak itu.
“Tida ada cara apa pun yang ingin aku pilih! Aku masih ingin tetap hidup! Kumohon, tolong lepaskanlah aku! Aku akan memberikan berapa pun uang yang kamu minta dariku … Tapi sebelumnya kumohon dengan sangat, jangan bun*h aku!”” pria berkepala botak itu terkenc*ng-kenc*ng di celananya.
“Kalau kamu merasa memilii banyak harta, lantas kenapa kamu tidak secepatnya membayar uang hasil s*bu itu kepada Tuan Andrew, hah? Tentu saja, hal buruk dan mengerikan seperti ini tidak akan pernah terjadi dalam kamus kehidupanmu!!!” bisikku lagi padanya.
Badannya bergetar dengan sangat hebat, pria itu tak Lelah duduk bersimpuh di hadapanku sedari tadi, peluh sebesar biji jagung mulai keluar dari pori-pori kulitnya yang keriput itu.
Aku menatapnya dengan tatapan mata nanar, ingin sekali ku tersenyum geli melihat tingkah polahnya yang ketakutan seperti itu, tapi tentu saja sebagai seorang pembun*h, aku harus bersikap professional dalam menjalankan aksiku. Bila tidak, marwahku bisa saja jatuh hanya gara-gara hal remeh seperti ini. Aku tidak ingin klienku merasa kecewa dan tidak puas atas kerja kerasku.
Aku selalu bekerja maksimal dalam setiap tugas yang diberikan padaku. Semua ini karena nilai bayaranku yang sangat tinggi dan tidak main-main.
Setiap aku diberikan sebuah misi, aku akan diberikan 50% dari komisiku yaitu senilai 50 juta. Maka sisanya akan klienku berikan setelah misiku berhasil untuk meleny*pkan target.
“Kumohon ampunilah aku! Aku akan memberikan apapun yang kamu minta. Uang, perhiasan, rumah, mobil, semuanya aku punya!” Dia terus memohon seraya bersimpuh di hadapanku.
“Hm, boleh! Hartamu banyak juga ya! Lalu kenapa kamu tidak mampu membayar hutangmu pada Tuan Andrew, hah? Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi dalam kamus hidupmu, hah,” lagi-lagi karena merasa sangat kesal, aku mengulangi perkataanku kepadanya.
Karena lelah dan bosan bermain-main dengannya, aku mengeluarkan sebuah benda ajaib dari dalam saku jaketku. Benda yang bisa menghilangkan nyawa siapa saja bila terkena dengan tembakannya.
Aku membidiknya lurus tepat di depan kepalanya dari jarak yang begitu dekat, hingga tak ada lagi ruang untuk memisahkan senjataku dengan kepalanya yang botak itu.
Dor!
Satu tembakan telah aku lepaskan dari senjata apiku ini. Peluru itu telah menembus ke dalam otak pria berkepala botak itu. Tembakan yang diberikan dari jarak yang sangat dekat telah membuat otak pria itu hanc*r berkeping-keping. Darah segar serta cec*an otak berhamburan kemana-mana.
“Kamu terlalu banyak omong, aku jadi kelamaan ‘kan untuk menghabis*mu dengan cara yang jauh lebih cantik dari ini …” aku mengusap wajahku yang lengket akibat terkena percikan dar*h pria berkepala plontos itu.
Sebelum meninggalkan tempat kejadian perkara pembunuhanku, aku berinisiatif untuk menghubungi seseorang kepercayanku untuk membersihkan korban agar jasadnya tidak tertinggal di lokasi. Juga membersihkan seluruh dar*h serta cec*ran isi otak yang pecah dan berhamburan dengan cairan khusus pembersih dar*h, agar tidak terdeteksi dan terendus oleh pihak kepolisian.
aku meraih benda pipih dari dalam saku jaketku, aku menscroll layer ponselku, lalu aku pun mulai menghubungi seseorang yang sangat kupercaya selama aku melakukan misiku belakangan ini.
Tuut, tuut, tuut.
(Ya) jawab seorang pria di ujung telpon.
(Tolong bersihkan korban di xxxx) ucapku dengan sangat cepat.
(Oke, jangan lupa seperti biasa bayarannya) sahut pria tersebut.
(Beres, pasti kutransfer)
Tut.
Aku pun segera mengakihir panggilan, aku kembali memasukkan gawaiku ke dalam saku jaket kulitku. Sebelumnya, aku sudah mentransfer sejumlah uang sebagai pembayaranku atas pekerjaannya membantuku dalam menghilangkan korban serta seluruh alat bukti.
Aku baru berkecimpung dalam menjalani profesiku sebagai pembunuh bayaran. Sudah sekitar 2 tahun aku menjalani pekerjaanku di dalam dunia gelap ini. Sulitnya mencari pekerjaan membuatku terpaksa menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang pembunuh bayaran.
Latar belakangku sebagai seorang ahli bela diri, telah memudahkanku untuk menjalani profesi yang penuh dengan resiko yang sangat berbahaya seperti ini. Sementara keahlianku dalam menembak seseorang dengan sangat jitu, aku pelajari dari seorang kawanku yang telah lama berprofesi di dunia militer.
Aku adalah seorang pembun*h bayaran professional dengan bayaran yang sangat mahal. Aku rela membun*h siapa pun tanpa pandang bulu, terkecuali anak kecil yang tak berdosa, untuk meleny*pkannya, aku pikir dua kali. Aku biasa melenyapk*n targetku pada waktu tengah malam.
Kali ini, klien yang menyewa jasaku adalah Tuan Andrew, ia adalah seorang Bos Mafia dari ‘Jaringan Bawah Tanah’. Kenapa Mafia ini disebut ‘Jaringan Bawah Tanah’? Karena Mafia ini bergerak secara illegal, Mafia ini memiliki bidang usaha illegal dan tentu saja sangat berbahaya, yaitu bisnis yang bergerak di bidang penjualan nark*ba, Mafia ini memperjual belikan ganj* dan juga s*bu yang beromset ratusan miliar rupiah setiap bulannya.
Pria berkepala plontos yang baru saja dilenyapkan olehku beberapa menit yang lalu itu, sebenarnya pria itu memiliki hutang senilai 1,5 miliar atas penjualan s*bu beberapa tempo lalu kepada Tuan Andrew. Namun, sayang sekali, sabu yang sudah berubah menjadi uang yang sangat banyak itu, tidak kunjung disetorkan kepada Tuan Andrew, pemilik atau bandar s*bu terbesar di Indonesia Negara tercinta kita ini.
Sebagai Bos Mafia besar dan kuat di ‘Jaringan Bawah Tanah,’ Tuan Andrew tidak akan tinggal diam bila ada orang yang berlaku curang kepada bisnis yang digeluti dan dicintainya itu.
Aku berjalan dengan sangat cepat, kedua kakiku yang jenjang telah memudahkanku untuk berjalan. Aku memasuki sebuah perkampungan yang sangat kumuh. Jalanannya sangat sempit, hanya bisa dilalui oleh satu buah motor saja.
Aku memarkirkan kuda besiku di sini, agak jauh memang. Aku sengaja melakukannya agar tidak mudah terdeteksi bila jauh dari tempat lokasi targetku.
Aku menaiki kuda besiku sejenis motor matic. Aku menyamarkan identitasku sebagai perempuan normal pada umumnya. Lagi-lagi hal ini kulakukan agar tidak mudah terendus oleh siapapun.
****
Sesampainya aku di rumah peninggalan kedua orang tuaku, aku menjatuhkan bobot tubuhku di atas kursi sofa yang masih sangat empuk itu. Aku adalah seorang anak tunggal. Hidupku di dunia ini hanya sebatang kara, semenjak kedua orang tuaku meninggalkanku untuk selama-lamanya dari dunia ini, aku sudah terbiasa melakukan semua hal seorang diri.
****
Aku kini berada di dalam kamarku, aku menghempaskan tubuhku di atas Kasur kesayanganku, kedua mataku menerawang menatap langit-langit kamarku yang dingin ini.
Tiba-tiba saja ….
Drrt, drrt, drrt.
Ponsel yang kuletakkan di atas nakas di pinggir ranjang bergetar. Tertera di depan layar ponsel, Tuan Andrew is calling, aku pun menekan tombol hijau pada layar di ponselku itu.
(Bagus sekali kerjamu itu. Aku merasa sangat puas, satu menit lagi akan kutransfer sisa pembayaranmu)
Tut.
Tanpa menunggu jawaban dariku, Tuan Andrew sudah keburu menutup panggilannya.
“Hoamh,”aku menguap, malam ini aku sangat kelelahan dan aku sangat mengantuk. Lebih baik aku segera memejamkan mataku agar aku segera masuk ke dalam alam mimpi terindahku. Transferan Tuan Andrew atas sisa komisiku melalui aplikasi M-Banking besok saja kuperiksanya.
Trilit, trilit, trilit.
Suara alarm yang berasal dari jam digital miniku yang kuletakkan di atas nakas di samping ranjangku berbunyi mengeluarkan bunyi alarm yang cukup nyaring.
Aku terbangun dari mimpiku, aku terduduk di pinggir ranjang, aku meraih jam digital mini itu, lalu aku menekan tombol untuk mematikan suara alarm yang sangat berisik itu. Aku melihat angka pada jam, ternyata baru pukul 3 pagi, mungkin aku telah salah saat menyetting jam alarm padanya.
“hm,” aku menghela nafas, aku terduduk di bibir ranjang.
Dor, dor, dor.
Tiba-tiba saja suara tembakan terdengar memecah keheningan, prang, prang, prang, suara kaca jendela yang pecah karena telah terkena beberapa tembakan peluru tepat di kamarku.
Gegas aku menundukkan kepalaku, aku bersembunyi di bawah kolong ranjang. Aku berguling masuk ke dalamnya dengan sangat cepat. Aku membuka sebuah pintu kecil yang sudah kusiapkan dari jauh-jauh hari, bila hal buruk seperti ini terjadi pada diriku.
Menjadi seorang pembun*h bayaran tentu saja akan menciptakan banyaknya musuh baru dalam hidup kita. Banyak sekali orang yang tidak menerima bila orang-orang terkasih mereka meninggalkan mereka dari dunia ini dengan cara sad*s. Meski aku sudah berusaha untuk melenyapkan barang bukti sebaik mungkin, tapi di dunia ini tidak ada yang Namanya kejahatan yang sempurna.
Mau tidak mau aku dituntut untuk siap menerima semua hal buruk yang mengerikan seperti ini.
Aku memasukkan kode untuk membuka kunci pintu rahasia ini. 6 angka yaitu angka kelahiranku agar aku mudah untuk mengingatnya.
Dengan sigap aku masuk ke dalam ruangan tersembunyi itu, tak lupa aku pun segera menutupnya dengan sangat rapat dan menguncinya kembali agar para pembun*h bayaran yang disewa oleh para korbanku itu tidak bias memasuki ruang rahasia ini.
Aku berjalan menelusuri Lorong gelap di bawah tanah ini. Sengaja kubuat gelap agar tidak ada orang yang mencurigainya. Aku sudah melakukan banyak latihan untuk menyelusuri jalan bawah tanah ini, jadi tidak ada kendala yang berarti saat aku melewatinya.
Aku melalui beberapa belokan, karena banyaknya pipa saluran air, jadi Lorong ini sengaja dibuat berbelok-belok.
“Hei, cepat cari ke semua sudut ruangan, cari orang itu sampai dapat! Baik dalam keadaan hidup atau pun mati, aku tak peduli! Cepat bawa dia ke hadapanku!” titah salah seorang pria pembunuh bayaran yang sedang menenteng senjata api laras Panjang di tangan kanannya.
Meskipun aku berada di bawah tanah, tapi aku bisa mendengar dengan jelas suara yang berasal dari dalam rumahku. Aku sudah memodifikasi hal ini dari jauh-jauh hari.
“Huh,” aku menghentikan langkahku, aku ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan selanjutnya bila mereka tak dapat menemukanku.
Pembunuh bayaran dari dalam rumah berjumlah sekitar 4 orang, mereka mencari ke seluruh penjuru ruangan rumah. Beberapa detik suasana sempat hening.
“Target tidak kita temukan dimana pun. Bagaimana selanjutnya apa yang akan kita lakukan?” suara bariton seorang pria akhirnya memecah keheningan.
“Bakar saja rumahnya! Bila kita tak kunjung menemukannya dimana pun, kita anggap saja kalau orang itu mat* terpanggang di dalam rumahnya sendiri,” sahut pembun*h bayaran yang lain.
“Apa? Mereka akan membakar rumah kesayangan peninggalan orang tuaku tercinta! Tapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk menghentikan mereka, semua senjataku ada di dalam sebuah lemari rahasia di dalam kamarku.. dan pastinya aku hanya akan bun*h diri bila aku keluar dari sini!” gumamku sembari memikirkan langkah selanjutnya.
“Oke, kita buat saja seolah-olah ada kebocoran gas di rumah ini! Cepat segera pergi ke dapur! Buat gas di rumah ini bocor!”
"Aku akan segera pergi ke dapur, aku punya kejutan kecil untuk mereka!" seru Putra penuh antusias.
"Oke!”
Beberapa orang mulai membuat sandiwara untuk membuat bocor tabung gas yang ada di rumah ini.
“Bagaimana, apa sudah selesai?”
“Sudah!”
“Baik, kalau begitu ayok kita segera pergi dari sini!”
“Hm, mereka pasti akan segera menemb*kkan peluru ke dalam rumahku untuk meledakkan rumahku tentunya, tidak ada waktu lagi, aku tidak akan sempat lagi untuk menyelamatkan rumah ini, lebih baik aku segera menyelamatkan diriku sendiri.”
Aku pun bergegas melangkah dengan sangat cepat untuk segera meningglkan Lorong bawah tanah rumahku.
Terlihat lubang yang bercahaya oleh pantulan sinar lampu, ya itulah jalan keluarku dari Lorong ini. Aku segera keluar dari Lorong ini dan aku pun bergegas untuk memasuki semak-semak. Aku bersembunyi di sini sembari mengintip keempat pembun*h bayaran itu dari kejauhan.
Setelah mereka berjarak sekitar 10 meter dari rumahku, mereka menemb*kan peluru ke dalam rumah yang sudah penuh dengan gas itu.
Dor!
Suara tembakan peluru yang ditembakkan melesat dengan sempurna.
Duarrrrr!
Setelah tembak*n melesat. berikutnya diikuti oleh suara ledakan yang terdengar begitu memakakkan telinga. Rumah peninggalan orang tuaku meledak dan juga terbakar, asap mengepul pekat ke udara, kini rumah almarhum kedua orang tuaku hanya tinggal kenangan saja.
“Bravo!” teriaknya salah satu pembunuh itu. Tak beberapa lama kemudian, mereka meninggalkan kediamanku dengan menaiki sebuah mobil van berwarna putih.
Aku menghembuskan nafasku dengan kasar, biarlah rumahku meledak setidaknya aku masih bias selamat. Aku bisa membeli tempat tinggal baru dengan tabunganku yang sudah menumpuk di dalam rekeningku.
“Suruhan siapa ya orang-orang itu? Hebat juga mereka bisa mengetahui tempat tinggalku, pasti mereka bukanlah orang-orang sembarangan! Awas, aku akan mencari tahu kalian dan membalas dendam pada kalian karena kalian baru saja menghancurkan tempat kenangan masa kecilku,” gumamku mencoba mengingat beberapa korban yang Sudah kubun*h.
“Ah, sudahlah! Sebaiknya aku segera angkat kaki dari sini. Aku sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Dan si*lnya, aku lupa untuk mengambil ponselku, dompetku juga! Argghhhh!” aku memekik menahan amarah yang tertahan di dadaku ini.
“Jam tanganku yang memiliki fungsi ganda sebagai ponsel juga ketinggalan di kamarku! Arggghhh! Benar-benar si*l!” umpatku dalam hati merasa sangat kesal.
"Motor maticku juga ikut meledak lagi!” aku mendengus kesal.
Setelah memastikan orang-orang jahat itu pergi meninggalkan rumahku jauh sekali, aku memutuskan untuk berjalan kaki saja, siapa tahu di depan jalan sana ada orang yang bisa kuminta pertolongannya.
Akhirnya setelah berjalan kurang lebih selama 10 menit, aku menemukan beberapa orng pria yang sedang duduk dan bercengkerama di sebuah pos keamanan warga, aku pun berinisiatif untuk meminjam ponsel kepada mereka untuk memesan jasa ojek online aku bersikap senatural mungkin layaknya perempuan dewasa pada umumnya. Di sana ada tiga orang Bapak-bapak yang sedang asyik bermain jud* gapl*h.
“Permisi Bapak-bapak, maaf saya mau memesan jasa ojek online, tapi barusan saya kecopetan jadi saya nggak punya ponsel lagi untuk memesan jasa ojek online itu. Bisakah saya meminjam ponsel salah satu Bapak yang ada di sini?” ucapku berbohong tanpa banyak basa-basi lagi.
“Oh, iya Mbak silahkan boleh kalau mau pakai ponsel punya saya mah … asal …‘’ ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada kedua temannya yang lain.
"Suit, suit, suit …” timpal salah satu pria paruh baya yang ada di pos itu.
“Mbak, kalau mau layanin kita malam ini, jangankan ponsel, terong belanda bakal Abang kasih dah .…” pria paruh baya itu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiriku.
Kedua temannya yang lain sama-sama ikut beranjak dari duduknya dan mendekatiku, mereka semua menatapku dengan tatapan mata genit, ada satu orang yang meneteskan air liurnya. Ih, yuuh menjijikkan sekali! Lalu, ia pun mengelapnya dengan tangan kanannya.
Tatapan mereka seperti binatang buas yang siap untuk menerkam mangsanya, aku hanya menghela nafas dengan rahangku yang kokoh. Aku melemaskan otot tanganku dengan mematahkan jari-jemariku.
“Mau satu persatu, atau langsung semuanya saja?” tantangku dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi di hadapan mereka.
“Terserah si Mbak nya aja mau main satu-satu, atau mau three in one … ha ha ha …” gelak tawa meluncur dari bibir mereka yang hitam akibat terlalu banyak merokok.
Aku melakukan peregangan otot-otot leherku dengan memiringkannya ke kiri dan ke kanan, “ baiklah, sudah lama sekali aku tidak melakukan ini, bagaimana jika kalian langsung kuterkam saja?” ucapku dengan senyuman menyeringai.
“Wuihhhh! Mant ….”
Bugh! Bug! Bugh!
Sebelum salah satu dari mereka menyelesaikan ucapannya, dengan sigap aku langsung menend*ng dada mereka dengan tendanganku yang sangat ampuh, satu tendangan dariku ini dapat langsung melumpuhkan lawan yang ada di hadapanku. Seketika itu juga mereka jatuh tersungkur, badan serta pant*t mereka telah mencium tanah dengan sangat mantap sekali.
“Hm …” aku berkacak pinggang dengan berdiri tegak di hadapan mereka.
“Apa masih kurang??” tanyaku dengan berteriak sangat lantang di hadapan mereka dalam keadaan yang sangat memalukan itu.
“A, ampun, ampun … jangan! Jangan lagi! Ampun, Mbak!” pria paru baya itu mengatupkan kedua tangannya. Sementara kedua pria mes*m lainnya masih merasakan nyeri di kepala akibat tendanganku.
“Itu belum seberapa, itu baru pemanasan …”
“Jangan … jangan … Mbak mau ponsel kan? Ini, pakai aja ponsel saya.” Pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
“Ini, Mbak!” Ia menyerahkan benda pipih itu kepadaku.
Aku pun menerimanya dan segera memasuki apliasi ojek online untuk segera memesan jasanya, layar ponsel ini sudah retak setengahnya.
Setelah selesai memesan jasa ojek online di apliksasi tersebut, aku pun segera mengembalikan kembali ponsel itu kepada empunya.
"Nih, urusi dulu akhlak serta ponselmu! Sudah bau tanah juga masih banyak tingkah! Baru kena satu kali tendangan saja sudah terkapar!” cecarku dengan tatapan mata nanar dan menjijikkan melihat ketiga pria bus*k berotak mes*m ini.
Sebelum meninggalkan ketiga pria bangkotan itu, aku berinisiatif untuk meminta sedikit uang untuk bayar ojek online yang telah kupesan. Maklum, uang tunai yang kumiliki di dalam dompetku ikut meledak di dalam kamarku.
Aku merogoh saku celana si Bapak tua bin bangkotan itu, aku mengambil dompet kulit yang sudah lusuh itu, saat aku membukanya “wow,” gumamku, “lumayan juga isinya! Ada lima lembar uang 100 ribuan! Banyak juga uangnya nih ak-aki bau tanah …” aku bersorak-sorai kegirangan di dalam hatiku. Kuambil dua lembar uang 100 ribuan itu, sejurus kemudian, aku pun melemparkan dompet lusuh itu di depan wajahnya.
“Aku pinjam uangmu, tapi aku tidak berniat untuk mengembalikannya! Iklhlaskan saja kepergian dua lembar uangmu ini! Jangan kau ungkit-ungkit lagi, bila suatu saat kau bertemu denganku dimana pun sampai kapan pun!” umpatku padanya seraya tersenyum sinis menatapnya.
Ia mengangguk dengan cepat dan mengambil dompet lusuh miliknya yang terjatuh ke tanah.
“Iya, iya saya ikhlas! Silahkan ambil saja berapapun yang kamu inginkan!”
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya ojek online yang baru saja kupesan pun telah tiba, aku pun segera menaiki kuda besi itu bersama supit ojek online tersebut
****
Beberapa menit kemudian, kami telah sampai di sebuah kostan berlantai tiga yang ditinggali sorang teman dekatku.
“Sudah berhenti di sini saja, Bang. Berapa ongkosnya?” tanyaku pada Babang supir ojol tersebut.
“45 ribu aja, Mbak,” sahutnya setelah melihat harga yang tertera di dalam aplikasi ponselnya.
“Ini, Bang. Ambil aja kembaliannya!” Aku menyerahkan uang 100 ribu padanya.
Kedua matanya menyiratkan kebahagiaan yang tiada tara, “wah, alhamdulillah makasih banyak ya, Mbak. Semoga hidupnya berkah dan rezekinya tambah lancer …” serunya seraya merasa sangat sumringah.
Aku tertegun sejenak memikirkan kata-katanya, “hm, iya sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan, Pak!” imbuhku padanya.
****
Aku berjalan menaiki setiap anak tangga, akhirnya aku telah sampai di lantai 2 di kamar nomor 6, tempat dimana teman dekatku itu tinggal.
Tok, tok, tok.
Aku mengetuk pintu agak keras, maklum sudah dini hari, pasti temanku itu sudah terbuai dalam mimpi indahnya.
Tok, tok, tok.