Bab 1

"Teruntuk kamu yang namanya selalu ku sebut dalam doa. Semoga kelak, Tuhan mempersatukan kita"

🍁🍁🍁

Pukul 04.35. Adzan subuh telah berkumandang. Membangunkan mereka yang tengah tidur nyenyak untuk beribadah, menyapa sang pencipta melalui sholatnya.

Setelah sedari tadi sholat tahajud dan berdzikir seraya menanti waktu subuh, aku akhirnya menghentikan kegiatanku berzikir dan bergegas menunaikan ibadah sholat subuh.

Ditemani keheningan dan dinginnya udara pagi, aku menunaikan sholat subuh dengan khusyuk di kamar.

Setelah mengakhiri sholatku dengan salam, aku pun berdoa Kepada-nya.

"Ya Allah, Ya Rabb, Tuhan yang berkuasa diatas segala-galanya, kabulkanlah doa hambamu ini Ya Allah. Jadikanlah Zaky sebagai jodohku. Jodohku di dunia dan di akhirat. Jadikanlah dia sebagai imamku. Imam yang bisa membimbingku menuju jalan-Mu. Pertemukanlah kami kembali Ya Allah. Dekatkanlah kami, jika memang kami berjodoh. Dan jauhkanlah kami, jika memang kami tidak berjodoh. Amiin ya rabbal alamin."

Aku melipat kembali mukena dan sajadah yang tadi ku kenakan untuk sholat dengan rapi, lantas menaruhnya di atas tempat tidur. Setelah itu, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badan serta menyegarkan tubuh.

Tak berapa lama, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah melekat sempurna di tubuhku, serta jilbab yang sudah bertengger manis di kepalaku.

Aku menuju meja belajar, menata buku-buku yang sudah ku siapkan tadi malam dan memasukkannya ke dalam tas.

Setelah dirasa semua keperluan untuk kuliahku sudah siap, aku berjalan membuka pintu kamar. Tak lupa, mengucapkan basmalah sebelum keluar dari kamar. Agar semua yang ku lalukan mendapat ridho dari-Nya.

"Abah mana ummi?" tanyaku saat melihat ummi yang hanya sendiri di meja makan.

"Abah di kamar, katanya lagi gak enak badan. Ini ummi mau bawain sarapan ke kamar" jawab ummi. Aku mengangguk paham.

"Ya udah ummi, kalau gitu Sabrina makan di kampus aja ya?" lanjutku bertanya. Ummi menatapku sebentar, lantas tersenyum.

"Ummi siapin bekal buat kamu dulu ya?" ucap ummi sebelum melenggang pergi. Sembari menunggu ummi yang tengah menyiapkan bekal, aku pun berniat pamit pada Abah terlebih dahulu.

"Ummi, aku pamit sama Abah dulu ya?"

"Iya"

Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar abah. Kamar abah dan juga ummi berada lantai dua. Sama seperti kamarku, hanya berbeda arah saja.

Di rumah ini, kami hanya tinggal bertiga. Kakak perempuanku sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sedang adik laki-lakiku memilih untuk tinggal di rumah kos yang dekat dengan kampusnya.

"Gimana kondisi Abah?" Aku bertanya.

Ku lihat Abah tengah duduk bersandar di kepala ranjang, wajahnya terlihat sedikit pucat dan lelah.

"Abah baik-baik aja kok. Mau berangkat kuliah ya?" Aku mengangguk.

"Ya udah hati-hati. Jaga diri. Jaga hati. Semoga Allah memberi kemudahan untukmu dalam menuntut ilmu." pesan abah. Aku kembali mengangguk, lantas mencium punggung tangan Abah.

"Amiin ya rabbal alamin. Abah cepet sembuh ya"

Abah tersenyum seraya mengangguk.

Setelah berpamitan sekaligus melihat kondisi abah, aku pun keluar dari kamar dan kembali menghampiri ummi.

"Nih bekalnya, udah ummi siapin." Ummi menyerahkan bekal yang sudah disiapkannya kepadaku.

"Makasih ummi" ucapku seraya memasukkan bekal itu ke dalam tas.

"Sabrina berangkat ya ummi" lanjutku mencium punggung tangan ummi.

"Iya, hati-hati." jawab ummi. Aku mengangguk.

Begitu keluar dari rumah, aku langsung disambut oleh suasana pesantren yang penuh oleh rutinitas para santri seperti biasanya. Ada yang masih mengantri untuk mandi, ada yang sedang mengantri untuk makan, ada juga yang sudah bersiap untuk sekolah.

Aku sudah terbiasa dengan suasana pesantren seperti ini. Karena sejak kecil, aku memang sudah dibesarkan di lingkungan pesantren. Ya. Abah adalah pendiri pesantren ini. Pesantren Al-Huda. Pesantren ini terbilang cukup sederhana. Tidak sebesar dan tidak seterkenal pesantren yang lainnya. Para santri dan santriwati-nya pun tidak banyak. Hanya orang-orang di daerah sini saja.

Mendirikan pesantren merupakan cita-cita Abah sejak kecil. Beliau dengan semangat dan kegigihannya berhasil mendirikan pesantren yang terletak tepat disebelah rumah kami dengan dana pribadi hasil kerja kerasnya sendiri, juga merekrut guru-guru yang dengan ikhlas mengajar di pondok pesantren kami tanpa bayaran apapun.

Aku kembali melangkahkan kakiku menuju halte untuk menunggu bus. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya bus yang ku tunggu datang juga.

Aku segera masuk ke dalam bus. Mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ku lihat kursi penumpang sudah penuh, hanya tersisa dua kursi kosong berdampingan. Aku pun memutuskan untuk duduk di kursi dekat jendela bus.

Jalanan kota hari ini begitu padat, padahal ini masih sangat pagi. Mungkin karena hari ini hari efektif bekerja dan bersekolah. Entahlah, aku tidak terlalu memikirkan hal itu.

Aku menghela napas. Entah mengapa pikiranku malah kembali dipenuhi oleh sosok lelaki yang bernama Zaky.

Ku buka tasku, lantas ku ambil sebuah foto yang terselip dalam sebuah buku diaryku.

Foto itu adalah foto kenangan persahabatanku dengan mereka selama di pesantren. Aku, Zaky, Bayu, dan Rian. Ya. Mungkin persahabatan kami terdengar aneh. Seorang perempuan dan tiga orang laki-laki. Tapi, memang itulah kenyataannya.

Awal mula persahabatan kami, adalah ketika Zaky dan Rian datang ke pondok pesantren. Mereka berasal dari daerah yang jauh. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka memilih untuk tinggal di pondok pesantren dan hidup mandiri dengan usia mereka yang masih terbilang anak-anak. Orangtua mereka mempercayakan anak-anaknya pada Abah, meminta Abah untuk menjaga dan menyayangi Zaky serta Rian seperti Abah menjaga dan menyayangiku.

Abah menepati janjinya. Beliau bahkan menempatkan Zaky dan Rian di rumah kami, bukan di pondok pesantren. Membuat mereka senyaman mungkin agar tidak tertekan.

Aku sangat senang ketika Zaky dan Rian tinggal di rumahku. Kami bermain bersama, makan bersama, mengaji bersama, bahkan mandi pun bersama.

Selain Zaky dan Rian, ada juga Bayu. Dia anak tetangga sebelah. Dia sering bermain dengan kami. Sampai akhirnya Bayu memilih untuk tinggal di rumahku karena tidak ingin dipisahkan dengan kami bertiga.

Meski dengan berat hati, orangtua Bayu akhirnya mengijinkan anaknya untuk tinggal di rumahku dan belajar di pondok pesantren. Entahlah, padahal jarak rumahku dengan Bayu lumayan dekat, tapi ia tetap saja bersikukuh untuk tinggal di rumahku.

Abah dan ummi tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka malah senang jika ada anak kecil yang bersemangat untuk belajar ilmu agama seperti Bayu.

Kemanapun ummi mengajakku pergi, aku selalu meminta ummi untuk mengajak serta Zaky, Bayu, dan Rian. Ummi selalu mengiyakan permintaanku, meski dirinya sendiri akan kerepotan jika membawa empat anak kecil di acara-acara seperti pengajian, yasinan, dan lain-lain.

Ya, kenangan masa kecil yang indah. Kami berempat sudah seperti saudara beda orangtua. Apapun dan dimanapun pasti bersama.

Bertahun-tahun kami bersahabat, hingga ketika kami beranjak dewasa, barulah kami sadar akan adanya perasaan lain. Perasaan yang lebih dari sekadar sahabat. Ya. Aku dan Zaky. Kami ternyata memendam perasaan yang sama.

Saat itu kami hanyalah sepasang remaja yang baru dilanda asmara jatuh cinta, tidak mengerti harus bagaimana. Hanya bisa berharap, suatu saat nanti kami akan bersama.

Namun, harapan itu sirna ketika Zaky pergi meninggalkan pondok pesantren. Pergi meninggalkanku. Itu bagian terpahit dari semua kenangan persahabatan kami.

Tanpa kusadari, air mataku jatuh membasahi kedua pipiku.

"Kamu.....menangis?" tanya sebuah suara. Aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki di sampingku tengah menatapku dengan heran.

Hei, tunggu! Siapa dia? Dan, sejak kapan dia berada di sampingku?

**********

Mampir ke instagram author yukk!! @iney_calysta

Bab 2

"Bisakah kau kembali sekarang? Aku sungguh merindukanmu."

🍁🍁🍁

"Aduhh Sa, dosen baru di kampus kita ganteng banget sumpah" celoteh Arini saat aku baru saja tiba di kampus.

Arini memang orang yang termasuk up-to-date jika menyangkut masalah gosip di kampus. Dia selalu bersemangat saat menceritakan kabar yang didapatkannya padaku. Entah darimana dia mendapatkan kabar-kabar itu, aku sendiri juga tidak begitu peduli.

"Namanya Pak Agam. Dia tuh ya, orangnya udah dewasa, pinter, religius lagi. Pokoknya calon imam idaman dehh"

Nah, kan? Aku bilang juga apa? Padahal aku tadi tidak bertanya siapa nama dosen itu, tapi Arini sudah bercerita dengan semangat yang membara seperti itu. Aku sendiri juga heran mengapa diriku bisa betah bersahabat dengan orang macam Arini.

"Tapi ya, dia itu rada dingin sikapnya. Makanya cewek-cewek di kampus yang suka sama Pak Agam banyak yang gak berani buat deketin si doi."

Aku menghela napas. Merasa malas mendengar ceritanya.

"Ada juga sih yang berani deketin pake dandanan ala-ala muslimah kayak kamu gini, berharap Pak Agam tertarik." lanjut Arini.

"Rin, jangan mulai deh" ucapku memperingatinya.

Arini hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

"Kan aku cuma cerita doang" jawabnya beralasan.

"Ghibah. Itu termasuk dosa." balasku. Arini berdecak.

"Dosa lagi, dosa lagi, yang dibahas." kata Arini terdengar jengah.

"Ayok, udah mau masuk nih" ajakku mengingat sebentar lagi kelas akan dimulai.

Aku berjalan mendahului Arini yang masih terdiam di tempatnya. Mungkin dia masih merasa kesal karena aku kembali membahas soal dosa.

"Assalamualaikum semuanya" sebuah suara menyapa kelas.

Aku menjawab salam, namun tak terlalu memperhatikan karena sedang fokus menulis sesuatu di buku diary.

"Sssst, Sa!" panggil Arini yang sama sekali tak ku hiraukan.

"Woy, Sa!" kali ini Arini menyenggol lenganku.

"Apaan sih" kataku menatap Arini yang berada tepat disebelahku dengan kesal.

"Itu, Pak Agam. Yang aku ceritain tadi." bisik Arini.

Aku menghela napas. Lantas kembali berkutat dengan diaryku. Melihat aku yang acuh tak acuh, membuat Arini semakin kesal.

"Hari ini Pak Bagas berhalangan hadir. Dan saya yang akan menggantikan beliau hari ini"

"Yes!" sorak para mahasiswa di kelas, terutama para kaum hawa.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.

Tapi tunggu dulu. Kenapa suaranya tidak asing ya? Seperti pernah kenal, tapi.....dimana?

Aku mengangkat wajah, melihat siapa dosen baru itu.

Betapa terkejutnya diriku saat mengetahui jika dosen baru itu adalah pria yang memergokiku menangis di dalam bus tadi pagi.

'Ternyata, dia dosen barunya?' batinku.

"Aku bilang juga apa! Ganteng kan, Pak Agam?" Arini kembali berbisik, mungkin dia menyadari jika sedari tadi aku menatap Pak Agam.

Entahlah, aku sendiri tidak terlalu memperhatikan ucapan Arini. Pikiranku hanya melayang, mengingat kembali kejadian di dalam bus tadi pagi, saat dia memergokiku sedang menangis.

Betapa malunya diriku saat itu, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi setelah bus berhenti di tempat tujuan, aku langsung saja mengucapkan permisi untuk turun terlebih dahulu.

'Aduhh, bagaimana jika dia sampai tahu kalau aku kuliah disini, bisa-bisa dia mencapku sebagai siswi yang tidak sopan' batinku khawatir.

*********

Kelas pertama telah usai. Baru pukul sepuluh. Aku pun memutuskan untuk menuju masjid kampus berniat untuk shalat duha.

"Awww" pekikku saat kakiku tersandung batu tanpa sengaja.

"Lain kali hati-hati kalau berjalan, Sabrina."

Aku menoleh. Ku lihat, Pak Agam tersenyum padaku.

Apa? Dia tersenyum? Tapi Arini bilang Pak Agam orangnya dingin. Memang dasar gosip! Tidak bisa dipercaya!

"I.....iya pak." jawabku terdengar kikuk.

"Saya duluan ya, Sabrina?" ucap Pak Agam menekankan kata Sabrina. Entah mengapa jantungku berdebar kencang ketika dia memanggil namaku.

Seakan ada hal yang mengganjal pikiranku. Ya, ada sesuatu yang aneh disini. Bagaimana mungkin dia bisa tahu namaku? Padahal kami baru saja bertemu? Tadi di kelas dia juga tidak mengabsen setiap nama mahasiswa dan mahasiswi. Hanya bertanya siapa saja yang tidak masuk.

Aku berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh itu, lantas kembali berjalan menuju masjid.

Setelah shalat duha, aku hanya duduk termenung sendirian di taman.

Tanganku terulur, mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah surat. Ya. Surat yang diberikan oleh Zaky kepadaku dulu. Saat kami masih duduk di bangku SMA.

Ada banyak surat yang ditulis oleh Zaky untukku. Aku selalu membaca semua surat-suratnya. Namun tidak ada satupun yang ku balas.

Meski tidak pernah ku balas, Zaky tetap memberikan surat yang berisi tentang perasaannya padaku, setidaknya sekali dalam seminggu.

Aku membaca setiap kata yang tertulis dalam surat itu. Begitu sederhana namun mampu membuatku merasa begitu istimewa dimatanya.

Kadang aku senyum-senyum sendiri saat membaca surat darinya. Ya, kalian pasti tahu lah, masa remaja itu bagaimana. Meski begitu, aku selalu menahan diri dari yang namanya pacaran.

Aku tahu pacaran adalah perbuatan yang mendekati zina dan dilarang oleh Allah. Maka dari itu, aku sebisa mungkin menjauhinya.

Aku dan Zaky memang saling mencintai. Tapi kami tahu harus menjaga diri. Biarlah Allah yang mempersatukan kita dalam ikatan yang bernama pernikahan kelak.

Zaky terus mengirimkan surat-suratnya untukku, sampai akhirnya pengurus pondok mengetahui hal itu dan melaporkannya pada abah.

Semenjak menginjak SMP, Zaky, Rian, dan Bayu memang tidak lagi tinggal di rumahku, melainkan di pondok pesantren.

Jadi pengurus pondok bisa memantau mereka dan melaporkan apa yang mereka lakukan kepada Abah.

Sejak insiden terbongkarnya surat cinta itu, Zaky dan Rian pergi meninggalkan pondok pesantren.

Zaky menitipkan surat terakhirnya pada Bayu.

Beberapa hari setelah itu, saat aku bertemu dengan Bayu di sekolah, dia memberikan surat itu padaku.

Di dalam surat itu berisi pernyataan bahwa Zaky pergi karena ingin memperbaiki dirinya agar lebih baik lagi. Suatu saat nanti, dia ingin datang kembali melamarku dan menjadikan diriku sebagai kekasih halalnya. Dia juga memintaku untuk menunggu dan mendoakannya agar suatu saat nanti dia bisa menjadi imam yang baik untukku.

Aku menghela napas.

Zaky, sudah lama sekali kau pergi meninggalkanku. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah berhasil menjadi seseorang yang lebih baik lagi? Kapan kau akan datang melamarku?

Disini aku hanya bisa menunggu dan mendoakanmu melalui doa.

Semoga kau baik-baik saja disana. Semoga kita lekas dipertemukan.

"Woyyy!" Arini menepuk bahuku keras, membuatku kaget seketika.

"Aku cari kemana-mana juga, ternyata disini toh kamu" lanjutnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun dia lantas duduk disampingku.

"Kantin yuk. Aku laper nih" ucapnya mengajak.

Aku hanya diam, tak membalas ajakannya.

Arini melirik sebuah surat yang masih ku pegang, buru-buru aku memasukkan surat itu ke dalam tas.

"Masih mikirin dia?"

**********

Instagram : @iney_calysta

Bab 3

"Allah memang akan mengabulkan doa hamba-Nya. Pertanyaannya, cepat atau lambat doa itu akan terkabul?"

🍁🍁🍁

Assalamualaikum, Zaky.

Sedang apa kamu sekarang?

Apakah saat ini kau tengah memikirkanku, seperti aku memikirkanmu?

Bagaimana dengan perasaanmu?

Apakah sama dengan perasaanku?

Aku jadi teringat ceramah Bu Indana waktu kita masih duduk di bangku SMA dulu, ceramah mengenai soal jodoh.

"Ketika ada seorang laki-laki yang menyatakan cintanya pada wanita. Bukankah wanita itu cenderung menerimanya? Walaupun pada awalnya wanita itu tidak mencintai lelaki tersebut, namun setelah mendengar pernyataan cinta dari lelaki itu, dia jadi terbawa suasana, hingga akhirnya jatuh cinta pada lelaki tersebut. Ya. Itu memang wajar, karena pada dasarnya wanita itu sifatnya memang suka bila dicintai."

Aku melirik Zaky yang ternyata juga tengah melirikku. Buru-buru aku memalingkan wajah. Walau sahabat, tapi kami juga harus membatasi pergaulan kami. Menjaga pandangan kami.

"Ibuk dulu punya temen yang sudah berdoa tentang jodohnya sejak SMA. Bukan karena dia ingin segera menikah. Tapi karena dia tahu, bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa hambanya cepat maupun lambat. Nah, kita kan tidak tahu, kapan Allah akan mengabulkan doa kita. Iya kalau cepet, kalau lama? Kalau kita berdoa tentang jodoh kita di usia 23 tahun, dan ternyata Allah mengabulkan doanya setelah 10 tahun bagaimana? Keburu tua dong? Maka dari itu, dia mulai berdoa akan jodohnya sejak SMA. Agar kelak, dia tidak perlu menunggu lama lagi supaya jodohnya segera datang."

Sejak mendengar nasehat dari Bu Indana, aku memberanikan diri untuk berdoa tentang jodohku. Ya. Berdoa tentangmu. Itulah pertama kalinya aku menyebut namamu di dalam doaku Zaky.

Tiba-tiba ponsel yang ada dalam genggaman tanganku bergetar. Menyadarkanku dari lamunan.

Ku lihat di layar ponsel, ternyata ummi yang menelepon. Aku pun segera mengangkatnya.

Sabrina : Assalamualaikum ummi

Ummi : Waalaikumsalam nak

Sabrina : Ada apa ummi? Kenapa menelepon?

Ummi : Kamu bisa pulang ke rumah sekarang gak?

Sabrina : Bisa ummi, insyaallah. Ini Sabrina baru aja mau keluar dari kampus. Memangnya ada apa ummi?

Ummi : Ada hal penting yang ingin abah dan ummi sampaikan padamu

Sabrina : Baiklah ummi Sabrina akan segera pulang.

Ummi : Ya sudah, ummi tunggu ya? Assalamualaikum

Sabrina : Iya ummi, waalaikumsalam

Aku menutup sambungan telepon. Lantas kembali melangkahkan kakiku menyusuri lorong-lorong kampus.

"Astaghfirullah" pekiku saat kepalaku menubruk sesuatu tanpa sengaja. Tadi aku terlalu terburu-buru, hingga saat di tikungan lorong tak sengaja menabrak sesuatu. Eh, tunggu. Itu bukan sesuatu, tapi seseorang.

Mataku membulat sempurna saat mengetahui objek yang baru saja ku tabrak adalah dosen baru itu. Ya. Pak Agam.

"Maaf pak, saya tidak sengaja." ucapku pelan seraya menundukkan kepalaku semakin dalam. Berharap dia tidak mengenaliku.

"Iya, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." jawabnya lembut.

Nah, kan? Dia bicara lembut? Bisa-bisanya Arini bilang bahwa Pak Agam dingin sama cewek. Memang gosip murahan.

"Sore pak Agam." sapa salah seorang mahasiswi yang kebetulan lewat.

"Sore." Pak Agam menjawab. Namun kali ini nada bicaranya terdengar berbeda. Tidak lembut seperti tadi, terkesan.....sedikit cuek?

Entahlah itu benar atau hanya pikiranku saja yang mulai melantur.

"Ehm, pak. Saya duluan ya?" pamitku berniat ingin pergi.

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera berjalan menuju gerbang keluar kampus. Namun baru beberapa langkah berjalan, aku terpaksa berhenti karena mendengar ucapannya.

"Mau kemana?"

Aku menggigit bibir bawahku menahan kegelisahan.

Aduh, jangan-jangan dia ingin menghukumku karena kejadian di bus tadi pagi.

Habislah........Habislah.........

"Mau.....pulang pak" jawabku ragu-ragu.

Ku lihat Pak Agam melangkah mendekatiku, membuatku semakin gugup saja.

"Ehm, Pak. Maaf kalau waktu di bus tadi pagi, saya bersikap tidak sopan pada bapak." kataku sedikit terbata.

Tanpa diduga-duga, Pak Agam malah tersenyum.

"Tidak usah dipikirkan."

Lagi-lagi dia menjawab lembut. Tapi tetap saja aku gugup.

"Kamu mau pulang? Mau saya antar?" tawar Pak Agam.

Hah? Apa dia bilang tadi? Mengantar? Memangnya dia tidak ada kerjaan lain apa!

"Mohon maaf pak, bukannya saya menolak. Tapi, bukankah tidak baik jika seorang lelaki dan perempuan hanya berdua saja?" ragu-ragu aku memberi alasan.

"Saya juga, tidak enak dengan mahasiswi lainnya pak. Nanti malah timbul fitnah. Takutnya mereka mengira kita ada hubungan lagi." lanjutku.

"Hem"

Jawaban apa itu?

"Ya, aku akan segera menghalalkanmu agar tidak timbul fitnah." gumamnya pelan.

Apa katanya? Menghalalkanku? Gila apa! Kita baru sehari ini bertemu, tapi dia sudah berkata ingin menghalalkanku? Dasar buaya! Seperti ini kok dibilang religius!

"Ya sudah kalau begitu, saya duluan." pamitnya.

Apa-apaan ini? Belum sempat aku bertanya, tapi dia sudah pergi begitu saja?

**********

Aku memasuki pekarangan rumahku dengan langkah santai. Ku lihat di halaman rumah ada sebuah mobil berwarna putih.

Mengapa mobil ini ada disini? Mobil Abah kan warnanya hitam. Jadi, ini mobil siapa dong? Jangan-jangan ada tamu lagi, makanya ummi tadi menyuruhku untuk pulang.

Benar saja apa yang ku duga tadi. Rupanya memang ada tamu.

"Assalamualaikum" ucapku memberi salam.

"Waalaikumsalam" Abah dan ummi menoleh menatapku lantas tersenyum.

"Ini dia orangnya." ucap ummi. Dia memberi kode padaku untuk mendekat.

Aku pun menurutinya. Saat sudah dekat, barulah aku sadar siapa tamu itu. Tante Citra dan Om Adi. Tumben sekali mereka datang bertamu, ada apa ya?

Loh, ada Pak Agam juga? Mengapa dia disini? Apa yang sedang dilakukannya?

Ahhh, aku terlalu pusing untuk menebak-nebak.

"Sabrina, Abah mau bicara" ucap Abah terdengar lembut.

"Iya Abah" balasku lantas duduk disampingnya.

"Sabrina, Abah kan udah tua, udah lama sakit-sakitan." kata Abah mengawali pembicaraan. Aku hanya diam mendengarkan.

"Tugas abah kini adalah mencarikan jodoh yang baik untukmu. Abah ingin menjalankan tugas terakhir seorang ayah. Abah ingin melihat kamu menikah." lanjut Abah. Aku meneguk salivaku susah payah. Perasaanku mulai tidak enak sekarang.

"Nak Agam ini anaknya Tante Citra. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Mesir. Abah yakin, Agam adalah laki-laki yang baik. Abah juga yakin, dia dapat menjadi imam yang baik untukmu."

Aku bahkan tidak tahu jika Tante Citra dan Om Adi mempunyai anak laki-laki. Setahuku mereka malah tidak memiliki anak, mengingat bahwa selama ini Tante Citra dan Om Adi tinggal berdua saja.

Ahhh, sungguh begitu sempit pemikiranku ini.

Tapi tunggu, Abah bilang apa tadi? Menikah? Imam yang baik untukku? Jadi pembicaraan ini membahas tentang perjodohan antara diriku dengan Pak Agam? Aku? Dengan Pak Agam? Bagaimana mungkin?

'Ya, aku akan segera menghalalkanmu agar tidak timbul fitnah.'

Jadi ini, maksud dari perkataanya di kampus tadi?

**********

Instagram : @iney_calysta

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED