Bab 2

Selama berhari-hari setelah percakapan itu, Sofia merasa seperti terjebak dalam kehampaan yang tak berujung. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah-olah dunia menekan tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa. Rumah itu, yang dulunya terasa hangat dan penuh cinta, kini terasa begitu asing. Setiap sudut, setiap ruangan, bahkan udara yang ia hirup di rumah itu terasa menyesakkan, seperti racun yang perlahan menyusup ke dalam tubuhnya.

Sofia tahu, apa yang ia lakukan dengan menyerahkan surat cerai itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Namun, saat ia berdiri di depan Adrian tadi, ia merasakan sebuah beban yang begitu berat di bahunya. Tidak hanya karena penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuh, tetapi juga karena kenyataan pahit yang harus ia terima—bahwa pernikahannya selama ini hanyalah sebuah permainan, sebuah cara bagi Adrian untuk membalas dendam kepada keluarganya. Setiap kata yang diucapkan Adrian terngiang di telinganya, semakin menambah pedih. "Ini bukan tentang cinta. Ini tentang membayar utang keluargamu kepada keluarga kami." Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seperti sebuah mantra yang terus mengiris jantungnya.

Hari-hari setelah itu semakin kelam. Sofia merasa dirinya semakin tenggelam dalam kegelapan, namun ia berusaha untuk tetap berdiri. Namun, ia tahu, tubuhnya semakin lemah. Setiap gerakan terasa berat, dan rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya semakin tak tertahankan. Kanker yang menggerogoti tubuhnya tak memberikan ampun. Namun, rasa sakit fisik itu masih kalah pedih dibandingkan dengan luka yang ada di hatinya. Luka yang tak akan pernah sembuh.

Malam itu, Sofia terbaring di tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit yang gelap. Ia mencoba untuk tidur, tetapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Semua yang terjadi, semua yang telah dia korbankan, terasa sia-sia. Dalam keheningan malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Entah karena tubuhnya yang semakin lemah atau karena perasaan yang sudah terlalu lama tertahan, ia merasa seperti ada kekosongan yang begitu dalam. Kekosongan yang tak bisa diisi oleh apa pun.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka, dan sosok yang selama ini ia harapkan ada di sampingnya, Adrian, berdiri di ambang pintu. Melihatnya, Sofia merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa marah. Marah karena pria yang pernah ia cintai ini ternyata tidak pernah mencintainya. Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang lebih mendalam, sebuah kerinduan yang tak pernah hilang. Meskipun ia tahu bahwa semua ini tidak akan pernah kembali, hatinya yang terluka tak bisa menahan dirinya untuk tidak merindukan Adrian.

Adrian berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada rasa bersalah yang terlihat samar di wajahnya, namun itu hanya bertahan sejenak. "Sofia," panggilnya dengan suara yang lemah. "Aku... aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Aku tahu aku tak seharusnya bersikap seperti itu."

Sofia menatapnya, tak bisa lagi menahan air mata yang menggenang di matanya. “Kau tahu?” suaranya serak, hampir seperti bisikan. “Kau tahu betapa dalamnya luka yang kau buat? Kau tahu betapa sakitnya melihatmu bersama wanita itu, sementara aku... aku terbaring di sini, sakit, menahan semua rasa sakit ini sendirian?”

Adrian mendekat, perlahan. Langkahnya terasa berat, seolah-olah ia pun terperangkap dalam penyesalan yang tak terucapkan. Ia duduk di sisi tempat tidur Sofia, namun jaraknya tetap jauh. “Sofia... aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sekejam itu padamu. Aku... aku hanya terjebak dalam kebencian yang tak pernah bisa kulepaskan. Aku... aku rasa ini semua adalah cara untuk membalaskan dendam.”

Sofia menundukkan kepala, menahan isak tangisnya yang semakin sulit dikendalikan. “Dendam? Jadi aku ini hanya menjadi alat balas dendammu? Jadi semua yang kita jalani ini hanya permainan untukmu?” tanya Sofia dengan suara yang hampir tak terdengar. "Apakah aku hanya sebuah cara untuk membuat keluargamu menderita? Apakah aku hanya sekadar bayangan dari wanita yang seharusnya ada di sisimu?"

Adrian terdiam, wajahnya tampak bingung dan tersiksa. “Sofia, aku—aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tahu aku tidak pantas memohon ampun padamu. Aku tahu aku tidak layak. Tetapi, aku ingin kau tahu, bahwa aku tak pernah berniat melukai hati siapa pun, apalagi hati seorang wanita sebaikmu.”

Namun, Sofia sudah tidak bisa lagi mendengarkan kata-kata manis itu. Ia sudah terlalu lelah. Terlalu lelah untuk berharap, terlalu lelah untuk memaafkan. Semua yang terjadi sudah terlalu jauh. "Kau tahu, Adrian," Sofia berkata dengan suara yang terputus-putus, "Aku tidak lagi punya waktu untuk mendengarkan alasan. Waktuku... waktuku sangat terbatas. Aku sudah terlalu lelah menunggu, menahan semua sakit ini. Aku hanya ingin pergi, aku hanya ingin beristirahat."

Adrian meraih tangan Sofia dengan lembut, namun Sofia menariknya dengan cepat. “Jangan sentuh aku,” ia berkata dengan dingin, “Kau sudah cukup menyakiti aku. Aku tidak lagi membutuhkan apapun darimu. Cinta yang kau berikan bukan cinta, itu hanya ilusi yang membuatku terperangkap dalam kebohongan.”

Adrian merasa seluruh tubuhnya terhuyung, seakan-akan dia tidak mampu menanggung beban perasaan yang begitu berat. “Aku tahu, aku tahu aku sudah terlalu jauh menyakiti kamu, Sofia,” suara Adrian hampir tidak terdengar, tersendat-sendat. “Tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku sudah terlalu lama terperangkap dalam kebencian, tapi kini aku hanya ingin kamu tahu satu hal... aku menyesal. Aku menyesal semua yang terjadi. Aku menyesal tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu.”

Namun, Sofia hanya menatapnya dengan tatapan kosong, tidak ada lagi emosi yang terlihat di matanya. Semua yang pernah ada di antara mereka sudah mati. Cinta yang dulu ada kini hanyalah kenangan pahit yang tak bisa digenggam lagi.

“Adrian,” Sofia berbisik pelan, “Semua sudah terlambat.”

Dan dengan itu, ia menutup matanya, berharap bahwa akhirnya ia bisa menemukan kedamaian. Tanpa harus terus menderita dalam hubungan yang hancur, tanpa harus terjebak dalam cinta yang tidak pernah ada.

Bab 3

Hari-hari yang berlalu setelah pertemuan itu terasa semakin kelabu bagi Sofia. Setiap napas yang ia tarik, setiap detik yang berlalu, hanya mengingatkannya pada satu hal yang tak bisa ia hindari lagi—waktunya sudah hampir habis. Kanker yang merenggut tubuhnya semakin ganas, tak memberi ampun. Rasa sakit yang dulu datang perlahan kini datang begitu cepat dan menyakitkan, seakan tubuhnya sedang berontak melawan kenyataan. Namun, rasa sakit fisik itu, yang terus menggerogoti tubuhnya, tak pernah lebih dalam daripada sakit hati yang ia rasakan.

Sofia merasa dirinya terperangkap dalam hidup yang tak lagi memiliki arti. Ia telah menyerahkan seluruh dirinya kepada seorang pria yang ternyata tidak pernah mencintainya, yang bahkan menikahinya hanya untuk membalas dendam. Mungkin ia terlalu naif, terlalu berharap, terlalu mempercayakan hidupnya pada seseorang yang tak pernah ada di sisinya. Setiap kali ia mencoba untuk mencari kedamaian, setiap kali ia mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri, rasa sakit itu kembali mengingatkannya pada kenyataan—bahwa hidupnya, pada akhirnya, hanyalah sebuah kebohongan yang terbalut dalam kata-kata manis.

Pagi itu, Sofia terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia menatap ke luar jendela, melihat dunia yang tampaknya terus berjalan tanpa peduli padanya. Bunga-bunga yang mekar di halaman rumah, langit yang cerah, suara burung yang berkicau—semuanya terlihat begitu jauh. Seperti ada tembok besar yang memisahkannya dari dunia luar. Semua yang indah itu hanya menjadi bayangan yang tidak bisa ia sentuh, tidak bisa ia rasakan. Hatinya sudah terlalu hancur untuk merasakan apapun.

Adrian sudah tidak datang lagi ke rumah sejak malam itu. Setelah kata-kata yang keluar dari mulut Sofia, ia tahu bahwa tidak ada lagi ruang bagi mereka untuk saling berbicara. Adrian mungkin sudah merasa bahwa semua yang ia lakukan takkan bisa diperbaiki. Sofia tidak lagi membutuhkan penyesalan atau kata-kata kosong darinya. Ia hanya ingin semuanya berakhir, ingin mengakhiri penderitaan yang telah lama ia tanggung.

Namun, meskipun ia mencoba untuk tetap tegar, rasa sakit yang ia rasakan semakin tidak tertahankan. Setiap napas terasa seperti seratus jarum menusuk tubuhnya. Setiap gerakan terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan di bawah beban yang tidak bisa ia angkat. Tetapi yang paling menyakitkan bukanlah rasa sakit itu sendiri—melainkan kesendirian yang datang bersamanya. Kesendirian yang begitu mendalam, yang menembus sampai ke jantungnya.

Ketika siang menjelang sore, Sofia akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah merasa lebih baik dengan berdiam diri di dalam, dengan merenung tentang semua yang telah terjadi. Ia berjalan perlahan ke arah taman kecil di belakang rumah, tempat yang dulu menjadi tempat favoritnya untuk duduk dan merenung bersama Adrian. Namun kini, taman itu terasa seperti tempat asing yang penuh kenangan pahit.

Sofia duduk di bangku taman itu, menatap ke arah langit yang perlahan mulai gelap. Malam mulai menyelimuti dunia, dan dalam keheningan itu, ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan—sebuah perasaan yang jauh lebih dalam daripada kata-kata. Perasaan yang menyakitkan, yang menghimpit dada, yang membuatnya merasa seperti tak ada lagi alasan untuk terus bertahan. Ia ingin mengakhiri semuanya, mengakhiri penderitaan yang sudah terlalu lama ia tahan.

Air mata mulai mengalir di pipinya. Sofia tidak mencoba untuk menahan tangisnya. Semua yang ia rasakan terlalu berat untuk dipendam lebih lama. Ia merasakan semua rasa sakit, kemarahan, dan penyesalan yang telah lama terkubur di dalam hatinya. “Kenapa, Adrian?” ia berbisik, seolah meminta jawaban pada angin malam yang tak akan pernah bisa memberinya. “Kenapa aku harus melalui semua ini? Kenapa aku harus menjadi korban dari dendam yang tak pernah ada habisnya?”

Sofia terdiam, menatap tanah di bawahnya, berusaha mencerna semua perasaan yang bergejolak dalam dirinya. Semua perasaan yang selama ini ia pendam, yang ia coba untuk sembunyikan, kini keluar begitu saja. Keinginan untuk lari dari kenyataan begitu kuat, tetapi di sisi lain, ia merasa bahwa ia sudah terlalu lelah untuk terus melawan. Waktu yang ia miliki begitu sedikit. Tubuhnya yang rapuh dan lemah semakin membatasi gerakannya, dan meskipun ia ingin tetap bertahan, hatinya sudah terlalu lama hancur.

Ia merasa seperti tenggelam dalam lautan kesedihan yang tak pernah berujung. Setiap detik terasa seperti hari yang panjang. Setiap napas yang ia hirup seakan semakin sulit untuk ditahan. Semua yang terjadi, semua yang ia alami, terasa seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul. Ia ingin lari, tetapi tak tahu ke mana. Ia ingin pergi, tetapi tak tahu bagaimana cara untuk mengakhiri semuanya.

Dengan tangan yang gemetar, Sofia meraih tas yang ada di sampingnya. Dalam tas itu, ada selembar surat yang telah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu. Surat itu adalah surat yang mengakhiri semuanya. Surat yang ia tulis dengan tangan sendiri, sebagai bentuk perpisahan terakhir. Ia menatap surat itu sejenak, merasakan segenap perasaan yang terkumpul dalam setiap kata yang ia tulis. Surat itu bukan hanya untuk Adrian, bukan hanya untuk keluarganya. Surat itu adalah bentuk penebusan dari semua rasa sakit yang ia rasakan. Sebuah akhir yang sudah lama ia tunggu.

Dengan perlahan, Sofia berdiri dan melangkah menuju gedung tinggi yang terletak beberapa blok dari rumahnya. Gedung itu telah lama menjadi simbol bagi kehidupannya yang rapuh, simbol dari segala penderitaan yang selama ini ia rasakan. Gedung yang mengingatkannya pada kesendirian yang tak berujung, pada kekosongan yang kini ia rasakan.

Langkahnya semakin berat, semakin lambat. Namun ia tahu, langkah ini adalah langkah terakhir yang akan ia ambil. Ketika ia sampai di tepi gedung, ia menatap ke bawah, melihat dunia yang tampaknya begitu jauh. Semua yang ia tinggalkan di bawah sana, semua orang yang pernah ia cintai, terasa begitu jauh. Bahkan Adrian yang dulu pernah ia percayai, kini hanya menjadi bayangan yang tak bisa ia raih.

Sofia menutup matanya, merasakan angin malam yang menyapu wajahnya. Ia merasa ringan, seolah-olah semua beban yang selama ini menekan tubuhnya akhirnya terlepas. Tanpa suara, tanpa kata-kata, Sofia melangkah ke depan, meninggalkan dunia yang tidak pernah bisa ia pahami.

Dan dengan itu, penderitaannya berakhir.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED