Bab 1

Awal kelas dua SMA jadi masa yang nggak terduga buat Adel dan Dara. Mereka baru saja sekelas, duduk nggak jauh dan langsung jadi dekat karena punya banyak kesamaan. Mulai dari kebiasaan suka bercanda, sampai kegemaran mereka nongkrong bareng setelah pulang sekolah. Nggak butuh waktu lama buat mereka saling merasa nyaman. Mereka suka sharing cerita-cerita ringan, mulai dari gosip di sekolah sampai curhatan pribadi yang lebih mendalam.

Di tengah semester pertama kelas dua...

"Eh, Del, menurut lu, cinta itu perlu dikejar-kejar nggak sih?" Dara tiba-tiba nyeletuk di sela-sela makan siang mereka di kantin.

Adel ngelirik penasaran sambil ketawa kecil. "Apaan sih, Dar? Lu lagi naksir siapa?"

Dara malah senyum-senyum sendiri, sambil ngelepas handphone dari tasnya. "Enggak, gue cuma iseng doang. Coba-coba aplikasi kencan, kali aja nemu yang cocok," jawab Dara sambil nunjukin aplikasi kencan di layar handphone-nya.

Adel agak terkejut, tapi akhirnya malah ikut ketawa. "Gile, ya lu. Nggak takut apa? Bukannya kita pernah bahas kalo aplikasi kencan tuh agak menakutkan?"

Dara menunduk, masih senyum, tapi kali ini dengan sedikit ekspresi serius. "Iya, tapi... gue penasaran aja, Del. Kadang gue merasa kesepian, pengen aja coba ngobrol sama orang baru."

Adel diam sejenak, tatapannya melunak. Dia tahu, Dara sering ngerasa sendirian walaupun mereka punya banyak teman di sekolah. Adel akhirnya tersenyum dan angguk, nyoba dukung keputusan Dara. "Ya udah, asal hati-hati aja, ya. Jangan sampe ketemu yang aneh-aneh."

Dara nyengir sambil angkat bahu. "Tenang aja, gue nggak sembarangan, kok."

---

Waktu berlalu, dan Dara cerita kalau dia kenal cowok dari aplikasi itu-namanya Farhan. Awalnya cuma ngobrol ringan, tapi makin lama mereka jadi rutin chat. Dara sering banget cerita soal Farhan ke Adel, mulai dari gaya bicaranya yang lucu sampai perhatian-perhatian kecil yang Farhan kasih. Dalam beberapa minggu, Dara udah mulai deket banget sama Farhan, bahkan kadang terlihat lebih antusias saat ngomongin cowok itu.

Di sekolah, saat istirahat...

"Del, tau nggak? Farhan tuh lucu banget, dia tuh bener-bener bikin gue ketawa tiap kali chat," cerita Dara dengan mata berbinar-binar.

Adel cuma bisa senyum sambil dengerin. Dia seneng ngeliat Dara bahagia, tapi ada perasaan cemas yang nggak bisa dia abaikan. "Tapi, lu beneran yakin sama dia, Dar? Lu belum ketemu langsung kan?"

Dara menatap Adel dengan senyum yakin. "Ya, kan gue nggak buru-buru, Del. Gue cuma ngobrol-ngobrol aja. Lagian dia keliatan jujur kok."

Adel angguk-angguk pelan, tapi dalam hatinya, dia tetap merasa ragu. "Oke deh, asal lu hati-hati aja. Gue cuma nggak mau lu terluka."

Dara mengangguk, senyum penuh keyakinan. "Iya, gue ngerti kok. Tenang aja."

---

Sementara Dara makin intens dengan Farhan, Adel pun ikut penasaran dan coba aplikasi kencan yang sama. Dia kenalan dengan seorang cowok bernama Vero, yang dalam waktu singkat langsung nyambung dengan cara pikir dan gaya bicaranya. Selama beberapa minggu, mereka sering chat setiap malam, dan suatu malam, Vero akhirnya ngajak ketemuan langsung di Bukit Bintang.

Adel masih ragu untuk datang sendirian, dan akhirnya minta Dara buat nemenin dia. Mereka berdua sepakat untuk bertemu Vero, yang nantinya jadi pengalaman baru bagi Adel.

Malam di Bukit Bintang...

"Del, lu beneran yakin aman?" tanya Dara sambil ngebetulin jaketnya karena angin malam yang cukup dingin.

Nggak lama kemudian, Vero datang-berpenampilan sederhana, pakai jaket hitam dan rambutnya sedikit gondrong. Dia senyum hangat sambil melambai ke arah mereka, dan Adel merasa lebih tenang melihat sikap ramah Vero.Adel dan Vero bertemu di malam yang cukup dingin. Vero terlihat cukup tampan, namun ada sesuatu yang tidak nyaman bagi Adel. Saat mereka berbicara, Vero seringkali melontarkan candaan yang sedikit menyinggung, atau terlalu serius menanggapi hal-hal kecil yang seharusnya tidak diperhatikan begitu intens.

"Gue sih nggak masalah, kalau lo lebih nyaman sama gue, Del," kata Vero dengan nada sedikit menggoda, saat mereka sedang duduk di sebuah kafe di Bukit Bintang.

Adel merasa aneh, "Gue nggak ngerti, Ver. Kita baru kenal, lo nggak harus kayak gitu, kan?"

Dara yang duduk di meja sebelah ikut diam. Melihat sikap Vero yang agak berlebihan, dia mulai merasa cemas, namun berusaha untuk tidak ikut campur.

Tapi, saat pertemuan itu selesai, Adel merasa ada yang kurang. Vero memang menarik, tapi entah kenapa, dia merasa seperti ada jarak antara mereka. Mungkin itu perasaan pertamanya yang membuatnya bingung, tapi dia berusaha memberi kesempatan lagi. Vero tetap menghubungi Adel setelah itu, dan mereka mulai sering berkomunikasi.

---

Adel terbangun di pagi hari dengan perasaan campur aduk. Setelah semalam bertemu dengan Vero, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Meskipun Vero tampak menyenangkan, ada sisi dirinya yang membuat Adel merasa tidak nyaman. Tapi, dia tidak bisa menepis perasaan yang mulai muncul-perasaan bahwa Vero mungkin adalah seseorang yang bisa memberikan sesuatu yang baru dalam hidupnya.

Dara yang selalu menjadi pendengar setia bagi Adel, tentu saja tahu apa yang terjadi. Di kelas, mereka berdua masih saling berbicara seperti biasa, meskipun ada jarak kecil yang mulai muncul antara mereka.

"Lo lagi mikirin Vero nih?" tanya Dara sambil menggoda saat mereka duduk di kantin.

Adel hanya tersenyum, meski hatinya sedikit berdebar. "Nggak juga, cuma... dia beda aja dari yang lain."

Dara mengerutkan dahi. "Beda gimana?"

"Kayak, dia tuh... nggak mau nyerah kalau dia pengen sesuatu. Bahkan kalau gue bilang nggak, dia bakal terus coba." Adel menggelengkan kepala, mencoba menjelaskan perasaannya yang sebenarnya agak rumit.

"Dia kok kayak gitu?" Dara mulai terlihat khawatir. "Gue ngerti sih kalau lo pengen mencoba hal baru, tapi hati-hati aja, Del."

Adel hanya mengangguk. "Gue tahu, Dar. Gue cuma nggak ngerti perasaan gue sendiri."

Hari-hari berlalu, dan meskipun mereka berdua saling berbicara seperti biasa, ada ketegangan yang mulai muncul di antara mereka. Tidak hanya karena Vero, tetapi juga karena kesenjangan yang terasa antara Adel dan Dara. Dara yang semakin dekat dengan Farhan, dan Adel yang semakin sering menghabiskan waktu dengan Vero, seolah-olah ada dua dunia yang terpisah.

---

Sementara itu, hubungan Adel dengan Vero semakin intens. Mereka mulai sering berbicara di chat, dan setiap percakapan terasa penuh dengan ketegangan emosional. Vero selalu tahu bagaimana caranya membuat Adel merasa spesial, meskipun kadang-kadang dia terlalu menguasai percakapan, membuat Adel merasa kurang nyaman.

Suatu malam, setelah sebulan lebih mereka berkenalan, Vero mengirim pesan yang cukup panjang.

Vero: "Gue nggak tahu kenapa, tapi rasanya kayak kita udah kenal lama. Kayak lo tuh udah bagian dari hidup gue aja."

Adel merasa sedikit bingung membaca pesan itu. Mereka baru kenal beberapa minggu, dan Vero sudah mengatakan hal seperti itu. Tapi, entah kenapa, hatinya terasa hangat membaca kata-kata itu.

Adel: "Lo... serius? Kita baru kenal, Ver."

Vero: "Gue nggak pernah ngomong gini ke cewek lain, Del. Lo beda."

Adel terdiam membaca pesan itu. Bagaimana bisa seseorang yang baru dikenal bisa mengatakan hal seperti itu? Perasaan itu membuatnya merasa terhanyut, tapi juga ragu.

Namun, semakin sering mereka berbicara, semakin sering Vero mengungkapkan rasa suka dan ketertarikannya kepada Adel. Suatu hari, dia mengajak Adel untuk pergi keluar lagi, kali ini untuk makan malam bersama di restoran yang agak mewah.

"Del, lo mau nggak kita coba ngelakuin sesuatu bareng lagi? Gue pikir, kalau lo mau, kita bisa lebih deket lagi," kata Vero, mengajak dengan nada serius.

Adel bingung, tetapi juga merasa sedikit tertarik. "Iya sih, kayaknya seru juga. Tapi, gue beneran butuh waktu buat ngeresapi semua ini, Ver."

Vero hanya tertawa kecil. "Gue ngerti, kok. Tapi gue yakin kita bisa saling ngerti lebih dalam."

Pada malam itu, mereka bertemu di restoran tersebut. Vero mengenakan jaket hitam yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan misterius. Wajahnya yang tampan membuatnya semakin menarik di mata Adel. Mereka berbicara banyak hal, mulai dari cerita masa kecil, impian masing-masing hingga rasa trauma yang di sebebkan oleh masa lalu mereka masing-masing. Meski ada perasaan hangat, ada juga rasa ragu yang menghinggapi hati Adel.

Setelah makan malam, mereka berjalan keluar menuju mobil Vero. Sebelum berpisah, Vero menatap Adel dengan penuh perhatian. "Lo tahu, kan, gue serius sama lo, Del?"

Adel hanya mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya, ada suara kecil yang bertanya-tanya, apakah ini benar-benar yang dia inginkan?

---

Hari-hari berjalan cepat, dan hubungan Adel dengan Vero semakin mendalam. Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama, berbicara melalui chat, bahkan kadang-kadang bertemu di luar sekolah. Vero makin menunjukkan sisi perhatian yang membuat Adel merasa dihargai, meskipun ada bagian dari dirinya yang masih merasa ragu.

Vero yang selalu percaya diri, kali ini berbicara dengan serius saat mereka duduk di salah satu kafe yang cukup tenang. "Gue suka banget sama lo, Del. Gue serius, lo tuh beda dari cewek-cewek lain yang pernah gue kenal."

Adel terdiam, menatap Vero yang sedang berbicara dengan penuh keyakinan. "Gue nggak tahu... gue bingung, Ver. Semua ini terlalu cepat."

Vero tersenyum, mencoba meyakinkan Adel. "Gue ngerti. Tapi gue percaya, kita bisa ngelewatin ini bareng. Lo nggak perlu ragu, Del."

Adel mencoba memberi respons, tapi pikirannya mulai kacau. Ada perasaan senang, ada juga ketidakpastian yang datang begitu saja. Di satu sisi, Vero memberikan perhatian yang selama ini Adel rasa hilang dari hubungan-hubungan sebelumnya. Namun, hati Adel masih merasa ada yang kurang. Dia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan yang sulit untuk dipilih.

Setiap hari seakan penuh dengan pesan-pesan dari Vero yang selalu membuatnya tersenyum, tapi juga penuh dengan kebingungannya. Vero yang selalu tahu bagaimana

Bab 2

membuatnya merasa istimewa, dengan cara yang kadang terlalu intens. Kadang, Adel merasa terjebak, namun tetap ada sisi dirinya yang merasa dihargai.

---

Beberapa minggu setelah itu, Dara mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa hubungannya dengan Farhan semakin serius. Meskipun Dara tidak pernah terlalu terbuka mengenai hal ini, namun kedekatannya dengan Farhan semakin terlihat jelas. Mereka mulai sering bertemu di luar sekolah, dan Dara sering menceritakan hal-hal kecil tentang Farhan.

"Gue bener-bener nyaman sama Farhan, Del," kata Dara suatu sore setelah sekolah. Mereka duduk di bangku taman sekolah, menunggu waktu pulang.

Adel menatap Dara dengan hati yang terasa berat. "Lo serius sama dia?"

Dara mengangguk, senyumnya menunjukkan ketulusan yang Adel jarang lihat. "Iya, Del. Gue merasa dia ngerti gue lebih dari siapapun."

Adel merasa hatinya tersentuh, tapi sekaligus kecewa. Tidak hanya karena Dara lebih memilih Farhan, tetapi juga karena hubungan mereka yang semakin renggang. Persahabatan mereka, yang dulu sangat erat, kini terasa mulai longgar. Setiap percakapan seolah mengandung perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan.

"Apa gue nggak cukup ngerti lo, Dar?" tanya Adel dengan suara bergetar.

Dara terdiam, tampaknya sedang mencari kata-kata yang tepat. "Gue nggak bermaksud ninggalin lo, Del. Tapi gue butuh seseorang yang bisa ngerti gue lebih dalam. Farhan itu beda."

Adel terdiam, mencoba menyembunyikan perasaan kecewanya. "Iya, gue ngerti."

Namun, meski Dara berusaha meyakinkan Adel, hati Adel tetap merasa terluka. Ada perasaan kesepian yang semakin menggerogoti dirinya, apalagi dengan kedekatan Dara dan Farhan yang semakin dalam.

---

Seiring berjalannya waktu, konflik antara Adel dan Dara semakin sulit untuk dihindari. Kecanggungan di antara mereka semakin terasa. Semua hal kecil yang dulu bisa dibicarakan dengan mudah kini terasa berat dan penuh ketegangan. Dan di sisi lain, hubungan Adel dengan Vero semakin terasa penuh gejolak.

Namun, dalam hatinya, Adel merasa bingung. Di satu sisi, dia ingin mempertahankan hubungan dengan Dara, tapi di sisi lain, dia juga merasa bahwa hubungannya dengan Vero mulai memberi tantangan baru yang sulit untuk dilepaskan.

Tapi satu hal yang Adel tahu pasti,apapun yang terjadi dia harus membuat pilihan. Dia tak bisa terus-terusan hidup dalam ketidakpastian, apalagi setelah semuanya berubah begitu cepat.

---

Di tengah-tengah semua kebingungannya, Adel semakin terfokus pada hubungannya dengan Vero. Terkadang Vero terlalu mendominasi, kadang terlalu mendesak agar Adel bisa memutuskan dengan cepat. Sebagai seorang yang penuh keraguan, Adel merasa terjebak di antara dua perasaan yang sangat kuat rasa sayang terhadap Vero, namun rasa kehilangan terhadap Dara yang semakin jauh.

Ketika konflik antara Adel dan Dara semakin rumit, Vero mencoba mendekatkan diri lebih dalam kepada Adel. Tapi, dalam hatinya, Adel tahu-perasaan itu tidak akan pernah sama seperti dulu. Keputusan semakin sulit untuk dibuat.

Sementara itu, hubungan Adel dan Dara terus merenggang. Mereka berdua merasa asing satu sama lain, dan perasaan kehilangan semakin jelas di setiap percakapan mereka.

---

Hari-hari berlalu, dan segala sesuatunya semakin terasa semakin rumit. Adel semakin banyak menghabiskan waktu dengan Vero, mencoba untuk memusatkan pikirannya pada hubungan mereka. Namun, di balik kebahagiaan yang tampak, perasaan ragu dan cemas terus mengganggu. Semakin sering mereka bertemu, semakin banyak hal yang membuat Adel merasa cemas. Vero yang selalu penuh perhatian terkadang terlalu mendesak, menginginkan lebih dari yang bisa diberikan oleh Adel. Sementara itu, konflik dengan Dara semakin dalam dan sulit untuk dibaiki.

Suatu malam, Adel duduk di ruang tamunya, merenung. Pikirannya kembali berputar pada Dara, sahabat yang dulu begitu dekat dengannya. Meskipun hubungan mereka mulai renggang, masih ada rasa cinta dan kasih sayang yang besar di dalam hati Adel. Dia tahu bahwa kesalahpahaman mereka tidak akan pernah mudah untuk diperbaiki, terutama setelah apa yang terjadi dengan Farhan.

Vero kemudian menghubungi Adel lewat pesan. "Gue lagi ada di luar, pengen ketemu lo. Bisa?"

Adel menatap ponselnya, merasakan ketegangan yang kembali hadir. Dia ingin pergi dan menemui Vero, tetapi pikirannya yang terbelah membuatnya ragu. Akhirnya, setelah beberapa detik berpikir, Adel membalas. "Iya, gue datang."

---

Adel bertemu Vero di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai, tempat favorit mereka berdua. Vero tersenyum lebar ketika melihatnya, tapi senyum itu terasa palsu di mata Adel. Semua terasa salah. Mereka duduk berhadapan, dan perasaan canggung antara keduanya semakin nyata.

"Lo lagi banyak pikiran, ya?" tanya Vero sambil menuangkan kopi ke dalam cangkir Adel. "Lo nggak biasa kayak gini."

Adel hanya mengangguk. "Gue... gue lagi bingung, Ver. Semua ini terasa terlalu cepat. Gue nggak bisa ngebayangin gimana ke depannya."

Vero menatapnya dengan tatapan penuh pengertian. "Gue ngerti, Del. Tapi gue bener-bener serius sama lo. Gue nggak cuma main-main. Gue nggak mau kehilangan lo."

Adel menghela napas panjang, mencoba meredakan kebingungannya. "Gue nggak tahu, Ver. Gue punya banyak hal yang harus gue selesaikan sendiri. Gue nggak bisa ngebangun sesuatu kalau hati gue masih terikat dengan hal yang belum selesai."

Vero terdiam, lalu menatap Adel dalam diam. "Jadi lo ragu sama hubungan ini?"

Adel merasakan berat di dadanya, dan dengan suara pelan, dia menjawab, "Gue nggak tahu, Ver. Kita coba dulu buat jalin hubungan ini, dan gua harap lu bisa ngilangin rasa ragu gua ke lu. Jangan pernah kecewaain gua ya ver. Tolong yakinin gua, gua takut kalau keputusan yang gua ambil jadi penyesalan terbesar gua"

Vero hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ada raut sendu di wajahnya, tapi dia ngeyakinin Adel dengan jawabannya, "Iya, gua janji. Dan gua akan usahain sebaik mungkin untuk hubungan kita, terimakasih udah ngasih kesempatan buat gua"

---

Setelah pertemuan itu, perasaan Adel semakin kacau. Dia tidak hanya merasa terjebak dalam hubungan yang semakin rumit dengan Vero, tetapi juga merasa kehilangan arah dalam hubungannya dengan Dara. Setiap kali berbicara dengan Dara, ada ketegangan yang semakin terasa. Dara semakin jauh, dan perasaan cemburu terhadap hubungan Dara dengan Farhan semakin menggerogoti perasaannya.

Adel mencoba menjelaskan perasaannya kepada Dara, berharap bisa menyelamatkan persahabatan mereka yang dulu begitu erat. Namun, semakin dia mencoba, semakin Dara merasa tidak bisa mengerti. Dara yang dulu selalu bisa diandalkan, sekarang malah terkesan menghindar.

"Dar, gue cuma butuh lo ngertiin gue, kenapa semuanya jadi kayak gini? Apa lo nggak ngerasain hal yang sama?" tanya Adel, mencoba memecah kesunyian di antara mereka.

Dara terlihat bingung dan cemas, tetapi jawabannya tetap terasa jauh. "Lo nggak ngerti, Del. Gue nggak bisa selalu ada buat lo kayak dulu, gue ada Farhan sekarang. Dan lo juga punya Vero. Kita berdua sibuk dengan hidup kita masing-masing."

Kata-kata itu seakan menusuk hati Adel. Meskipun dia tahu, hubungan mereka memang sudah berubah, namun perasaan bahwa Dara memilih untuk menjauh begitu saja membuat hatinya hancur. Dia merasa seperti tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan hubungan mereka yang dulu begitu berarti.

---

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Adel dan Vero semakin kuat. Meskipun hubungan mereka sering dibalut keraguann, Vero berhasil meyakinkan Adel bahwa dia serius dengan perasaannya. Mereka mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama, dan meskipun masih ada ketidak pastian, ada rasa nyaman yang semakin tumbuh.

Namun, semuanya berubah ketika suatu kejadian tak terduga merusak hubungan Adel dan Dara. Di awal kelas 3 SMA, saat hubungan Adel dan Vero masih terbilang baru, Adel merasa semakin yakin bahwa ini adalah hubungan yang dia inginkan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama setelah sekolah, berbicara panjang lebar tentang segala hal, termasuk masa depan masing-masing. Vero selalu sabar dan perhatian, membuat Adel merasa diterima.

Namun, di sisi lain, hubungan Adel dengan Dara mulai merenggang. Mereka sering berbicara, tetapi ada jarak yang tak terelakkan. Ketegangan itu semakin terasa saat perbincangan tentang Dara dan Farhan muncul di tengah-tengah percakapan Adel dengan Dara.

Suatu hari, setelah sekolah, Adel mengajak Dara untuk ngobrol di kafe favorit mereka. Mereka duduk berhadap-hadapan, dan Adel mulai berbicara tentang hubungan Dara dengan Farhan.

"Dar, gue cuma pengen lo hati-hati sama Farhan. Gue nggak tahu kenapa, tapi ada sesuatu yang bikin gue ngerasa nggak enak," kata Adel, mencoba menjelaskan kekhawatirannya.

Dara hanya tersenyum tipis, terlihat sedikit bingung dengan sikap Adel. "Lo cemas sama gue, Del? Kenapa lo bisa bilang kayak gitu?"

Adel menghela napas. "Gue cuma nggak mau lo sakit hati, Dar. Gue nggak suka kalau dia tiba-tiba berubah sikap. Lo tahu kan, gue pernah ngalamin hal yang sama sebelumnya. Gue nggak mau lo ngalamin apa yang gue rasain."

Namun, Dara malah merasa tersinggung dengan kata-kata Adel. "Lo kayak nggak percaya sama gue, Del. Farhan itu baik kok, dan gue bahagia sama dia. Kenapa lo ngurusin hubungan gue? Itu urusan gue, kan?"

Adel terdiam, merasa kata-katanya tidak diterima dengan baik. "Gue nggak bermaksud kayak gitu, Dar. Gue cuma peduli sama lo. Gue nggak mau lo salah pilih orang."

Dara menghela napas panjang, mencoba untuk tetap tenang. "Gue ngerti niat lo, Del. Tapi kadang lo terlalu ikut campur soal hidup gue. Gue bisa ngurusin diri gue sendiri."

Keadaan jadi canggung, dan dalam keheningan itu, sebuah ketegangan baru muncul. Pada saat itulah, perasaan Adel mulai berubah. Dia merasa bahwa Dara tidak lagi menganggapnya sahabat yang peduli, melainkan seseorang yang menghalangi kebahagiaannya.

---

Sejak perbincangan itu, hubungan Adel dan Dara semakin renggang. Mereka jarang berbicara, dan setiap kali bertemu, ada perasaan canggung yang menyelimuti. Ada kalanya mereka mencoba berbicara, tetapi topik yang mereka bahas selalu terasa berat. Perasaan Adel yang semakin terluka, merasa bahwa Dara lebih memilih Farhan daripada dirinya, semakin menggerogoti hubungan mereka.

Bab 3

Adel mencoba untuk mengalihkan perhatian dari masalah ini dengan memperdalam hubungannya dengan Vero. Vero yang selalu ada di sampingnya, memberikan perhatian dan pengertian yang membuat Adel merasa sedikit lebih baik. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, berdua saja, jauh dari semua masalah yang mengganggu pikiran Adel.

Namun, hubungan dengan Dara yang semakin jauh membuat Adel merasa bingung. Setiap kali dia mencoba untuk mendekati Dara, Dara seolah menghindar. Bahkan, di beberapa kesempatan, Dara memilih untuk bersama Farhan daripada berbicara dengan Adel.

"Apa lo nggak lihat, Del? Gue nggak punya waktu buat ngobrol sama lo. Farhan lebih penting sekarang," kata Dara suatu hari dengan nada yang agak tajam.

Adel merasa sakit hati mendengar kata-kata itu. "Kenapa lo kayak gitu, Dar? Apa gue nggak cukup berarti lagi buat lo?"

Dara hanya terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perlahan, hubungan mereka semakin terasa asing. Kekuatan ikatan persahabatan mereka yang dulu begitu erat, kini mulai retak.

---

Setelah dua bulan berlarut-larut, hubungan Adel dan Dara semakin tak bisa diperbaiki. Mereka hanya saling diam, tidak ada lagi percakapan yang hangat seperti dulu. Bahkan, saat ada di sekolah, mereka seolah tidak saling mengenal. Setiap pertemuan terasa seperti pertemuan orang asing.

Adel merasa hatinya hancur. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang pernah dia impikan tentang persahabatannya dengan Dara kini tinggal kenangan. Mungkin ada kesalahan dari kedua belah pihak, tapi yang jelas, perasaan Adel tentang Dara yang lebih memilih Farhan daripada dirinya semakin jelas.

Di tengah kesedihannya, Adel merasa nyaman dengan Vero. Meski hubungan mereka pun tidak lepas dari konflik dan ketidak pastian, setidaknya Vero tidak meninggalkan Adel. Vero menjadi tempat berlindungnya, memberi perhatian yang membuat Adel merasa dihargai, meskipun pada saat yang sama, dia tahu, hatinya tidak sepenuhnya bisa dibuka untuk Vero.

Suatu hari, setelah sekolah, Vero menjemput Adel. Mereka pergi ke tempat yang sering mereka kunjungi bersama, duduk berdua tanpa kata. Vero memandang Adel dengan tatapan penuh perhatian, mencoba merasakan apa yang ada dalam pikiran Adel.

"Lo masih mikirin Dara?" tanya Vero pelan, memecah keheningan.

Adel mengangguk, meskipun hatinya terasa berat. "Gue cuma nggak ngerti kenapa semuanya jadi kayak gini. Kenapa Dara lebih memilih Farhan dari pada gue, kenapa dia nggak butuh gue lagi?"

Vero meraih tangan Adel, menggenggamnya dengan lembut. "Lo nggak sendirian, Del. Gue di sini buat lo. Kita bakal selesaikan semuanya, bareng-bareng."

Adel hanya menatap Vero dengan mata yang penuh kebingungan dan kesedihan. Meskipun ada Vero, tapi rasa kehilangan terhadap Dara masih terasa sangat dalam.

---

Suatu hari, setelah sekolah, Adel dan Dara bertemu di kafe yang sama. Mereka mencoba berbicara, tapi seperti biasa, percakapan itu menjadi canggung.

Adel berjalan ke arah Dara, dan bicara "Dar, kenapa sih lo jadi kayak gini? Kenapa lo lebih milih Farhan dan nggak ada waktu buat gue?"

Dara menjawab dan menatap Adel dengan tatapan tajam "Lo nggak ngerti, Del. Farhan itu beda. Dia ngerti gue. Lo cuma ngomongin dia tanpa ngerti apa yang gue rasain."

"Gue cuma khawatir, Dar. Gue nggak mau lo sakit hati lagi. Gue nggak pernah ngeliat lo seperti ini sebelumnya. Kenapa sekarang kayak gini?" jawab Adel dengan wajah sayu

Dara dengan tatapan tajamnya "Lo yang nggak ngerti, Del! Gue udah capek dengar lo ngomongin Farhan terus. Gue nggak mau lo ikut campur, dan gue nggak butuh lo sekarang."

Kata-kata Dara menusuk hati Adel. Rasa sakit yang sudah lama dipendam kini muncul begitu saja. "Lo nggak butuh gue, ya? Kalau gitu, kenapa lo nggak bilang dari awal?"

Dara terdiam, dan akhirnya menunduk. "Gue nggak mau kehilangan lo, Del, tapi lo kayak nggak percaya sama gue."

Adel menatap Dara, merasa kecewa. "Lo udah terlalu jauh sama Farhan, Dar. Lo nggak lihat kalau gue cuma mau yang terbaik buat lo?"

Di situ, keduanya merasa kehilangan. Hati mereka terasa semakin jauh. Dara memilih untuk pergi, meninggalkan Adel yang masih bingung dengan perasaannya.

---

Setelah pertemuan di kafe itu, Adel berusaha memahami alasan Dara yang sepertinya semakin jauh. Di satu sisi, Adel ingin tetap mendukung sahabatnya, tapi di sisi lain, dia merasa tidak dihargai oleh Dara.

Beberapa hari kemudian, Dara menelepon Adel.

Dara: "Del, gue cuma pengen lo ngerti kenapa gue kayak gini. Farhan... Dia bukan anak sekolah kita. Gue ngerasa lebih bebas aja sama dia."

Adel: "Tapi, lo sadar nggak sih, Dar? Lo jarang cerita, terus tiba-tiba malah marah kalau gue kasih masukan. Gue cuma nggak mau lo dibutakan sama perasaan lo, apalagi sama orang yang lo belum kenal banget."

Dara: "Farhan itu baik, Del. Gue tau lo khawatir, tapi gue juga butuh dukungan lo, bukan kritik terus."

Adel menarik napas dalam-dalam. "Gue cuma takut hubungan kita makin jauh, Dar. Lo lebih pilih dia daripada gue?"

Dara: "Gue nggak milih siapa-siapa, Del. Gue cuma mau lo ngerti posisi gue sekarang."

Percakapan itu menggantung. Mereka berdua saling berusaha memahami, namun jarak tetap terasa. Keduanya menyadari bahwa mungkin memang ada perbedaan besar yang sulit dijembatani, meski keduanya masih peduli satu sama lain.

---

Sejak percakapan itu, suasana antara Adel dan Dara di kelas terasa berbeda. Mereka satu kelas, tapi jarang saling bicara. Ketika Adel mencoba menyapa, Dara hanya memberikan senyum tipis tanpa kata-kata lebih. Teman-teman mereka di kelas mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Suatu hari saat jam istirahat,Dara memberanikan diri untuk duduk di samping Adel yang sedang sibuk dengan buku catatannya.

Dara: "Del, gue ngerti kalau lo lagi banyak pikiran, tapi gue beneran kangen sama kita yang dulu. Gua tau kalau gua salah soal omongan yang kemarin, maaf soal omngan kasar gua ke lu."

Adel mengangkat wajahnya perlahan, terlihat ragu. "Gue juga, Dar. Tapi gue butuh waktu buat ngerti perasaan gue."

Dara menghela napas pelan. "Maaf atas semua omngan kasar gua ke lu ya, Del. Gue nggak mau pertemanan kita rusak karen hal ini."

Adel tersenyum sedikit, lalu menatap Dara dalam-dalam. "Gue ngerti, Dar. Kita sahabatan, dan kadang gue juga ngerasa bersalah. Gue pengen kita baik-baik aja."

Percakapan itu membuat keduanya sedikit lega, tapi tetap ada perasaan canggung yang tertinggal. Meskipun mereka sama-sama ingin memperbaiki keadaan, jarak yang ada membuat mereka bingung, seakan masih ada hal-hal yang belum terselesaikan.

---

Setelah perbincangan yang tegang dengan Dara, Adel merasa hatinya kosong dan sedikit tertekan. Berbeda dengan perasaan Dara yang seolah sudah menemukan jalan keluarnya bersama Farhan, Adel masih bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Di tengah kebingungannya, Vero mengirim pesan.

Vero: "Hei, gimana? Lo ada waktu nggak? Gue pengen banget ngobrol sama lo."

Adel: "Ngobrol tentang apa, sih?"

Vero: "Tentang kita, Del. Tentang hubungan kita yang udah makin aneh aja."

Pesan itu membuat hati Adel sedikit tergerak. Hubungannya dengan Vero memang tak semulus dulu. Sejak beberapa waktu terakhir, perasaan mereka semakin jauh, penuh dengan perdebatan dan ketegangan. Adel merasa jika mereka tidak segera bicara, hubungan itu mungkin akan berakhir begitu saja.

Adel: "Oke, gue kesana sekarang."

Vero mengirimkan alamat apartemennya, dan Adel langsung memutuskan untuk pergi. Ketika dia tiba, pintu apartemen terbuka dan Vero sudah menunggu di depan pintu dengan ekspresi serius.

"Ayo masuk, Del. Gue nggak sabar buat ngobrol." Ucap Vero sambil memegang tangan Adel.

Adel masuk ke dalam apartemen yang terasa sepi. Mereka duduk di sofa yang biasanya menjadi tempat Vero video call bersama Adel. Vero duduk berhadapan dengan Adel, namun suasana canggung membuat keduanya terdiam beberapa saat.

"Ver, gue nggak tahu kenapa kita bisa jadi kayak gini. Gue merasa kita udah nggak ada lagi hubungan yang jelas." Jawab Adel dengan sedikit ekspresi wajah sedih.

Jawab Vero sambil memegang tangan Adel, dan menatapnya "Gue tahu, Del. Gue juga ngerasain hal yang sama. Tapi lo nggak bisa gitu terus, lo tahu kan kalau gue nggak akan pernah ninggalin lo? Gue nggak mau hubungan kita cuma jadi semacam rutinitas yang nggak ada ujungnya."

Adel menatap Vero dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tapi kenapa lo selalu bikin gue ngerasa kalau gue nggak cukup buat lo? Kenapa ada aja hal-hal yang bikin gue ragu?"

"Gue nggak pernah mau bikin lo ngerasa kayak gitu, Del. Tapi kadang gue ngerasa kalau lo juga nggak percaya sama gue. Gue nggak bisa selalu tahu apa yang lo butuhkan."

"Lo tahu apa yang gue butuhin? Gue butuh lo yang bisa buat gue merasa tenang. Tapi kenapa malah kebalik? Gue malah makin cemas setiap kali ada masalah." Jawab Adel, dan melepaskan genggaman Vero

Vero menunduk, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Gue tahu gue sering salah, Del. Tapi gue juga butuh lo di sisi gue. Gue nggak ingin hubungan ini hancur cuma karena ego kita masing-masing."

Adel merasakan ada sedikit penyesalan dalam suara Vero. Namun, rasa sakit hati dan kekecewaan yang sudah tertanam selama ini tidak mudah hilang begitu saja.

Jawab Adel dengan raut muka serius "Gue nggak tahu, Ver. Gue capek sama semua masalah ini. Kadang gue mikir, kita mungkin perlu waktu buat diri kita sendiri."

Wajah Vero mendadak serius dan penuh pertanyaan di matanya "Lo nggak serius kan, Del? Kita udah jalan bareng cukup lama, dan lo mau kita berhenti begitu aja? Gue masih pengen lo di sini, sama gue."

Adel menghela napas panjang, memikirkan masa depan mereka. "Mungkin kita butuh jarak, biar kita bisa pikirin semuanya dengan kepala dingin. Gue nggak mau kita terus-terusan kayak gini."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED