Bab 1

Syaqila berjalan tergesa ke dalam rumahnya. Saat siang tadi, sewaktu ia tengah sibuk berbincang dengan teman-temannya, orang tuanya tiba-tiba menelepon dan menyuruhnya untuk segera pulang tanpa mau menjelaskan apa alasannya. Syaqila kesal setengah mati, tapi ia tak bisa meluapkan amarahnya. Bisa-bisa orang tuanya kembali menyemburnya dengan kemarahan yang lebih. Untuk sekarang Syaqilla mencoba bersabar. Semoga setelah sampai di rumah ia akan mendapat sesuatu yang bisa sedikit menyenangkan hatinya.

Namun saat kakinya melewati pintu, Syaqila mendadak berhenti. Dahinya mengernyit heran melihat suasana rumah yang ramai. Seluruh anggota keluarga turut hadir di sana. Syaqila jadi bertanya-tanya, ada acara apa hingga semua orang berkumpul di sini?

"Syaqila!"

Syaqila menoleh ketika mendengar suara ibunya memanggil. Dilihatnya wanita itu berjalan mendekat dengan tergesa. Lalu tangannya menarik Syaqila supaya mengikutinya hingga ke dapur.

"Kamu teruskan ini. Mama akan memotong sayuran. Sudah mama kasih bumbu. Hanya tinggal menunggu matang."

Syaqila hanya bergeming dengan bingung. Dia baru sampai dan sudah dihadapkan dengan wajan berisi masakan yang hampir matang. Syaqila masih belum mengerti untuk apa ia disuruh melakukan ini?

"Ma, sebenarnya ada apa?" Syaqila tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama. Terlebih, dengan keadaan di sekitarnya saat ini. Syaqila merasa dia adalah satu-satunya orang bodoh di sini karena tidak mengetahui apapun.

"Kamu tidak tahu?" Bukannya menjawabnya, Utari justru bertanya dengan ekspresi polos. "Apa mama yang lupa memberitahumu, ya?"

Syaqila berdecak. "Mama tidak mengatakan apapun. Mama hanya menyuruh aku pulang, tapi tidak mengatakan alasannya," jelas Syaqila.

"Oh, berarti mama lupa memberitahumu," sahut Utari menganggukan kepalanya. Dia menatap putrinya itu dan menjelaskan. "Kamu ingat adikmu?"

"Adik?" Syaqila tampak bingung. "Sejak kapan aku punya adik?"

Utari yang kesal memukul kepala putrinya itu dengan spatula hingga Syaqila meringis memegangi kepalanya.

"Bisa-bisanya kamu lupa dengan adik kamu sendiri," gerutu Utari. Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

"Seingatku, aku memang tidak punya adik," gumam Syaqila. Dia masih ingat saat ia meminta adik pada ibunya, ibunya itu menolak dan malah meminta Syaqila untuk menganggap sepupu-sepupu kecilnya sebagai adik. Tapi, tentu saja itu akan berbeda. Adik-adik sepupunya itu tidak akan bisa bebas bermain dengannya. Mereka juga tidak bisa bebas menginap di sini karena mereka pasti akan lebih memilih ikut pulang jika orang tua mereka pergi.

"Adik yang mana sih? Bukannya aku anak tunggal?" ucap Syaqila tetap menyanggah ucapan ibunya.

"Raffael Abercio," balas Utari sedikit gemas. Bagaimana bisa putrinya itu melupakan adiknya sendiri? Meski sudah lama mereka tidak bertemu, seharusnya Syaqila tahu dia bukan satu-satunya putri Dermawangsa.

"Raffael?" Syaqila bertanya skeptis. "Maksud mama bocah cebol yang dulu sering ku ganggu?"

"Ya, itu!" Utari menjentikkan jarinya, tampak puas. "Kamu ingat ternyata."

Syaqila termenung. Bagaimana ia bisa lupa tentang Raffael? Bocah gendut yang dulu dibawa oleh ayah tirinya, dikenalkan padanya sebagai adik yang tidak diterima dengan baik oleh Syaqila. Bagaimana bisa ia menerima bocah gendut, cengeng, ingusan, dan jelek itu sebagai adiknya?

Syaqila memang menginginkan adik. Tapi adiknya tentu harus lucu dan menggemaskan. Bukan gendut dan mengerikan. Syaqila bahkan tidak mau berdekatan dengan Raffael saat itu.

Kehadiran Raffael tidak disukai Syaqila. Karena itu ia berusaha mengganggunya setiap ada kesempatan. Berharap dengan itu Raffael jengah dan memilih meninggalkan rumah.

Tak terhitung berapa kali Raffael menangis dan terluka karena ulah Syaqila. Namun dengan segala dalihnya, Syaqila selalu lolos dari tuduhan. Hal itu mungkin membuat Raffael lelah hingga suatu hari Syaqila mengetahui jika Raffael memutuskan untuk pindah ke tempat kakek dan neneknya di Inggris.

Sudah enam tahun sejak itu, Syaqila tidak pernah lagi mendengar apapun tentang Raffael. Syaqila kira, bocah itu tidak akan lagi mau menginjakkan kaki ke sini.

Syaqila meringis mengingat kelakuannya dulu. Jika dipikir lagi, bukankah dia keterlaluan sudah memperlakukan adiknya sendiri seperti itu? Betapa buruknya dia sebagai kakak. Syaqila bahkan bersuka ria saat berhasil membuat Raffael pergi dari rumah kala itu. Haruskah Syaqila meminta maaf pada Raffael saat mereka bertemu?

"Kamu jangan jahil lagi, ya!" Seolah hafal bagaimana sifat putrinya, Utari menasehatinya sebelum Syaqila benar-benar bertemu dengan adiknya. Dulu Utari mungkin diam saja karena dia berusaha memaklumi sikap Syaqila yang masih anak-anak. Namun sekarang, usia Syaqila sudah menginjak 19 Tahun. Tidak bisa disebut remaja apalagi anak-anak. Dia sudah harus bisa berpikir dewasa.

"Kamu itu bukan anak kecil lagi, Syaqil. Tidak pantas jika kamu masih saja usil seperti itu. Seharusnya kamu bersikap sebagai kakak yang baik."

"Aku tahu," jawab Syaqila. Dia sadar dirinya memang salah. Tapi saat ibunya mengomelinya seperti ini, entah kenapa Syaqila justru merasa tidak terima.

"Untuk langkah pertama, tolong kamu panggilkan Raffael. Suruh turun karena makan malam sudah siap," titah Utari. Wanita itu tampak tidak ingin mendengar bantahan apapun. Ini juga ia lakukan demi bisa mendamaikan kedua anaknya yang tidak memiliki kenangan bagus di masa kecil mereka.

"Kenapa harus aku?" protes Syaqila. Dia mungkin tidak keberatan menemui Raffael dan meminta maaf padanya. Tapi jika detik ini juga, tentu saja Syaqila tidak siap. Bagaimana jika Raffael langsung memukulnya saat pertama melihat wajahnya? Syaqila tahu, bocah itu sudah bukan anak kecil yang hanya bisa menangis ketika Syaqila berulah. Sekarang dia bisa saja membalas Syaqila dengan memukul atau menamparnya. Lebih buruk, dia mungkin bisa membalikkan keadaan. Tidak ada yang bisa mengira, semua orang bisa berubah dengan cepat, bukan?

Baru memikirkan semua kemungkinan itu saja sudah membuat dada Syaqila terasa sesak.

"Ya ampun, Ma. Aku sesak napas." Syaqila memegangi lengan ibunya dengan wajah pucat. "Sepertinya aku tidak bisa menemui Raffael."

"Tidak perlu berdrama, kamu!" Utari menampar kecil wajah putrinya dengan ekspresi datar. "Sejak kapan kamu punya asma? Dari kecil kamu bahkan jarang sakit."

Syaqila mencebikkan bibirnya. Gagal sudah rencananya untuk membujuk ibunya. Ternyata ibunya sudah bisa menebak meski acting Syaqila sudah sangat bagus.

"Sudah sana panggil Raffael!" Utari mendorong tubuh Syaqila supaya cepat pergi melaksanakan apa yang ia perintahkan. Wanita itu mengacungkan spatula tepat di depan wajah putrinya dengan ekspresi mengancam. "Awas saja jika kamu sampai kabur tanpa menuruti perintah mama."

Syaqila menelan ludahnya dengan sulit. Dia menghembuskan napas kasar. Lalu berjalan pergi dengan langkah yang terasa sangat berat.

Jarak dari dapur ke kamar Raffael di lantai dua tidak terlalu jauh, tapi karena keengganan Syaqila pergi ke sana, kedua kakinya terasa begitu berat ketika digerakkan. Ugh! Dia merasa seperti nenek-nenek yang sulit berjalan.

Setibanya di kamar yang dituju, Syaqila menarik napas sesaat. Tangannya terangkat, mengetuk pintu dengan ringan.

"Raffa! Mama menyuruhmu untuk turun!" seru Syaqila. Dia mencoba bersikap biasa, padahal dalam hati ketar-ketir, takut saat Raffael melihat wajahnya dia akan segera mengamuk.

"Raff-"

Saat hendak mencoba memanggil sekali lagi, pintu di depannya tiba-tiba terbuka. Syaqila menahan napas. Bukan karena takut atau terkejut, dia terperangah melihat sosok di depannya.

Bukan bocah cebol, jelek, ingusan yang dia lihat enam tahun lalu. Di depannya saat ini berdiri seorang pria tampan —ralat! Sangat tampan! Tubuhnya basah seperti habis mandi, begitu pun dengan rambutnya. Aroma yang menguar dari tubuhnya begitu menggoda. Tetesan air dari helaian rambutnya itu menetes di dada dan mengalir ke tubuhnya melewati otot perut yang menggoda untuk diraba.

Sial! Bagaimana pria sexy itu bisa berada di rumahnya?

Bab 2

Raffael terganggu dengan suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan cepat ia mengenakan celana setelah melepas handuk yang semula melilit di pinggangnya. Dia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan mulut menganga.

Raffael mengernyit. Ia seperti tak asing dengan wajah perempuan itu? Tapi, yang cukup membuatnya terganggu adalah ekspresi perempuan itu yang kelewat kampungan.

Raffael menjentikkan jari di depan wajahnya hingga perempuan itu mengerjap dan segera tersadar.

"Mulut," tegur Raffael mengingatkan.

Tangan perempuan itu menyentuh bibirnya yang terbuka. Tampak jelas ekspresi malu di wajah perempuan ketika menyadari sedari tadi dia memasang ekspresi memalukan. Dan parahnya, dia juga meneteskan air liur di mulutnya itu.

Raffael bergidik.

"Maaf," ucap perempuan itu. Dia berdehem sesaat, sebelum akhirnya kembali berani menatapnya dengan sikap biasa. "Itu ... mama menyuruhmu turun. Makan malam sudah siap."

"Mama?" Raffael menaikkan satu alisnya. Dia merasa sedikit heran.

"Iya. Mama." Perempuan itu tampak bingung. "Mama Utari. Kau tidak mungkin lupa padanya, kan?"

Raffael tidak mengerti untuk beberapa saat. Dia pasti mengetahui wanita yang menjadi ibunya itu. Tapi yang mengherankan di sini adalah perempuan di depannya yang memanggil dengan panggilan yang sama.

Raffael tidak bisa menahan pertanyaan yang bersarang di benaknya sejak tadi.

"Kau siapa?" tanya Raffael menyipit curiga.

****

Bolehkah Syaqila mengamuk sekarang? Sial! Apa maksud pertanyaan Raffael padanya? Apakah enam tahun tidak bertemu membuat pria itu lupa jika ia memiliki seorang kakak?

Baiklah. Syaqila akui, ia juga sempat lupa. Tapi, dia segera mengingatnya setelah ibunya dengan senang hati menjabarkan setiap keburukan yang pernah ia lakukan dulu. Syaqila tidak mungkin melupakannya.

"Kamu lupa?" tanya Syaqila memastikan sekali lagi.

"Pergi!" Bukannya menjawab, Raffael justru mengusir Syaqila dengan pandangan dingin. Dia tampak tak peduli siapa Syaqila. Karena kenyataannya memang tidak penting baginya.

"Tunggu dulu!" Syaqila segera menahan saat Raffael hendak menutup pintu kamarnya. Pria itu tampak menatapnya tajam. Tapi, bukan Syaqila namanya jika dia takut hanya dengan tatapan seperti itu. "Kita kenalan saja jika kamu memang lupa padaku."

"Tidak butuh!" balas Raffael menohok. Dia mendorong Syaqila dan menutup pintu dengan keras.

Syaqila terdiam dengan wajah mengeras. Berani sekali adiknya itu memperlakukannya seperti ini. Niat untuk meminta maaf pada pria itu seketika sirna. Syaqila lebih berhasrat untuk membalas sikap Raffael yang kurang ajar padanya.

"Dasar gendut! Cebol! Jelek!" sungut Syaqila. Dia berjalan pergi dari sana dengan menggerutu kecil.

Sementara Raffael di dalam kamarnya bergeming. Pria itu tercenung mendengar lontaran kata Syaqila yang memang ditunjukkan untuk mengejeknya habis-habisan. Raffael seolah baru menyadari sesuatu sejak tadi. Pria itu menoleh ke pintu, satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai.

"Syaqila." Dia akhirnya bertemu dengan perempuan yang ia sebut sebagai medusa di masa lalu. Raffael tidak akan pernah melupakan masa kecilnya yang kelam akibat perlakuan Syaqila yang sering menindasnya tanpa alasan. Tidak sekali dua kali Raffael terkena masalah akibat Syaqila. Bahkan Raffael kerap kali dihukum atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Semua karena perempuan itu. Perempuan siluman itu.

"Sepertinya akan semakin menarik setelah ini."

****

Raffael turun dari kamarnya. Dilihatnya, semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan, begitu pula Syaqila yang kini duduk dengan wajah merenggut.

Raffael duduk di samping perempuan itu. Bukan keinginannya, tapi karena status mereka sebagai kakak adik, mereka harus berada di tempat yang berdekatan. Mereka duduk tepat di sisi kanan ayahnya yang duduk di kursi utama. Sementara ibunya duduk di seberang, tepat di samping suaminya.

Lalu disusul keluarganya yang lain, yang merupakan bibi, paman, serta keponakan mereka. Suasana rumah begitu berisik dan ramai. Raffael berusaha untuk tidak terganggu meski sebenarnya ia kurang menyukai suasana saat ini.

Saat tengah asik menikmati makan, seseorang di sisinya tiba-tiba tersedak. Sontak, Raffael mendelik tak suka pada Syaqila yang kini meraih gelas dengan ekspresi menyedihkan. Raffael memberi jarak supaya air liur perempuan itu tidak mengenainya. Tapi seperti tidak puas, ia justru mencengkram lengan kemeja Raffael. Raffael terbelalak, pakaian yang ia kenakan jadi kusut dan kotor. Rasanya dia sangat ingin menepis kasar tangan perempuan itu. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan hal itu di sini, tepat di depan orang tuanya.

"Antar aku ke kamar," pinta Syaqila, menatap Raffael dengan pandangan memohon.

Sedikit pun Raffael tak tersentuh. Ia justru berusaha menahan diri untuk tidak menampar wajah perempuan itu supaya menjauh darinya.

"Raffa, sebaiknya antar Syaqila. Sepertinya dia kurang sehat," ucap Fabian, sang kepala keluarga di rumah ini.

Raffael ingin menolak, tapi itu tentu saja tidak mungkin. Dia tidak bisa membantah ucapan ayahnya.

Setelah menghembuskan napas kasar dari mulutnya, Raffael membantu Syaqila untuk pergi meninggalkan ruang makan. Suasana di sana tidak berubah meski mereka berdua pergi dari sana. Keluarga besarnya memang senang mengadakan pesta seperti ini. Tak ada satu atau dua orang di sana tak akan membuat suasana jadi berbeda. Mereka masih bisa bersenang-senang dan menikmati acara dengan orang-orang yang ada.

Setelah sampai, Raffael segera melepaskan Syaqila. Dia memberi jarak yang lumayan karena sejak tadi dia memang tidak nyaman merapatkan tubuh dengan perempuan itu.

"Kenapa?" Syaqila mengerjap bingung. Tingkah Raffael terasa berbeda, dan tampak tidak nyaman ketika bersamanya. Lebih dari itu, sebenarnya ekspresi yang ditunjukkan pria itu cukup membuat Syaqila tersinggung. Tapi ia masih berusaha menepis perasaan tidak enaknya itu.

"Sudah sampai. Sekarang aku akan pergi." Raffael berbalik, hendak pergi. Tapi lengannya ditahan sehingga terpaksa ia kembali berhenti. Dia segera melepaskan tangan Syaqila yang menyentuhnya.

Sikap Raffael itu membuat wajah Syaqila semakin kusut. "Apa maksud sikapmu itu?"

Dia tidak bisa membiarkan hal ini lebih lama. Berkat Raffael, harga diri Syaqila tersentil. Setidaknya pria itu harus mendapat hukuman karena berani memperlakukannya seperti ini.

"Menurutmu?"

"Apa kau jijik padaku?" tanya Syaqila curiga. Dari setiap sikap Raffael, hal itu sebenarnya sudah terlihat jelas. Akan tetapi Syaqila masih berusaha menepisnya. Tidak mungkin pria yang merupakan adik tirinya itu jijik padanya, kan? Dia mungkin hanya bersandiwara karena masih dendam atas kejadian di masa lalu.

"Sejujurnya, ya."

Jawaban Raffael tidak terduga, Syaqila yang tidak siap akan mendapat jawaban itu seketika membeku tak percaya.

Pria itu melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan Syaqila kembali memasang wajah bodoh itu lagi. Setelah enam tahun, perempuan itu bukannya menjadi lebih baik justru malah menjadi lebih buruk. Dia tidak terlalu cantik dan sikapnya tidak anggun sama sekali. Jangankan untuk mengagumi, memandangnya saja membuat Raffael malas.

"Aku tidak menyukaimu. Keberadaanmu di sekitarku itu sangat mengganggu. Jadi, kuharap ke depannya kamu tidak lagi bersikap seperti tadi. Demi Tuhan! Kamu itu menjijikan."

Syaqila membatu. Raffael sudah pergi setelah mengatakan kata-kata yang menusuk itu. Bahkan pandangan tajamnya masih bisa Syaqila ingat dengan sangat jelas. Sorot penuh kebencian itu begitu kental.

"Sialan!" Tangan Syaqila mengepal. Dia merasa terhina. Air matanya berjatuhan. Tapi ekspresi wajahnya hanya menunjukkan kemarahan. Dia ingin membalas, ingin melakukan pembelaan. Tapi hingga pria itu pergi, mulut Syaqila senantiasa terkatup rapat. Sisi hatinya merasa tak layak untuk bicara karena ia sadar kesalahannya pada Raffael di masa lalu juga tak bisa dimaafkan.

Bab 3

Syaqila tidak berselera, hingga makanan di depannya ini hanya ia mainkan saja tanpa ia santap dengan benar. Untuk membawanya masuk ke dalam mulut pun tangannya begitu enggan. Mereka terlihat tidak enak, terlebih setelah tangan Syaqila sejak tadi hanya mengaduk-aduknya. Mungkin makanan di piringnya saat ini akan berakhir di tempat sampah setelah ia puas mengacak-acaknya.

"Syaqil!"

Syaqila menoleh. Dia melihat ekspresi khawatir yang ditunjukkan Diandra.

"Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti memiliki masalah. Apakah ada sesuatu?" Diandra sudah berteman dengan Syaqila sejak SMA, ia tentu saja menyadari ada yang tak biasa dari sikap Syaqila sejak tadi. Diandra tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.

Syaqila menghembuskan napas kasar dari mulutnya, sebelum akhirnya menjawab, "Tidak ada. Aku baik-baik saja."

"Kau terlihat jelas sedang berbohong saat ini." Kedua mata Diandra memincing curiga pada Syaqila. "Jangan menutupi apapun, Sya. Apa aku tidak kau anggap sebagai sahabatmu? Kenapa kamu tidak mau berbagi masalahmu denganku?"

"Aku hanya bingung." Syaqila masih berusaha meredakan perang batin dalam dirinya. Sejak pertemuannya dengan Raffael, perasaan Syaqila berkecambuk. Antara menyesal dan dendam. Syaqila ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka, tapi sikap Raffael dengan sangat jelas menunjukkan jika pria itu membencinya. Kata-kata Raffael pun begitu menusuk hingga Syaqila sulit mengenyahkan perasaan sakit di hatinya hingga sekarang. Tapi, ia merasa tak berdaya. Merasa tak pantas untuk marah. Emosi yang dirasakannya saat ini sejujurnya membuat Syaqila terganggu.

"Hei!" Diandra menyenggol lengan Syaqila kala sahabatnya itu tengah sibuk melamun. "Coba lihat ke sana!"

Syaqila menoleh ke arah yang ditunjuk Diandra. Namun tubuhnya seketika menegang saat melihat Raffael di sana.

Ah! Syaqila hampir saja lupa jika pria itu kini kuliah di kampus yang sama dengannya.

"Dia mahasiswa baru. Orang-orang banyak membicarakannya. Dia sangat tampan. Aku saja tertarik padanya," ucap Diandra menatap lurus ke arah Raffael dengan tatapan memuja. Dia tak menampik jika pria itu bahkan bisa mengalahkan semua pria yang awalnya dianggap paling unggul di kampus. Seketika mereka terhempaskan oleh kehadiran Raffael.

"Di." Syaqila memanggil dengan lemah. Baru saat itu Diandra menyadari jika sahabatnya terlihat tidak bersemangat kala ia membicarakan salah satu pria tampan di kampus mereka, tak seperti biasanya. "Dia ... adik tiriku."

"Apa?!" Pengakuan Syaqila itu sama sekali tak ia duga sebelumnya. Diandra tidak bisa untuk tidak terkejut. "Maksudmu, adik laki-laki yang dulu sering kamu ganggu itu?"

Diandra sudah mendengar cerita itu sebelumnya dari Syaqila. Dan Diandra pun tahu jelas sekarang Syaqila sekarang sudah berubah. Sikapnya dulu tak lebih dari sikap anak-anak yang memang senang mengusili seseorang yang tidak disukainya. Kini saat Syaqila sudah dewasa, tentu saja dia menyadari semua perbuatan salahnya pada Raffael.

"Bagaimana bisa? Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Diandra.

"Dia masih adikku. Orang tuaku orang tuanya juga. Jadi wajar saja ketika dia pulang ke sini," jelas Syaqila ketus. Kenapa Diandra malah bertanya hal yang sudah jelas jawabannya?

"Tapi ... bukankah kamu bilang dia jelek, gendut, dan menjijikan?" tanya Diandra. Kini dia benar-benar ragu dengan ucapan Syaqila. Karena, lihatlah! Sosok pria yang Syaqila katakan sebagai adik tirinya itu bahkan tidak seperti ucapannya beberapa tahun lalu. Dia terlihat sangat tampan, sangat sexy. Bagaimana Syaqila bisa mengatakan jika dia jelek? Apa mata sahabatnya itu bermasalah?

"Itu dulu. Sekarang dia sudah berbeda," jawab Syaqila seadanya. Dia sendiri tidak menyangka jila Raffael akan sangat berubah seperti ini. Jejak sosoknya dulu seakan benar-benar menghilang.

"Aku masih tidak percaya." Diandra menopang dagu, menatap ke arah Raffael yang kini tengah bersama teman-temannya. Satu orang yang nampak mencolok di antara mereka adalah satu gadis yang duduk di sebelah Raffael. Gadis dengan senyum manis di wajahnya itu tampak menempel pada Raffael. Kedekatan mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

"Jeslyn. Apa dia kekasihnya?" tanya Diandra menatap Syaqila.

"Mana aku tahu?" Kenapa Diandra malah bertanya padanya? Meski statusnya dan Raffael adalah saudara mereka bak orang asing. Bahkan lebih mirip musuh yang menyimpan dendam. Syaqila tak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Raffael setelah kesalahan yang ia lakukan dulu.

"Cobalah untuk dekat dengannya dulu. Kau tahu? Sikapmu saat ini terlihat sangat menyedihkan," ucap Diandra menyarankan dengan sedikit menambahkan ejekan. Dia tidak berbohong, sahabatnya yang biasa selalu menunjukkan kepercayaan diri kini justru tenggelam dalam rasa bersalah yang membuat dirinya merasa tak layak di mata orang lain. Sosok Raffael ternyata memiliki pengaruh besar pada hidup Syaqila.

"Terakhir kali dia memperingatiku supaya menjauh darinya," ungkap Syaqila. Meski menyakitkan, ia tetap menceritakan pada Diandra supaya temannya itu mengerti dan tidak terus menekannya untuk mendekati Raffael. "Dia bilang, keberadaanku itu sangat mengganggunya."

"Kurasa dia benar-benar membencimu." Diandra meringis, merasa tak enak saat mengatakan itu pada Syaqila. Tapi apa yang ia pikirkan sepertinya benar. Peluang Syaqila dalam mendapatkan maaf dari Raffael sangat kecil. Terlebih, Raffael sepertinya menaruh dendam padanya atas sikapnya di masa lalu. "Itu semua karena kebodohanmu juga. Bagaimana bisa kamu membuat adikmu sendiri kesusahan dulu?"

"Apa yang bisa kulakukan dengan jiwa anak kecil?" Syaqila mengacak rambutnya frustasi. Saat itu, ia masih kecil dan tidak mengerti banyak hal. Tidak seperti sekarang dimana ia akan memikirkan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. "Saat itu aku terlalu muda hingga tak bisa membedakan mana tindakan yang benar dan salah. Aku hanya melakukan apa yang aku mau."

"Dan karena kamu tidak menyukai Raffael, kamu sekuat tenaga berusaha menyingkirkannya." Diandra menggelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil. "Jika aku jadi Raffael, sepertinya aku juga akan membencimu."

"Aku tahu." Syaqila merasa tidak bertenaga. Setelah kedatangan Raffael, seolah ada beban berat di pundaknya. Ia bahkan tak lagi memiliki wajah untuk berhadapan dengan adik tirinya itu. "Kesalahan yang aku lakukan terlalu fatal. Mustahil itu tak meninggalkan bekas di hatinya. Dia mungkin menyumpah sepahi aku setiap saat."

"Itu benar." Diandra tidak menyangkal. "Dia mungkin juga ingin melemparimu dengan kotoran."

"Sialan!" Syaqila berdesis kecil. Ucapan Diandra terlalu kurang ajar, meski Syaqila sendiri sedikit khawatir jika seandainya apa yang dibicarakan temannya itu benar. "Aku tidak akan diam saja seandainya dia bersikap keterlaluan padaku."

Meski dalam posisi salah sekali pun, Syaqila bukan orang bodoh yang akan diam saja saat diperlakukan semena-mena. Dia bisa marah dan mengamuk. Ia juga memiliki batas kesabaran. Kesalahan yang ia lakukan tidak berarti bahwa ia bisa diperlakukan sesuka hati.

"Syaqila."

Syaqila dan Diandra menoleh bersamaan. Mereka terkejut melihat seseorang yang bersuara itu. Sosoknya berdiri di depan mereka, setelah sebelumnya mengeluarkan suara yang terdengar berat dan menggoda. Diandra bahkan meneguk ludahnya dengan susah payah. Siapa yang akan menolak sosok pria di depannya ini? Ia terlalu sayang untuk dilewatkan.

"Ya?" Dengan senyum manis, Diandra berdiri menghadap pria itu.

Tapi pria itu justru menatapnya dengan ekspresi heran. "Aku tidak memanggilmu."

Memang di antara dua perempuan itu, siapa yang disebutkan namanya oleh dirinya? Sepertinya perempuan yang menyahut tadi itu tidak menangkap dengan benar nama yang ia panggil.

Seketika, Diandra menahan rasa malu. Dia berdehem canggung, berusaha bersikap biasa.

"Syaqila temanku. Jadi wajar saja jika aku ikut menyahut."

"Tapi aku tidak memiliki urusan denganmu." Pria itu beralih menatap Syaqila yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka. "Mama menyuruhku untuk membawamu ke butik tante Merta. Siang ini pukul 2, aku akan menunggumu di parkiran."

Pria itu pergi tanpa menunggu jawaban Syaqila.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED