Walau dengan tubuh penuh luka bercucuran darah, Miranda tak pernah berhenti melepaskan tangannya, memeluk seorang anak berusia dua belas tahun yang tergeletak pingsan di pangkuannya, Robert Hans.
Puluhan pasukan cyborg bersenjata lengkap mulai mengepung dan menodongkan senjata rifle ke arah mereka berdua.
“Miranda! Mengapa kau malah melindungi anak itu? Anak itu telah membunuh suamimu!” teriak salah satu cyborg.
“Apa kalian tidak sadar? Kalian mau membunuh seorang anak kecil? Kalian orang WG sungguh biadab sekali!” sanggah Miranda, perempuan berambut perak, berjas lab dan mengenakan kacamata.
Seorang perempuan berseragam militer tiba-tiba berjalan masuk ke tengah kerumunan pasukan cyborg.
“Kami tidak akan membunuh anak itu, Miranda. Serahkan saja Robert Hans kembali pada WG, anak itu akan menjadi aset yang berharga bagi kami!” sahut perempuan tersebut.
Miranda merogoh saku jas labnya, lalu diambillah sebuah remote kontrol, dan diarahkannya kepada perempuan tersebut.
“Jika kalian nekat ingin mengambil anak ini dariku, seluruh bidikan laser yang terpasang di setiap dinding di ruangan ini akan aktif dan menyerang kalian! Aku juga tak akan ragu menekan tombol penghancur ruangan ini!” ancam Miranda serius, “Memang anak ini telah menghilangkan nyawa suamiku, tapi itu dilakukannya tanpa dia sengaja! Dan, aku tak akan membiarkan WG memanfaatkan anak ini hanya untuk melanjutkan mesin waktu ciptaannya!”
Dhuar!
Sebuah tembakan dilancarkan oleh perempuan tersebut, tepat mengenai punggung Miranda.
“Aku peringatkan kau! Walau kau ilmuan WG, jika kau berani melawan perintah atasanmu, maka tak akan ada tempat bagimu lagi di dunia ini!” ancam perempuan tersebut dengan angkuhnya.
Huek!
Miranda muntah darah, tubuhnya kesakitan menahan luka serius di punggungnya.
“Cepat serahkan anak itu Miranda!!” bentak perempuan berseragam militer tersebut sembari menodongkan pistol ke arah Miranda.
“WG sungguh serakah … tak hanya telah merampas putri kesayanganku, kalian bahkan memaksa seorang anak kecil hanya untuk memenuhi ambisi kalian yang tidak berguna!” ucap Miranda dengan terbata-bata, “WG benar-benar licik!”
“Diam kau!!” bentak Emma, perempuan berseragam militer tersebut dengan penuh amarah.
Dhuar!
Tembakan kedua dilancarkannya tepat mengenai kaki Miranda.
“Miranda Ozora!! Kali ini aku tak akan segan lagi untuk membunuhmu!!” teriak Emma lantang.
Zab!
Tiba-tiba satu unit cyborg tumbang terkena serangan laser dari dinding menembus dadanya.
Zab!
Zab!
Zab!
Serangan laser susulan secara beruntun, dengan sekejap serangannya telah menumbangkan seluruh pasukan cyborg yang mengepungnya.
Tatapan mata Emma tampak serius. Dia tampak sangat ketakutan bercampur panik saat seluruh pasukan cyborg-nya tergeletak berjatuhan.
“Kurang ajar kau, Miranda!!!” teriak Emma lantang.
Dhuar!
Tembakan ketiga mengarah tepat mengenai dada Miranda.
Huek!
Miranda kembali muntah darah sembari menahan rasa sakit yang luar biasa.
Emma lalu mengarahkan pistolnya tepat di pelipis kepala Miranda.
Tanpa sedikit pun rasa takut, Miranda justru tersenyum sembari memandang wajah Robert Hans.
“Robert Hans, aku harap kau akan menjadi ilmuan yang berguna di masa depan. Aku harap kau juga bisa berteman baik dengan putriku, Zora … uhuk! Uhukk!” pesan Miranda kepada Robert Hans, “Kau masih muda, dan jalanmu masih panjang, kejarlah impianmu, kembangkan keahlianmu, dan jangan pernah kau kembali ke WG untuk melanjutkan mesin waktu yang berbahaya itu.”
Klik!
Miranda lalu menekan tombol merah pada remote-nya, alarm peringatan berbunyi.
Seluruh ruangan berguncang dahsyat.
“Keluarlah Mike!! Bawa Robert Hans keluar dari sini!!” teriak Miranda lantang.
“Tak akan kubiarkan!!” sahut Emma.
Sebuah robot tikus raksasa tiba-tiba keluar dari dalam tanah, ia menerobos dengan melubangi lantai menggunakan mulut bornya.
Dengan sigap Miranda meletakkan tubuh Hans, lalu menerkam tubuh Emma dan menjatuhkannya ke lantai.
“Lepaskan aku Miranda!!” teriak Emma.
“Tidak! Kau akan mati di sini bersamaku!”
Dhuuar!
Emma menembak perut Miranda, sementara robot tikus tersebut berhasil membawa Robert Hans kabur dengan menaikkannya ke atas punggung robot.
Seluruh dinding dan atap bangunan mulai runtuh menimpa seisi ruangan.
“Lepaskan aku!! Tak akan kubiarkan kau lolos, Robert Hans!!” teriak Emma.
Miranda dengan sigap mengunci tangan Emma, mencegah Emma menembak robot yang membawa Robert Hans.
“Pergilah, Hans! Jangan pernah kembali ke WG! Aku sangat-sangat menyayangimu!” teriak Miranda lirih, air matanya mengalir membasahi pipi putihnya.
Bangunan tersebut telah hancur, rata dengan tanah dan mengubur mereka berdua.
**
Seorang perempuan misterius dengan wajah tertutup tudung jubah hitam mendekat ke arah Hans yang duduk tersandar di bawah pepohonan di tengah hutan. Tampak di dekat Hans sebuah bangkai dari robot tikus yang telah menyelamatkannya.
Perempuan misterius tersebut akhirnya menjadi ibu angkat Hans. Dialah yang telah merawat Robert Hans seorang diri di sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Dia pula yang telah mengajarinya cara berburu, meracik tanaman obat, dan melatih kemampuan bela diri.
Di tengah kesibukan Hans meracik obat, ibu angkatnya tiba-tiba datang menghampirinya.
“Nak, Ibu pikir sebaiknya kau pergi ke kota untuk belajar dan mengasah keahlianmu di sana. Ibu harus kembali melanjutkan perjalanan panjang Ibu untuk mencari seseorang.”
“Mencari siapa, Bu? Biar aku temani!” usul Hans.
“Tidak boleh!” bentak ibu angkat Hans, “Nak, Ibu akan berkata terus terang padamu. Saat Ibu pertama kali menemukanmu, kau tergeletak pingsan di tengah hutan, terdapat selebaran kertas berisi pesan yang terselip di saku jasmu.”
“Pesan? Pesan apa, Bu?” tanya Hans penasaran.
“Pesan dari Miranda, agar menyuruhmu pergi ke Kota Lorensia dan mengelola lembaga penelitian Miranda di sana, Mira-Tech.”
“Miranda … sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” ucap Hans sembari mengingat-ingat, “Mengapa Ibu tidak memberitahuku pesan ini dari dulu?”
“Tentunya, Ibu harus merawatmu dan membekalimu banyak hal!” jawab sang ibu, “Mungkin saat ini kau masih kehilangan ingatanmu, tapi suatu saat kau akan kembali mengingatnya.”
Hans termenung, wajahnya tampak sedih karena dia belum siap jika harus berpisah dengan ibu angkatnya.
Sang ibu lalu mendekat dan memeluk Hans. Selang beberapa saat, ibu angkatnya membalikkan badan dan mengucap salam perpisahan.
“Di pesan itu juga tertulis, kau harus menjauhi orang WG-Tech. Nak, ini adalah percakapan terakhir kita. Sekarang pergilah, Nak! Jika suatu saat kau bertemu kembali dengan Ibu, aku harap kau tidak melupakan Ibu … Ibu menyayangimu.” pamit ibu angkat Hans.
Dengan mengenakan jubah hitam, ibu angkat Hans melangkahkan kaki dan berjalan semakin jauh, sementara Hans masih tampak terpukul atas kepergiannya.
**
Lima belas tahun berlalu, Hans kini telah genap berusia tiga puluh satu tahun. Dia menjadi pemimpin Mira-Tech, dan lembaga penelitian tersebut kini telah berkembang pesat.
Segala hasil eksperimen Hans, maupun data penelitian rahasia Hans, tak ada seorang ilmuan pun yang mengetahui letak keberadaannya kecuali seorang asistennya, Dhea Kumala Anggraini.
Hanya Dhea yang pernah diajaknya berkeliling menuju sacred room, sebuah ruangan rahasia yang terletak di lantai bawah lembaga penelitian Mira-Tech. Sacred room merupakan tempat tersembunyi segala hasil eksperimen Hans sekaligus tempat penyimpanan data penelitian rahasianya.
Suatu ketika, di tengah perjalanan, Hans kala itu mengantarkan Dhea pulang dengan mobilnya. Hans melihat dari kaca mobilnya beramai-ramai mobil hitam berlogo Im-Tech melaju kencang berlawanan arah dengan mobil Hans.
Dhea yang duduk di sebelah Hans turut melihat dan melaporkannya kepada Hans.
“Tuan, bukankah itu rombongan mobil Im-Tech?” tunjuk Dhea.
Hans tampak cemas, firasatnya tak keruan, namun ia tetap mengalihkan perhatian dan tancap gas.
“Aku harap tidak terjadi apa-apa.” gumam Hans was-was.
* * *
Di suatu tempat, dalam sebuah gedung arsitektur berbentuk tiga jari, tampak seorang perempuan misterius bertopi bowler merah dengan lengan penuh tato, membawa senjata shotgun, membidik sebuah apel di atas kepala seorang pelayan.
Dhuuar!
Cekrek-krek!
Tembakan langsung tepat sasaran. Apel hancur berceceran, si pelayan lari ketakutan.
Blabb!
Sebuah layar hologram tiba-tiba muncul di depannya, tampak seseorang dengan avatar kucing menghubunginya.
“Kenapa baru bisa terhubung sekarang? Dari mana saja kau?” tanya si penghubung dengan suara disamarkan.
Perempuan itu tak menjawab.
Bibir lipstik merahnya menghisap sebatang rokok lalu menghempaskannya perlahan.
“Apa kau sudah mendapatkan data penelitiannya?” tanya si penghubung spontan.
“Sesuai rencanamu, Im telah bergerak dan menghancurkan salah satu lembaga penelitian Hans.” jawab perempuan itu sambil mengelus shotgun kesayangannya.
“Sebagian data penelitian orang itu kini berada di tanganku.” lanjut perempuan itu.
“Kerja bagus! Apa Im berhasil membawa Hans?”
“Itu bukan urusanku!” bentak perempuan tersebut.
Dia lalu mengubah shotgun ke mode laser dan membidik layar hologram tepat di depannya.
“Baiklah, aku tunggu kabar berikutnya darimu, oh iya satu hal lagi,”
Perempuan itu terdiam, menunggu si penghubung melanjutkan pembicaraannya.
“Menikahlah denganku!”
Zabb!
Tanpa banyak kata perempuan itu menembakkan laser, memotong pembicaraan si penghubung.
Slaapp!
Layar hologram menghilang. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya, dan menghempaskannya perlahan.
“Kubunuh dia nanti!” kesal si perempuan.
* *
Di depan papan Jalan Blueberry, di sebuah desa area persawahan, Dhea yang diantar Hans pulang lalu turun dari mobil dan mengemas ranselnya.
“Apa turun di sini tidak terlalu jauh?” tanya Hans masih berada dalam mobil.
“Tidak Tuan, tinggal jalan sedikit saja nanti sampai rumah.” jawab Dhea tersenyum.
“Baiklah hati-hati di jalan, oh iya ....” Hans memotong pembicaraannya sendiri.
“Kenapa Tuan?” tanya Dhea penasaran.
Hans memandang lurus mata Dhea yang tertutup kacamata dengan raut wajah serius.
“Dhe … aku harap engkau tetap merahasiakan ruang bawah tanah sacred room, jangan sampai membicarakan atau memberi tahu orang lain tentang ruangan itu.” pesan Hans terus terang, “Kau tahu ‘kan, ruangan itu menyimpan tempat ribuan data penting penelitian dan sejumlah penemuan pentingku?”
Dhea lalu menyipitkan mata sembari meremas lengan tas ranselnya.
“Apakah ini ada hubungannya dengan Im-Tech, Tuan?” sahut Dhea balik bertanya.
“Akhir-akhir ini lembaga itu terlihat mencurigakan, aku sangat cemas jika mereka bekerja sama dengan WG, mereka akan mengincarku. Itulah mengapa aku sering berpindah tempat, aku sengaja membuat banyak cabang penelitian kosong dan memecat seluruh pegawai. Aku yakin dengan cara ini mereka akan sulit menemukanku.” jelas Hans dengan raut wajah penuh cemas.
“Baiklah Tuan, saya mengerti maksud Anda. Sebenarnya, ada yang masih mengganjal di pikiran saya.”
“Apa itu?” tanya Hans penasaran.
“Saya yakin Anda tidak masalah dengan memecat seluruh pegawai, karena mereka semua belum pernah ada yang mengunjungi sacred room, dan setiap dari mereka yang telah Anda pecat, Anda memberi mereka bolpoin yang di dalamnya terpasang sensor chip penghapus memori ingatan apa pun yang terkait dengan lembaga Mira-Tech. Hanya saja, saya tidak yakin cara seperti itu akan cukup efektif. Lebih baik Anda memberanikan diri menghadapi mereka, tanpa harus terus bersembunyi.” saran Dhea bijak.
“Aku hanya tak ingin kembali melanjutkan mesin waktu.” gumam Hans lirih.
Suasana menjadi hening sejenak.
Di dekat pepohonan tampak anakan rusa saling mengejar antar kawanannya.
“Sudah sore, sepertinya mau hujan. Kita sudahi saja hari ini.” ujar Hans mengalihkan pembicaraan sambil melirik arloji.
Dhea tersenyum dan mengangguk sambil menatap jas lab Hans.
“Tuan Hans, tetap semangat! Dan jangan lupa naikkan gaji saya!” pamit Dhea bersemangat.
Dia lalu membalikkan badan dan melambaikan tangan.
“Tenang saja, itu tidak mungkin terjadi!" balas canda Hans ikut melambaikan tangan.
Hans lalu tancap gas dan melanjutkan perjalanan.
* *
Gemuruh petir menggelegar.
Awan hitam berkumpul menutupi langit, disertai rintik hujan turun semakin deras.
Hans tanpa sadar tersesat.
Dia malah memasuki Kota Novalley, sebuah kota sepi yang telah ditinggalkan penduduknya selama ratusan tahun.
Di tengah guyuran hujan lebat, Hans merasa ada yang mengawasi, namun dia tak memedulikan, dan meneruskan perjalanan.
Di tengah jalan terlihat seorang gadis berwajah tertutup tudung jubah hitam, berdiri tak jauh menghadang mobil Hans.
Gadis itu memegang tongkat aneh dan membawa sebuah kitab yang terbuka.
Antara takut dan penasaran, Hans menghentikan mobilnya.
“Penyihir?”
“Ah, mana ada penyihir di dunia ini!” gumam Hans.
Dia lalu mengenakan mantel, dan keluar dari mobil.
Blak!
Pintu mobil tertutup.
Hans penasaran, dia memberanikan diri berjalan pelan mendekat ke arah gadis tersebut.
“Pe … permisi?” sapa Hans gugup.
Gadis itu hanya diam tak menjawab, wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Hans semakin penasaran.
“Kau siapa?”
“Mau ke mana?” tanya Hans penasaran.
“Rosemary.” jawab gadis itu singkat.
Suaranya merdu, tatapannya kosong dengan pandangan mata lurus ke depan tanpa berkedip.
Hans penasaran dan mencoba lebih dekat.
“Rose, Robert Hans, anak Adam!”
“Dengan berkah para Dewa Aorda, engkaulah yang terpilih berjalan di atas takdir, menapak kaki di Lembah Heigos, mary.” ucap Rosemary tanpa ekspresi.
Hans bertambah kebingungan, dia sama sekali tak paham dengan ucapan Rose.
Semakin lama mengamati, Hans menemukan banyak keanehan pada Rose.
Hans merinding, namun mencoba tenang memastikan.
“Sebentar!”
“Aku tak paham maksudmu, apa kau itu seorang peramal atau penyihir?” tanya Hans curiga.
“Rosemary.” jawab Rose singkat.
Hans kesal, dia langsung menepuk pundak Rose.
Anehnya, sebelum tangan Hans mengenai tubuh Rose, dengan sekejap tubuhnya berpindah.
Hans semakin merinding ketakutan.
“Si … siapa kamu sebenarnya?”
“Rose,”
“Zaseisye memberkatimu, tetaplah berada pada naungannya, mary.” pamit Rosemary.
Tiba-tiba keluar aura hitam membalut tubuh Rosemary.
Zap!
Dengan sekejap dia menghilang.
Hans ketakutan sampai jatuh terduduk, dan mundur beberapa langkah.
* *
Gemuruh kilat menggelegar, selang beberapa menit hujan mereda.
Angin bertiup kencang menghempas beberapa puing bangunan dan papan jalan.
Tak kuat menerjang hawa dingin, Hans bergegas kembali ke dalam mobil.
Hans menggigil kedinginan, dia tancap gas dan melanjutkan perjalanan.
“Hari ini terasa aneh sekali,”
“Apa aku kelelahan, jadi aku berhalusinasi? Apa ada yang salah dengan diriku?” gumam Hans kebingungan.
Di tengah perjalanan, untuk kedua kalinya dia bertemu seorang perempuan berdiri menghadang mobilnya.
“Ini siapa lagi?” geram Hans.
* *
Seorang perempuan bertopi berjalan mendekatinya.
Hans langsung menghentikan laju mobil dan keluar menemuinya.
Hans berdiri di hadapannya sambil menodongkan tangan kiri bersarung hitamnya.
“Jangan mendekat!” bentak Hans.
Dengan tatapan mata dingin, perempuan tersebut seketika menurut dan berhenti di hadapan Hans.
“Apa maumu? Siapa kau?” tanya Hans agresif.
Perempuan itu langsung melepas topi dan membuka jaketnya. Hans terkejut sampai mundur beberapa langkah.
“Cyborg? Jadi, kau ....?” sambung Hans.
“Benar, namaku Zora. Ozora Sakaguchi. Aku cyborg, sekaligus ilmuan dari WG,”
“Kau pasti Robert Hans ilmuan yang terkenal itu 'kan?” sambung perempuan berambut hitam pendek tersebut dengan wajah judesnya.
“Ya, aku Robert Hans. Lewati perkenalan, apa yang orang WG inginkan dariku?”
Zora tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekati Hans beberapa langkah.
Mata Zora tiba-tiba menyala biru dan spontan menghancurkan beberapa bangunan kosong di belakangnya.
Zabb!
Zabb!
Zabb!
Bluaar!
Dengan tembakan laser dari tangan kiri cyborg-nya, seluruh bangunan runtuh menjadi puing-puing kecil.
“Kenapa kau hancurkan bangunan-bangunan itu?”
“Di dalam bangunan itu ada orang WG mengawasi kita.” ucap Zora.
“Orang WG? Bukankah kau juga dari WG?” sanggah Hans penasaran.
“'Kan tidak semua bangunan, kenapa kau hancurkan semuanya?” imbuhnya.
Zora duduk di atas sebuah puing bangunan sambil meneguk sebotol air minum yang diambil dari jaketnya.
“Hanya kesal.” jawab Zora singkat.
Zora lalu terdiam beberapa saat sembari menundukkan pandangannya ke bawah.
“Kenapa kau tidak kembali ke WG, Hans?” tanya Zora tiba-tiba.
“Mengapa aku mesti menjawab pertanyaanmu itu?” sanggah Hans, “Dan, kau juga belum menjawab pertanyaanku!”
Zora langsung berdiri dan menghampiri Hans.
“Mesin waktu telah membawaku kemari.”
***
Di bawah reruntuhan puing-puing bangunan, di sebuah lubang galian terdapat tempat persembunyian.
Tampak seorang perempuan berkostum panda dengan logo WG-Tech di punggung bersembunyi. Sambil berteduh di bawah payung, dia memencet tombol rahasia di telapak tangan kirinya.
Blab!
Muncullah sebuah tablet hologram terpancar dari tangannya.
Perempuan itu mengetikkan sebuah nomor panggilan, dan langsung terhubung ke sebuah kontak melalui video call.
“Yuriko, kenapa kau baru menghubungiku?” sapa bos dengan tampilan avatar kucing.
“Sachi menyerang saya, sekarang saya sedang bersembunyi di dalam lubang.”
“Sachi? Kau bertemu Sachi?”
“Iya Tuan, tampaknya ia sekarang sedang bersama Robert Hans.” jawab Yuriko.
“Robert Hans?” sahut bos terkejut.
“Apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda?”
“Segera berangkat ke Im-Tech dan temui Lenna di sana.” perintah bos.
“Baik, Tuan Muda!”
“Oh ya, satu hal lagi,”
“Apa itu Tuan?”
“Kenapa kau tidak menikah .…”
Blip!
Yuriko langsung mengakhiri panggilan dan menutup tablet hologramnya.
**
Hans terkejut.
Raut wajahnya berubah serius.
Matanya melotot. Dia pun menjauh beberapa langkah dengan kedua tangan mendorong ke depan.
“Kau? … kau menjelajah waktu?”
Zora terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
“Aku tak bisa memberitahumu.” jawab Zora.
“Apa WG berhasil menciptakan mesin waktu?”
“Jika kau penasaran, kau bisa ikuti aku ke suatu tempat.”
“Kau mau mengajakku ke WG?”
“Lebih tepatnya aku mengajakmu ke tempat mesin waktu.” jawab Zora, “Jika kau tak mau, silakan.”
“Aku akan kembali dan melanjutkan perjalananku menjelajah waktu.” imbuh Zora memancing Hans.
Tak butuh waktu lama, anehnya Hans langsung menyetujui ajakan Zora.
“Baiklah, aku ikut denganmu. Tapi, aku tak berminat menjelajah waktu!”
Zora menatap lurus mata Hans.
Dia lalu mengeluarkan sebuah kapsul kecil dari dalam kantong celananya.
Pluk!
Kapsul itu dibuka dan keluarlah seekor nyamuk yang langsung hinggap di telapak tangan Zora.
“Mengapa kau membawa nyamuk?”
“Nyamuk ini akan menjadi kendaraan kita Hans.”
“Hahh?” kejut Hans.
“Sudahlah, kau lihat saja!”
Nyamuk itu di letakkan Zora di atas tanah.
Zora lalu mengarahkan tangan cyborg-nya ke arah nyamuk.
Blip!
Sebuah pancaran cahaya biru keluar dari telapak tangan Zora, menyinari nyamuk tersebut.
Nyamuk itu perlahan membesar, hingga seukuran gajah. Terdapat sebuah pintu terbuka otomatis dari perut nyamuk.
“Waow!” kejut Hans.
“Tak ada waktu untuk terkejut!”
“Sekarang naiklah!” ajak Zora sembari menahan pintu.
Tanpa ragu Hans menurut.
Mereka masuk ke dalam. Nyamuk itu langsung berangkat, terbang dan membawa mereka berdua pergi.
Wuushh!
Nyamuk itu terbang melesat seperti jet.
Tak butuh waktu lama mereka langsung tiba di tujuan.
“Huuhhh … huuuhh.”
“Rasanya jantungku mau copot, aku tak mau naik nyamuk ini lagi.” keluh Hans sembari memegang dadanya.
“Butuh seratus tahun lagi kau akan terbiasa Hans!” canda Zora, “Ini hanyalah pesawat jet berbentuk nyamuk.” imbuh Zora.
“Sudah kuduga!”
**
Selang beberapa saat, nyamuk itu kembali mengecil setelah disinari Zora. Lalu dimasukkannya kembali ke dalam kapsul.
Mereka telah berada tepat di depan sebuah laboratorium berbentuk rumah keong.
Di atas pintu masuk terdapat logo WG-Tech.
Hans bergeming, dia tampak ragu memasukinya.
“Apa yang kau tunggu?”
“Masuklah, Hans!” ajak Zora.
Hans tetap bergeming, Zora pun terpaksa menarik tangan Hans.
Di depan pintu tampak dua unit robot penjaga mempersilakan masuk.
Blak!
Pintu terbuka otomatis.
Atmosfer udara terasa lebih sejuk saat mereka menginjakkan kaki ke dalam ruangan.
Tampak beberapa mata asing memandang ke arah Hans.
Seorang perempuan berambut pirang panjang, berkacamata dan berpakaian jas lab berjalan lurus menghampiri Zora.
“Sachi, tak kusangka kau kembali lebih cepat. Semua orang kesulitan menangani mesin waktu ini.” sambut perempuan tersebut.
Perempuan itu lalu melirik ke arah Hans.
“Siapa pria tampan ini?”
“Dia Robert Hans.” jawab Zora sambil menunjuk Hans.
Perempuan itu mengangguk.
Dia mencoba bersikap ramah dengan menjabat tangan Hans.
“Ernest Voynest, dari New Zealand.”
Hans membalas jabat tangan perempuan tersebut.
“Robert Hans, dan aku tak ingat asalku dari mana.” jawab Hans polos.
Ernest tertawa kecil.
“Kau lucu sekali Robert Hans!” kekeh Ernest sembari menepuk pundak Hans.
“Ehemm!”
“Eren, Robert Hans ini ilmuan terkenal yang membuat rancangan mesin waktu. Jadi, sebaiknya kau antarkan kami ke ruangan itu!” celetuk Zora.
“Baiklah,”
“Akan kuantar kalian.” ajak Ernest.
**
Di sepanjang perjalanan, pandangan Hans tak berhenti mengamati sekitar.
“Apa ini baru pertama kalinya kau ke sini?” tanya Zora.
“Tidak.”
“Tapi kurasa laboratorium ini tidak banyak berubah sejak dulu.” jawab Hans.
“Andai kau dulu tidak keluar dari WG, pasti laboratorium ini lebih banyak perubahan.” sanggah Zora.
“Kau seperti telah lama mengenalku.” timpal Hans, “Kau juga tampak dekat dengan perempuan itu, jangan-jangan kau sebenarnya bukan time traveler?” imbuh Hans curiga.
“Entahlah.”
Sesampainya di depan sebuah pintu, Ernest lalu mengetikkan sebuah kode.
Teet!
Bunyi kode salah, pintu tetap tak mau terbuka.
Tok!
Tok!
Tok!
Ernest mengetuk pintu.
“Jhony! Grey! Tolong bukakan pintunya!” pinta Ernest.
Tak ada jawaban, selang beberapa saat karena tidak sabar, Hans dengan sigap mengambil alih, lalu mengetikkan sebuah kode.
Blak!
Pintu langsung terbuka.
“Waow, cool!” sahut Ernest.
Mereka langsung masuk ke dalam. Tampak beberapa ilmuan sedang sibuk mengotak-atik sebuah mesin raksasa dengan portal lingkaran berada di tengah.
Sementara beberapa ilmuan lain sibuk mengoperasikan komputer yang terhubung dengan mesin tersebut.
Plak!
Ernest menepuk tangan sekali.
“Baiklah, kalian semua dengarkan .…” tutur Ernest terpotong melihat Hans tiba-tiba lancang mendekat ke tempat mesin tersebut.
Zora hanya mengamati dari jauh.
Seluruh ilmuan terhenti.
Mereka menatap ke arah Hans yang kala itu mengambil beberapa suku cadang dari sebuah box yang berserakan.
Tanpa mengulur waktu, Hans langsung turut campur membenahi mesin tersebut. Dia juga memeriksa sambungan yang terhubung dengan portal.
“Tunggu Robert!”
“Kau tak bisa seenaknya ikut campur dalam proyek mesin waktu ini!” ketus Ernes.
“Diamlah Eren!” sahut Zora, “Biarkan Hans melanjutkan mesin waktu ciptaannya ini, karena hanya dia yang tau cara menyelesaikannya.”
“Tak bisa seperti itu!” bantah Ernest.
“Robert bukan siapa-siapa di sini! Dia harus mendapatkan izin dariku! Jika dia lancang seperti itu maka aku berhak mengusirnya!” imbuhnya.
“Baiklah, silakan lakukan sesukamu!” balas Zora enteng.
Ernest berjalan menghampiri Hans.
“Kau cepat pergi dari sini!” usir Ernest sambil menarik tangan kiri Hans.
Blap!
Tak disangka, tiba-tiba portal mesin waktu menyala terang dan mendadak berfungsi.
Kelap-kelip lampu berputar di sekeliling portal, ditambah pusaran lubang hitam misterius muncul di tengah portal.
Seluruh ilmuan tercengang.
Mereka kaget, heran sekaligus kagum bercampur aduk melihat sebuah pemandangan yang tak pernah dilihatnya.
“Ye!! Hore!!!” sorak para ilmuan kegirangan.
Para ilmuan itu sontak mendorong Ernest dan merangkul Hans.
Mereka tak menyangka kerja keras mereka terbayar lunas setelah bertahun-tahun lamanya bekerja menyelesaikan penemuan terbengkalai Hans.
Hans tampak lega, terlihat dari raut mukanya.
Zora tersenyum, sementara Ernest mati kutu.
“Tidak mungkin!” bantah Ernest sembari menggelengkan kepala.
“Kau sudah puas 'kan, Eren?” timpal Zora.
“Tidak!”
Ernest menjauh beberapa langkah.
“Tidak, mesin waktu ini tidak mungkin bisa berfungsi!” bantah Ernest tidak percaya.
Hans merasa ada yang janggal dengan mesin waktu tersebut, dia lalu mengecek komputer. Selang beberapa menit, sebuah insiden terjadi.
Boom!!!
Tiba-tiba terdengar ledakan keras memekakkan telinga dari dalam portal mesin waktu.
Seluruh aliran listrik mendadak terputus.
Ruangan menjadi gelap, dan hanya ada sumber penerang dari portal mesin waktu.
Seluruh ilmuan mendadak pingsan.
Hanya tersisa Zora yang setengah sadar.
“Hans ….” gumam Zora lirih.
Selang beberapa detik, sebuah bola kristal tiba-tiba muncul.
Bluk!
Bola seukuran ball tenis itu terlempar keluar dari dalam portal mesin waktu.
Dhuaak!
Bola itu membentur tepat mengenai kepala Hans, membuatnya sadarkan diri.
“Aduh! Siapa yang melemparku ini?” gumam Hans sambil memegang dahinya.
Hans heran.
Ruangan tiba-tiba menjadi gelap.
Cahaya dalam portal mesin waktu meredup, ditambah semua orang tergeletak pingsan.
Hans lalu menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Dia bertambah heran ketika melihat di dekatnya terdapat sebuah bola kristal.
“Bola apa ini?” gumam Hans.
Tanpa ragu-ragu Hans memegang bola tersebut.
Diraba-rabanya, bola itu terasa halus, dan dingin seperti kaca.
Karena kesal, Hans iseng melempar bola itu ke sembarang dinding.
Dhuk!
Bola itu justru memantul dan kembali ke tangan Hans dengan bentuk masih utuh.
“Aneh sekali!”
“Sebaiknya aku simpan saja bola ini.” gumamnya.
Tak disangka, bola itu tiba-tiba menyala.
Hans bertambah panik, dia lalu melepaskan bola tersebut.
Nyala bola itu semakin terang menyilaukan.
Boom!!
Hanya dalam hitungan detik bola itu meledak.
Menghancurkan seisi ruangan, hingga seluruh laboratorium.
Hans kembali tergeletak pingsan, tak sadarkan diri.
Akibat ledakan tersebut, seluruh tabung kimia di ruangan sebelah tumpah berceceran membasahi seluruh lantai, memicu terjadinya kebakaran hebat yang tak dapat terbayangkan.
Api berkobar semakin membesar hingga menjalar ke dalam ruangan mesin waktu.
Zora menyadari, dengan sigap dia langsung bangkit berdiri. Zora berjalan tertatih-tatih, mendekati Hans yang mulai dikelilingi kobaran api. Dengan sangat berani, Zora melompat, menerjang masuk ke dalam kobaran api, sementara dinding-dinding ruangan meretak, dan perlahan roboh.
Seluruh atap laboratorium ambruk, puing-puingnya menimpa punggung Zora yang kala itu menjadi tameng untuk melindungi Hans. Tanpa berpikir panjang, dengan tubuh memar, penuh luka dan berdarah, Zora langsung mengangkat tubuh Hans, dan dia gendong di punggungnya. Zora tetap memaksakan diri, berjalan selangkah demi selangkah, menghindari kobaran api, menerjang hawa panas dengan udara menipis akibat asap tebal di sekelilingnya.
Selang beberapa saat pandangan mata Zora mulai kabur, kepalanya terasa pusing berputar-putar. Dia sempat ambruk beberapa kali, tubuhnya terkulai lemas, namun terus berusaha bangkit.
Zora merangkak dengan sekuat tenaga mencari jalan keluar, namun sia-sia.
Tak ada jalan keluar.
Seluruh ruangan telah dilalap api. Kadar udara bersih mulai menipis, kandungan asap tebal beracun sering kali terhirup masuk ke dalam tubuh Zora, membuatnya sesekali batuk dan sesak napas.
Zora tampak putus asa, “Apakah aku akan berakhir di sini?” gumamnya.
Tubuh Zora semakin lemas.
Tiba-tiba muncul seberkas cahaya bersinar terang, menyala kembali dari dalam portal mesin waktu.
Tak disangka, mesin waktu tersebut masih berfungsi.
Tanpa aliran listrik, tanpa energi cadangan.
Tidak ada pilihan lain, Zora akhirnya memberanikan diri merangkak masuk ke dalam portal tersebut.
Walau belum ter-setting waktu dan tempat, Zora tidak lagi peduli.
Tangannya langsung menembus dinding portal dan tubuhnya terdorong masuk ke dalam portal mesin waktu.
Bruak!
Zora terjatuh.
Di punggungnya masih menggendong Hans.
Tak disangka, dia telah berada di dalam ruang hampa putih keseluruhan.
“Apa ini di akhirat?” gumam Zora.
Tiba-tiba di hadapannya muncul sosok perempuan raksasa cantik.
Perempuan misterius itu melayang.
Sosok tersebut mengenakan gaun biru dan memakai mahkota.
“Ternyata aku di akhirat.” gumam Zora.
***