Wijaya pria berusia 23 tahun mendapatkan berita mengejutkan dari orang tuanya karena akan dijodohkan dengan Vita yang tidak lain adalah salah satu orang terdekatnya, Wijaya sendiri memiliki sahabat yang mempunyai kebiasaan pergi ke diskotek untuk melepas penat bahkan tidak jarang sampai mabuk atau melakukan hal yang tidak semestinya meski tidak semua temannya seperti itu. Wijaya bisa menjaga diri ketika mereka berkumpul dan selalu mendapat godaan karena hanya minum jus jeruk tiap berkumpul, sahabat mereka sudah bersama sejak lahir karena memang sekolah di sekolah yang sama sampai lulus kuliah meski berbeda jurusan. Wijaya pada dasarnya tidak pernah memilih teman di mana terdapat Yuta yang bukan dari golongan sama seperti mereka dan juga sahabat Vita yaitu Mira yang berasal dari golongan yang sama seperti Yuta.
“Jadi akan menerima perjodohan?” Regan menatap Wijaya dan Vita bergantian.
“Gak ada jalan lain selain menyetujuinya,” jawab Wijaya santai menatap Vita yang hanya diam “apa kamu akan menolak?” Vita menggelengkan kepala membuat Wijaya menatap sahabatnya.
“Wow dua perusahaan besar bergabung Hadinata dan Darmajaya akan mengganti nama menjadi H&D Group akan benar terwujud,” sahut Austin sambil menepuk tangan keras “selamat bagi kalian berdua” mengangkat gelasnya “selamat datang di kehidupan pernikahan.”
Wijaya hanya menggelengkan kepala melihat Austin, di antara mereka hanya Austin yang sudah menikah dengan wanita pujaannya tapi sayang kehidupan pernikahan mereka penuh dengan drama di mana ibu Austin selalu melakukan penyiksaan dan membuat sang istri mengalami keguguran meski begitu sang istri tetap bertahan dalam pernikahan tersebut dan berakhir dengan kematian karena tidak kuat dengan apa yang dilakukan ibu Austin. Wijaya sedikit membayangkan bagaimana kehidupan pernikahan mereka kelak yang tanpa cinta, sanggupkah dirinya menjadi pemimpin dalam rumah tangga sedangkan dirinya saja baru saja lulus dan melanjutkan posisi sang ayah.
“Jadilah suami yang bijak jangan seperti aku, suami gagal.”
Wijaya menatap Austin yang masih menyimpan duka atas istrinya tersebut karena bukan hanya kehilangan istri, cobaan pertama adalah kehilangan buah hatinya. Ibu Austin tidak menyesal sama sekali dengan apa yang dirinya lakukan dan malah menyalahkan istri Austin sebagai wanita yang tidak tahan banting, Wijaya menatap Vita yang sedang berbicara dengan Mira dimana sebenarnya Wijaya tahu jika Mira menyukai dirinya tapi sampai detik ini tidak ada perasaan sedikit saja pada mereka berdua. Pandangan Wijaya mengarah pada Yuta yang berbicara dengan Regan dimana saat ini berbicara mengenai pekerjaan yang mereka kerjakan, Regan selalu membantu Yuta dalam keadaan apa pun meski bermulut pedas tapi hati Regan sangat baik. Yuta selalu menjadi tempat mereka semua mendapatkan jawaban atas permasalahan yang dialami masing – masing, di antara semua Yuta selalu memiliki solusi yang baik bagi semuanya. Wijaya sendiri tidak meminta bantuan Yuta mengenai masalah ini karena solusinya hanya satu harus diterima.
“Wanita itu cantik?” Austin menunjuk wanita yang sedang berbicara dengan temannya “kalau aku dekati akankah bernasib seperti Hera?”
“Dirimu perlu ke psikolog mengobati rasa trauma,” ucap Regan seketika “lupakan masa lalu dan rubah semua kebiasaan kamu yang apa kata ibu, hell kamu pria yang harus tegas di mana bukan berarti melawan ibu akan durhaka.”
Mira mengangguk “kalau kamu nggak tegas maka nggak akan ada wanita yang bisa bertahan dengan ibumu.”
Austin menatap Mira sedih “sayangnya ibuku hanya mau kamu menjadi menantunya bukan yang lain.”
Semua yang ada di sana memandang Austin dan Mira bergantian karena terlalu terkejut dengan kenyataan yang ada mengenai mereka, Wijaya selama ini mengira Mira menyukai dirinya meski tahu jika Regan menyukai Mira. Perkataan Austin mengenai ibunya hanya ingin Mira yang menjadi menantu hal baru yang di dengar oleh mereka, saat ini mereka berempat hanya saling memandang sedangkan kedua orang tersebut langsung diam sibuk dengan pemikiran masing – masing.
“Aku pulang,” ucap Austin sambil berdiri “jangan lupa undangannya.”
Austin berjalan meninggalkan mereka yang masih terdiam dengan perkataan Austin, ketiga pria ini juga tidak tahu harus mengatakan seperti apa pada Mira karena ini situasi pertama kali yang mereka alami. Wijaya menatap Vita yang masih tampak terkejut dengan segera mendekatinya, gerakan yang tiba – tiba membuat Vita terkejut dan dengan bahasa isyarat meminta untuk Vita segera keluar dari tempat ini dan dapat Wijaya lihat jika Vita hanya mengangguk mengikuti permintaannya.
“Kalian akan pulang?” Mira menatap Wijaya dan Vita bergantian “aku bareng.”
“Kamu pulang sama kita,” suara Regan menghentikan gerakan kepala Vita dengan memberi kode pada Wijaya.
“Kita berdua harus bicara mengenai perjodohan ini dan lagi pula ini sudah malam di mana orang tua Vita akan mencari anaknya,” jawaban Wijaya membuat Vita menatap tajam.
Wijaya memberikan isyarat pada Vita untuk ikut dirinya keluar dari diskotek ini, dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali karena memang pada dasarnya mereka tidak suka membicarakan hal yang tidak terlalu penting untuk dibahas, Wijaya sangat tahu jika Vita menginginkan dirinya membahas mengenai permasalahan sahabatnya tapi Wijaya sendiri malas mencampuri urusan yang bukan miliknya.
“Ibu Austin pernah bicara denganku minta bantuan agar Austin menikahi Mira sebelum memutuskan menikahi Hera,” ucap Vita tiba – tiba “cinta tidak bisa dipaksa karena Mira sangat mencintaimu, lantas kehidupan pernikahan seperti apa yang akan kita jalani nantinya?.”
Wijaya mencerna perkataan Vita yang hampir sama dengan pemikirannya tadi “pernikahan bukan hanya tentang cinta bukan?” Wijaya melirik sekilas “kedua orang tua kita berhasil melakukannya dan awet sampai sekarang.”
Vita mencibir “apa yang terlihat selamanya tidak akan sama dengan kenyataan.”
Wijaya menatap Vita bingung atas apa yang dibicarakannya “apa maksudnya?”
“Apa kamu merasa orang tua kita selama ini baik – baik saja dengan pernikahannya?” Wijaya tidak menjawab pertanyaan Vita “kita sama – sama hidup sebagai anak tunggal meski bukan anak manja tapi aku cukup tahu apa yang mereka rasakan baik itu orang tuaku atau kamu sekali pun, hanya saja posisi sebagai anak tidak bisa melakukan hal tersebut.”
“Selama ini dari penglihatanku semua baik – baik saja,” ucap Wijaya ketika melihat bagaimana kedua orang tuanya.
“Terserah dari pandanganmu,” ucap Vita sambil mengangkat bahu “kamu perlu tahu bagaimana mereka suatu saat.”
Pembicaraan mengenai kedua orang tua dan permasalahan Mira dihentikan oleh Vita karena merasa tidak ada jawaban dari Wijaya sedangkan Wijaya sendiri memikirkan apa yang Vita bicarakan mengenai apa yang tampak tidak seperti apa yang terjadi di dalamnya. Wijaya membenarkan perkataan Vita terutama kondisi dirinya saat ini yang harus menerima perjodohan dengan Vita tanpa adanya cinta di antara mereka berdua.
“Pernikahan kita hanya pernikahan bisnis tapi aku ingin pernikahan ini sekali dalam seumur hidup dan akan berusaha menjadi pasangan sesuai apa yang kamu harap dan impikan, pernikahan butuh kerja sama kedua belah pihak jadi aku harap kita bisa bekerja sama.”
Wijaya hanya diam ketika Vita berbicara demikian karena bukan suatu hal yang perlu di debatkan dan mereka berdua sepakat untuk menjalani pernikahan seperti pasangan pada umumnya entah itu pernikahan bisnis sekali pun, satu hal yang membuat Wijaya kagum dengan Vita adalah keputusannya untuk membuka usaha sendiri. Usaha yang di buka dengan Mira hanya usaha kecil awalnya yaitu usaha katering dan saat ini telah berkembang dengan membuka warung makan di salah satu tempat dengan pelanggan yang bisa dibilang tidak pernah berhenti, di samping itu Vita juga mempunyai sanggar kecil di sebelah rumah Mira di mana berisi pakaian traditional untuk disewakan jika ada yang menikah atau acara apa pun.
Wijaya banyak belajar dari Vita tentang itu semua bahkan Regan dan Austin yang sudah sukses pun belajar pada Vita, terkadang Wijaya merasa malu karena Vita yang begitu punya kelebihan menerima perjodohan ini dan menerima dirinya yang jauh dari kata sempurna, seharusnya Vita bisa mendapatkan pria yang melebihi Wijaya. Orang tua mereka berdua dari awal ingin menggabungkan perusahaan dan beberapa kerja sama yang selama ini terjadi agar tetap baik dalam kerjasama dimana solusinya adalah menikahkan anak mereka adalah tujuan akhirnya. Wijaya tahu jika kedua orang tua mereka menginginkan dirinya menangani perusahaan tersebut suatu saat, Vita sendiri selain mempunyai kedua usaha tersebut juga bekerja di tempat orang tuanya. Mereka berdua sering bertemu ketika ada rapat satu sama lain bahkan saat ini sudah banyak yang tahu jika mereka akan menikah.
“Besok aku ada rapat sama Bobby” ucap Vita ketika mobil Wijaya berhenti di depan rumah “bisa kamu gantikan?.”
Wijaya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Vita “Bobby si playboy itu?” Vita mengangguk “dia terobsesi denganmu meski tahu kita akan menikah.”
Vita tersenyum “maka dari itu kamu yang gantikan,” memberikan tatapan memohon “meski kita belum resmi tapi setidaknya mereka semua tahu bahwa suatu saat perusahaan ini kamu yang pegang alih.”
Wijaya menatap Vita datar “proyek besar ini dan kamu yakin aku yang gantikan?” Vita mengangguk mantap membuat Wijaya hanya bisa pasrah “aku akan ke Yuta.”
Vita mengerutkan keningnya “biarkan Yuta dan Regan menyelesaikan urusan.”
Wijaya tersenyum “belum menikah sudah mengatur kehidupanku.”
Austin dahulu bukan peminum karena Hera tidak menyukai pria perokok dan peminum jadi semua pria jika di depan Hera akan bersikap baik, kecuali Wijaya yang memang tidak merokok dan minum. Semua berubah ketika Hera meninggal dunia kehidupan Austin sangat berbeda dari sebelumnya, Mira dan Vita sudah berusaha untuk membuat Austin melupakan Hera tapi tetap tidak bisa.
“Apa kamu akan turun berpamitan pada papa?,” Wijaya menggelengkan kepala “baik hati – hati dan jangan lupa untuk bertemu Bobby besok, mengenai jadwal aku sudah berikan pada Wira kemarin.”
Wijaya menatap Vita yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah, perlahan menghembuskan nafas panjang dalam pikiran Wijaya berputar bagaimana rumah tangga mereka nantinya. Wijaya hanya bisa berdoa semoga rumah tangga mereka baik – baik saja karena dirinya hanya ingin pernikahan sekali dalam seumur hidupnya, jika pun dirinya menikah lagi berarti harus dengan persetujuan dari Vita dan itu tidak mungkin terjadi.
Jalanan yang sepi karena memang sedikit warga yang memiliki kendaraan, mobil seperti dirinya miliki hanya bisa dimiliki oleh orang yang mempunyai uang dan Wijaya beruntung lahir dari keluarga yang berkecukupan tapi sayangnya pernikahan yang akan dia jalani adalah tanpa cinta dan harus bertahan seumur hidup.
Kondisi rumah yang sepi dan hanya terdapat pembantu rumah membuat Wijaya hanya di asuh oleh pembantu bukan orang tua, meski sang ibu kerap meluangkan waktu tetap saja akan berasa kurang jika tidak sepenuhnya di rumah. Wijaya menatap tidak percaya atas kehadiran orang tuanya di meja makan, Eve sang ibu menatap Wijaya dengan tersenyum dan meminta bergabung bersama meski ragu dirinya tetap melangkah ke arah orang tuanya. Eve langsung mencium pipi Wijaya ketika sudah berada di dekatnya, seperti ibu pada umumnya yang langsung menata makanan di piring setelahnya diletakkan di depan dirinya.
“Habis sama Vita?” Wijaya mengangguk “pernikahan kalian tinggal tunggu waktu dan kamu gak ada niat untuk berubah bukan?” Felix sang ayah menatap Wijaya tajam yang langsung dijawab dengan gelengan kepala yakin membuat Felix mengangguk sambil tersenyum “buat Vita bahagia jangan menderita, sekarang makan.”
Wijaya hanya mengangguk mendengar perkataan ayahnya, dari kecil dirinya selalu mengidolakan ayahnya dan saat ini keputusan untuk masa depannya sudah ditentukan bahkan tidak bisa dicegah sama sekali. Beberapa bulan lagi pernikahan mereka akan terlaksana baik Wijaya maupun Vita tidak terlibat dalam rencana pernikahan atau lebih tepatnya Wijaya yang tidak terlibat, semua urusan pernikahan sudah ditangani Eve dan Melani ibu dari Vita. Memiliki usaha Wedding Organizer sendiri bukan hal susah untuk mendapatkan pelayanan utama dan itu yang terjadi dalam pernikahan mereka berdua.
“Ayah dengar kamu akan bertemu dengan Bobby?” Wijaya menatap Felix dan mengangguk “ayah beri tahu kelemahan dari Bobby.”
Wijaya mendengarkan kelemahan Bobby dari sang ayah dan segera paham apa yang harus dilakukan besok ketika bertemu dengan pria tersebut. Felix berdiri setelah menjelaskan semuanya dan menepuk bahu Wijaya singkat agar bisa melaksanakan apa yang dikatakan baru saja. Wijaya menatap Eve yang masih setia duduk menatap dirinya membuat Wijaya menatap sang ibu dengan tanda tanya.
“Tidak berasa kamu akan menikah, perasaan baru kemarin kamu sekecil ini,” sambil menggerakkan tangannya “Vita bilang sama ibu kalau kalian menikah akan menyerahkan perusahaan padamu.”
Wijaya mengangguk “padahal aku masih perlu banyak bimbingan dari ayah.”
Eve tersenyum dengan mendekati Wijaya “anak ibu hebat dan ibu yakin jika kamu bisa melebihi ayah atau Jonathan,” menggenggam tangan Wijaya “naluri orang tua itu gak pernah salah dan alasan Vita menyerahkan padamu agar bisa menjadi istri sepenuhnya karena Vita bilang ingin punya anak banyak dan tentu kami senang mendengarnya karena kalian berdua sama – sama anak tunggal.”
Wijaya menatap Eve dengan menggenggam tangannya “itu juga yang dibicarakan Vita karena ingin segera memiliki anak maka dia memutuskan untuk berhenti padahal aku gak masalah jika tetap bekerja, Vita bilang akan membantu diriku dari belakang dan katanya itu tugas istri.”
Eve tersenyum “memang seperti ibu yang selalu mendukung apa yang ayah lakukan.”
“Dan kamu sudah mengganggu waktu kita berdua dengan memonopoli ibumu, haruskah aku berebutan dengan putra sendiri?,” Wijaya menatap Felix yang seolah cemburu dengan kedekatan dirinya dan Eve “ini pula alasan ayah ingin kamu segera menikah agar tidak mengambil waktu berduaan kami.”
Menatap cafe dimana akan melakukan kerjasama dengan Bobby, pria yang tidak pernah lelah mengejar Vita. Berkali – kali Vita mengatakan bahwa akan menikah dengan Wijaya tapi nyatanya tidak membuat pria tersebut lelah mengejarnya, terlalu asyik menatap keadaan cafe tidak menyadari jika Bobby dihadapannya.
“Terlalu asyik melamun sampai tidak menyadari kehadiranku.”
Wijaya menatap Bobby yang menatap malas dengan segera langsung tersenyum “mohon maaf saya tidak menyadari kehadiran anda.”
Bobby semakin menatap malas pada Wijaya dengan langsung duduk dihadapannya, mereka berdua mulai membicarakan mengenai kerjasama yang akan dilakukan Bobby dengan Vita. Bobby adalah pria baik yang akan melakukan segala cara selama itu berkaitan dengan bisnis, salah satunya adalah memperluas jaringan bisnis.
“Perusahaan baru?” Bobby mengangguk “kenapa mengajak Vita bukan aku?”
Wijaya menatap Bobby yang tidak memberikan jawaban dan memilih diam membuat dirinya menatap malas pada pria yang berada dihadapannya ini, Bobby membuka suaranya mengenai hal – hal yang menjadi bagian bisnis mereka nantinya. Wijaya yang awalnya tidak tahu maksud dan tujuan dari pertemuan ini saat mendengarkan Bobby mengungkapkan apa maksud dan tujuan akhirnya bisa mengikuti dengan cepat.
“Aku tahu kalau tidak perlu mengajak kamu dalam kerjasama karena Vita akan memberikan padamu dan memang terbukti” Wijaya mengangkat alisnya mendengar perkataan dari Bobby “kalian terkenal diantara kami para pengusaha muda yang harus diperhitungkan.”
“Kalian terlalu berlebihan dalam menilai kami.”
.
Pembicaraan mengenai kerjasama berlangsung sangat cepat dan mereka mengakhiri dengan pertemuan selanjutnya, menatap minuman yang ada dihadapannya dengan tatapan lelah karena memang hal seperti ini tidak ada dalam benaknya. Menggantikan posisi orang tuanya dan menanggung tanggung jawab besar membuat Wijaya harus belajar banyak hal, Wijaya mengenal ayahnya dengan sangat baik yang tidak akan memberikan perusahaan ini secara cuma – cuma. Posisi CEO sendiri sudah ditempati oleh seseorang yang sudah bekerja lama dengan mereka sedangkan dirinya memulai semuanya dari awal.
Keluar dari cafe menuju kantor yang dirintis bersama sahabat – sahabatnya, nasib mereka tidak jauh berbeda dengan Wijaya oleh sebab itu membuat perusahaan sendiri yang bergerak di bidang design dengan Yuta sebagai pimpinan tertinggi, meski begitu mereka memiliki jabatan yang sesuai dengan kemampuan masing – masing.
“Bagaimana pertemuan dengan Bobby?”
Wijaya menatap malas pada Austin yang saat mengatakannya dengan nada mengejek, tatapan malas uang Wijaya berikan membuat Austin tertawa keras. Memilih duduk dihadapan sahabat -sahabatnya membuat Wijaya menceritakan semua hasil pertemuan tanpa ada yang tersisa dan mereka mendengarkan dengan sangat baik.
“Aku rasa tidak ada salahnya melakukan perjanjian itu, apalagi Bobby adalah pengusaha yang patut diperhitungkan juga.”
Perkataan Yuta memang benar karena Bobby sendiri termasuk pengusaha yang diperhitungkan seperti mereka, perbedaannya pada jaringan Bobby sangat luas bahkan sampai kedalam pemerintahan. Keluarga Wijaya sendiri sudah masuk didalamnya tapi tidak sekuat tempat keluarga Bobby, kalau pun mendapatkan pekerjaan melalui proses normal tidak lebih.
“Kalau tidak menikah dengan Mira yang akan ibu lakukan adalah menikahkan aku dengan sepupu Bobby” semua memandang Austin bingung “Helena, tahu?” semua memandang bingung Austin “saudara Bobby dimana dia adalah wanita kuat dengan segala perhitungannya dan ibuku ingin aku menikahinya.”
Wijaya mencoba mengingat siapakah Helena sebenarnya karena tidak satu pun ingatan tentang wanita tersebut, memilih untuk tidak peduli dengan perkataan Austin dimana masih banyak pekerjaan yang menunggu dirinya. Wijaya berpamitan pada mereka untuk berada dikantor milik ayahnya Hadinata Corporation yang membawahi pabrik makanan dan juga semen, tidak hanya itu ayahnya memiliki toko sendiri untuk menempatkan semen – semen itu disamping menyalurkan pada toko lain.
Wijaya sendiri disana sebagai staf pemasaran awalnya dan baru saja menempati posisi sebagai direktur penasaran yang memiliki pimpinan dibawah ayahnya, jika orang menganggap Wijaya menempati posisi penting dengan mudah semua tidak benar karena harus melakukan berbagai macam tes baik itu dari ayahnya dan juga pimpinan perusahaan.
“Bagaimana perkembangan penjualan?”
Wijaya menatap anak buah yang ada dihadapannya dengan tatapan datarnya yang membuat satu per satu menjelaskan apa yang terjadi dalam lapangan, memberikan sedikit pekerjaan pada mereka berupa target yang harus dilakukan bulan depan. Penjualan yang berjalan sangat lambat membuat pemasukan tidak berjalan lancar belum lagi dengan mereka yang harus menyimpan barang jadi yang pasti akan menyebabkan kerugian.
“Bagaimana tadi bersama Bobby?” menatap Vita yang tiba – tiba masuk kedalam ruangannya “Muklis bilang kamu lagi luang makanya aku bisa masuk dengan mudah, maaf.”
Wijaya mengangguk “bagaimana pun juga kamu nantinya akan jadi istriku jadi sudah pasti akan sering datang kesini” tidak melepaskan pandangan dari Vita yang tampak berbeda dibandingkan sebelumnya “rasanya ada yang berubah?”
“Mama sama ibu ngajak ke salon makanya aku nggak bisa bertemu sama Bobby. Persiapan pernikahan sudah berjalan hampir selesai dan tidak ada lagi jalan untuk menghindar.”
“Bagaimana kalau kita buat perjanjian pernikahan?” Wijaya mengerutkan keningnya mendengar kata – kata Vita “kamu pria bebas pasti masih ingin mencari wanita yang benar – benar kamu cintai jadi kalau sudah menemukan orang yang dicintai maka kamu bisa menceraikanku.”
“Tidak akan terjadi dan jangan bermimpi akan hal itu. Pernikahan ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir bagi kita berdua” menatap tajam pada Vita “apa ada pria yang kamu sukai?”
Vita menggelengkan kepala “aku memikirkan kamu sebagai pria karena bagaimana pun kamu pasti menginginkan wanita yang bisa mencintai dan dicintai sepenuhnya.”
“Pernikahan tanpa cinta sudah dilakukan kedua orang tua kita dan tidak ada masalah sama sekali.”
Vita menghembuskan paksa mendengar jawaban Wijaya “kamu tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana percintaan kedua orang tua kita” Wijaya mengangkat alisnya mendengar perkataan dari Vita “atau begini saja beritahu aku jika kamu menemukan wanita yang kamu cintai saat itu.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” memberikan tatapan datar pada Vita “bercerai?”
“Tidak, bukan itu” Wijaya mengangkat alisnya mendengar jawaban Vita “aku akan melancarkan semua keinginan kamu bahkan membantu kamu mendapatkan wanita itu, anggap saja sebagai balasan terjebak dalam pernikahan tidak menyenangkan denganku.”
Wijaya mengangguk mendengar tawaran Vita “lantas bagaimana dengan kamu?”
“Tidak ada pria yang aku cintai jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, dalmi m benakku saat ini adalah bagaimana membuat kamu bahagia di kehidupan kedepan meski tanpa aku.”
“Aku tidak akan menceraikan kamu apa pun itu yang terjadi.”
Vita mengangguk “aku tahu itu jadi hanya memberikan tawaran demikian.”
Mereka berdua terdiam dimana hanya saling memandang satu sama lain seakan membaca pikiran masing – masing, kedekatan mereka berdua sudah terjalin semenjak kecil bahkan berada dalam satu sekolah yang sama dan tidak terpisahkan sama sekali. Saling memahami satu sama lain karena terlalu sering bersama membuat mereka hanya diam seperti saat ini dengan saling menatap, memutuskan kontak mata mereka dengan kembali fokus pada pekerjaannya.
“Pernikahan akan dilaksanakan beberapa minggu lagi dan perjanjian ini akan tetap terlaksana.”