"Ayo! Katakan sejujurnya, di mana kau habiskan uang perusahaan kami? Kapan kau lunasi hutang-hutangmu yang tertunda, mana janjimu!" sergah Andre bersiap untuk memukul Hardi sudah tak berdaya berlumuran darah di sekitar bibirnya, dan hidungnya.
Ya, Andre memukulnya hingga babak belur saat Hardi kembali masuk kantor. Hardi bekerja salah satu perusahaan bidang perjudian berada di Filipina. Hardi telah melakukan kesalahan yang fatal, ketika ia mempergunakan uang perusahaan untuk berjudi melihat dari aplikasi biasa disebut BIGO LIVE.
Setelah pemilik perusahaan itu mulai mencurigai keuangan, dan hasil kemenangan dari member terbengkalai. Pada akhirnya, mereka pun selidiki ternyata uang yang dikirim dari bank ke bank lain berbeda rekening. Mereka pun mencurigai Hardi telah mengorupsi uang perusahaan untuk kesenangannya sendiri.
Hardi tidak menjawab apa pun, ia telah pasrah dengan kehendaknya. Di mana lagi ia mencari uang untuk membayar uang dipakai olehnya. Sementara istrinya berasa di Indonesia telah pasrah, tidak ada lagi uang yang bisa mereka berikan. Semua telah dijual habis, dari perhiasan perkawinan, rumah yang baru ia beli harus di tarik kembali ke pemilik properti, bahkan asuransi dari putra pertamanya pun ditutup untuk tidak melanjutkan pembayaran.
"Kenapa diam? Kapan kau lunasi hutang yang telah kau gunakan? Kau pikir hebat, setelah menjadi leader di sini. Uang kami, kau pegang seakan itu milikmu! Kau pikir diam-diam kau mainkan uang senilai lima miliar. Kami tidak tahu? Aku beri kau waktu satu minggu untuk melunasi semua pemakaian yang kau gunakan, jika salam waktu satu minggu itu kau tidak melunasinya, bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal pada istri tercinta dan keluargamu?!" ucap Andre memberi keringanan tetapi dibalik itu semua Hardi tidak bisa menjawab 'iya' karena tetap saja Andre bukan lelaki yang penuh kasihan.
***
Sementara di Indonesia, Anita sedang duduk sambil bermain ponsel miliknya, ia pun asyik membalas chat dari teman online. Ya, Anita gini telah menjadi seorang penulis salah satu Platform. Bahkan ia telah menjelit keberbagai penjuru Platform. Apalagi, ia telah mencetak beberapa buku novel segala penerbitan.
Diusia yang sudah berkepala dua itu. Anita tidak pernah putus asa. Walaupun ia tahu situasi tidak mendukung. Apalagi kasus menimpa abangnya sedang tidak baik. Dengan segalanya Anita lakukan adalah menulis cerita untuk bisa membantu abangnya bisa kembali pulang ke tanah air.
Anita bukan tidak mau membantu abangnya, ia diam-diam mencari solusi untuk bisa membantu lunasi hutang dari perusahaan itu. Namun yang bisa Anita lakukan? Ia tidak bisa berbuat banyak, uang royalti yang ia dapat hanya beberapa ratusan rupiah saja. Itu tidak akan cukup untuk melunasi hutang tersebut.
Apalagi Anita kasihan melihat istri abangnya, dan juga kedua anaknya yang lucu menggemaskan. Ia berharap ada keajaiban bisa memberi keringanan padanya. Siapa yang tahan atas pertengkaran suami itu?
Apalagi Anita mendengar sendiri, perusahaan itu memberi batas waktu satu minggu untuk bayar semuanya. Anita hanya bisa bungkam, ia tak bisa berpikir jernih. Sedangkan ceritanya masih belum terjual laris atau pun laku terjual. Apa yang bisa ia lakukan untuk ini?
***
Satu minggu pun tiba, Andre kembali menemui Hardi. Tentu membawa sesuatu di tangannya. Ya, sebuah kayu balok untuk memukul Hardi kembali. Tidak hanya Andre seorang tetapi bersama anggota lain untuk mengeroyok Hardi. Hardi hanya pasrah jika ia akan mati di sini. Tentu dengan segala ia berikan cuma ajalnya saja.
Andre tak banyak bicara ia kembali memukulnya, hingga Hardi terperosot tidak berdaya di lantai. Tangan dan kaki dipatahkan oleh anggota Andre. Bahkan, bibir pun sobek atas tinju dari Andre, bukan itu saja matanya juga uda biru sembab, dan hidung mungkin tulangnya patah.
Andre pun berjongkok, dan mengangkat dagu Hardi yang bersimbah darah itu. Andre cukup kasihan padanya, namun itulah keadaan jika melanggar peraturan dari perusahaan.
"Aku tanya sekali lagi? Kapan kau lunasi hutangmu? Aku sudah menunggu hari ini, tapi kau tetap tidak melunasinya? Apa kau sudah siap untuk dijemput oleh sang iblis? Mungkin saja, kau sudah siap akan ajalmu?!" Andre mengayunkan kayu baloknya, akan tetapi suara panggilan dari komputer Facebook massager berbunyi.
Andre pun berhenti, kemudian ia langsung melihat layar komputer ukuran lima inci. Terpampang wajah seseorang. Ya, wajah Anita di foto profil.
Andre tidak jadi memukul Hardi, Andre pun mendekati meja kerja Hardi, karena panggilan dari Anita tidak terjawab, dengan cepat Andre meng-klik profil Facebook adiknya Hardi.
Terdapat senyuman tipis, Andre langsung mengetik, dan meng-invite facebooknya. Entah apa yang dipikirkan oleh Andre saat ini. Setelah selesai, ia pun kembali berjongkok, dan mendekatkan telinga Hardi dibisikkan sesuatu padanya. Hardi cuma diam setelah Andre meninggalkan kantor, dan membiarkan Hardi tidak berdaya penuh simbah darah tersebut.
***
Dua minggu sudah, tidak ada lagi kabar dari abangnya Anita. Bahkan keluarga pun tidak menanyakan kabar keadaan putranya di sana. Apalagi keadaan telah kembali normal. Namun, Anita masih aktif mengetik dan membuat cerita. Meskipun ia tidak terlalu aktif di jam tertentu. Karena di rumah sekarang pada sibuk, sang iparnya membuka usaha makanan di depan rumah. Sembari mencari nafkah untuk kedua anaknya yang masih kecil. Bahkan suaminya di sana cuma bisa mengejar, dan meminta untuk cari uang itu untuk membayar.
Anita mengira setelah kasus itu tidak ada kabar lagi, pada malam harinya. Anita mendapat sebuah kejutan yang tidak terduga selama ini. Ya, abangnya menelepon istrinya, dan meminta Anita untuk bersiap-siap. Apalagi, Hardi meminta Anita untuk memakai pakaian yang cantik. Hanya satu cara agar dirinya pulang dengan selamat setelah ia sembuh dari bekas pukulan. Hardi akan pulang bersama dengan Andre.
Tentu Anita was-was akan hal pemberitahuan dari abangnya. Tetapi Anita tidak ingin berpikir hal negatif, kelegaan yang dibuat oleh abangnya itu pun tenang.
****
Tiga hari berikutnya, sesuai kabar dari Hardi, ia pun tiba di Indonesia. Tentu Anita tidak menuruti perkataan dari abangnya untuk memakai pakaian bagus. Di rumah sedang ramai, karena banyak pembeli. Jadi Anita menjaga keponakan sedangkan iparnya melayani pembeli.
Pukul 5 Sore, sebuah mobil masuk ke halaman depan rumah. Per-tepatan pula Anita sedang menggendong keponakan yang masih balita berusia 3 bulan. Seseorang keluar dari mobil itu, namun Anita masih mengamati dua orang lelaki, dan membuka pintu seseorang keluar, itu adalah Hardi--abangnya.
Setelah itu Hardi masuk ke rumah bersamaan dengan dua lelaki mengikuti Hardi dari belakang. Tetapi salah satu lelaki itu memperhatikan Anita untuk ikut masuk ke rumah. Namun Anita tidak menunjukkan ekspresi apa pun pada lelaki yang berikan senyuman padanya.
Ketika berada di dalam rumah, Anita berikan segelas minuman dingin untuk tamu dari abangnya. Abangnya duduk bersamaan dengan dua lelaki itu, dapat Anita lihat dua orang lelaki itu seumuran dengan abangnya, namun salah satu dua orang itu lebih tua. Masih memperhatikan Anita terus. Anita memilih masuk ke kamar iparnya mengayun anaknya akan tidur.
Lalu mama Anita pun menyambut dua orang lelaki dan juga istri Hardi. Di sana sedang berdiskusi sangat serius. Bahkan Anita memilih untuk tidak ikut campur. Ia menyanyikan lagu untuk keponakan agar mau tidur.
Tetapi lelaki itu masih mengamati Anita sibuk mengayunkan putra bungsunya Hardi sembari memainkan ponsel kesayangan itu. Setelah bercakap-cakap serius.
"Aku datang ke sini, bukan bermaksud melepas Putra Anda, Tante! Aku membawa Putra Anda pulang ke tanah air. Telah sepakat sudah aku janjikan pada Putra Anda! Mungkin Putra Anda sudah memberitahukan soal hal ini, kami datang untuk menukar hutang dari Putri Anda, Tante!" ucapnya.
Diana terkejut atas ucapan dari lelaki itu. Ya, lelaki itu adalah Andre, dan juga satu anggota kepercayaannya adalah Antoni. Hardi bisa menunduk tidak berani menatap mamanya.
"Apa maksud kau?" Diana tidak mengerti maksud ucapan Andre tadi.
Andre membungkuk dan mulai serius, ia pun menceritakan se-detailnya atas sepakat akan menukar hutang Hardi ke Anita. Tanpa disadari oleh mereka. Diana seakan sesak tiba-tiba, ia tidak dapat percaya jika putranya memilih menukarkan ganti rugi dari adiknya sendiri, Anita.
"Aku akan menarik putri Anda menjadi istriku, jika Tante tidak setuju. Maka Hardi akan kami ke pihak berwajib atas mengorupsi perusahaan kami, mungkin hukuman Hardi semakin berat, dan seumur hidup," ucap Andre seakan mengancam.
Anita yang akan keluar dari kamar iparnya, ketika mendengar langsung dari bibir lelaki terus memperhatikan dirinya. Betapa syok untuknya, bahkan Diana seorang mama mana rela menjual putrinya demi menukar ganti rugi perbuatan putranya sendiri.
Hardi hanya bisa pasrah, ia harus menyetujui sepakat itu. Biarlah dirinya dianggap egois, mementingkan dirinya sendiri. Hanya itu ia bisa bebas dari kandang harimau.
Andre pun melirik Anita, seakan senyuman itu mengancam nyawanya. Anita malah sangat marah, tentu ia tidak akan mau menikah dengan lelaki seperti Andre. Dari sikapnya saja dapat Anita rasakan, bahwa Andre terlalu angkuh, kejam, dan pasti hidupnya tidak akan bahagia.
"Aku tidak setuju!" bantah Anita berani bersuara, walau dari cara nadanya sedikit gentir. Ya, demi dirinya. Ia tidak akan mau menikah dengan lelaki seperti Andre.
"Baiklah, polisi sebentar lagi akan tiba, jika tidak setuju, mungkin bukan Hardi yang akan masuk penjara, tetapi istrinya juga," ucap Andre semakin mengancam.
Rinda, istrinya Hardi pun terpaku kaku. Ia tidak berkutik setelah apa diucap oleh Andre tadi.
"Sudah turuti saja!" titah Rinda meminta Anita menyetujui permintaan Andre.
Anita langsung melayangkan api pada iparnya, ia tidak menyangka jika dirinya dijadikan percobaan. Bahkan satu keluarga baru memilih diri sendiri tanpa memikirkan dirinya.
"Daripada kau di sini tidak ada pekerjaan lain? Mending menikah saja, jadi beban listrik di rumah sedikit ringan," tambah lagi Rinda bersuara.
Anita tak bisa menahan rasa amarah, seakan tetesan air mata itu pun mengalir membasahi wajahnya.
Andre pun bangun dari duduknya, dan menghampiri Anita. Andre tidak peduli sikap Anita padanya. Yang pasti semua telah sepakat setuju akan membawa Anita ke Filipina. Melanjutkan pekerjaan sebagai seorang istri yang baik.
Andre merangkul Anita begitu mesra, Anita mencoba untuk menghindar dari rangkulannya. Diana tidak bisa berbuat apa pun. Andre membisikkan sesuatu pada Anita.
"Kau akan lebih bahagia jika menikah denganku, kau tidak akan merasa kekurangan apa yang kau inginkan. Daripada kau di sini? Lihat? Mereka tidak peduli padamu, mereka hanya memikirkan diri sendiri."
Anita pun mengamati mamanya, kakak iparnya, dan juga abangnya. Ya, benar. Anita tidak dianggap keluarga ini. Ia merasa kesal, ia sangat menyayangi mereka apalagi keponakan yang lucu. Apa sudah saatnya ia memilih untuk ikut dengan lelaki di sampingnya? Bukankah Anita berharap akan mendapat pasangan hidup ideal, dan mengubah masa depannya. Mungkin ini yang terbaik, menyetujui hasil lunas dari ganti rugi abangnya.
Sesuai dijanjikan dan sepakat, akhirnya Anita pun mengemaskan pakaian. Sementara Andre dan Antoni menunggu di depan sembari merokok. Lalu Rinda seperti biasa meladeni pembeli yang terus datang. Lalu Diana kamar belakang sedang menelepon putrinya yang jauh. Memberi kabar kepada mereka bahwa Anita akan meninggalkan tanah kelahirannya. Setelah semua dikemas sedemikian rupa. Ia pun keluar kamar, sekali lagi ia melirik kamar untuk terakhir kalinya. Lalu ia menarik koper itu ke depan rumah. Antoni pun langsung membantu mengangkat kopernya ke mobil. Sedangkan Andre membuang puntung rokok yang ia isap tadi. Sebelum berangkat ke negara tetangga, Anita berpamitan pada mamanya. Tetapi saat di depan pintu kamar mamanya. Anita tidak sengaja mendengar percakapan dari mamanya itu.
"Biarlah, asal Hardi sudah pulang. Mungkin sudah waktunya Anita menikah, kapan lagi? Menunggu pacar yang tidak jelas itu? Sampai kapan pun Anita tidak akan dinikahkan oleh lelaki tidak jelas itu. Kalau dilihat dari lelaki itu, dia serius!" ucapnya.
Anita merasa sedih, bukannya menolak. Percuma ia menetes air mata. Mungkin ia akan memulai hidup baru, jika mereka memilih tak menginginkannya.
Kota Manila, letak Asia Tenggara, sebelah utara Indonesia, dan Malaysia. Filipina merupakan sebuah negara kepulauan yang terletak di Lingkar Pasifik Barat, negara ini terdiri dari 7.641 pulau.
Disinilah Anita berada, ia telah menikah dengan seorang lelaki bernama Andrean Chandra, orang dekat memanggilnya Andre, diusia telah berkepala tiga, 35 tahun. Beda tipis 7 tahun diusia Anita sekarang ini, 28 tahun. Saat meninggalkan tanah kelahiran Indonesia, Anita berharap pilihannya benar-benar tepat, dan bahagia atas pilihan dari lelaki sekarang telah menjadi suaminya.
Menikah tanpa pesta mewah, hanya sekadar makan biasa. Tanpa orang tua atau pun saudara, hanya pernikahan instan dari anggota Andre bekerja di perusahaan ini. Meskipun begitu, setelah menikah. Anita bukan mendapatkan kebahagiaan. Anita diminta oleh Andre melayani nafsunya.
Hatinya teriris, Anita berharap apa yang ia inginkan itu benar-benar nyata, dan ada. Ia salah, keputusan menuruti permintaan, keputusan memilih menjauh dari keluarga, adalah hampa.
Anita tak mengenal siapa pun orang-orang yang bekerja di sini. Anita hanya diperintah oleh Andre untuk menetap di apartemen sekarang ia tinggal. Tiap pagi, siang, malam, Anita hanya disuguhi beberapa perlengkapan yang lengkap, bahkan kebutuhan makanan di apartemen tak berkurang sama sekali. Namun, Anita merasa sama saja, menikah seperti tidak menikah. Ia ditinggal seorang diri di sini. Hanya memandang langit pagi hingga malam.
Walau ia merasa kesepian, tidak ada yang bisa dijadikan bahan untuk bersenang-senang. Apalagi tertawa, kadang ia ingin menelepon orang rumah, menanyakan kabar mereka di sana. Harus diizinkan dari Andre. Ponsel miliknya tidak memiliki kartu asal Filipina. Ya, Andre tidak mengizinkan dirinya berkomunikasi dengan siapa pun.
Bahkan internet saja, harus minta izin pada pemiliknya. Seakan hidup bergantungan padanya. Apakah ini hukuman dari abangnya melewati dirinya?
Anita menatap langit apartemen yang luas. Tidak ada yang bisa ia lakukan di sini. Lama-lama ia bosan berada di sini. Cukup membayangkan seharian di rumah. Bermain dengan keponakan lucu dan menggemaskan, rindu suara tawa, dan tangisannya. Bahkan rindu meneriaki abangnya yang nakal setiap ada pembeli datang, selalu merusuh. Rindu kampung halaman yang selalu mengajak dirinya obrol. Bahkan ia juga rindu pada saudaranya tiap sabtu pulang kumpul di rumah, tertawa bahagia.
Hanya tetesan air mata yang mengalir di ujung matanya. Ya, hanya itu yang bisa ia rasakan ketika merindukan mereka. Ia berharap mereka menanyakan kabar dirinya di sini. Entah sampai kapan ia merasa sepi berada di negara orang.
Mungkin dengan memejamkan kedua matanya, ia dapat memimpikan orang ia sayangi. Walau hanya mimpi, asal ia bisa melepaskan rindunya. Ya, rindu yang begitu pilu. Ia tidak peduli pada air mata terus mengalir membasahi tiap ujung wajahnya.
Namun Anita merasa sesuatu hangat dibagian bibirnya. Ya, ia sejak pernikahan Andre memang tidak pernah menyentuh dirinya. Entahlah, baginya ia tidak terlalu berharap. Namun sebagai istri tentu berharap akan melayani dengan baik. Bukan karena ia mengharap banyak.
Wajar seorang wanita telah menikah, pasti akan memberi hak yang layak untuk suami. Anita tidak berani membuka kedua matanya, ia membiarkan pangutan bibirnya menyatu. Bahkan sebuah sentuhan itu pun menyeringai rasa yang hangat dan panas.
Anita membiarkan, ya, mungkin Andre tidak ingin mengganggu tidurnya. Akan tetapi Anita cukup menikmati gejolak setiap menyentuh. Apakah Anita benar-benar seperti wanita jalang. Wajar, ini normal. Bukan karena ia tidak pernah disentuh oleh siapa pun. Ia hanya ingin di sentuh atas suka sesama suka.
Larut demi larut, rasa itu kemudian menghilang. Anita pun dengan cepat membuka matanya. Ia memandang langit tetapi warna langit itu beda. Perasaan ia masih di ruang tamu. Kenapa sekarang ia telah di kamar? Ia tidak merasakan seseorang menggendong dirinya.
Ia pun bangun, ia berhenti sesaat, menunduk. Ia terbengong kembali, sejak kapan ia berganti pakaian? Lalu arah kamar mandi seseorang keluar. Anita memicingkan, ia memiliki mata minus. Jadi wajar ia tidak terlalu jelas siapa lelaki sedang bersamanya. Anita berharap lelaki yang keluar dari kamar mandi itu adalah Andre.
Ketika lelaki itu berbalik badan, lelaki itu senyum padanya.
"Kau sudah bangun?" ucapnya ramah. Anita melebar kedua matanya. Ia tidak percaya, itu bukan Andre. Tetapi ....
****
"Hei! Bangun!"
Anita langsung membuka matanya, ia masih belum sadar. Menatap wajah yang tidak ia harapkan. Menunggu, penumpang ada di pesawat telah turun, tinggal dirinya dan Andre masih di tempat duduk.
Anita terbengong, walau ia saat ini masih di pesawat, belum tiba di negara Manila/Filipina.
Ia kembali melirik arah jendela di mana dirinya duduk. Ternyata ia telah tiba di negara Malaysia. Dengan segera ia pun turun membelakangi Andre.
Anita sangat jelas mengingat mimpinya. Tidak mungkin, apakah itu hanya halusinasinya.
Ia berharap Andre tidak seperti itu, bukankah dia katakan, dia akan membahagiakan dirinya?
Sekarang Anita berada salah satu tempat makan. Andre sedang memesan makanan, sedangkan pengikutnya Antoni duduk berhadapan dengannya. Anita sesekali melirik Antoni. Ia mencoba membuang pikiran pada mimpinya. Antoni pun mencuri perhatian pada Anita dari tadi menggeleng kepala, dan memukul kepalanya.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Kalau mau bunuh diri jangan di sini?!" sergah Antoni menangkap tangan Anita untuk tidak berbuat konyol.
Anita sontak menarik cepat tangan Antoni. Antoni malah mengangkat satu alis atas sikapnya. Anita pun bangun dari duduk, kemudian Antoni mendongak dan mengamati dirinya.
"Mau ke mana?" tanyanya, "Toilet!" balas Anita sedikit ketus pada Antoni. Tapi dalam hati, ia grogi, dan gugup kalau berbicara dengan lelaki itu.
Antoni pun tidak bertanya lagi, ia melanjutkan main ponsel kesayangannya. Anita beranjak meninggalkan tempat makan, dan mencari kamar kecil. Berpapasan pula Andre membawa nampan berisi beberapa makanan di sana.
"Mau ke mana?" Andre bertanya pada Anita. Anita langsung menjawab tanpa menoleh tatapan Andre. "Toilet!"
Satu jam Anita pun kembali ke tempat makan, di sana Andre dan Antoni baru saja selesai mengisi perut mereka. Anita kembali duduk, Andre melirik dirinya.
"Ke mana saja? Aku kira kau tersesat?! Aku baru mau minta tolong sama informasi bandara menyebut identitas mu?!" sindir Andre. Ternyata Anita salah menilai sikap lelaki ini, ternyata Andre punya sisi humor juga.
"Kau pikir aku anak kecil?" balas Anita masih sama ketusnya.
Andre terkekeh-kekeh mendengar balasan dari Anita, apalagi Antoni cuma senyum cool. "Aku cuma tanya saja. Mana tau kau tersesat di sekitar bandara yang seluas pulau samudra. Apa yang akan kukatakan nanti pada mamamu, bahwa kau hilang saat akan melanjutkan perjalanan menuju ke Filipina!" seru Andre masih bercanda.
Dua jam telah berada di bandara Malaysia, mereka pun akan bersiap melanjutkan perjalanan menuju ke Filipina. Untung bawaan Anita tidak banyak, jadi ia tidak terlalu capek. Untuk saat ini sikap dua lelaki itu baik padanya, entah hari esok berikutnya apakah sikap Andre dan Antoni akan lebih ramah lagi?
Sampai juga di Negara Filipina, capek juga duduk berjam-jam di pesawat. Enam jam bukan hal untuk Anita sendiri. Biasanya ia duduk dari Malaysia ke Kamboja 5/4 jam. Belum lagi perjalanan menuju asrama 5 jam, lengkap sampai di penginapan pun sudah sore.
Bagaimana dengan Filipina? Apakah akan sama dengan Kamboja. Mungkin tidak, karena Filipina beda jam dengan negara Kamboja dan Indonesia.
Anita berdiri tidak jauh pengambilan bagasi, koper miliknya, dan koper dua lelaki itu. Anita bosan juga duduk di suruh menunggu. Boleh dikatakan lama sih. Setelah itu mereka pun menghampiri Anita. Anita tentu menarik kopernya, namun Antoni malah mengalihkan koper itu. Sentuhan jari Anita dengan Antoni. Membuat Anita kembali menjauh, Antoni cuma senyum tidak tahu maksud senyuman itu.
Ternyata di sana sudah di tunggu oleh mobil jemputan. Antoni memasukkan koper ke belakang mobil, lalu Anita sudah duduk di belakang posisi supir. Andre duduk di depan, sedangkan Antoni duduk bersebelahan dengan Anita.
Perjalanan menuju ke apartemen mereka, Anita memandang arah luar kota Filipina. Ia tidak pernah melihat kota Filipina. Entah kenapa mata Anita terasa berat, mungkin ia kurang tidur. Ia pun memejamkan kembali matanya sebentar.
Antoni sedang sibuk dengan ponselnya kemudian ia tidak sengaja melirik samping, wajah wanita itu terlihat sangat pulas. Ia pun tanpa ragu menyandarkan kepala di jendela posisi menyamping memandangi Anita tengah tertidur sangat lelap.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki pengisian bensin. Andre keluar sebentar untuk merokok, sementara Antoni mengeluarkan ponselnya, dan membuka kamera, lalu mengangkat sedikit ke arah wajah di mana Anita sedang tertidur sangat nyenyak. Setelah pas, ia pun mengambil namun ia lupa mematikan suara kamera tersebut, sehingga Anita terbangun.
Dengan cepat Antoni memindahkan posisinya, tetapi dibalik senyuman itu membuat ia puas dan berhasil.
"Kau tidak haus?" Antoni menawarkan minuman kepada Anita. Anita menoleh dan memandangi botol air mineral itu.
"Kenapa dilihat saja? Tidak ada isi obat apa pun?!" tambahnya berikan pada Anita.
Anita memang dari tadi haus, dengan cepat ia pun meminum hingga seperempat. Antoni suka lihat wajah imut-imut setiap memandang dari samping.
"Kalau saja aku lebih dulu kenal kau, mungkin kau sudah ku jadikan istri," gumam Antoni pelan.
Sontak Anita menoleh menatapnya. "Hah? Kau mengatakan sesuatu?" Anita bertanya. Ia harap tidak salah mendengar apa yang Antoni bergumam.
"Tidak ada? Memang aku mengatakan sesuatu? Perasaan kau saja," elaknya.
Andre kembali masuk ke mobil dan melanjutkan lagi perjalanan mereka. Andre mengintip lewat kaca depan spion, di sana ia melihat Anita masih tidak berubah ekspresi wajahnya.
*****
Akhirnya sampai juga di apartemen Andre, besar juga apartemennya dan tinggi apalagi, Anita pun mendongak sampai pegal lehernya. Antoni menarik koper Anita, Anita mengekori dua lelaki itu hingga tiba ke nomor kamar tuju.
Saat Anita masuk, ia berhenti di depan pintu. Iya, Anita berhenti di sana. Ia seolah melihat jelas sekali. Posisi dalam apartemen yang ia lihat sekarang sama di mimpinya.
Andre menoleh, menatap wanita itu masih terpaku diam di sana. Antoni baru saja meletakkan koper Anita di kamar posisi tengah.
"Ada apa? Kenapa bengong saja? Ayo masuk?! Besok kita harus cepat bangun. Masih banyak yang harus aku kerjakan?!" ucap Andre bersuara, menyadarkan Anita dari lamunannya.
Anita hanya bisa harap cemas jika mimpi itu tidak nyata. Ia tidak ingin itu terjadi, bahkan kamar yang ia tidur nanti bersebelahan dengan Antoni, apa yang akan terjadi jika dirinya tinggal bersamaan dengan dua lelaki itu?
****
Anita menyeka keringat di keningnya, ia baru saja memasukan pakaiannya di dalam lemari sudah tersedia. Ia tidak bisa bayangkan kamar selebar ini ia tidur seorang diri? Ia menarik seulas senyuman. Kemudian ia menghempaskan badannya di atas tempat tidur begitu empuk itu.
Sesekali ia mengayunkan kedua tangannya seperti bentuk kupu-kupu mengepak sayapnya. Sambil memandang langit gambar tersebut. Belum lagi aroma kamar ini juga sangat wangi, bersih, sejuk, dan adem. Apalagi di balik tirai golden tertutup itu ternyata adalah tempat santai memandang langit kota malam.
Tidak terasa sudah menuju malam, Anita meringkuk sebentar dirinya dan memejamkan matanya. Ia ingin merasakan kebahagiaan sejenak, walaupun ia tidak hari esok apakah akan seperti ini lagi?
Antoni keluar dari kamarnya yang bersampingan dengan kamar di mana Anita berada. Antoni menggosok rambut yang masih basah habis keramas. Ia tidak sengaja mencuri perhatian di kamar itu. Seorang wanita tengah meringkuk seperti bayi sedang tidur pulas.
Antoni melangkah untuk masuk ke kamar itu, tetapi ia melirik sebentar, takut Andre tiba-tiba kembali dari urusannya. Merasa aman, ia pun masuk tanpa sepengetahuan dari wanita dalam keadaan tertidur.
Antoni berjongkok di sisi tepi ranjang sambil memandang wajah Anita yang sangat pulas itu. Ia menyingkirkan anak rambut menutupi wajah imut itu. Cukup lama memandangi wajah Anita, hingga ia turun memandang bibir tipis merah merona itu.
Antoni menelan air liurnya, entah apa yang merasuki dirinya. Sesekali menyentuh bibir itu, ia takut membangunkan dirinya.
Entahlah sejak pertama melihat Anita saat membawa Hardi pulang, Antoni sudah kagum padanya. Mungkin bagian sisi kelembutan dari sifat wanita ini. Sayang pada keponakan, kedua mempunyai sisi keibuan, namun malangnya Anita harus dijadikan pengganti rugi atas perbuatan Hardi sendiri.
Kalau dirinya di posisi Hardi, lebih baik tidak merelakan adiknya menjadi istri kedua Andre. Siapa mau? Antoni sangat tahu apa yang direncanakan Andre. Menikahi wanita bukan karena cinta, tetapi sebagai budak seksnya. Anita tiba-tiba bergerak memindahkan posisinya, Antoni segera menjauhkan tangannya, ia takut wanita itu sadar jika dirinya ada di kamar ini. Tetapi Antoni tidak ingin pergi dulu, ia ingin melihat lebih lama wajah imut dan lucu saat Anita dalam keadaan tidur.
*****
Tiba-tiba Anita terbangun karena perutnya berbunyi, dilihat jam ponselnya. Terbukalah sangat lebar kedua matanya, sudah pukul 8 malam. Ia tidak sadar sudah berapa jam dirinya tertidur. Ia pun bangun dan terbengong siapa yang menyelimuti dirinya. Daripada banyak berpikir, ia pun lekas turun dari tempat tidur, kemudian masuk ke kamar mandi, untuk mandi tentunya. Tidak butuh waktu lama ia pun keluar dengan pakaian sudah ia ganti dengan pakaian tidur.
Ia pun keluar dari kamar tersebut, tercium aroma sangat sedap sekali di hidungnya. Di sana seseorang sedang menyiapkan makan malam, ada menu masakan khas rumahan. Antoni berbalik, dan senyum pada Anita.
"Sudah bangun? Nyenyak, kah? Pas pula makan malam baru selesai aku masak. Ayo, makan! Pasti kamu sudah lapar dari tadi tidur kau nyenyak sekali," ucap Antoni mengisi nasi untuk Anita.
Anita duduk, dan melihat menu lauk di piring. Sepertinya terlihat sangat lezat. Antoni pun ikut duduk berhadapan dengannya. Tanpa sengaja kedua kaki mereka bersentuhan, membuat Anita tersentak kaget. Meja makannya terlalu kecil, maka untuk ukuran mereka tidak seimbang, apalagi badan Antoni kayak kingkong.
"Ups! Sori, terlalu kecil mejanya. Maklum meja murah, biasa tidak pernah makan seperti ini. Bos Andre yang minta masak untukmu," katanya.
Anita tidak merespons ia pun menaruh lauk sayuran hijau di atas piringnya. Antoni makan begitu lahap, sambil mencuri perhatian.
Makin lama Antoni bakal jatuh cinta pada Anita, kalaupun dirinya sudah dinikahi oleh Andre sebagai jaminan bayaran.
"Kalau aku bayar hutang abang mu, kau mau nikah sama aku?" ungkap Antoni, membuat Anita tersedak sesuatu pada tenggorokannya.
Antoni langsung menuangkan minuman pada Anita. Anita langsung meneguhkan hingga habis, sampai mengeluarkan air matanya.
"Sori, sori, kau pasti kaget?! Aku hanya tidak tega kau diduakan oleh dia," lanjutnya lagi.
Anita mengernyit maksud dari ungkapan Antoni. "Maksud kau?"