Meisya berlari kecil menuju lapangan basket, setelah pertandingan selesai matanya berbinar dengan sebotol air di tangannya.
"Angkasa!" Panggilnya.
Hal itu membuat Angkasa beserta teman-temannya menoleh. Pria itu menatapnya datar dengan satu alis terangkat.
Sedangkan Meisya dengan senang hati memberikan minuman itu kepada Angkasa. "Buat kamu!" ucapnya.
"Cie aku kamu, neng geulis siapa namanya atuh?" Goda Gara, mengedipkan satu matanya kepada Meisya.
Gadis itu melotot tajam, berkacak pinggang menatap tak suka ke arah Gara.
"Jauh-jauh, Meisya alergi orang jelek!" ucapnya, membuat mereka semua meledakkan tawa.
Angkasa tersenyum tipis melihatnya, namun dia hanya diam tak ada tanda-tanda jika dia akan mengambil botol air itu.
"Ayo Angkasa, ambil!" Meisya menarik tangan Angkasa lalu memberikan botol air mineral itu.
"Sorry, gue alergi air putih apalagi dari tangan cewek cebol kayak lo!" ucap Angkasa lalu pergi.
Mereka semua tertawa mengejek, bukan dari teman-teman Angkasa melainkan dari para siswa-siswi yang lain.
"Makanya jadi cewek gak usah ganjen, sok kecakepan banget sih!"
"Tau, emang enak dikatain cebol sama Angkasa, haha!"
Meisya hanya diam, bibirnya mengerucut sebal merasa kesal dengan ucapan Angkasa. "Awas aja, aku aduin mami."
****
"HUWAAA, MAMIIII!" Meisya menghentakkan kakinya kesal, masuk ke dalam rumah besar nan mewah.
"Sayang, kenapa?" Seorang wanita cantik, turun dari tangga terlihat panik saat melihat putri kesayangannya pulang sembari menangis.
"Mami Angkasa jahat, hiks!" Meisya memeluk erat tubuh maminya.
Nara tersenyum tipis mendengar ucapan putrinya. Sudah biasa jika Meisya selalu menangis jika tentang Angkasa.
"Angkasa kenapa lagi, hm?" Nara mengusap kepala putrinya sayang, sembari memberi kecupan singkat.
"Angkasa---"
"Assalamualaikum, Tante." Mereka berdua menoleh saat melihat kedatangan Angkasa, yang sudah memakai baju bebas.
"Ngapain ke sini, pulang sana Meisya nggak mau ketemu sama Angkasa!" Gadis itu berkacak pinggang.
Matanya yang bulat dan berkaca-kaca terlihat begitu menggemaskan di mata Angkasa. "Gemes!"
Angkasa malah mencubit pipi gadis itu pelan, membuat Meisya semakin kesal. Dia menepis tangan Angkasa agar menjauh dari tubuhnya, kembali menempel pada tubuh maminya.
"Mami usir dia, Meisya nggak mau ketemu sama Angkasa lagi. Dia nyebelin!" omelnya.
Angkasa terkekeh mendengarnya, duduk di sebelah gadis itu mengacak rambutnya gemas. "Tante, bilangin sama Meisya kalau Angkasa minta maaf!"
"Mami, bilang sama Angkasa kalau Meisya nggak mau maafin dia. Habisnya Angkasa nyebelin, buat Meisya kesel mulu!"
"Tante, bilangin ke Meisya kalau Angkasa ngelakuin semua itu buat dia. Karena Angkasa nggak mau calon istri Angkasa kenapa-napa."
Nara bergeleng pelan, bisa-bisanya dia dijadikan perantara di saat keduanya duduk bersampingan.
"ANGKASA!" teriak Meisya kesal.
"Apa sayang?"
*****
"Udah ngambeknya!" Angkasa mencubit pipi bulat Meisya namun gadis itu hanya diam. Masih merasa kesal!
Satu setengah jam Angkasa membujuknya namun tetap saja Meisya masih kesal kepadanya, hal itu membuat dia frustasi.
"AAA SAYANG UDAH DONG JANGAN NGAMBEK TERUS, MAU PELUKKK!" rengek Angkasa.
Angkasa membawa tubuh kecil Meisya ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat. Sampai gadis itu susah nafas.
"Lepas! ngapain peluk-peluk Meisya. Bukanya Angkasa alergi sama Meisya yaudah pulang sana ngapain masih di rumah Meisya!" Usirnya.
Angkasa memeluk tubuh gadis itu dari samping menjatuhkan kepalanya pada bahunya, menghirup dalam-dalam aroma wangi dari tubuh Meisya.
"Itu berlaku buat di sekolah aja, di rumah nggak. Di sekolah kita nggak kenal, kalau di rumah Meisya punya Angkasa!" ucapnya.
"Kenapa? Angkasa malu kalau deketan sama Meisya?" tanyanya sedih.
"Bukan gitu sayang, udah ah nggak usah di bahas lagi." Angkasa memeluk tubuh Meisya semakin erat, terdengar helaan nafas panjang dari Meisya.
"Angkasa sekarang pulang, Meisya mau bobo." Angkasa menggeleng, menatap lekat mata gadis itu.
"Mau bobo bareng!" ucapnya.
Mata Meisya melotot galak, mendorong tubuh Angkasa begitu saja sampai dia terjatuh ke bawah.
"NGGAK BOLEH, MAU AKU ADUIN MAMI! MA----"
"Shut! bercanda sayang." Buru-buru Angkasa membekap mulut Meisya jika sampai dia mengadu bisa panjang urusannya.
Angkasa menatap lekat mata Meisya lalu perlahan melepas bekapannya. Kedua tangannya mengusap pipi Meisya pelan.
Cup
"Mat bobo, cebol kesayangan Angkasa!" ucapnya, membuat Meisya kesal, meski begitu Meisya tak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya.
Setelah pulang dari rumah Meisya, Angkasa menyusul teman-temannya di tongkrongan warung Mang Jajang.
"Woi, dari mana lo?" Gara yang tengah asyik memakan mie ayam favoritnya menoleh saat melihat kedatangan Angkasa.
"Rumah," balas Angkasa singkat. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Gara.
"Sa, entar malam ada balapan motor. Hadiahnya 10 juta, lo mau ikut nggak?" tanya Bagas.
Angkasa terdiam beberapa saat, dia tidak ada jadwal ke rumah Meisya. Bolehlah dari pada gabut di rumah.
"Gue ikut!" Semua teman-temannya bersorak pastinya mereka sangat senang.
Di saat Angkasa turun ke arena balap. Siapapun lawannya pastinya Angkasa lah pemenangnya, dan yang paling membahagiakan lagi adalah hadiah balap motor itu Angkasa berikan kepada mereka semua. Pesta kemenangan!
"Btw, cewek yang kasih lo minum tadi siapa?" tanya Gara mulai penasaran.
Angkasa menggedikan bahunya acuh, asyik bermain ponselnya melihat foto-foto Meisya yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
"Cantik sih, tapi galak bener euy!" kekehnya. Bagas ikut tertawa terlebih saat mengingat ucapan Meisya tadi.
"Kalau gak salah dia anak XII IPA 3 tetangga kelas kita." Gara menatap intens ke arahnya, membuat Bagas waspada.
"Apa lo?"
"Kok lo tahu? jangan-jangan dia mantan gebetan lo ya?"
Plak!
"Bacot!" Angkasa menggeplak kepala Gara membuat laki-laki itu menatapnya aneh sembari mengusap kepalanya yang terasa nyut-nyutan.
"Aku salah opo to Mas?" ucap Gara dengan ekspresi yang di buat-buat membuat Bagas begitu jijik saat melihatnya begitu juga Angkasa.
Bagas memainkan ponselnya melihat satu foto yang menempel di galerinya. Dia tersenyum tipis, entah kenapa dia merasa rindu kala melihat foto gadis itu kembali.
"Masih gamon? Kenapa nggak coba lo cari keberadaa dia?" tanya Angkasa.
"Udah, gue tetep nggak ketemu kemana Kara pergi. Dia benar-benar menghindar dari gue, gue juga yang salah seharusnya gue nggak pernah ngungkapin perasaan gue ke dia!" lirih Bagas.
Angkasa menepuk bahu Bagas pelan. "Lo nggak salah, jatuh cinta sama seseorang itu bukan sebuah kesalahan. Dengan lo ngungkapin perasaan lo ke dia justru buat lo sadar kalau dia terima artinya kalian saling mencintai tapi kalau dia nolak artinya lo harus berhenti dan lupain dia dari hidup lo!" jelas Angkasa.
Bagas tersenyum miris. "Bodohnya gue udah di tolak tapi masih berharap. Gue kangen banget sama dia, harusnya dia nolak gue nggak perlu ninggalin gue kayak gini."
"Kara itu cewek polos wajar kalau dia kabur dari lo secara dia di cintai sama om-om!" celetuk Raga.
Malam harinya, Angkasa telah siap untuk mengikuti balap motor liar. Dengan didampingi kedua temannya, Bagas dan Gara. "Lo udah siap, Sa?"
Angkasa mengangguk menutup helm full facenya, menatap sang lawan yang tidak dia kenal. Saling menatap tajam satu sama lain. Satu wanita dengan pakaian mini maju di antara mereka berdua, dengan bendera kotak-kotak hitam putih.
"Are you ready, Guys!!"
"Ready!" teriak semua orang.
Theee
Two
One
"Go!"
Motor Angkasa melaju kencang, baru awal tapi dia sudah memimpin, membuat yang lain bersorak gembira. Menurut Angkasa lawannya kali ini sangat tidak sepadan dengannya, satu putaran sudah dia lewati, jaraknya dengan lawan pun cukup jauh. Kurang sedikit, dan....
"Yes, Angkasa menang!" sorak teman-temannya.
Angkasa tersenyum tipis di balik helmnya, menjadi kesenangan sendiri saat dia dapat memenangkan balapan, melepas helmnya, menyugar rambutnya ke belakang.
"Good job!" Gara menepuk bahu Angkasa pelan, sedangkan Bagas menerima hadiah dari kemenangan Angkasa.
"Party, gays!" ucapnya.
Angkasa mengambil ponselnya saat melihat telepon dari sang cebol kesayangannya. Dia berjalan sedikit menjauh dari kebisingan. Agar dapat mendengar suara Meisya dengan jelas.
"Angkasa, hiks!" Wajah Angkasa terlihat panik saat mendengar suara tangisan dari sang penelpon.
"Hei, kenapa? are you okay, Baby?" tanyanya cemas, buru-buru Angkasa memindahkan panggilan telepon biasa ke panggilan Vidio.
Dari sini dia bisa melihat wajah sembab kekasihnya, mata juga hidungnya terlihat sangat merah. "Kenapa, hm?" tanyanya lembut.
"Angkasa, boneka Doraemon Meisya hilang, hiks. Beliin sekarang!" ucapnya terisak.
Angkasa menghela napas panjang, hanya karena boneka pelakor itu. Sungguh Angkasa sangat kesal, sebenarnya boneka itu tidak hilang, tetapi dia yang sengaja menyembunyikannya.
"Tadi siang masih ada, sekarang udah nggak ada. Udah Meisya cari kemana-mana tapi tetep aja nggak ketemu!" adu Meisya.
"Nggak usah dicariin, ngapain sih cariin boneka botak itu? Gak jelas!" cetus Angkasa, membuat Mesiya semakin kesal.
"Huwaa, Angkasa jahat! Meisya aduin mami nih!" teriaknya.
"Diem! Ya udah nggak usah nangis, gue otw ke sana bawain boneka lo yang jelek itu!" Raut wajah Angkasa terlihat sangat datar.
"Janji, Meisya mau boneka yang besar. Nggak mau yang kecil, kalau kecil nggak bisa di peluk!" ucapnya.
"Peluk gue aja, ngapain peluk benda mati!" cetusnya.
"Angkasa!" rengek Meisya.
"Ck, iya-iya gue bawain." Setelahnya Angkasa menutup panggilan sepihak, dengan wajah tertekuk sebal.
Jika dalam hubungan orang lain pelakornya adalah manusia beda lagi dengan cerita mereka berdua yang pelakornya adalah sebuah benda mati, boneka Doraemon.
"Woi, Sa! Mau kemana lo?" tanya Gara. Angkasa memakai kembali helm full facenya.
"Balik, nyokap udah telpon suruh pulang. Kalian party sendiri aja!" Setelahnya motor Angkasa melaju kencang dari sana meninggalkan wajah Cengo teman-temannya
"Tumben!" celetuk Gara.
****
Angkasa masuk ke dalam toko boneka mencari boneka pelakor itu dengan kesal, dia heran padahal boneka Doraemon Meisya sangatlah banyak, tetapi kenapa hilang satu saja dia bisa tahu. Menyebalkan!
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya sang penjual.
"Saya mau beli boneka pelakor!" cetusnya, penjual itu terlihat bingung tak mengerti akan ucapan Angkasa.
"Boneka pelakor, Mas?" tanyanya bingung, Angkasa tersadar akan ucapannya.
"Maksud gue boneka Doraemon, gitu aja lo gak tau!" cetusnya, kenapa jadi dia yang marah.
Penjual itu hanya tersenyum mengelus dada mencoba sabar, lalu menunjukkan boneka Doraemon dengan berbagai macam variasi juga ukurannya.
"Jadi mau yang mana, Mas?" Angkasa melihat-lihat boneka Doraemon yang terletak di etalase tersebut lalu mengambil satu yang besar sesuai permintaan Meisya.
"Yang ini!" Tanpa bertanya harga boneka tersebut, Angkasa langsung memberikan lima lembar uang merah lalu pergi begitu saja. Moodnya sedang tidak baik!
Wajah penjual itu nampak Cengo. "Mas, uangnya kebanyakan!" ucapnya.
"Buat lo aja, gue gak butuh!" Terdengar tak sopan, tapi untungnya penjual boneka itu memang masih muda.
Tok Tok Tok
"Angkasa!" Dia sempat terkejut saat Meisya langsung memeluk tubuhnya erat. Wajahnya mendongak menatap binar ke arahnya.
"Angkasa baik, makasih!!" teriak Meisya saat melihat boneka kesayangannya, saat Meisya akan mengambilnya Angkasa buru-buru menjauhkannya.
"Enak aja main ambil, ganti dulu!" Mata Meisya mengerjab lucu, menatap sendu ke arah Angkasa.
"Angkasa mau Meisya ganti uangnya? Ya udah tunggu dulu, Meisya minta uang ke papi dulu!" Saat Meisya akan masuk, Angkasa lebih dulu menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Ck, bego! Ngapain gue minta ganti uang sama lo kalau duit gue sendiri udah banyak." Angkasa memeluk tubuh Meisya erat.
"Arghh, gue kangen banget sama lo, Meisya. Peka dikit kek!" Meisya tersenyum kecil mendengarnya membalas pelukan Angkasa lebih erat.

"Angkasa nggak mau masuk dulu? Meisya mau nunjukin sesuatu ke Angkasa!" Pelukan itu terlepas, saat tangan kecil Meisya menarik Angkasa masuk ke dalam rumah. Meisya membuka pintu kamarnya membuat mata Angkasa membulat. Napasnya memburu kesal dengan tangan terkepal erat.
Pelakor sialan! geramnya.

Kamar Meisya entah sejak kapan berubah menjadi serba Doraemon seperti itu, membuat mata Angkasa panas saat melihatnya. "Bagus kan? Meisya yang minta ke papi supaya kamar Meisya di desain Doraemon!" ucapnya antusias.
"Jelek! Jijik gue lihatnya, apaan sih kek bocil lo!" cetus Angkasa.
Mata Meisya berkaca-kaca mendengarnya, dengan kesal memukul dada Angkasa kuat. "Angkasa yang jelek Angkasa yang kayak bocil, pulang sana!" usirnya kesal.
"Ck, gak tahu diri lo. Udah gue beliin boneka sekarang gue malah mau lo usir." Kesalnya.
"Salah sendiri Angkasa nyebelin!" Kesal Meisya melipat kedua tangannya di dada, dengan bibir menggerucut sebal.
Angkasa memeluk tubuh Meisya dari belakang menjatuhkan kepalanya pada bahu gadis itu.
"Gue cemburu, Meisya! Kenapa sih lo nggak peka-peka!" kesal Angkasa, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Meisya.
"Lo lebih suka ke boneka sialan itu ketimbang gue!" ucap Angkasa dengan nada jutek.
"Ih nggak gitu, Mesiya lebih suka ke Angkasa!" Tubuh Meisya berbalik memeluk tubuh Angkasa erat.

"Masa Angkasa cemburu sama boneka sih!" kekeh Meisya. Tangannya melingkar di leher Angkasa erat, memberi kecupan singkat pada pipinya.
"Gue cemburu! Nggak perduli kalau dia cuma boneka. Tetep aja gue gak suka, dia selalu lo peluk pas tidur tapi lo gak pernah mau gue peluk! Nggak adil."
Meisya terkekeh geli. Mengusap kepala Angkasa pelan. "Sekarang kan udah Meisya peluk! Angkasa nggak boleh cemburu sama boneka Doraemon lagi ya!"
Angkasa hanya diam semakin mengeratkan pelukan mereka. "Boneka Doraemon lo ada berapa? Kenapa lo bisa tahu kalau boneka lo hilang satu?"
Angkasa mendongakkan kepalanya menatap ke arah Meisya. "Ada banyak, tapi Meisya selalu tahu kalau bonekanya hilang, Karena ada namanya!"
Satu alis Angkasa terangkat. "Emang yang hilang namanya siapa?" tanyanya.
"Yang hilang namanya, Austin! Yang paling ganteng, Meisya nggak tahu kok bisa hilang. Meisya tanyain ke Mami katanya juga gak tahu!" Angkasa bergeleng pelan.
Boneka saja namanya sangat bagus. Meisya teringat sesuatu lalu menarik tangan Angkasa untuk mengikutinya. "Angkasa Meisya beli tas baru, tempat minum baru, sama sepatu baru. Lucu-lucu tau, papi yang beliin!" ucapnya.
"Bagus kan?" Angkasa semakin pusing melihatnya, Meisya benar-benar bisa membuat dirinya gila.
"Lo mau sekolah pakai itu semua?" tanyanya ragu, semoga saja jawaban Meisya tidak. Namun, dengan santainya Meisya mengangguk, mencoba memakai tas Doraemon itu.
"Baguskan?" ucapnya sembari memutar tubuhnya, tas itu terlihat sangat lucu.
"Gak, lo gak boleh ke sekolah pakai tas itu. Apalagi sepatu itu, lo mau kena hukum!" pelototnya.
"Kan bisa Meisya pakai waktu olahraga, kenapa sih dari tadi Angkasa marah-marah mulu!" Bibir Meisya kembali menggerucut sebal.
"Lo yang buat gue marah-marah Meisya, astaga! Pakai tas yang biasa lo pakai aja. Lo mau di ketawain anak-anak pakai tas begitu!" ucap Angkasa mencoba sabar.
"Mereka ngetawain Meisya karena iri, tas inikan limited edition. Meisya di beliin papi di luar negeri, satu bulan baru sampai sekarang."
"Terserah lo, gue mau pulang!" Angkasa pergi begitu saja membuat Meisya menghentakkan kakinya kesal.
"Angkasa jelek, nyebelin!" teriak Meisya kesal.
"Angkasa!" teriak Meisya.
Angkasa berbalik menatap ke arah siswi yang tengah mengenakan baju olahraga dengan rambut di kuncir kuda, tas Doraemon, sepatu Doraemon lengkap dengan Tumbler Doraemon di tangannya.
"Shit, dia udah gila!" rutuk Angkasa.
Angkasa menatap datar ke arah Meisya seolah mereka tak saling mengenal. Dari kejauhan Angkasa melihat Gara dan Bagas tengah berjalan menuju ke arah mereka. "Ck, lo ngapain pakai tas itu Meisya!" ucap Angkasa lirih.
"Kenapa? Meisya suka, tasnya lucu kok!" ucapnya.
Angkasa bergeleng pelan, melihat jarak temannya yang semakin dekat membuat Angkasa memberi jarak dengan Meisya. "Anak TK lo? Tas, sepatu, sama tumbler yang lo bawa bikin mata gue sakit tau gak!" cetus Angkasa.
Gara bersama Bagas meledakkan tawanya saat melihat ke arah Meisya. Gara mendekatinya dengan tawa meledek. "Ck, anak TK mana, dik? Kok bisa nyasar ke sini?" Ledeknya.
Meisya menatapnya tajam, dengan mata melotot kesal. "Meisya bukan anak TK, minggir dasar kumpulan orang jelek suka nyinyir!" ucapnya sembari mendorong tubuh Gara.
Meisya pun dengan sengaja menabrak bahu Angkasa keras. "Awas aja Meisya aduin Mami nanti!" bisiknya.
Angkasa tersenyum tipis mendengarnya. Angkasa tidak terlalu khawatir dengan itu semua, meskipun Angkasa berlagak sok tidak kenal dengan Meisya. Tapi gadis itu sendiri pun tak pernah lemah setiap kali diejek dia justru berani melawan dengan ucapan absurdnya.
"Anjir, dia berani ngatain kita jelek. Baru kali ini ada cewek yang berani sama kita!" ucap Gara.
"Spesial tuh cewek!" Celetuk Bagas, sembari menatap ke Angkasa.
"Apa!" ucap Angkasa sewot. Merasa tak terima dengan tatapan Bagas yang mengintimidasi ke arahnya. Bagas hanya bergeleng, ketiganya segera masuk ke dalam kelas karena jam masuk baru saja berbunyi.
****
Meisya duduk di bangku kelasnya tak perduli dengan tatapan mengejek dari teman-temannya dia suka, dan orang lain tak berhak menjudge apa yang dia sukai.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Selamat pagi, Pak." Setelah kedatangan Pak Marko tak lama kemudian datang seorang gadis cantik dengan tatapan datar. Dari penampilannya terlihat sekali jika dia gadis tomboy.
"Hari ini kelas kalian kedatangan siswi baru, silahkan perkenalan nama kamu!" ucap Pak Marko.
"Hai semua, kenalin nama gue Lala!" ucap gadis itu datar. Sedari tadi Meisya terus menatapnya, matanya terus mengerjab lucu.
"Baik, Lala kamu boleh duduk di sebelah Meisya!" Kebetulan di sebelah bangku Meisya memang tidak ada yang menempatinya.
Lala mengangguk segera duduk di sebelah Meisya dia sempat menatap ke arah tas, sepatu juga Tumbler yang Meisya letakkan di meja, serba Doraemon.
"Lucu!" ucap Lala.
Mendengar itu membuat Meisya tersenyum kecil baru kali ini ada gadis yang memujinya seperti itu, selama ini mereka pasti akan selalu mengejeknya karena kesukaannya pada Doraemon. "Nama lo siapa?" tanya Lala, sembari mengulurkan tangannya.
"Meisya!" Dengan senang hati Meisya membalas uluran tangan siswi baru itu.
"Baik anak-anak sekarang waktunya olahraga, kalian semua segera menuju lapangan dan untuk kamu Lala segera ganti baju!"
"Baik, pak!"
Meisya mengantar Lala ke kamar mandi, mulai saat ini Meisya sudah mengklaim Lala sebagai sahabatnya. "Lala mau temenan sama Meisya kan?" tanyanya lirih.
Lala yang tengah bercermin menatap ke arah Meisya dengan senyum tipis. "Waktu gue minta kenalan sama lo, itu artinya lo udah resmi jadi sahabat gue!"
"Yee, akhirnya Meisya punya temen!" Soraknya. Lala menatapnya dengan kerutan di dahi.
"Emang selama ini lo nggak punya temen?" tanyanya.
Meisya menggeleng wajahnya terlihat sedih, dia sendiri pun tidak tahu kenapa tidak ada yang mau berteman dengannya. Banyak yang mengejek jika Meisya gadis aneh, karena kecintaannya terhadap Doraemon. "Nggak ada. Lala, emang salah ya kalau Meisya suka sama Doraemon? Emang aneh ya?" tanyanya.
Lala menggeleng tersenyum tipis ke arah Meisya. "Nggak aneh, itu kesukaan lo. Mereka nggak berhak ngejudge apa yang lo suka, biarin! Nggak usah di dengerin ucapan orang-orang suka iri kayak mereka!" ucap Lala.
Meisya mengangguk, senyum di bibirnya mengembang. "Makasih, Lala baik deh!" ucapnya.
Lala terkekeh pelan, dia merasa gemas dengan Meisya. Entah apa yang mereka pikirkan sampai menjudge gadis semenggemaskan Meisya.
"Ayo ke lapangan!"
*****
Angkasa menatap lekat pada seorang gadis yang tengah berjalan santai dengan siswi lain yang terlihat asing di matanya.
"Meisya sama siapa?" Monolognya, wajahnya terlihat cemas. Angkasa mengambil ponselnya untuk menghubungi Meisya.
Cebol
Lo sama siapa?
Woi cebol!!
Bales!!
Angkasa mengeram kesal saat pesannya hanya dibaca oleh Meisya. Dia menatap tajam pada gadis yang juga menatap ke arahnya tak kalah galak. "Balas!" Bibir Angkasa bergerak tanpa suara, namun Meisya malah memalingkan wajahnya kesal.
"Ck, ngambek lagi tuh bocah!" kesal Angkasa.
Dia terus memperhatikan dari jauh, Angkasa tengah duduk di kantin. Yang tak jauh dari lapangan, membuat dia bisa melihat jelas ke arah Meisya. Angkasa mengambil ponselnya berharap Meisya membalas pesannya tapi tetap saja, tak ada balasan pesan masuk dari nomor gadis itu.
Angkasa dengan sabar menunggunya sembari mengawasi Meisya dari jauh. Untungnya Angkasa tinggal sendiri, teman-temannya tengah berada di gudang sekolah yang sudah Angkasa sulap menjadi tempat istirahat. Dari luar memang terlihat kusam, namun di dalamnya tidak bisa diragukan lagi kemewahannya. Ruang rahasia yang Angkasa dan teman-temannya buat.
"Meisya, awas!"
Bugh!
Angkasa menoleh cepat, matanya terpaku saat melihat tubuh Meisya limbung ke belakang setelah kepalanya terkena lemparan bola basket.
"Meisya!" teriak Angkasa, dia segera berlari ke arah lapangan tak perduli dengan tatapan orang-orang kepadanya.
Angkasa segera menggendong tubuh Meisya membawanya ke ruang UKS. Dia sama sekali tak peduli dengan banyaknya mata yang menatap aneh ke arahnya. Yang dia khawatirkan sekarang adalah kondisi kekasihnya. Kebetulan UKS dalam keadaan sepi, membuat Angkasa panik harus apa.
"Sayang, bangun!" bisik Angkasa lirih,
Tangannya mengusap lembut pipi Meisya. Mengambil minyak kayu putih mengoleskannya pada pelipis dan leher Meisya agar gadisnya segera bangun. Meisya menggeliat, kedua matanya mengerjab pelan. Tangannya memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Auh!" ringisnya.
"Sayang, mana yang sakit hm?" tanya Angkasa lembut.
Meisya menatapnya aneh, sebelum kembali memejamkan matanya.
"Maaf, Anda siapa ya?"