Bab 2

TERLAMBAT LAGI

Sudah hampir seperempat jam Kenanga menunggu angkutan umum di depan komplek perumahannya. Namun angkot yang lewat selalu penuh. Duuuh...masa harus terlambat lagi ? Dari rumah Kenanga menuju kampusnya yang berada di pinggiran kota harus tiga kali naik angkutan kota. Kalau saja ia punya sepeda motor, tentu akan sangat membantunya agar bisa cepat sampai di kampus. Kenanga tak habis pikir kenapa Ibu justru membelikan Arfan sepeda motor. Padahal jarak dari rumah ke sekolahannya hanya sekali naik angkutan umum dan jaraknya pun dekat sekali. Sementara Kenanga dibiarkan naik angkutan umum padahal jarak kampusnya lebih jauh. Bahkan disaat waktunya mepet, Arfan tidak pernah sudi meminjamkan sepeda motornya pada kakaknya itu.

Kenanga harus mengambil keputusan cepat. Ia segera memesan ojek online yang bisa mengantarnya langsung ke kampus. Meski untuk itu ia harus membayar lebih mahal. Tapi tidak mengapalah demi agar tidak terlambat lagi. Butuh waktu lama juga baru ojeknya datang. Ia langsung minta abang ojeknya untuk ngebut.

Namun apa dikata, walau Kenanga sudah berusaha keras tetap saja ia telat sampai di kampus.Tanpa pikir panjang, selesai membayar ojeknya ia lari secepat-cepatnya melintasi lorong-lorong kelas yang sudah sepi karena perkuliahan sudah dimulai. Ia terpaksa mengehentikan larinya ketika seseorang mencegatnya. Hampir melotot matanya saking kesalnya pada orang yang menghadangnya itu. Duuuh... kenapa mesti ada penghalang sih ?

“ Maaf, Mbak. Mau nanya, ruang kelas B4 sebelah mana ya. Saya mahasiswa baru di sini, jadi belum tahu letak-letak ruang kelas. “ Pemuda itu bertanya dengan sopan. Hampir saja Kenanga menyemprotnya karena sudah menyita waktunya yang super duper berharga saat itu. Tapi... ruang kelas B4, itu kan kelas nya juga ? Dan anak ini mahasiswa baru, hm..... bisa dimanfaatkan !

“ Oke, ikut saya ! Tapi kamu harus bilang nanti bahwa saya terlambat karena membantu kamu registrasi tadi di TU ya. “ Pemuda itu mengangguk tersenyum mengerti.

Dengan berdebar-debar Kenanga mengetuk pintu, bersiap menerima omelan Pak Burhanudin. Atau bahkan mungkin ia akan langsung diusir keluar dan tidak boleh lagi mengikuti perkuliahan sampai akhir semester. Dan itu artinya tidak bisa ikut ujian semester ini. Dan terundur lagi pengajuan proposal skripsinya. Ya Tuhan, tolong aku !

“ Masuk ! “ Terdengar suara dari dalam. Tapi itu bukan suara Pak Burhanudin. Suara siapakah ? Adakah teman-temannya yang iseng ? Berani-beraninya...

Pelan Kenanga mendorong pintu. Ia terkejut melihat bukan Pak Burhanudin yang duduk di kursi dosen. Tapi seorang anak muda yang ganteng, kalem dan bermata teduh, tengah menatap dirinya. Ragu-ragu Kenanga melangkah mendekati.

“ Maaf, saya terlambat. Pak Burhanudin mana ? “ Terdengar bergetar suara Kenanga.

“ Mulai hari ini saya menggantikan Pak Burhanudin mengajar Metodologi Penelitian. Kamu yang bernama Kenanga ? “ Sesaat tadi Kenanga lega karena Pak Burhanudin sudah diganti dosen baru. Ia berharap segala dosanya terhapus dengan pergantian dosen tersebut. Tapi ketika dosen itu menyebut namanya, sadarlah ia bahwa daftar dosanya sudah berpindah ke tangan dosen baru tersebut. Dengan lemah ia mengangguk.

“ Silahkan duduk. Tapi tengah hari nanti temui saya di ruang dosen. “ Katanya pada Kenanga

“ Baik, Pak. Terima kasih, “ jawab Kenanga lemah. Pemuda yang tadi masuk bersamanya berbicara sesaat dengan Pak Dosen muda tersebut, lalu menyusul duduk di kursi kosong di samping Kenanga.

Jam sepuluh kuliah selesai, Harusnya Kenanga sudah bisa meninggalkan kampus, tapi karena tadi dia disuruh menemui dosen baru tersebut ia harus menunggu sampai tengah hari nanti. Sekarang dosen muda tersebut masih ada kelas di ruang lain. Kebetulan ruang kelas yang ini kosong, Kenanga memilih untuk menungggu di kelas itu saja. Mau ke kantin uangnya tidak cukup karena sudah dipakai untuk bayar ojek tadi pagi.

“ Ngga pulang, Na ? Kan kamu ngga ada kuliah lagi hari ini ? “ Fauziya temannya mendekatinya.

“ Aku disuruh menemui dosen baru itu nanti siang. Jadi aku menunggu di sini saja. Kamu masih ada kuliah ? “

“ Ada nanti jam satu. Sekarang mau balik ke kos an saja dulu. Yuuk, ikut ke kosan aku saja, “ ajak Ziya. Biasanya kalau ada jeda waktu kuliah, Kenanga sering ikut ke kos an Ziya yang tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Tapi hari itu Kenanga lebih memilih menunggu i kampus saja. Di luar cuaca sangat terik.

“ Trimakasih, Zi. Aku menunggu di sini saja. Eh ngomong-ngomong dosen tadi itu siapa sih namanya ? Karena tadi aku terlambat jadi ngga mendengar waktu dia memperkenalkan dirinya. “

“ Namanya Arkatama Faturakhman. Ganteng.... anak-anak jadi pada ramai mengomentarinya. Kamu ingat presenter berita di tivi Iqbal Kurniadi ? Mirip, kan ? “ Ziya tersenyum penuh arti. Sepertinya ia siap bersaing dengan teman-teman wanita sekampus untuk merebut hati si dosen muda tersebut. Kecuali Kenanga yang tidak pernah mau memikirkan lelaki dalam hidupnya.

“ Bagiku yang penting bukan gantengnya. Tapi membolehkan aku tetap bisa ikut kuliah dan ikut ujian semester. Tinggal satu mata kuliah ini saja yang mengganjal. “

“ Makanya kamu jangan suka telat. Yuuk ah ! Aku duluan ya. “ Ziya menepuk bahu Kenanga.

Kenanga pindah duduk ke bangku paling belakang. Disandarkannya kepalanya ke dinding dan kakinya berselonjor ka atas kursi di depannya. Lumayan bisa mengistirahatkan diri sejenak. Nanti kalau sudah sampai di toko hampir tidak ada waktu istirahat baginya. Saat pengunjung ramai, ia pasti sibuk melayani para pembeli tersebut. Dan saat pengunjung sepi, ia harus menimbang gula, tepung dan lainnya menjadi kemasan kiloan.

“ Maaf, boleh mengganggu “ Terdengar suara seseorang di dekatnya. Kenanga membuka matanya. Ternyata anak baru tadi yang menyapanya. Kenanga memperbaiki duduknya dan menurunkan kakinya .

“ Boleh ikut duduk di sini ? “ Pemuda itu bertanya dengan sopan.

“ Silahkan. Kamu masih ada kuliah lagi nanti ? “ Kenanga berpikir bahwa pemuda itu belum pulang karena masih ada jadwal kuliah hari itu dan sekarang waktunya kosong. Tapi pemuda itu menggeleng.

“ Aku sengaja mencarimu ke sini. Oya... kenalkan aku Ghaf, Ghaffarel. “

“ Aku Kenanga, biasa dipanggil Nana. Untuk apa kamu mencari ku ? “

“ Aku baru pindah ke sini dari Bandung. Di sana aku sudah menyelesaikan hampir semua SKS untuk persyaratan pengajuan proposal skripsi. Tapi ada dua mata kuliah pilihan yang harus aku ambil plus mata kuliah Metodologi Penelitian. Perkuliahan sudah berjalan beberpa minggu, syukurnya aku boleh ikut kuliah dengan catatan tidak pernah absen sampai ujian semester nanti. Dan aku harus mengejar ketinggalanku dengan meminjam catatan dari teman yang sudah duluan ikut kuliah. Dosen yang bersangkutan yaitu Ibu Rani dan Pak Leon menyarankan agar aku menghubungimu, maksudnya meminjam buku catatan kamu. Aku berharap kamu mau membantuku. Aku ingin semester depan sudah fokus ke penyusunan skripsi agar cepat selesai kuliah dan bisa segera kembali ke Bandung. “ Kenanga mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir Ghaf. Dari Bandung pindah ke sini hanya untuk menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu kembali ke Bandung. Repot amat ! Mengapa tidak menyelesaikan kuliah di Bandung saja ? Atau mungkin ia punya kasus besar sehingga harus keluar dari kampusnya ? Tapi peduli apa ....

“ Kalau kedua mata kuliah pilihan itu aku sudah lulus semester kemaren. Dan buku-bukunya sudah masuk peti. Kalau kamu mau meminjamnya harus aku carikan dulu. “

“ Ya ngga apa besok juga. Maaf, jadi merepotkan kamu. “ Sopan sekali bicara anak itu. Sekilas Kenanga meliriknya. Anak itu lebih banyak menunduk walaupun saat berbicara. Dan pandangan matanya terlihat murung. Seperti menyimpan beban batin atau luka hatikah ?

“ Kalau ngga salah kamu menunggu Pak Arka ya ? “ Tanyanya. Kenanga mengangguk.

“ Bagaimana kalau kita menunggu di kantin saja ? “ Ghaf sudah mau berdiri. Kantin ? Ouww...Kenanga sangat ingat bahwa uang di dompetnya sangat terbatas. Kalau ia ke kantin maka ia harus jalan kaki pulang nanti. Dan itu sangaaat jauh ! Ia menggeleng.

“ Kamu saja. Aku ingin menunggu di sini sambil istirahat. “

“ Ayolah, aku traktir kamu. Hitung-hitung merayakan pertemanan kita. Kamu orang pertama yang jadi teman aku di kampus ini, bahkan di kota ini.. “ Sikapnya sangatlah sopan, Kenanga tak sampai hati menolaknya. Lagi pula perutnya memang lapar karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan.

Mereka memesan nasi soto dan jus jeruk. Sambil makan mereka mengobrol tentang banyak hal. Ternyata Ghaf baru dua hari sampai di Kota Padang ini. Ia bercerita bahwa mamanya orang Minang. Sedangkan papanya asli Bandung. Waktu kecil Ghaf pernah beberapa kali befkunjung ke kota ini bersama orang tuanya. Tapi setelah SMP ia tidak pernah lagi mengunjungi kota kelahiran mamanya ini. Baru sekarang lagi ia berada di sini.

Kenanga menceritakan banyak hal tentang kota ini juga tentang kampus mereka. Sekedar memberikan gambaran pada Ghaf.

“Okee Ghaf, sudah jam dua belas. Aku mau menemui Pak Arka dulu. Trimakasih traktirannya. InsyaAllah besok aku bawakan buku-buku yang kamu butuhkan. “ Kenanga melangkah meningggalkan kantin menuju ruang dosen.

Ghaffarel memperhatikan Kenanga yang semakin menjauh. Gadis itu sangat sederhana. Mengenakan kemeja garis-garis putih biru yang sudah pudar warnanya serta celana warna krem yang juga sudah terlihat lusuh. Tas ransel di punggungnyapun tak kalah muram tampilannya. Sepatu sneakers yang dikenakannya sudah tak jelas apa warna aslinya. Wajahnya mungkin kalaupun dipoles bedak sangatlah tipis. Hanya sekitar setengah jam sudah hilang bekas bedak tersebut dari wajahnya. Bibirnya mungkin belum pernah tersentuh lipstick. Tidak ada yang menarik dari penampilannya. Namun ada hal-hal pada diri Kenanga yang menarik bagi Ghaf. Ia tampil penuh percaya diri, sinar matanya bening berbinar menunjukan kecerdasan otaknya. Yang paling penting bagi Ghaf, Kenanga beda dengan banyak gadis yang dikenalnya. Sosok Ghaf yang tampan serta dilengkapi outfit mahalnya akan segera menarik perhatian para gadis. Banyak yang ingin jadi temannya bahkan jadi pacarnya. Itu Ghaf tidak suka. Sehingga ia menutup diri dari pergaulan. Namun beda halnya dengan Kenanga. Gadis itu tidak perhatian sama sekali pada penampilan Ghaf. Bahkan mungkin ia tidak tahu berapa mahal barang-barang yang melekat di tubuh Ghaf. Secepat itu ia merasa nyaman berinteraksi dengan Kenanga yang baru dikenalnya itu. Padahal selama ini ia sangat tertutup dan susah bergaul. Baik dengan sesama pria maupun dengan teman-teman wanita. Ia terlahir dari keluarga kaya-raya. Papanya punya beberapa perusahaan di Kota Bandung. Dan ia anak tunggal.

Banyak orang yang ingin jadi temannya. Baik lelaki apalagi kaum hawa. Kurang apa Ghaf, wajah tampan, keluarga tajir melintir. Tapi itulah, dia tidak suka berkumpul dengan mereka-mereka itu. Dia ramah ke semua orang, tapi tidak pernah mau bergaul secara dekat. Kecuali dengan Ray, Raiya nya. Mengenang nama itu wajahnya mendadak jadi murung. “ Dimana kamu, Raiya ? Dada ini mau pecah menahan rindu padamu. “ Bisik hatinya perih. Ray teman yang dikenalnya sejak di SMP. Dengan Ray ia merasa sangat nyaman. Ray sangat mengerti dirinya dan sangat perhatian padanya. Perhatian yang pelan-pelan mulai mencuri hatinya. Orang lain melihat mereka berdua hanya seperti sahabat biasa saja. Tidak ada yang mencolok. Padahal kalau Ray tidak hadir di sekolah, Ghaf merasa hatinya kosong sunyi sepi. Begitu juga kalau Ghaf tidak masuk sekolah, Ray akan gelisah, resah dan kesepian.

Tamat SMP mereka masuk ke SMA yang sama. Di SMA mereka berdua semakin merasa bahwa mereka berdua saling membutuhkan. Di SMA Ghaf dan Ray mulai mau bergaul dengan teman-teman sekolahnya baik teman cewek taupun teman cowok walau tidak pernah akrab. Di tengah para teman-teman, Ghaf dan Ray tidak pernah memperlihatkan kedekatan mereka. Yang orang tahu mereka berdua adalah sahabat baik saja. Dan di SMA pulalah hubungan keduanya semakin intim. Keduanya berpetualang dalam nikmatnya cinta tertutup mereka. Mereka memadu kasih dalam diam tanpa gembar-gembor.Ghaf dan Ray tidak ingin orang lain tahu hubungan mereka sampai suatu saat nanti. Cukuplah mereka berdua saja yang tahu betapa indahnya cinta yang mereka jalin dalam diam dan sunyi.

Saat masuk perguruan tinggi pun mereka tetap masuk jurusan yang sama, Sungguh tak terpisahkan. Kehadiran Ghaf saat main ke rumah Ray disambut baik oleh orang tua Ray. Begitu juga kalau Ray main ke rumah Ghaf ia disambut dengan tangan terbuka. Semua baik-baik saja. Sampai suatu ketika.....Mama Ghaf yang baru pulang dari bepergian ada perlu dengan Ghaf.Seperti biasa ia langsung ke kamar putranya itu dan membuka pintu tanpa mengetuk. Seketika ia terpaku di tempatnya. Tubuhnya menggigil melihat apa yang dilakukan Ghaf dengan Ray di atas ranjang tanpa sehelai pakaianpun ! Hanya istighfar yang keluar dari mulut. Sesaat setelah rasa terkejutnya hilang, ia berteriak sekuatnya.

“ Biadab kalian ! Apa yang kalian lakukan ? Ini sangat ....sangat terkutuk. Ya Tuhan... ! Ya Tuhan ...“ Tubuh wanita itu ambruk tak sadar diri di lantai.

Keputusan segera diambil oleh kedua orang tua mereka. Ray di kirim ke luar negeri tinggal bersama kerabatnya di sana. Luar negeri mana, Ghaf tidak diberi tahu. Dan Ghaf sendiri dibawa pindah ke kota Padang. Mamanya sampai bela-belain meninggalkan Papa Ghaf di Bandung sendirian demi menemani putra tunggalnya itu tinggal di Kota Padang. Hubungan komunikasi Ghaf dan Ray diputus. Orang tua mereka mengambil ponsel anaknya masing-masing dan menggantinya dengan ponsel baru dan nomor baru. Begitulah ceritanya mengapa Ghaf ada di kota ini sekarang. Luka hatinya membuat ia semakin tertutup pada orang lain. Kecuali pada Kenanga.

***********

Bab 3

Setelah melihat Pak Arka masuk ke ruang dosen, tak lama kemudian Kenanga menyusul masuk.

“ Selamat siang, Pak “ Sapanya hormat. Pak Arka yang baru saja duduk menoleh pada Kenanga di pintu. Ia mengerutkan keningnya melihat kehadiran gadis itu. Tapi ia segera teringat bahwa dia yang menyuruh gadis itu datang menghadap padanya siang ini.

“ Silahkan duduk, “ ucapnya datar. Pantas saja Pak Burhanudin antipati pada gadis ini. Selain suka terlambat, tidak ada yang menarik untuk dilihat darinya. Terlalu lusuh. Padahal ini kampus swasta ternama di kota ini. Dan sudah pasti mahal. Pastinya pula yang kuliah di sini adalah orang-orang dengan tingkat finansial menengah ke atas. Kenapa anak ini penampilannya begitu buruk ? Beda dengan kebanyakan mahasiswi di kampus ini yang sangat menjaga penampilan mereka. Hari ini adalah hari pertama Arka mulai mengajar di kampus ini, langsung mengajar dua kelas. Dan ia melihat mayoritas mahasiswi berpenampilan menarik dan berkelas. Di Bandung tempat ia kuliah dulu teman-teman perempuannya juga terlihat cantik dan menarik. Arka tidak suka gadis-gadis yang cuek dengan penampilannya.

“ Mulai hari ini saya menggantikan Pak Burhanudin mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian. Karena beberapa bulan ke depan beliau sama Ibu Maharani akan ikut proggram Short Course untuk Dosen di Jerman. Saya akan mengajar sampai akhir semester ini. Saya sudah dititipi catatan tentang kamu oleh Pak Burhanudin. “ Kenanga yang sedari tadi menunduk, tersentak dan mengangkat wajahnya menatap Sang Dosen. Ternyata ‘dosa’ nya adalah dosa tak berampun sehingga perlu diestafetkan pada Pak Dosen Baru ini. Ya Tuhan, ampuni hamba !

“ Ya, surat pernyataan yang kamu buat tempohari tetap berlaku. Dan tidak ada toleransi dari saya pada mahasiswa yang tidak bisa menghargai waktu. Kalau kamu ingin tetap ikut kuliah, ikut ujian semester dan bisa mulai menggarap skripsimu maka selalulah tepat waktu. “ Ketus sekali suara Dosen Muda itu.

“ Baik, Pak. Saya berjanji untuk selalu tepat waktu. “ Kenanga berucap pasti.

“ Ya sudah, silahkan keluar. “

“ Terima kasih, Pak. Permisi ! “ Kenanga segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Tapi...

“ Dan perbaiki juga penampilan kamu. “ Ia mendengar suara dosen itu sesaat sebelum sampai di pintu. Astaga ! Ia tahu penampilannya tidak sebagus teman-temannya. Tapi ketika hal itu diucapkan langsung pada dirinya oleh seorang laki-laki muda, tampan dan rapi dan dosennya pula, sungguh terasa menusuk hati. Kenanga menggigit bibirnya dan mengangguk dengan lemah.

Di luar ternyata Ghaf menunggunya.

“ Sudah selesai ? “ Tanyanya pada Kenanga yang terlihat berwajah murung. Pasti ada masalah dengan Pak Dosen di dalam tadi, pikirnya. Kenanga mengangguk.

“ Sekarang kamu mau kemana ? “ Ghaf menjejeri langkah Kenanga yang menuju gerbang depan.

“ Aku mau pulang. “

“ Ayo, aku antar ! Aku bawa mobil. Sekalian biar tahu rumahmu. “ Kenanga menggeleng.

“ Terima kasih, ngga usah mengantarku. Aku ngga pulang ke rumah, tapi ke tempat kerjaku. “

“ Kamu kerja ? Ya sudah, aku antar ke tempat kerjamu. Aku ngga ada kegiatan apa-apa hari ini dan aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kota ini. “ Kenanga malas berdebat. Lagian perasaannya betul-betul sedang tidak baik sejak bertemu dosen tadi itu. Pandangan mata sang Dosen pada Kenanga terlihat sangat meremehkan. Dan ucapan terakhirnya tadi itu betul-betul menyinggung hati Kenanga. Merobah penampilan pakai apa, Pak Dosen ? Untuk ongkos berangkat kuliahpun aku harus menghitung rupiah demi rupiah agar tidak kekurangan.

Ghaf mengantar Kenanga ke toko sembako tempat Kenanga bekerja. Sebuah toko gosir sembako yang cukup besar dan kelihatan ramai dikunjungi pembeli. Pastilah berkerja di tempat itu tidak ada waktu istirahatnya. Dan itu pasti sangat melelahkan. Satu lagi nilai gadis itu bertambah di matanya.

Hampir jam sembilan malam Kenanga baru tiba di rumahnya. Seperti biasa, rumah terlihat sepi. Keluarganya terbiasa makan malam sekitar jam tujuh. Jadi saat Kenanga pulang semua sudah selesai makan. Ayah dan Ibu sudah masuk kamar. Begitu juga kedua adiknya lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar mereka. Kamar adik-adiknya itu dilengkapi televisi yang membuat mereka jarang keluar kamar. Arfan dan Arfin satu kamar berdua. Rumah mereka hanya punya tiga kamar tidur. Satu untuk Ayah dan Ibu, satu untuk Kenanga dan satunya untuk kedua adiknya itu.

Karena Kenanga selalu pulang malam, ia membawa kunci duplikat sendiri agar tidak mengganggu yang lain saat ia pulang. Dinyalakannya lampu ruang tamu. Seperti ada yang bebeda... Ruang tamu rumah itu menyatu dengan ruang makan, hanya dibatasi oleh sebuah bufet pajangan sederhana. Daaan....kok ada tumpukan pakaian di balik bufet itu ? Juga ada tumpukan buku-buku. Kenanga berjongkok memeriksa. Hoouww... ternyata pakaiannya semua dan buku-buku itu juga miliknya. Kenapa semua barang-barang miliknya itu ada di luar kamar ? Kenanga selalu menyusun rapi pakaian dan buku-buku di dalam kamarnya. Bergegas dibukanya pintu kamar tidurnya. Ia terkejut melihat ruangan itu sudah berobah. Kasur busa tipis di lantai tempat biasa Kenanga tidur sudah tidak ada, berganti dengan ranjang baru. Dan di ranjang itu adiknya Arfin tertidur pulas. Lemari kecil yang biasa dipakai untuk menyimpan barang-barang milik kenanga sudah berganti dengan lemari dua pintu yang masih baru. Dibukanya lemari tersebut. Terlihat pakaian-pakaian Arfin tersusun di situ. Segala bola basket, sepatu-sepatu milik Arfin sudah pindah semua ke kamar Kenanga. Maksudnya apa ini ? Kamar yang satunya dipakai oleh Arfan. Lalu Kenanga tidur di mana ? Lunglai ia keluar dari kamar itu.

Diketuknya pintu kamar Ibu. Kenanga harus dapat penjelasan tentang semua ini. Keletihan dan rasa lapar yang dibawanya dari tempat kerjanya tadi mendadak sirna semuanya. Dadanya terasa sesak melihat semua yang ada di depan matanya saat itu. Lama ia mengetuk pintu baru ibunya muncul.

“Ada apa malam-malam kamu membangunkan Ibu ? “ Ibunya bertanya dengan kesal.

“ Kok barang-barang Nana ada di luar, Bu ? Trus Arfin kok tidur di kamar Nana ? “ Ibunya duduk di kursi makan sambil mengusap wajahnya yang mengantuk.

“ Oo.. itu. Mulai hari ini kamu tidur di samping meja makan ya. Kamu gelar kasur kamu di sini. Besok pagi lipat lagi kasurmu supaya ruangan tidak sempit. Itu adikmu Arfin ngga mau sekamar dengan Arfan. Sebab Arfan sering membawa temannya menginap. Ya terpaksa ia pindah ke kamar kamu. Kamu kan kalau siang tidak pernah di rumah dan kamarmu selalu kosong. Biarlah dipakai Arfin saja. Sekedar tidur kamu bisa di luar sini. “ Enteng sekali ibu berkata. Ibu memang selalu memaksakan kehendaknya pada Kenanga. Kenanga tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Dada Kenanga serasa mau meledak. Ia seorang anak gadis, masa harus tidur di luar ? Sedangkan adik-adiknya yang laki-laki dengan nyamannya tidur dalam kamar. Bagaimana sih pemikiran Ibu ? Semua ini dilakukan Ibu tanpa bicara dulu dengan dirinya. Kenanga merasa diusir dari rumahnya sendiri. Kurang berkorban apa lagi Kenanga terhadap kedua adik-adiknya itu ? Sebegitu rendahkah kedudukan seorang anak perempuan di mata Ibu ? Bukankah Ibu juga seorang perempuan ? Bukankah Kenanga dan kedua adik-adiknya sama-sama terlahir dari rahim Ibu ? Mengapa Kenanga selalu diperlakukan tidak adil ?

Kenanga tak mampu berkata-kata. Hanya air matanya mengalir tak tertahankan. Ia tahu bahwa ibu tidak pernah menyayangi dirinya. Namun ia tidak menyangka bahwa ibu akan mengusirnya seperti itu. Padahal ia sudah menuruti semua kemauan ibunya. Segera dibersihkannya tubuhnya yang letih setelah berkegiatan seharian tadi. Lalu ia shalat isya, bersujud mohon kekuatan pada Sang Pencipta. Selesai shalat dirapikannya semua barang-barangnya yang berantakan tersebut. Sekalian dicarinya buku-buku yang akan diberikannya pada Ghaf besok.

Ditariknya laci bufet yang paling bawah. Maksudnya untuk menyimpan buku-bukunya di situ. Beberapa kertas usang di dalam laci itu dikeluarkannya. Besok akan disortir, mana yang tidak perlu akan dibuangnya. Tiba-tiba tangannya menemukan sebuah album kecil berisi foto-foto lama. Dibukanya lembar demi lembar album tersebut. Ada foto-foto Ayah semasa muda dulu dengan teman-temannya. Ada juga foto Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Dan ini.... foto Ayah bertiga dengan seorang wanita cantik dan seorang bayi. Lalu di lembar lain bertiga dengan seorang bocah perempuan dengan kue ulang tahun yang dipasangi satu lilin. Mungkin saat ulang tahun pertama gadis kecil itu. Lalu Kenanga melihat foto lainnya. Ayah bersama perempuan itu juga bertiga dengan gadis kecil saat ulang tahun ke tiganya. Sebab di kue dalam foto itu ada lilin dengan angka tiga terpasang di kue. Rupanya setiap gadis kecil itu ulang tahun sengaja dibuatkan fotonya. Dalam foto-foto tersebut terlihat Ayah dan perempuan itu tertawa bahagia memeluk gadis kecil tersbut. Tidak pernah Kenanga melihat Ayahnya tertawa sebahagia itu. Yang ia tahu Ayah adalah sosok sangat pendiam.

Penasaran Kenanga memperhatikan wajah anak kecil itu. Rasa-rasanya mirip dengan dirinya. Tapi perempuan dewasa yang cantik itu bukanlah Ibunya. Siapakah dia ?

Ternyata di halaman bagian belakang ada foto lain yang ditumpuk. Terasa tebal di halaman itu. Kenanga menariknya keluar. Itu foto pernikahan Ayah dengan Ibu . Tapi kok ada Kenanga kecil ikut berfoto bersama mereka ? Artinya saat Ayah dan Ibu menikah Kenanga sudah lahir ? Kenanga membandingkan dua foto antara foto Ayah bertiga dengan perempuan cantik itu dengan foto penganten Ayah dan Ibu. Ada dua wanita yang berbeda. Sedang anak kecil itu adalah anak yang sama, Kenanga sangat yakin bahwa itu adalah dirinya.

Apa mungkin Ayah dua kali menikah ? Dan Kenanga bukanlah anak dari Ibu Mirna, Ibu yang selama ini dikenalnya ? ******

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED