PAGINYA kENANGA
Kenanga menyeka keringat yang meleleh di keningnya. Lehernya pun sudah terasa lembab. Baru saja ia selesai mencuci dan menjemur pakaian. Sekarang ia bergegas menyiapkan sarapan untuk seisi rumah yang terdiri dari Ibu, Ayah, dirinya serta kedua adiknya Arfan dan Arfin. Suasana rumah masih sangat sepi karena kedua orang tua dan kedua adiknya masih tidur. Hanya Kenanga yang punya kewajiban bangun lebih pagi. Kata Ibu karena Kenanga anak sulung dan anak perempuan jadi ia bertanggung jawab melayani orang tua dan adik laki-lakinya. Sebuah peraturan yang aneh menurut Kenanga dan sangat tidak adil. Setiap hari ia harus bangun jam empat subuh agar saat berangkat kuliah semua pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya bisa selesai. Kalau tugasnya tidak selesai pagi itu, maka siap-siaplah berangkat kuliah dengan kuping penuh omelan dari ibunya. Tugas rutinnya setiap pagi adalah mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan serta menyiram tanaman hias. Kalau ada pesanan kue atau masakan lainnya dari para tetangga, Kenanga juga harus menyiapkannya. Seringkali ia harus tidur sampai jam satu malam dan sudah harus bangun lagi jam empat pagi agar semua pekerjaannya selesai. Setelah semua selesai barulah ia bisa berangkat ke kampus. Nanti pulang kuliah ia tidak pulang ke rumah, tapi langsung ke toko sembako milik tetangganya tempat ia bekerja. Kenanga baru pulang ke rumahnya setelah toko tutup jam delapan malam. Sampai di rumah masih ada tugasnya yaitu menyetrika semua pakaian yang tadi pagi dicucinya. Duuh...rasa tak kuat tubuhnya mengerjakan semua itu seorang diri.
Ketika ia tamat SMP, ibu memintanya untuk berhenti sekolah. Sebab penghasilan ayah tidak cukup untuk biaya sekolahnya. Dua orang adik lelakinya lebih membutuhkan pendidikan dibandingkan Kenanga yang anak perempuan. Kalau Kenanga berhenti sekolah maka ia bisa fokus mengerjakan pesanan-pesanan kue atau masakan lainnya yang dipesan pelanggan mereka untuk tambah-tambah penghasilan ayah. Tapi Kenanga menolak. Ia bersikeras mau melanjutkan pendidikannya. Agar bisa bersekolah Kenanga harus bekerja untuk mendapatkan uang. Ia bersyukur ada toko sembako dekat komplek perumahannya mau menerimanya bekerja setelah pulang sekolah. Malah ketika ia mulai kuliahpun , ia masih diizinkan bekerja di sana di sela-sela jam kuliahnya. Kalau lagi libur kuliah ia akan bekerja sepenuh hari di toko itu. Kenanga diberi kelonggaran waktu oleh pemilik toko karena ia rajin dan jujur dalam bekerja. Dari penghasilannya itulah ia membiayai sendiri biaya sekolah dan kuliahnya. Sebab penghasilan Ayah sangat kecil. Ayah hanya memiliki kios kecil foto copy serta menjual alat-alat tulis dekat sekolahan.
Seringkali Kenanga merasa sangat letih dengan beban berat yang dijalaninya setiap hari. Namun kepada siapa ia harus mengeluh ? Kepada Ayah ? Tidak mungkin ! Ayah adalah sosok yang sangat pendiam. Kadang ia merasa sosok ayah tidak pernah ada dalam hidupnya. Jangankan bisa bermanja-manja pada Ayah, untuk bertanya kalau ada masalah saja Ayah menyerahkan pada Ibu. Ibulah yang berperan dominan di rumah ini. Tugas Ayah hanya mencari nafkah. Itupun selalu kurang hingga Kenanga sebagai anak sulung harus ikut bekerja demi mendapatkan uang.
Mengeluh pada Ibu ? Justru ibulah yang memberinya beban seberat itu. Ibu menyerahkan sebagian besar tugas rumah pada diri Kenanga. Kata Ibu, sebagai anak tertua Kenanga wajib membantu pekerjaan Ibu. Kata Ibu, sebagai anak perempuan Kenanga wajib mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga agar kalau nanti menikah ia sudah mengerti urusan rumah tangga dan tidak mengecewakan suaminya. Kata Ibu, sebagai anak paling tua ia wajib mengurus kedua adik-adiknya, wajib memberi contoh yang baik. Kata Ibu, sebagai anak perempuan ia wajib melayani semua kebutuhan saudara laki-lakinya. Karena kata Ibu, anak laki-laki itu memang mempunyai kedudukan yang istimewa dalam keluarga, harus dijaga marwahnya sejak masih kecil. Agar kalau sudah dewasa nanti ia punya wibawa karena ia akan menjadi kepala keluarga dan imam dalam rumah tangganya kelak. Lihat saja dalam pembagian warisan, menurut hukum agama anak lelaki mendapat bagian yang lebih besar daripada anak perempuan. Artinya anak lelaki diberi keistimewaan karena tanggungjawab yang akan dipikulnya dalam keluarga kelak. Sebagai anak tertua...sebagi anak perempuan... sebagai kakak sulung.... duuhh..berbagai kewajiban, bebagai keharusan dibebankan ke pundaknya. Hanya karena ia anak tertua dan anak perempuan. Apakah memang begitu kodratnya sebagai anak sulung dan anak perempuan ? Kalau saja Kenanga boleh memilih, pastilah ia akan memilih untuk tidak jadi anak sulung. Agar beban di pundaknya tidaklah seberat ini. Kalau saja ia bisa memilih, tentulah ia akan memilih menjadi anak laki-laki agar punya hak istimewa di rumah seperti kedua adik—adiknya yang bak pangeran serba dilayani segala-galanya. Tapi Kenanga tidak bisa memilih. Takdir hidupnya sudah digariskan demikian. Meski berat ia menuruti semua apa yang dikatakan ibunya. Sebab kata Pak Ustadz guru mengajinya surga itu di telapak kaki ibu.
“Kak, baju seragamku belum disetrika ya ? “ Tiba-tiba Arfan muncul mengagetkan Kenanga yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan..
“ Seragammu kan baru dicuci pagi tadi. Yang satunya ada di lemarimu “ Jawab Kenanga.
“ Tolong disterika sampai kering, Kak. Mau aku pakai sekarang.
“ Kan masih ada yang satu.nya ? “
“ Nnggg... dipakai Wawan tuh, semalam ia menginap di sini dan dia ngga bawa baju seragam. “ Ucap Arfan dengan ringannya. Kenanga melirik dengan kesal. Kenapa ngga bilang dari tadi, sih ?
“ Maaf, aku ngga bisa. Aku ngga mau telat lagi masuk kuliah hari ini. Sudah kena peringatan tiga kali. Kalau hari ini telat lagi, aku ngga boleh ikut ujian semester. Dan itu artinya harus mengulang di semester depan. “ Kenanga meninggalkan adiknya dan beregas masuk kamar mandi.
Ya, urusan terlambat itu sudah jadi langganan Kenanga. Beberapa dosen mau memaafkannya, mengingat nilainya yang selalu bagus dan sikapnya yang selalu sopan. Namun berbeda dengan Pak Burhanudin, dosen mata kuliah Metodologi Penelitian. Baginya tidak ada ampun bagi mahasiswa yang sering terlambat.. Seorang sarjana itu bukan hanya butuh nilai mata kuliah bagus, tapi juga harus punya attitude bagus. Kalau yang suka terlambat berarti ia termasuk orang yang tidak bisa menghargai waktu. Dan orang yang tidak bisa menghargai waktu adalah orang yang attitude nya buruk. Tidak layak menjadi seorang sarjana. Begitu pendapat Bapak Dosen tersebut.
Harusnya untuk mata kuliah tersebut, Kenanga sudah lulus pada semester kemaren. Bahkan kalaupun ia diberi ujian lisan, ia sanggup karena ia sudah menguasai materi perkuliahan tersebut dengan baik. Namun karena catatan absensinya buruk ia tidak diluluskan dan harus mengulang pada semester ini. Dan di semester inipun ia sudah tiga kali terlambat. Awalnya Pak Burhanuddin sudah tidak membolehkannya mengikuti kuliah tersebut lagi. Tapi Kenanga memohon-mohon pada Pak Burhanudin serta Ketua Jurusan agar diizinkan ikut mata kuliah tersebut dan membuat surat pernyataan bahwa ia tidak akan terlambat lagi. Bu Rani seorang dosen senior di kampus itu, yang selama ini sangat baik pada Kenanga, ikut memberi rekomendasi sehingga ia diberi kesempatan untuk terakhir kalinya mengingat mata kuliah Metodologi Penelitian harus sudah lulus sebagai syarat untuk pengajuan proposal skripsi. Pada semester kemaren Kenanga sudah menyelesaikan seratus dua puluh SKS sebagai persyaratan untuk mengajukan proposal skripsi. Dengan nilai rata-rata A dan hanya satu nilai B. Harusnya semester ini ia sudah bisa memulai tugas skripsi tersebut. Tapi karena belum lulus mata kuliah Metodologi Penelitian, ia belum bisa mengajukan proposal skripsi. Karena untuk bisa menyusun skripsi, mata kuliah Metodologi Penelitian harus sudah lulus. Kenanga betul-betul berjuang agar ia tidak pernah lagi terlambat mengikuti mata kuliah tersebut.
Saat keluar dari kamarnya dan sudah siap mau berangkat kuliah, Ibu menyuruhnya menyetrika pakaian seragam Arfan terlebih dahulu. Kenanga mencoba menjelaskan pada ibu bahwa ia tidak boleh terlambat masuk kuliah, karena sudah mendapat tiga kali peringatan. Kalau ia terlambat pagi ini maka ia tidak boleh ikut perkuliahan lagi sampai habis semester ini dan artinya tidak bisa ikut ujian semester. Harus mengulang lagi di semester depan. Dan yang pasti pengajuan proposal skripsi akan tertunda lagi.Tapi ibu tidak mau mengerti, baginya kepentingan Arfanlah yang harus diutamakan. Apa boleh buat, untuk kali ini dengan tegas Kenanga menolaknya. Urusan kuliahnya jauh lebih penting dari pada melayani si manja Arfan. Salah sendiri kenapa tidak mau belajar mengurus diri sendiri dan selalu tergantung pada orang lain. Kenanga segera keluar rumah meninggalkan ibunya yang mengomel dan Arfan yang berteriak marah padanya.
Beregegas ia keluar dari komplek perumahan menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum. Ia melangkah cepat, nyaris berlari agar segera tiba di jalan raya.
***************
TERLAMBAT LAGI
Sudah hampir seperempat jam Kenanga menunggu angkutan umum di depan komplek perumahannya. Namun angkot yang lewat selalu penuh. Duuuh...masa harus terlambat lagi ? Dari rumah Kenanga menuju kampusnya yang berada di pinggiran kota harus tiga kali naik angkutan kota. Kalau saja ia punya sepeda motor, tentu akan sangat membantunya agar bisa cepat sampai di kampus. Kenanga tak habis pikir kenapa Ibu justru membelikan Arfan sepeda motor. Padahal jarak dari rumah ke sekolahannya hanya sekali naik angkutan umum dan jaraknya pun dekat sekali. Sementara Kenanga dibiarkan naik angkutan umum padahal jarak kampusnya lebih jauh. Bahkan disaat waktunya mepet, Arfan tidak pernah sudi meminjamkan sepeda motornya pada kakaknya itu.
Kenanga harus mengambil keputusan cepat. Ia segera memesan ojek online yang bisa mengantarnya langsung ke kampus. Meski untuk itu ia harus membayar lebih mahal. Tapi tidak mengapalah demi agar tidak terlambat lagi. Butuh waktu lama juga baru ojeknya datang. Ia langsung minta abang ojeknya untuk ngebut.
Namun apa dikata, walau Kenanga sudah berusaha keras tetap saja ia telat sampai di kampus.Tanpa pikir panjang, selesai membayar ojeknya ia lari secepat-cepatnya melintasi lorong-lorong kelas yang sudah sepi karena perkuliahan sudah dimulai. Ia terpaksa mengehentikan larinya ketika seseorang mencegatnya. Hampir melotot matanya saking kesalnya pada orang yang menghadangnya itu. Duuuh... kenapa mesti ada penghalang sih ?
“ Maaf, Mbak. Mau nanya, ruang kelas B4 sebelah mana ya. Saya mahasiswa baru di sini, jadi belum tahu letak-letak ruang kelas. “ Pemuda itu bertanya dengan sopan. Hampir saja Kenanga menyemprotnya karena sudah menyita waktunya yang super duper berharga saat itu. Tapi... ruang kelas B4, itu kan kelas nya juga ? Dan anak ini mahasiswa baru, hm..... bisa dimanfaatkan !
“ Oke, ikut saya ! Tapi kamu harus bilang nanti bahwa saya terlambat karena membantu kamu registrasi tadi di TU ya. “ Pemuda itu mengangguk tersenyum mengerti.
Dengan berdebar-debar Kenanga mengetuk pintu, bersiap menerima omelan Pak Burhanudin. Atau bahkan mungkin ia akan langsung diusir keluar dan tidak boleh lagi mengikuti perkuliahan sampai akhir semester. Dan itu artinya tidak bisa ikut ujian semester ini. Dan terundur lagi pengajuan proposal skripsinya. Ya Tuhan, tolong aku !
“ Masuk ! “ Terdengar suara dari dalam. Tapi itu bukan suara Pak Burhanudin. Suara siapakah ? Adakah teman-temannya yang iseng ? Berani-beraninya...
Pelan Kenanga mendorong pintu. Ia terkejut melihat bukan Pak Burhanudin yang duduk di kursi dosen. Tapi seorang anak muda yang ganteng, kalem dan bermata teduh, tengah menatap dirinya. Ragu-ragu Kenanga melangkah mendekati.
“ Maaf, saya terlambat. Pak Burhanudin mana ? “ Terdengar bergetar suara Kenanga.
“ Mulai hari ini saya menggantikan Pak Burhanudin mengajar Metodologi Penelitian. Kamu yang bernama Kenanga ? “ Sesaat tadi Kenanga lega karena Pak Burhanudin sudah diganti dosen baru. Ia berharap segala dosanya terhapus dengan pergantian dosen tersebut. Tapi ketika dosen itu menyebut namanya, sadarlah ia bahwa daftar dosanya sudah berpindah ke tangan dosen baru tersebut. Dengan lemah ia mengangguk.
“ Silahkan duduk. Tapi tengah hari nanti temui saya di ruang dosen. “ Katanya pada Kenanga
“ Baik, Pak. Terima kasih, “ jawab Kenanga lemah. Pemuda yang tadi masuk bersamanya berbicara sesaat dengan Pak Dosen muda tersebut, lalu menyusul duduk di kursi kosong di samping Kenanga.
Jam sepuluh kuliah selesai, Harusnya Kenanga sudah bisa meninggalkan kampus, tapi karena tadi dia disuruh menemui dosen baru tersebut ia harus menunggu sampai tengah hari nanti. Sekarang dosen muda tersebut masih ada kelas di ruang lain. Kebetulan ruang kelas yang ini kosong, Kenanga memilih untuk menungggu di kelas itu saja. Mau ke kantin uangnya tidak cukup karena sudah dipakai untuk bayar ojek tadi pagi.
“ Ngga pulang, Na ? Kan kamu ngga ada kuliah lagi hari ini ? “ Fauziya temannya mendekatinya.
“ Aku disuruh menemui dosen baru itu nanti siang. Jadi aku menunggu di sini saja. Kamu masih ada kuliah ? “
“ Ada nanti jam satu. Sekarang mau balik ke kos an saja dulu. Yuuk, ikut ke kosan aku saja, “ ajak Ziya. Biasanya kalau ada jeda waktu kuliah, Kenanga sering ikut ke kos an Ziya yang tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Tapi hari itu Kenanga lebih memilih menunggu i kampus saja. Di luar cuaca sangat terik.
“ Trimakasih, Zi. Aku menunggu di sini saja. Eh ngomong-ngomong dosen tadi itu siapa sih namanya ? Karena tadi aku terlambat jadi ngga mendengar waktu dia memperkenalkan dirinya. “
“ Namanya Arkatama Faturakhman. Ganteng.... anak-anak jadi pada ramai mengomentarinya. Kamu ingat presenter berita di tivi Iqbal Kurniadi ? Mirip, kan ? “ Ziya tersenyum penuh arti. Sepertinya ia siap bersaing dengan teman-teman wanita sekampus untuk merebut hati si dosen muda tersebut. Kecuali Kenanga yang tidak pernah mau memikirkan lelaki dalam hidupnya.
“ Bagiku yang penting bukan gantengnya. Tapi membolehkan aku tetap bisa ikut kuliah dan ikut ujian semester. Tinggal satu mata kuliah ini saja yang mengganjal. “
“ Makanya kamu jangan suka telat. Yuuk ah ! Aku duluan ya. “ Ziya menepuk bahu Kenanga.
Kenanga pindah duduk ke bangku paling belakang. Disandarkannya kepalanya ke dinding dan kakinya berselonjor ka atas kursi di depannya. Lumayan bisa mengistirahatkan diri sejenak. Nanti kalau sudah sampai di toko hampir tidak ada waktu istirahat baginya. Saat pengunjung ramai, ia pasti sibuk melayani para pembeli tersebut. Dan saat pengunjung sepi, ia harus menimbang gula, tepung dan lainnya menjadi kemasan kiloan.
“ Maaf, boleh mengganggu “ Terdengar suara seseorang di dekatnya. Kenanga membuka matanya. Ternyata anak baru tadi yang menyapanya. Kenanga memperbaiki duduknya dan menurunkan kakinya .
“ Boleh ikut duduk di sini ? “ Pemuda itu bertanya dengan sopan.
“ Silahkan. Kamu masih ada kuliah lagi nanti ? “ Kenanga berpikir bahwa pemuda itu belum pulang karena masih ada jadwal kuliah hari itu dan sekarang waktunya kosong. Tapi pemuda itu menggeleng.
“ Aku sengaja mencarimu ke sini. Oya... kenalkan aku Ghaf, Ghaffarel. “
“ Aku Kenanga, biasa dipanggil Nana. Untuk apa kamu mencari ku ? “
“ Aku baru pindah ke sini dari Bandung. Di sana aku sudah menyelesaikan hampir semua SKS untuk persyaratan pengajuan proposal skripsi. Tapi ada dua mata kuliah pilihan yang harus aku ambil plus mata kuliah Metodologi Penelitian. Perkuliahan sudah berjalan beberpa minggu, syukurnya aku boleh ikut kuliah dengan catatan tidak pernah absen sampai ujian semester nanti. Dan aku harus mengejar ketinggalanku dengan meminjam catatan dari teman yang sudah duluan ikut kuliah. Dosen yang bersangkutan yaitu Ibu Rani dan Pak Leon menyarankan agar aku menghubungimu, maksudnya meminjam buku catatan kamu. Aku berharap kamu mau membantuku. Aku ingin semester depan sudah fokus ke penyusunan skripsi agar cepat selesai kuliah dan bisa segera kembali ke Bandung. “ Kenanga mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir Ghaf. Dari Bandung pindah ke sini hanya untuk menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu kembali ke Bandung. Repot amat ! Mengapa tidak menyelesaikan kuliah di Bandung saja ? Atau mungkin ia punya kasus besar sehingga harus keluar dari kampusnya ? Tapi peduli apa ....
“ Kalau kedua mata kuliah pilihan itu aku sudah lulus semester kemaren. Dan buku-bukunya sudah masuk peti. Kalau kamu mau meminjamnya harus aku carikan dulu. “
“ Ya ngga apa besok juga. Maaf, jadi merepotkan kamu. “ Sopan sekali bicara anak itu. Sekilas Kenanga meliriknya. Anak itu lebih banyak menunduk walaupun saat berbicara. Dan pandangan matanya terlihat murung. Seperti menyimpan beban batin atau luka hatikah ?
“ Kalau ngga salah kamu menunggu Pak Arka ya ? “ Tanyanya. Kenanga mengangguk.
“ Bagaimana kalau kita menunggu di kantin saja ? “ Ghaf sudah mau berdiri. Kantin ? Ouww...Kenanga sangat ingat bahwa uang di dompetnya sangat terbatas. Kalau ia ke kantin maka ia harus jalan kaki pulang nanti. Dan itu sangaaat jauh ! Ia menggeleng.
“ Kamu saja. Aku ingin menunggu di sini sambil istirahat. “
“ Ayolah, aku traktir kamu. Hitung-hitung merayakan pertemanan kita. Kamu orang pertama yang jadi teman aku di kampus ini, bahkan di kota ini.. “ Sikapnya sangatlah sopan, Kenanga tak sampai hati menolaknya. Lagi pula perutnya memang lapar karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan.
Mereka memesan nasi soto dan jus jeruk. Sambil makan mereka mengobrol tentang banyak hal. Ternyata Ghaf baru dua hari sampai di Kota Padang ini. Ia bercerita bahwa mamanya orang Minang. Sedangkan papanya asli Bandung. Waktu kecil Ghaf pernah beberapa kali befkunjung ke kota ini bersama orang tuanya. Tapi setelah SMP ia tidak pernah lagi mengunjungi kota kelahiran mamanya ini. Baru sekarang lagi ia berada di sini.
Kenanga menceritakan banyak hal tentang kota ini juga tentang kampus mereka. Sekedar memberikan gambaran pada Ghaf.
“Okee Ghaf, sudah jam dua belas. Aku mau menemui Pak Arka dulu. Trimakasih traktirannya. InsyaAllah besok aku bawakan buku-buku yang kamu butuhkan. “ Kenanga melangkah meningggalkan kantin menuju ruang dosen.
Ghaffarel memperhatikan Kenanga yang semakin menjauh. Gadis itu sangat sederhana. Mengenakan kemeja garis-garis putih biru yang sudah pudar warnanya serta celana warna krem yang juga sudah terlihat lusuh. Tas ransel di punggungnyapun tak kalah muram tampilannya. Sepatu sneakers yang dikenakannya sudah tak jelas apa warna aslinya. Wajahnya mungkin kalaupun dipoles bedak sangatlah tipis. Hanya sekitar setengah jam sudah hilang bekas bedak tersebut dari wajahnya. Bibirnya mungkin belum pernah tersentuh lipstick. Tidak ada yang menarik dari penampilannya. Namun ada hal-hal pada diri Kenanga yang menarik bagi Ghaf. Ia tampil penuh percaya diri, sinar matanya bening berbinar menunjukan kecerdasan otaknya. Yang paling penting bagi Ghaf, Kenanga beda dengan banyak gadis yang dikenalnya. Sosok Ghaf yang tampan serta dilengkapi outfit mahalnya akan segera menarik perhatian para gadis. Banyak yang ingin jadi temannya bahkan jadi pacarnya. Itu Ghaf tidak suka. Sehingga ia menutup diri dari pergaulan. Namun beda halnya dengan Kenanga. Gadis itu tidak perhatian sama sekali pada penampilan Ghaf. Bahkan mungkin ia tidak tahu berapa mahal barang-barang yang melekat di tubuh Ghaf. Secepat itu ia merasa nyaman berinteraksi dengan Kenanga yang baru dikenalnya itu. Padahal selama ini ia sangat tertutup dan susah bergaul. Baik dengan sesama pria maupun dengan teman-teman wanita. Ia terlahir dari keluarga kaya-raya. Papanya punya beberapa perusahaan di Kota Bandung. Dan ia anak tunggal.
Banyak orang yang ingin jadi temannya. Baik lelaki apalagi kaum hawa. Kurang apa Ghaf, wajah tampan, keluarga tajir melintir. Tapi itulah, dia tidak suka berkumpul dengan mereka-mereka itu. Dia ramah ke semua orang, tapi tidak pernah mau bergaul secara dekat. Kecuali dengan Ray, Raiya nya. Mengenang nama itu wajahnya mendadak jadi murung. “ Dimana kamu, Raiya ? Dada ini mau pecah menahan rindu padamu. “ Bisik hatinya perih. Ray teman yang dikenalnya sejak di SMP. Dengan Ray ia merasa sangat nyaman. Ray sangat mengerti dirinya dan sangat perhatian padanya. Perhatian yang pelan-pelan mulai mencuri hatinya. Orang lain melihat mereka berdua hanya seperti sahabat biasa saja. Tidak ada yang mencolok. Padahal kalau Ray tidak hadir di sekolah, Ghaf merasa hatinya kosong sunyi sepi. Begitu juga kalau Ghaf tidak masuk sekolah, Ray akan gelisah, resah dan kesepian.
Tamat SMP mereka masuk ke SMA yang sama. Di SMA mereka berdua semakin merasa bahwa mereka berdua saling membutuhkan. Di SMA Ghaf dan Ray mulai mau bergaul dengan teman-teman sekolahnya baik teman cewek taupun teman cowok walau tidak pernah akrab. Di tengah para teman-teman, Ghaf dan Ray tidak pernah memperlihatkan kedekatan mereka. Yang orang tahu mereka berdua adalah sahabat baik saja. Dan di SMA pulalah hubungan keduanya semakin intim. Keduanya berpetualang dalam nikmatnya cinta tertutup mereka. Mereka memadu kasih dalam diam tanpa gembar-gembor.Ghaf dan Ray tidak ingin orang lain tahu hubungan mereka sampai suatu saat nanti. Cukuplah mereka berdua saja yang tahu betapa indahnya cinta yang mereka jalin dalam diam dan sunyi.
Saat masuk perguruan tinggi pun mereka tetap masuk jurusan yang sama, Sungguh tak terpisahkan. Kehadiran Ghaf saat main ke rumah Ray disambut baik oleh orang tua Ray. Begitu juga kalau Ray main ke rumah Ghaf ia disambut dengan tangan terbuka. Semua baik-baik saja. Sampai suatu ketika.....Mama Ghaf yang baru pulang dari bepergian ada perlu dengan Ghaf.Seperti biasa ia langsung ke kamar putranya itu dan membuka pintu tanpa mengetuk. Seketika ia terpaku di tempatnya. Tubuhnya menggigil melihat apa yang dilakukan Ghaf dengan Ray di atas ranjang tanpa sehelai pakaianpun ! Hanya istighfar yang keluar dari mulut. Sesaat setelah rasa terkejutnya hilang, ia berteriak sekuatnya.
“ Biadab kalian ! Apa yang kalian lakukan ? Ini sangat ....sangat terkutuk. Ya Tuhan... ! Ya Tuhan ...“ Tubuh wanita itu ambruk tak sadar diri di lantai.
Keputusan segera diambil oleh kedua orang tua mereka. Ray di kirim ke luar negeri tinggal bersama kerabatnya di sana. Luar negeri mana, Ghaf tidak diberi tahu. Dan Ghaf sendiri dibawa pindah ke kota Padang. Mamanya sampai bela-belain meninggalkan Papa Ghaf di Bandung sendirian demi menemani putra tunggalnya itu tinggal di Kota Padang. Hubungan komunikasi Ghaf dan Ray diputus. Orang tua mereka mengambil ponsel anaknya masing-masing dan menggantinya dengan ponsel baru dan nomor baru. Begitulah ceritanya mengapa Ghaf ada di kota ini sekarang. Luka hatinya membuat ia semakin tertutup pada orang lain. Kecuali pada Kenanga.
***********
Setelah melihat Pak Arka masuk ke ruang dosen, tak lama kemudian Kenanga menyusul masuk.
“ Selamat siang, Pak “ Sapanya hormat. Pak Arka yang baru saja duduk menoleh pada Kenanga di pintu. Ia mengerutkan keningnya melihat kehadiran gadis itu. Tapi ia segera teringat bahwa dia yang menyuruh gadis itu datang menghadap padanya siang ini.
“ Silahkan duduk, “ ucapnya datar. Pantas saja Pak Burhanudin antipati pada gadis ini. Selain suka terlambat, tidak ada yang menarik untuk dilihat darinya. Terlalu lusuh. Padahal ini kampus swasta ternama di kota ini. Dan sudah pasti mahal. Pastinya pula yang kuliah di sini adalah orang-orang dengan tingkat finansial menengah ke atas. Kenapa anak ini penampilannya begitu buruk ? Beda dengan kebanyakan mahasiswi di kampus ini yang sangat menjaga penampilan mereka. Hari ini adalah hari pertama Arka mulai mengajar di kampus ini, langsung mengajar dua kelas. Dan ia melihat mayoritas mahasiswi berpenampilan menarik dan berkelas. Di Bandung tempat ia kuliah dulu teman-teman perempuannya juga terlihat cantik dan menarik. Arka tidak suka gadis-gadis yang cuek dengan penampilannya.
“ Mulai hari ini saya menggantikan Pak Burhanudin mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian. Karena beberapa bulan ke depan beliau sama Ibu Maharani akan ikut proggram Short Course untuk Dosen di Jerman. Saya akan mengajar sampai akhir semester ini. Saya sudah dititipi catatan tentang kamu oleh Pak Burhanudin. “ Kenanga yang sedari tadi menunduk, tersentak dan mengangkat wajahnya menatap Sang Dosen. Ternyata ‘dosa’ nya adalah dosa tak berampun sehingga perlu diestafetkan pada Pak Dosen Baru ini. Ya Tuhan, ampuni hamba !
“ Ya, surat pernyataan yang kamu buat tempohari tetap berlaku. Dan tidak ada toleransi dari saya pada mahasiswa yang tidak bisa menghargai waktu. Kalau kamu ingin tetap ikut kuliah, ikut ujian semester dan bisa mulai menggarap skripsimu maka selalulah tepat waktu. “ Ketus sekali suara Dosen Muda itu.
“ Baik, Pak. Saya berjanji untuk selalu tepat waktu. “ Kenanga berucap pasti.
“ Ya sudah, silahkan keluar. “
“ Terima kasih, Pak. Permisi ! “ Kenanga segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Tapi...
“ Dan perbaiki juga penampilan kamu. “ Ia mendengar suara dosen itu sesaat sebelum sampai di pintu. Astaga ! Ia tahu penampilannya tidak sebagus teman-temannya. Tapi ketika hal itu diucapkan langsung pada dirinya oleh seorang laki-laki muda, tampan dan rapi dan dosennya pula, sungguh terasa menusuk hati. Kenanga menggigit bibirnya dan mengangguk dengan lemah.
Di luar ternyata Ghaf menunggunya.
“ Sudah selesai ? “ Tanyanya pada Kenanga yang terlihat berwajah murung. Pasti ada masalah dengan Pak Dosen di dalam tadi, pikirnya. Kenanga mengangguk.
“ Sekarang kamu mau kemana ? “ Ghaf menjejeri langkah Kenanga yang menuju gerbang depan.
“ Aku mau pulang. “
“ Ayo, aku antar ! Aku bawa mobil. Sekalian biar tahu rumahmu. “ Kenanga menggeleng.
“ Terima kasih, ngga usah mengantarku. Aku ngga pulang ke rumah, tapi ke tempat kerjaku. “
“ Kamu kerja ? Ya sudah, aku antar ke tempat kerjamu. Aku ngga ada kegiatan apa-apa hari ini dan aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kota ini. “ Kenanga malas berdebat. Lagian perasaannya betul-betul sedang tidak baik sejak bertemu dosen tadi itu. Pandangan mata sang Dosen pada Kenanga terlihat sangat meremehkan. Dan ucapan terakhirnya tadi itu betul-betul menyinggung hati Kenanga. Merobah penampilan pakai apa, Pak Dosen ? Untuk ongkos berangkat kuliahpun aku harus menghitung rupiah demi rupiah agar tidak kekurangan.
Ghaf mengantar Kenanga ke toko sembako tempat Kenanga bekerja. Sebuah toko gosir sembako yang cukup besar dan kelihatan ramai dikunjungi pembeli. Pastilah berkerja di tempat itu tidak ada waktu istirahatnya. Dan itu pasti sangat melelahkan. Satu lagi nilai gadis itu bertambah di matanya.
Hampir jam sembilan malam Kenanga baru tiba di rumahnya. Seperti biasa, rumah terlihat sepi. Keluarganya terbiasa makan malam sekitar jam tujuh. Jadi saat Kenanga pulang semua sudah selesai makan. Ayah dan Ibu sudah masuk kamar. Begitu juga kedua adiknya lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar mereka. Kamar adik-adiknya itu dilengkapi televisi yang membuat mereka jarang keluar kamar. Arfan dan Arfin satu kamar berdua. Rumah mereka hanya punya tiga kamar tidur. Satu untuk Ayah dan Ibu, satu untuk Kenanga dan satunya untuk kedua adiknya itu.
Karena Kenanga selalu pulang malam, ia membawa kunci duplikat sendiri agar tidak mengganggu yang lain saat ia pulang. Dinyalakannya lampu ruang tamu. Seperti ada yang bebeda... Ruang tamu rumah itu menyatu dengan ruang makan, hanya dibatasi oleh sebuah bufet pajangan sederhana. Daaan....kok ada tumpukan pakaian di balik bufet itu ? Juga ada tumpukan buku-buku. Kenanga berjongkok memeriksa. Hoouww... ternyata pakaiannya semua dan buku-buku itu juga miliknya. Kenapa semua barang-barang miliknya itu ada di luar kamar ? Kenanga selalu menyusun rapi pakaian dan buku-buku di dalam kamarnya. Bergegas dibukanya pintu kamar tidurnya. Ia terkejut melihat ruangan itu sudah berobah. Kasur busa tipis di lantai tempat biasa Kenanga tidur sudah tidak ada, berganti dengan ranjang baru. Dan di ranjang itu adiknya Arfin tertidur pulas. Lemari kecil yang biasa dipakai untuk menyimpan barang-barang milik kenanga sudah berganti dengan lemari dua pintu yang masih baru. Dibukanya lemari tersebut. Terlihat pakaian-pakaian Arfin tersusun di situ. Segala bola basket, sepatu-sepatu milik Arfin sudah pindah semua ke kamar Kenanga. Maksudnya apa ini ? Kamar yang satunya dipakai oleh Arfan. Lalu Kenanga tidur di mana ? Lunglai ia keluar dari kamar itu.
Diketuknya pintu kamar Ibu. Kenanga harus dapat penjelasan tentang semua ini. Keletihan dan rasa lapar yang dibawanya dari tempat kerjanya tadi mendadak sirna semuanya. Dadanya terasa sesak melihat semua yang ada di depan matanya saat itu. Lama ia mengetuk pintu baru ibunya muncul.
“Ada apa malam-malam kamu membangunkan Ibu ? “ Ibunya bertanya dengan kesal.
“ Kok barang-barang Nana ada di luar, Bu ? Trus Arfin kok tidur di kamar Nana ? “ Ibunya duduk di kursi makan sambil mengusap wajahnya yang mengantuk.
“ Oo.. itu. Mulai hari ini kamu tidur di samping meja makan ya. Kamu gelar kasur kamu di sini. Besok pagi lipat lagi kasurmu supaya ruangan tidak sempit. Itu adikmu Arfin ngga mau sekamar dengan Arfan. Sebab Arfan sering membawa temannya menginap. Ya terpaksa ia pindah ke kamar kamu. Kamu kan kalau siang tidak pernah di rumah dan kamarmu selalu kosong. Biarlah dipakai Arfin saja. Sekedar tidur kamu bisa di luar sini. “ Enteng sekali ibu berkata. Ibu memang selalu memaksakan kehendaknya pada Kenanga. Kenanga tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Dada Kenanga serasa mau meledak. Ia seorang anak gadis, masa harus tidur di luar ? Sedangkan adik-adiknya yang laki-laki dengan nyamannya tidur dalam kamar. Bagaimana sih pemikiran Ibu ? Semua ini dilakukan Ibu tanpa bicara dulu dengan dirinya. Kenanga merasa diusir dari rumahnya sendiri. Kurang berkorban apa lagi Kenanga terhadap kedua adik-adiknya itu ? Sebegitu rendahkah kedudukan seorang anak perempuan di mata Ibu ? Bukankah Ibu juga seorang perempuan ? Bukankah Kenanga dan kedua adik-adiknya sama-sama terlahir dari rahim Ibu ? Mengapa Kenanga selalu diperlakukan tidak adil ?
Kenanga tak mampu berkata-kata. Hanya air matanya mengalir tak tertahankan. Ia tahu bahwa ibu tidak pernah menyayangi dirinya. Namun ia tidak menyangka bahwa ibu akan mengusirnya seperti itu. Padahal ia sudah menuruti semua kemauan ibunya. Segera dibersihkannya tubuhnya yang letih setelah berkegiatan seharian tadi. Lalu ia shalat isya, bersujud mohon kekuatan pada Sang Pencipta. Selesai shalat dirapikannya semua barang-barangnya yang berantakan tersebut. Sekalian dicarinya buku-buku yang akan diberikannya pada Ghaf besok.
Ditariknya laci bufet yang paling bawah. Maksudnya untuk menyimpan buku-bukunya di situ. Beberapa kertas usang di dalam laci itu dikeluarkannya. Besok akan disortir, mana yang tidak perlu akan dibuangnya. Tiba-tiba tangannya menemukan sebuah album kecil berisi foto-foto lama. Dibukanya lembar demi lembar album tersebut. Ada foto-foto Ayah semasa muda dulu dengan teman-temannya. Ada juga foto Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Dan ini.... foto Ayah bertiga dengan seorang wanita cantik dan seorang bayi. Lalu di lembar lain bertiga dengan seorang bocah perempuan dengan kue ulang tahun yang dipasangi satu lilin. Mungkin saat ulang tahun pertama gadis kecil itu. Lalu Kenanga melihat foto lainnya. Ayah bersama perempuan itu juga bertiga dengan gadis kecil saat ulang tahun ke tiganya. Sebab di kue dalam foto itu ada lilin dengan angka tiga terpasang di kue. Rupanya setiap gadis kecil itu ulang tahun sengaja dibuatkan fotonya. Dalam foto-foto tersebut terlihat Ayah dan perempuan itu tertawa bahagia memeluk gadis kecil tersbut. Tidak pernah Kenanga melihat Ayahnya tertawa sebahagia itu. Yang ia tahu Ayah adalah sosok sangat pendiam.
Penasaran Kenanga memperhatikan wajah anak kecil itu. Rasa-rasanya mirip dengan dirinya. Tapi perempuan dewasa yang cantik itu bukanlah Ibunya. Siapakah dia ?
Ternyata di halaman bagian belakang ada foto lain yang ditumpuk. Terasa tebal di halaman itu. Kenanga menariknya keluar. Itu foto pernikahan Ayah dengan Ibu . Tapi kok ada Kenanga kecil ikut berfoto bersama mereka ? Artinya saat Ayah dan Ibu menikah Kenanga sudah lahir ? Kenanga membandingkan dua foto antara foto Ayah bertiga dengan perempuan cantik itu dengan foto penganten Ayah dan Ibu. Ada dua wanita yang berbeda. Sedang anak kecil itu adalah anak yang sama, Kenanga sangat yakin bahwa itu adalah dirinya.
Apa mungkin Ayah dua kali menikah ? Dan Kenanga bukanlah anak dari Ibu Mirna, Ibu yang selama ini dikenalnya ? ******