"Jangan yang itu, Bu!"
Tangan kananku seketika menggantung di udara, aku menoleh dan menatap Rudi, anak sulung ku, penuh tanda tanya.
"Itu punya Elsa, ibu makan yang ini saja," jelasnya sambil menggeser makanan ringan sisa perjalanannya tadi ke depanku, sepertinya dia mengerti arti tatapanku ini. Ku tarik tangan kananku dari udara, lalu meletakkannya di atas paha.
"Wah... Banyak banget, Bang...."
Elsa, istri Rudi, tiba-tiba masuk ke ruang tengah, entah dari mana dia tadi aku pun tidak tahu. Kebiasaannya yang suka bertandang ke rumah tetangga tak bisa berubah, meski aku sudah berkali-kali mengajarinya.
""Iya, Dek... Kan kamu minta dibawakan apel, jeruk, mangga dan alpokat. Ini Abang bawakan untukmu semua nya," sahut Rudi dengan bangga. Mataku tertuju pada buah mangga, Rudi tahu sekali kalau aku menyukai buah tersebut. Tapi dia tak memberikan izin kepadaku untuk mengambilnya barang satu buah saja. Aku terpaksa menelan air liur sambil menatap buah mangga yang jumlahnya sekitar delapan atau tujuh buah itu. Aromanya sangat kuat, menandakan isinya pasti sudah matang dan manis. Air liurku terbit membayangkan rasa manis yang mendominasi di balik kulit buah yang berwarna hijau dan berukuran besar itu.
"Terima kasih ya, Bang... Makin cinta deh sama Abang," ucap menantuku dengan gaya manja yang dibuat-buat.
"Ya sudah, kamu makan gih.. Jangan sampai anak kita ileran nanti, gara-gara keinginannya tidak dituruti," ucap Rudi memberi perintah. Elsa mengangguk lalu duduk di samping Rudi, tubuhnya sedikit membungkuk dan tangannya terulur mengambil sebuah mangga dari atas meja.
"Aku mau makan mangga dulu," ucap Elsa seperti memanas-manasi, Rudi tersenyum sambil menganggukkan kepala dan terus menatap istrinya.
"Bu... Tolong ambilkan pisau, dong!"
Aku menoleh cepat ke arah Elsa, ringan sekali mulutnya menyuruhku mengambilkan pisau untuknya.
"Ayolah, Bu... Elsa udah keburu duduk. Kasihan dia kalau harus berdiri lagi, dia kan lagi hamil cucu pertama Ibu," ucap Rudi membantu Elsa, aku memindahkan tatapanku pada Rudi. Ada rasa sakit di dada ini, bisa-bisanya Rudi
ikut memerintah ku juga.
Aku menghela nafas sebentar, lalu bangkit perlahan dari duduk. Kulangkahkan kakiku ke dapur, membawa hatiku yang perih menjauh dari kedua anak dan menantuku yang tahu diri. Beberapa menit kemudian, aku kembali ke ruang nonton dan meletakkan pisau di atas meja, tepat di samping buah-buahan yang dibawakan Rudi spesial untuk istrinya.
Setelah itu, aku berbalik badan untuk menjauh. Daripada harus mencium aroma mangga, aku memutuskan untuk ke kamar tidur dan menyendiri di sana.
"Lho... Bu!! Piringnya koq nggak sekalian dibawa!"
tak kuperdulikan pertanyaan ketus setengah memerintah yang keluar dari mulut Elsa, ku lanjutkan langkah menuju kamar, lalu langsung mengunci pintu kamar yang sudah aku tutup dari dalam.
Air mataku langsung mengalir deras begitu suara kunci memutar untuk yang kedua kalinya. Aku melangkah menuju tempat tidur, lalu duduk di atasnya. Sambil menatap cermin yang ada di samping tempat tidur, aku memaki diriku sendiri. Entah kenapa dulu aku memberikan izin kepada anak sulung ku untuk menikahi ratu kegelapan itu. Sehingga akhirnya, rumah ini pun terbawa aura gelap sejak perempuan itu tinggal bersama kami beberapa bulan yang lalu.
*
Namaku Risma, aku sudah menjadi janda sejak Rudi masih duduk di kelas empat SD. Saat itu aku sedang hamil anak keduaku, Reza. Mas Kerta, suamiku, meninggal dunia karena kecelakaan bus saat dalam perjalanan pulang dari rumah Ibunya, mertuaku. Sejak saat itulah, aku menjadi kepala rumah tangga sekaligus juga ibu rumah tangga bagi kedua anakku yang saat itu masih kecil-kecil.
Rudi Firmansyah, anak sulung ku, saat ini sudah berusia tiga puluh lima tahun. Dia memang agak telat menikah, dia baru menikahi Elsa dua tahun yang lalu. Rudi bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan rokok. Setelah menikah, Rudi dipindah tugas oleh perusahaan tempatnya bekerja ke Bukit Tinggi, tiga jam dari kota Padang, tempat tinggal ku. Rudi segera membawa Elsa pindah ke Bukit Tinggi, mereka bahkan sudah memiliki rumah sendiri di sana. Tapi, karena saat ini Elsa sedang hamil besar dan orang tuanya berada jauh di Lampung, Rudi meminta Elsa untuk tinggal bersamaku menjelang lahiran. Pertimbangannya, Rudi bisa bolak balik Padang - Bukit Tinggi yang jaraknya lebih dekat, meskipun seminggu sekali dari pada harus ke Lampung. Nanti, setelah lahiran, orang tua Elsa akan datang ke sini kemudian setelah empat puluh hari Elsa dan kedua orang tua beserta bayinya akan kembali ke Bukit Tinggi.
Aku baru tahu sikap asli Elsa dan perubahan Rudi anakku beberapa bulan terakhir, tepatnya sejak Elsa tinggal bersamaku di rumah ini. Dia yang dulu sopan, manis dan perhatian, ternyata hanya topeng semata. Sejak dia berada di sini sampai hari ini, tak ada satu pekerjaan rumah pun yang dia lakukan. Kehamilannya selalu menjadi alasan untuk tidak melakukan apapun di rumah ini, dan Rudi menyetujui sikap malasnya itu. Alhasil, aku lah yang mengurusi semua kebutuhan menantuku itu, mulai dari mencuci dan menyetrika pakaiannya, menyiapkan makanan hingga membersihkan rumah. Semuanya aku kerjakan sendiri.
Biaya Elsa sehari-hari selama tinggal di rumah ini pun juga aku yang memikirkan. Rudi tak memberikan uang belanja sepeserpun kepadaku, sementara Elsa sering sekali meminta dimasakkan makanan yang mahal. Kalau aku protes, dia akan langsung menangis dan mengadu pada suaminya, lalu anakku itu akan meneleponku dan marah-marah. Sakit.. Hatiku sakit sekali melihat perlakuan anak kandungku yang selalu membela istrinya. Tapi, aku tetap bertahan agar aku tidak dijadikan tokoh utama dalam cerita menantu versus mertua yang kejam.
Mas Kerta dulunya bekerja sebagai guru ASN di salah satu SMP di kota ini, sedangkan aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki hobi menjahit. Jadi, untuk kebutuhan rumah tangga Alhamdulillah aku tak merasa kewalahan kalau hanya untuk diriku sendiri, lagipula aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan ataupun maruk ingin mencoba makanan ini dan itu.
Anak bungsuku, Reza Firmansyah, bekerja sebagai TKI di Taiwan. Baru enam bulan dia berada di sana. Bantuan biaya bulanan di bulan terakhir ini juga aku dapatkan darinya. Jumlahnya cukup besar, tapi aku tentu saja tidak menghabiskan kirimannya begitu saja. Suatu hari Reza juga akan menikah dan memiliki keluarga, aku sudah mulai bersiap-siap menabung untuk membelikannya rumah, seperti yang aku berikan kepada Rudi dulu setelah dia menikah dengan Elsa. Jadi, rumah Rudi yang ada di Bukit Tinggi adalah hadiah dariku untuk Rudi dan istrinya. Bukan rumah yang besar, tapi layak dan juga berada di tengah kota. Uang pembelian rumah itu dulu juga aku sisihkan dari uang belanja yang selalu Rudi berikan setiap bulan kepadaku. Tapi sejak menikah, jangankan uang belanja bulanan, mangga satu buah saja pun tak bisa dia belikan. Hidupnya sudah dia abadikan untuk istri dan keluarga istrinya saja, sudah tidak ada lagi buatku. Harapanku, nantinya Reza bisa menemukan istri yang karakternya berbeda dengan Elsa. Tidak perlu cantik ataupun harus wanita yang bekerja, tidak peduli mau masih gadis ataupun janda, yang terpenting calon istrinya itu bisa menyayangi aku seperti ibunya sendiri, itu saja sudah cukup.
*
"Ibu dari mana? Aku lapar!"
Aku langsung menghentikan langkah, lalu menoleh pada Elsa yang sudah duduk di depan televisi dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Rudi sudah kembali ke Bukit Tinggi kemarin sore, jadi hari ini aku kembali hanya tinggal berdua saja dengan Elsa.
"Ibu!! Aku lapar!!" teriak Elsa dengan suaranya yang melengking. Aku sempat melonjak kaget, tapi cepat-cepat menguasai diri.
"Kalau lapar ya makan, Sa! Kenapa teriak-teriak? Ini bukan hutan!" sahutku pelan dan ditekan. Mataku melotot tak senang menatap nya.
"Mau makan apa!! Meja aja masih kosong begini!" bentaknya lagi, aku menghela nafas berat, lalu menghembuskan nya perlahan.
"Terserah kamu mau makan apa, di kulkas ada telur, ayam, daging dan berbagai jenis sayuran. Kamu tinggal mengolahnya saja, kan nggak susah." jawabku sambil berusaha tenang.
"Lho.. Koq malah aku yang masak? Ibu kan tahu aku nggak bisa masak." ucapnya lagi.
"Kalau nggak bisa masak, kamu pergi ke sebelah! Warung nasi uduk si Sari masih buka, Rudi kan ninggalin uang ke kamu. Masak iya untuk beli nasi uduk juga harus pakai uang Ibu," ucapku sinis.
"Nasi uduknya nggak enak, apaan... Nasi uduk nggak ada rasa! Emak kalau masak nasi uduk itu pakai...."
"Minta Emakmu masakkan nasi uduk buatmu, beres!!" potongku cepat. Elsa melongo mendengar ucapannya aku potong, sementara aku sudah berlalu dari hadapannya. Aku pulang hanya untuk mengambil mukena, untuk melaksanakan shalat jenazah Ibu Broto, Ibu ketua RT yang tadi subuh meninggal dunia. Saat aku mau ke rumah duka tadi, aku sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar menantuku, tapi dia malah membentakku dengan kalimat yang kasar. Akhirnya, aku pergi melayat tanpa meninggalkan pesan apapun untuk menantuku itu.
Aku keluar dari kamar membawa mukena hendak segera ke mesjid, saat aku melewati pintu kamar Elsa, aku mendengar dia sedang berbicara di telepon sambil menangis pilu. Langkahku langsung terhenti, lalu bergerak melangkah pelan mendekati pintu kamarnya. Suaranya yang cempreng terdengar sedang mengadu pada suaminya di seberang sana, ditambah dengan tangisan pilu seolah-olah baru saja didzalimi mertua.
Panggilan untuk segera menyalatkan jenazah Bu Broto terdengar sampai ke rumahku, karena jarak rumahku dari mesjid hanya beberapa meter saja. Aku langsung bergerak menjauh dari pintu kamar, melanjutkan langkah hendak keluar dan segera menuju ke mesjid.
*
"Ibu koq tega banget, sih! Elsa itu sedang hamil anakku, Bu! Cucu pertama Ibu! Tidak bisakah Ibu mengerti dan menyayangi Elsa layaknya dia adalah anak kandung Ibu!"
Salam ku saat menjawab teleponnya tidak dijawab. Anak sulung ku itu malah membentak-bentak aku, sama kasarnya dengan nada yang digunakan istrinya tadi saat sedang berbicara denganku. Sakit... Lagi-lagi aku merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hati. Tega sekali anakku ini berkata kasar kepadaku, orang yang sudah menjaganya sejak dari kandungan, bahkan membesarkannya sendirian.
"Kalau ibu tak suka Elsa tinggal bersama Ibu, aku akan segera bawa dia ke Bukit Tinggi. Tak tenang juga hatiku lama-lama mendengar kedzaliman yang Ibu lakukan pada istriku itu!" sambung Rudi.
"Kalau begitu, silahkan bawa istrimu secepatnya, aku tidak akan menahan kepergiannya sedikitpun!"
Hening... Tak ada suara jawaban menggebu-gebu seperti di awal tadi. Aku menggigit bibir menahan air mata yang hendak pecah, sungguh sakit hati ini tak tertahankan lagi. Dadaku sampai sesak menahan sakitnya di dalam sini.
Meski Rudi dan Reza aku besarkan sendiri, keduanya tetap tumbuh menjadi dua pribadi yang sopan dan saling menyayangi. Belum pernah sekalipun keduanya berkata kasar atau meninggikan nada bicaranya satu sama lain, apalagi kepadaku. Tapi, sejak menikah Rudi berubah menjadi kasar dan tak punya hati. Sudah sering sekali dia seperti ini, aku sudah tidak tahan lagi.
"Bu... Kalau Elsa aku bawa pulang ke Bukittinggi, lalu Ibu dengan siapa di rumah?"
Nada suara Rudi mulai melunak, cepat sekali dia berubah.
"Ibu sudah tua, harus ada yang menjaga Ibu. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada Ibu, Elsa ikut tinggal bersama Ibu bukan hanya karena dia sedang hamil, tapi juga karena aku dan Elsa sangat mengkhawatirkan kondisi Ibu," sambung Rudi lagi, aku menghela nafas berat mendengar nada suaranya yang tiba-tiba saja merendah dan cara bicaranya yang tiba-tiba menjadi bijak.
"Tapi, tidak bisakah Ibu menyayangi Elsa seperti Ibu menyayangi aku dan Reza? Elsa itu menantu pertama, Bu... Dia sedang hamil cucu pertama Ibu. Aku mohon... Jangan suruh Elsa melakukan pekerjaan berat dulu, setidaknya sampai dia melahirkan dan tenaganya sudah pulih."
Apa? Pekerjaan berat katanya? Masak untuk kebutuhannya sendiri dia sebut pekerjaan berat?
"Pekerjaan berat apa yang kamu maksud, Rudi?" tanyaku dengan menahan perasaan kesal.
"Apakah bangun pagi adalah sebuah pekerjaan berat? Jalan pagi untuk melancarkan proses lahiran nanti juga pekerjaan berat? Masak untuk dirinya sendiri di saat Ibu sedang sibuk membantu di rumah tetangga yang sedang berduka, itu juga pekerjaan berat?"
Hening lagi... Suara nafas Rudi yang berat terdengar jelas di telingaku. Aku masih menunggu beberapa saat untuk mendengarkan jawabannya, tapi sepertinya anak itu tidak akan menjawab pertanyaanku. Entah karena dia sepemahaman denganku atau karena dia tak punya kalimat lagi untuk menjawab pertanyaanku demi membela istrinya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kondisiku, justru dengan adanya istrimu lah kesehatanku jadi terancam!" sambungku lagi.
"Kenapa Ibu bicara seperti itu?"
Nada suara Rudi kembali meninggi, tapi aku sudah siapkan hati untuk menerima perlakuan kasarnya lagi kepadaku.
"Sudahlah!! Kalau kau memang ingin bawa istrimu kembali ke sana, cepat lakukan!! Mertua dzalim ini sudah muak dengannya!"
Ku putuskan percakapan kami secara sepihak, sudah tidak tahan lagi beradu urat dengan anak kandung yang jelas-jelas tidak akan membelaku. Rudi sudah melupakan cinta dan kasih sayang yang sudah aku berikan selama ini. Baginya, hanya Elsa lah yang mencintainya, hanya istrinya lah yang harus dia jaga dan dia bela.
*
Suara ketukan di pintu tak membuatku ingin segera bangkit dari duduk dan membukakan pintu. Hari ini hari Jumat, aku sudah tahu siapa yang akan datang di hari dan di waktu ini. Aku berpura-pura fokus pada acara televisi yang aku tonton sedari tadi, sampai akhirnya aku mendengar suara pintu kamar Rudi yang dibuka dengan kasar.
"Dasar orang tua! Didiamkan ngelunjak, mau dilawan takut dibilang dosa! Hehhh!" gerutu Elsa sambil berjalan melewati aku dengan langkah kasar, aku tahu dia sengaja berbicara seperti itu untuk menyindirku, tapi aku tidak peduli.
"Emak!! Apak!!!"
Aku menoleh cepat ke arah pintu utama, keningku mengernyit mendengar teriakan Elsa memanggil Emak dan Apak nya. Apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah Elsa belum melahirkan? Kenapa cepat sekali mereka datang?
"Masuk, Mak!! Pak!! Ayo Ndi... Rahma... Ajak anak kalian masuk sekalian!!"
Aku langsung bangkit, hendak melihat berapa orang yang datang ke rumah ini. Apa aku tidak salah dengar, Elsa menyebut nama Andi dan Rahma, adik dan iparnya yang lebih dulu menikah dan melangkahinya. Mereka punya dua anak laki-laki yang masih kecil-kecil, untuk apa mereka ikut ke sini? Sementara anak mereka saja masih kecil-kecil.
"Halo, Besan... Apa kabar?"
Mataku langsung tertumbuk pada kalung, gelang dan cincin emas tebal yang menghiasi tubuh besanku yang tambun. Dia yang dulu berpenampilan sangat sederhana di pesta pernikahan anaknya, sekarang malah terlihat glowing dan sangat berkilau. Sampai silau mataku melihat emas-emas yang membalut tubuhnya itu.
"Ehemmmm... Baik, Besan... Mari silahkan duduk," ucapku sambil mengajak besanku itu untuk duduk bersama di ruang nonton. Bukan hanya perhiasannya yang membuatku terhenyak, tapi juga orang-orang yang datang bersamanya. Pak Balong, suaminya, Andi dan Rahma beserta dua anaknya, Tio, adik bungsu Elsa dan dua orang Bibinya, Tari dan Pita. Astaga naga... Apa-apaan ini? Mereka seperti bala tentara yang hendak pergi berperang, padahal hanya untuk menunggui Elsa lahiran. Aku menelan ludah sekuat tenaga, tapi ludahku pun tak mau bergerak dari tempatnya menggantung di pangkal tenggorokan.
*
Rudi terlihat sibuk melayani para tamu kehormatan yang baru saja datang ke rumah kami, terlihat sekali dia sibuk melayani semua anggota keluarga Elsa sejak semuanya datang. Aku yang tidak memasak banyak karena tidak diberitahu tentang kedatangan mereka, terpaksa harus merogoh uang simpananku untuk membuat para tamu kenyang malam ini. Ya sudahlah... Untuk malam ini tidak apa-apa, tapi untuk besok akan aku bicarakan dengan Rudi nanti.
Selesai makan malam, kami ngobrol di ruang nonton. Anak-anak seperti nya sudah kecapekan, ketiganya sudah tertidur nyenyak di lantai yang sudah diberi alas karpet tebal.
"Apak, Emak, Rio kalau sudah capek silahkan istirahat di kamar tamu. Andi, Rahma dan anak-anak bisa tidur di kamar Reza."
Aku menoleh cepat ke arah Rudi, seenaknya dia mengatur pembagian kamar untuk keluarga istrinya di rumah ini tanpa meminta izinku terlebih dahulu. Aku masih menunggu, dimana dia akan menempatkan kedua bibi Elsa.
"Tante Tari dan Tante Pita bisa tidur bersama Ibu di kamar beliau, ya."
Lagi-lagi Rudi memutuskan tanpa meminta izin, bahkan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun, Rudi sudah mengatur semuanya. Lama-lama rumah ini sudah bukan seperti rumahku lagi, anak itu sudah kelewatan. Aku terpaksa menghela nafas saja, mengalah karena tak mau membuat keributan di hadapan para besan.
"Ok, Rud... Terima kasih, ya," ucap Apak Elsa pelan. Beliau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku si pemilik rumah, hanya kepada anakku saja.
Satu persatu anggota keluarga Elsa masuk ke dalam kamar yang sudah ditunjukkan Rudi, semuanya melangkah penuh percaya diri dan tanpa segan. Aku jadi merasa aneh berada di rumah ini, apakah benar ini rumah milikku? Rumah yang aku bangun bersama Mas Kerta suamiku dulu? Kenapa aku jadi merasa asing berada di rumahku sendiri?
*
"Ibu sabar, ya..."
Tangisku sudah pecah sedari tadi, aku sudah tak tahan membendung keresahan di hati. Entah kenapa Reza malah menghubungiku, seakan dia tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja di sini.
Rudi beserta semua keluarga besarnya sudah pergi pagi-pagi sekali setelah sarapan tadi. Dia merental mobil untuk mengajak keluarga besar istrinya jalan-jalan, sedangkan aku tidak diajak. Bahkan basa basi saja pun tidak, sungguh luar biasa anakku itu. Keadaan rumah yang sudah seperti kapal pecah ditinggalkan kepadaku. Semua kamar yang mereka gunakan untuk beristirahat semalam ditinggal pergi tanpa dibereskan, dapur dengan tumpukan piring kotor juga menunggu untuk disentuh, belum lagi ruang tamu dan ruang nonton yang keadaannya sangat kacau. Seketika aku merasa lelah, aku hanya duduk memperhatikan setiap sudut di ruangan rumahku dalam diam. Sampai akhirnya ponselku berdering, nama Reza tertera di layar. Aku langsung menggeser layar ponsel, lalu tangisku pecah seketika begitu mendengar ucapan salam dari anakku itu.
Mengalir lah semua cerita yang selama ini aku simpan rapat-rapat darinya, dada ini sudah terasa sesak sangking banyaknya masalah yang aku simpan. Reza akhirnya hanya mendengarkan ceritaku saja, tanpa menyela pembicaraan sedikitpun. Sesekali aku mendengar helaan berat nafasnya dari seberang, sepertinya dia juga ikut merasakan beban yang selama ini harus aku tanggung sendiri di sini.
"Berapa hari mereka semua akan berada di sana?" tanya Reza dengan sikap tenang. Setelah dia berada jauh dariku, anak itu terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Rudi, padahal beda usia keduanya cukup jauh, sepuluh tahun. Pembawaannya yang biasanya grasak grusuk berubah jauh lebih tenang dan santai. Merantau sepertinya sudah membentuk pribadinya menjadi jauh lebih baik.
"Ibu nggak tahu, Re... Tentunya sampai kakak ipar mu melahirkan."
"Sekitar dua bulanan, Bu... Itu lama banget," sahut Reza dari seberang. Membayangkan hal itu tangisku kembali pecah, aku langsung merasa gelisah.
"Begini saja, Bu... Ibu kontrakkan rumah petak punya Pak Haji untuk dua atau tiga bulan ke depan. Suruh semua keluarga Kak Elsa tinggal di sana."
Aku diam mendengarkan masukan dari Reza. Kuusap air mata yang membasahi wajah dengan tanganku sendiri.
"Bilang saja pada Bang Rudi kalau Ibu yang akan membayarkan uang kontrakan nya, nanti aku yang akan bayarkan," lanjut Reza.
"Kalau Rudi tidak mengizinkan mereka mengontrak, bagaimana Re? Ibu malas ribut-ribut dengan Abangmu itu. Dia sudah benar-benar berubah sekarang, Ibu sendiri sampai lupa apakah benar dia anak Ibu atau bukan?" ucapku lemah. Reza tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapanku, aku spontan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Ibu ini ada-ada aja," ucapnya sambil perlahan menghentikan tawa.
"Habisnya, Ibu bingung lihat perubahan Abangmu itu. Ini pelajaran bagimu, Re... Carilah istri yang tidak hanya mencintaimu dan keluarganya saja, tapi juga istri yang juga bisa mencintai dan menyayangi Ibu. Tidak perlu sarjana, tidak perlu bekerja, janda sekalipun tidak apa-apa. Asal dia bisa menghargai, mencintai dan menyayangi kamu sebagai suami dan Ibu seperti orang tuanya sendiri."
"Sifat dasar seseorang akan sangat sulit diubah, jadi kalau kamu menemukan perempuan dengan sifat baik, sopan dan penyayang, kamu tidak perlu mengubah apapun. Bahkan kamu akan menjadi laki-laki paling beruntung," lanjutku lagi, Reza diam mendengarkan pesanku.
"Bagaimana ini, Re... Bagaimana kalau Abangmu justru bersikeras tak mengizinkan keluarga istrinya itu untuk tinggal di kontrakan?" tanyaku lagi, kembali fokus pada inti percakapan kami di awal. Reza diam sesaat, mungkin dia sedang sama bingungnya denganku.
"Re...." panggilku pelan.
"Iya, Bu... Reza masih mendengarkan," sahutnya pelan.
"Bagaimana, Re?" tanyaku lagi.
"Ibu yang pindah ke kontrakan, tinggalkan mereka dan biarkan mereka mengurusi diri sendiri di rumah. Aku yakin sekali, Bang Rudi dan Kak Elsa pasti tidak akan sanggup melayani tamu mereka sendiri tanpa bantuan Ibu."
Aku menghela nafas berat, aku sang pemilik rumah dan aku juga yang harus menyingkir. Sungguh miris nasibku di ujung usia.
"Ibu apa-apaan sih?"
Rudi melotot tajam kepadaku, emosinya langsung terpancing setelah aku menyampaikan rencana mengontrakkan rumah untuk keluarga besar Elsa. Aku menatapnya tak gentar, tidak perlu melotot cukup menatapnya lama dan dalam saja. Rudi kemudian berdehem, lalu membuang tatapannya. Sementara keluarga Elsa semua sedang memandangi aku dengan tatapan aneh.
"Besan dan keluarga semua kan akan berada di sini sampai Elsa melahirkan, sementara kehamilannya baru memasuki bulan ke delapan. Masih ada satu bulan lagi waktunya melahirkan."
Aku menjelaskan maksud ucapanku soal rencana mengontrakkan rumah untuk keluarga besan yang datang beramai-ramai.
"Rumah ini kamarnya terbatas, lalu... Maaf sebelumnya ya... Saya paling tidak suka kamar pribadi saya dan anak-anak dimasuki orang lain selain kami keluarga intinya," lanjutku lagi.
"Ehemmmm.. Begini saja, Ibu Rudi,"
Apak Elsa memotong percakapanku, matanya menunjukkan ketidak sukaan pada ucapanku. Seketika aku merasa tak enak hati, tapi kalau diam saja dalam keadaan begini selama berbulan-bulan siapa yang tahan?
"Sepertinya kedatangan kami sudah membuat Ibu repot, jadi... Biarlah saya dan keluarga kembali saja ke kampung. Nanti kalau Elsa sudah melahirkan, kami akan kembali."
Nah... Benar, kan? Mereka sudah pasti tak terima diperlakukan seperti ini.
"Lho... Nggak bisa gitu dong Pak!! Bang!!"
Elsa mulai ikut bicara, wajahnya cemberut menatap Rudi, menuntut suaminya untuk melawan keinginanku. Rudi menoleh sebentar pada Elsa, lalu kembali menatap nyalang kepadaku.
"Atau begini saja... Biar saya saja yang mengontrak, besan dan keluarga silahkan tinggal di rumah ini selama kalian mau."
Aku lekas merebut kesempatan untuk bicara, sebelum Rudi berbuat dosa lagi dengan melawan keinginanku.
"Nah... Begitu dong, Bu... Itu yang namanya memuliakan tamu. Tamu adalah raja... Iya kan, Bang?"
Wajah Elsa sudah kembali tersenyum sumringah. Aku kembali menatap Rudi dengan tatapan iba, ingin sekali mengatakan "ini yang kamu mau kan, Nak?"
*
"Ibu ini aneh... Ibu yang punya rumah koq malah Ibu yang angkat kaki... Duh.. Bu Risma ini, terlalu lembek sama menantu!" ujar Bu Yuni dengan bibir yang dimiringkan.
"Iya, Bu... Itu kan rumah kita, rumah yang kita bangun bersama suami. Selama kita masih hidup, Rudi atau Reza sekalipun belum punya hak untuk memiliki rumah itu," sahut Bu Ety, aku memaksakan tersenyum untuk menguatkan hati. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat ini, tidak ada yang mengerti kenapa keputusan ini aku ambil dan tidak akan ada yang bisa memahami caraku mencintai anak dan menantu.
"Saya hanya malas ribut, Bu," ucapku lemah dan nada suara bergetar menahan tangis, ibu-ibu yang duduk menemaniku berubah tatapan. Mereka yang awalnya menatapku seperti mengejek, sekarang berubah menatapku iba.
"Sabar ya, Bu Rahmi."
Akhirnya para tetanggaku itu memberikan kekuatan dan dukungan moral kepadaku. Topik pembicaraan pun seketika berubah, sudah tidak tentang aku yang pindah ke kontrakan Pak Haji lagi, tapi mulai membahas harga bahan pokok yang naik, anak tetangga yang akan menikah sampai tentang nasib anak pasangan artis yang baru saja meninggal dunia. Beginilah ibu-ibu kalau sudah kumpul, dari Sabang sampai Merauke semua bisa dikunjungi.
*
Rudi POV
["Kenapa malah Ibu yang pindah, Bang? Kenapa bukan tante, adik dan iparnya Kak Elsa yang pindah ke kontrakan?"]
aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
["Itu rumah Ibu lho, Bang... Kita berdua belum pernah menyumbang satu butir pasir pun untuk membangun rumah itu, Abang dan aku... Kita belum punya hak menguasai rumah Ibu."]
["Aku bukan menguasai, Re."]
["Lalu, apa namanya kalau bukan menguasai? Abang tega dan diam saja melihat Ibu yang pindah ke kontrakan. Abang nggak mikir, apa kata tetangga nantinya melihat Ibu yang pindah tinggal ke kontrakan Pak Haji, sementara keluarga besar Kak Elsa ada di rumah Ibu saat ini."]
["Mereka itu tamu, Re.. Memuliakan tamu itu juga kewajiban!"]
Akuu mulai emosi mendengar ucapan Reza. Dia lupa kalau usianya sepuluh tahun lebih muda dariku, dia nggak punya hak mengajariku terlalu jauh seperti ini.
["Tamu itu paling lama dua tiga hari menginap, Bang. Kalau sampai berbulan-bulan bukan tamu lagi namanya, tapi menumpang hidup!"] Balas Reza sinis.
["Hati-hati kalau bicara, Re!"]
["Ya sudah... Terserah! Bagaimanapun caranya, Ibu harus kembali ke rumah! Kenapa tidak Abang bawa saja semuanya ke rumah Abang? Toh Kak Elsa juga kan belum waktunya lahiran!"]
aku mendadak bingung, bisa-bisanya Reza punya ide seperti itu. Bagaimana mungkin aku mengajak semua keluarga Elsa menginap di rumahku?
["Arghhh... Sudahlah! Kamu masih kecil sok-sokan kasih ide! Kamu urus saja pekerjaan dan kehidupanmu di sana! Sudah, aku mau tidur!"]
Ku putus sambungan telepon dengan Reza secara sepihak, harga diriku serasa diinjak. Berani-beraninya anak kecil itu bicara dengan nada tinggi, apa dia lupa kalau aku ini Abangnya. Ini semua gara-gara Ibu, beliau tak mau berbesar hati melayani keluarga Elsa yang sedang datang berkunjung. Aku juga awalnya kaget melihat kedatangan Apak, Emak tak hanya berdua saja, bahkan hampir membawa semua anggota keluarga. Hanya tinggal nenek dan Paman Elsa saja yang tak ikut, itupun karena nenek sudah sangat tua dan istri dari Paman yang juga sedang menunggu hari lahiran, makanya Paman tak bisa ikut.
Hanya dua atau tiga bulan saja apa salahnya sih? Akhir-akhir ini Ibu terlalu perhitungan kepadaku. Bahkan untuk tinggal secara akur dengan menantu pun beliau tak bisa. Ada saja masalah yang diributkan, seolah-olah beliau tak pernah hamil saja dulu. Aku kasihan pada Elsa, sudah hamil besar tapi masih harus menghadapi ibu yang keras hati.
"Bang!!"
aku menoleh cepat ke arah pintu, Elsa istriku yang manis dan menggemaskan sedang berdiri di sana. Wajahnya cemberut, bibirnya maju dan matanya melotot marah.
"Kamar Reza dan kamar Ibu terkunci, pasti Ibu yang membawa kuncinya!" ucap Elsa sambil berjalan mendekati ku dengan langkah kasar.
"Beneran?" tanyaku kaget.
"Beneran lah... Abang cek aja sendiri! Semakin hari tingkah Ibu semakin seperti anak-anak deh, ada-ada aja," ucap Elsa sambil perlahan duduk di atas pangkuanku. Elsa menarik tangan kananku perlahan, lalu meletakkannya di atas perut.
""Bang... Minta gih kunci kamarnya... Kasihan tante-tante ku, mereka capek mau istirahat," ucap Elsa manja, dadaku langsung berdesir mendengar kalimat manjanya itu, istriku ini tahu sekali bagaimana caranya melemahkan aku. Dia juga sangat pandai melayani, membuat cintaku semakin besar kepadanya.
"Ya, sudah... Abang ke kontrakan Ibu dulu," ucapku kemudian, Elsa bangkit perlahan lalu berdiri menghadapkan tubuhnya kepadaku. Perutnya yang semakin besar langsung berhadapan dengan wajahku.
"Ya udah... Cepetan balik ya... Nggak usah lama-lama nanti di sana. Minta kunci aja, trus pulang," pesannya sebelum aku bangkit, matanya mengerling indah merayu hasrat. Aku tahu sekali apa maksud tatapan itu.
"Siap, 86!" ucapku cepat. Elsa tertawa kecil, lalu membelai rambutku. Ku kecup perutnya, lalu bangkit hendak segera menemui Ibu di kontrakan.
*
Pintu rumah kontrakan yang ditempati Ibu tertutup rapat, lampu di dalam rumah sudah dimatikan, hanya lampu luar saja yang menyala. Aku mendekati pintu rumah dengan ragu-ragu, takut kalau ada tetangga yang mendengar dan tahu kedatanganku. Apa lagi kalau tetangga tahu kalau tujuanku datang ke sini untuk meminta kunci kamar Reza dan kamar Ibu, mati lah aku jadi topik pembicaraan hangat dan harus menanggung malu nantinya.
"Bu..."
ku rapatkan mulut ke pintu dan memanggil Ibu dengan suara sangat pelan, hampir seperti sebuah bisikan. Pintu rumah ku ketuk dengan jari telunjuk saja, agar tak terdengar oleh tetangga yang tinggal di kiri dan kanan kontrakan Ibu.
"Assalammualaikum, Ibu...." ulangku memanggil, tak ada jawaban dari dalam. Hanya keheningan saja yang menjawab lewat suara angin.
"Bu... Ini aku, Rudi. Buka pintu...."
"Eh!! Siapa kau!!"
Aku melonjak kaget mendengar suara lantang dari seseorang yang berlogat Batak, laki-laki itu menatapku tajam dan memperhatikan aku dari kepala sampai kaki.
"Yah... Kau nya Rud!! Udah kayak maling aja kau ku tengok, pake mengintip segala! Mau apa kau!" tanyanya kepadaku. Laki-laki ini selalu mengakhiri kalimatnya dengan tanda seru, tak ada lembut-lembutnya sedikitpun. Padahal dia sudah hampir lima belas tahun tinggal di kota ini, tapi logat dan dialek Bataknya tak juga pudar.
"Mau... Hmmmm... Ini Bang, aku mau...."
"Mau ketemu Mamakmu? Jawab gitu aja pun kau tak bisa! Lembek kali kau jadi laki-laki! Arghhh?!" potong laki-laki bernama Joni itu cepat.
"Mamakmu di ajak Bu RT ke Payakumbuh, ada keluarga Bu RT yang pesta. Kalo nggak salah, Mamakmu kenal sama yang pesta itu makanya dia mau aja ikut waktu diajak Bu RT," tambah Bang Joni menjelaskan.
"Eh... Teringatnya lah kan, yang kau usir nya mamakmu dari rumah?! Kenapa pulak dia tinggal di kontrakan, sementara rumahnya ada!"
Aku lekas menggeleng-gelengkan kepala, mataku melotot takut menatap Bang Joni.
"Ish!! Apa pulak yang tidak, diketawakan orang kau Rud!! Mamak kau tinggal di kontrakan, sementara rumahnya dikuasai keluarga istrimu. Udah kayak kau pulak yang punya rumah itu, kejam kali lah kau, Rud!!" sambung Bang Joni lagi. Aku sudah nggak tahan lagi mendengar ucapannya yang seperti menuduh itu, aku harus segera pergi dari sini. Kalau tidak, tuduhannya akan bertambah banyak nanti.
"Udah Bang, aku permisi dulu." ucapku sambil beranjak menjauhinya. Lama-lama bicara dengannya membuat jantungku senam aerobik terus. Suaranya yang lantang bahkan bisa membelah kegelapan dan mampir di empat puluh rumah tetangga sekitar. Aku lebih baik lekas menghindarinya daripada terus mendengar ocehannya.
"Yah... Mau kemana kau, Rud! Belum selesai lagi aku bicara, kau udah pergi!! Alahhhh!! Dasar laki-laki lembek kau, Rud!"
tak kuperdulikan teriakan Bang Joni yang kembali memecah keheningan malam, telinga dan jantungku tak cukup kuat untuk mendengar suaranya dari jarak dekat. Seandainya dia seorang muslim dan di suruh adzan di mesjid, aku yakin sekali dia tidak butuh pengeras suara lagi. Suara standarnya saja sudah bisa mengalahkan pengeras suara.
Ini semua gara-gara Ibu, beliau pasti sudah bicara kesana kemari tentang alasannya pindah ke kontrakan. Karena Ibu sudah lama tinggal di sini, tentu saja semua tetangga akan lebih mempercayai ceritanya. Mereka tak akan peduli sekalipun Ibu sudah berbuat dzalim pada menantunya selama ini, bahkan Ibu tega sekali membiarkan tamu tidur di ruang nonton beralaskan karpet saja. Seburuk-buruknya perangai Ibu, beliau pasti dibela tetangga. Arghhhh!! Ibu!!