Assalamualaikum, Kak. Boleh dong dukung aku dengan cara follow dan ulasan bintang limanya. Jangan lupa ikuti cerita ini hingga TAMAT, karena gratis.
Terima kasih.
CELOTEH CAHAYA
BAB 1
(Awal Mula)
"Bunda kenapa?" tanya putri sulungku, Cahaya, dengan tatapan nanar.
Tangan mungilnya mengusap pipiku lembut. Hati ini terenyuh seketika.
"Bunda cuma sakit perut, Nak. Nanti juga sembuh," jawabku sembari mengulas senyum tipis untuknya.
Sudah hampir tiga jam aku terbaring lemah, sakit di area bekas jahitan operasi sesar enam bulan lalu karena melahirkan Pelangi membuatku lemah hari ini. Hingga aku tak sempat pergi ke butik untuk merencanakan launching produk baru yang akan diselenggarakan bulan depan.
"Sakit banget, ya, Bunda?" Mata bening kecokelatan bocah berusia 6 tahun itu masih menatapku sendu.
Aku mengusap lembut kepala Cahaya, merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Bunda baik-baik aja, Sayang."
Cahaya tersenyum tipis dan mencium pipiku sekilas.
"Coba aja Bunda bilang ke Ayah, pasti Ayah bisa ngobatin Bunda. Kayak Tante Rosa gitu, perutnya sering sakit. Tapi Ayah hebat, bisa sembuhin, loh, Bunda!" kata Cahaya dengan mata berapi-api.
"Tante Rosa? Memang Ayah sering ngobatin perut Tante Rosa?" tanyaku penasaran.
"Iya, Bunda. Tante Rosa sering mengeluh perutnya sakit, terus Ayah masuk ke kamar Tante, katanya mau ngobatin. Nggak lama Tante Rosa sudah sembuh, perutnya nggak sakit lagi, Bunda." Cahaya menjelaskan dengan detail.
Mendengar penjelasan dari Cahaya barusan, membuat jantungku berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya.
"Cahaya tahu di kamar Ayah sama Tante ngapain?" cecarku menanti kepastian.
"Nggak tahu, Bunda. Cuma Cahaya pernah lihat Tante Rosa nggak pake baju, terus Ayah naik ke atas Tante. Pas Aya masuk dan tanya, Ayah cuma bilang mau ngobatin Tante. Aya nggak boleh masuk kata Ayah, terus dikunci deh pintunya dari dalem," kata Cahaya dengan polosnya.
Tanganku terkepal kuat, bisa-bisanya mereka melakukan hal sekeji itu di dalam rumahku.
"Terus Ayah bilang apa lagi ke Cahaya?" tanyaku memancing semua kebusukan mereka selama ini.
"Nggak. Cuma Aya denger suara Tante kayak mau nangis di dalam kamar, Tante teriak-teriak gitu, Bunda. Pasti rasanya sakit banget, ya, Bunda?" Cahaya memandangku penasaran.
"Iya, sakit, Sayang. Biasanya Ayah sama Tante di kamar jam berapa, Nak?"
"Aya nggak tahu, Bunda. Mungkin siang, biasanya sepulang Aya sekolah," kata Cahaya jujur.
Biad*b!
Ini tidak bisa dibiarkan.
Kelakuan mereka benar-benar di ambang batas.
"Aya nggak usah cerita ini ke orang lain, ya, Nak. Cukup Bunda aja yang tahu. Janji?"
Jari kelingking kutautkan di jari mungilnya. Cahaya hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Sekarang Aya ke kamar dulu, ya. Panggil Tante Rosa buat suapin Aya. Bunda istirahat dulu!" kukecup pucuk kepala Aya dengan perasaan yang tak karuan.
Cahaya tumbuh menjadi anak yang baik, penurut dan lembut. Selama ini banyak kasih sayang yang tercurah untuknya.
Aku dan Mas Frengky, suamiku memang sudah mengatur jarak kehamilan. Saat Cahaya memasuki usia kelima tahun, barulah aku memutuskan untuk hamil lagi.
Enam bulan yang lalu aku berhasil melahirkan bayi perempuan, yang kami beri nama Pelangi. Bayi mungil dengan berat badan lahir 3,8 kilogram tersebut sangat cantik, matanya indah dan teduh.
Namun, rupanya Tuhan ingin kembali bersama dengan Pelangi sehingga kami harus merelakan kepergiannya menghadap sang Ilahi.
Ya ... Pelangi meninggal tepat berusia 40 hari setelah ia dilahirkan. Padahal kami sudah berencana akan mengadakan pengajian dan tasyakuran untuk aqiqah putri kedua kami. Takdir Allah berkehendak lain. Diusianya yang ke-38 hari, Pelangi demam. Aku dan Mas Frengky membawanya ke Rumah sakit tempat di mana ia dilahirkan. Trombosit terus menurun, Pelangi sempat kejang beberapa menit sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Aku sendiri tak paham, penyakit apa yang bersarang di tubuh Pelangi. Penjelasan Dokter pun tak ada satu pun yang berhasil kucerna. Aku hanya bisa pasrah dengan linangan air mata saat itu.
Bahkan, masa nifasku belum berakhir. Jahitan di perutku masih basah dan di saat yang bersamaan, aku harus menghadapi kenyataan pahit bahwa putriku sudah tiada.
Masih terekam dengan jelas, saat Pelangi menyusu dengan kekuatan super. Seakan air susuku tak bisa membuatnya kenyang. Pelangi terus saja menyusu seperti orang kelaparan. Anehnya, lima menit setelah menyusu, Pelangi selalu memuntahkan kembali air susu yang sudah ditelan.
Hal itu membuatku takut, mengingat dulu waktu Cahaya masih bayi tak pernah sesering itu muntah. Namun, pernyataan bidan dan mertuaku membuat rasa cemas di hatiku menghilang.
Mereka bilang itu hal yang lumrah dan wajar terjadi pada bayi. Sejak saat itu, tiap kali Pelangi muntah, aku menganggapnya sebagai hal yang biasa karena kekenyangan atau gumoh biasa orang menyebutnya.
Kejadian itu berlanjut hingga tiba-tiba suhu Pelangi semakin naik, dahinya panas dan tubuhnya seperti lemas. Ia terus saja muntah, disertai tangisan yang meraung-raung tak kunjung berhenti.
Aku yang bingung dan panik kalau itu, segera menghubungi Mas Frengky untuk membawa kami ke Rumah sakit.
Dua hari di Rumah sakit, kondisi Pelangi tak kunjung membaik, malah semakin memburuk.
Hingga tak terasa, ia tiba-tiba pergi tanpa pamit atau memberikan pesan kepadaku.
Aku menyesal, tiap kali melihat bayi perempuan yang baru lahir. Aku selalu terbayang wajah Pelangi.
Hal itu terus berlanjut hingga dua bulan kepergian Pelangi. Mas Frengky dan mertuaku selalu membujuk untuk membawaku ke psikolog. Dengan alih-alih ingin menyejukkan otakku. Karena kala itu tak ada satu orang pun yang bisa menghiburku untuk mengurangi kesedihan karena kepergian Pelangi.
Aku tak lagi peduli akan Mas Frengky, kehadiran Cahaya pun tak mampu membuatku tenang di saat sedih kehilangan Pelangi.
Rasa penyesalanku teramat dalam untuk Pelangi, baru saja kutimang, kumanja dan kusayang. Dengan cepat sudah diambil alih oleh sang Pencipta. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, bahkan aku belum bisa mendengarnya mengucapkan kata Bunda.
Mas Frengky sengaja membawa Rosa, untuk menemaniku, menghiburku dan menyiapkan semua keperluanku. Entah dari mana wanita itu berasal. Aku pun menyetujui, karena Rosa wanita yang baik saat itu. Ia dengan telaten merawatku, Rosa begitu tanggap dan cekatan ketika aku butuh. Menurutku, dia wanita yang baik dan sopan.
Umurnya pun tak jauh berbeda denganku. Hanya saja ketika kutanya perihal status, ia mengaku single. Belum ketemu lelaki yang pas dan cocok sesuai kriteria katanya.
Ah ... pikiranku semakin jauh melayang.
Kini, aku sudah bangkit. Aku sudah tak terpuruk lagi akan kepergian Pelangi. Aku akui semua itu karena dukungan dari Mas Frengky dan Rosa yang selalu setia menghiburku, juga Cahaya yang selalu sabar menanti Bundanya kembali ceria.
Aku tak menyangka, pernyataan Cahaya berhasil membuatku tercengang dan syok. Mungkinkah Mas Frengky mengkhianati janji suci kami, apa lagi dengan Rosa, meskipun dia cantik dan sexy. Namun, statusnya. Yakinkah Mas Frengky berselingkuh dengan Rosa?
Aku tak akan tinggal diam jika itu beneran terjadi, aku harus bisa menguak semuanya. Ini rumahku, jerih payahku dan aku ratu di istanaku.
Tak ada yang boleh merusak istanaku, tidak satu orang pun. Termasuk, Mas Frengky!
Ngomong-ngomong soal Mas Frengky.
Dia suamiku, tujuh tahun kami menikah setelah setahun pacaran.
Kami bertemu di Kafe miliknya. Kebetulan saat itu aku sedang bersantai bersama karyawan butik. Karena ada salah satu pesanan yang tidak sesuai, aku mencoba berbicara baik-baik dengan Manager Kafe dan sampailah masalah tersebut ke telinga Owner, yakni Mas Frengky. Dari sana lah kami akhirnya bisa dekat dan mencoba menjalin hubungan, hingga tak menyangka dipersatukan dengan ikatan suci. Kini kami dikarunia putri yang cantik.
Sekarang, aku harus mencari tahu asal usul Rosa. Siapa dia sebenarnya?
Baru empat bulan dia bekerja sebagai asisten di rumahku. Aku sudah menganggapnya sebagai adik. Begitu pun Mas Frengky. Tak ada sikap yang aneh di antara mereka. Atau aku yang terlalu naif?
"Permisi, Mbak Nayla. Aku panggil dari tadi nggak ada sahutan. Mbak Nayla sudah enakan?" tanya Rosa menghampiriku sembari membawa nampan berisi segelas air putih dan salad buah.
"Iya, perutku masih sakit. Tapi sedikit, nanti juga sembuh!" jawabku sambil menetralisir perasaan.
Teringat celotehan Cahaya beberapa menit lalu yang terus terngiang-ngiang di telingaku.
Ingin rasanya tanganku ini menjambak rambut panjangnya dengan sekuat tenaga. Namun, tentu saja kuurungkan niat itu, sebelum aku membuktikan sendiri bahwa ia ada main gila dengan suamiku.
"Mbak Nayla perlu sesuatu?" alisnya naik turun menatapku dengan senyum melengkung.
Aku menggeleng lemah, eh ... tunggu. Alisnya, seperti ada sesuatu yang berbeda.
"Alismu?" ujarku menggantung.
"Eh, oh ... ini, Mbak. Iya, habis aku sulam. Cocok nggak, Mbak?" tanyanya malu-malu. Ia tampak salah tingkah.
"Bagus!" sahutku jutek.
Rosa tersentak, ia sepertinya kaget. Mengingat nada bicaraku tak seperti biasanya.
"Mbak Nay istirahat, aja, dulu. Rosa mau temenin Cahaya tidur," ujarnya lirih.
Aku hanya mengangguk, Rosa keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Nafasku memburu, tak beraturan.
Kuambil air yang disiapkan oleh Rosa, kuteguk hingga hampir tandas. Tetap saja kerongkonganku terasa tercekat, hatiku juga masih panas. Air putih tersebut hanya menghilangkan dahagaku, tidak dengan sakit hatiku.
Namun, beberapa menit kemudian. Aku menguap, kantuk menyerang terasa kuat.
Hingga tak sadar, mataku pun terpejam. Tertidur dengan pulas.
Sementara itu, di kamar Rosa. Wanita dengan tubuh semampai dan sedikit semlohay itu sedang asyik menelfon seseorang.
"Iya, ih, Mas. Mbak Nayla itu kampungan banget, masak nggak ngeh kalo alisku habis disulam. Tunggu aku naik turunkan dulu baru dia nyadar, nyebelin ish, dia juga nggak nanya soal eyelashku, padahal kentara banget loh, kalau bulu mataku sekarang jadi lebih panjang dan lentik!" kata Rosa mendayu-dayu di ujung telfon.
"Hahaha, ya, begitulah. Dia memang datar orangnya. Udah, ah. Aku masih sibuk, jangan nelfon terus!" ucap suara bariton khas lelaki di seberang.
"Oke, deh. Semangat kerjanya. Jangan lupa, loh. Nanti malam," goda Rosa seakan memancing sesuatu.
"Ya pasti, dong. Eh, gimana? kamu udah kasih 'vitamin' ke minumannya 'kan?"
"Udah, nanti malem lagi, lah. Biar makin jos tuh ngoroknya!" Rosa terkekeh menutup mulutnya, menganggap hal itu lelucon.
"Udah, deh. Aku tutup, ya!"
"Ish, sama-sama nyebelin!" Rosa membanting ponselnya ke atas kasur. Matanya menerawang jauh.
'Berapa lama lagi, ya, aku jadi Ratu? Bosen ah, empat bulan ini jadi pelayan terus. Capek!' keluh Rosa dalam hati.
'Sabar, tinggal selangkah lagi. Ini semua pasti jadi milikku!'
Senyum manis mengembang dari bibir ranumnya.
*****
Awal, ya. Masih Bab 1. Inhale, exhale ... inhale, exhale ....
dinext nggak nih?
janji dong bakal di update di sini sampe tamat dan gratis hehe!
mau?
komentarnya dong! jangan lupa like juga biar aku makin semangat hehe😁
CELOTEH CAHAYA
BAB 2
Rasanya sudah terlalu lama aku terlelap. Entah kenapa aku tidur seperti orang yang tak sadarkan diri, tapi badanku rasanya pegal, seperti orang kesemutan.
"Hmmm ... jam berapa ini, ya?" lirihku sembari meraba nakas yang berada di samping tempat tidurku. Aku mencari benda elektronik berbentuk pipih untuk melihat waktu.
Memang sengaja di kamar tak ada jam dinding yang menggantung. Aku lebih suka tidur dan beristirahat tanpa dikejar waktu, mungkin sifat itulah yang membuat Bu Romlah, mertuaku, menyebut aku tukang molor.
Setelah mendapatkan ponselku, aku bergegas melihat barisan empat angka yang tertera di layar ponsel.
"Pukul 08.30 WIB. Wah, selama itukah aku bergelut dengan alam bawah sadar hingga bangun kesiangan seperti ini?" kataku berbicara pada diri sendiri.
"Mas Frengky pasti sudah berangkat ke Restoran. Kenapa aku tak sadar sama sekali, bahkan kepulangan Mas Frengky kemarin tak sedikitpun membuatku sadar dan terbangun."
Aku mencoba bangun dari tidurku, duduk di tepi ranjang dengan hati-hati.
Perutku masih sedikit perih, sudah mendingan lah tapi dari pada kemarin.
Aku beranjak dari tempat tidur berukuran king size ber sprei motif abstrak milikku. Berjalan ke luar kamar.
Hendak memutar knop pintu, kertas kecil yang tertempel di balik pintu membuatku mengernyitkan kening. Sebuah memo singkat dari Mas Frengky membuatku penasaran, spontan aku membacanya dalam hati.
[Kamu pasti kecapekan, ya, Bun. Sampai pules banget tidurnya. Dari aku pulang sampai berangkat lagi Bunda tak sedikitpun membuka mata, aku jadi tak tega yang mau membangunkan. Oh, ya, tadi aku udah minta tolong ke Rosa untuk buatkan kamu sayur bening, pepes ikan kutuk, tak lupa 5 biji putih telur ayam rebus. Dimakan semua, ya! Wajib dihabiskan, Cahaya bilang jahitanmu kambuh. Cepat sembuh istriku, surgaku, ibu dari anak-anakku. Salam dari Ayah yang sayang sama Bunda banyak-banyak😘🥰!]
Senyumku mengembang setelah membaca isi memo tersebut. Mas Frengky memang ada-ada saja. Seharusnya lewat pesan di ponsel saja bisa, tak perlu lagi repot-repot menulis begitu. Ah ... suamiku itu memang penuh dengan kasih sayang.
Eh ... hampir saja aku lupa. Bukankah kemarin aku berencana akan memantau tentang hubungan Mas Frengky dan Rosa?
Seketika senyum indah di bibirku berganti dengan umpatan.
Kuremas kertas berisi pesan sok manis itu, lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.
Setelah itu, aku bergegas ke luar kamar. Tenggorokanku rasanya kering, aku butuh air putih dan sedikit buah untuk menyegarkan. Kuseret kakiku menuju lemari es yang berada di dapur.
Di sana sudah ada Rosa yang sedang sibuk memotong sayuran sambil sesekali membuka tutup panci berisi rebusan ikan kutuk. Tangannya begitu terampil dan cekatan. Memang aku akui, sebagai seorang wanita yang normal terkadang terbersit rasa isi muncul dari dalam diriku. Melihat Rosa yang mempunyai tubuh langsing, tinggi semampai, rambut lurus asli tanpa sentuhan obat salon. Belum lagi wajahnya yang ayu, hidung bangir dan mata belo serta bibirnya yang ranum menambah aura kecantikannya.
Tanpa polesan makeup, Rosa sudah terlihat cantik. Apalagi sekarang, alisnya disulam seperti selebgram kekinian, bulu matanya pun dieyelash. Semakin menampilkan kesan dewasanya, sedikit demi sedikit aura polosnya mulai sirna.
Rosa bersenandung kecil sembari memasukkan potongan sayur ke dalam air yang mendidih. Ia masih belum sadar bahwa aku telah memperhatikannya sedari tadi.
Coba tebak, pakaian yang ia kenakan sekarang?
Kaus tipis berdada rendah, hampir menampilkan setengah dari payudaranya. Hotpant dengan panjang hanya sekitar lima senti dari pangkal paha. Bahkan saat ia jongkok pun, mungkin gundukan bagian belakang tubuhnya akan dengan mudah terlihat.
'Astaghfirullahaladzim ... begini kah pakaian yang dikenakannya sehari-hari? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Bukankah dulu awal-awal datang pakaiannya tak jauh dari kaus gombrong kebesaran dengan celana kain selutut atau bahkan lebih panjang, kenapa sekarang seperti ini?' batinku dalam hati.
"Loh, eh ... Mbak Nayla, sini, Mbak. Ayo makan, ini bentar lagi makanannya mateng. Rosa siapin, ya!" perkataan Rosa barusan membuatku tersadar dari lamunan.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, ia tampak salah tingkah.
Kuseret kursi yang ada di meja makan, sengaja aku ingin memperhatikannya lebih dekat lagi.
"Kamu perawatan, Ros? Kelihatannya kok makin glowing?" tanyaku sembari menatap wajahnya dengan lekat.
Memang benar, saat kutamatkan dari dekat, wajahnya terlihat bersih dan mulus, bahkan jika ada lalat yang tak sengaja hinggap, bisa saja terpeleset jatuh karena saking licinnya tuh muka.
"Ah, iya, Mbak. Lagi coba cream wajah yang ada di instagram itu, loh, Mbak. Cuma cream biasa," sahutnya tampak salah tingkah.
"Masak? Apa mereknya?" tanyaku menyelidik.
"Ehm ... apa, ya. Aku lupa, nanti deh aku lihat, Mbak. Pokoknya murah kok harganya, Mbak," jawabnya tergagap.
"Hati-hati, loh, Ros. Skincare sekarang makin marak, jangan sampai salah pilih, apa lagi pakai yang abal-abal. Sayang 'kan kalau kulit wajah jadi rusak gara-gara pakai cream murahan yang belum jelas pasti bersertifikat halal dan lolos uji BPOM," kataku panjang kali lebar.
Biar saja, aku ingin tahu reaksinya nanti.
"Iya, Mbak," sahutnya cuek.
Dih, dibilangin malah gitu. Ah, sudahlah, untuk apa aku mau repot-repot mengurusi asisten yang satu ini. Lebih baik aku fokus untuk pembukaan butikku nantinya, lumayan 'kan buat perkembangan bisnis, bisa mempergendut saldo di tabungan.
"Oh, ya. Cahaya apa sudah makan?" tanyaku mengalihkan perhatian, aku tahu dia mungkin tak nyaman karena penyelidikan yang kulakukan.
"Sudah, Mbak. Tadi minta bikin indomie rasa kare ayam. Lahap banget makannya, nasi sepiring juga habis!" jawabnya dengan mata berbinar.
"Apa? Indomie lagi? Aku 'kan sudah berulang kali mengingatkan, Ros. Jangan beri Cahaya makanan instan terlalu sering. Coba untuk bujuklah dia agar mau makan masakan rumahan!" sahutku ketus.
Bagaimana tidak emosi? Aku sudah berusaha memberikan suplemen dan vitamin dengan harga yang cukup merogoh kocek untuk pertumbuhan putriku satu-satunya saat ini. Tapi dengan entengnya asisten yang satu ini malah memberinya makanan instan.
"Tapi dengan mie instan Cahaya lahap, Mbak. Udahlah biarkan dia menentukan seleranya, Mbak. Yang penting makan!" tandas wanita di depanku ini dengan enteng.
Apa dia mulai ngelunjak? Sejak kapan dia berani membantah dan berbicara dengan nada tinggi seperti itu di depanku?
"Kamu nggak usah ikut campur soal selera Cahaya, dia putriku dan aku yang berhak menentukan nutrisi harian yang masuk ke dalam tubuhnya. Kalau suatu hari nanti ada hal yang tidak diinginkan gara-gara ulahmu ini yang sering memberikannya makanan instan, apa kamu mau tanggung jawab? Sekali lagi aku tegaskan, aku ibunya dan dia anakku. Jadi aku lebih berhak akan sesuatu yang bersangkutan dengan Cahaya!" bentakku kasar.
Aku sudah tak mampu menahan emosi rasanya, apa lagi jika sudah menyangkut putriku, aku sudah cukup trauma akan kehilangan Pelangi beberapa waktu lalu, dan aku tidak mau mengulangi kesalahanku, aku tidak mau kehilangan putriku, sekali lagi.
"Iya, Mbak, iya. Soal mie instan aja kok Mbak Nayla sampai segitunya, sih? Lagian juga, emangnya terjadi hal yang tidak diinginkan itu yang bagaimana? Mbak trauma akan Pelangi? Aku belum pernah denger tuh, Mbak, anak kecil mati gara-gara mie instan. Tapi kalo menurut Mbak Nayla aku yang salah, ya sudah aku minta maaf, Mbak!" ujarnya dengan sedikit terpaksa.
Sungguh, aku dibuat terkejut akan sikap dan gaya bicara Rosa hari ini. Tak biasanya wanita yang selama ini kukenal polos dan lugu bisa bersikap seperti ini.
"Kok kamu ngelunjak?" tanyaku dengan senyum sinis.
"Loh, ngelunjak gimana, Mbak? Maaf, mungkin Mbak Nayla lagi PMS, aku minta maaf banget, deh, udah ngerusak mood Mbak Nayla," ujarnya dengan senyum yang tulus, atau entahlah, mungkin berpura-pura tulus lebih tepatnya.
"Udah, ah. Aku mau ke butik, bisa pecah kepala lama-lama kalau dengerin kamu ngoceh!" ujarku seraya beranjak dari kursi, aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Barangkali dengan guyuran air dingin bisa sedikit menghapus rasa kesalku.
"Loh, Mbak nggak makan dulu? Ini udah aku siapin spesial, loh, buat Mbak Nayla, seriusan!" kata Rosa yang tak lagi kutanggapi. Aku sudah malas beradu argumen dengannya.
Setelah mandi, aku mengenakan atasan lengan panjang berwarna hitam yang kupadu dengan outer bermotif floral dan kulot berwarna putih, tak lupa memakai wedges dengan tinggi lima sentimeter. Kusapu wajahku dengan polesan makeup yang natural, terakhir kubalut rambutku dengan pashmina berwarna peach, tampak matching penampilanku kali ini.
Aku mematut diri di depan cermin, ingin memastikan sekali lagi penampilanku.
Setelah kurasa cukup, aku menghampiri kamar tidur Cahaya, putriku yang sedang terlelap dalam balutan selimut membuatku tak tega membangunkannya untuk sekedar pamitan. Setelah mengecup dahi dan membelai rambutnya sekilas, aku beranjak pergi memacu honda jazz berwarna kuning hasil keringatku, membelah jalan raya untuk menuju ke rumah keduaku alias butik pencapaianku setelah bermandikan keringat selama ini.
Ya ... memang benar, aku membangun butik itu dengan susah payah, mengorbankan keringat dan tenaga sepenuh hati, hingga bercucuran darah. Eh, nggak deng, bercanda hehe.
Sesampainya di butik, semua karyawan menyapaku sambil tersenyum. Aku bergegas naik ke lantai 3, di mana tempat singgahku berada.
Setelah mengecek laporan keuangan dari staf yang kupercaya, aku berniat bersantai sejenak. Menikmati secangkir kopi susu yang telah disediakan office girl di sini.
Memang butikku cukup besar, bangunan dengan 3 lantai yang dipijak oleh puluhan karyawan inilah sumber penghasilanku saat ini. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri bisa menikmati semuanya di usiaku saat ini. Memiliki karir yang bagus, suami yang pengertian dan anak yang lucu. Bukankah itu yang diidam-idamkan para hawa di muka bumi ini?
Jangan sampai berkata tidak, munafik jika kau mengatakannya.
*****
next?
CELOTEH CAHAYA
BAB 3
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda kemarin, aku berpamitan pada karyawan untuk pulang.
Aku mempercayakan butik pada Keysa, gadis berusia dua tahun dibawahku ini sudah menjadi kanan tanganku semenjak beberapa tahun yang lalu. Karena reward yang sering ia dapatkan setiap bulan dengan notabene karyawan teladan, serta sikap loyalnya pada butik yang aku pimpin, membuatku tak segan menjadikannya orang kepercayaan.
Keysa sudah berumah tangga, namun hingga sekarang belum dikarunia momongan. Suaminya yang seorang abdi negara, sering bertugas dan jarang pulang ke rumah, kadang untuk menikmati liburan cuti pun hanya beberapa hari sebelum akhirnya kembali lagi untuk bertugas. Hal itulah yang membuatnya bekerja di butik ini sebagai staf administrasi. Awalnya hanya iseng untuk mengisi waktu luang. Namun lama kelamaan ia merasa betah dan nyaman di butik, sehingga menempati bukti sebagai rumah keduanya. Sikap setia kawannya patut diacungi jempol, bekerja dengan loyalitas tanpa batas. Ah ... mungkin saja karena kurangnya intensitas waktu bertemu, mereka belum juga dipercaya untuk mempunyai anak. Atau kemungkinan lain, yang pasti semuanya sudah pasti atau kehendak dan rencana Allah SWT.
"Key, aku duluan, ya. Untuk susunan acara launching produk baru bulan depan juga sudah oke, tapi nanti tolong pastiin semuanya berjalan lancar, ya. Jangan lupa berikan mereka bonus lemburan, jika dirasa perlu," pamitku saat berpapasan dengan Keysa di koridor utama.
"Siap, Bu Nayla. Nanti saya koordinir lagi sama team. Hati-hati, ya, Bu," ujarnya sambil mengangguk sopan, tak lupa dengan menampilkan lesung pipitnya ketika tersenyum.
Aku mengendarai mobil dengan kecepatan rendah, jalanan sore ini terlihat padat. Harus sabar dan mengalah jika ingin selamat sampa tujuan. Ya memang beginilah risiko tinggal di kota besar, apalagi dengan julukan ibukota. Sudah bisa dipastikan bagaimana kemacetan yang terjadi di saat sore hari jam pulang kantor bukan?
Sesampainya di rumah, kulihat mobil Fortuner berwarna putih milik Mas Frengky juga sudah terparkir di garasi.
Ah ... rupanya suamiku sudah pulang.
Sengaja aku memarkirkan mobil di luar, tanpa suara dan mengucapkan salam dengan suara lirih, aku hanya ingin memastikan, apa yang sedang terjadi di dalam. Benarkah mereka ada sesuatu seperti yang ada dalam pikiranku?
Sesampainya di ruang tamu, terlihat sepi. Aku melangkahkan kaki menuju ke dapur, sepi juga.
Tak terlihat batang hidung Mas Frengky, Rosa maupun Cahaya.
Ke mana mereka?
Kubuka pintu kamarku, tak ada siapa-siapa.
Begitu juga dengan kamar Cahaya.
Dadaku mulai berdebar-debar, jantung pun ikut berdetak beberapa kali dari biasanya.
Aku menaiki anak tangga tanpa suara, mengendap-endap seperti pencuri, kupercepat kakiku menuju ke lantai dua, apa mungkin mereka berada di sana?
Di lantai dua hanya berisi 2 kamar tamu, dapur, dan juga kebun yang sedikit luas berisi koleksi tanaman hiasku. Di sebelahnya juga ada kolam ikan dengan ukuran sedang, sengaja aku membuat space khusus di lantai dua untuk wahana bermain putriku.
Mungkin saja Mas Frengky dan Cahaya berada di sana, atau dengan ditemani Rosa?
Pikiranku berkecamuk, emosi di dalam jiwa sudah naik ke ubun-ubun. Napasku pun semakin tak karuan, naik turun seperti habis maraton.
Kubuka pintu dapur yang terhubung dengan taman belakang.
Benar saja, di sana ada Mas Frengky yang sedang asyik menemani Keysa bermain pasir warna.
Sedangkan di sebelahnya, ada Rosa yang tampak serius menyiram tanaman hias milikku, jika dilihat, mereka sudah tampak serasi sebagai figur keluarga yang sempurna dan bahagia.
Entah kenapa, melihat kerukunan mereka membuat hatiku nyeri. Memang pemandangan tersebut merupakan hal yang biasa jika dilihat sekilas. Namun saat diperhatikan, diamati dan ditatap dengan seksama, mereka cocok sebagai potret keluarga cemara.
Aku masih asyik dengan pikiranku hingga panggilan Cahaya membuatku tersadar.
"Bunda sudah pulang? Kok diem di sana, ayo, sini, main sama Cahaya sama Ayah!" kata Cahaya membuat Mas Frengky dan Rosa melihatku berbarengan.
Bisa kuamati dengan jelas, perubahan wajah yang terjadi pada Rosa, sedangkan Mas Frengky nampak biasa saja.
Lelaki yang sudah menjadi suamiku selama 7 tahun tersebut, hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku tak melewatkan kesempatan ini, segera kuseret kakiku menghampiri mereka.
Dengan wajah yang kubuat bahagia dan senyuman terbaik, kuelus lembut rambut Cahaya dan kucium sekilas pipi Mas Frengky.
Kulirik sekilas wajah Rosa yang memerah dan berusaha memalingkan muka. Kenapa dia bersikap seperti itu? Bukankah wajar jika aku bersikap manja dan lembut kepada anak serta suamiku?
Rosa langsung menghentikan aktivitasnya, ia menggulung selang dan merapikan ke tempat semula.
Tanpa pamit, ia beranjak pergi dan turun ke bawah.
Aku yang memperhatikan hanya diam tanpa menegur atau menyapanya.
Jujur saja aku masih kesal atas sikapnya tadi pagi.
Dan lihat saja barusan, penampilannya bak montir seksi yang mencuci mobil di iklan tv yang sering kulihat.
Kaus singlet berwarna hitam, celana kain pendek berwarna senada dan rambut yang dibiarkan terurai, aku juga bisa melihat tadi sebagian baju dan rambutnya sedikit basah. Apa dia sengaja memancing Mas Frengky?
Hanya menyiram tanaman hias, apa bisa membuatnya hampir kuyup seperti disemprot selang pemadam kebakaran?
Aish ... makin lama makin ada-ada saja tuh sikap asisten.
Aku bergabung bersama Cahaya dan Mas Frengky. Baru saja duduk, suamiku sudah berpamitan dengan dalih mau mandi dan menunaikan salat.
"Cahaya gantian, ya, main sama Bunda. Ayah mau mandi dulu sebentar, terus kita salat Maghrib bersama, ya?" ujarnya pada bocah yang masih asyik membangun istana menggunakan pasir.
"Iya, Yah!" Cahaya hanya mengangguk tanpa menatap ayahnya.
"Kenapa buru-buru, Mas? Ini 'kan masih jam 4. Adzan Maghrib masih beberapa jam lagi 'kan?" tanyaku dengan mata memicing.
"Mau bebersih dulu, Bun, gerah banget. Tadi sepulang dari Resto, aku mau langsung mandi, tapi Cahaya ngajak main, jadi deh batal mandi!" ujar Mas Frengky sambil terkekeh.
"Oke, deh. Sekalian bilang ke Rosa, ya. Nggak usah siapin makan malam. Aku pengen kita dinner di luar malam ini, lama nggak menikmati quality time 'kan?" ujarku dengan lembut.
"Siap!" jawab Mas Frengky sembari mengacungkan kedua jempol. Lalu berjalan menjauh dari kami.
Ah ... kenapa suamiku ini bersikap biasa saja, ya?
Tidak ada satupun sikapnya yang menunjukkan dia telah mengkhianatiku, atau mungkin bermain serong dengan asisten di rumah ini. Semua sikapnya masih wajar dan perhatiannya pun tak kurang atau lebih, masih sama seperti tahun-tahun berikutnya.
Apa aku salah mengartikan celotehan Cahaya tempo lalu?
Ah ... memikirkan hal yang belum pasti memang kerap membuat diri ini hampir gila.
Aku mendesah panjang.
"Bunda kenapa, capek, ya, nemenin Cahaya main?" tanya Cahaya dengan tatapan polosnya.
"Nggak lah, Sayang. Bunda cuma meregangkan otot," sahutku sembari tersenyum.
"Cahaya ... udahan, yuk, mainnya. Kita mandi, terus pake baju bagus. Ayah sama Bunda mau ajak Cahaya main dan makan di luar, mau nggak?" tawarku pada bocah berpipi gembul tersebut.
"Mau, dong! Tapi Tante Rosa diajak juga, ya?" tanyanya.
Hampir saja aku terjatuh karena pertanyaan spontan yang meluncur dari bibir putriku, membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
"Nggak, Sayang. Ini spesial, cuma keluarga," jawabku sembari meraih tangannya.
"Loh, 'kan Tante Rosa juga keluarga kita Bunda?" tanyanya sambil mendongak, mencari jawaban melalui mataku.
"Kata siapa?"
"Kata Bunda, kata Ayah juga. Kan bilang kalau Tante Rosa sudah dianggap sebagai keluarga juga. Kata Ayah kasihan Tante Rosa di sini sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Jadi Cahaya, Bunda dan Ayah harus bersikap baik jadi keluarga buat Tante Rosa," seru Cahaya dengan binar bahagia.
"Oh, iya. Tapi kali ini Bunda pengen bertiga aja, ya. Cuma ada Bunda, Ayah dan Cahaya," ujarku memberi pengertian.
Cahaya hanya mengangguk, lalu tersenyum.
Untunglah anakku tak banyak bertanya lagu, beruntungnya juga dia tipe gadis penurut yang mau mengerti perkataan orang tuanya.
Setelah menyerahkan Cahaya untuk dimandikan dan dilayani oleh Rosa, aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
Mas Frengky sedang sibuk memilih pakaian di dalam lemari. Ia mengenakan celana chinos pendek dan kaos berwarna hitam. Sangat pas dengan tubuh atletisnya, semakin membuatnya terlihat tampan dan jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
"Bunda ngajak makan-makan lagi banyak uang, ya? Kenapa kita nggak makan di Resto aja, sih?" tanyanya seraya menyisir rambut dengan tangannya.
"Kalau makan di Restomu 'kan jadinya main, Mas. Bukan jalan-jalan refreshing. Lagian bosen ah makan masakan di Restomu, sekali-kali kek cobain Resto tetangga!" ujarku seraya menggoda.
"Kamu bisa aja. Ya udah, mau ke mana kita?" tanya Mas Frengky sambil memoleskan pomade untuk merapikan tatanan rambutnya.
"Makan di rooftop hotel Marriot, gimana?" ujarku seraya menautkan alis.
"Kamu yakin?" ucapnya sedikit berjingkat karena kaget.
"Sekali-kali, boleh, dong!" sahutku sembari menyambar handuk bersiap untuk mandi.
"Wah, Bunda lagi banyak uang, nih. Pemasukan butik lagi kencang, ya?" tanya Mas Frengky dengan senyum merayu.
"Alhamdulillah, cukup lah kalau untuk makan di sana kita bertiga," kataku.
Memang selama ini Mas Frengky tak pernah tahu berapa nominal butik yang aku dapatkan, ia hanya sebatas tahu aku mempunyai butik dengan pelanggan yang ramai. Asal dia memberi nafkah sekian juta, semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi dan apapun yang diinginkan bisa beli, itu sudah cukup baginya untuk tak terlalu dalam membahas penghasilanku.
Bukankah penghasilan dan uang istri akan sepenuhnya menjadi hak seorang istri?
Kembali kulihat mimik wajah Mas Frengky tampak sedikit aneh.
"Kenapa?" tanyaku memastikan.
"Bertiga aja?" tanya Mas Frengky seperti memikirkan sesuatu.
Aku tak menjawab pertanyaannya, karena kakiku sudah menapaki lantai kamar mandi dengan pintu tertutup. Guyuran air yang keras semakin membuat suara Mas Frengky menghilang.
Setelah mandi, Mas Frengky masih duduk di tepi ranjang. Matanya menyiratkan sesuatu.
Aku tahu, jika ia sudah memasang mimik seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi dan ujung-ujungnya akan melibatkanku.
Coba saja kita bertaruh.
Satu ... dua ... tiga ....
"Kamu kenapa, Mas? Mendadak wajahmu kusut, perlu aku setrika?" tanyaku berusaha bercanda.
Ia hanya tersenyum, lalu beranjak berdiri. Mas Frengky menghampiriku yang sedang berpakaian, ia memelukku dari belakang, mengendus leher dan turun ke pundak.
"Sebenarnya aku pengen cerita, tapi nggak memungkinkan melihat kondisimu kemarin, Bun. Aku mau minta tolong," ujarnya sambil meletakkan kepalanya di bahuku. Membuatku sedikit kesulitan memakai baju.
"Tolong apa?" tanya melirik sekilas.
"Ehm ... aku nggak enak ngomongnya, ngerepotin kamu terus!" ujarnya sembari mengangkat kepala dari bahuku.
"Apa?" tanyaku tanpa basa-basi. Aku sudah hafal, pasti tak jauh dari perkara uang.
"Boleh pinjemin Ayah uang nggak? Buat menggaji karyawan, Bun. Kasihan mereka, bulan ini Ayah harus putar otak untuk memikirkan upahnya," kata Mas Frengky terlihat sendu.
Tepat sasaran, 'kan?
"Berapa?" tanyaku seraya melepaskan tubuh dari pelukannya.
"Dua puluh juta, aja, Bunda. Janji bulan depan langsung diganti. Sekalian yang tempo lalu, pasti Ayah cicil, kok," katanya dengan enteng.
"Apa? Dua puluh juta? Bukannya minggu lalu kamu sudah pinjam sepuluh juta untuk tambahan modal?" tanyaku memastikan.
Aku membalikkan badan untuk menatap manik matanya, mencoba mencari suatu kebenaran dari sana.
*****
Wah, dikasih nggak, ya?