Bab 1

Raya terbangun dengan perasaan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kepalanya berdenyut, berat seperti baru saja dihantam oleh gelombang kenangan yang bukan miliknya. Saat matanya terbuka, ia disambut dengan langit-langit kamar yang asing. Warna merah marun mendominasi ruangan, dengan hiasan kristal menggantung di sudut-sudutnya. Jelas, ini bukan kamar kos sederhana yang biasa ia tempati.

Panik mulai merayap. Ia meraba-raba tubuhnya, namun yang ia temukan adalah tubuh yang terasa berbeda. Lebih kecil, lebih rapuh. Wajahnya tersentuh, dan kulitnya terasa halus seperti porselen. Di meja rias, ia melihat bayangan seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang menjuntai lembut, wajahnya tirus, namun tatapan mata itu... dingin. Itu bukan dirinya.

"Selina?" suara asing memanggil dari balik pintu.

Raya terkesiap. Ia bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi, tapi tubuhnya secara refleks bangkit. Saat ia membuka pintu, seorang pelayan dengan seragam hitam-hitam berdiri dengan kepala tertunduk.

"Nona, sarapan sudah disiapkan di ruang makan. Ayah dan Ibu menunggu Anda," ucapnya sopan.

Raya menelan ludah. Otaknya berputar cepat, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ini. Ia ingat membaca sebuah novel tadi malam, novel yang ia benci setengah mati. Dalam cerita itu, tokoh antagonis bernama Selina adalah orang yang paling dibenci. Selina selalu menyiksa saudara angkatnya, Sierra, dengan berbagai cara. Namun, semuanya berubah ketika fakta bahwa Selina adalah anak yang tertukar terungkap. Selina akhirnya dibuang oleh keluarganya, hidup miskin, dan dihancurkan oleh tokoh utama pria yang ia cintai.

Dan sekarang... dia ada di dalam tubuh Selina?

***

Ruang makan itu lebih menyerupai aula istana. Meja panjang yang penuh dengan hidangan mewah membuat Raya semakin gugup. Di ujung meja, seorang pria paruh baya dengan wajah keras menatapnya dengan dingin. Itu pasti ayah Selina, Darius Adrian, pria yang di novel digambarkan sebagai sosok otoriter tanpa belas kasih.

"Selina, kau terlambat," ucapnya singkat, suaranya mengandung nada ancaman.

Raya menunduk, merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia mencoba mengingat bagaimana karakter Selina biasa bertindak. Jika sesuai dengan cerita, Selina adalah gadis arogan yang selalu melawan aturan. Tapi Raya tidak punya keberanian untuk berperan seperti itu.

"Maaf, Ayah," jawabnya pelan, membuat seluruh ruangan hening.

Tatapan tajam dari Darius dan seorang wanita cantik di sebelahnya, yang pasti adalah ibu Selina, mengarah padanya. Raya tahu, dalam novel, Selina tak pernah sekalipun meminta maaf.

"Apa kau sakit?" tanya wanita itu, Nadine Adrian, dengan nada curiga.

"Ah, tidak, Bu. Hanya... hanya kurang tidur," Raya berusaha mencari alasan. Ia tahu, setiap gerak-geriknya sedang diawasi.

Di sudut ruangan, Sierra masuk dengan langkah pelan. Gadis itu tampak sederhana dengan gaun putih polos, rambut cokelat bergelombang yang diikat rapi. Wajahnya lembut, namun penuh dengan kesedihan yang disembunyikan. Sierra, tokoh protagonis yang selalu dianiaya oleh Selina.

Raya menahan napas. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani hidup sebagai Selina, seorang gadis yang dibenci semua orang?

***

Hari berlalu dengan lambat. Raya mencoba menyesuaikan diri dengan peran barunya, namun semakin ia berusaha, semakin ia merasa terjebak. Seluruh sikap dingin keluarga Adrian membuatnya merasa seperti berada di dalam kurungan emas.

Saat malam tiba, Raya duduk di depan cermin besar di kamarnya, menatap wajah Selina yang kini menjadi wajahnya. Pikirannya terus berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan? Jika ia mengikuti jalan cerita asli, hidupnya sebagai Selina akan berakhir tragis. Namun, jika ia mengubah segalanya, apakah nasibnya akan lebih baik?

Tiba-tiba, sebuah suara lirih terdengar di dalam kepalanya.

"Kau adalah aku sekarang. Jangan berani-berani mengacaukan hidupku."

Raya tersentak. Ia merasa bulu kuduknya berdiri. Apakah itu suara Selina? Atau hanya imajinasinya?

Satu hal yang pasti: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Bab 2

Keesokan harinya, Raya berjalan dengan langkah berat menuju ruang belajar yang terletak di lantai dua rumah besar itu. Pintu besar yang terbuat dari kayu jati terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak buku tinggi, berisi koleksi-koleksi yang sangat mahal. Ia menelan ludah. Ini dunia yang asing, tapi terasa sangat nyata.

Di meja besar di tengah ruangan, ada sebuah dokumen yang tampaknya penting. Itu adalah catatan harian milik Selina. Raya ragu-ragu sejenak sebelum membuka halaman pertama. Setiap kata yang tertera di sana adalah keluhan Selina tentang hidupnya-tentang ketidakbahagiaannya dengan keluarga, tentang betapa ia merasa terasingkan meskipun hidup di kemewahan. Namun, ada sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang lebih berbahaya.

"Selina, kau harusnya belajar lebih baik lagi," suara Darius tiba-tiba terdengar di luar ruangan. Raya terkejut dan buru-buru menutup buku harian itu.

Ia memaksa dirinya untuk tampil seperti Selina, meskipun hatinya bertanya-tanya apakah ini adalah takdir atau jebakan.

Raya tahu, dari apa yang ia baca tentang kehidupan Selina, gadis itu adalah sosok yang sangat berbeda dengan dirinya. Sifat keras kepala, manipulatif, dan penuh dendam selalu menjadi ciri khasnya. Dan Raya... Raya yang dulu selalu berusaha menjadi orang baik, merasa tak bisa mengenali dirinya lagi dalam tubuh ini.

Setelah Darius masuk, ia memberikan perintah tegas, "Selina, sudah waktunya untuk menghadapi kenyataan. Ayah sudah memutuskan, kau akan melanjutkan studi di luar negeri. Tapi jika kau terus begitu, ingatlah bahwa kita tidak bisa melindungimu selamanya."

Raya menahan napas. Semua kata-kata itu seperti memberi tekanan lebih besar padanya. Menjalani kehidupan Selina sama sekali bukan perkara mudah.

"Apakah itu keinginan Ayah?" tanya Raya dengan suara tenang, berusaha untuk berbicara seperti Selina yang angkuh dan tak pernah tunduk pada orang tuanya.

Darius hanya mengangguk, namun tatapannya tetap dingin. "Ya, itu keputusanku. Kau akan mengubah hidupmu atau kehilangan semuanya."

Kata-kata itu menggema dalam benaknya. Raya tahu ia tidak bisa memilih jalan mundur. Jika ia memilih untuk bertindak seperti Selina, ia akan semakin tenggelam dalam peran ini. Jika tidak, kemungkinan besar seluruh hidupnya akan terjerumus dalam kegelapan.

Hari-hari berlalu begitu lambat bagi Raya. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih berat dari sebelumnya. Dan hubungan dengan Sierra-gadis yang selama ini menjadi korban dari Selina-semakin rumit. Sierra tidak pernah memandang Raya dengan kebaikan hati. Ada kebencian yang tersembunyi di balik tatapannya yang penuh kesedihan. Dan Raya tahu, ia harus berhati-hati.

Suatu sore, setelah pelajaran selesai, Raya bertemu dengan Sierra di taman belakang rumah. Gadis itu duduk sendiri di bawah pohon besar, matanya kosong, seperti menatap ke masa lalu yang kelam. Raya mendekatinya dengan langkah hati-hati.

"Sierra," suara Raya terdengar serak, mencoba membuka percakapan.

Sierra menoleh, namun ekspresinya tidak berubah. "Kau datang untuk mengingatkan aku betapa buruknya hidupku?" tanyanya dengan nada datar.

Raya terdiam sejenak, merasa bersalah meskipun ia bukan orang yang seharusnya disalahkan. "Aku... aku ingin mencoba untuk memperbaiki semuanya."

Sierra tertawa, namun itu bukan tawa kebahagiaan. Itu adalah tawa pahit yang penuh dengan luka. "Memperbaiki apa, Selina? Kau pikir kau bisa menggantikan masa lalumu begitu saja?"

Raya merasakan setiap kata itu seperti pisau yang menusuk. Ia tahu tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan Sierra, apalagi setelah semuanya yang telah terjadi. Namun, ia juga tahu bahwa jika ia tidak bisa memperbaiki hubungan ini, ia tidak akan pernah keluar dari bayang-bayang Selina.

"Aku bukan Selina," jawab Raya dengan penuh keyakinan. "Aku... aku terperangkap dalam tubuhnya, tapi aku tidak ingin hidup seperti dia."

Sierra terdiam, matanya penuh pertanyaan. "Terperangkap? Jadi kau tahu siapa kau sebenarnya?"

Raya mengangguk perlahan. "Aku bukan orang jahat. Aku... aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun lagi."

Sierra akhirnya berdiri, berjalan menjauh tanpa berkata sepatah kata pun. Namun, sebelum ia menghilang di balik gerbang taman, ia berhenti sejenak dan berbalik.

"Selina, jika kau benar-benar ingin berubah, maka buktikan. Jangan hanya mengucapkan kata-kata kosong. Lakukan sesuatu yang nyata."

Raya hanya bisa menatapnya pergi, hatinya bergemuruh dengan perasaan cemas. Ia tahu apa yang Sierra katakan benar-perubahan bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap langkah yang ia ambil akan mengubah jalan hidupnya. Tetapi apakah ia bisa berubah, atau takdirnya akan tetap terperangkap di dunia yang gelap ini?

Bab 3

Bab 3: Bayang-Bayang yang Tak Terlihat

Hari-hari berlalu dengan cepat, namun bagi Raya, setiap detiknya terasa seperti sebuah pertarungan batin. Setiap keputusan, setiap kata yang keluar dari mulutnya, terasa seperti ujian. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi mereka yang ada di sekitarnya. Dan di setiap sudut rumah besar itu, ada bayang-bayang Selina yang menekan, menuntutnya untuk mengikuti jejaknya yang penuh kebencian dan manipulasi.

Pagi itu, Raya terbangun lebih awal dari biasanya. Ia memandang dirinya di cermin, merenungkan kata-kata Sierra yang masih terngiang di telinganya. "Buktikan kalau kau benar-benar ingin berubah." Tapi bagaimana caranya? Di dunia yang penuh dengan tekanan ini, apakah ia bisa menemukan jalan keluar dari peran yang dipaksakan kepadanya?

Langkah pertama menuju perubahan dimulai dengan menuruti instruksi Darius. Ia harus pergi ke sebuah pertemuan bisnis yang sangat penting. Ini adalah kesempatan Raya untuk memulai perannya sebagai Selina yang lebih baik, atau sebaliknya, semakin terjerumus dalam perangkap yang tak terlihat.

Di ruang rapat besar yang dipenuhi pria-pria berbicara dengan nada serius, Raya duduk diam, mencoba mengikuti alur percakapan yang berlangsung. Wajah-wajah mereka terlihat tajam, penuh perhitungan, seolah-olah siap memangsa. Darius duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin, mengarahkan perhatian kepada Raya, berharap ia mengikuti aturan yang ada. Tapi Raya merasa terasingkan. Ia merasa seolah-olah tubuh ini bukan miliknya. Bahkan saat berbicara, suaranya terdengar asing di telinga sendiri.

"Selina, apa pendapatmu tentang proyek ini?" tanya seorang pria paruh baya, memecah keheningan di meja itu.

Raya menatapnya, merasa keringat dingin mengalir di tengkuknya. Semua mata tertuju padanya, menunggu jawaban. Ia tahu jika ia menjawab dengan cara yang salah, hidupnya akan lebih sulit dari sebelumnya. Apa yang akan terjadi jika ia mengungkapkan kebenaran, bahwa dia bukan Selina, melainkan seseorang yang terjebak dalam tubuhnya? Apakah mereka akan mempercayainya?

"Aku setuju dengan proyek ini," jawabnya akhirnya, berusaha berbicara dengan tegas, meskipun hatinya penuh kebingungan. "Namun, kita perlu mempertimbangkan risiko yang ada."

Suasana di ruangan itu berubah sedikit lebih rileks, namun Raya masih merasakan beratnya tekanan. Ia tahu ia hanya sekadar berperan sebagai Selina, menjalani kehidupan yang bukan miliknya, dengan segala tuntutan dan keputusan yang mengikat.

Sore harinya, ketika Raya kembali ke kamar, dia terkejut mendapati sebuah surat tergeletak di atas meja. Surat itu bukan berasal dari keluarganya, tetapi dari seseorang yang belum ia kenal. Dengan hati-hati, ia membuka surat itu, membaca setiap kata yang tertulis di dalamnya.

"Selina, aku tahu siapa dirimu. Kau tidak bisa bersembunyi dari masa lalu. Aku akan menunggu di tempat yang kita kenal baik. Datanglah jika kau ingin mengakhiri semua kebohongan ini."

Raya menggigit bibirnya, terkejut dan takut. Siapa yang menulis surat ini? Apa yang dimaksud dengan kebohongan? Apakah ini ancaman, atau hanya permainan yang dilakukan oleh seseorang yang ingin menggoyahkan posisinya?

Ia tidak tahu harus bagaimana, tetapi rasa ingin tahunya membawanya ke tempat yang disebut dalam surat itu: taman belakang rumah, tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Sierra. Kaki Raya terasa berat, tetapi hatinya lebih berat lagi. Setiap langkah membawanya semakin dekat dengan kebenaran yang belum ia ketahui.

Di taman itu, di bawah pohon besar yang pernah menjadi saksi bisu pertemuannya dengan Sierra, seseorang berdiri menunggu. Seorang pria dengan jas hitam, wajahnya tersembunyi sebagian oleh bayangan pohon.

"Siapa kamu?" Raya bertanya dengan suara bergetar, meskipun ia berusaha untuk tetap tenang.

Pria itu tersenyum tipis, lalu mengangkat wajahnya. "Aku adalah seseorang yang tahu tentang rahasia keluarga ini. Dan aku tahu, kamu bukan Selina."

Raya terkejut, mulutnya tercekat. "Apa maksudmu?"

Pria itu mengangguk, seolah tahu apa yang sedang dirasakan Raya. "Aku tahu kau bukan dia. Tapi kau punya kesempatan untuk memilih. Jika kau ingin hidupmu kembali, ada harga yang harus dibayar. Jika tidak, maka kau akan terus terperangkap dalam permainan yang sudah ditentukan."

Raya tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya berdebar kencang. Apakah ini tawaran untuk keluar dari hidup Selina, ataukah hanya sebuah ancaman yang lebih berbahaya lagi?

Pria itu melangkah lebih dekat, menatapnya dalam-dalam. "Ingat, pilihan ada di tanganmu. Tapi jika kau memilih untuk melawan, semua yang kau percayai akan hancur dalam sekejap."

Dengan satu langkah mundur, pria itu menghilang di kegelapan taman, meninggalkan Raya dengan perasaan cemas dan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa dia? Dan apa yang sebenarnya dimaksud dengan 'pilihan' yang harus ia ambil?

Raya kembali ke kamarnya dengan hati yang berat. Ia tahu bahwa kini tidak ada jalan mundur. Setiap langkah yang diambilnya akan mengubah hidupnya selamanya. Tetapi apakah ia siap untuk menghadapi konsekuensi dari pilihan yang harus ia buat?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED