Bab 1

Siang itu banyak warga mendatangi rumah orang tua Alia, yang bernama, pak Ridwan dan juga Bu Siti.

Mereka menginginkan anak dari kedua pasangan itu segera meninggalkan desa, karena menurut para penduduk. Alia sudah membuat aib yang begitu besar, sehingga para warga tidak mau menerima kehadirannya di kampung itu.

"Pak Ridwan,Bu Siti ayo cepat keluar"ucap salah seorang warga.

Pak Ridwan bersama istrinya di dalam rumah merasakan begitu ketakutan, namun dia tidak berani keluar dari dalam rumah karena ingin melindungi anaknya.

"Bagaimana ini pak sepertinya warga semakin marah"ucap Bu Siti dengan suara bergetar karena panik.

"Sabar Bu ini juga bapak lagi pikirkan jalan keluarnya"jawab pak Ridwan.

Alia terlihat keluar dari dalam kamar, wanita itu berjalan nampak kepayahan, karena perutnya yang semakin membesar.

"Bu biarkan Alia pergi, Alia tidak mau ibu dan bapak kenapa-napa Alia tidak apa-apa Bu"ucap Alia, mencoba menenangkan kedua orang tuanya. namun, orang tua mana yang tega melihat anaknya pergi dari rumah dengan perut yang begitu besar.belum lagi tas yang dipegang putrinya saat ini terlihat begitu merepotkan.

"Tidak nak, ibu dan ayah akan tetap mempertahankan kamu"ucapan Ridwan, kepada putri semata wayangnya.

"Alia tidak apa-apa Bu, pak. lagi pula apa yang bisa bapak dan ibu lakukan kalau warga sudah mengamuk seperti ini, ini semua salah Alia karena tidak dapat menjaga diri sendiri di luar sana" Alia selalu menyalahkan dirinya atas kejadian buruk yang menimpa.

"Kamu tidak boleh berbicara begitu Alia,ini semua adalah musibah. siapa yang ingin mengalami hal seperti yang kamu alami, mereka saja yang tidak pernah mempercayai cerita kita"ujar Siti mencoba menenangkan putrinya.

"Siti keluar kamu kalau tidak. akan aku seret kalian dari dalam rumah!" Seseorang kembali berteriak dari luar sana, sambil beberapa orang menggedor-gedor pintu.

"Iya Siti cepat bawa keluar anakmu, bawa pergi dia dari desa ini. kami tidak ingin terkena sial akibat ulah anakmu itu!" Caci maki bersahut-sahutan dari luar rumah, hinaan demi hinaan terlontar dari bibir-bibir yang tidak bertanggung jawab.

"Bu, pak. Alia pergi sekarang ya,ibu dan bapak jaga diri baik-baik .suatu saat Alia pasti akan kembali pulang untuk menemui kalian"Aliya berpamitan kepada kedua orang tuanya, mereka berpelukan untuk sesaat.

Air mata Bu Siti tidak dapat dicegah, wanita paruh baya itu terus saja menangis melihat kepergian putrinya. Begitu juga dengan pak Ridwan, dia pun sama sedihnya seperti sang istri, saat melihat langkah putrinya yang hendak keluar dari dalam rumah.

Pintu terbuka, semua orang yang berada di luar rumah itu perlahan menyingkir, memberikan jalan untuk Alia keluar dari sana. Tatapan-tatapan penuh ejekan dan juga hinaan ini tertuju kepada wanita yang sedang berjalan keluar dari dalam rumah orang tuanya,bahkan ada yang meludah teman di hadapan Alia.

"Nah begitu dong tahu diri, udah bikin aib masih aja di sini. kami semua tidak Sudi menampung orang yang pulang dengan membawa aib, bilangnya kerja kerja, nggak taunya pulang perutnya besar"

Seorang wanita bertubuh gempal berbicara sambil tangannya terus terarah kepada Alia. Alia tidak perduli dengan omongan samua orang, wanita terus saja melangkah keluar dari dalam rumah kedua orang tuanya.

"Dasar tidak tahu malu, baru saja pergi ke kota bilangnya mau cari kerja, tahu tahu pulangnya hamil entah anak siapa? jangan-jangan dia kerja di cuma buat jual diri aja" salah satu dari mereka berbicara lagi.

"Sudah cukup! anak saya sudah pergi dari rumah saya, apa kalian tidak puas.silakan tinggalkan rumah kami" Bu Siti berbicara, dengan suara yang cukup lantang.

",Huuuuu,,,,"

Para warga yang di situ pun bersorak sambil membubarkan diri dari halaman rumah pak Ridwan.

Bu Siti tubuhnya merosot ke lantai,seiring kepergian Alia meninggalkan kampung itu.

"Pak bagaimana jika anak kita melahirkan di jalan, aku tidak bisa membayangkan itu pak" Siti mulai memikirkan keadaan anaknya setelah beberapa saat bisa menguasai dirinya.

"Kita berdoa saja Bu mau minta kepada Tuhan agar selalu melindungi Putri kita di manapun dia berada"pak Ridwan sedang mencoba menenangkan istrinya yang sedari tadi terus berbicara tentang putrinya.

"Amin, semoga saja ya pak. Putri kita anak yang baik, pasti dia akan diberikan yang terbaik oleh Tuhan nanti"

Hari sudah semakin gelap,gerimis pun mulai turun memanjakan yang terlihat itu gersang.

Di sebuah jalan raya seorang wanita muda dengan perut yang begitu besar sedang berjalan menyusuri trotoar, ingatannya berjalan ke beberapa bulan yang lalu saat dirinya baru saja menginjakkan kota Jakarta.

Flashback.

Hari itu Alia datang bersama seorang tetangga yang menawarkan pekerjaan kepada Bu Siti, karena mereka dari keluarga yang sangat sederhana mereka pun sangat senang ketika tetangganya itu memberikan sebuah pekerjaan untuk putrinya. Hanya saja mereka tidak tahu pekerjaan apa dan di mana putrinya akan bertempat tinggal.

"Apa masih jauh mbok Sumi?"tanya Alia pada seorang wanita paruh baya yang membawanya ke kota Jakarta.

"Sebentar lagi neng tidak terlalu lama"ucap mbok Sumi kepada Alia.

Aliya pun hanya bisa diam karena dia tidak enak jika terlalu banyak bertanya, kemudian tidak berselang lama mereka pun sampai di depan rumah yang besar dan megah.

"Wah, ini rumahnya mbok? besar sekali" tanya Aliya lagi kepada mbok Sumi namun hanya ditanggapi sebuah senyuman dari mbok Sumi.

"Iya ini rumahnya, ayo masuk. kita masuk lewat pintu samping"ajak maksumi kepada Alia.

Alia pun mengikuti langkah kaki mbok Sumi yang masuk ke dalam rumah itu melalui pintu samping, sesekali gadis itu melirik kagum ke arah benda-benda yang menghiasi rumah besar itu.

" ayo sini Alia kamu mau kerja apaau berfikir terus di sana heh?" Tanya Sumi sedikit ketus.

" eh, iya mbok" Alia pun segera berjalan ke arah mbok Sumi.

"Ini kamar mu nduk, cepat masuk simpan barang barang mu di sana, setelah itu aku akan memperkenalkan kamu kepada majikan kita" ucap mbok Sumi sambil menunjukkan kamar yang berukuran tiga meter persegi.

" siapa namanya mbok?" Tanya seorang wanita cantik, meskipun tidak lagi muda.

" Alia.nyonya," ucap Sumi,saat memperkenalkan pembantu baru nya.

" mah aku berangkat dulu ya" seorang pemuda yang begitu tampan sudah rapih mengenakan pakaian formal, mendekati wanita cantik itu lalu memberikan ciuman hangat pada pipi nya.

" ya. kamu hati hati ya" ucap orang yang di panggil Mama tadi.

Satu minggu telah berlalu, kini Alia sudah mengenal semua penghuni rumah yang semuanya ada empat orang, pasangan suami istri, yang bernama Lidia dan Herlambang. Lalu kedua anak mereka yakni, Raka dan satria.

"Alia ,," panggil Lidia kepada gadis itu.

" iya Bu " Alia berjalan terpogoh menghampiri majikannya.

" si duduk" Lidia meminta Alia duduk di sofa sebelah dirinya.

" Nggak usah nyonya Saya berdiri di sini saja"ucap Alia.

"Ya sudah terserah kamu saja, ibu mau bicara"ujar wanita itu, dan diakui oleh Alia.

"Ibu mau minta tolong ini sudah jam delapan tapi anak ibu belum juga pulang, kamu tunggu di sofa ini sampai dia pulang.setelah dia pulang, kamu segera kunci pintu. jika kamu mengantuk kamu tidur dulu di sofa ini, biasanya Satria tidak akan pulang hingga larut malam,kamu mengerti?"nyonya Lidia menjelaskan panjang lebar, tugas Alia malam itu, dan segera dimengerti oleh Alia.

Flashback off.

Bab 2

Malam semakin larut hujan alam semakin larut hujan semakin deras. namun,Alia masih duduk di sebuah halte bus. wanita itu bingung hendak pergi ke mana, karena dia tidak mengenali siapapun. ingin pergi ke rumah saudara orang tuanya, namun pasti akan ditolak.

"Ya Tuhan tolonglah hambamu ini, harus bagaimana menghadapi semua ini apa yang harus hamba lakukan ya Tuhan?" Alia bergumam, di tengah-tengah derasnya hujan.

Hingga tanpa terasa matanya terpejam, meninggalkan langit yang gelap dan berganti pagi yang cerah.

Tubuh Alia menggigil kedinginan, wanita itu sepertinya demam, Dia pun berjalan perlahan meninggalkan halte bus tempatnya beristirahat tadi malam.

Langkahnya pun saat ini tidak tentu arah.karena, masih belum memiliki tujuan yang pasti, hingga dia masuk ke dalam hunian padat penduduk.

di sana Dia melihat rumah-rumah terbuat dari papan-papan kayu.Seorang wanita paruh baya mendekatinya,dengan tatapan yang begitu hangat.

"Apa yang kamu cari nak?"tanya wanita paruh baya itu kepada Alia, namun Alia menggeleng. kemudian wanita itu limbung ke tanah, tidak sadarkan diri.

Mata Alia memindai sekelilingnya, saat baru saja terbangun dari pingsan. saat ini Dia berada di sebuah ruangan yang terbuat dari papan- papan bekas, tubuhnya berbaring di atas kasur yang begitu keras.

namun, Dia bersyukur, karena saat ini ada seseorang yang menolongnya. "Kamu sudah sadar nak? ini minumlah" seorang wanita yang tadi sempat bertanya kepada Alia pun, memberikan segelas air putih kepada wanita itu. Alia pun menerima langsung dan meminumnya. karena, memang wanita itu merasa sangat haus."Terima kasih Bu"ucap Alia sambil meletakkan gelas di samping tempat tidur.

"Sama-sama nak, sebenarnya kamu dari mana, kenapa bisa sampai ke sini?"tanya wanita paruh baya itu."Nama saya Alia Bu, saya berasal dari desa ronggowalon" kemudian Alia menceritakan semua kisahnya, kepada wanita paruh baya, yang minta dipanggil dengan nama ,Bu Ayu.

"Waduh kasihan sekali kamu nduk, sikap mereka tidak bisa dibenarkan. seharusnya mereka mencari tahu dulu, apa yang sebenarnya terjadi,tidak harus menghakimi tanpa tahu penyebabnya"ujar Bu Ayu.

"Ini semua salahku, karena Aku tidak bisa menjaga diri"ucap Alia, penuh sesal.

"Sudahlah nak, sebaiknya kamu tinggal di sini bersama ibu dan juga anakmu nanti. lagi pula ibu di sini juga tinggal sendirian"ucap Bu Ayu, kepada Alia, berharap wanita muda itu mau tinggal bersama dirinya.

Bu Ayu hidup sebatang kara di sana. wanita paruh baya itu tidak memiliki seorang anak, sedangkan suaminya yang sudah tua sudah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu.Mendengar permintaan Bu Ayu,Alia merasa sangat bahagia. namun, wanita itu sedikit tidak enak, karena pasti akan merepotkan Bu Ayu nantinya.

"Apa tidak merepotkan Bu?"tanya Alia kepada Bu Ayu, sungguh sebenarnya dia begitu bahagia, saat ada orang yang mau menerimanya.

"Aku justru akan sangat merasa senang, karena bisa memiliki kalian".

Hari ini tibalah saatnya Alia melahirkan, wanita itu sedang meringis, menahan sakit sendirian di dalam ruangan bersalin bersalin, di rumah seorang bidan.

Tidak terasa satu bulan sudah dia tinggal bersama Bu Ayu, di rumah yang sangat sederhana itu. namun, Bu Ayu memperlakukannya dengan sangat baik, dia merawat Alia seperti anaknya sendiri.

Saat ini wanita paruh baya itu sedang menunggu di luar ruangan bersalin, dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Dia mengkhawatirkan keadaan Alia yang berada di dalam sana.

"Ayo, bu Alia. tarik nafasnya dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan.ulangi beberapa kali ya" seorang bidan sedang memberikan instruksi kepada Alia. wanita itu pun melakukan apa yang diperintahkan oleh bidan cantik itu, walaupun sesekali dia meringis menahan sakit yang luar biasa.

Hingga tak berselang lama, suara tangisan bayi menggema di ruangan itu,perasaan lega pun menghinggap pada diri Ayu, dan juga Alia.

Seorang bayi laki-laki terlahir begitu tampan, wajahnya bak pinang dibelah dua, dengan seseorang yang sudah merenggut kesucian Alia. sehingga wanita itu kembali teringat malam yang sangat menyakitkan bagi dirinya.Namun, bagaimanapun bayi itu tidaklah berdosa, sehingga ia tetap menyayanginya.

"Kamu beri nama siapa dia ,nduk?"tanya Bu Ayu kepada Alia saat mereka sudah berada di ruang rawat, semua di rumah bidan itu.

"Ilham Bu, aku akan memberi dia nama ,Ilham Mubarok"ucap Alia, sambil memandangi bayi yang saat ini berada di dalam pangkuannya.

"Bagus sekali namanya nduk, pantas. kayak orangnya, ganteng" ujar Bu Ayu.Hari berganti, dan kini Alia sudah kembali ke rumah sederhana milik Bu Ayu, para tetangga pun berdatangan untuk mengucapkan selamat kepada Alia.

Di sana semua orang menirima kehadiran Alia dan juga anaknya, mereka semua bersikap sangat baik dan hangat. tidak ada yang menghina atau membenci Alia dan anaknya,tidak ada yang menyinggung siapa ayah dari bayi itu.

semua berjalan begitu saja, tanpa ada yang ingin menyakiti hati Alia, membuat wanita itu merasa bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang melindunginya.

Hari-hari Alia lalui dengan banyak orang-orang baik di sekitarnya, bahkan kadang anaknya pun dibawa pergi oleh tetangganya selama berjam-jam.

namun Alia tidak perlu khawatir, karena mereka semua menyayangi putranya itu.Hari berganti, waktu bergulir. kini tidak terasa Alia sudah tinggal di tempat itu selama satu tahun.

seorang teman mengajaknya bekerja, sebagai tukang cuci baju dari rumah ke rumah, di mana banyak orang-orang yang membutuhkan jasanya.

Semua itu Alia jalani, karena demi masa depan putranya, apapun akan dia lakukan.

seperti hari ini Alia baru saja pulang dari bekerja Dan disambut tawa ceria putranya yang kini berusia satu tahun.

Bu Ayu merawat putranya dengan begitu baik, sehingga balita itu tumbuh sehat dan juga ceria, rasa lelah yang seharian bekerja seakan hilang berganti dengan rasa syukur karena hingga saat ini dia bisa hidup bersama putra semata wayangnya yang selalu menjadi penguat dalam keterpurukan.Kaki kecil itu berjalan perlahan menuju sang bunda, yang baru saja terlihat di ambang pintu." ma ma ma" bibir kecil itu berceloteh sambil berjalan, Alia menyambut dengan merentangkan tangannya, agar anak nya masuk ke dalam pelukannya."Ya, sayang nya bunda" Alia memberikan kecupan di seluruh wajah mungil itu."Pergilah makan dulu, biarkan Ilham bersama ibu"ucap Bu Ayu kepada Alia. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi Alia seperti putrinya sendiri, Dia sangat bersyukur di usianya yang sudah tua bisa bertemu dengan Alia dan juga Ilham.

Alia pun menuruti perkataan Bu Ayu, dia masuk ke dalam untuk makan siang terlebih dahulu. setelah itu baru dia akan bermain dengan putranya hingga sore, kemudian memandikan Ilham.

Kehidupan Alia saat ini benar-benar untuk putranya, hanya untuk Ilham. Dia akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan Ilham, dan akan menghabiskan waktu bersama Ilham.

Bab 3

Alia pergi ke pasar, untuk membeli bahan-bahan makanan, dan kebutuhan rumah tangga yang lainnya. Saat ini uang yang dia pegang tidaklah cukup banyak. namun, Alia menggunakannya dengan sangat bijak, agar dapat memenuhi kebutuhan anaknya.

Alia hanya membeli kebutuhan yang benar-benar dia perlukan. Karena, uang gajinya harus digunakan hingga satu bulan ke depan.

"Bu. tolong bungkuskan saya telur satu kilo, minyak satu kilo,,,," Alia menyebutkan nama barang-barang yang lain, yang perlu dia beli untuk kebutuhan selama satu bulan.

Sedikit kesusahan, wanita itu membawa barang belanjaannya. Alia berjalan hendak pulang ke rumah.namun, tanpa sengaja Dia menabrak seorang wanita paruh baya, yang sedang jalan tergesa.

"Maaf" ucap nya, sambil mengambil kantung belanjaan nya yang terjatuh.

"Alia,"

Alia segera melihat siapa yang sedang memanggil namanya, seketika dia meletakkan kembali barang belanjaannya, dan segera memeluk orang yang begitu dia rindukan selama ini.

"Bapak,ibu.kok kalian ada di sini?" Tanya Alia, setelah melepaskan pelukannya.

"Bapak dan ibu ada undangan pernikahan,di desa ini, kebetulan ibu pengen mampir ke pasar sekalian. nggak taunya malah bertemu kamu di sini nduk" Bu Siti menjelaskan pada anaknya.

" bagaimana kabarmu sekarang ,nduk?" Siti bertanya sambil menelisik ke arah perut anaknya, yang sudah kembali rata.

Alia yang mengerti maksud tatapan dan pertanyaan ibunya, dia pun segera menjelaskan, apa yang terjadi setelah Dia pergi dari kampung halamannya.

air mata Siti mengalir tanpa terasa, wanita paruh baya itu sangat sedih mendengar cerita dari anaknya, apalagi membayangkan saat Alia melahirkan, tanpad seorang suami yang mendampinginya.

"Apa boleh. bapak melihat anakmu?" Tanya pak Ridwan, pada Alia.

"Tentu saja boleh pak, Dia adalah cucu bapak, dan Dia pasti sangat suka bertemu dengan kakek dan neneknya"ujar Alia membuat senyum mengembang di bibir kedua orang tuanya.

Alia membawa bapak dan ibunya untuk melihat Ilham, buah hatinya di rumah Bu Ayu.

rumah yang selama ini dia tempati, perjalan membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, dari pasar menggunakan angkutan umum.

Kini mereka bertiga sudah berjalan, masuk ke sebuah gang kecil. di mana di dalamnya ada banyak rumah-rumah yang sangat sederhana di bangun di sana, salah satunya yakni rumah ibu Ayu.

"Silakan masuk pak, Bu,"ujar Alia, setelah membukakan pintu untuk kedua orang tuanya.

"Kamu udah pulang nduk?"terdengar suara Bu Ayu dari dalam rumah.

"Iya Bu"sahut Alia.

"Assalamualaikum"

ucap kedua orang tua Alia, saat baru mau masuk ke dalam rumah sederhana itu.

"Waalaikumsalam"jawab Alia.

Terlihat dari dalam rumah, Bu Ayu menggendong Ilham mendekat ke arah mereka.

"Siapa yang datang nduk?"tanya Bu Ayu, masih sambil berjalan.

"Ini Bu. Alia ketemu sama orang tua Alia, tadi di pasar"ujar Alia, kepada Bu Ayu.

"Loh. mas Ridwan, Mbak Siti?"ucap Bu Ayu, yang baru saja melihat kedua tamunya.

"Loh. Ayu, ini rumah kamu?"ucap Bu Siti, kepada Bu Ayu.

"Kalian saling kenal?"tanya Alia, kepada mereka bertiga.

"Iya nak. kami saling kenal, suaminya Bu Ayu dulu adalah, sahabat bapak. namun, beliau sudah meninggal dunia. bukan begitu Ayu?"ucap Bu Siti, memberikan penjelasan kepada putrinya.

"Betul sekali Alia, kami adalah sahabat"

Ucap Bu Ayu membenarkan perkataan Bu Siti, kemudian wanita itu kembali berucap.

"Alhamdulillah. berarti selama ini saya merawat anaknya, mbak Siti dan mas Ridwan?"tanya Bu Ayu, kepada mereka berdua.

"Betul sekali Ayu, saya sangat berterima kasih. karena kamu sudah mau menampung anak saya di sini. Saya tidak tahu lagi kabarnya selama satu tahun ini, setelah warga mengusirnya"ucap pak Ridwan, penuh haru.

Setelah berbicara banyak hal, dan mereka melepas rindu. kini akhirnya pak Ridwan dan Bu Siti harus pamit.

Sebenarnya mereka tidak ingin berpisah dari anak dan cucunya, namun tidak mungkin mereka menginap di rumah Ayu. dan tidak mungkin pula dia membawa Alia bersama cucunya pulang ke rumahnya, karena pasti warga akan kembali mengamuk.

"Kamu baik-baik di sini ya nduk ,jaga cucu bapak dan ibu baik-baik. ibu dan bapak akan sering mengunjungimu di sini"ucap Bu Siti kepada Alia, saat mereka hendak berpamitan.

*

"Tuan muda lepaskan aku. tolong tuan muda, ini sakit" tangan kekar itu terus saja mengunci pergerakan Alia, meskipun tubuhnya memberontak, namun tenaganya tidak dapat mengalahkan tubuh kekar yang menguncinya diari atas.

Tanpa menghiraukan teriakan Alia. pria itu terus saja mencumbu tubuh Alia, yang saat ini sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.

karena, baju yang Alia kenakan, sudah teronggok di lantai.

Alia terus berteriak meminta tolong.namun, tidak ada satu orang pun mampu menolongnya. karena, kamar itu menggunakan peredam suara, sehingga suara di dalamnya tidak terdengar sampai keluar.

"Tuan aku mohon. lepaskan aku Tuan"

Alia kembali berteriak dan meronta, sekuat tenaga dia ingin terlepas dari kungkungan, pria yang saat ini berada di atas tubuhnya. hingga sesuatu menembus pertahanannya, dan Alia menjerit karena merasa sakit.

" hah,hah,hah,,"

Alia terbangun dari tidurnya,keringat membanjiri seluruh tubuhnya.

ini terjadi di setiap malam, semenjak kejadian itu.

namun, tidak ada seorangpun yang tahu, jika wanita itu sebenarnya sangatlah lemah, dan sedang dihantui rasa trauma, yang begitu mendalam.

"Ya Tuhan. Ampuni segala dosa-dosa ku ya Tuhan"ucap Alia, setelah dia melakukan shalat di sepertiga malam.

Alia selalu terbangun di tengah malam, dengan mimpi-mimpi yang begitu buruk.

dan wanita itu akan selalu mengerjakan shalat malam. untuk meminta ampun atas segala kesalahan dan dosa-dosanya.

Pagi ini seperti biasa. Alia akan pergi ke rumah orang-orang yang memerlukan jasa cuci gosoknya, sedangkan Ilham. dia selalu di tinggalkan bersama ,Bu Ayu. Namun, di tengah jalan yang sepi,tiba-tiba ada seorang pria yang terlihat begitu menakutkan.

saat ini pria itu memandang Alia yang sedang berjalan, Dia melihat Alia dari ujung kaki hingga ujung kepala. padahal wanita itu mengenakan baju yang begitu longgar, sehingga tidak menampakkan sedikitpun lekuk tubuhnya yang molek.

"Halo nona manis, temani abang di sini ya?"ucapnya, sambil berjalan mendekat ke arah Alia.

Alia memasang sikap waspada, wanita itu sudah mengambil ancang-ancang hendak lari ,bila saja pria itu berbuat macam-macam.

"Kok diem aja sih manis, jangan takut. Abang tidak akan kasar kok"ucapnya lagi, membuat Alia makin bergidik.

"Ya Tuhan lindungilah hambamu, dari orang-orang yang jahat"ucap Alia dalam hati.

Alia segera berlari, saat pria itu semakin dekat. namun, pria itu tidak membiarkan Alia lepas. dia pun mengejar Alia, langkah Alia yang tidak begitu lebar, hampir saja dikalahkan oleh pria mesum tadi.beruntungnya tepat sebelum pria mesum itu mendekat, ada beberapa orang yang sedang melewati jalanan itu.

Beberapa orang itu ternyata adalah sebuah rombongan, yang terlihat seperti akan pergi ke sebuah lamaran, karena beberapa dari mereka membawa barang-barang seserahan.

Alia yang butuh perlindungan, perlahan masuk diantara rombongan yang sedang berjalan, membuat pria mesum yang sejak tadi sudah mengejarnya, kini terlihat menjadi geram.

Kini Alia sudah merasa aman. wanita itu hendak meninggalkan para rombongan itu, namun, langkah kakinya terpaku, saat melihat seseorang yang sangat dia kenal, berjalan di antara para rombongan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED