Perkenalkan nama ku Farhan, sekarang usia ku sendiri sudah Tiga belas Tahun, tepat seminggu yang lalu Nenek ku meninggal, dialah yang mengasuh ku, dialah sosok nyata sebagai Ibu dan Ayah untuk ku, sebab Aku tidak mengenal ke dua orang tua ku. Menurut cerita alm Nenek ku sebelum dia meninggal, Ibu ku yang melahirkan ku meninggal saat usia ku delapan bulan, dan Ayah ku sendiri meninggalkan ku pergi entah kemana saat Aku di usia satu setengah tahun.
Entahlah! Apa kah Ayah ku masih hidup atau sudah meninggal, Aku juga tidak tau. Yang ku tau Sekarang ini Aku hanya seorang diri, setelah Nenek ku Meninggal satu minggu yang lalu. Hem....
Kadang Aku berpikir, kenapa Aku harus terlahir di dunia ini! Melihat orang lain yang seumuran dengan ku masih mempunyai Ibu dan Ayah, mempunyai saudara dan juga kerabat, dan bisa sekolah dan dapat kasih sayang, sementara Aku? Bagai Anak Ayam yang kehilangan Induk-nya. Aku memang sama sekali tak mengenal kerabat ku baik dari Ibu apalagi dari Ayah ku.
Sejak kecil Aku sudah harus membantu Nenek ku untuk menghasilkan uang, untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sehari hari. Aku juga sekolah hanya Sampai lulus SD, Karna memang keadaan kami yang miskin, kemampuan Nenek yang tak sanggup lagi menyekolahkan ku karna Nenek ku Waktu itu sudah sakit sakitan. Sekarang ini Aku harus bertanggung jawab akan diri ku sendiri, aku harus bisa mencari penghidupan ku. Hari ini di pusaran Makam alm Nenek dan alm Ibu ku, ku bulatkan tekad ku untuk melangkahkan kaki sejauh mungkin Merantau ke Kota besar, meninggalkan Tempat dimana Aku di lahirkan, dimana Aku di besarkan.
Terimakasih Nek Sudah menjaga ku, sudah merawat ku sejak bayi, sudah membesarkan ku, Aku tidak akan pernah Lupa Nek akan kebaikan mu, Aku berjanji Nek, suatu saat nanti Akan ku buat pertanda untuk Makam mu. Ya Allah, lindungi lah hamba mu ini, kemanapun kaki ku melangkah, lindungi lah hamba mu ini dari orang orang jahat, mudahkan lah hamba mu ini agar bisa dapat kerjaan, Amin.
Berbekal tas ku yang sudah buruk ini, yang sudah banyak tambalan jahitannya yang berisi baju baju ku, dan Photo indah, Photo diri Ku waktu masih bayi bersama Ibu dan Ayah, ku tinggalkan tanah kelahiran ku. Aku akan mengadu nasib di Kota, Aku akan memulai lembaran baru, Aku hanya berserah kepada Tuhan saja. Jika Tuhan berkehendak, mungkin suatu saat nanti! Aku akan mengetahui akan keberadaan Ayah ku, apa masih hidup atau sudah meninggal.
Aku pun melangkah kan kaki ku, meninggalkan Makam Nenek dan Ibu ku, Aku menyusuri jalanan dengan berjalan kaki, Aku tidak peduli akan panggilan orang orang terhadap ku karna tekad ku sudah bulat! Kemudian Terlihat oleh mata ku sebuah Mobil Truk, Aku lalu memberanikan diri untuk menghentikannya, untuk ikut menumpang.
"Om, boleh ikut menumpang ke kota?
"Oh..boleh boleh Dek, ayo naik, Adek mau ke mana?
"Mau merantau Om"
"Hahaha.... Adek ini bisa aja bercandanya, masa merantau? Kena marah Ibu mu atau Ayah mu kali! Makanya mau minggat!
"engga Om, Ibu ku dah meninggal, Ayah ku juga aku gak tau kemana, Aku benar benar mau merantau kok Om"
"Trus tujuan mu kemana?
"Kemana saja Om, kemana Kaki ku melangkah nanti"
"Oh iya, nama mu siapa dek?
"Farhan Om"
"Dek Farhan, ini ada uang 50 ribu, gunakanlah sebaik mungkin nanti, cuman ini yang bisa Om kasih, baik baiklah nanti dimana pun tujuan mu"
"Makasih Om"
Kulihat ketulusan hati dari Om Supir truk itu, saat Aku mengatakan kalau Ibu ku sudah meninggal dan Ayah ku tidak tau di mana, ku perhatikan air matanya jadi menetes mendengar cerita ku. Makasih Om, Aku akan ingat kebaikan mu. Ku lanjutkan perjalanan ku kembali, dengan menumpang Truk yang lain, yang akan ke kota besar.
Di perjalanan menuju ke Kota, Aku merenung akan semua yang pernah di ceritakan oleh Nenek Ku akan kisah Hidup ku, Kisah Ibu yang melahirkan Ku. Waktu itu di malam hari, Aku dan Nenek sedang membuat adonan Kue untuk bekal jualan Ku dan Nenek besok hari, saat itu Aku bertanya tentang sosok alm Ibu ku yang tak ku kenal sama sekali kepada Nenek.
"Nek, Ibu ku itu kayak gimana sih Nek, ceritain dong. Aku pun seolah memohon sama Nenek ku saat itu agar Nenek menceritakannya"
"Ibu mu itu sangat baik Farhan, dulu waktu mudanya Cantik kayak Nenek, hehehe....
"Ih...Nenek, kok malah bercanda sih, Farhan kan serius Nek"
"Hemm.... Nenek pun mulai Cerita"
"Dulu, alm Ibu mu sangat baik Farhan, dia itu sangat peduli sama Nenek mu ini. jadi dulu, sebelum Ibu mu menikah, dia pernah merantau ke Kota, trus kerja di pabrik, Ibu mu selalu ngirim uang buat Nenek. Setiap Lebaran, Ibu mu akan selalu pulang bawa Roti yang banyak, trus beliin baju lebaran buat Nenek mu ini"
"Trus Nek?
"Jadi, Ibu mu waktu itu ternyata sudah punya pacar di kota, Nenek gak dikasih tau loh! Tapi lama kelamaan akhirnya Nenek tau"
"Kok bisa tau Nek? Emang di kasih tau Ibu?
"Engga' kan waktu itu Nenek ikut ke Kota diajak Ibu mu, dan tinggal di sana seminggu di kosan Ibu mu, jadi pernah suatu saat Nenek lihat ada Laki Laki yang ngantar Ibu mu pulang kerja, trus Ibu mu itu cium tangannya Laki itu, dari situlah Nenek tau. Pas Ibu mu masuk ke dalam kosan, Nenek Nanya, Laki laki itu siapa? Eh... Ibu mu malah malu dan senyum senyum, trus Nenek langsung bilang ke Ibu mu, itu pacar mu? Kenapa engga kenalin ke Ibu? Akhirnyakan Cu, besoknya Ibu kamu ngenalinya ke Nenek, Namanya lelaki itu Ramdan, dan itulah nama Ayah mu"
"Ah... Nenek, Aku kan pengen dengar soal Ibu aja, gak usah ceritain orang yang gak jelas! Toh juga Farhan gak kenal sama sekali"
"Yee.... Kan kamu itu ada gara ada Ayah mu Cu! Masih mau dengar engga?
"Ya mau Nek"
"Jadi mereka akhirnya menikah, trus tinggal di kota, tapi ga berselang lama, Ibu mu di PHK dari kerja pabriknya, tau ga di PHK Cu?
"Engga Nek, apa sih di PHK? Oh iya Nek, memang Farhan gak ada Nenek atau Kakek dari Ayah ya?
" Ada Cu, tapi Nenek sendiri gak tau keberadaan mereka di mana, dan belum pernah bertemu dengan keluarga dari Ayah mu. Karna dulu yang Nenek tau dari alm Ibu mu kalau orang tua dari Ayah mu itu gak setuju dengan Ibu mu jadi menantunya, dan waktu mereka Nikah kan di kampung ini, jadi keluarga dari Ayah mu gak ada juga yang datang waktu itu, gitu Cu. Oh iya di PHK itu di berhentiin dari kerjaannya, jadi gak boleh kerja lagi"
"Oh.... Gitu ya Nek, ya udah gak usah ceritain lagi deh keluarga dari Ayah, gak penting juga! trus Nek setelah Ibu di PHK gimana?
"Ya karna Ibu Mu di PHK, akhirnya dia pulang ke kampung, sementara Ayah mu masih tetap kerja di kota, Waktu Ibu mu pulang dia sudah hamil, sudah ada Kamu Cu di perutnya, trus akhirnya Ibu kamu kerja jadi buruh tani deh di sini, Ayah mu pulang ke kampung itu cuman satu kali dalam dua bulan, lalu gak berapa bulan Ibu mu di kampung, kamu pun Lahir"
"Ayah berarti engga lihat Aku lahir dong Nek?
"Ya engga lah, kan Ayah mu saat itu kerja di Kota, besoknya baru Ayah mu lihat kamu! Dia ijin pulang sama bos nya biar bisa lihat kamu"
"Trus Nek?
"Pas kamu Lahir, Ibu mu langsung kasih nama mu Farhan, ehh... Saat Umur mu masih delapan bulan, dan kamu masih harusnya dapat ASI, Ibu mu sakit dan ternyata Ibu mu itu ada penyakit Kanker, dan itu sudah lama tapi tak pernah di kasih tau ke Nenek atau Ayah mu, gak lama Ibu mu malah meningal pas di rawat cuman dua hari di rumah sakit. Ayah mu pun akhirnya pulang dari kota karna ingin melihat istrinya untuk yang terakhir kali sebelum di makam kan"
"Trus Aku Nek gimana?
"Gimana apanya Cu?
"Kan tadi Nenek bilang harusnya Aku masih dapat ASI"
"Oh iya Cu, kan Ayah mu masih kerja waktu itu, jadi dia masih beliin kamu susu, dia masih ngirimin uang buat keperluan mu, tapi akhirnya Ayah mu juga di PHK, akhirnya pulang deh ke kampung ini"
"Ayah lalu kerja apa?
"Ya sama seperti ibu mu dulu, jadi buruh tani di sini, trus karna uang Ayah mu engga ada, dan uang nenek juga engga ada, akhirnya kamu keseringan Nenek kasih air tajin deh, eh... Kamunya malah nangis mulu kalau malam! Sampai sampai akhirnya nenek kasih susu nenek buat kamu, hehehe...
"Ih... Nenek, emang ada waktu itu ASI nenek?
"Engga ada, tapi yang penting kamunya jadi diam, engga rewel lagi"
"Hahahaha.... (Aku pun ketawa mendengar Nenek ku cerita akan itu)
"Kemudian gimana Nek?
"Saat umur mu satu setengah tahun, Ayah mu akhirnya pergi merantau lagi, trus Nenek di kirimi uang buat beli susu buat mu, buat keperluan kita. Ayah mu juga satu kali dalam dua bulan selalu pulang, tapi setelah satu tahun merantau, Ayah mu engga pernah ngirim uang lagi, engga ada kabarnya lagi dan engga pernah pulang lagi sampai sekarang ini Cu"
"Hem! Dia dah mati kali Nek"
"Hus....! engga boleh ngomong gitu Cu! Dosa"
"Habis, Aku malah di tinggalin, Aku juga engga kenal kok"
"Iya, tapi engga boleh ngomong gitu sama Ayah mu, bagaimana pun dia tetap Ayah mu Cu"
"Iya deh! Trus kelanjutannya gimana Nek? Oh iya Nek, Farhan mirip gak dengan Ayah?
" Kalau tinggi badan sih iya, sama rambut juga , tapi kalau wajah mu lebih banyak mirip ke Ibu mu, apalagi dengan alm Kakek mu Cu, Ganteng seperti alm Kakek mu. Jadi Nenek sendirilah yang merawat kamu, Nenek jualan kue keliling sambil menggendong kamu Cu, biar kita bisa beli beras, biar bisa buat keperluan kita sehari hari, Untung kamu gak begitu rewel saat itu kalau Nenek gendong kamu sambil keliling kampung ke kampung jualan Kue"
"Oh syukurlah kalau mirip ke Ibu dan Kakek, eh... emang Nenek engga Capek waktu itu jualan kue sambil gendong Aku Nek?
"Ya capek lah Cu, tapi mau gimana? Kalau kita engga keliling kampung, gak laku kue jualan nenek mu ini, gak bisa kita beli beras"
Mendengar itu, Aku pun langsung memeluk Nenek Ku, dan ku lihat air mata nenek menetes di pipinya, Aku kemudian menghapus air matanya dengan jari ku. Kemudian ku katakan Maksih ya Nek, dah merawat Farhan sampai sebesar sekarang. Ucap ku kepada Nenek, dan dia juga langsung memeluk ku, dan mencium kening ku. Itu lah cerita Nenek tentang ku dan kedua orang tua ku yang sama sekali tak pernah ku rasakan kasih sayang dari mereka sebagai orang tua ku.
Aku pun sekarang tentu sudah bisa mengingat semua kebaikan Nenek kepada ku, sebab Aku sudah besar, sudah masuk SD. Keseharian Nenek, akan berjualan kue keliling dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki, dan malamnya Aku selalu membantu nenek membuatkan adonan Kue, dari hasil jualan Kue ini lah Aku dapat di sekolahkan Nenek sampai lulus SD, Semua kebutuhan ku diberikan oleh Nenek ku yang sangat baik ini, seingat ku dulu, waktu Aku sudah kelas empat, Aku juga membantu Nenek jualan, membawa Kue bikinan Nenek ke sekolah untuk ku jual.
Tapi itu hanya sebentar saja, sebab ada guru ku yang melarang ku jualan di sekolah, pernah juga ada teman kelas ku yang sengaja menjatuh kan kue jualan ku! akhirnya Aku hanya bisa membantu Nenek jualan kalau libur sekolah saja, menemaninya berkeliling dari kampung ke kampung.
Pernah juga seingat ku, Nenek pulang jualan Kue sudah larut malam, sekitar jam sepuluh malam dan Kondisi bajunya semuanya basah kehujanan, dan yang paling membuat ku sedih, waktu itu Nenek terpincang pincang jalannya, Nenek waktu itu bilang terpleset di jalan pas mau pulang ke rumah sehabis berjualan kue.
Tak terasa air mata ku membasahi wajah ku, sekarang itu semua hanya kenangan akan kebaikan alm Nenek ku, perjuangan Nenek untuk ku Cucu nya ini.
Tiba tiba supir truk mengagetkan ku dari Lamunan ku
"Dek, Mau turun di mana?
"Ga tau pak, ini sudah dimana Pak?
"Sekarang kita sudah di kota Pekan Baru"
"Oh... Aku turun disini aja Pak, sudah sampai kota ya?
"Emang Adek mau kemana sih?
"Kemana aja Pak, mau nyari kerjaan di Kota ini"
"Ini kan sudah malam, mending kamu tidur di sini di Pull ini, besok pagi baru pergi"
"Emang boleh Pak?
"Ya boleh lah, dari pada kamu ga jelas kemana! apalagi ini sudah jam 11 malam, udah sepi, eh kamu lapar ga?
"Iya pak"
"ya udah Bapak pesan Indomie rebus ya"
"Iya Pak makasih Pak"
Aku pun memakan Indomie rebus yang di belikan si Bapak Supir itu, perut ku pun terasa nyaman jadinya, tidak berbunyi lagi, tidak keroncongan lagi! Aku kemudian pergi tidur di Musholah yang ada di pull dari mobil truk itu, paginya harinya Aku kemudian pamit ke Si Bapak Sopir, dia lalu menasihati Aku agar hati hati dan mendoakan ku agar cepat dapat pekerjaan di sini, lalu aku di kasih uang 50 ribu, seperti tadi Bapak sopir truk yang pertama ku tumpangi.
"Terimakasih Pak"
Ku langkahkan kaki menyusuri jalanan Kota Pekanbaru, sambil ku gendong tas buruk ku yang sudah banyak tambalannya yang berisi pakaian pakaian ku yang ku bawa dari kampung. Mata ku seolah terpana melihat ramainya kendaraan yang lalu lalang di hadapan ku, dan juga keramaian orang yang lalu lalang, Aku pun melangkahkan kaki ku tanpa arah dan tujuan, hanya dengan bermodal keyakinan dan keberanian diri saja dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa. Karna merasa haus dan sedikit lapar, aku pun berhenti di sebuah warung pinggir jalan, lalu membeli sebotol air mineral dan roti dengan harga 2 ribuan.
Sambil ku beranikan diri untuk bertanya ke penjaga warung itu soal pekerjaan
"Bu, mau nanya, disini kalau cari kerjaan di mana ya Bu?
"Mau cari kerja? Kerja buat siapa ya dek?
"Buat saya Bu"
"Buat adek? Adek mau cari kerja?
"Iya Bu, Saya perantau Bu, baru semalam sampai di kota ini"
"Adek perantau? Umur kamu berapa emang?
"Tiga belas tahun Bu"
"Welah Dek! mana ada yang mau pekerjakan kamu, kamu kan masih kecil dek, belum bisa untuk kerja serius, orang dewasa saja sekarang ini susah bangat untuk cari kerjaan, apalagi Adek masih tiga belas tahun tadi kamu bilang kan? Susah Dek nyari kerjaan sekarang ini apalagi Adek masih anak anak"
"Ya udah deh Bu, makasih!
Aku pun melanjutkan langkah kaki ku, Aku tidak ingin jadi putus asa gara omongan Ibu penjaga warung itu, aku tak ingin pikiran ku terganggu dengan apa yang di katakan oleh Ibu penjaga warung itu! Tak terasa hari pun sudah mulai siang dan cuaca juga sangat panas, Aku akhirnya berteduh di bawah pohon yang cukup rindang, sambil mata ku menatap keramain jalanan Kota Pekanbaru, menatap ramainya jalanan oleh kendaraan yang lalu lalang, hal yang selama ini tak pernah ku lihat sama sekali di kampung ku. Memang ini lah pertama kali ku melihat keramaian seperti ini, karna Aku berasal dari sebuah desa terpencil yang masih cukup jarang dilalui oleh kendaraan, dan jauh dari kota kecamatan, karna di tempat ku jalanannya saja tak beraspal,Aku memang tak pernah sama sekali ke Kota besar seperti ini.
Mata ku juga melihat banyak anak yang seusia dengan ku yang berjalan beramai ramai dengan seragam sekolah SMP nya, Aku pun seolah berharap kalau Aku lah salah satu dari mereka, berhayal Aku ada diantara mereka dengan berseragam sekolah. Akhirnya Kaki ku pun kembali ku langkahkan, tidak jauh ku lihat di depan mata ku ada banyak bapak bapak tukang becak motor sedang bersantai. Aku pun memberanikan diri mendekatinya, dan bertanya ke salah seorang dari mereka.
"Pak, mau nanya"
"Iya kenapa dek?
"Kalau mau cari kerja dimana ya Pak?
"Cari kerja?
"Iya Pak"
"Adek mau cari kerja? Umur kamu berapa dek?
"Masih tiga belas tahun Pak"
"Wahh.... Susah dek cari kerja untuk se usia mu, emang kamu dari mana? Kok bawa tas segala"
"Dari kampung Pak, baru semalam sampai disini dengan numpang truk"
"Wah... Bapak kurang tau ya dek, coba deh kamu tanya tanya ke tukang rumah makan sana, manatau ada yang mau mempekerjakan kamu, kan kamu bisa kan cuci cuci piring gitu dan nyapu nyapu?
"Iya Pak bisa Pak, Iya udah ya Pak, Makasih ya Pak"
"Iya iya, hati hati di jalan ya"
Aku pun kembali menyusuri jalanan, ucapan si Bapak tukang becak tadi seolah memberi ku harapan, seakan memberi ku semangat baru! Sambil berjalan, mata ku pun melihat lihat dimana ada rumah makan, agar Aku bisa nanya kerjaan. Dan ku lihat ada sebuah rumah makan padang, Aku pun bergegas ke sana, tapi karna sedang ramai yang mau makan disana, akhirnya ku urungkan niat ku untuk masuk, dan nanti kalau sudah sepi, baru aku akan ke sana tuk bertanya, akhirnya ku putuskan kembali berteduh dibawah pohon yang cukup rindang pinggir jalan yang tak jauh dari rumah makan padang itu.
Ada sekitar 1 jam aku berteduh sambil menatap natap keramaian, kulihat rumah makan itu sudah mulai sepi. Aku pun langsung kesana, sesampai disana, mungkin dikiranya Aku mau beli.
"Mau makan disini atau di bungkus dek?
"Engga ko Bang, Aku ga mau beli makan, Aku mau nanya kerjaan"
"Kerjaan?
"Iya Bang, ada kerjaan ga Bang disini? Jadi tukang cuci piring"
"Engga ada Dek, lagian yang punya rumah makan ini juga bukan saya"
"Oh... Emang dimana Bang yang punya-nya? Biar aku tanya ke dia"
"Wah.... Jauh dek rumah-nya, lain kali aja datang ya"
"Iya deh Bang, makasih ya Bang"
"Iya, iya, Adek udah makan?
"Belum Bang"
"Abang bungkusin ya"
"Jangan Bang, Aku ga ada uang soalnya"
"Gratis ko, tapi cuman pake telor aja, tunggu sebentar ya, biar Abang bikinin dulu sebentar"
"Makasih banyak Bang"
Sebungkus Nasi padang pake telor dadar pun kuterima dari si Abang itu, dan juga es teh di plastik, ini lah untuk pertama Perut ku kemasukan Nasi, sejak aku meninggalkan Kampung halaman ku. Sebenarnya Aku ada uang 130 ribu, tapi Aku takut langsung habis, 30 ribu aku bawa dari kampung, 50 ribu dikasih supir truk yang pertama Aku tumpangi, dan 50 ribu dikasih supir truk yang ke dua, yang kutumpangi sampai ke kota ini.
Aku kembali berteduh dibawah pohon rindang, sambil memakam nasi pemberian si Abang yang baik tadi.
"hemm...kenyang juga.
Aku kembali melangkahkan kaki ku, tiba tiba ada yang menarik tas ku dengan paksa! aku pun terjatuh, dan tas yang berisi baju baju ku pun raib dibawa-nya! dengkul ku pun terluka karna membentur bebatuan saat terjatuh, Aku pun menangis, sekarang pakaian yang kupunya hanya yang kupakai saat ini, beruntung uang ku ada di dompet kecil milik ku, dompet anak anak yang terbuat dari kain, termasuk Photo keluarga ku, photo kami bersama alm Ibu, Aku waktu bayi, dan Photo Ayah, untung berada di kantong celana Ku. Aku terduduk lemah di trotoar jalan, kulihat Dengkul kiri ku berdarah, dan aku kembali berjalan sedikit terpincang pincang
Seorang ibu ibu tiba tiba menghampiri ku, dan bertanya
"Kenapa Dek?
"Aku habis di rampok orang Bu
"Di rampok?
"Iya, tas ku berisi baju baju ku ditarik paksa tadi"
"Kasihan, kakinya sakit?
"Sedikit Bu"
"Ayo Ibu temani ke klinik yo, biar kaki mu di obati"
"Ga usah Bu, makasih, gak apa apa ko"
Aku kemudian mempercepat langkah ku, walau kaki ku sakit, karena takut nanti dibawa ke klinik, dan dalam pikiran ku, Aku nanti bakalan di suntik!
Tak terasa hari sudah sore, dan Kumandang Azan Magrib sudah terdengar.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Aku kemudian menuju sumber suara itu, untuk sholat dan istirahat. Sehabis sholat, Aku duduk di sudut Masjid, merenungi Nasib ku, dimana hari ini Aku tidak dapat pekerjaan, yang ada malah kehilangan tas yang berisi pakaian ku. Kaki ku pun terasa sangat pegal, karna seharian ini berjalan kaki mulai dari pagi tadi, tampa sadar, Aku pun tertidur di sudut masjid, sambil senderan ke tembok Masjid.
Kemudian Aku terbangun, dan kulihat Jam di Masjid sudah menunjukkan pukul 10 malam, perut ku juga terasa sedikit lapar, akhirnya kulangkah-kan kaki ku mencari warung, untuk membeli air minum dan roti yang harga 2 ribuan, setelah Aku membelinya, lalu ku isi perut ku dengan Roti itu. Karna Aku sedikit takut karna sudah malam, Aku kembali ke masjid, ku putuskan malam ini bermalam di sana, dompet kecil ku langsung kumasuk-kan ke dalam celana ku, ku masuk kan ke dalam celana dalam ku karna takut nanti ada yang ambil dari kantong celana ku pas Aku ketiduran.
Sebelum tidur, kembali kurenungkan perjalanan ku hari ini, dan berharap esok akan lebih baik, berharap esok Aku akan dapat kerjaan.
Di pagi hari, kembali ku lanjutkan pencarianku akan kerjaan, Aku mendatangi kembali Rumah Makan Padang yang kemarin, berniat menanyakan apakah pemilik Rumah makan tersebut datang dan berniat meminta pekerjaan dari-nya.
Tapi sayang, ternyata rumah makan itu masih tutup, Aku pun menunggunya sampai 1jam, tapi tetap belum buka juga, Akhirnya ku putuskan untuk pergi dari situ, berniat mencari kerjaan ke rumah makan yang lain, Aku pun bertanya ke beberapa rumah makan, tapi semua menolak ku! Sudah 4 rumah makan hari ini yang ku datangi, tapi tak satu pun yang bersedia mempekerjakan ku, bahkan Aku sendiri sudah bilang dan memohon tak masalah tak di gaji, yang penting ada tempat ku tinggal dan juga bisa makan.
Dalam hati ku berkata, kok susah bangat cari kerjaan, tibalah Aku di depan sebuah sekolah SMP, waktu itu mereka lagi jam istirahat, ku tatap mereka dari pagar sekolah. Aku sangat antusias melihat mereka bermain bersama di lapangan, seolah berharap Aku lah salah satu dari mereka, Memakai seragam Putih dan biru, sambil melihat mereka, Aku pun tersenyum sendiri, seolah hayalan ku nyata! bahwa Aku ada diantara mereka semua yang sedang asik bermain.
Aku akhirnya disadarkan oleh bunyi bel sekolah, anak anak smp yang se usia ku itu lalu masuk ke ruangan mereka, Aku lalu melangkah-kan kaki ku meninggalkan sekolah tersebut, sekarang perut ku benar benar keroncongan, karna semalam dan tadi pagi, Aku hanya memakan roti 2 ribuan untuk mengisi perut ku, akhirnya kuputuskan mencari rumah makan, dan menemukannya.
"Bang, boleh beli Nasi sama kuah doang ga?
"Boleh, berapa bungkus?
"Satu bungkus aja bang, Pake kuah aja ya Bang"
"Iya, Sebentar ya"
"Berapa?
"Tujuh ribu dek"
Aku kemudian membayarnya, tidak lupa Aku meminta air teh di plastik, untuk menghemat air minum ku. Aku kemudian mencari tempat yang nyaman buat ku makan, lalu melahap Nasi Kuah itu sampai habis, tak tersisa sebutir nasi pun, bahkan jari ku sendiri ikut bersih dari sisa nasi. hah..." perut ku pun kenyang.
Kembali Aku melangkahkan kaki mencari dan bertanya tanya kerjaan ke beberapa rumah makan, ke beberapa toko, tapi tetap tidak ada yang menerima ku, dan sekarang sudah hari ke 4 Aku mencari pekerjaan, tapi tetap tidak dapat. Sekarang sudah sore, Aku pun berjalan di dekat sebuah lapangan, tiba tiba Aku dihampiri 2 orang dewasa yang menurut ku seram! Rambutnya ber warna warna, lalu mereka meng kompas ku, meminta uang ku.
"Tolang Bang, Aku ga ada uang Bang"
"Diam lu! ku habisi kau kalau sampai teriak!
"Coba lihat isi kantongnya celananya! ucap salah seorang dari mereka, lalu dompet ku pun di ambil dan uang ku di ambil.
Aku kemudian memohon ke mereka, sambil memegang kakinya yang akan meninggalkan ku setelah uang ku diambil. Tolong Bang kembalikan uang ku Bang, ucap ku sambil menangis, tapi yang ada perut ku malah di tendang! mereka pun meninggal kan ku yang merintih kesakitan karna perut ku ditendang sangat kuat! sambil meringkuk di lapangan kupegangi perut ku yang kesakitan, air mata ku membasahi semua wajah ku. Tiba tiba hujan pun turun, dan membasahi semua tubuh ku, dan bercampur dengan air mata ku, yang masih meringkuk kesakitan, seolah Bumi menangis untuk penderitaan hidup ku.
Tiba tiba seorang Nenek nenek menghampiri ku yang masih meringkuk kesakitan.
"Kamu kenapa Nak? kok tiduran di situ dan kehujanan"
Dia pun semakin memperdekat dirinya, lalu melihat ku menangis ter sedu sedu sambil tangan ku memegang perut ku, kemudian membantu ku bangun dan berdiri
"Kenapa Nak?
"Aku habis di kompas Bu, uang ku diambil semua, trus perut ku di tendang kuat sama mereka"
"Oh.... Kasihan kamu Nak, Ayo kesana berteduh dulu di emperan toko"
Aku dan si Ibu pun akhirnya berteduh di emperan sebuah toko yang sudah tutup, walau pakaian kami berdua sudah basah, Aku lalu teringat akan photo keluarga ku, kuraba kantong ku, lalu kukeluarkan photo itu, sekarang sudah sedikit basah, si Ibu lalu menanyakan siapa di photo itu, Aku lalu mengatakan itu alm Ibu ku dan Ayah ku, dan Photo Aku waktu bayi. Lalu si ibu kemudian bertanya
"Nama kamu siapa Nak?
"Farhan Bu"
"Oh.. Nak Farhan mau kemana?
"Aku dari kampung bu, aku pengen nyari kerja di sini, tapi belum dapat dapat"
"Nak farhan kan masih kecil, ya pasti susah nak dapat kerja"
"Iya Bu, ga ada yang mau nerima Farhan kerja, kalau ibu sendiri?
"panggil aku nenek aja ya Farhan, soalnya sudah tua, kalau nenek cuman pemulung Farhan"
"Pemulung itu seperti apa Nek?
"Ya... Ngambil ngambil botol plastik Nak Farhan, seperti ini" (sambil menunjuk-kan isi dalam karung -nya)
"Trus Nek?
"Kalu sudah banyak Nenek jual ke pengumpul, uangnya buat bertahan hidup Nak Farhan"
"Oh... Boleh Farhan ikut nenek jadi pemulung?
"Boleh Nak Farhan, sambil kamu nanti bisa cari kerja"
Hari pun mulai gelap, dan hujan juha sudah mulai reda. Aku pun memutuskan utuk mengikuti Nenek, sebelum sampai di tempatnya, Nenek membelikan 2 bungkus nasi pake telor bulat, lalu kami melangkah menyusuri jalan, sekarang Aku lah yang membawa karung Nenek, dan akhirnya kata nenek, kita sudah sampai. Kulihat tempat nenek hanya berupa bangunan seperti gubuk, nenek pun menyuruh ku masuk ke dalam, lalu dia memberikan ku sebuah sarung yang sudah kusam untuk kupakai menggantikan pakaian ku yang basah, dan nenek menyuruh ku mandi di belakang, karna dibelakang ada drum air, dan sekarang pasti sudah penuh air karna hujan kata Nenek. Dan ini lah untuk pertama Aku mandi sejak merantau dari kampung, sebelumnya hanya cuci muka di tempat wudhu masjid.
Setelah itu, kami pun makan bersama diterangi lampu teplok, lalu nenek menyuruh ku tidur diatas tikar yang sudah di siapkan. Pagi hari nenek sudah bangun duluan, dan Aku juga akhirnya bangun, lalu Nenek mengatakan agar aku di rumah saja hari ini, tidak usah ikut memulung, sampai perut ku sudah baikan, tapi kukatakan ke Nenek kalau perut ku sudah baikan sekarang, sudah tidak sakit lagi. Tetap saja nenek tidak mengijinkan ku ikut dengannya memulung
"Kamu di rumah saja, nanti sebelum nenek pergi, nenek beliin kamu makanan"
"Emang kenapa Nek? kok Farhan ga boleh ikut?
"Ya kamu gak malu emang Farhan, memulung hanya pakai sarung itu? Pakaian mu kan masih basah, Nenek baru cuci semua tadi subuh"
"Oh... Hehehehe... Iya Nek, lupa kalau pakaian Farhan basah semua"
"Ya udah ya, Nenek beli makan dulu buat mu, Nenek pun pergi sebentar meninggalkan ku"
Tak lama berselang, nenek memberi ku sebungkus nasi uduk, lalu nenek pun pergi meninggalkan ku sediri di rumah sederhana ini, kalau di kampung ku, ini mungkin namanya Gubuk. Aku lalu memakan yang dibelikan oleh Nenek, pas aku menyuapkan nasi ke mulut ku, tiba tiba terlintas di benak ku akan alm Nenek Ku yang baik, Aku jadi teringat padanya, seolah sekarang Tuhan mengirimkan ku seorang Nenek yang baik seperti alm Nenek ku. Sambil makan, tak terasa air mata ku pun menetes membasahi wajah ku.
Dan hari ini ku habiskan waktu ku di rumah si Nenek, sambil menunggu-nya pulang. Hari Pun sudah sore, Nenek belum juga datang, Aku jadi sedikit gelisah! entah kenapa, pikiran ku malah menduga duga kalau Nek Ijah kenapa napa di jalanan, apa karna Aku menganggapnya sebagai pengganti nenek ku? Sehingga Aku se kawatir ini?
Tak berselang lama, Nek Ijah akhirnya nyampai, dia sambil memikul karung besar yang berisi botol botol plastik.
"Capek Nek?
"Iya Nak, namanya cari uang ya pasti capek, oh iya, ini nenek beliin kamu makan, kamu pasti udah lapar kan"
"Hehehe... Iya Nek"
Aku pun memakan Nasi yang dibelikan nenek, perut ku kembali terisi oleh Nasi, kemudian ku perhatikan Nek Ijah sibuk dengan botol botol plastiknya, dan seperti mengupasi tutup dari aqua gelas
"Nek, kok di kupasi gitu?
"Iya Nak, biar lebih mahal di jualnya"
"Oh gitu ya Nek, Farhan bantuin ya"
"Iya Nak Farhan"
"Nek, besok Farhan dah boleh ikut kan?
"Emang perut mu ga sakit lagi?
"Udah baikan ko Nek, besok Farhan ikut ya"
"Iya, iya Nak Farhan"
Akhirnya Aku dan Nenek mengupasi tutup dari aqua gelas itu, tak terasa hari sudah gelap, Nek Ijah pun menyalakan lampu teplok , sementara Aku sibuk memasukkan kembali botol botol plastik itu ke dalam karung, sekarang di rumah ada 2 karung besar berisi botol plastik.
"Nek, mau Farhan pijatin gak kakinya?
"Ah ga usah Nak, toh dah biasa kok Nenek berjalan jauh setiap hari"
"Oh... Emang ga pegal Nek?
"Pegal sih pegal, tapi harus dilawan! sakit itu jangan dimanjain Nak Farhan, sekarang dah tidur sana, biar besok badan lebih segar"
"Iya Nek"
Akhirnya Aku dan Nek Ijah pun tidur, dengan beralas tikar dan bantal yang terbuat dari baju baju yang sudah rusak yang tidak bisa di pakai lagi. Pagi harinya, Nek Ijah kembali memebeli nasi uduk buat serapan kami, sambil makan, nek ijah berkata.
"Nak Farhan, nanti bantu Nenek ya, ngangkat karung itu satu"
"Iya Nek, emang mau dibawa kemana?
"Nanti kita mau jual ke pengumpul, biar ada karung buat kita pakai mulung lagi"
"Iya Nek"
Akhir-nya Aku dan nenek pun membawa kedua karung yang berisi botol botol plastik itu, lalu tibalah kami disebuah tempat, dan itu kata Nek Ijah lapak pengumpul, memang aku lihat disitu banyak bertindi tindi karung berisi botol plastik, ada juga banyak kardus, dan rongsokan lainnya. Dari hasil jualan botol itu, Nek Ijah di kasih uang 45 ribu, kemudian kami pun melangkah dan mulai mencari botol botol plastik, tak terasa hari sudah sore, dan karung kami juga sudah penuh, akhirnya kami pun pulang, sebelum sampai rumah, kami juga mampir membeli makan dan air minum.
"Nak Farhan, sekarang langsung kupasin dan bersihin ya, biar besok pagi langsung kita jual, biar cukup uangnya buat beli baju buat kamu"
"Ga usah Nek, Farhan pake ini aja terus"
"Kan itu kotor Farhan kalau ga pernah di ganti bajunya, mana tau nanti kamu dapat kerja, masa pake baju kotor dan bau gitu"
"Tapi uang Farhan dah gak ada Nek, sudah di kompas orang Nek"
"Pake uang yang tadi pagi, sama uang hasil mulung hari ini, nanti pagi kita jual"
"Iya deh Nek, makasih ya Nek, dah baik sama Farhan"
Nek Ijah pun senyum samaku, kemudian Aku disuruh mandi duluan, habis itu langsung makan, dan besoknya kembali kami jual hasil dari memulung kami, kali ini kami dapat uang 50 ribu. Setelah itu, Aku dan Nenek pun langsung berjalan kaki ke pasar, kebetulan disana ada yang jual baju baju bekas, Akhirnya Nek Ijah membelikan ku 1 celana pendek, dan 1 kaos , sementara Nek Ijah tidak beli apa apa. Sehabis itu, kami kemudian mulai memulung lagi. Begitulah keseharian ku dengan Nek Ijah, dia selalu menasihati Aku, agar jangan pernah mengemis, dan jangan pernah mencuri.
Sekarang sudah ada 4 bulan Aku tinggal bersama dengan Nek Ijah. suatu waktu, Nek Ijah Sakit, dan Akhirnya hanya Aku sendiri yang memulung, Aku pun seolah tak kenal lelah, agar Aku dapat mengumpulkan banyak uang, agar bisa membawa Nek Ijah berobat, tapi takdir berkata lain, Nek Ijah akhirnya meninggal saat Aku pergi meninggalkannya sebentar untuk meminta tolong sama teman teman pemulung lainnya, saat kami akan membawanya ke rumah sakit. Aku kembali kehilanngan orang yang tulus menyayangi Aku, Aku benar benar sedih kehilangan Nek Ijah. Kami pun memakamkan Nek Ijah, setelah melapor ke dinas pemakaman.
Sekarang hanya Aku sendiri yang memulung dan tinggal di rumah gubuk ini, tapi itu juga hanya sebentar, karna sekitar 1 bulan setelah Nek Ijah meninggal, pemerintah Kota yang memiliki hak tanah tempat gubuk itu bediri, membongkarnya tampa sepengetahuan ku. Saat itu Aku sedang memulung seperti biasa, sore harinya Aku pulang, dan kudapati Gubuk ku sudah rata dengan tanah, dan barang barang yang ada disana juga katanya diangkut oleh mereka, yang tersisa hanya pakaian ku yang sempat di selamatkan oleh teman pemulung yang juga sama gubuknya di bongkar juga. Akhirnya, Aku pun dan teman pemulung lainnya tidur di emperan toko.
Sekarang aku sudah punya banyak teman, bahkan ada bapak bapak, ibu ibu juga, tapi semuanya sama seperti ku, hanya pemulung, hehehe... Kami sudah seperti keluarga bersama, dengan berjalannya waktu, tingkatan ku sebagai pemulung pun sudah bisa dikatakan bagus, sekarang Aku sudah punya gerobak buat ku memulung, dan itu juga ku jadikan untuk tempat ku tidur.
Jadi, ada sebuah tempat di dekat jembatan yang kami jadikan basecamp, dimana disana kalau malam hari, akan banyak gerobak gerobak pemulung yang berjejer, di sana juga banyak yang 1 keluarga, suami istri dan ada anaknya juga, pernah juga Aku lihat, dan ini pengalaman pertama untuk ku melihatnya, ada Ibu ibu pemulung yang melahirkan di gerobak juga, jadi cuman di bantu oleh Ibu ibu lain saja dalam proses melahirkannya.
Tapi! selalu saja kami ini ibarat Tikus dan Kucing, selalu saja kejar kejaran dengan Dinas sosial, pokoknya! Kami akan selalu kompak, kalau ada yang melihat ada rajia dari Pemerintah, dari dinas sosial, maka akan langsung cepat cepat memberitahukannha, agar ada kesempatan buat kabur atau sembunyi. Kadang aku berpikir, apa kah kami ini menyusahkan Pemerintah? Apakah kami ini membebani pemerintah? Sehingga kami selalu di buru oleh Dinas sosial! Entahlah, hanya mereka yang tau, otak kami tidak sampai ke situ! Yang kami tau, kami pemulung tidak pernah menyusahkan siapa pun, bahkan pernah Ada Bapak bapak pemulung bilang gini ke Dinas sosial yang melakukan rajia, Kami tidak pernah memakan uang pemerintah! Kami tidak pernah membebani pemerintah dengan memakai minyak subsidi! Kami tidak pernah mengeluh ke pemerintah untuk dapat kerjaan! Aku yang mendengar itu, tentu kurang paham, yang aku pahami saat ini, hanya bagaimana agar hasil memulung ku bisa mendapatkan uang banyak.
Banyak kenangan yang ku alami selama jadi pemulung, baik suka dan duka. kehilangan Nek Ijah tentu sangat membuat ku terpukul, dialah penyelamat ku di sini, di Kota ini. selama hampir 2 tahun ku habiskan waktu ku berkeliling Kota Pekanbaru sebagai pemulung, sehingga Aku pun sudah sangat hapal dengan seluk beluk Kota ini.