Alesha Devandra menatap rumah megah itu dari luar pagar. Ini baru minggu pertama dia bekerja di rumah keluarga Arsanta, dan setiap hari rasanya masih seperti mimpi buruk yang tak ingin ia jalani. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Kebutuhan hidup tak bisa dibantah. Meski hati kecilnya selalu merasa cemas, ia berusaha keras untuk menjalani hari-harinya dengan tenang.
Hari itu terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Hujan turun deras, membuat jalanan di luar tampak kabur dan suram. Alesha memutuskan untuk membersihkan ruang tamu, berharap tugasnya malam ini akan cepat selesai agar ia bisa segera pulang. Namun, nasib berkata lain.
"Alesha!" suara keras dari dalam rumah membuatnya terkejut. Itu adalah suara Reiner Arsanta, putra tunggal keluarga kaya itu. Alesha menoleh dengan gugup, mencoba menenangkan diri. Reiner sering tampak begitu tenang dan berwibawa, tapi malam itu, dia datang dengan wajah yang jauh berbeda-rambut acak-acakan, mata yang merah, dan langkahnya goyah.
"Alesha," ucapnya lagi, kali ini suaranya serak, hampir seperti berbisik. "Aku butuh kamu."
Alesha merasa ada yang tidak beres. Reiner, yang selalu tampak penuh percaya diri, kini terlihat rapuh. Sebelum bisa berkata-kata, dia sudah berada di hadapannya, terlalu dekat. Alesha mundur sedikit, takut. "Tuan... ada apa? Anda tampak..."
"Aku... aku baru saja dikhianati," Reiner berkata, suaranya bergetar. "Kekasihku menikah dengan sahabatku. Semuanya hancur. Semua yang aku percayai..."
Alesha merasa cemas. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia mencoba berkata dengan lembut, "Tuan, Anda harus tenang. Mungkin Anda perlu beristirahat dulu..."
Namun, kata-kata Alesha tak bisa menghentikan amarah yang sudah lama terpendam dalam diri Reiner. Dalam keadaan mabuk, dia tampaknya tak bisa mengendalikan dirinya. Tanpa peringatan, dia mendekati Alesha dengan gerakan yang begitu cepat. Alesha tidak punya waktu untuk melangkah mundur. Segalanya terjadi begitu cepat. Dalam semalam, dunia Alesha berubah.
Beberapa bulan kemudian...
Alesha duduk di kursi tua di ruang tamu rumah kakek-neneknya, memegang perutnya yang mulai membesar. Air matanya menetes, dan dia merasakan kekosongan yang begitu dalam. Kehidupan yang ia bangun selama ini rasanya sudah hancur. Semua rasa takut, malu, dan bingung bercampur aduk.
"Alesha?" suara lembut dari Neneknya membuatnya terkejut. "Kau baik-baik saja?"
Alesha mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat. Neneknya duduk di sampingnya, menatapnya dengan penuh perhatian. "Alesha, apa yang sebenarnya terjadi? Kau terlihat begitu terpuruk belakangan ini."
Alesha menghela napas panjang. "Nenek, aku... hamil. Dan aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak ingin membawa ini ke dalam hidup keluarga kita. Tapi aku juga tidak bisa mengubah kenyataan."
Nenek Alesha meraih tangannya dengan lembut. "Kau tidak perlu menanggung ini sendirian. Kakek dan nenek akan selalu ada untukmu. Tapi... apakah kamu tahu siapa yang bertanggung jawab?"
Alesha menunduk, suaranya serak. "Reiner... Dia, dia yang melakukannya. Tapi aku tidak tahu apakah dia ingat atau tidak. Dia dalam keadaan mabuk waktu itu. Aku tidak tahu harus menghadapinya bagaimana."
Nenek Alesha menghela napas panjang. "Kamu harus memutuskan, Alesha. Apakah kamu ingin menuntut pertanggungjawaban darinya? Atau apakah kamu akan menjalani hidup ini sendiri? Jangan biarkan orang lain menentukan jalan hidupmu."
Alesha terdiam. Hatinya berat. Di satu sisi, dia ingin mendapatkan keadilan. Di sisi lain, dia tidak tahu apakah Reiner akan peduli, apalagi setelah semua yang telah terjadi.
Sementara itu, di sisi lain kota, Reiner Arsanta duduk termenung di ruang kerjanya yang mewah, menatap foto kekasihnya yang sekarang menjadi istri sahabatnya. Rasa sakit itu masih menggerogoti hatinya. Namun, tak lama kemudian, pikirannya terganggu oleh sebuah pesan yang muncul di layar ponselnya-sebuah foto yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
"Alesha..." bisiknya pelan.
Apakah ini mungkin? Apakah anak itu benar-benar miliknya?
Alesha, satu-satunya pilihan yang ada padanya, kini tak hanya berkutat dengan rasa sakit dari masa lalu, tapi juga dengan keputusan besar yang harus diambil.
Alesha menggenggam erat ponselnya. Ia sudah berkali-kali menulis pesan untuk Reiner, hanya untuk menghapusnya lagi. Tangannya gemetar, pikirannya kacau. Jika dia menghubunginya, apakah Reiner akan percaya? Atau malah menganggapnya wanita licik yang ingin menjebaknya?
"Kamu tidak bisa diam saja, Alesha," suara Neneknya memecah lamunannya. "Bagaimana pun, dia ayah dari anak itu."
"Tapi... aku takut, Nek," suaranya lirih. "Aku tidak tahu apakah dia akan menerimanya atau malah membuangku begitu saja."
Nenek Alesha menghela napas panjang. "Jika kamu tidak berani berbicara dengannya, maka kamu akan menjalani ini sendirian. Tapi kalau kamu memberitahunya, setidaknya kamu tahu apa yang harus dihadapi."
Alesha menggigit bibirnya. Perutnya sudah mulai membesar, waktu terus berjalan. Ia tidak bisa lari dari kenyataan selamanya.
Dengan tangan gemetar, ia akhirnya mengetik pesan itu.
Alesha: Aku butuh bicara denganmu. Ini penting.
Pesan terkirim. Namun, ia tidak berharap terlalu banyak. Reiner adalah pria yang terbiasa hidup di atas segalanya. Mungkin dia bahkan tidak akan repot-repot membacanya.
Namun, lima menit kemudian...
Reiner: Di mana kamu?
Jantung Alesha berdegup lebih kencang. Ini akan menjadi pertemuan yang sulit.
Hotel Grand Arwana – Ruang VIP
Alesha berdiri di depan pintu ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia tidak pernah mengira akan kembali bertemu Reiner dalam situasi seperti ini. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya sebelum ia menghembuskan napas panjang dan mendorong pintu perlahan.
Di dalam, Reiner duduk dengan kemeja hitam, lengan terlipat, ekspresinya tak terbaca. Matanya tajam, seolah mencoba menembus isi pikirannya.
"Alesha," suaranya berat dan dingin. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Alesha menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku... aku hamil."
Keheningan menelan ruangan itu. Wajah Reiner tetap tak terbaca, tetapi rahangnya mengeras.
"Dan aku harus peduli karena...?"
Jantung Alesha mencelos. Ia sudah menduga kemungkinan ini, tetapi mendengar langsung dari mulut Reiner tetap saja menyakitkan.
"Karena anak ini milikmu, Reiner," katanya, suaranya lebih kuat dari yang ia duga.
Reiner menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Dan bagaimana aku tahu kamu tidak berbohong? Bahwa ini bukan hanya taktik untuk mendapatkan uang dariku?"
Alesha menatapnya tak percaya. Matanya memanas, tapi ia menahan air matanya. "Aku tahu kamu tidak akan langsung percaya. Aku tidak meminta apa pun darimu. Aku hanya... aku hanya merasa kau berhak tahu."
Reiner terdiam beberapa saat. "Berapa bulan?"
"Empat."
Matanya sedikit menyipit. "Jadi, ini dari malam itu..."
Alesha menunduk, tangannya mengepal di atas paha. Ia tidak ingin mengingat malam itu. Luka yang ia coba sembunyikan terlalu dalam untuk disentuh lagi.
"Lalu, apa yang kamu inginkan dariku, Alesha?" suara Reiner lebih pelan kali ini, tetapi tetap dingin.
Alesha menatap matanya. "Aku tidak tahu. Aku hanya ingin jujur padamu. Tapi kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab, aku akan pergi. Aku bisa membesarkan anak ini sendiri."
Reiner mengamati Alesha dengan tatapan tajam, tetapi kali ini ada sesuatu di sana-sesuatu yang tidak bisa Alesha baca.
"Tinggal di mana sekarang?" tanyanya tiba-tiba.
"Di rumah kakek dan nenekku," jawab Alesha hati-hati.
Reiner mengangguk pelan, lalu berdiri. "Baiklah."
Alesha mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Reiner merapikan kemejanya dan mengambil jaketnya. "Aku akan memastikan semuanya. Sampai aku yakin anak itu memang milikku, kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Alesha."
Matanya membelalak. "Apa maksudmu?"
Reiner mendekat, menundukkan kepalanya hingga wajah mereka hampir sejajar. "Aku tidak percaya pada siapa pun, Alesha. Tapi kalau memang anak ini milikku... aku tidak akan membiarkanmu membesarkannya sendirian."
Detik itu, Alesha menyadari bahwa pertempuran barunya baru saja dimulai.
Alesha terdiam, otaknya berputar cepat mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Reiner. Rasanya dunia seakan berhenti berputar sejenak.
"Apa maksudmu dengan tidak akan membiarkan aku membesarkannya sendirian?" suaranya bergetar, tak tahu apakah ia harus merasa lega atau takut.
Reiner menatapnya dengan tajam, tidak ada sedikit pun kelembutan dalam matanya. "Aku akan memastikan bahwa anak itu mendapatkan yang terbaik, Alesha. Dan itu berarti kamu tidak bisa pergi kemana-mana tanpa persetujuanku."
Alesha merasa ada beban berat di dadanya. Apa yang sebenarnya diinginkan Reiner? Dia tak bisa mengerti pria ini. Dalam satu kalimat, dia memberi harapan, sementara di kalimat berikutnya, dia malah mengancam dengan cara yang dingin. Alesha ingin melawan, ingin berkata bahwa dia tidak butuh bantuan dari pria ini, tetapi kata-kata itu terasa seperti bara yang tak bisa ia singkirkan.
"Tapi aku tidak ingin berurusan denganmu, Reiner," Alesha berkata dengan suara yang dipenuhi kebingungan dan ketegangan. "Aku sudah cukup menderita karena pertemuan kita yang pertama. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang."
Reiner mengernyit, tidak mengerti. "Apakah kamu pikir aku menyenangi keadaan ini, Alesha? Aku bukan seorang pria yang mudah percaya, dan jika aku harus memastikan anak ini milikku, aku akan melakukannya, bahkan jika itu berarti mengawasi setiap langkahmu."
Alesha merasa darahnya mendidih. "Mengawasi? Jadi, kamu berencana mengontrol hidupku hanya karena anak ini?"
Reiner menatapnya tajam, tak terkendali. "Aku tidak tahu siapa yang lebih terancam dalam hal ini-kamu atau aku. Tapi, percayalah, aku akan melakukannya demi anak itu."
"Anak itu bukan hanya milikmu, Reiner," Alesha hampir berteriak. "Ini adalah hidupku juga. Kamu tidak bisa memaksaku untuk hidup sesuai dengan keinginanmu!"
Reiner berjalan ke arah jendela, menatap keluar dengan ekspresi kosong. "Aku tidak pernah ingin melakukan ini, Alesha. Aku tidak pernah ingin terjebak dalam drama ini. Tetapi kalau kamu ingin tahu, aku lebih tertarik untuk memastikan anak ini tumbuh dalam keadaan baik daripada kamu berjuang sendirian, apalagi mengancamku dengan keputusan sepihak."
Suasana di antara mereka semakin panas, meskipun keheningan yang tegang seperti kabut menyelimuti. Alesha merasakan betapa sulitnya berada di ruangan ini bersama pria yang bahkan tak bisa ia percayai, namun kini ia terjebak dalam permainan yang ia tak pernah pilih. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Jadi, apa yang kamu ingin aku lakukan, Reiner?" Alesha akhirnya bertanya, suaranya lelah. "Apa yang kamu harapkan dariku?"
Reiner menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ekspresinya berubah, seolah ada sedikit penyesalan di sana. "Aku tidak tahu, Alesha. Aku tidak tahu apa yang aku harapkan. Tapi aku akan memastikan kita tidak terjebak dalam kekacauan ini. Kamu tidak akan bisa menjalani hidup seperti sebelumnya, dan aku juga tidak bisa."
Alesha menggigit bibirnya, berjuang menahan air matanya. Semua yang ia harapkan adalah untuk melupakan malam itu, untuk melanjutkan hidupnya dengan tenang. Namun, Reiner kembali muncul dalam hidupnya, membawa semua kerumitan yang tak ingin ia hadapi.
Beberapa minggu kemudian...
Alesha duduk di ruang tamu rumah kakek-neneknya, menatap surat yang baru saja datang. Surat dari pengacara Reiner. Di dalamnya, tertera berbagai ketentuan yang membuat perutnya terasa sesak. Reiner tidak hanya meminta hak asuh, tetapi juga memaksanya untuk tinggal di bawah pengawasan keluarga Arsanta sampai kelahiran anak itu. Bahkan, ia diberi batasan tentang siapa yang boleh ia temui dan ke mana saja ia bisa pergi.
"Hidupku benar-benar hancur," Alesha berbisik pada dirinya sendiri.
"Pernahkah kamu membicarakan ini dengan Kakek dan Nenek?" suara lembut Neneknya memecah keheningan.
Alesha menggeleng, tangannya gemetar saat memegang surat itu. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada mereka. Mereka sudah banyak berkorban untukku. Aku tidak ingin menambah masalah."
Nenek Alesha duduk di sampingnya, meletakkan tangan di bahunya. "Alesha, kamu harus berbicara dengan mereka. Kita keluarga, dan kita selalu ada untukmu. Jangan biarkan beban ini kamu tanggung sendirian."
Alesha mengangguk, tapi hatinya tetap terasa berat. Ia merasa terperangkap dalam dunia yang tak bisa ia kontrol, antara cinta yang sudah hancur dan masa depan yang tidak pasti.
Di sisi lain kota, Reiner duduk di ruang kerjanya, tatapannya kosong saat ia menelusuri laporan keuangan keluarga. Namun pikirannya jauh dari pekerjaannya.
"Bagaimana caranya, kalau memang harus berurusan dengan Alesha ini?" pikirnya. Dia mengingat wajah Alesha, matanya yang penuh keraguan dan ketakutan. Sesuatu dalam dirinya merasa bersalah. Ia tidak ingin berbuat jahat, tetapi ia tidak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja.
"Ini lebih sulit daripada yang kukira," gumamnya pada dirinya sendiri.
Namun, meskipun ia merasakan sedikit penyesalan, Reiner tahu satu hal dengan pasti: ia tidak akan mundur. Anak ini adalah bagian dari dirinya. Dan ia akan melakukan apa pun untuk memastikan masa depan anaknya.
Keesokan harinya, Alesha duduk di kursi rumah sakit, menunggu untuk pemeriksaan rutin kandungannya. Matanya melayang ke pintu yang perlahan terbuka. Reiner muncul, mengenakan setelan formal, wajahnya serius, tidak ada senyum di sana.
"Aku ingin ikut serta," katanya singkat, matanya tajam menatap Alesha.
Alesha menatapnya, tak percaya. "Apa yang kamu inginkan dariku, Reiner?"
Reiner menarik kursi di sampingnya. "Aku ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Ini bukan hanya tentang kamu atau aku lagi. Ini tentang anak kita."
Alesha merasa bingung, ada rasa cemas yang mulai menyelubungi dirinya. Akankah mereka pernah bisa menjalani ini dengan damai?
Dengan berat hati, Alesha menyadari bahwa jalan di depan mereka masih penuh dengan konflik dan ketegangan yang tak terhindarkan. Tapi satu hal yang pasti-tidak ada jalan mundur.