"Apa gak ada cara lain Mas? Masa kita ...?"
"Aku cuma mau itu Nan, kamu mau atau gaknya terserah kamu. Tapi, sebenarnya semua ini adalah demi kebaikan kamu. Kamu selama ini penasaran tapi gak pernah dapat jawabannya. Sekarang jawabannya ada di depan mata kamu, tinggal kamu aja setuju dengan syaratnya." ujar Yuan yang baru 3 hari tiba di rumah ini.
Kinan menatap kakak iparnya itu lekat lekat. Mengapa ia terlihat sangat memaksa.
"Tapi apa Mas janji akan beritahu semuanya? Jangan ada yang di sembunyikan lagi dari Kinan Mas!"
"Aku janji, karena semua rahasia Bara ada padaku Nan. Terserah kamu aja" Yuan langung meninggalkan Kinan seorang diri di teras belakang.
"Mas!" Panggil Kinan lagi. Panggilan itu berhasil menghentikan Yuan, Yuan berhenti tapi tak berbalik menatap Kinan.
"Kinan siap Mas" Lanjut Kinan dengan suara yang sedikit bergetar.
Yuan tersenyum lalu sedikit menoleh ke belakang dan mengangguk mengiyakan.
Kinan masuk ke dalam kamarnya, ia modar mandir panik. Ia bertanya tanya apakah jawabannya dan pilihannya tadi benar? Gelisah tak menentu membuat Kinan tak bisa berpikir normal.
"Kinan? Nan! Nak! Kinan? Ini Ibu Nak" Panggil Bu Chika dari luar kamar Kinan.
"I-Iyaa Bu" Kinan membuka pintu kamarnya.
"Kamu seriusan Nan? Kamu mau nikah dengan Yuan?" Bu Chika menggoyang goyangkan kedua tangan Kinan.
"Eee iya Bu"
"Allhamdulilah" Bu Chika malah terlihat bahagia bukan main.
"Ibu? Setuju Kinan menikah dengan Mas Yuan? Sementara Mas Yuan dan istrinya ..." Kinan terbata bata.
"Ibu setuju Nan! Ibu restui kalian! Ibu malah senang kalau kamu nikah sama Yuan. Kamu akan selalu jadi anak Ibu" Bu Chika memeluk Kinan.
Kinan memang hanyalah menantu di rumah ini. Setelah menginggalnya Bara suami Kinan, Kinan selalu di hibur oleh Ibu mertuanya ini.
Sudah setahun yang lalu, Bara berpulang ke pangkuan yang Kuasa dan beberapa hari yang lalu, Yuan berserta istrinya kembali dari luar negeri. Di luar dugaan Yuan malah mengajak Kinan untuk menikah.
"Nan, segera kasih Ibu cucu yaa" Celoteh Bu Chika lagi.
"Aduh aduh, Bu. Kinan sama Yuan belum juga ijab kabul udah di mintai cucu? Gimana sih Ibu?" Sahut Pak Nardi yang ikut menyusul istrinya.
"Bapak? Bapak juga restui?"
"Restu Bapak selalu untuk kamu Nan" ujar Pak Nardi.
Kinan tersenyum manis, padahal dalam hatinya ia bertanya tanya.
***
Beberapa hari yang lalu, Kinan sedang menyapu halaman rumah. Saat itu sore juga Yuan dan Nia istrinya tiba di rumah ini.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan Kinan, Kinan mengernyitkan keningnya, dalam hatinya bertanya siapa gerangan. Padahal selama ini tak ada yang berkunjung ke rumah menggunakan mobil secantik ini.
Keluarlah Yuan dan Nia, Kinan langsung mengembangkan senyumnya dan segera memanggil Ibu dan Bapak Mertuanya.
Kinan tak begitu akrab dengan kakak Ipar prianya itu, Kinan hanya berani menyapa Nia dan mengajaknya berbincang bincang.
Genap 3 hari kepulangan Yuan, Kinan yang tengah sibuk di belakang dengan berbagai macam sayur yang harus di bersihkannya.
Yuan tiba tiba muncul di belakangnya,
"Eh Mas? Cari apa Mas?" Tanya Kinan. Tak bisa di tutupinya keterkejutannya melihat Yuan tiba tiba hadir di belakangnya.
"Aku cuma mau kasih ini" Yuan menyerahkan buku tipis kepada Kinan.
Kinan menerimanya dengan ragu. "Apa ini Mas? Daftar belanja?" Tanya Kinan.
"Bukan, itu punya Bara" Ujar Yuan lagi, ia pun duduk di samping Kinan.
Di biarkannya wanita itu membuka buku catatan itu, Kinan mulai membaca isinya. Tiba tiba di detik berikutnya, Kinan membulatkan matanya, tubuhnya di tegakkannya dan beberapa kali Kinan menatap Yuan dan buku itu bergantian.
"I-Ini beneran punya Almarhum Mas Bara?"
"Iya, kamu gak hafal tulisannya?" tanya balik Yuan.
"Tapi maksudnya apa? Tes pack siapa? Bayi siapa? Wanita yang mana? Kinan gak pernah hamil? Kinan gak pernah pake tes pack. Di sentuh aja Kinan jarang. Apa ini alasan Mas Bara jarang pulang, atau Mas Bara punya perempuan lain di luar sana?" Kinan meluncurkan pertanyaan yang ada di pikirannya sekarang.
Yuan menghela napasnya panjang. Lalu mengangguk angguk mengiyakan ucapan Kinan.
"Mas? Untuk apa semua ini? Mas?" Kinan tak puas hati, ia membuka lagi buku itu dan di temukan foto usg berjatuhan dari salah satu halaman buku.
Kinan terpaku, ia tak bisa berkata kata. Di ambilnya satu persatu dan di lihatnya seksama.
"Aku gak akan bohongi kamu Nan, itu semua punya Bara. Kalau gak percaya bisa kamu buka buka lagi bukunya. Kamu akan ketemu lebih banyak bukti lagi" Ujar Yuan
Kinan menuruti ucapan Yuan, ia mencoba mencari lebih banyak lagi isi dari buku itu. Tak jauh dari halaman itu, ada lagi surat rumah sakit. Bahasa Inggris dan Kinan yakin hanya rumah sakit di luar negeri yang mengeluarkan surat ini.
"Ini surat apa Mas? Kinan gak pinter bahasa Inggris" Cicit Kinan.
Yuan kasian melihat wanita itu, di ambilnya lalu di buka isi suratnya.
"Kamu baca aja nama yang tertera di sini" Tunjuk Yuan.
Kinan mengambil lagi surat itu dari Yuan, di bacanya nama yang tertera di sana.
"Bara? Nia?! Mas Yuan!" Kinan mendorong Yuan.
"Kalau kamu mau tau lebih banyak, aku masih punya banyak bukti, kalau mau tau maksudnya. Maka terima saja syarat yang aku minta ini Nan"
"Hah? Syarat apa Mas"
"Kamu mau tau 'kan alasan dia gak sentuh kamu? Alasan dia jarang pulang ke sini meski dia sudah ada di sini? Kamu mau tau alasan semua surat surat rumah sakit itu ada di situ? Mau tau?" Pancing Yuan.
Kinan menggigit bibirnya, padahal di pikirannya sudah menduga duga apa yang pernah di lakukan Almarhum Suaminya. Tapi bila Kinan pikir dari sisi yang berbeda, untuk apa ia mencari tau sementara suaminya sudah tiada. Tapi jujur saja rasa penasaran dan tak terima Kinan sangat mendominasi.
"Apa syaratnya Mas?"
"Menikahlah denganku" Ajak Yuan tanpa ragu.
"Hah? Mas jangan bercanda deh. Mas punya Mbak Nia lhoo" kekeh Kinan setengah terkejut.
"Cuma itu yang bisa aku tawarkan Nan" singkat Yuan.
"Kalau Kinan bayar Mas Yuan mau?" Tawaran Kinan membuat Yuan menyunggingkan senyum dan terkekeh.
"Aku gak butuh uang sogokan apalagi suap"
"Mas" Rengek Kinan begitu manja agar Yuan meluluh.
Jujur rengekkan itu menggema di telinga Yuan tapi hanya di tanggapinya dengan mata yang tertutup menikati suara rengekan Kinan dan gelengan kepala menolak permintaan Kinan.
"Apa gak ada cara lain Mas? Masa kita ...?"
"Aku cuma mau itu Nan, kamu mau atau gaknya terserah kamu. Tapi, sebenarnya semua ini adalah demi kebaikan kamu. Kamu selama ini penasaran tapi gak pernah dapat jawabannya. Sekarang jawabannya ada di depan mata kamu, tinggal kamu aja setuju dengan syaratnya."
Kinan menatap kakak iparnya itu lekat lekat. Mengapa ia terlihat sangat memaksa.
"Tapi apa Mas janji akan beritahu semuanya? Jangan ada yang di sembunyikan lagi dari Kinan Mas!"
"Aku janji, karena semua rahasia Bara ada padaku Nan. Terserah kamu aja" Yuan langung meninggalkan Kinan seorang diri di teras belakang.
"Mas!" Panggil Kinan lagi. Panggilan itu berhasil menghentikan Yuan, Yuan berhenti tapi tak berbalik menatap Kinan.
"Kinan siap Mas" Lanjut Kinan dengan suara yang sedikit bergetar.
Ego Kinan meningkat dan ia hanya ingin mengetahui apa yang selama ini di simpan Suaminya di luar sana. Rasa tak terima Kinan karena semasa hidup Bara, pria itu sangat jarang pulang ke rumah, memang pekerjaannya adalah seorang navigasi kapal tapi tak selamanya ia tinggal di kapal dan lautan ada kadang kalanya pulang ke keluarga. Tapi Bara malah jarang pulang meski sudah jadwalnya pulang, Kinan juga sangat merasakan dirinya yang bahkan di kecup saja tak pernah. Padahal dulu Bara melamarnya ke kedua orang tuanya dengan mantap dan yakin. Membuat Kinan luluh dan menerima lamaran Bara.
Tapi sekarang? Apa yang Kinan dapatkan? Rahasia yang segudang banyaknya.
Kinan kesiangan hari ini, karena semalaman ia sulit tidur setelah mengetahui beberapa hal tentang suaminya dulu.
Kinan terbangun karena mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Nan? Kinan?" Panggil Ibu Chika.
"Astaga! Aku telat" Kinan langsung panik.
"Ya Bu, maaf Kinan telat bangun" Kinan langsung membuka pintu dan berdiri di depan Ibu mertuanya.
Ibu mertua hanya tersenyum dan menyerahkan kebaya putih bersih kepada Kinan. "Hari ini ijab kabul kamu dan Yuan"
"Apa! Se-secepat ini?"
"Iyaa kayaknya Yuan udah gak sabar halalkan kamu Nan" kekeh Bu Chika.
"Ibu aaah, ngomong apa sih?"
"Udah ayo, ibu bantu pakein kebayanya" Bu Chika mendorong Kinan masuk lagi ke dalam kamar.
Kinan bersiap dan kini di pasangkan kemben dan kebayanya. Kinan menatap pantulan dirinya di cermin. Keahlian Bu Chika menandaninya membuat polesan cantik di wajah Kinan.
"Bu? Emang harus secantik ini?"
"Harus lhoo, biar Yuan makin cinta sama kamu"
"Eeehh? Apa sih Bu? Aduh, Kinan takut Bu. Malu juga sama Mbak Nia! Aduhhh aku jadi madunya Mbak Nia yaa?" Rengek Kinan.
"Bu, Kinannya udah siap? Mempelai prianya udah gak sabar tuh" Suara Nia dari luar kamar Kinan membuat Kinan spot jantung.
"Mbak Nia?" Bisik Kinan.
"Masuk aja Nia, pintunya gak di kunci" Ujar Ibu Chika sembari berbalik menatap pintu yang di tutup.
"Permisi yaa" Nia pun masuk.
"Wih, cantik bener si Kinan, yaa ampun." Nia malah memuji kecantikan Kinan.
"Mbak? Eeee ..." Kinan jadi bingung ingin berkata apa di depan istri pertama Yuan.
"Bu, anak Ibu tuh, dari tadi nanya, mana Kinannya? Mana Kinannya? Udah siap belum sih?" Nia menirukan cara Yuan bertanya.
"Iya ini bentar lagi, tinggal bibirnya lebih di glow glowing" Cicit Bu Chika.
"Hehehe gak akan nyesal deh Yuan dapat istrinya di dandan cantik gini. Meski lama dikit nunggu'kan gak ngaruh sama kecantikan Kinan" Celoteh Nia lagi.
Kinan langsung tak memiliki pertanyaan di otaknya karena perbincangan Ibu dan Nia. Malah Kinan tiba tiba takut ketika membayangkan malam ini adalah malam pertama ia dan Yuan.
"Apa aku akan baik baik aja?" Batin Kinan.
"Kayaknya pilihan aku salah, harusnya aku gak perlu cari tau hal hal yang sudah pernah terjadi. Mas Bara juga sudah gak ada, aduh Kinan terjebaklah kamu sudah di egomu yang terlalu tinggi ini" Batin Kinan.
Kinan sudah siap dengan segala dandanannya. Ibu dan Nia membawanya keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan detak jantung yang mungkin bisa di dengar Ibu dan Nia.
"Mbak, maaf" Ujar Kinan tiba tiba.
"Maaf buat apa?" Tanya Nia.
"Maaf, karena aku ... Mas Yuan ... Dia"
"Biasa aja kali Nan, aku malah yang izinkan Yuan nikah lagi dan menyarankan dia untuk menikahi kamu." Ucapan Nia barusan membuat Kinan menghentikan langkah kakinya menuruni anak tangga.
"Nan?" Panggil Ibu. Wajah Ibu terlihat panik ketika Kinan menghentikan langkahnya.
"Kinan Sayang Ibu 'kan? Menikahlah dengan Yuan Nan" Pinta Ibu Chika lagi.
"Iya Nan, ayuk" Ajak Nia lagi.
Kinan tak bisa berpikir dengan jernih, ia melongo sepanjang anak tangga dan kini sudah duduk berdampingan dengan Yuan.
Ijab kabul pun di lakukan, dan Yuan bisa melakukannya dengan sekali tarikan napas.
Semua saksi menyatakan sah dan sahlah Kinan dan Yuan adalah suami istri.
Yuan menyodorkan punggung tangannya dan Kinan pun mencium punggung tangan Yuan. Begitu pun sebaliknya saat Yuan harus mengecup kening atau pelipis Kinan, dilakukannya tanpa ragu ragu.
Pertama kalinya Kinan merasakan kecupan di keningnya membuatnya makin oleng dalam berpikir. Hangatnya bibir Yuan membuat Kinan meleyot rasanya. Setelah beberapa saksi pulang dan penghulu juga pulang, tinggallah keluarga inti rumah ini.
Kinan masih dengan wajahnya yang bingung, bahkan saat di panggil pun Kinan tak menyadari jika ia di panggil.
"Nan? Kok melamum?" Bu Chika menepuk bahu Kinan.
"Eh? Apa Bu?" Kinan baru tersadar.
"Kamu belum makan sejak bangun tadi. Sekarang udah pukul 10 lhoo. Makan dulu sana sama Yuan tuh, nanti asam lambungmu naik kalau kamu makan telat dari jam 11."
"Ooohhh" Kinan mengangguk mengerti.
Kinan menatap baju kebaya yang masih melekat di tubuhnya. Kinan bangkit dan berjalan menaiki anak tangga.
"Kinan kemana lagi?" tanya Bu Chika.
"Ke kamar Bu, ganti baju sama hapus make upnya"
"Aduh Nan. Lama kalau kamu hapus make up itu, makan dulu abis itu hapus make upnya"
"Tapi rasanya gak enak Bu, muka Kinan rasanya tebal" Cicit Kinan.
Kinan langsung masuk kamarnya dan menutupnya, Kinan menghela napasnya kasar dan seakan tak percaya jika kini Ia sudah berstatus istri kedua dari Yuan.
"Astaga mala petaka apakah ini?" Kinan mengacak acak rambutnya.
Kinan membuka kebayanya, di gantinya dengan tanktop berwarna putih polos dan juga celaba hot pans berwana hitam.
Kinan lanjut menghapus make upnya meski dalam suasana jantung yang sebenarnya tak tenang.
Ceklek, pintu kamar Kinan terbuka dan sosok pria masuk bersama dengan membawa piring dan segelas air putih.
"Aaaaaaaaaa!" Kinan menjerit.
"Heh heh eh? Kenapa?" Tanya Yuan bingung dan tak merasa bersalah.
"Mas mau ngapain? Ini masih pagi yaa Mas! Belum malam, kalau malam ya okelah wajar! Ini masih pagi Mas! Barusan juga ijab kabul" Cicit Kinan sambil menutup dadanya dengan kedua tangan yang menyilang.
"Apanya?" Yuan menyipitkan matanya curiga maksud Kinan.
"Mas? Mas ngapain masuk kamar Kinan?" Tanya Kinan sambil terus waspada.
"Antar makanan, biar kamu makan sambil hapus make upnya. Takutnya nanti asam lambungmu kambuh." Ungkap Yuan.
"Hah?" Kinan melongo lagi.
Yuan menaruh piring dan gelas yang sejak tadi di pegangnya. Lalu pria itu berkacak pinggang menatap penampilan Kinan dari atas hingga bawah.
"Emang kamu mau apa pagi pagi gini?"
"A-Aaaaaa ... Gak! Aku cuma ... Anu, eeemm aku tadi. Eeehhh?" Kinan langsung gugup dan tak menemukan jawaban yang tepat.
"Ck! Udah makan tuh. Jangan mikir yang aneh aneh belum sampe sejam nih abis sah." Cicit Yuan.
Pria itu meninggalkan kamar Kinan, membuat jantung tak bisa berhenti berdetak kencang.
"Aissshh apa apaan aku!" Serunya sendiri. Kinan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Betapa malunya Kinan di depan Yuan, bisa bisanya mulut ini mengatakan hal hal yang berbau hubungan suami istri.
Kinan mencoba tenang, barulah Kinan mengambil piring dan gelas yang di antar Yuan. Semua lauk pauk lengkap dan tersusun rapi di dalam satu piring berserta nasinya.
"Ini Ibu yang siapkan atau Mas Yuan?" Tanya Kinan seorang diri.
Kinan mengangkat bahunya, ia mulai mencicipi bahkan dengan jaimnya Kinan menghabiskan sepiring itu dengan lahapnya.
***
Sore harinya, Kinan bingung harus melakukan apa. Ia hanya ke dapur, lalu ke halaman rumah, lalu masuk lagi ke kamarnya lalu ia keluar lagi.
Rasanya tak menentu, malam semakin datang, Kinan mulai berpikir yang tidak tidak akan terjadi di malam pertama ini. Malam pertama ia menjadi istri kedua Yuan.
"Nan?" Panggil Nia. Terlihat wanita itu sudah rapi dengan penampilannya yang selalu kekinian, sementara Kinan hanya menggunakan daster bunga bunga bererna kuning.
"Kenapa Mbak?"
"Kamu kok belum siap, Yuan gak kasih taukah?" Tanya Nia
"E-Enggak Mbak"
"Isshh Yuan, kita 'kan bakal pindah Nan. Kita pindah ke rumah di kota."
"A-apa? Rumah di kota? Rumah Mas Yuan dan Mbak?"
"Iya, daerah perumahan itu."
"Kita? Serumah? Apa!" Batin Kinan.
"Ayo siap siap. Bawa barang barang yang mau kamu bawa Nan" Nia mengusap usap pipi Kinan.
"Mbak? Kok Mbak tenang banget sih? Mbak?" Kinan mengutarakan isi hatinya.
"Yaaa enggak apa apa. Emangnya aku harus gimana Nan?"
"Aaaaa" Kinan terdiam menatap Nia.
Sementara Nia juga sama menatap madunya itu.
"Oooyyy, udah siap belum?" Panggil Yuan mengejutkan keduanya.
"Eeh Yuan? Aaa, aku lupa sabun mandiku, siap siap Nan" Ujar Nia malah membuat Kinan tersentak.
"Siap siap?" Kinan terus membatin.
"Nan, kamu udah mandi?" Tanya Yuan pada istrinya.
"Udah Mas."
"Baguslah"
"Eee Mas? Kata Mbak Nia tadi, kita mau ke kota? Ke rumah Mas di sana? Eee Kinan bawa apa aja?"
"Iya, Gak usah bawa apa apa sih. Nanti Kinan beli baju di sana aja. Tapi kalau ada baju favorit Kinan yang mau dibawa pun boleh."
"Oooooohh oke Mas, kalau gitu, Kinan ke kamar dulu" pamit Kinan.
Yuan menatap punggung Kinan yang menjauh.
"Haaahh sekarang aku punya 2 istri. Kalau menafkahi tiap bulan, aku bisa. Tapi apa aku bisa menjelaskan semuanya sama Kinan? Kehamilan Nia? Rahim Nia? Bara dan segala kekhilafannya? Astaga Bara kenapa kamu tega sama aku begini." Yuan mengusap wajahnya kasar. Sepertinya yang lebih tertekan di sini adalah Yuan.
###
Kinan turun dari mobil Yuan, di depan Kinan kini berdiri megahnya rumah modern. Kinan, Yuan dan Nia sudah tiba. Kinan tak banyak bawaan hanya membawa tas seadanya untuk membawa beberapa barangnya saja seperti ucapan Yuan.
"Nah, rumah di sebelah kiri itu punya Nia dan yang kanan itu akan di tinggali Kinan."
"Ooohh okee" Nia menyahut dengan santai.
"Jadi gak serumah? Syukurlah" Kinan lega.
"Oh yaa berhubung ini malam pertama pernikahan Yuan dan Kinan, malam ini Yuan sama Kinan yaa" Tambah Nia.
Kinan menoleh cepat ke arah Yuan, melihat bagaimana ekspresi pria itu, ia tampak tak begitu terkejut dan memilih mengangguk saja.
Nia berjalan menuju rumahnya dan Yuan menuju rumah yang di tunjuk akan menjadi rumah Kinan.
Rumahnya bersampingan dan hanya berbatas dinding beton.
Kinan mau tak mau berjalan mengekori Yuan. Yuan membuka pintu dan keduanya masuk. Yuan menyalakan lampu, pengelihatan Kinan semakin jelas isi rumah itu, belum terlalu lengkap dan ada bagian bagian yang kosong.
"Nanti sisa perabotannya kita beli sama sama. Eeemm mungkin besok kalau kamu setuju Nan"
"Boleh Mas" Yuan menoleh ke arah Kinan yang terus memanggilnya Mas.
"Dari mana kamu belajar panggil aku Mas?"
"Dulu, Mas Bara yang minta. Supaya aku manggil Mas Yuan. Aku pengen panggil abang atau kakak aja. Tapi Mas Bara ngotot biar aku panggil Mas. Jadi yaa keterusan Mas" jelas Kinan.
Yuan menghela napasnya panjang.
"Mas? Beneran janji'kan? Jangan bikin Kinan makin penasaran lhoo Mas" Pinta Kinan pelan pelan.
Yuan mengusap wajahnya lagi, "Nan, aku boleh jujur, suara kamu tuh ..." ucapan Yuan menggantung karena ia melipat bibirnya kedalam.
"Emang kenapa? Nada bicara Kinan memang begini Mas! Terlalu aneh yaa?"
"Bukan" Yuan menggaruk kepalanya.
"Suaramu tuh jadi racun di otakku! Terlalu menggoda Nan" Batin Yuan.
"Eeem kamu, eeeee" Yuan yang jadi bingung.
"Apa sih Mas?"
"Kita ke kamar mau?" Yuan tak ada kata kata lain.
"Ayoo" sahut Kinan bagaikan tantangan bagi Yuan.
Keduanya sudah di dalam kamar, kamar berukuran 6x8 itu sepi tanpa ada aktivitas apapun. Keduanya hanya berbaring di atas tempat tidur yang sama dan tak ada yang berani membuka kata.
Satu jam sudah mereka melakukan ini.
Akhirnya ...
"Kinan, kamu mau tau apa?"
"Semuanyalah Mas."
"Awal mula masalahnya, atau awal aku tau semua ini? Atau langsung aja ke intinya?"
"Isssh banyak banget Mas!" Kinan bangkit dari baringnya dan mengintimidasi Yuan dengan tatapan matanya.
"Yaa mau gimana lagi. Sekarang aku siap ceritakan semuanya Nan, kamu sudah setuju jadi istri aku dan bahkan kita sudah sah. Aku gak akan sembunyikan apapun dari Kinan. Silakan Kinan bertanya apa aja sama aku" Yuan duduk dan bersandar headboard tempat tidur.
Kinan menyipitkan matanya menatap Yuan, "Alasan Mas minta Kinan menikah dengan Mas apa? Kenapa Kinan? Di luar sana banyak cewek lain kalau memang Mas mau poligami? Mbak Nia juga izinkan toh"
Mendapat tatapan menyipit dari Kinan membuat Yuan terkekeh wajah wanita ini cantik saat mengintimidasinya. "Alasannya? Keterikatan janji dan emosi"
"Hah? Jangan gantung gantung gitu nah jelasinnya Mas!" Kinan memukul lengan Yuan.
"Eheh? Apanya yang di gantung?" Kekeh Yuan.
"Penjelasanmu buat aku kurang puas Mas!"
"Ya sabar dulu Nan. Nih aku jelasin. Dulu waktu aku tau semua ini, aku emosi aku marah aku gak bisa kontrol diri hingga mulut ini mengeluarkan kata kata yang gak semestinya aku ucapkan. Aku bilang ..." Yuan tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Yaa Mas? Apa?" Kinan menatap penuh harapan Yuan.
"Aku gak bisa Nan, aku gak bisa, aku bingung mau ceritakan dari mana Nan" Yuan meringkuk di atas tempat tidurnya.
Kinan terkejut melihat apa yang terjadi pada Yuan, Kinan ingin merengkuh pria itu tapi ragu. Ingin memeluknya tapi ragu juga. Akhirnya Kinan nekat dan merengkuk Yuan dalam peluknya.
"Gak apa apa kalau Mas belum siap. Kinan bisa mengerti kondisi Mas" Ujar Kinan dengan suara halusnya bisa menenangkan Yuan.
Perlahan Yuan tenang dan membalas pelukan Kinan, Yuan mengangguk mengartikan dirinya baik baik saja. Kinan rasa semua ini berat di beritahu Yuan seorang diri.
"Kita tidur yuk Mas, udah larut." Kinan mengelus elus lengan Yuan.
Yuan mengangguk pelan, "Ayo"
Kinan berbaring menghadap Yuan dan menjadikan lengan Yuan gulingnya.
Yuan menyungingkan senyuman melihat wajah cantik yang sepertinya sedikit kecewa tapi berusaha tetap sabar menanti.
"Eehh?" Tiba tiba Kinan membuka matanya dan mengangkat kepalanya.
"Kenapa?"
"Kita sah 'kan tidur gini Mas?" Tanya Kinan.
"Sah" Sahut Yuan sambil mengangguk. Ingin Yuan tertawa melihat tingkah menggemaskan Kinan.
Kinan kembali memeluk lengan Yuan, ternyata tak perlu waktu lama untuknya terlelap. Yuan menatapnya lekat lekat. Mengingat ucapan yang tak semestinya ia ucapkan saat emosi mengetahui istri dan adiknya melakukan hal yang membuahkan buah hati cinta.
"Jika nanti aku bersetubuh dengan istrimu dan menghamilinya apa boleh!? Kamu boleh melakukannya maka aku juga boleh'kan" Bentakkan Yuan itu masih sangat segar di ingatan.
"Iya lakukan saja, aku tak peduli! Karena aku sangat mencintai Nia!" Balas sosok yang paling di benci Yuan hingga saat ini.
"Kenapa aku mengatakan itu? Tenang Yuan tenang. Besok kamu harus jujur Yuan! Jujur!" Batin Yuan menguatkan tekadnya.
Kinan mengerjap matanya. Pria yang semalam tidur dengannya sudah tak ada di tempat. Kinan keluar dari kamar sambil mengucek ucek matanya, aroma masakan yang wangi dan menggugah selesai bisa di cium Kinan.
"Mas Yuan?" Kinan melongo melihat suaminya itu sedang memasak. Menggunakan celemek berwarna hijau dan sedang ememegang memegang sutil.
"Mas Yuan bangun dari jam berapa? Kok udah masak? Kenapa gak bangunin Kinan?" Deretan pertanyaan Kinan.
"Gak apa apa. Tadi cuma gak bisa tidur aja. Jadi aku masak aja di dapur. Gak salah 'kan? Mumpung gak bisa tidur kita juga berangkat pagi pagi, jadi harus sarapan dulu Nan" Imbuh Yuan.
"Waaaahhh" Kinan kagum mendengar ucapan Yuan.
"Kinan suka ayam goreng bagian pahanya 'kan? Nah ini" Yuan menyerahkan sepiring penuh dengan paha ayam yang sudah di gorengnya.
"Hhhmm wanginya. Makasih Mas"
"Sama sama. Kita sarapan bareng yaa, abis itu kita siap siap berangkat. Banyak yang harus kita beli. Perabotan dapur masih ada yang kurang. Sofa dan meja di tengah juga masih kurang. Terus nanti kamu pilihkan gorden, keset, eeemmm karpet, ya Nan. Aku kurang paham beli yang begituan, makanya barang barang itu belum di beli Nan" ungkap Yuan saat duduk di depan Kinan.
"Boleh aja Mas"
Keduanya sarapan bersama. Ini sarapan pertama Kinan bersama suaminya. Ia bertanya tanya apa Nia selalu sarapan bersama pagi pagi bersama Yuan? Apa Yuan sendiri yang memasak atau di bantu Nia juga? Atau apa yang mereka lakukan di dapur jika berduaan. Kinan berpikir sembari mengunyah makanan di mulutnya. Tatapannya tertuju hanya ke arah Yuan di depannya. Pria yang masih tak sadar hanya fokus pada makananya. Hingga akhirnya Yuan merasa sedang di perhatikan, barulah ia mengangkat wajahnya dan menatap Kinan balik. Tatap mereka bertemu beberapa detik keduanya saling pandang.
"Apa?" heran Yuan.
"Hehehe gak apa apa, Mas" Kinan malu sendiri.
Selesai sarapan, Kinan bergegas mandi dan bersiap seperti yang di rencanakan Yuan tadi. Selesai dengan dandanan tipisnya, Kinan keluar dari kamar. Seolah paham, Yuan bergantian masuk kamar dan kini saatnya Yuan yang mandi dan bersiap.
Saat Kinan keluar dari rumah. Ia melirik rumah yang ada di samping rumahnya ini, yaitu rumah yang di huni Nia. Rumah itu masih sepi dan tak terlihat aktivitas di dalamnya. Kinan ingin tau apa yang tengah di lakukan Istri pertama suaminya itu, apa ia merindukan suaminya yang kini masih di rumah Kinan atau apa yang tengah di lakukannya tanpa Suaminya.
"Yuk Nan" panggil Yuan yang sedang membukakan pintu mobil.
"Eh iyaa" Kinan terkejut dan segera mendekati Yuan.
Keduanya pun berangkat. Dari sela jendela rumahnya Nia menatap kepergian mobil yang di kendarai suaminya. Nia menghela napasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya "Jangan berharap lebih Nia, kamu melakukan kesalahan. Memang patut dan sangat sepatutnya Yuan mendapatkan yang lebih baik dari kamu. Relakan Dia untuk Kinan, Nia" Nia memberikan instruksi pada dirinya sendiri.
Kinan memilih apa yang di tugaskan Yuan. Beberapa kain gorden dan juga karpet sudah di pilih Kinan.
Tiba tiba datang seorang pelayan toko itu yang menawarkan karpet lainnya.
"Ini karpetnya halus banget lhoo Mbak, biasanya di taruh khusus di kamar si kecil" ujar pelayan itu.
Kinan langsung gugup saat pelayan itu membicarakan bayi atau si kecil.
"Aha, gak dulu. Belum punya si kecil" cicit Kinan.
Kinan segera mencari Yuan, ternyata Yuan berdiri tak jauh dari Kinan dan ia sepertinya mendengar apa yang di katakan pelayan itu tadi.
"Sudah dapat?" Tanya Yuan.
"Udah Mas."
"Ya udah, ayo kita cari bajumu"
Kinan mengangguk mengiyakan. Iya mengikuti langkah Yuan, mereka membayar di kasir dan barang yang di pesan mereka akan di kirim secepatnya.
Yuan membawa Kinan menuju mall. Karena Yuan tak tau baju seperti apa yang ingin di beli Kinan, lebih baik Kinan di bawanya ke Mall saja agar langsung memilih sendiri baju yang di inginkannya.
"Yuk Nan"
Kinan memilih beberapa baju yang menurutnya akan cocok di kenakannya di rumah rumah. Kinan tak memperhatikan Yuan yang sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Saat Kinan agak ragu dengan pilihannya karena takut mahal, saat itulah Kinan menoleh ke arah Yuan.
"Eehh?" Kinan menemukan Yuan sedang memijat kepalanya sendiri
"Mas?" Kinan mendekati Yuan dan mengusap lengan pria itu
"Mas sakitkah? Dimana sakitnya? Mas?" Kinan tentu panik melihat kondisi Yuan seperti ini.
"Kepalaku Nan" suara Yuan terdengar berbisik karena menahan rasa sakit.
"Aku lupa minum obatku" ucap Yuan lagi.
"Obat? Dimana obatnya? Kinan ambilkan kalau ada Mas bawa"
"Di mobil Nan"
Kinan berlari ke tempat parkiran mereka tadi, Kinan mencari di mana letak obat itu. Ia menemukannya tapi jujur Kinan tak tau apa benar ini obatnya. Akhirnya Kinan membawa semua kotak obat itu kembali ke Yuan. Biarlah pria itu menunjukan mana obatnya.
Yuan mengambil salah satu obat yang ada di dalam kotak itu, di minumnya satu pil. Kinan memberikan Yuan air yang juga di bawanya dari mobil tadi.
"Mendingan Mas?" Kinan setia di samping Yuan bahkan beberapa kali tangan Kinan menggenggam tangan Yuan.
"Udah mendingan Nan, makasih"
"Mas itu obat apa tadi?"
"Obat penenang" Sahut Yuan membuat Kinan melongo.
"Obat penenang?"
"Hhhmmm" Yuan mengangguk lemas.
"Kalau gitu kita pulang aja Mas, kasian kondisi Mas begini." Gelisah Kinan.
"Gak apa apa Nan, udah minum obat nih gak akan sakit lagi kepalaku, kamu pilih aja baju yang kamu mau. Ambil aja. Nanti aku bayar semuanya."
"Tapi ...
"Kamu itu istriku, harus aku nafkahi juga." Yuan mengacak puncak rambut Kinan.
Kinan meyakinkan lagi jika Yuan benar benar sudah baikan, barulah Kinan lanjut mencari baju yang di perlukannya.
Tak ingin berlama lama, Kinan ambil saja mana ukuran yang cocok dengannya. Tak peduli itu kaos atau dress atau rok mini, yang penting muat di tubuh Kinan.
"Yuk Mas, bayar" Kinan menggandeng tangan Yuan.
"Okelah, yakin? Udah semua?"
"Yakin banget" sahut Kinan.
***
Kinan dan Yuan kini sudah tiba di kediaman mereka. Rupanya hampir bersamaan dengan perabotan yang di beli mereka tadi.
Setelah menandatangani kedatangan barang Kinan berulang kali meminta Yuan untuk beristirahat.
Pria itu tak peduli dan seolah dirinya sangat kuat.
"Gak apa apa Nan, kamu gantilah bajumu terus masakan sesuatu di dapur untuk makan siang kita. Aku mau bereskan perabotan ini duluan" ujar Yuan.
"Issh Mas! Gak usah harusnya Mas yang istirahat. Tadi Mas 'kan pusing pusing" Kinan menarik tangan Yuan. Di bawanya suaminya itu ke dalam kamar mereka.
Yuan menatap punggung Kinan yang ada di depannya.
"Mas istirahat, Kinan masak! Jangan protes pokoknya!" Kinan memasang wajah galaknya. Sudah terpalinga galak Kinan rasa.
Tapi Yuan malah tersenyum melihat wajahnya.
"Iya iya"
Kinan meninggalkan kamar menuju dapur. Ia memasak sayur dan juga bubur ayam. Ia tiba tiba menginginkannya karena saat pulang tadi Kinan melihat penjual bubur ayam di pinggir jalan.
Kinan menyajikan bubur ayam buatannya di atas meja makan, karena selera Kinan pedas pedas ia menambahkan sambel ke dalam mangkuknya dan semangkuk lagi rencananya untuk Yuan.
Ternyata aroma masakan Kinan sampai ke kamar, Yuan pun keluar dan menghampiri istrinya mudanya.
"Udah masak?" Tanya Yuan.
"Eeeh Udah Mas, Kinan kira Mas makan di kamar makanya Kinan mau bawa ke kamar aja mangkuk punya Mas"
"Kita makan di sini aja Nan"
Sembari makan, Kinan bertanya tanya kondisi Yuan.
Yuan pun tak ragu menceritakannya pada Kinan.
"Biasanya jarang kambuh. Kambuh bisa sih. Tapi kalau lagi banyak pikiran dan kelelahan juga. Kadang sampai pingsan, tiba tiba kepalaku sakit dan berdenyut denyut. Kalau udah gitu yaa pake obat penenang aja caranya."
"Awal mulanya gimana sih Mas bisa sakit begitu?"
"Setahun yang lalu Nan."
"Ooohh apa karena pertanyaan Kinan yaa?"
"Enggak kok. Emang kondisiku yang gak stabil. Maklumlah baru balik dari luar negeri lagi penyesuaian terus kurang istirahat. Kalau pertanyaan Kinan bukanlah alasan kambuhnya"
"Ooohh kalau gitu, malam ini Mas tidur sama Mbak Nia aja. Mbak Nia pasti udah paham dan tau banget gimana cara mengatasi Mas yang kambuh" saran Kinan.
"Tapi rencananya, malam ini aku ceritakan semuanya Nan. Aku sudah bulatkan tekad semalam. Aku janji"
"Mas janji?"
"Janji!"
###