Bab 2

Saka tidak salah mengenal krystal itu. Ia ingat jika krystal itu ia pesan dengan bentuk yang ia inginkan, jadi tidak mungkin ada dua benda seperti itu di dunia ini.

“Dari mana kamu mendapatkan benda itu?” tanya Saka tanpa sadar.

Felix dan Nichole serempak menoleh pada Saka. Felix menjawab, “Ini punya Mama. Kata Mama, Papa lah yang memberikan benda ini pada Mama dulu sebagai kenang-kenangan.”

Saka terdiam sejenak. Perasaannya mendadak kacau. “Apa … kamu tahu di mana papamu sekarang berada?”

Felix menggeleng. “Kata Mama, Papa sudah meninggal dunia sebelum aku lahir. Jadi, aku belum pernah bertemu dengan Papa sama sekali. Mama menyimpan ini, tapi karena ini satu-satunya benda dari Papa, jadi aku mengambil dan menyimpannya.”

“Tadi kamu bilang berapa usiamu?” tanya Saka mencoba memastikan kembali.

Felix mengangkat empat jarinya. “Empat tahun!”

Mata Saka melebar. Jika ia tidak salah hitung, memang sudah sekitar lima tahun ia memberikan gelang krystal tersebut pada wanita itu. Seandainya upaya mereka berhasil kala itu, maka usia anak dalam kandungan wanita itu seharusnya juga sudah sekitar empat tahun. Artinya, kemungkinan anaknya seusia dengan Felix sekarang.

Sayangnya, Saka tidak ingat bagaimana sosok wanita itu. Nama yang Felix sebutkan juga rasanya tidak sesuai dengan yang ada dalam ingatannya. Jadi, ia tidak bisa benar-benar memastikannya.

Di tengah-tengah perbincangan antara Felix dan Saka, Nichole berusaha mencari informasi lainnya. Ia pun tidak sengaja menemukan sebuah tulisan berupa deretan angka yang tampak seperti susunan nomor telepon.

“Apa ini nomor telepon mamamu, Felix?” tanyanya.

Felix menoleh dan membaca angka itu. “Oh, iya! Ini nomor Mama! Aku ingat angka belakang dan depannya!”

Nichole tersenyum senang. Akhirnya ada informasi yang bisa membuat Felix kembali ke rumahnya. Dengan cepat, ia pun segera menghubungi nomor yang ada di sana. Ia tahu pasti bahwa ibu dari Felix sangat khawatir akan anaknya yang hilang.

Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya seseorang datang mengetuk pintu ruang kerja Saka. Nichole pun dengan sigap membuka pintu tersebut dan berbincang sejenak untuk menanyakan apakah benar dia adalah Ariana, ibu dari Felix.

“Iya, aku mamanya! Apa Felix benar-benar ada di dalam sana?” 

“Iya, silakan masuk,” ucap Nichole dan memberikan jalan untuk Arian masuk menemui anaknya.

“Felix!” panggil Ariana ketika masuk dan mendapati Felix tengah memakan kue.

Felix yang mendengar suara mamanya itu pun sontak menoleh. Senyum lebar di wajah Felix membuat anak itu terlihat semakin menggemaskan. Felix pun turun dari sofa dan meninggalkan camilannya yang tinggal sedikit untuk berlari dan memeluk ibunya.

“Mama!”

Diam-diam, Saka memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu. Dari tempatnya berdiri, ia mengamati sosok Ariana dari atas hingga ke bawah. Perhatiannya tertuju pada sepasang mata Ariana.

Meski saat itu Saka melakukan hubungan dalam cahaya yang sangat redup dan tidak tahu bagaimana wajahnya dengan pasti, namun ia masih ingat betul warna dan bentuk mata wanita itu. Iris mata Ariana yang berwarna cokelat muda yang sewarna dengan hazel itu sangat mirip dengan wanita itu.

Sejujurnya, Saka sangat tidak bisa melupakan mata wanita itu meski sudah berlalu selama lima tahun lamanya.

Mencoba mengabaikan pikirannya, Saka berjalan menuju Ariana dan Felix. Nichole pun juga mendekati mereka. Menyadari hal itu, Ariana segera melepaskan pelukannya pada Felix dan menatap mereka berdua.

Ariana bangkit dengan cepat. Ia berulang kali membungkukkan badannya pada Saka dan juga Nichole. “Terima kasih, terima kasih banyak sudah menyelamatkan anak saya! Saya tidak tahu harus membalas kalian dengan apa. Pokoknya, saya sangat berterima kasih.”

Mata Ariana berkaca-kaca. Dua pria di hadapannya mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya Ariana rasakan. Wanita itu sangat bersyukur bisa menemukan Felix dalam keadaan baik-baik saja. Tadi, ia sudah berpikir macam-macam dan menyangka jika dua pria berjas yang membawa anaknya adalah orang jahat yang meminta imbalan besar sebagai tebusan.

Ariana menoleh pada Felix yang memegangi kakinya. “Felix, cepat ucapkan terima kasih juga! Kamu sudah merepotkan mereka!”

Felix terlihat gugup, tetapi ia pun ikut membungkuk. “Terima kasih, Paman Nichole dan Paman Tampan.”

Ariana menganga kecil saat mendengar panggilan Felix pada salah satu pria di hadapannya itu. Namun, ia mengabaikannya saat mendengar dehaman kecil dari Saka. Pria yang berdeham itu terlihat kaku dan dingin meski wajahnya tampan.

‘Apa pria ini yang disebut Paman Tampan?’ batin Ariana.

Dalam benak Saka, ia masih sibuk memikirkan sosok Ariana di depannya. ‘Apa benar wanita ini adalah wanita itu?’

“Tidak apa-apa. Kami senang bisa membantu Felix. Dia bukan anak yang merepotkan, justru dia anak yang tenang dan pintar. Kami jadi tidak merasa risih,” ucap Nichole dengan hangat. Ia tersenyum menatap Felix. “Felix juga lucu, saya jadi merasa senang melihatnya ada di sini.”

Nichole kemudian berjongkok dan mensejajarkan pandangannya pada Felix. “Bukankah kita berdua juga sudah menjadi teman? Jadi, tidak perlu malu dan merasa sungkan.”

Saka memperhatikan Nichole yang berinteraksi dengan Felix. Nichole memang ramah dan bisa berbicara dengan semua orang. Andaikan Nichole tidak bekerja sebagai tangan kanannya pun, orang-orang pasti akan mengenal Nichole karena sikapnya yang friendly itu. 

Sangat berkebalikan dengan Saka yang dingin dan disegani oleh siapa saja. Orang-orang akan berpikir dua kali jika ingin berbincang dengan pria itu.

Ariana tidak datang sendirian. Ia ditemani oleh Alice. Wanita itu kini bergantian memeluk Felix dan berkata, “Syukurlah kamu baik-baik saja, Felix! Apa kamu tidak tahu kalau mamamu panik waktu kamu hilang tadi? Lain kali, pegangan yang erat dengan mamamu, ya! Jangan tiba-tiba menghilang begitu saja.”

Felix mengangguk paham. “Iya, Mami Alice.” Lalu, ia beralih pada Ariana yang menatapnya. “Maafkan aku, Mama.”

Ariana menghela napas panjang dan berkata jika ia tidak mempermasalahkannya karena Felix sudah ditemukan. Ia menatap Saka dan Nichole. “Kalau begitu, kami izin pamit pulang. Ini ada sedikit hadiah dari saya. Maaf, mungkin tidak seberapa, tetapi mohon diterima.”

Ariana memberikan sebuah paperbag berkualitas berisi box kue cokelat dari toko terkenal pada Saka. Namun, pria itu tidak kunjung mengambilnya dan terus bersedekap. Nichole pun dengan cepat mengambil peperbag itu.

“Terima kasih banyak, padahal Anda tidak perlu repot-repot seperti ini.”

Ariana, Alice, dan Felix pun keluar setelah mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya. Kantor yang awalnya berwarna akibat kehadiran Felix itu pun kembali sunyi dan terkesan kaku. Kebanyakan orang saja memilih untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu kecuali Felix dan para tangan kanannya.

Meski Ariana telah kembali, pikiran Saka masih saja memikirkan tentang wanita bermata hazel itu. Tidak dapat dipungkiri, kemunculan Felix dan Ariana membuat Saka bertanya-tanya dan penasaran.

“Nichole,” panggil Saka ketika Nichole hendak duduk di kursi dan memulai pekerjaannya, “Cepat kamu selidiki latar belakang Felix dan ibunya itu. Kalau bisa, aku ingin kamu melakukan tes DNA antara aku dan Felix.”

“Apa?” Nichole terlihat sangat terkejut dengan ucapan Saka. Ia tentu saja keheranan karena sikap Saka yang mendadak sangat penasaran sampai ingin melakukan tes DNA pada Felix.

Akan tetapi, Nichole tidak bertanya macam-macam dan lebih lanjut. Menurutnya, ini bukan saat yang tepat. Jadi, dia hanya melakukan perintah yang Saka berikan kepadanya.

***

Apartemen baru milik Ariana memang masih terasa asing bagi Felix. Namun, keberadaan Ariana dan Alice membuat Felix merasa nyaman berada di sana. Apalagi, Ariana terlihat senang dengan apartemen barunya, Felix juga merasa bahagia karena memiliki kamar baru yang dihiasi dengan tema dinosaurus yang lebih keren dari kamar lamanya.

Malam ini, ketiga orang itu makan bersama di ruang tengah. Apartemen Ariana memang tidak terlalu besar dan mewah, tetapi cukup nyaman untuk dihuni.

“Felix, bagaimana perasaanmu hari ini? Apa kamu merasa senang dengan kota barunya?” tanya Alice memecah keheningan. Ia sebenarnya berusaha menahan tawa karena melihat betapa lucunya Felix yang masih berusaha makan sendiri.

“Iya! Kotanya bagus. Tadi juga ketemu sama Paman Nichole dan Paman Tampan.”

Alice hampir saja menyemburkan minumannya. Ia tertawa mendengar bagaimana Felix memberi julukan pada salah satu dari pria yang Felix temui. “Bagaimana menurutmu dua orang itu?”

“Paman Nichole baik! Badannya tinggi, waktu aku digendong, aku jadi tinggi juga! Terus, aku dikasih kue enak! Katanya itu dari Paman Tampan, jadi Paman Tampan juga baik. Tapi, Paman Tampan kelihatan agak galak.”

Alice dan Ariana tertawa kecil mendengar itu. Ariana pun ikut bertanya, “Bagaimana kamu bisa bertemu dengan dua orang itu?”

“Waktu Mama hilang, aku tidak sengaja menabrak Paman Tampan. Tapi Paman Tampan tidak marah sama aku. Terus, Paman Tampan juga yang bolehin aku pergi ke kantornya sama Paman Nichole. Aku jadi suka Paman Tampan. ”

Ariana terdiam. Ia tidak bisa membiarkan anaknya membuat masalah pada orang lain. 

“Felix, Mama tidak hilang. Mama kan sudah bilang buat kamu tunggu di meja sambil makan es krim, tapi kamu malah pergi. Lain kali kalau Mama bilang kamu harus diam di tempat, kamu tidak boleh ke mana-mana! Kalau kamu tiba-tiba hilang begitu, Mama kan jadi susah mencari kamu. Apalagi kita baru pindah ke sini dua hari yang lalu.”

Mendengar Ariana mengomel, Felix menghentikan makannya dan cemberut. Matanya pun berkaca-kaca seolah akan menangis. “Maaf, Mama. Lain kali Felix akan mendengarkan Mama.”

***

Di sebuah mansion mewah dan megah, tampak seorang pria yang baru saja pulang dari kantornya sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ia melepaskan dasinya dan menghela napas panjang. Sembari berusaha mengistirahatkan badannya, ia menatap pemandangan taman dan langit malam yang ada di depannya.

Meski sudah beberapa jam berlalu, tetapi pikiran Saka masih berputar pada kejadian tadi siang. Menurutnya, mencari latar belakang Ariana dan Felix rasanya tidak cukup dan ia pun tidak bisa menunggu hasilnya terlalu lama. Akhirnya, Saka pun memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Halo, Profesor Harry,” ucap Saka setelah menelpon sebuah nomor di ponselnya. “Ada yang ingin aku bicarakan dengan Anda. Ini mengenai wanita yang harusnya menjadi ibu dari anakku lima tahun yang lalu.”

"Kenapa tiba-tiba membahas hal ini, Saka? Bukankah waktu itu kamu bilang jika wanita itu tiba-tiba kabur dan kamu tidak bisa menemukannya?" ucap Harry. “Tunggu, jangan bilang kalau kamu ...."

Bersambung ....

Bab 3

“Apa kamu menemukan wanita itu?!”

Saka menghela napas panjang. “Aku belum yakin akan hal itu, Profesor. Saat ini, aku masih menyelidikinya. Tapi, ada kemungkinan jika wanita yang tadi aku temui adalah wanita itu. Lalu, dia juga membawa anak kecil yang berumur empat tahun,” jelas Saka panjang lebar, tetapi tetap dengan nada tenang.

“Anak kecil? Apa kamu menduga jika dia adalah anakmu, Saka?” tanya Harry sekali lagi.

“Hanya dugaan saja. Aku sudah bilang sedang menyelidikinya, kan? Awalnya, aku bertemu anak itu dan dia membawa krystal yang aku berikan pada wanita yang bermalam denganku waktu itu.”

“Krystal?”

Saka bergumam mengiyakan. “Itu krystal khusus yang hanya ada satu di dunia. Tidak mungkin orang lain memilikinya kecuali wanita itu. Tapi, Profesor, memangnya mungkin pembuahan bisa berhasil hanya dengan satu kali percobaan?” tanya Saka.

Itulah yang selama ini menjadi pikiran Saka. Mungkin saja jika wanita itu memang wanita yang tidur dengannya, tetapi apa mungkin anak itu adalah anaknya? 

“Sebenarnya banyak kasus pembuahan yang terjadi dalam sekali coba. Jadi, hal itu tidak lah mustahil, Saka,” jelas Harry. “Tapi, akan lebih baik jika kamu tetap melakukan tes DNA dengan anak itu agar tebakanmu terjawab.”

“Aku mengerti. Aku akan segera memberikan sampel anak itu agar kamu bisa melakukan tes DNA-nya. Mungkin, Nichole yang akan datang,” putus Saka.

“Tidak masalah. Aku tahu kamu sangat sibuk dengan jadwalmu. Akan aku tunggu kabar darimu selanjutnya,” ucap Harry.

Sambungan pun tertutup. Saka bangkit dan melepaskan semua pakaiannya, menunjukkan kegagahan tubuhnya pada kegelapan malam sebelum ia berganti menggunakan pakaian tidurnya.

Sayangnya, meski Saka sudah berada di atas kasur pun, pikirannya tetap dipenuhi oleh pandangan dan suara Ariana.

‘Apa kamu sungguh dia?’

***

Pagi menjelang siang, Ariana datang ke sebuah restoran tempat diadakannya pertemuan dengan beberapa rekan kerjanya. Mereka sudah memesan ruangan khusus rapat beserta dengan hidangannya. Ruangan itu tampak ramai dengan orang-orang yang berpartisipasi dalam proyek terbaru. 

“Ariana!” seorang pria paruh baya memanggil Ariana yang baru saja sampai. “Duduklah di sini, kami menyediakan tempat khusus untukmu!”

Ariana tersenyum dan segera berjalan menuju Sutradara. Memang ada satu kursi kosong di situ. Tanpa berpikir panjang, ia pun duduk di sana.

“Nah, karena Ariana sudah datang, akan aku perkenalkan dengan orang-orang. Semuanya, mungkin beberapa kalian sudah tahu, tapi biar kuperkenalkan aktris kita satu ini secara formal, ini Ariana Cellania yang akan berperan sebagai pembantu utama. Dia berhasil lolos seleksi dengan sangat baik dan memuaskan. Ariana baru saja pindah ke kota ini dari luar negeri. Dia mengikutiku karena sudah terikat kontrak.”

Ariana tersenyum pada orang-orang yang menatapnya. “Terima kasih. Salam kenal semuanya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.”

Sutradara tersenyum puas pada Ariana. “Baiklah, terima kasih sudah memperhatikan. Sekarang, kalian bebas mengobrol dan makan hidangan yang sudah disediakan. Aku membuat acara ini agar kalian bisa dekat dan kenal satu sama lain. Proyek ini adalah proyek besar, jadi aku ingin kalian semua akrab agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.”

Acara makan-makan itu pun berlangsung sangat meriah. Makanan di restoran yang Sutradara pesankan itu memang terkenal sangat lezat meski harganya memang lumayan. Jadi, mereka merasa tidak boleh menyisakan satu makanan pun.

Ariana sendiri hanya makan beberapa saja meski makanan di depannya sangat menggiurkan. Ia harus menjaga proporsi tubuhnya untuk aktivitas syuting.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita cantik dengan gaya glamor mendekati mereka. Ariana terperangah akan kecantikan wanita itu. Auranya berbeda jauh dengan aura aktris biasa.

“Halo, kamu Ariana, kan?” sapa wanita itu dengan ramah.

“Iya benar.” Ariana tersenyum canggung.

Wanita itu mengulurkan tangannya. “Aku Luna Audrey, salam kenal. Kalau kamu adalah pemeran utama pembantu, pasti kita akan sering berinteraksi karena aku adalah pemeran utama wanitanya.”

‘Ternyata dia pemeran utama wanitanya, pantas saja secantik ini. Pak Sutradara tidak salah memilihnya,’ batin Ariana.

Ariana membalas uluran tangan Luna. “Salam kenal juga, Luna. Senang bisa bertemu dan bekerja sama denganmu. Melihat kecantikan dan auramu, tidak salah kamu dipilih jadi pemeran utamanya,” puji Ariana dengan tulus. Meski merasa kalah, tetapi Ariana tetap mau mengakui jika Luna jauh di atas dirinya. Hal itu tidak membuat Ariana menyerah.

“Ya ampun, jangan memujiku seperti itu. Padahal kamu juga sama cantiknya,”  balas Luna dengan tertawa manis. Beberapa orang terpana dengan kecantikannya saat ia tertawa seperti itu.

“Anda bisa saja.” Ariana tersenyum malu-malu.

‘Tak hanya cantik, tapi dia juga ramah. Biasanya, aktris papan atas terlalu gengsi untuk menyapa artis di bawahnya, tapi Luna tidak begitu,’ batin Ariana.

Luna dan Ariana berbincang dengan akrab. Luna kebanyakan bertanya tentang pengalaman syuting Ariana dan film apa saja yang sudah Ariana  bintangi.

Di sela-sela perbincangan itu, tiba-tiba datang seseorang yang duduk pada satu kursi kosong di depan Luna. Ariana dan Luna sama-sama menoleh ke arah pria tampan itu. Mereka tidak tahu jika pria itu sejak kedatangannya terus memperhatikan Luna dan Ariana dari kejauhan.

“Hai semuanya, kursinya kosong, tidak masalah kalau aku bergabung, kan?” tanya pria itu.

Luna yang tampaknya mengenal pria itu tersenyum lebar dan menatapnya sepenuhnya. “Kak Alano! Tentu saja boleh! Semakin banyak orang, akan semakin menyenangkan!” ucap Luna dengan berseru senang. Ia bahkan menepuk tangannya beberapa kali karena terlalu senang.

Sementara itu, Ariana juga tahu mengapa Luna bisa sesenang itu. Itu semua karena Alano adalah aktor papan atas. Ia terkenal akan ketampanan dan kelihaiannya dalam mengatur ekspresi ketika syuting. Tak heran jika dia menjadi salah satu aktor yang dipuja-puja oleh kalangan wanita dari berbagai macanegara. Tentu saja Luna juga pasti mengenalnya. Apalagi, wanita itu sangat tidak sabar karena akan beradu akting dengannya.

“Terima kasih,” ucap Alano dengan senyumnya yang mematikan.

Namun, Ariana justru memutar bola matanya saat melihat senyuman itu. Mungkin orang lain akan terpana, tetapi tidak dengan Ariana. Senyuman itu justru membuatnya mual dan ingin muntah.

“Halo, Nona Ariana,” sapa Alano yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Ariana. “Ini pertama kalinya kita bertemu, kan? Salam kenal, aku Alano.”

Ariana menatap tangan Alano yang terulur. Ia menjabat tangan itu dengan singkat dan cepat. “Ariana.”

Alano menahan tawanya saat melihat tindakan Ariana yang dengan jelas tidak menyukainya. “Kudengar kamu baru pindah ke kota ini, ya? Bagaimana kehidupanmu saat di luar negeri? Pasti di sana banyak pria-pria keren, kan? Apa mereka lebih keren dariku?”

“Eis, mana mungkin! Bagiku, Alano itu yang paling keren.”

Bukan Ariana yang menjawabnya, melainkan Luna. Ariana hanya memperhatikan saja sembari meminum jusnya. Jika bisa, ia sebenarnya tidak mau berada di dekat laki-laki ini. Luna dan Alano sama-sama tertawa.

“Pastinya begitu. Oh, iya! Apa kamu sudah punya pacar? atau mungkinkah kamu lagi single?” goda Alano dengan menaikkan salah satu alisnya. 

Ariana yang mendengar hal itu hanya mendengkus kesal. ‘Awas saja kau, Alano! Beraninya kau menggodaku di tempat penting seperti ini. Pakai acara tidak kenal segala. Sungguh meresahkan.’

***

Sebuah salon yang berada di pusat kota itu selalu ramai didatangi oleh pengunjung. Antriannya selalu saja panjang dan butuh reservasi jika ingin cepat. Hasilnya selalu lebih dari memuaskan. Tak heran jika tempat itu menjadi langganan beberapa artis yang ingin menata rambut mereka. Tak hanya itu, di dalamnya juga terdapat butik dengan model pakaian yang sedang trendi belakangan ini.

Di ruangan pribadi yang ada di dalam butik itu terdapat seorang anak kecil yang sedang diam menonton televisi. Ruangan itu dibuat khusus untuk sang pemilik ketika beristirahat karena sepi dari kebisingan dan orang-orang asing.

Felix menoleh pada Alice, sang pemilik salon serta butik itu. “Mami Alice, apa boleh aku pinjam ponselmu?” tanya Felix dengan matanya yang berbinar.

Alice yang sedang membuat sketsa pakaian sembari menjaga Felix itu pun mengalihkan tatapannya. “Untuk apa, Sayang?” tanya Alice balik sembari memainkan pipi Felix dengan gemas.

“Mami Alice, berhenti,” ucap Felix sembari memegangi tangan Alice. Alice tertawa dan menarik tangannya. Lalu, Felix pun menjawab, ”Untuk telepon Paman yang waktu itu ajak aku main ke kantornya. Tahu, enggak? Paman Nichole itu lho! Katanya Paman Nichole, aku disuruh hubungin dia kalau sudah pulang, tapi aku lupa soalnya asyik main sama Mama.”

Alice mengernyit. “Kenapa kamu diminta telepon dia?”

“Aku dan Paman Nichole kan teman. Paman Nichole juga janji mau ajak aku buat makan-makan sama kucing. Boleh ya Mami Alice?” mata bulat Felix yang menatapnya dengan tatapan memelas itu tampak imut dan menggemaskan. 

Sebenarnya, Alice tidak sepenuhnya percaya pada orang yang disebutkan oleh Felix. Ia bertanya-tanya apa alasan pria bernama Nichole itu mau mengajak anak kecil untuk makan-makan. Namun, tatapan memelas Felix membuat Alice memberikan ponselnya.

“Memangnya kamu punya nomor teleponnya?” tanya Alice.

“Punya!” Felix mengambil ponsel Alice dan berteriak kegirangan sambil melompat-lompat selayaknya anak kecil. “Yeay! Terima kasih banyak, Mami Alice!” Felix berhenti dan mendekati Alice, lalu memberikan ciuman pada wanita itu.

Alice menghela napas dan tersenyum pasrah. Ciuman Felix membuat Alice meleleh. “Iya, sama-sama. Kalau Paman Nichole berbuat jahat sama kamu, bilang ke Mami, ya?”

Felix mengangguk cepat dan mulai menghubungi Nichole dengan nomor yang ada di buku catatannya. Nichole menuliskan nomor itu di bawah nomor Paman Tampan dan nomor mamanya.

***

“Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan hasilnya, Nichole?” tanya Saka.

Nichole memberikan sebuah dokumen yang sudah ia susun sedemikian rupa hingga mengorbankan waktu tidur dan makannya. “Sudah, Presdir. Sesuai permintaan Anda, saya menyusun semua latar belakang Nona Ariana dan Felix dalam dokumen itu. 

Saka pun segera mengamati isi dokumen itu, meninggalkan Nichole yang memulai kembali pekerjaannya yang tertunda. Satu per-satu kalimat dan gambar ia baca dengan teliti. Ia merasa tidak boleh ada yang terlewat satu pun. Bisa jadi itu adalah fakta penting.

Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal dalam benak Saka ketika membaca dokumen tersebut.

"Tunggu dulu, ini kenapa—"

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED