Bab 1

Restoran bergaya rustic dengan tema kayu dan besi berwarna hitam itu tampak ramai. Penyebabnya adalah waktu yang sudah memasuki jam makan siang. Restoran itu terkenal dengan makanan daging panggangnya yang sedap dan beraroma wangi. Tak heran jika orang-orang ingin makan di sana untuk makan siang.

Namun, pria yang tampak berwibawa dengan setelan jasnya itu justru berjalan menuju pintu keluar. Ia baru saja menyelesaikan rapatnya di lantai dua restoran tersebut.

Pria bernama Saka Wilson itu berjalan cepat dengan melengos melewati kerumunan para pengunjung. Sayangnya, karena terlalu sibuk memperhatikan jalan di depannya, ia jadi tidak menyadari adanya sosok kecil di bawah kakinya.

Bruk!

“Astaga!” pekik Saka. 

Langkah Saka terhenti ketika menyadari suatu benda menghalangi jalannya. Ia menunduk untuk memeriksa hal itu. Pupilnya mengecil ketika menyadari sesuatu yang menghadangnya.

Seorang bocah laki-laki dengan gaya pakaian sailor yang imut itu jatuh terduduk di depan Saka. Wajah Saka mendadak pucat saat menyadari jika dirinya adalah penyebabnya. Apalagi ketika melihat anak kecil itu mulai memasang wajah seolah ingin menangis.

Dengan matanya yang besar dan berkaca-kaca, anak berusia 4 tahun itu mendongak untuk melihat siapa yang menabraknya. Matanya semakin berkaca-kaca saat melihat sosok tinggi menjulang di depannya. Apalagi, mata pria itu sangat tajam hingga membuatnya merasa seperti tikus di pojokan. 

Mulutnya mengeluarkan ringisan perih karena bokongnya yang mendarat di atas lantai yang keras. Namun, suara rintihan itu tidak berlangsung  lama. Ia dengan cepat berdiri dari posisinya. Ia membungkuk dengan badannya yang kecil—berusaha untuk meminta maaf.

“Maaf karena sudah menabrakmu, Paman,” ucap anak kecil itu dengan suara bergetar.

Saka menghela napas panjang. “Di mana orang tuamu?” 

Mendengar suara tegas dan berat itu, anak kecil itu sedikit terlonjak. “Emm … tidak tahu. Tadi Mama terpisah denganku.” Alis anak itu mengernyit tajam. “Mama, sih, tidak berpegangan tangan denganku, jadinya Mama menghilang. Sepertinya Mama tersesat …,” jelas anak kecil itu dengan kebingungan. Ada raut kekhawatiran di wajahnya.

Melihat hal itu, Saka menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan tawanya. Biasanya, ibulah yang kehilangan anaknya, tetapi anak di hadapannya itu justru menceritakan hal sebaliknya dengan wajah yang pura-pura dewasa.

“Oh begitu,” respons Saka. Ia sedikit berjongkok dan mensejajarkan matanya dengan mata anak itu. “Siapa namamu?” tanya Saka.

“Namaku Felix, Paman!” jawab anak itu dengan tegas. Ia sudah tidak seperti akan menangis sekarang. 

Di saat Saka akan membuka mulutnya, tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada satu orang yang ia kenal sedang menoleh ke sana kemari, seolah sedang mencari sesuatu. Saat matanya dan mata Saka bertemu, wajahnya langsung berubah cerah. Orang itu pun segera berjalan mendekati Saka.

“Ternyata Anda ada di sini. Maaf sudah membuat Anda menunggu lama, Presdir,” ucap pria yang menjadi bawahan Saka itu. 

Saka memang keluar duluan dan meninggalkan bawahannya yang masih mengurus beberapa klien. Rencananya, Saka akan beristirahat di dalam mobil sembari memakan toast yang ia pesan, tetapi langkahnya terhenti karena menabrak Felix.

Pandangan sekretaris Saka itu tanpa sadar teralihkan pada anak kecil yang berdiri di sebelah Saka. Anak itu tampak dekat dengan Saka, padahal setahunya, Saka tidak pernah dekat dengan orang asing, apalagi anak-anak.

“Anak siapa itu, Presdir?” tanya sekretaris Saka keheranan.

Saka mengendikan bahu. “Aku tidak tahu. Tadi aku tidak sengaja menabraknya saat keluar dari restoran,” jawabnya sambil melirik Felix yang menatap keramaian, sepertinya dia masih berusaha mencari ibunya.

Sekretaris Saka yang bernama Nichole itu mendadak berjongkok dan menatap Felix dari dekat. Felix yang terkejut melangkah mundur satu kali. Tangannya bergerak seolah ingin menggapai seseorang di sebelahnya, tetapi ia sadar jika orang di sebelahnya bukan ibunya, melainkan Saka. Felix pun mengurungkan niatnya.

“Halo, aku Nichole. Siapa namamu? Apa kamu tahu di mana orang tuamu sekarang?”

“Halo, Paman Nichole! Aku Felix. Mamaku hilang beberapa saat yang lalu. Dia sepertinya lupa tidak memegang tanganku tadi,” jawab Felix dengan wajah tenang. 

“Apa kamu ingat alamat rumah atau nomor telepon orang tuamu?” tanya Nichole sekali lagi. “Mungkin Paman bisa menghubungi ibumu dan memberitahukan kalau kamu ada di sini.”

Nichole sudah bersiap mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang tua Felix. Namun, Felix justru terlihat murung.

“Maaf, aku tidak tahu. Mama sudah menyuruhku untuk menghafalkan nomor telepon dan alamat rumah kami, tapi aku belum hafal,” ucap Felix dengan wajahnya yang sendu. “Seharusnya aku menuruti kata Mama. Kasihan Mama, pasti Mama sekarang sedang sedih karena tersesat.”

Nichole tertawa kaku mendengar penjelasan itu. “Lain kali jangan lupa hafalkan, ya!” Nichole menghibur Felix dengan membelai lembut kepalanya.

Nichole bangkit dari jongkoknya dan menatap Saka. Ia tahu jika mereka harus segera kembali ke kantor sebelum jam makan siang berakhir. Namun, ia tidak tega jika harus meninggalkan anak yang hilang itu sendirian.

“Presdir, bagaimana ini?”

“Apanya yang bagaimana? Tinggalkan saja dia, berikan pada satpam atau polisi,” jawab Saka jutek dengan bersedekap dada.

Nichole menganga mendengar jawaban dingin Saka. “Tega sekali Anda, Presdir! Mana mungkin kita meninggalkan anak ini di tempat seperti itu?!”

Saka mengernyit. Ia heran, karena memang seharusnya anak hilang diberikan kepada pihak keamanan. Belum sempat ia membalas perkataan Nichole, niatnya terhenti saat merasakan tarikan kecil di celana bahannya.

“Paman Tampan … apa Paman Tampan mau pergi?” Felix bertanya dengan mata besar dan berkaca-kacanya. “Nanti aku sama siapa di sini?”

Saka sedikit terkejut dengan panggilan Felix kepadanya. Ia menoleh pada Nichole yang berusaha keras menahan tawanya. Saka terdiam. Tiba-tiba, Nichole ikut berdiri di sebelah Felix dan memasang wajah yang sama dengan Felix—tatapan memohon. Pria itu pun menghela napas panjang.

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Nichole bangkit dengan cepat dan menatap Saka dengan mata berbinar. “Sungguh? Apa aku boleh membawanya ke kantor? Nanti kita bisa cari informasi di kantor!” Belum sempat Saka menjawab, Nichole kembali berjongkok di depan Felix. “Nak, kamu berjanji akan menurut dan tidak akan mengganggu saat di kantor nanti ‘kan?”

“Hei, aku belum menyetujuinya,” sanggah Saka. Namun, Nichole sepertinya tidak mendengarkan hal itu.

“Aku janji, Paman!” seru Felix bersemangat sambil mengangkat salah satu tangannya.

Nichole mengangguk-angguk setuju. Dengan perasaan senang ia pun mengangkat Felix dan menggendongnya dengan satu tangan. “Anak pintar! Ayo kita pergi!”

Felix dan Nichole berjalan di depan Saka. Saka hanya bisa menggeleng beberapa kali dan mengikuti dua orang yang tidak mendengarkan ucapannya itu. Beruntungnya, Nichole memang sangat dekat dengannya meski Nichole adalah bawahan. Jika dia bawahan biasa, mungkin Saka akan memecatnya karena sikapnya yang kelewatan itu.

***

Setelah kepergian dua orang pria bersama anak kecil itu, terlihat seorang wanita menoleh ke sana kemari. Beberapa orang menabrak badannya karena wanita itu tidak memperhatikan jalan dengan baik. Keringat mulai bercucuran di dahinya, terlihat jika ia sedang bingung dan terburu-buru.

Wanita bernama Ariana itu berhenti pada salah satu pengunjung toko bunga. “Apa kamu melihat anak ini? Dia memakai baju sailor berwarna coklat dan putih,” tanyanya sambil menunjukkan sebuah foto anak kecil berusia 4 tahun yang ada di ponselnya.

“Maaf, saya tidak melihatnya,” jawab nenek itu.

Ariana berterima kasih dan kembali mencari anak dalam ponselnya itu. Napasnya memburu karena kelelahan, tetapi sudah lima belas menit lebih mencari, ia tak kunjung menemukannya.

Langkahnya berhenti di salah satu restoran bergaya rustic. Ia menghampiri salah satu pengunjung yang ada di teras restoran. “Permisi, apa kamu lihat anak dalam foto ini? Tingginya sekitar segini, umurnya empat tahun, namanya Felix.”

Orang itu diam dan memperhatikan foto anak kecil itu. Ia terlihat sedang berpikir keras. “Sepertinya saya tadi lihat ada anak ini di sekitar sini. Kalau tidak salah, dia pergi dengan dua orang pria berjas hitam yang keluar dari restoran ini. Mereka terlihat seperti orang penting.”

“Apa?” Mendengar hal itu, Ariana panik. Ia tidak menyangka jika Felix pergi dengan orang asing. “Ya ampun, Felix! Mama kan sudah bilang untuk tidak ikut dengan orang asing,” gumam Ariana. Ia menatap orang itu, lalu berterima kasih dan meminta maaf karena sudah mengganggunya.

Setelah itu, Ariana pun mencoba untuk mencari Felix di sekitar sana. Beberapa orang mengatakan hal yang sama dengan pengunjung restoran itu—mengenai Felix yang pergi dengan dua orang berjas.

Tidak dapat dipungkiri, Ariana merasa resah karena tidak kunjung menemukan Felix. Ia takut dua pria yang membawa Felix berniat untuk melakukan hal buruk pada anak itu.

Karena merasa tidak menemukan titik terang, Ariana pun memutuskan untuk menelpon teman dekatnya untuk meminta bantuan.

***

Sebuah mobil berhenti di salah satu gedung termegah di kota itu. Presdir dari perusahaan yang berada di gedung itu turun bersama dengan sekretaris dan seorang anak kecil.

Beberapa orang yang menyadari atasan mereka membungkuk dan memberi salam. Hampir semua orang yang Saka lewati menampilkan raut terkejut di wajah mereka. Bagi mereka, adanya anak kecil di gedung adalah hal yang tidak pernah terjadi. Saka dan Nichole tidak peduli dan terus berjalan bersama Felix menuju ruang kerja Saka.

Dalam ruang kerja itu, Felix duduk di sofa. Ada beberapa hidangan manis khas anak-anak yang Nichole siapkan untuk menghibur Felix. Makanan dan minuman itu, selain terlihat manis, tetapi juga berwarna-warni, sangat kontras dengan suasana ruang kerja yang kaku. Ini juga pertama kalinya bagi Nichole untuk menyiapkan makanan sejenis itu.

“Apa aku boleh tahu siapa nama mamamu?” tanya Nichole pada Felix yang tengah asyik memakan roti pelangi. “Bisa kamu jelaskan juga usia dan ciri-cirinya?”

Felix menghabiskan gigitan terakhirnya, lalu menjawab, “Nama mamaku Ariana. Kalau tidak salah, usianya 28 tahun, soalnya minggu lalu Mami Alice kasih kue ke Mama, ada lilin angka dua sama delapan gitu! Kalau bulan lalu, aku dapat kue lilinnya angka empat!”

Felix bercerita panjang lebar dengan polosnya. Nichole hanya memasang senyum dan mengangguk-angguk sebagai respons.

“Terus, Mama orangnya cantik banget, matanya cokelat mirip dengan mataku. Rambut Mama itu panjang dan bergelombang. Eh, tapi kadang rambut mama juga bisa berubah jadi lurus, aku melihat mama memakai sebuah alat untuk membentuk rambutnya,” jelas Felix menggambarkan mamanya.

Nichole dan Saka terdiam. Ciri-ciri yang disebutkan oleh Felix terlalu umum. Akan susah jika mencari orang dengan ciri-ciri itu. Saka yang sedari tadi melihat sambil bersandar di meja kerjanya itu memutuskan untuk maju.

“Apa kamu benar-benar tidak ingat di mana rumahmu?” tanya Saka mulai resah. 

Felix menggeleng. “Aku dan mama baru pindah dua hari yang lalu, jadi aku tidak hafal tempatnya. Sebelumnya, kami tinggal di negara lain.”

Mendengar hal itu, Saka dan Nichole sama-sama menghela napas panjang. Lagi-lagi, mereka belum menemukan jawaban yang tepat. Tiba-tiba, pandangan Nichole teralihkan pada tas berbentuk dinosaurus yang bawa oleh Felix. Ia tiba-tiba mendapatkan ide.

“Felix, apa aku boleh tahu isi tasmu?” tanya Nichole. 

Felix mengangguk. Ia melepaskan tas dinosaurusnya sambil berkata, “Aku dapat ini dari temanku waktu aku berpisah dengan mereka. Bagus kan dinonya?!”

“Iya, bagus!”

Felix mulai mengeluarkan apa yang ada di dalam tasnya. Ada permen cokelat, beberapa miniatur mobil-mobilan, botol air minum, pensil warna, dan yang terakhir adalah buku catatan yang berisi coretan maupun gambaran Felix.

Nichole pun berinisiatif untuk membuka catatan milik Felix. Banyak coretan-coretan khas anak kecil. Namun, akhirnya Nichole menemukan sesuatu yang jatuh dari catatan itu.  

Benda itu mirip seperti gelang dengan liontin berbentuk bintang krystal bening. Di dalam bintang krystal itu, ada titik berwarna merah terang. 

Saka yang melihat benda itu tertegun. Ia merasa tidak asing dengan benda itu. Seketika, matanya melebar setelah berhasil mengingatnya. Kenangan tentang seorang wanita berambut cokelat panjang menghampiri dirinya.

‘Bukankah itu krystal yang aku berikan lima tahun yang lalu pada wanita itu?’

Bersambung ....

Bab 2

Saka tidak salah mengenal krystal itu. Ia ingat jika krystal itu ia pesan dengan bentuk yang ia inginkan, jadi tidak mungkin ada dua benda seperti itu di dunia ini.

“Dari mana kamu mendapatkan benda itu?” tanya Saka tanpa sadar.

Felix dan Nichole serempak menoleh pada Saka. Felix menjawab, “Ini punya Mama. Kata Mama, Papa lah yang memberikan benda ini pada Mama dulu sebagai kenang-kenangan.”

Saka terdiam sejenak. Perasaannya mendadak kacau. “Apa … kamu tahu di mana papamu sekarang berada?”

Felix menggeleng. “Kata Mama, Papa sudah meninggal dunia sebelum aku lahir. Jadi, aku belum pernah bertemu dengan Papa sama sekali. Mama menyimpan ini, tapi karena ini satu-satunya benda dari Papa, jadi aku mengambil dan menyimpannya.”

“Tadi kamu bilang berapa usiamu?” tanya Saka mencoba memastikan kembali.

Felix mengangkat empat jarinya. “Empat tahun!”

Mata Saka melebar. Jika ia tidak salah hitung, memang sudah sekitar lima tahun ia memberikan gelang krystal tersebut pada wanita itu. Seandainya upaya mereka berhasil kala itu, maka usia anak dalam kandungan wanita itu seharusnya juga sudah sekitar empat tahun. Artinya, kemungkinan anaknya seusia dengan Felix sekarang.

Sayangnya, Saka tidak ingat bagaimana sosok wanita itu. Nama yang Felix sebutkan juga rasanya tidak sesuai dengan yang ada dalam ingatannya. Jadi, ia tidak bisa benar-benar memastikannya.

Di tengah-tengah perbincangan antara Felix dan Saka, Nichole berusaha mencari informasi lainnya. Ia pun tidak sengaja menemukan sebuah tulisan berupa deretan angka yang tampak seperti susunan nomor telepon.

“Apa ini nomor telepon mamamu, Felix?” tanyanya.

Felix menoleh dan membaca angka itu. “Oh, iya! Ini nomor Mama! Aku ingat angka belakang dan depannya!”

Nichole tersenyum senang. Akhirnya ada informasi yang bisa membuat Felix kembali ke rumahnya. Dengan cepat, ia pun segera menghubungi nomor yang ada di sana. Ia tahu pasti bahwa ibu dari Felix sangat khawatir akan anaknya yang hilang.

Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya seseorang datang mengetuk pintu ruang kerja Saka. Nichole pun dengan sigap membuka pintu tersebut dan berbincang sejenak untuk menanyakan apakah benar dia adalah Ariana, ibu dari Felix.

“Iya, aku mamanya! Apa Felix benar-benar ada di dalam sana?” 

“Iya, silakan masuk,” ucap Nichole dan memberikan jalan untuk Arian masuk menemui anaknya.

“Felix!” panggil Ariana ketika masuk dan mendapati Felix tengah memakan kue.

Felix yang mendengar suara mamanya itu pun sontak menoleh. Senyum lebar di wajah Felix membuat anak itu terlihat semakin menggemaskan. Felix pun turun dari sofa dan meninggalkan camilannya yang tinggal sedikit untuk berlari dan memeluk ibunya.

“Mama!”

Diam-diam, Saka memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu. Dari tempatnya berdiri, ia mengamati sosok Ariana dari atas hingga ke bawah. Perhatiannya tertuju pada sepasang mata Ariana.

Meski saat itu Saka melakukan hubungan dalam cahaya yang sangat redup dan tidak tahu bagaimana wajahnya dengan pasti, namun ia masih ingat betul warna dan bentuk mata wanita itu. Iris mata Ariana yang berwarna cokelat muda yang sewarna dengan hazel itu sangat mirip dengan wanita itu.

Sejujurnya, Saka sangat tidak bisa melupakan mata wanita itu meski sudah berlalu selama lima tahun lamanya.

Mencoba mengabaikan pikirannya, Saka berjalan menuju Ariana dan Felix. Nichole pun juga mendekati mereka. Menyadari hal itu, Ariana segera melepaskan pelukannya pada Felix dan menatap mereka berdua.

Ariana bangkit dengan cepat. Ia berulang kali membungkukkan badannya pada Saka dan juga Nichole. “Terima kasih, terima kasih banyak sudah menyelamatkan anak saya! Saya tidak tahu harus membalas kalian dengan apa. Pokoknya, saya sangat berterima kasih.”

Mata Ariana berkaca-kaca. Dua pria di hadapannya mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya Ariana rasakan. Wanita itu sangat bersyukur bisa menemukan Felix dalam keadaan baik-baik saja. Tadi, ia sudah berpikir macam-macam dan menyangka jika dua pria berjas yang membawa anaknya adalah orang jahat yang meminta imbalan besar sebagai tebusan.

Ariana menoleh pada Felix yang memegangi kakinya. “Felix, cepat ucapkan terima kasih juga! Kamu sudah merepotkan mereka!”

Felix terlihat gugup, tetapi ia pun ikut membungkuk. “Terima kasih, Paman Nichole dan Paman Tampan.”

Ariana menganga kecil saat mendengar panggilan Felix pada salah satu pria di hadapannya itu. Namun, ia mengabaikannya saat mendengar dehaman kecil dari Saka. Pria yang berdeham itu terlihat kaku dan dingin meski wajahnya tampan.

‘Apa pria ini yang disebut Paman Tampan?’ batin Ariana.

Dalam benak Saka, ia masih sibuk memikirkan sosok Ariana di depannya. ‘Apa benar wanita ini adalah wanita itu?’

“Tidak apa-apa. Kami senang bisa membantu Felix. Dia bukan anak yang merepotkan, justru dia anak yang tenang dan pintar. Kami jadi tidak merasa risih,” ucap Nichole dengan hangat. Ia tersenyum menatap Felix. “Felix juga lucu, saya jadi merasa senang melihatnya ada di sini.”

Nichole kemudian berjongkok dan mensejajarkan pandangannya pada Felix. “Bukankah kita berdua juga sudah menjadi teman? Jadi, tidak perlu malu dan merasa sungkan.”

Saka memperhatikan Nichole yang berinteraksi dengan Felix. Nichole memang ramah dan bisa berbicara dengan semua orang. Andaikan Nichole tidak bekerja sebagai tangan kanannya pun, orang-orang pasti akan mengenal Nichole karena sikapnya yang friendly itu. 

Sangat berkebalikan dengan Saka yang dingin dan disegani oleh siapa saja. Orang-orang akan berpikir dua kali jika ingin berbincang dengan pria itu.

Ariana tidak datang sendirian. Ia ditemani oleh Alice. Wanita itu kini bergantian memeluk Felix dan berkata, “Syukurlah kamu baik-baik saja, Felix! Apa kamu tidak tahu kalau mamamu panik waktu kamu hilang tadi? Lain kali, pegangan yang erat dengan mamamu, ya! Jangan tiba-tiba menghilang begitu saja.”

Felix mengangguk paham. “Iya, Mami Alice.” Lalu, ia beralih pada Ariana yang menatapnya. “Maafkan aku, Mama.”

Ariana menghela napas panjang dan berkata jika ia tidak mempermasalahkannya karena Felix sudah ditemukan. Ia menatap Saka dan Nichole. “Kalau begitu, kami izin pamit pulang. Ini ada sedikit hadiah dari saya. Maaf, mungkin tidak seberapa, tetapi mohon diterima.”

Ariana memberikan sebuah paperbag berkualitas berisi box kue cokelat dari toko terkenal pada Saka. Namun, pria itu tidak kunjung mengambilnya dan terus bersedekap. Nichole pun dengan cepat mengambil peperbag itu.

“Terima kasih banyak, padahal Anda tidak perlu repot-repot seperti ini.”

Ariana, Alice, dan Felix pun keluar setelah mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya. Kantor yang awalnya berwarna akibat kehadiran Felix itu pun kembali sunyi dan terkesan kaku. Kebanyakan orang saja memilih untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu kecuali Felix dan para tangan kanannya.

Meski Ariana telah kembali, pikiran Saka masih saja memikirkan tentang wanita bermata hazel itu. Tidak dapat dipungkiri, kemunculan Felix dan Ariana membuat Saka bertanya-tanya dan penasaran.

“Nichole,” panggil Saka ketika Nichole hendak duduk di kursi dan memulai pekerjaannya, “Cepat kamu selidiki latar belakang Felix dan ibunya itu. Kalau bisa, aku ingin kamu melakukan tes DNA antara aku dan Felix.”

“Apa?” Nichole terlihat sangat terkejut dengan ucapan Saka. Ia tentu saja keheranan karena sikap Saka yang mendadak sangat penasaran sampai ingin melakukan tes DNA pada Felix.

Akan tetapi, Nichole tidak bertanya macam-macam dan lebih lanjut. Menurutnya, ini bukan saat yang tepat. Jadi, dia hanya melakukan perintah yang Saka berikan kepadanya.

***

Apartemen baru milik Ariana memang masih terasa asing bagi Felix. Namun, keberadaan Ariana dan Alice membuat Felix merasa nyaman berada di sana. Apalagi, Ariana terlihat senang dengan apartemen barunya, Felix juga merasa bahagia karena memiliki kamar baru yang dihiasi dengan tema dinosaurus yang lebih keren dari kamar lamanya.

Malam ini, ketiga orang itu makan bersama di ruang tengah. Apartemen Ariana memang tidak terlalu besar dan mewah, tetapi cukup nyaman untuk dihuni.

“Felix, bagaimana perasaanmu hari ini? Apa kamu merasa senang dengan kota barunya?” tanya Alice memecah keheningan. Ia sebenarnya berusaha menahan tawa karena melihat betapa lucunya Felix yang masih berusaha makan sendiri.

“Iya! Kotanya bagus. Tadi juga ketemu sama Paman Nichole dan Paman Tampan.”

Alice hampir saja menyemburkan minumannya. Ia tertawa mendengar bagaimana Felix memberi julukan pada salah satu dari pria yang Felix temui. “Bagaimana menurutmu dua orang itu?”

“Paman Nichole baik! Badannya tinggi, waktu aku digendong, aku jadi tinggi juga! Terus, aku dikasih kue enak! Katanya itu dari Paman Tampan, jadi Paman Tampan juga baik. Tapi, Paman Tampan kelihatan agak galak.”

Alice dan Ariana tertawa kecil mendengar itu. Ariana pun ikut bertanya, “Bagaimana kamu bisa bertemu dengan dua orang itu?”

“Waktu Mama hilang, aku tidak sengaja menabrak Paman Tampan. Tapi Paman Tampan tidak marah sama aku. Terus, Paman Tampan juga yang bolehin aku pergi ke kantornya sama Paman Nichole. Aku jadi suka Paman Tampan. ”

Ariana terdiam. Ia tidak bisa membiarkan anaknya membuat masalah pada orang lain. 

“Felix, Mama tidak hilang. Mama kan sudah bilang buat kamu tunggu di meja sambil makan es krim, tapi kamu malah pergi. Lain kali kalau Mama bilang kamu harus diam di tempat, kamu tidak boleh ke mana-mana! Kalau kamu tiba-tiba hilang begitu, Mama kan jadi susah mencari kamu. Apalagi kita baru pindah ke sini dua hari yang lalu.”

Mendengar Ariana mengomel, Felix menghentikan makannya dan cemberut. Matanya pun berkaca-kaca seolah akan menangis. “Maaf, Mama. Lain kali Felix akan mendengarkan Mama.”

***

Di sebuah mansion mewah dan megah, tampak seorang pria yang baru saja pulang dari kantornya sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ia melepaskan dasinya dan menghela napas panjang. Sembari berusaha mengistirahatkan badannya, ia menatap pemandangan taman dan langit malam yang ada di depannya.

Meski sudah beberapa jam berlalu, tetapi pikiran Saka masih berputar pada kejadian tadi siang. Menurutnya, mencari latar belakang Ariana dan Felix rasanya tidak cukup dan ia pun tidak bisa menunggu hasilnya terlalu lama. Akhirnya, Saka pun memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Halo, Profesor Harry,” ucap Saka setelah menelpon sebuah nomor di ponselnya. “Ada yang ingin aku bicarakan dengan Anda. Ini mengenai wanita yang harusnya menjadi ibu dari anakku lima tahun yang lalu.”

"Kenapa tiba-tiba membahas hal ini, Saka? Bukankah waktu itu kamu bilang jika wanita itu tiba-tiba kabur dan kamu tidak bisa menemukannya?" ucap Harry. “Tunggu, jangan bilang kalau kamu ...."

Bersambung ....

Bab 3

“Apa kamu menemukan wanita itu?!”

Saka menghela napas panjang. “Aku belum yakin akan hal itu, Profesor. Saat ini, aku masih menyelidikinya. Tapi, ada kemungkinan jika wanita yang tadi aku temui adalah wanita itu. Lalu, dia juga membawa anak kecil yang berumur empat tahun,” jelas Saka panjang lebar, tetapi tetap dengan nada tenang.

“Anak kecil? Apa kamu menduga jika dia adalah anakmu, Saka?” tanya Harry sekali lagi.

“Hanya dugaan saja. Aku sudah bilang sedang menyelidikinya, kan? Awalnya, aku bertemu anak itu dan dia membawa krystal yang aku berikan pada wanita yang bermalam denganku waktu itu.”

“Krystal?”

Saka bergumam mengiyakan. “Itu krystal khusus yang hanya ada satu di dunia. Tidak mungkin orang lain memilikinya kecuali wanita itu. Tapi, Profesor, memangnya mungkin pembuahan bisa berhasil hanya dengan satu kali percobaan?” tanya Saka.

Itulah yang selama ini menjadi pikiran Saka. Mungkin saja jika wanita itu memang wanita yang tidur dengannya, tetapi apa mungkin anak itu adalah anaknya? 

“Sebenarnya banyak kasus pembuahan yang terjadi dalam sekali coba. Jadi, hal itu tidak lah mustahil, Saka,” jelas Harry. “Tapi, akan lebih baik jika kamu tetap melakukan tes DNA dengan anak itu agar tebakanmu terjawab.”

“Aku mengerti. Aku akan segera memberikan sampel anak itu agar kamu bisa melakukan tes DNA-nya. Mungkin, Nichole yang akan datang,” putus Saka.

“Tidak masalah. Aku tahu kamu sangat sibuk dengan jadwalmu. Akan aku tunggu kabar darimu selanjutnya,” ucap Harry.

Sambungan pun tertutup. Saka bangkit dan melepaskan semua pakaiannya, menunjukkan kegagahan tubuhnya pada kegelapan malam sebelum ia berganti menggunakan pakaian tidurnya.

Sayangnya, meski Saka sudah berada di atas kasur pun, pikirannya tetap dipenuhi oleh pandangan dan suara Ariana.

‘Apa kamu sungguh dia?’

***

Pagi menjelang siang, Ariana datang ke sebuah restoran tempat diadakannya pertemuan dengan beberapa rekan kerjanya. Mereka sudah memesan ruangan khusus rapat beserta dengan hidangannya. Ruangan itu tampak ramai dengan orang-orang yang berpartisipasi dalam proyek terbaru. 

“Ariana!” seorang pria paruh baya memanggil Ariana yang baru saja sampai. “Duduklah di sini, kami menyediakan tempat khusus untukmu!”

Ariana tersenyum dan segera berjalan menuju Sutradara. Memang ada satu kursi kosong di situ. Tanpa berpikir panjang, ia pun duduk di sana.

“Nah, karena Ariana sudah datang, akan aku perkenalkan dengan orang-orang. Semuanya, mungkin beberapa kalian sudah tahu, tapi biar kuperkenalkan aktris kita satu ini secara formal, ini Ariana Cellania yang akan berperan sebagai pembantu utama. Dia berhasil lolos seleksi dengan sangat baik dan memuaskan. Ariana baru saja pindah ke kota ini dari luar negeri. Dia mengikutiku karena sudah terikat kontrak.”

Ariana tersenyum pada orang-orang yang menatapnya. “Terima kasih. Salam kenal semuanya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.”

Sutradara tersenyum puas pada Ariana. “Baiklah, terima kasih sudah memperhatikan. Sekarang, kalian bebas mengobrol dan makan hidangan yang sudah disediakan. Aku membuat acara ini agar kalian bisa dekat dan kenal satu sama lain. Proyek ini adalah proyek besar, jadi aku ingin kalian semua akrab agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.”

Acara makan-makan itu pun berlangsung sangat meriah. Makanan di restoran yang Sutradara pesankan itu memang terkenal sangat lezat meski harganya memang lumayan. Jadi, mereka merasa tidak boleh menyisakan satu makanan pun.

Ariana sendiri hanya makan beberapa saja meski makanan di depannya sangat menggiurkan. Ia harus menjaga proporsi tubuhnya untuk aktivitas syuting.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita cantik dengan gaya glamor mendekati mereka. Ariana terperangah akan kecantikan wanita itu. Auranya berbeda jauh dengan aura aktris biasa.

“Halo, kamu Ariana, kan?” sapa wanita itu dengan ramah.

“Iya benar.” Ariana tersenyum canggung.

Wanita itu mengulurkan tangannya. “Aku Luna Audrey, salam kenal. Kalau kamu adalah pemeran utama pembantu, pasti kita akan sering berinteraksi karena aku adalah pemeran utama wanitanya.”

‘Ternyata dia pemeran utama wanitanya, pantas saja secantik ini. Pak Sutradara tidak salah memilihnya,’ batin Ariana.

Ariana membalas uluran tangan Luna. “Salam kenal juga, Luna. Senang bisa bertemu dan bekerja sama denganmu. Melihat kecantikan dan auramu, tidak salah kamu dipilih jadi pemeran utamanya,” puji Ariana dengan tulus. Meski merasa kalah, tetapi Ariana tetap mau mengakui jika Luna jauh di atas dirinya. Hal itu tidak membuat Ariana menyerah.

“Ya ampun, jangan memujiku seperti itu. Padahal kamu juga sama cantiknya,”  balas Luna dengan tertawa manis. Beberapa orang terpana dengan kecantikannya saat ia tertawa seperti itu.

“Anda bisa saja.” Ariana tersenyum malu-malu.

‘Tak hanya cantik, tapi dia juga ramah. Biasanya, aktris papan atas terlalu gengsi untuk menyapa artis di bawahnya, tapi Luna tidak begitu,’ batin Ariana.

Luna dan Ariana berbincang dengan akrab. Luna kebanyakan bertanya tentang pengalaman syuting Ariana dan film apa saja yang sudah Ariana  bintangi.

Di sela-sela perbincangan itu, tiba-tiba datang seseorang yang duduk pada satu kursi kosong di depan Luna. Ariana dan Luna sama-sama menoleh ke arah pria tampan itu. Mereka tidak tahu jika pria itu sejak kedatangannya terus memperhatikan Luna dan Ariana dari kejauhan.

“Hai semuanya, kursinya kosong, tidak masalah kalau aku bergabung, kan?” tanya pria itu.

Luna yang tampaknya mengenal pria itu tersenyum lebar dan menatapnya sepenuhnya. “Kak Alano! Tentu saja boleh! Semakin banyak orang, akan semakin menyenangkan!” ucap Luna dengan berseru senang. Ia bahkan menepuk tangannya beberapa kali karena terlalu senang.

Sementara itu, Ariana juga tahu mengapa Luna bisa sesenang itu. Itu semua karena Alano adalah aktor papan atas. Ia terkenal akan ketampanan dan kelihaiannya dalam mengatur ekspresi ketika syuting. Tak heran jika dia menjadi salah satu aktor yang dipuja-puja oleh kalangan wanita dari berbagai macanegara. Tentu saja Luna juga pasti mengenalnya. Apalagi, wanita itu sangat tidak sabar karena akan beradu akting dengannya.

“Terima kasih,” ucap Alano dengan senyumnya yang mematikan.

Namun, Ariana justru memutar bola matanya saat melihat senyuman itu. Mungkin orang lain akan terpana, tetapi tidak dengan Ariana. Senyuman itu justru membuatnya mual dan ingin muntah.

“Halo, Nona Ariana,” sapa Alano yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Ariana. “Ini pertama kalinya kita bertemu, kan? Salam kenal, aku Alano.”

Ariana menatap tangan Alano yang terulur. Ia menjabat tangan itu dengan singkat dan cepat. “Ariana.”

Alano menahan tawanya saat melihat tindakan Ariana yang dengan jelas tidak menyukainya. “Kudengar kamu baru pindah ke kota ini, ya? Bagaimana kehidupanmu saat di luar negeri? Pasti di sana banyak pria-pria keren, kan? Apa mereka lebih keren dariku?”

“Eis, mana mungkin! Bagiku, Alano itu yang paling keren.”

Bukan Ariana yang menjawabnya, melainkan Luna. Ariana hanya memperhatikan saja sembari meminum jusnya. Jika bisa, ia sebenarnya tidak mau berada di dekat laki-laki ini. Luna dan Alano sama-sama tertawa.

“Pastinya begitu. Oh, iya! Apa kamu sudah punya pacar? atau mungkinkah kamu lagi single?” goda Alano dengan menaikkan salah satu alisnya. 

Ariana yang mendengar hal itu hanya mendengkus kesal. ‘Awas saja kau, Alano! Beraninya kau menggodaku di tempat penting seperti ini. Pakai acara tidak kenal segala. Sungguh meresahkan.’

***

Sebuah salon yang berada di pusat kota itu selalu ramai didatangi oleh pengunjung. Antriannya selalu saja panjang dan butuh reservasi jika ingin cepat. Hasilnya selalu lebih dari memuaskan. Tak heran jika tempat itu menjadi langganan beberapa artis yang ingin menata rambut mereka. Tak hanya itu, di dalamnya juga terdapat butik dengan model pakaian yang sedang trendi belakangan ini.

Di ruangan pribadi yang ada di dalam butik itu terdapat seorang anak kecil yang sedang diam menonton televisi. Ruangan itu dibuat khusus untuk sang pemilik ketika beristirahat karena sepi dari kebisingan dan orang-orang asing.

Felix menoleh pada Alice, sang pemilik salon serta butik itu. “Mami Alice, apa boleh aku pinjam ponselmu?” tanya Felix dengan matanya yang berbinar.

Alice yang sedang membuat sketsa pakaian sembari menjaga Felix itu pun mengalihkan tatapannya. “Untuk apa, Sayang?” tanya Alice balik sembari memainkan pipi Felix dengan gemas.

“Mami Alice, berhenti,” ucap Felix sembari memegangi tangan Alice. Alice tertawa dan menarik tangannya. Lalu, Felix pun menjawab, ”Untuk telepon Paman yang waktu itu ajak aku main ke kantornya. Tahu, enggak? Paman Nichole itu lho! Katanya Paman Nichole, aku disuruh hubungin dia kalau sudah pulang, tapi aku lupa soalnya asyik main sama Mama.”

Alice mengernyit. “Kenapa kamu diminta telepon dia?”

“Aku dan Paman Nichole kan teman. Paman Nichole juga janji mau ajak aku buat makan-makan sama kucing. Boleh ya Mami Alice?” mata bulat Felix yang menatapnya dengan tatapan memelas itu tampak imut dan menggemaskan. 

Sebenarnya, Alice tidak sepenuhnya percaya pada orang yang disebutkan oleh Felix. Ia bertanya-tanya apa alasan pria bernama Nichole itu mau mengajak anak kecil untuk makan-makan. Namun, tatapan memelas Felix membuat Alice memberikan ponselnya.

“Memangnya kamu punya nomor teleponnya?” tanya Alice.

“Punya!” Felix mengambil ponsel Alice dan berteriak kegirangan sambil melompat-lompat selayaknya anak kecil. “Yeay! Terima kasih banyak, Mami Alice!” Felix berhenti dan mendekati Alice, lalu memberikan ciuman pada wanita itu.

Alice menghela napas dan tersenyum pasrah. Ciuman Felix membuat Alice meleleh. “Iya, sama-sama. Kalau Paman Nichole berbuat jahat sama kamu, bilang ke Mami, ya?”

Felix mengangguk cepat dan mulai menghubungi Nichole dengan nomor yang ada di buku catatannya. Nichole menuliskan nomor itu di bawah nomor Paman Tampan dan nomor mamanya.

***

“Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan hasilnya, Nichole?” tanya Saka.

Nichole memberikan sebuah dokumen yang sudah ia susun sedemikian rupa hingga mengorbankan waktu tidur dan makannya. “Sudah, Presdir. Sesuai permintaan Anda, saya menyusun semua latar belakang Nona Ariana dan Felix dalam dokumen itu. 

Saka pun segera mengamati isi dokumen itu, meninggalkan Nichole yang memulai kembali pekerjaannya yang tertunda. Satu per-satu kalimat dan gambar ia baca dengan teliti. Ia merasa tidak boleh ada yang terlewat satu pun. Bisa jadi itu adalah fakta penting.

Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal dalam benak Saka ketika membaca dokumen tersebut.

"Tunggu dulu, ini kenapa—"

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED