Bab 1

"Astaga, kepalaku pusing sekali," gerutu Amber sambil memijat keningnya.

Dengan rambut pirang yang berantakan dan mata berkaca-kaca, Amber berdiri di lorong hotel yang remang-remang. Gaunnya yang indah kusut dan berlumuran noda, mencerminkan keadaan hatinya yang hancur.

"Apa salahku, Tuhan! Kenapa hidupku jadi begini?"

Dia baru saja kehilangan seorang ayah, dan diusir oleh ibu tirinya yang licik, kata-kata kasar dan penghinaan wanita itu masih terngiang di telinganya. Amber tak tahu harus ke mana, hanya rasa sakit dan frustrasi yang menemaninya.

Tanpa tujuan, Amber berjalan sempoyongan, kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya yang lemah karena alkohol. Dia tersandung beberapa kali, hampir jatuh, tetapi berhasil bangkit kembali.

Akhirnya, dia sampai di depan sebuah pintu kamar hotel. Dia mengeluarkan kartu pass dari tasnya yang berantakan, berusaha keras untuk menempelkannya ke sensor.

"Klik!"

Pintu tak kunjung terbuka. Amber mencoba lagi, dan lagi, tapi sia-sia. Rasa frustrasi mulai menggerogoti dirinya.

"Kenapa tidak mau terbuka?!" teriaknya dengan suara parau, air mata mengalir deras di pipinya. "Kau juga ingin menyiksaku, huh?" tanya Amber kepada pintu di hadapannya.

Amber mulai merancau, menendang pintu dengan kakinya yang lemah. Dia menggedor-gedor gagang pintu dengan panik, tak peduli dengan suara gaduh yang ditimbulkannya.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Di balik pintu berdiri seorang pria, raut wajahnya terkejut melihat Amber yang mabuk dan berantakan.

"Ughhh, akhirnya terbuka," Amber terhuyung masuk tanpa memedulikan pria itu. "Aku pikir pintu ini juga akan bersikap jahat padaku."

Pria itu menatapnya dengan heran. "Hey, dengan penampilan seperti ini kah kau akan melayani tamumu?"

Amber tidak menggubris Julian, dia membanting tubuh di atas kasur yang empuk dan mulai memejam meskipun mulutnya masih merancau tak jelas.

"Yang benar saja, apa Megan sedang mempermainkanku? Bisa-bisanya dia mengirim gadis mabuk untukku." Julian Kingston mengira Amber adalah wanita bayaran yang dia pesan untuk memuaskannya malam ini. Julian merasa kesal, karena gadis di depannya sangat tidak profesional, berani sekali gadis itu datang dengan kondisi berantakan. "Hey, beginikah cara mucikarimu mendidik anak buahnya?"

Amber menggelengkan kepalanya. "Tidak," isaknya. "Jangan salahkan ayahku. Dia memang bodoh karena menikahi wanita ular itu, tapi semua ini bukan salah Dad. Aku yang salah, aku yang kekanakan. Andai saja aku tidak meninggalkan rumah...."

"Shit ... bagaimana mungkin dalam keadaan melantur dan kacau seperti ini dia tetap kelihatan cantik." Julian mengumpat dan berbicara sendiri. "Kurasa kau memang sebaiknya segera kutiduri." Julian mencari-cari pengaman di dompetnya, tapi dia tidak menemukan apa pun.

Biasanya dia tidak menggunakan pengaman ketika berhubungan dengan gadis-gadis milik Megan Brown, Julian sudah mendapat jaminan kalau semua pelacur binaan Megan telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan vaksin rutin. Namun, kali ini, melihat sosok Amber yang berantakan, Julian sedikit sanksi. Dia merogoh saku celana, mencari gawai untuk menghubungi Megan. Sialnya, Megan sedang tidak bisa mengangkat telepon. Julian pun ingat, ketika dia mengunjungi rumah bordir yang Megan kelolah, betapa temannya itu sangat hati-hati dan teliti dalam menjaga kesehatan anak -buahnya, serta kesehatan para tamunya.

"Oke, yakin saja, anak buah Megan tidak mungkin membawa penyakit macam-macam untukku." Julian sudah membayar mahal, dia tidak akan menyia-nyiakan santapan di hadapannya. Tentu saja, tidak, apalagi Amber cukup menggiurkan. Gadis berambut pirang itu mungkin berusia sekitar 20-an. Meski tanpa riasan, Amber memancarkan kecantikan yang memukau. Rambut pirangnya yang panjang terurai indah, bagaikan ombak yang berkilauan di bawah sinar matahari. Matanya yang saat ini terpejam itu berwarna biru langit, jernih dan penuh kepedihan, bagaikan dua batu safir yang berkilauan. Bibirnya yang tipis dan merah muda, Julian membayangkan bagaimana rasanya melumat bibir itu dengan bibirnya.

Perawakan Amber pun tak kalah ideal. Tubuhnya ramping dan tinggi semampai, dengan lekuk tubuh yang sempurna. Kulitnya halus dan mulus, berwarna putih cerah seperti porselen. Dia memiliki kaki yang jenjang dan ramping, serta pinggang yang menggiurkan. Amber adalah gadis yang menawan, dengan kecantikan yang alami, di luar fakta bahwa saat ini dia bau alkohol dan teler di hadapan Julian.

"Hey, bisakah kau bangun dan laksanakan tugasmu?" Julian menepuk ringan lengan Amber.

Amber mencoba membuka mata, dengan sisa-sisa kesadaran, dia bergumam, "Aku sudah tidak punya apa-apa, harta ayah disita dan dibekukan akibat hutang si perempuan ular itu...."

"Apa maksudmu, sadarlah, atau aku akan merendammu di bathtub." Dengan arogan Julian mengancam. Namun di sisi lain dia juga sadar, ancamannya sia-sia, sebab gadis mabuk tetaplah gadis mabuk. Dengan harga diri yang sedikit terluka, Julian melepaskan pakaiannya. Lalu lanjut menurunkan paksa gaun Amber. Meskipun sempat sedikit kesulitan, tapi bukan hal sulit bagi Julian untuk merobek-robek gaun tipis gadis di depannya. "Hmmm, tubuh yang sempurna."

"Dingin...," keluh Amber sembari memeluk tubuh telanjangnya.

Julian tak menggubris celetukan Amber. Dia bergerak kembali ke arah si gadis, mengaitkan tangannya di bawah lutut Amber dan kembali duduk di antara kedua kaki si rambut pirang. "Persetan dengan pemanasan. Lagian siapa yang akan melakukan pemanasan pada gadis mabuk?"

Sebelum menggerakkan pinggulnya ke atas kaki Amber yang telah dia buka, Julian mengocok juniornya dengan tangan kanan. Ekor depan itu dengan cepat mengeras dan membengkak maksimal. Dia mulai dengan menekan tepat di liang yang paling Julian butuhkan saat ini. Tubuh Julian turun, agar kepalanya sejajar dengan kepala Amber. Sebuah ciuman didaratkan, awalnya lembut, tapi makin lama makin brutal.

"Mmmmffftt, apa yang kau lakukan!" Amber mencakarnya, walaupun kepalanya berat dan matanya berkunang-kunang, Amber bisa merasakan bahwa bahaya akan segera dia alami.

Satu tangan Julian menangkup satu rembulan kembar Amber, meremasnya, mempermainkan putingnya. Erangan lolos dari bibir Amber. Mata perak Julian terangkat dan terkunci dengan mata Amber saat lidahnya keluar dan dia menusukkan juniornya dengan kuat, agar bisa menyusup ke dalam celah surgawi Amber. Gadis itu berteriak sambil menarik segenggam seprai.

"Ya Tuhan, ternyata kau manis sekali," Julian terengah-engah sambil menundukkan kepalanya untuk menaruh lidahnya pada mulut Amber lagi.

"Tolong hentikan...." Amber merintih.

Kehangatan napas Julian di wajah Amber memandikan denyut yang diciptakannya pada sang gadis. "Kau bercanda. Malam ini akan jadi malam yang panjang, Sayang. Kurasa kau tak seburuk penilaianku saat pertama kali melihatmu tadi."

Amber menggelengkan kepala dan memejamkan matanya erat-erat. Cengekeraman daging lembut milik Amber membuat dunia Julian seperti akan meledak dalam warna-warni dan napasnya memburu sementara kenikmatan menjalari dirinya.

"Menyingkirlah, akh." Suaranya tegang dan urat di lehernya menonjol saat Amber menekankan kata itu lebih dalam.

Julian mulai kewalahan karena Amber meronta di bawahnya. "Jangan bergerak. Kumohon Sayang, jangan bergerak," pinta Julian sambil menahan pinggul Amber.

Kemudian Julian mendorong lebih jauh ke dalam, Amber menggigit bibir, merasakan sesak dan sengatan rasa sakit di kewanitaannya. Julian mundur lalu pinggulnya digerakkan ke depan dengan satu dorongan keras. Rasa sakit yang panas mengiris tubuh Amber dan gadis itu berteriak lebih lantang, meremas lengan Julian erat-erat pada saat gelombang rasa sakit mengguncang tubuhnya.

Amber bisa mendengar napas Julian yang cepat dan keras. Julian menutup matanya dan menundukkan kepalanya ke belakang. Dia mengerang saat mulai bergerak lebih cepat. Pria itu bisa merasakan gairahnya naik lebih tinggi lagi. Julian mengangkat pinggul Amber untuk memenuhi dorongannya dan itu sepertinya membuat si gadis panik. "Brengsek, kau luar biasa. Sangat ketat. Pirang, kau sangat ketat," puji Julian ketika cairan panasnya memenuhi milik Amber.

Beberapa detik setelah denyut terakhir, Julian akhirnya menggulingkan tubuhnya ke amping tubuh Amber. Dia tidak kelelahan, Julian hanya dimabuk kenikmatan. Belum pernah Julian merasakan seks senikmat dan semanis ini dengan pelacur lain yang dia tiduri. Dia bahkan sudah memikirkan akan membuat Amber mengerang sepanjang malam ini, tapi melihat gadis di sampingnya meringkuk sambil berlinang air mata, Julian menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang Amber.

"Mungkin mabuk membuatmu lebih emosional. Baiklah, kau boleh istirahat dulu, nanti kita lanjutkan setelah kau merasa lebih baik...."

Bab 2

Terbangun oleh kilau keemasan matahari Los Angeles yang menyusup melalui jendela kaca kamar hotel, Julian mengerjap sejenak. Ada tumpukan rasa sesal karena dia ikut tertidur semalam, dan baru bangun pagi ini. Padahal ada tubuh menggiurkan di sampingnya yang menanti untuk ditunggangi.

Tunggu. Ke mana perginya tubuh itu?

Julian terkejut ketika meraba ke samping dan tidak menemukan siapa pun. Matanya langsung terbeliak, mencari keberadaan Amber. "Ke mana perginya gadis itu?"

Masih dengan tubuhnya telanjang, Julian menyisir kamar presiden suit yang di sewanya. Memeriksa kembali setiap sudut dengan seksama, termasuk kamar mandi, balkon, dan lemari. Julian petunjuk apa pun yang mungkin ditinggalkan Amber, seperti catatan, jejak kaki, atau tanda lain. Yang Julian dapat hanya gaun robek Amber yang tergeletak di lantai, dan seuntai kalung batu ruby yang cantik.

"Gadis itu benar–benar aneh." Julian geleng-geleng dan memijat pangkal alisnya untuk meredakan pening yang tiba-tiba menyerang. Dia merasa harus segera berpakaian, dan ketika akan memunguti pakaiannya, Julian sadar, ada yang hilang. Kemeja dan celananya tak ada. "Tidak mungkin. Apakah gadis itu yang mencurinya? Tapi dia meninggalkan benda ini... sepertinya berharga."

Jika diingat-ingat, gadis itu hanya memakai gaun, jelas saja ketika gaunya robek, tak bisa dipakai, dia harus memungut sesuatu untuk dikenakan. Julian kesal, dia meninju kasur dan menghempaskan selimut ke lantai. Rahangnya hampir jatuh ke bumi ketika mendapati noda darah di area tempat dia menggagahi Amber semalam. "Da-darah? Tidak mungkin, tidak mungkin dia masih perawan, bukan?"

Buru-buru Julian mencari ponselnya, dia ingin menghubungi Megan untuk meminta penjelasan. Namun belum sempat niat itu terlaksana, dia melihat ada satu pesan dari Megan menyembul di layarnya.

Megan Brown: Tuan Kingston, mohon maaf, Kattie tidak bisa kukirim ke sana malam ini. Dia minta izin menemani kakaknya yang sedang melahirkan tanpa suami. Atas dasar kemanusiaan, aku tidak bisa mendesaknya untuk tetap bekerja. Uangmu telah aku kembalikan beserta kompensasi dari kami karena membatalkan pesanan secara tiba-tiba. Semoga hubungan baik kita tetap terjaga.

Pria dengan brewok tipis di sekitar dagunya itu langsung terduduk lemas di ranjang. "Jadi ... siapa gadis semalam?"

***

Di sisi lain Amber dengan mengenakan kemeja dan celana kedodoran milik Julian, sedang menangis sambil menatap cermin di hadapannya. Tadi pagi, setelah mendapatkan kesadarannya, Amber baru ingat kalau dia salah masih kamar hotel semalam. Dia mencoba mencari kartu pass kamar hotelnya sendiri, yang ternyata terjatuh di sekitar pintu kamar Julian. Buru-buru Amber pergi dari sana, dan bersembunyi di kamar hotelnya yang berjarak dua kamar saja dari kamar Julian.

Tubuhnya sakit semua, tapi hatinya lebih remuk lagi. Amber menyesali kebodohannya yang memilih menghilangkan stres dengan cara minim minuman keras. Andai saja dia tidak mabuk, dia tidak akan kehilangan kegadisan secara mengenaskan. Amber bahkan tidak bisa menuntut pria yang semalam membuka paksa kedua kakinya, karena bagaimana pun, semua ini salahnya.

Masih jelas di ingatan Amber, kemarin siang, langit Los Angeles begitu cerah di musim semi yang seakan tak sejalan dengan duka yang menyelimuti pemakaman elit mendiang ayahnya. Di bawah naungan pepohonan palem yang menjulang tinggi, kerabat dan kolega Adam Hayes berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir. Amber Hayes juga berdiri di tengah kerumunan, matanya berkaca-kaca dan pipinya basah oleh air mata. Dia masih tak percaya bahwa ayahnya telah pergi secepat ini, bahkan sebelum mereka sempat berdamai.

Satu tahun yang lalu, Amber menentang pernikahan Adam dengan Anette Celeste, ibu tirinya yang ambisius. Amber memilih meninggalkan rumah dan hidup sendiri di asrama kampus. Keputusannya itu memicu pertengkaran besar dengan Adam, dan mereka tak pernah berbicara lagi sejak saat itu.

Penyesalan mencengkeram hati Amber. Dia membayangkan bagaimana jika dia tetap di sisi ayahnya, mungkin dia bisa menemani Adam di saat-saat terakhirnya. Pikiran itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya, membuatnya sesak napas dan sulit untuk berdiri tegak. Di sekelilingnya, orang-orang memberikan kata-kata penghiburan dan pelukan hangat. Namun, Amber tak bisa merasakannya. Dia merasa hampa dan terisolasi, terjebak dalam lautan kesedihan dan penyesalannya sendiri.

Upacara pemakaman berlangsung dengan khidmat. Pendeta menyampaikan pidato yang menyentuh tentang kehidupan Adam, mengenang kebaikan dan prestasinya. Kata-kata itu bagaikan melodi yang indah, tetapi tak mampu meredakan duka di hati Amber. Ketika tiba saatnya untuk memberikan penghormatan terakhir, Amber melangkah maju dengan kaki gemetar. Dia menatap peti mati ayahnya, teringat semua kenangan indah bersama Adam. Air matanya mengalir deras, membasahi gaun hitamnya yang anggun.

"Dad," Amber berbisik, suaranya tercekat oleh isak tangis. "Maafkan Amber, Dad. Amber tidak bermaksud menentang Daddy. Kenapa Dad meninggalkan Amber secepat ini?" Kata-katanya menggema di udara, diiringi oleh tangisan keluarga dan kerabat yang tersentuh. Amber mencium peti mati ayahnya dengan penuh kasih sayang, seakan ingin menyampaikan perpisahan yang tak terucapkan.

Pemakaman Adam Hayes telah usai, tapi duka Amber masih membara. Dia harus belajar untuk hidup dengan penyesalannya dan berusaha untuk memaafkan dirinya sendiri. Namun ternyata pukulan lain datang. Kematian Adam membuat seluruh kreditur jadi agresif menagih hutang ibu tiri Amber. Semua harta Adam disita dan sebagian dibekukan, sampai persidangan Anette membuktikan bahwa Adam tak ada sangkut paut dengan kasus penggelapan dana yang dilakukan istrinya.

Dunia cerah Amber seketika gelap, dia kehilangan tumpuan dan tunjangan finansial. Amber bingung harus apa? Harus ke mana? Kemarin, yang dia pikirkan hanyalah tinggal di hotel selama di Los Angeles, sebelum kembali ke New York. Namun dalam semalam, takdir lagi-lagi mengirimkan pemainan mencengangkan pada Amber.

"Aku harus bagaimana sekarang?" isak Amber tak berdaya. "Dad, tolonglah putrimu, aku hancur. Rasanya sakit sekali, Dad."

Usai berjam-jam menangis, meratapi kehidupannya yang runtuh seketika saat sang ayah, satu-satunya pilar dalam hidupnya, meninggal dunia. Di tengah rasa duka yang mendalam, Amber harus bangkit dan menata ulang hidupnya yang hancur. Dengan tekad yang kuat, Amber memutuskan untuk kembali ke New York untuk melanjutkan kuliahnya.

Di kota yang penuh dengan hiruk pikuk dan peluang, Amber memulai babak baru dalam hidupnya. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan keras, serta menyeimbangkan antara studi dan mencari pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perjalanan Amber tidak mudah. Ia sering dihadapkan dengan berbagai rintangan dan cobaan. Namun, Amber tidak pernah menyerah. Ia selalu ingat pesan ayahnya untuk selalu tegar dan pantang menyerah.

Tiga minggu berlalu, Amber perlahan-lahan mulai bangkit dari keterpurukannya. Dia berhasil mendapatkan pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan minatnya. Belajar dan bekerja di New York membuka mata Amber tentang banyak hal. Dia belajar tentang arti kemandirian, kerja keras, dan arti uang bagi kehidupan. Namun beberapa hari terakhir ini dia merasa kurang enak badan. Dia mengalami pusing dan mual parah setiap pagi. Awalnya Amber pikir dirinya mengalami asam lambung, tapi ketika sadar tamu bulanannya telat datang. Amber mulai terpikirkan kemungkinan terburuk. Dan ternyata benar, testpack yang dicelupkan ke urinnya menampilkan dua garis merah. Tangan Amber gemetar, matanya berkaca-kaca melihat itu.

"A-aku, hamil?"

Bab 3

"Mark, apakah sudah ada perkembangan mengenai gadis itu dari para pengawal yang kau kirim untuk melakukan penyisiran di wilayah sekitar hotel?" tanya Julian tanpa menoleh dari jendela.

"Kami tidak dapat menemukannya, Tuan." Mark menghela napas, "kami sudah meminta orang menyisir ke seluruh hotel sejak waktu itu, tapi belum ada titik terang. Tapi saya sudah membawakan data CCTV seluruh hotel ini untuk diperiksa."

Julian memicing tajam, "Sudah tiga minggu, kau pikir masih berguna?"

"Jadi, Anda tidak ingin saya memeriksanya?"

"Periksa, Mark," kesal Julian dingin.

Mark mengangguk singkat menanggapi perintah bosnya itu. Dia merasa agak aneh. Tidak biasanya Julian mencari gadis malam yang dia tiduri sampai sebegitunya. Terlebih lagi, Julian sama sekali tidak menemui wanita penghibur lain sejak malam yang dia habiskan bersama wanita mabuk misterius yang membawa kabur kemeja dan celananya itu. Ini jelas bukan sikap Julian. Namun, Mark sadar kalau dia juga tidak mungkin mempertanyakan bosnya.

Julian berdiri tegak di depan jendela besar yang menghadap ke pantai Los Angeles, air laut memantulkan cahaya matahari pagi dengan gemerlapan. Beberapa minggu sudah berlalu, kemarin Julian terlalu sibuk untuk sekadar mencari tahu tentang wanita misterius yang menggantikan Kattie. Namun, sekarang rasa bersalah terus saja menggerogotinya tanpa ampun. Asisten pribadinya, Mark, duduk di seberang meja dengan laptop terbuka, sibuk meneliti data dari berbagai kamera CCTV di hotel tempat mereka menginap.

"Bagaimana, sudah ketemu?"

Tolonglah, Tuan! Ini baru lima belas menit sejak perintah itu diberikan!

Mark menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat layar laptop. "Saya masih belum menerima kabar, Tuan. Namun, tampaknya wanita itu benar-benar mabuk saat itu. Dia terlihat bingung dan berjalan dengan tidak stabil menuju lantai yang salah."

Julian mengernyitkan dahi, melihat apa yang ditunjuk Mark. "Mabuk, ya? Jadi dia masuk ke kamarku secara tidak sengaja?"

Mark mengangguk. "Sepertinya begitu, Tuan. Tidak ada tanda-tanda dia berniat melakukan hal lain."

"Baiklah," ucap Julian, namun pandangannya tetap suram. "Dan mengenai darah di tempat tidur? Apa itu Artinya aku baru saja memerawani seorang gadis mabuk yang polos?"

Mark menatap Julian serba salah. "Sa- saya belum menemukan penjelasan pasti. Namun, untuk masalah itu....."

"Sudahlah." Julian merenung sejenak, mencoba merangkai potongan-potongan puzzle dalam pikirannya. Dia menggigit bibirnya, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Mark. "Aku ingin kau terus mencari informasi tentang gadis itu. Periksa setiap detail, bahkan jika kau harus memeriksa seluruh Los Angeles. Aku ingin tahu siapa dia."

Mark mengangguk tegas. "Baik, Tuan. Saya akan memulai pencarian segera."

Julian menghela napas panjang. Dia mengambil jas dan menariknya ke pundak. "Aku akan keluar sebentar. Laporkan jika kau menemukan sesuatu."

Keluar dari kamar hotel, Julian merasa angin sejuk pagi menyapu wajahnya. Langkahnya mantap meski pikirannya kacau. Dia berjalan melintasi pantai yang tenang, tetapi gelombang masalah dalam benaknya tak berhenti.

Gadis itu masih misteri bagi Julian. Jika dia benar-benar bukan seorang wanita bayaran, mengapa dia bisa salah masuk kamar? Memangnya mabuk membuat orang jadi idiot? Dan mengapa ada darah perawan di tempat tidurnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sambil dia terus berjalan.

Sesaat kemudian, ketidakpastian dan rasa bersalah yang menghantuinya membuat Julian berhenti. Dia menghela napas lagi, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memanggil Mark. Kalau dia benar-benar sekadar salah kamar, maka Julian adalah pria brengsek yang merenggut kesuciannya. Sial.

"Mark, tolong pastikan kau mendapatkan informasi tentang wanita itu. Aku ingin tahu siapa dia, dari mana dia, dan apa yang terjadi semalam. Beritahu aku setiap perkembangannya. Aku ingin jawaban."

Mark mengangguk di ujung telepon. "Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan. Saya akan menghubungi Anda segera jika ada kabar."

"Lakukan penyisiran ke seluruh Los Angeles jika diperlukan."

***

Amber duduk di ruang tunggu klinik dokter kandungan, jantungnya berdegup kencang. Hatinya tersekat rasa sesak, seolah di dalam sana sedang tercampur aduk antara kecemasan dan ketakutan. Sejenak dia menyesap aroma antiseptik ruangan, mencoba menenangkan diri. Ini adalah langkah pertama yang besar bagi dirinya.

Ketika pintu ruang pemeriksaan terbuka, seorang perawat memanggil namanya. Amber berdiri perlahan, langkahnya ragu namun penuh tekad. Dia mengikuti perawat ke ruangan kecil yang penuh dengan peralatan medis modern.

Dokter kandungan yang ramah menyambutnya dengan senyuman. "Selamat datang, Nona Hayes. Saya Dokter Reynolds. Bagaimana perasaanmu hari ini?"

Amber menggelengkan kepala sambil tersenyum gugup. "Saya agak gugup, Dok. Ini pertama kalinya saya melakukan ini."

Dokter Reynolds mengangguk penuh pengertian. "Tidak apa-apa, Nona. Kami akan membuat Anda merasa nyaman. Mari kita mulai dengan pemeriksaan ultrasonografi, ya?"

Amber mengangguk, dan dengan hati berdebar, dia berbaring di meja pemeriksaan. Dokter Reynolds menyiapkan alat ultrasonografi, dan sebentar kemudian, gambar embrio kecil mulai muncul di layar monitor.

"Ini adalah embrio bayi Anda," ujar dokter sambil menunjuk layar. "Usianya sekitar empat minggu, dan perkembangannya normal dan sehat."

Air mata Amber menitik bahagia. Dia menatap gambar kecil yang berdetak di layar itu dengan penuh keajaiban. "Itu... itu anak saya," gumamnya dengan suara tercekat.

Dokter Reynolds tersenyum lembut. "Iya, Nona. Kalua dilihat dari embrionya, sepertinya Anda sedang mengandung anak kembar, dan semuanya baik-baik saja."

"Ke-kembar?" Amber tidak paham lagi bagaimana Tuhan mengatur semua ini. Setelah masalah demi masalah datang bertubi, kini diturunkan anugerah kombo untuknya.

Dokter menjelaskan lebih detail, sampai Amber benar-benar memahami kondisinya dan kondisi janin di dalam perutnya. Setelah pemeriksaan selesai, Amber diberi berkas medisnya dan beberapa informasi terkait kehamilan. Dia meninggalkan ruang dokter dengan langkah yang ringan namun pikiran yang berat. Amber melangkah keluar dari klinik dengan perasaan bingung dan putus asa. Udara sekitarnya terasa berat, seolah menekan dadanya. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan tanpa jawaban.

Apa yang seharusnya dia lakukan?

Bagaimana dia bisa menghadapi semua ini sendirian?

Setelah mencoba mencari solusi dan tetap tidak menemukan jawaban, Amber memutuskan untuk tetap pergi bekerja di kafe tempatnya bekerja paruh waktu di pusat kota. Dia memerlukan uang untuk menghidupi dirinya sendiri, terlebih lagi sekarang dia harus memikirkan kehidupan baru di rahimnya.

Saat Amber tiba di kafe, suasana terasa tegang. Dia melihat senior barista-nya, Marry, keluar dari ruang manajer dengan wajah muram. Amber mendekati Megan dengan hati-hati.

"Marry, apa yang terjadi?" tanya Amber, mencoba menahan kegelisahannya.

Marry menghela nafas. "Mereka memecatku, Amber. Alasannya? Karena aku hamil."

Amber terdiam. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Tidak mungkin ... ba ... bagaimana bisa?"

Marry memandang Amber dengan simpati. "Oh, Amber, kenapa kau jadi ketakutan begitu? Apa kau juga hamil?" Marry menyadari ekspresi Amber yang kacau. "Apa yang akan kau lakukan? Wajahmu pucat ... mungkin sebentar lagi kau juga ... dipecat."

Amber menggelengkan kepala, mata penuh kebingungan. "Aku tidak tahu, Marry. Aku tidak hamil. A-aku ... aku hanya agak demam dan flu."

Marry menggenggam tangan Amber dengan lembut. "Dengarkan, Amber. Aku tahu ini sulit. Tapi kau bisa melakukan apa yang terbaik untuk dirimu sendiri. Ada opsi untuk mengugurkan bayi ini, jika kau rasa itu adalah pilihan terbaik."

Amber terdiam. Gugup dan penuh pertanyaan dalam benaknya. "Mengugurkan bayi?"

Marry mengangguk. "Aku tidak bisa memberikanmu jawaban, tapi kau harus memikirkan baik-baik apa yang kau inginkan untuk masa depanmu. Dan ... jangan sampai ketahuan."

Amber mengucapkan terima kasih pada Marry, namun kebingungannya masih menghantuinya. Dia kembali ke dapur kafe, sambil mencoba menjalankan tugasnya dengan pikiran yang melayang-layang.

"Amber, kau banyak melamun hari ini!" Jessie memekik saat Amber menumpahkan cream untuk ketiga kalinya. "Jelaskan padaku apa yang terjadi. Kau pasti punya segudang masalah di kepala kecilmu itu!"

Amber mendekati Jessie, kemudian berbisik, "A-aku... aku hamil, Jessie."

Jessie membulatkan matanya, dia terdiam sejenak, kemudian beralih ke lokernya dan mengambil sesuatu. Begitu dia kembali, Jessie menyelipkan sebuah pil di tangan Amber.

"Ambil ini, gugurkan kandunganmu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED