***
"Bisakah kita bertemu lagi?"
"Setiap malam selalu bertemu, bukan?" Winter melepaskan pelukan dan perempuan itu bersiap untuk pulang.
"Hanya malam saja kita bertemu. Aku ingin lebih, kenapa kamu selalu menolak jika aku ingin terus bertemu setiap saat tanpa batas?" tanya David.
"Tugasku memang sebagai kekasih bayaran di malam hari, bukan sebagai wanita pelacur. Kamu lupa?"
"Aku pasti bayar kamu lebih mahal, apa yang kamu mau pasti aku penuhi."
"Untuk apa? Tidur denganmu?"
"Ya, salah satunya bisa itu. Jika kamu mau menjadi milikku, semua kebutuhanmu pasti aku penuhi. Kamu tidak perlu capek melayani klien yang mungkin salah satu dari mereka sudah tua."
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Karena aku bukan pelacur," balas Winter.
"Ayolah, kamu sudah dewasa dan aku memiliki segalanya, kamu bekerja sebagai kekasih bayaran karena uang, bukan? Kamu juga sangat unik, ini New York, dan masih ada wanita yang tidak mau melakukannya? Kamu menjaganya untuk siapa? Suamimu nanti?”
"Iya, aku memang bekerja karena uang, tapi aku tidak menjajakan tubuhku di atas ranjang. Jangan samakan aku dengan wanita malam seperti itu. Aku hanya menawarkan jasa sebagai kekasih bayaran yang para klien tak sempat mempunyai kekasih.”
"Kamu juga wanita malam, kenapa sulit sekali membuat kamu bisa tidur denganku? Katakan aku harus bayar berapa? Pasti kubayar asal kamu mau tidur denganku," ucap David sekali lagi.
"Karena aku bukan wanita pemuas ranjang dan bukan seorang pelacur," jawab Winter. "Kamu bisa mencari wanita lain yang memang berprofesi sebagai wanita pemuas." Wanita itu memakai blazer-nya, malam ini udara sangat dingin karena hujan turun sangat deras. "Aku pulang karena tugasku sudah selesai. Besok aku libur, jadi kamu tak perlu menghubungi Madam Suzana."
David menahan lengan Winter, ia menatap wajah wanita yang akhir-akhir ini membuatnya gila. "Kamu tidak bermalam di sini? Sudah larut begini tidak baik untuk kamu pergi ke luar."
Winter setengah tertawa. "Kamu lupa siapa aku? Aku ini ratunya malam, tidak ada yang bisa membuatku terluka saat malam hari.
David masih belum melepaskan tangannya, ia masih penasaran dengan sosok Winter Samantha yang sangat misterius. Lelaki itu ingin sekali tahu sosok perempuan itu di dunia nyata.
David meraih lengan Winter dan mencium bibir perempuan itu sekali lagi. Ciuman yang sangat dalam dan juga mendominasi. Menyentuh bibir Winter saja sudah gila, apalagi jika ia bisa menyentuh tubuh lainnya. David semakin gila, tangannya mulai nakal menyentuh bagian dada wanita itu.
Dengan cepat, Winter langsung menepis tangan nakal David. "Aku pergi, selamat malam. Jangan tidur menjelang pagi hari, dan jangan membuat ulah jika kamu tidak mau nama keluarga Smith menjadi buruk lagi," ucapnya. Winter mengecup pipi David singkat.
David memang tidak bisa menahan Winter karena resikonya, ia akan kehilangan perempuan itu. Pria itu sangat penasaran karena hanya Winter lah satu-satunya yang tak mau naik ke atas ranjangnya. Dia tidak akan pernah menyerah sampai wanita itu menjadi miliknya.
David memang tergila-gila dengan kecantikan dan pesona perempuan itu. Mungkin sejak tiga bulan terakhir ini, hanya Winter lah, wanita yang mampu menarik mata dan juga hatinya.
"Kamu pasti akan jadi milikku, Nona Winter Samantha. Aku akan terus mencari siapa kamu sebenarnya dan menemukan titik lemahmu," gumam David.
***
Winter memutuskan datang ke salah satu Bar bersama sang asistennya, Hary. Perempuan itu merasa jenuh jika harus kembali ke apartemennya yang sepi. Winter butuh kekuatan agar esok pagi, ia bisa menjalani peran sebagai Esme Jasmine, perempuan pecundang yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang sekitarnya.
"Bagaimana dengan David? Dia menahanmu di apartemen-nya?" tanya Hary.
"Hmm... Dia memang selalu begitu," balas Winter.
"Dia itu pewaris dari Athena Corporation, jika kamu bisa menarik hatinya, kamu jadi wanita paling beruntung," ungkap Hary.
"Aku tahu."
"Kamu kenapa tidak menerima tawarannya? Madam Suzana pun tidak akan menahanmu, dia hanya mengistimewakan kamu dan membuat yang lainnya iri."
Winter menghela napasnya pendek. "Dia hanya butuh teman tidur dan aku bukan wanita yang cocok karena aku bukan pelacur."
"Sangat unik, Winter. Hanya kamu lah satu-satunya anak asuh Madam Suzana yang tak mau melayani klien di atas ranjang, dan kamu masih wanita yang murni di kota New York ini, jarang ada wanita yang seperti kamu dan Madam Suzana pun tak mempermasalahkannya.”
"Karena hal itu juga Madam Suzana memberiku hak istimewa. Banyak klien yang tertarik dengan wajah ini yang akan membuat mereka bangga jika dikenalkan pada keluarga atau teman-temannya, ya aku hanya memberi bonus ciuman panas saja untuk mereka.”
"Besok kamu mendapat tugas menggoda pria kaya, bukan?"
"Iya. Aku sudah janjian dengan pria brengsek itu di salah satu hotel dan klien-ku yang merupakan istri sahnya pun sudah menyiapkan segalanya."
"Kamu bukan hanya jadi favorit para pria kaya yang menyewa jasamu untuk jadi kekasih bayaran, tapi jadi favorit para istri yang curiga kalau suaminya selingkuh."
"Winter Samantha selalu jadi nomor satu saat di malam hari,"balas Winter. 'Dan jadi pecundang di pagi hari,' tambahnya dalam hati.
"Tapi identitasmu pun aku tidak tahu. Aku hanya bertemu denganmu di malam hari saja. Kenapa madam dan kamu menutup rapat identitas di depanku? Aku ini asistenmu dan sudah bekerja di 'Perfect Partner' sejak lama. Padahal di dunia nyata, aku juga ingin mengenalmu sebagai teman," ucap Hary.
"Tidak ada yang istimewa tentangku, Hary. Kehidupanku sehari-hari sungguh membosankan dan tidak menarik. Jadi kamu tak perlu rugi karena tidak mengenalku lebih dalam. Kita lebih baik seperti ini, hanya mengenal karena kita itu partner yang klop."
"Kenapa? Apa aku tidak pantas mengenalmu? Aku tidak pantas berteman denganmu?" tanya Hary penasaran.
Winter tertawa kecil. "Kamu hanya akan menyesal kalau tahu siapa aku di kehidupan sebenarnya," balasnya.
"Menyesal karena apa?" tanya Hary bingung.
Winter hanya tersenyum, ia menaruh gelas wine di atas meja. "Aku mau ke toilet dulu, habis dari toilet antar aku pulang ya!"
Hary hanya mengangguk samar, ia lagi-lagi kecewa karena Winter tidak menjelaskan alasan yang tepat padanya.
***
Winter mendengar suara aneh di toilet pria. Perempuan itu melangkahkan kakinya ke arah sumber suara ribut itu. Samantha terkejut melihat dua orang sudah terkapar di lantai. Satu orang tersenyum menatap kedatangannya.
'Lelaki itu!' pekik Winter terkejut di dalam hatinya.
"Kamu bisa bantu aku untuk mengurung mereka di toliet? Mereka tidak kubuat mati, mereka hanya pingsan," pinta lelaki itu dengan tenang.
Winter dengan bodohnya mengangguk, ia menyeret tubuh lelaki yang sudah tak sadarkan diri ke toilet dan menguncinya.
"Mereka ingin membunuhku dan sudah mengincarku beberapa hari terakhir ini," ucap lelaki itu menjelaskan.
"Aku tidak peduli," jawab Winter.
"Terima kasih karena kamu meringankan tugasku," ucap lelaki itu lagi.
Winter mencuci tangannya di wastafel, ia tak menggubris ucapan lelaki itu. Lengan Winter ditahan oleh lelaki itu ketika hendak pergi.
"Kenapa kamu begitu berani datang ke toilet pria? Harusnya kamu takut karena mendengar keributan, bukan?"
Winter tersenyum smirk. "Karena aku bukan pecundang."
"Kenalkan, namaku Sean Wiliam. Siapa namamu? Bisakah kita bertemu lagi?"
Winter menepis uluran tangan lelaki. "Panggil aku Winter Samantha... Dan kita tidak akan pernah bertemu lagi," ucapnya sambil berlalu pergi.
Aku benci melihatmu, Sean. Kenapa kamu selalu saja terlihat?
***
***
"Kerjaanmu kenapa nggak ada yang benar? Kamu tidak pernah mendengar apa yang aku katakan, Ha?!" Sean menatap asistennya dengan geram. Lelaki itu melempar semua berkas ke lantai.
"Maaf, Pak. Saya akan revisi lagi," jawab Esme pelan, ia tidak berani mengangkat wajahnya.
"Ini sudah ketiga kali! Kamu itu bodoh?" kesal Sean.
"Maaf, saya akan perbaiki." Esme mengatakannya sambil menunduk.
"Cih! Kenapa saya punya asisten sebodoh kamu! Dan kenapa dady saya malah menyuruh kamu jadi asisten saya. Kantor ini jadi rusak karena adanya kamu!" Sean terus saja meracau.
Esme hanya diam saja, ia langsung memungut berkas-berkas yang berceceran dan membawanya tanpa banyak bicara. Dia tahu kalau Sean memang tak menyukai keberadaannya di perusahaan karena pria itu berpikir mungkin dirinya itu seperti seekor lalat.
Sumpah serapah, hinaan dan makian sudah terlalu sering ia dengar dari mulut Sean. Lelaki itu selalu menatapnya dengan penuh kebencian. Sean pernah menolak saat Esme ditunjuk sebagai asisten lelaki itu, tapi ayah dari Kenzie, Tuan Steve menolak tegas dan membuat Sean mau tidak mau harus menerima keputusan itu.
"Si itik buruk rupa bikin Tuan Sean marah lagi," sindir Selena.
"Satu-satunya mimpi buruk boss kita memang dia. Kenapa bisa Tuan Steve menyuruh si jelek itu jadi PA-nya Tuan Sean, ya?" tanya Hana penasaran.
"Mungkin kasihan. Kamu juga tahu kalau Tuan Steve itu jiwa sosialnya tinggi. Melihat anak pembantu yang melarat, hati Tuan Steve pasti iba," balas Selena.
Semua karyawan yang mendengarnya langsung tertawa. Mereka memang menjadikan Esme sebagai bahan olokan sehari-hari untuk mengusir rasa jenuh. Esme diibaratkan sebagai bahan lawakan bagi mereka. Tidak ada satu pun karyawan yang ingin mengenal atau berteman dengan Esme yang disebut itik buruk rupa itu. Bahkan rekan kerja Esme menganggap nama Esme Jasmine tidak cocok dengan wajah perempuan itu.
Penampilan Esme memang tidak menarik, ketinggalan zaman dan kuno. Esme hanya menggulung rambutnya dan memakai kacamata tebal ditambah perempuan itu tak pernah memakai riasan apapun dan membuat orang yang melihat kearahnya tidak menarik sama sekali.
Untuk itu Sean selalu malu jika membawa Esme pergi meeting atau sekedar bertemu klien. Bahkan Sean dengan teganya selalu menyuruh Esme untuk naik kendaraan umum, lelaki itu seperti tidak sudi berada satu mobil dengan perempuan itu.
Esme merenung di dapur kantor. Perempuan itu sedang membuat kopi untuk teman-temannya. Teman-teman dikantornya memang selalu menyuruh Esme sesuka hati. Diibaratkan kalau Esme seperti orang suruhan dan pembantu bagi rekan-rekan kerjanya.
" Esme kenapa ada di dapur?" tanya Mirae.
"Lagi buat kopi untuk teman-teman, Mirae," jawab Esme pelan.
"Kamu kenapa sih nurut saja? Tolak saja, mereka itu seenaknya menyuruh kamu! Mereka punya tangan dan kaki, kenapa nggak membuatnya saja!” kesal Mirae.
"Nggak apa-apa, ini saya juga lagi nggak ada kerjaan, kasihan teman-teman juga,” balas Esme.
Mirae menghela napas, ia kerap merasa iba karena Esme selalu jadi bahan bully-an. "Kamu jangan terlalu nurut, Esme. Jika kamu keberatan, maka tolak saja. Mereka juga nggak akan marah. Kamu kenapa selalu saja nurut.”
Esme menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Mirae. Saya juga melakukannya dengan senang hati, jadi ini memang kemauan saya, bukan karena paksaan,” balasnya tersenyum.
Mirae menghela napasnya, ia merasa kasihan melihat Esme selama ini selalu bertahan dan sabar dengan perlakuan semua orang di kantor ini. Jika ia di posisi Esme mungkin ia tidak kuat dan akan segera resign. Kenapa banyak sampah yang menjijikan di perusahaan?
Esme membawa nampan yang berisi empat gelas kopi. Namun, ia terpeleset karena ada seseorang yang merengkas kakinya dengan sengaja. Beruntung tumpahan kopi panas itu tidak kena pada orang lain ataupun dirinya.
"Aduh, Esme! Kamu kenapa sih selalu ceroboh begini? Kenapa kerjaanmu selalu saja tak becus!" teriak Selena.
"Selena, kamu nggak apa-apa?" tanya Ben.
"Nggak apa-apa, Ben. Beruntung kopi panas itu nggak kena ke aku. Kalau kena, nanti kulitku bisa melepuh," balas Selena dengan segala dramanya.
"Esme! Kamu kenapa jadi manusia tidak berguna begini! Apapun yang kamu lakukan selalu membuat orang emosi! Kamu sengaja pura-pura jatuh karena ada niatan untuk mencelakai Selena?" hardik Ben. Pria itu kesal karena muak melihat si itik buruk rupa itu di perusahaan.
"T-tidak. Saya tidak sengaja, Ben. Saya memang jatuh karena ada seseorang yang merengkas kaki saya," balas Esme dengan suara gemetar.
"Alasan yang konyol! Kamu memang iri padaku karena Tuan Sen selalu membawaku untuk bertemu dengan klien ataupun ikut meeting di luar. Kamu cemburu, ya?" sindir Selena.
"Nggak, Selena. saya nggak iri, memang tadi ada yang sengaja merengkas kaki saya," balas Esme.
"Jangan banyak alasan deh kamu! Kalau iri ya bilang, nanti aku sampaikan pada Tuan Sean kalau kamu cemburu karena dia lebih perhatian padaku!" hardik Selena.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Suara itu membuat semuanya beralih menatap ke arah sumber suara.
"Tuan Steve!" seru Selena kaget.
"Kenapa lantai basah begini? Dan cangkir berserakan?" tanya Steve.
"Oh, itu karena Esme, Tuan Steve. Dia sengaja menjatuhkan beberapa cangkir kopi panas agar mengenai kaki saya," balas Selena menjelaskan.
"Kamu kenapa bisa yakin kalau Esme sengaja melakukannya?" tanya Steve.
"Itu... Itu karena saya melihat dia hati-hati membawanya," jawab Selena gelagapan.
"Jangan asal menuduh lain kali! Jika saya melihat ada keributan lagi, saya pasti akan menindak tegas!" tegas Steve.
"B-baik, Tuan Steve," jawab Selena, dia agak ngeri jika boss-nya itu sedang marah.
"Nanti Kris bersihkan ini semua!" perintah Steve. "Dan kamu, Esme! Ikut saya ke ruangan. Saya ingin bicara," ucapnya pada perempuan itu.
Esme mengangguk, ia mengikuti langkah kaki Steve menuju ruang direktur utama.
Sedangkan Selena masih kesal karena Esme begitu beruntung karena Steve selalu membela perempuan itu. "Kenapa sih si itik buruk rupa itu selalu mendapat perlindungan dari Tuan Steve! Dia itu hanya sampah yang menempel pada perusahaan kita! Tapi kenapa Tuan Steve mempertahankan dia!" geramnya agak kesal.
"Karena dulu konon neneknya si Esme berjasa karena mengabdi pada Kelarga besar Tuan Steve, jadi semacam hutang budi," timpal Hana.
"Jika bukan karena kedatangan Tuan Steve, aku suruh dia tadi membersihkan lantai ini! Perempuan itu membuat mood-ku rusak!" kesal Selena.
"Tenang, jangan habiskan tenagamu untuk wanita jelek itu! Dia hanya didukung oleh Tuan Steve, bukankah yang paling penting Tuan Sean tidak menganggapnya sama sekali dan membencinya juga," balas Hana.
"Kamu benar! Saat ini lebih baik kita menarik perhatian Tuan Sean karena kelak jika dia menjadi direktur utama, si itik buruk rupa itu akan tersingkir," balas Selena dengan senang. ‘Dan aku akan jadi wanitanya Tuan Sean,’ batinnya dalam hati.
***
***
“Kenapa kamu sangat cantik sekali, sayang. Rasanya nggak sabar untuk menikah denganmu.”
Winter tertawa, ia duduk di atas pangkuan Albert, salah satu mangsanya malam ini. Albert adalah salah satu target yang sudah seminggu ini diincar oleh Winter karena permintaan kliennya. Winter sengaja memata-matai Albert dan menggoda pria itu. Permintaan itu memang kerap dilakukan oleh para klien perempuan yang curiga kekasih atau suaminya diduga selingkuh atau bermata buaya. “Kenapa kamu ingin menikah denganku? Kamu sudah punya istri yang cantik dan juga sempurna.” Wanita itu memainkan dada Albert dengan gerakan yang menggoda.
“Aku bosan dengannya, dia tidak menarik lagi di mataku. Dia selalu marah-marah nggak jelas membuatku tidak minat lagi padanya,” jawab Albert, pria paruh baya itu tentu saja semakin bergairah karena Winter mampu meningkatkan hasratnya sebagai seorang pria normal.
“Jadi kamu sudah bosan dengan istri kamu sendiri?” tanya Winter.
“Aku memang tidak mencintainya lagi. Tapi memang tak pernah mencintainyaa karena dia bukan tipe ideal yang aku inginkan. Rasa ini seperti sudah hampa padanya,” balas Albert. “Jadi kamu mau kan menikah denganku? Jadi yang kedua? Aku janji akan memberi kemewahan untukmu, Sayang,” ucapnya sembari mengelus wajah Winter
“Aku tidak mau jadi yang kedua!”
“Kenapa? Nanti hidupmu terjamin, meski kamu jadi yang kedua itu hanya status. Semua perhatianku hanya diberikan padamu saja.”
“Sekarang mulutmu sangat manis, Albert. Nanti belum tentu sikap manis ini akan bertahan lama, jika kamu sudah bosan padaku, aku pasti dicampakan begitu saja.”
“Tidak akan, Baby! Mana bisa aku mencampakan wanita secantik dan semenarik kamu! Kamu adalah harta yang harus dijaga!”
“Aku mau menikah denganmu, Albert. Asal ada syaratnya,” pinta Winter.
“Apa syaratnya?”
“Kamu harus menceraikan istrimu dan jadikan aku satu-satunya nyonya! Bagaimana?” Winter tersenyum penuh arti.
Albert terdiam sejenak, ia menghela napas pendek dan tersenyum. “Aku pasti menceraikan dia setelah mendapatkan hartanya utuh. Aku masih bertahan dengan wanita tua itu karena hartanya yang banyak.”
“Kamu sudah mempunyai rencana untuk merebut semua harta istrimu?” tanya Winter penasaran.
“Tentu saja! Nanti setelah harta itu menjadi milikku, kamu yang akan dijadikan seorang ratu,” jawab Albert, tangannya mulai nakal membuka resleting dress belakang milik Winter. Baru saja tangannya menyentuh kulit punggung Winter, kepala Albert dipukul dengan sebuah tas membuat lelaki paruh baya itu memekik. Albert terkejut melihat wajah istrinya yang sedang menatap tajam penuh amarah padanya. “K-Kate! Kenapa bisa ada di sini?” tanyanya gelagapan.
Kate murka, perempuan itu memukul kepala Albert dengan membabi buta. “Dasar lelaki tidak tahu diuntung! Ternyata kelakuanmu begini! Dasar parasit! Jadi benar dugaanku selama ini kalau kamu mencoba mencuri hartaku! Aku tidak sudi lagi denganmu, kita cerai!”
Albert panik, ia langsung memeluk Kate dan berusaha merayu istrinya agar tidak menceraikannya begitu saja. “Kamu salah paham, Sayang. Aku dijebak dengan wanita jalang ini! Dia merayuku, Sayang. Dia sengaja melakukan itu agar rumah tangga kita hancur,” ucapnya.
“Tapi aku jalang yang ingin kamu jadikan seorang ratu setelah mendapatkan harta dari istrimu, bukan?” tanya Winter dengan senyum liciknya.
“Diam kamu, jalang! Kamu hanya wanita penggoda yang sengaja menjebakku,” geram Albert
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Albert. Kate menatap suaminya penuh amarah. “Winter adalah orang suruhanku! Selama satu minggu ini aku sudah tahu kelakuan bejatmu! Kamu menghabiskan uangku untuk membelikan dia barang-barang mewah! Sialan! Kenapa aku bisa tertipu dengan lelaki parasit sepertimu! Jangan menginjakan kaki di rumahku lagi! Besok akan ada surat gugatan cerai dariku!” geramnya. “Winter, ayo kita ke luar! Aku muak melihat si bangsat ini!”
Winter tersenyum penuh kemenangan. “Oke, Kate,” balasnya.
Albert ingin menahan kepergian Intan. Namun, pengawal Kate dengan sigap menahan lengan Albert dan membuat lelaki itu babak belur.
***
Di rumah mewah milik Kate, saat ini Winter sedang duduk berdua dengan perempuan paruh baya itu. Kate memijit kedua alisnya dan menegak segelas wine. “Ternyata apa yang papiku dulu katakan memang benar tentang lelaki itu. Dulu papiku pernah bilang kalau si brengsek Albert tidak akan pernah sanggup membahagiakanku, aku pikir dulu papi berkata begitu karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang. Ternyata papi sudah tahu kalau si parasit hanya mengincarku karena harta. Aku begitu bodoh karena dibutakan karena cinta. Cinta itu memang tidak selalu manis, mata lelaki itu bagai binatang yang akan melihat mangsanya.”
“Kate, kamu hanya terlalu baik dan juga lugu pada waktu itu. Sifat kamu yang selalu percaya bahwa semua orang baik membuat kamu dimanfaatkan oleh orang-orang yang ada disekitar kamu,” tukas Winter.
Kate tertawa pelan, ia menertawakan dirinya sendiri. “Kamu benar, Winter. Intan pada waktu remaja begitu naif dan lugu. Kate yang dulu selalu memaafkan kesalahan mereka yang berkali-kali melukainya. Kate yang dulu berpikir mungkin mereka akan tobat dengan penerimaan maaf yang tulus. Ternyata, mereka brengsek! Mereka dibelakangku menertawakan kebodohanku dan bersulang karena mampu membuatku terlihat bodoh dan mudah dimanfaatkan.”
“Tunjukan pada mereka bahwa seorang Kate saat ini adalah wanita tangguh yang tidak mudah ditindas. Kamu harus membalas mereka dengan cara yang elegan,” balas Winter.
“Iya. Malam ini adalah titik lahirnya Kate yang baru. Dia tidak akan pernah mudah dimanfaatkan lagi oleh orang-orang yang bermuka dua. Ya, malam ini Kate yang naif akan mati,” tukas Kate.
"Mari kita bersulang untuk kelahiran wanita tangguh bernama Kate Wildson," ucap Winter dengan suara keras sambil mengangkat gelas miliknya.
Kate mengangkat gelas berisi wine miliknya. “Mari kita terlahir dengan wajah baru,” balasnya.
Setelah keduanya bersulang. Kate menghela napasnya. “Saat ini aku akan mengambil alih perusahaan dan juga memimpin perusahaan yang sudah papiku bangun sejak muda dan juga fokus dengan Leo yang sudah mau masuk bangku kuliah tahun depan. Fokusku saat ini hanya itu,” ungkapnya. “Winter, apa kamu mau bergabung dengan perusahaanku? Aku ingin kamu jadi asistenku,” tawarnya.
“Terima kasih atas tawarannya, Kate. Aku merasa tersanjung. Namun, untuk saat ini aku hanya menjalankan tugas sebagai salah satu angel di ‘Perfect Couple’ yang sudah lama jadi rumah bagiku selama ini.”
“Jika ada klien yang meminta kamu jadi kekasih bayarannya, apa itu artinya mereka juga meminta untuk tidur denganmu?” tanya Kate penasaran.
Winter menggelengkan kepalanya. “Tidak! Hanya aku satu-satunya yang menolak layanan seperti itu, aku tidak mau menyerahkan tubuhku begitu saja,” balasnya.
“Para pria yang menyewa jasamu tidak pernah tergoda untuk menikmati malam denganmu? Kamu memilki pesona yang sangat memikat, Winter. Aku sebagai perempuan pun mengakui itu, dan di negara ini masih ada wanita sepertimu? Ini sangat unik dan langka.”
“Banyak para klien yang nakal dan sengaja menjebakku, jika mereka begitu, ada harga yang harus dibayar mahal. Untuk itu mereka tidak akan pernah berani untuk memintaku untuk melayani nafsu mereka karena aku tidak akan menerima permintaan klien untuk jadi kekasih bayaran lagi,” jawab Winter.
“Bagus! Aku memang suka dengan jasa yang ‘Perfect Couple’ tawarkan dan rasanya membayar mahal kalian pun terbayar dengan service yang kalian berikan,” puji Kate. “Karena malam ini berhasil dan kinerjamu sangat memuaskan, aku akan memberi bayaran tambahan dan untukmu pribadi juga ada bonus.”
Winter tersenyum senang. “Terima kasih, Kate. Saya sangat senang mendapatkan klien yang sangat royal seperti kamu.”
Kate tertawa mendengar pujian itu. “Ini kartu namaku, jika kamu membutuhkan apapun atau mungkin ingin bekerja denganku, kamu bisa menghubungiku,” ucapnya.
“Baik, Kate. Nanti aku pasti menghubungi kamu lagi,” balas Winter. Perempuan itu membaca informasi dari kartu nama yang diberikan Kate dan tertera nama Kate Amber Wildson yang merupakan pemegang saham terbesar di Diamond Group.
‘Pantas saja si tua itu ingin menguasai harta istrinya,’ gumam Winter dalam hati.
***
Winter kembali ke bar yang selalu jadi langganannya, kali ini ia hanya sendirian karena Hary sedang sakit. Ia meminum segelas wine sembari menikmati alunan musik yang setidaknya memberi hatinya sedikit keramaian.
“Halo, Winter Samantha. Kita bertemu lagi!”
***