Silau cahaya matahari membangunkan Devan dari lelapnya. Kepalanya terasa pusing sampai-sampai tangannya terangkat memijat keningnya. Pengar masih terasa dari sisa-sisa alkohol semalam. Seketika Devan terlonjak kaget tatkala menyadari dimana dirinya sekarang berada. Pikirannya kalut bukan main melihat seorang wanita yang masih terlelap di sisinya. Sedikit ingatan semalam berkelebat dalam benaknya. Nafasnya naik turun akibat sesak yang kini menderanya.
Tubuh tanpa helai kain itu gemetar ketika dibawa turun dari ranjang. Sempoyongan memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu mengenakannya dengan terburu-buru. Apa yang terjadi semalam bukanlah sesuatu yang Devan inginkan. Hatinya bukan lagi sesak, namun sakit menderanya. Devan tersentak ketika suara wanita yang semalam tidur dengannya terdengar.
“Masih pagi, Van.”
Perasaan yang kacau, amarah yang menggebu membuat Devan nyalang menatap wanita itu. “Demi Tuhan, Yas! Kenapa kamu menjebak aku seperti ini?”
Yasnina turun dari tempat tidurnya hingga membuat Devan memalingkan wajahnya. Yasnina terkekeh sambil menyambar baju yang dilempar asal semalam. “Ini enggak akan terjadi kalau kamu sekali saja kasih aku kesempatan.”
“Harus aku bilang berapa kali cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.”
Jawaban Devan membuat Yasnina murka. Dia mendekati pria itu. “Kurang apa aku selama ini? Kita kenal dari SMP, tapi kamu selalu memilih perempuan lain, lalu tiba-tiba kamu bilang ingin hijrah dan serius dengan satu gadis. Selama itu kamu enggak mikirin perasaan aku, Van.”
“Cara kamu tetap salah! Kamu sudah membuat aku berzina!”
“Bukannya kamu selama ini juga sudah beberapa kali berpacaran, pasti sudah pernah dong?”
“Demi Tuhan! Aku tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti semalam!”
Yasmine hanya tersenyum. Dia melangkah mengambil rokok di atas meja, lalu duduk dengan menopang satu kakinya di atas kaki lainnya. “Aku enggak masalah kamu mau pacaran dengan siapapun, atau kamu hijrah, tapi mendengar kamu akan menikah itu membuatku kacau. Aku enggak bisa membiarkan wanita lain memiliki kamu.”
Devan geram bukan main. Yasnina yang sekarang dihadapinya bukan lagi gadis lugu yang pernah dia kenal dahulu. Yasnina sangat asing baginya. “Awalnya aku ingin meminta maaf dengan tulus, tapi setelah kejadian ini rasanya aku pikir tak perlu lagi minta maaf. Aku kecewa atas tindakanmu.”
“Tapi kamu menikmatinya, Sayang.”
“Menjijikan!” saat Devan hendak keluar, pria itu dibuat kesal karena kamar tersebut terkunci. Membuat Devan kembali menatap Yasnina. “Buka pintunya.”
“Kamu benar-benar enggak bisa melihat aku sebagai wanita yang mencintaimu, Van?”
“Bukan cinta kalau menjerumuskan seperti ini. Itu obsesi!”
Yasnina mematikan rokoknya, menekan puntungnya di atas asbak kaca. “Aku pernah meminta baik-baik, aku menunggu kamu dari SMP sampai sekarang, lalu kamu? sekalipun enggak pernah menganggap perasaanku. Aku temani kamu dari susah sampai kamu punya kedudukan, tapi kenapa kamu harus menikah dengan wanita lain! Kenapa enggak lihat aku!”
Kuat suara teriakan Yasnina terasa menggema di dalam kamar. Mata wanita itu berkaca-kaca menatap Devan. Hatinya terasa perih ketika mendengar kabar pernikahan Devan. Dunianya runtuh seolah-olah tak pernah ada lagi harapan untuknya bisa memiliki Devan.
Kembali Yasnina berkata. “Aku yang selama ini di sisi kamu. Aku enggak pernah pergi bahkan saat kamu berada dalam kondisi terburuk. Waktu kamu bilang kamu mau hijrah, aku senang mendengarnya. Aku enggak masalah waktu kamu ambil jarak dari aku dengan alasan hijrah, tapi…. Aku enggak terima ketika kamu bilang akan menikah dengan wanita lain.”
Mungkin ini adalah untuk yang kedua kalinya Devan melihat Yasnina menangis. Wanita di hadapannya itu selama ini selalu tegar tersenyum, sekuat tenaga tak terlihat lemah di mata siapapun termasuk dirinya.
“Yas…”
“Kamu bilang kamu enggak mencintaiku, apa sekarang kamu mencintai calon istrimu? Kamu ta’aruf, kan dengannya? Kenapa kamu mau menikah dengan wanita yang enggak kamu kenal sebelumnya? Kenapa enggak dengan aku? Kalau perihal cinta enggak cinta, seharusnya kamu bisa kan belajar mencintai aku seperti kamu yang belajar mencintai calon istrimu itu?”
Devan bungkam untuk sesaat, sebelum akhirnya memilih menghentikan perdebatan mereka ketika matanya melihat kunci kamar di atas meja rias. “Tolong jangan beritahu siapapun atas apa yang terjadi semalam di antara kita.”
“Kalau aku hamil?”
Langkah Devan berhenti. Tak menjawab pria itu memilih membuka kuncinya dan pergi begitu saja meninggalkan Yasnina yang terduduk lesu menangis. Dia meraung karena lagi-lagi perasaannya diabaikan.
***
Devan duduk dalam hening di dalam mobilnya. Belum mau melangkah keluar menghadapi keluarganya yang sekarang tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya besok dengan wanita baik-baik yang dikenalnya secara ta’aruf. Sudah jauh melangkah dengan Saskia, terlalu mustahil dibatalkan meski kesalahannya semalam sangatlah fatal. Seharusnya Devan tak menerima tawaran pesta bujang yang diadakan kawan-kawannya, sedangkan dia tahu bahwa itu bukan ajaran agamanya, namun dengan dalih menghormati dan menghargai kawannya Devan akhirnya tetap datang.
Sekarang Devan mengerti mengapa sepasang calon pengantin harus dipingit. Bukan serta-merta sebuah adat, namun juga untuk melindungi keduanya dari hal-hal buruk yang bisa saja terjadi seperti semalam. Devan menyesal karena tak mendengarkan apa yang dikatakan mamanya. Dosanya sekarang bertambah-tambah meninggalkan sesak di dadanya. Devan menangis dengan bahu bergetar hebat. Sakit bukan main rupanya mengkhianati Tuhannya sendiri, dan juga calon istrinya. Sungguh bukan ini yang Devan harapkan dari hijrahnya selama ini..
Tok! Tok!
Kaca mobilnya diketuk menyadarkan Devan. Segera dia menghapus air matanya. Dilihatnya sang adik di luar. “Ada apa, Tha?”
“Abang enggak mau turun? Disuruh mama makan tuh!”
“Iya.”
Devan keluar dari mobilnya. Dia mengusap puncak kepala Agatha dengan sayang. “Semuanya sudah siap?”
“Ya sudah dong. Lagian Abang aneh-aneh aja, calon pengantin kok keluyuran. Nenek sama eyang marah-marah tuh! Nyerocos aja dari semalam! Mama sama papa diomelin tuh sama dua-duanya!”
“Sama kayak kamu nyerocos aja.”
“Ish! Dikasih tahu juga malah ngeledek,” Agatha yang kesal memilih segera berlalu dari sisi kakaknya itu. “Ayam gorengnya buat aku semua ya, Bang!” serunya kemudian ketika dekat dengan pintu masuk.
Devan tersenyum kecil melihat tingkah adik perempuannya. Jilbab lebar yang dikenakannya tidak serta-merta membuat Agatha menjadi anggun, ya setidaknya di luar rumah Agatha masih bisa menjaga sikapnya. Saat Devan masuk semua orang di dalam memandangnya. Terutama nenek dan eyangnya. Sarjita—mamanya menyongsong kedatangan Devan.
“Katanya enggak pakai nginap? Katanya sebentar, ini apa? Kenapa kamu baru pulang sekarang?”
“Maaf, Devan ketiduran di rumah Jeffano.”
“Temen kamu yang kayak preman itu?” tanya nenek dari tempatnya.
Devan melihat wanita berkebaya merah itu dengan senyum. “Nenek masih aja enggak suka sama Jeff.”
“Jelas saja, diakan yang dulu suka ngajakin kamu bolos sekolah? Berteman itu jangan sama begundal, enggak beres nanti hidup kamu.”
Membicarakan Jeffano membuat pikiran Devan tertuju pada temannya itu. Jeffano adalah yang paling ingin mengadakan pesta bujang, dan memaksanya. “Mah, Devan ke kamar dulu ya. Mau istirahat.”
“Iya, tapi habis dzuhur bangun ya. Kita mau pengajian.”
“Iya.”
Segera Devan memasuki kamarnya. Dia harus bicara dengan Jeffano, harus tahu pula siapa yang terlibat semalam hingga dirinya berakhir tidur dengan Yasnina.
“Lo gila?!” Jeffano murka setelah mendengar pengakuanYasnina tentang apa yang semalam terjadi. “Devan itu mau menikah besok! Kenapa lo bertindak sebodoh itu, Yas?”
“Gue frustasi Jeff! Gue udah enggak tahu lagi harus bagaimana mendapatkan Devan.” Yasnina menatap Jeffano dengan hampa. Hatinya sudah sangat kacau, namun Jeffano malah menyalahkannya.
“Gue tahu, tapi enggak dengan menjebaknya. Dia jadi salah paham sama gue!”
Jeffano jadi ikut frustasi setelah Devan menghubunginya bertanya soal siapa saja yang semalam datang, dan apa yang sudah dicampur ke dalam minumannya sampai Devan tak sadarkan diri. Jeffano memangyang menggagas pesta bujang itu, tapi sekali pun tidak berniat untuk melakukan hal sekotor itu pada Devan hingga membuat sahabatnya itu berakhir di atas ranjang Yasnina.
“Gue minta maaf.”
Jeffano melirik Yasnina kesal. “Sekarang gue tanya, siapa yang bantu lo?”
“Lo enggak perlu tahu.”
“Yas?!”
“Enggak Jeff! Gue enggak akan kasih tahu. Ini urusan gue.” tegas Yasnina berucap. Dia tidak ingin Jeffano mengetahui siapa yang membantunya.
“Jadi urusan gue juga karena Devan nyalahin gue.”
Sialnya malam itu Jeffano juga ikut mabuk, jadi dia tidak tahu siapa yang membawa Devan pulang. Ada sekitar dua puluh orang yang diundang Jeffano, namun yang datang melebihi perkiraannya. Jeffano tidak mungkin bertanya pada mereka satu persatu, itu hanya akan menimbulkan kecurigaan lebih banyak lagi, sedangkan Devan tetap ingin masalah ini menjadi rahasia.
“Gue tahu ini salah Jeff, tapi…”
“Tapi apa? Lo merasa setelah tidur dengan Devan, sepenuhnya lo bisa memiliki dia? Apa itu akan membuat Devan mencintai lo?”
“Stop nyalahin gue! Lo ingat dulu lo pernah bilang kalau sebenarnya Devan juga punya perasaan ke gue, dan gue percaya dengan ucapan lo. Gue tunggu bertahun-tahun, Jeff. Gue pikir semua yang lo katakan itu benar, tapi ternyata sampai sekarang Devan enggak pernah bilang cinta sama gue.”
Jeffano mengacak-acak rambutnya kesal bukan main menghadapi Yasnina kali ini benar-benar membuatnya kalut. “Yas, yang punya perasaan itu lo dan lo juga yang mesti mengontrolnya. Lo enggak bisa berpatokan dengan perkiraan gue.”
“Lo yang selalu bilang sabar ke gue soal Devan,” lirih Yasnina dengan bahu bergetar mengingat bagaimana dulu dirinya cukup bersabar menahan perasaannya. “Gue yakin karena lo sahabatnya.”
Kali ini emosi Jeffano melunak. Sadar karena mungkin dirinya juga turut andil dalam asmara Yasnina. “Gue minta maaf, tapi gue juga enggak membenarkan tindakan lo. Seberengsek apapun gue, demi Tuhan sekalipun gue enggak pernah menyeret dalam keburukan.”
“Sudahlah sekarang semuanya sudah terjadi. Ini akan tetap jadi rahasia.”
Yasnina berdiri dari duduknya. Dia melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Jeffano diam memperhatikan, lalu menghela nafas. Pria itu beranjak dan mendakati Yasnina.
“Ini bukan hal sederhana yang bisa dilupakan begitu saja. Lo mesti menjelaskan ke Devan kalau gue enggak terlibat rencana lo itu.”
“Tenang aja nanti gue kasih tahu.”
“Kasih tahu baik-baik jangan merusak rencana pernikahan Devan.”
“Apa sekarang pandangan lo ke gue berubah, Jeff?” tanya Yasnina sengit ketika mendengar pernyataan Jeffano sebelumnya.
“Entahlah, tapi gue merasa perasaan cinta lo terhadap Devan sudah sangat berlebihan. Lo terobsesi, bukan hanya sekedar cinta.”
Yasnina terkekeh sendiri menyadari bahwa sekarang sudah tidak ada siapapun yang berada di pihaknya. “Oke, sepertinya memang harus gue sendiri yang berusaha.”
“Jangan macam-macam, Yas!”
“Tenang saja gue enggak akan merusak nama baik lo,Jeff.”
***
Yasnina diundang ke acara pengajian yang dilakasanakan di kediaman keluarga besar Devan. Wanita itu datang dengan pakaian anggunnya. Sopan dan selalu menarik perhatian. Kedatangan Yasinan disambut hangat oleh keluarga besar Devan. Siapa yang tak mengenal wanita itu, bahkan beberapa dari mereka pernah berharap dan menduga-duga bahwa Devan akan menikah dengan Yasnina.
“Kamu sehat?” tanya Sarjita ketika Yasnina menyalaminya dengan sopan.
“Sehat. Mama sendiri bagaimana?”
“Pusing ngurusin pernikahan Abang.”
Yasnina tersenyum menanggapi. “Ada yang bisa aku bantu, Mah?”
“Enggak usah. Kamu duduk saja, temani eyang dan neneknya Devan. Mereka lagi di belakang sama Agatha.”
“Ya sudah kalau begitu aku ketemu mereka dulu. Mama jangan capek-capek ya.” pesan Yasnina sembari mengusap lengan Sarjita.
“Iya.”
Yasnina berdiri di ambang pintu melihat Agatha, eyang dan nenek yang bercengkrama. Mengenal keluarga Devan adalah sebuah anugerah bagi Yasnina. Hidupnya yang seakan mati dibuat hidup kembali karena kebaikan pria itu, lantas wanita mana yang tak berharap lebih ketika diajak kenal dengan keluarga seorang pria. Salahkah Yasnina jika terlampau berharap pada Devan?
Sebelum Yasnina menghampiri mereka, Devan sudah berdiri di dekatnya. Bertanya dengan ketusnya. “Ngapain kamu datang?”
“Tenang aja Van, aku enggak akan kasih tahu soal percintaan panas kita semalam.”
“Yas!”
Tawa Yasnina meledak melihat Devan yang begitu panik. Orang-orang kini tertuju pada mereka. Agatha yang melihat pun menjadi penasaran. “Kak Yas, ada apa? Kok ketawanya seru banget.”
Yasnina melihat pada Agatha sedikit meredakan tawanya. “Tadi abang kamu kejatuhan pup cicak.”
“Ih! Abang jorok! Bersihin sana!”
Mengabaikan Devan yang geram padanya, Yasnina kemudian memilih menghampiri Agatha. Seperti ketika menyalami Sarjita, sopan dan lembut adalah cara Yasnina menyalami eyang dan nenek. Apa yang dilakukan Yasnina tidak lepas dari pandangan Devan. Masih sama dan tak pernah berubah cara wanita itu menyayangi keluarganya.
“Jadi gimana kebayanya, Nek?” tanya Yasnina pada nenek Hasna yang beberapa hari lalu diceritakan Agatha bahwa kebaya nenek sedikit kebesaran.
“Sudah diperbaiki, jadi pas.”
“Iya dong, siapa dulu Agatha.” Agatha dengan bangga menepuk dadanya memberitahu Yasnina bahwa kursus menjahitnya selama setahun ini tidak sia-sia.
“Pinter kamu,” Yasnina mengusap puncak kepala Agatha sampai gadis belia itu memeluk lengannya dengan manja. “Udah kayak kucing kamu.”
“Kenapa bukan kakak aja yang menikah dengan bang?”
Pertanyaan Agatha ditimpali dengan tawa. “Mana ada kakak jadi istri abang kamu yang galak itu.”
Yasnina mendapatkan usapan lembut di tangannya. Rupanya eyang membawa tangannya ke atas pangkuan. Eyang jauh lebih tua dari nenek sehingga hanya bisa duduk di kursi roda. Yasnina tersenyum lembut padaeyang, membalas mengusap tangan peyot itu.
“Kelak… kamu akan mendapatkan jodoh terbaik.” Eyang berkata dengan suara rentanya yang bergetar.
“Terima kasih Eyang atas do’anya.” balas Yasnina, meski di dalam hatinya tetap dia mau Depan.
Tak pernah semudah itu melupakan cinta pertamanya. Setelah pernikahan itu terjadi besok, Yasnina tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apa masih bisa dia merasakan kehangatan keluarga ini? Apa harus mengambil jarak karena Devan sudah beristri? Pikiran-pikiran itu membuat sesak dadanya hingga harus membuat Yasnina menghela nafas berat beberapa kali. Eyang mungkin tahu sakit yang dirasakannya, hingga tiba-tiba saja memeluknya.
Namun Yasnina seolah dirinya tegar menutupinya sesaknya tanpa tangisan. Devan masih ditempatnya melihat semua itu. Yasnina seharusnya menangis, tapi seperti biasa wanita itu akan berpura-pura kuat. Tak akan pernah sekalipun menunjukkan air matanya di hadapan orang-orang.
Pernikahan itu berlangsung di sebuah aula salah satu hotel. Yasnina baru mengetahui bahwa wanita yang dijodohkan dengan Devan adalah anak dari salah satu ustad kondang yang terkenal. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata wanita itu adik kelasnya. Yasnina ingat benar dengan pemilik nama Saskia Naula Rahma itu. Bagai lelucon hingga membuat Yasinan tersenyum kecut melihat pelaminan megah itu. Janji suci sudah terucap, Yasnina hanya bisa menahan perih di hatinya.
“Lo tahu kalau bininya Devan adik kelas kita dulu?” tanya Yasnina pada Jeffano yang hari ini turut menghadiri pesta pernikahan Devan.
“Baru tahu gue. Mereka kan ta’aruf, jadi Devan enggak cerita-cerita tuh.”
“Sekarang gue punya alasan buat merusak rumah tangga mereka.”
“Istigfar, Yas.”
“Jeff, lo ingatkan tuh cewek dulu pernah fitnah gue di sekolah sampai Devan marah-marah ke gue? Sampai gue dipanggil kepala sekolah, dan pulangnya gue dimarahin ayah.”
“Lo dendam-an person banget,” Jeffano tak habis pikir sebenarnya, tapi mengingat masa lalu yang disebutkan Yasnina, pria itu kemudian menjadi paham. Kesalahan di masa lalu itu bahkan membuat Yasnina harus menanggung malu. “Tapi, Saskia dulu juga langsung minta maaf pas tahu bukan lo yang salah.”
Yasnina sedang tidak ingin dinasehati, tidak ingin mendengar pendapat orang lain. Rasa sakit hatinya bertambah-tambah ketika melihat Devan bersanding dengan Saskia. Hadirnya Yasnina hari ini pun mutlak karena permintaan keluarga Devan, bahkan Yasnina menggunakan pakaian yang serupa dengan keluarga inti Devan. Tak peduli betapa berantakan hatinya ketika mendengar Sah terucap menggema di penjuru ruangan, Yasnina tetap hadir untuk keluarga yang dicintainya.
“Gue lagi benci sama lo, Jeff. Enggak usah belain tuh cewek.” balas Yasnina kesal dan berlalu menuju pelaminan.
Jeffano menggerutu karenanya. “Dasar wanita, dia yang salah dia juga yang ngambek. Harusnya gue yang marah.”
Jeffano menyusul langkah Yasnina ke pelaminan. Siapapun tak akan menyangka bahwa Yasnina sedang mengalami patah hati yang hebat. Langkah kaki yang mantap, senyum mengembang penuh percaya diri yang ditunjukkan pada publik adalah topeng guna menutupi sedihnya. Devan bahkan yang melihat Yasnina mendekat sampai tak habis pikir, apalagi ketika melewati kedua orang tua Saskia dengan tidak sopan, lalu melewatinya begitu saja.
Langkah kaki Yasnina berhenti tepat di hadapan Saskia. “Selamat ya atas pernikahannya, semoga lo enggak pakai cara curang kayak yang dulu.”
Saskia tampak sekali memaksakan senyum. “Terima kasih Kak karena sudah mau datang.”
Yasnina lalu menatap Devan. “Aku enggak akan berdo’a buat kebaikan pernikahan kamu,” katanya lalu sedikit mendekat dan bicara dengan suara kecil. “Kalau bisa jangan pernah bahagia.”
Kedua tangan Devan sudah mengepal kuat, namun pria itu menahan diri untuk tidak marah di hari pernikahannya sendiri. Devan hanya memberikan isyarat pada Jeffano untuk segera membawa Yasnina turun dari pelaminan. Mengerti akan ketegangan yang terjadi, Jeffano menarik tangan Yasnina dengan lembut. Yasnina menurut saja, lalu menyalami orang tua Devan. Sebelum turun Sarjita mengajak Yasnina berfoto bersama.
“Foto dulu ya?”
“Boleh.”
Dengan bantuan fotografer mereka berbaris rapi. Yasnina berdiri di samping Devan, dan Jeffano berdiri di samping Saskia. Terlihat sempurna dalam beberapa kali tangkapan kamera. Sedangkan Devan yang sejak tadi tampak gusar memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia tahu benar menghadapi Yasnina dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah.
Saat sesi foto selesai, Yasnina sebelum turun dari pelaminan berbisik pada Saskia. “Ngomong-ngomong Devan punya rahasia dengan gue.”
***
Devan sempat khawatir kalau Yasnina akan mengacau di pernikahannya, meski sempat membuatnya sedikit tegang di pelaminan, namun setidaknya pernikahannya berjalan dengan lancar. Devan merasa beruntung bisa menikahi Saskia, dari apa yang didapatnya saat proses ta’aruf, pria itu yakin Saskia memang pilihan terbaik dari yang baik.
“Mas Devan?” panggil Saskia pada Devan yang sedang melamun duduk di ranjang.
Devan menoleh menatapnya dengan seulas senyum. “Iya?”
“Boleh aku tanya sesuatu?” Saskia datang mendekat, ikut duduk di tempat yang sama dengan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
“Silahkan. Mau tanya apa?”
“Ini tentang masa lalu mas Devan,” jawab Saskia sedikit menunduk sambil memainkan jari-jarinya dengan gugup. “Mas Devan kan sudah lama pacaran sama kak Yasnina. Apa urusan di antara kalian sudah benar-benar selesai?”
Devan tahu bahwa selama ini orang-orang mengira dirinya berpacaran dengan Yasnina, tapi hanya dirinya yang tahu persis seperti apa hubungan mereka sebenarnya. “Mas enggak pernah pacaran dengan Yasnina. Kami hanya dekat karena saat itu mas melihatnya nyaris bunuh diri.”
“Bunuh diri?”
“Ada cerita yang panjang di balik semua itu. Hanya saja cerita itu bukan lagi sesuatu yang harus dibahas sekarang,” Devan meraih kedua tangan istrinya. “Tolong percaya padaku, Sas. Aku menikahimu karena Allah. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Yasnina.”
Saskia lega mendengarnya. “Syukur deh. Aku sempat takut, apalagi waktu tadi di pelaminan.”
“Jangan dengarkan apapun yang Yasnina katakan padamu.”
“Iya, Mas.”
Devan ingin mengubur obrolan mereka tentang Yasnina dengan menyentuh Saskia lebih jauh, mencium bibirnya. Akan tetapi kilatan adegan ranjangnya dengan Yasnina belum lama ini membuat Devan melepaskan Saskia secara tiba-tiba. Ada rasa bersalah dan berdosa ketika menyentuh Saskia. Bayangan itu rupanya enggan pergi.
“Kita istirahat ya, Mas lelah.”
Saskia mengangguk dengan sedikit kecewa.
Ketika Saskia membaringkan dirinya, Devan dengan telaten menyelimuti istrinya itu. Turut serta dia berbaring di sisi Saskia, berusaha memejamkan matanya. Beberapa saat sampai dengkuran halus Saskia terdengar, Devan membuka matanya. Rupanya dia tak mampu untuk lelap malam ini. Devan hanya diam memandangi wajah tenang Saskia, namun pikirannya melayang kemana-mana. Perihal dirinya yang pernah tidur dengan Yasnina itu menjadi rahasia besarnya.
Baru sehari usia pernikahannya Devan sudah merasa dirinya begitu tega mengkhianati Saskia. “Maafkan, Mas.”
Lalu Devan beranjak dari tempat tidurnya. Lebih memilih melarikan pikirannya yang kacau dengan keluar dari kamarnya. Rumahnya sudah sepi, keluarganya mungkin kelelahan. Esok hari Devan berencana pindah ke rumah baru yang sudah disiapkannya. Rumah yang dia bangun seperti gambaran rumah impian yang pernah Yasnina sampaikan padanya. Devan duduk termenung di dekat kolam renang.
“Kamu enggak tidur, Bang?” tanya Sarjita yang hendak mengambil air di dapur namun mendapati putranya duduk seorang diri di luar.
“Enggak bisa tidur, Mah.”
Sarjita merapatkan pakaian hangatnya, wanita itu ikut duduk di sana. “Pernikahan ini kamu yang putuskan. Mama dan papa enggak pernah bertanya kenapa kamu memilih menikahi wanita lain dibandingkan Yasnina, itu urusan kamu. Mama hanya berpesan jangan sekali-kali menyesali pernikahan ini, sebab pernikahan adalah janji kamu dengan Allah langsung.”
“Maaf karena Abang mengambil keputusan sepihak.”