Amelie's POV.
Tubuhku kini berada di ranjang berukiran king size dengan permukaan yang lembut dan empuk. Sementara itu di depan wajahku, sebuah dada bidang yang sangat mempesona selalu berhasil menghipnotis pikiranku.
Dia bergerak intens menciptakan kenikmatan di bawah sana membuat pikiran semakin melayang. Aku tak bisa berpura-pura lagi di hadapannya. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, dia seksi dan hot.
"Jangan hentikan ini." Tanpa sadar mulutku mengatakan itu. Aku sudah tak bisa berpikir, yang aku inginkan sekarang hanyalah waktu ini jangan sampai cepat berlalu.
Tubuhnya penuh dengan keringat, begitu pun dengan aku. Nafas kami terengah-engah, namun baik aku dan dia sama sekali tidak ada yang mau berhenti. Rasa ini terlalu sayang untuk dihentikan. Sebelum semuanya reda, aku ingin menikmati setiap detiknya.
"Kamu cantik, sexy dan hot. Siapa namamu?"
"Bukankah lebih baik kita tidak mengetahui siapa nama masing-masing, Mr. Mata Hijau."
"Why?" Ia terengah. "Bukankah lebih baik jika tahu?"
Aku menggeleng. "Lebih baik tidak."
Benar apa yang dikatalan Gwendolyn, ini terasa aneh, seperti tidak nyata tetapi terjadi secara jelas dalam diriku. Seperti yang sudah dikatakannya, aku juga merasa tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi malam ini di antara aku dan dia.
Tubuhku diputar dengan mudahnya tanpa melepaskan penyatuan. Rasa yang diterima tubuhku berbeda, kali ini lebih terasa daripada sebelumnya.
Setelah berpacu dengannya selama beberapa saat, seketika aku merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh. Mendadak tubuhku melemas, lantas ambruk ke atas ranjang. Namun dia yang masih ingin menikmatinya mengangkat tubuhku kembali dengan kedua tangan.
"Kamu sangat hebat, Mrs. Pinky. Aku menyukai permainanmu."
"Ini karena efek bir yang aku minum terlalu banyak tadi. Maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam permainan teman-temanku."
Setelah dia menyelesaikannya, seketika aku merasa malu. Ada perasaan menyesal dalam hatiku karena sudah mengajaknya untuk melakukan sex dan bahkan kita berdua tidak saling mengenal.
"Tidak, tapi kamu memang hebat. Kamu cukup berani untuk melakukan sex pertama kali dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah kamu kenali."
Kedua mataku melebar. "Dia benar, aku memberikan keperawanan kepadanya, kepada orang yang tidak aku kenali. Bagaimana bisa?
***
Terbangun dari tidur, aku merasakan gesekan kain yang halus dan lembut pada tubuhku. Seketika aku mengingat apa saja yang sudah terjadi tadi malam.
Menoleh ke sekitar, aku tidak menemukan apapun selain pakaianku yang berserakan di lantai dan tas selempang yang ada di atas meja kecil dekat ranjang.
Aku meraih tas berwarna putih dengan hiasan manik-manik di permukaannya, lantas mengambil smartphone di dalamnya.
"Kenapa kamu belum pulang juga? Apa kamu lupa kalau hari ini aku akan mengenalkan kekasihku kepada kamu dan mama?"
Pesan singkat yang aku terima dari Matilda segera membuatku tersadar jika aku tengah melupakan sesuatu. Aku memunguti semua pakaian yang berserakan dan mengenakannya kembali, memperbaiki make up dan pergi meninggalkan kamar hotel.
"Pesannya dikirim satu jam yang lalu, semoga saja aku belum terlambat," lirihku.
Taksi yang aku tumpangi melaju dengan kecepatan yang sedang. Jalanan yang macet membuat aku sedikit khawatir, akh tidak ingin mengecewakan Matilda dengan tidak hadir di acara spesialnya. Apalagi aku juga penasaran dengan siapa pacar kakak angkatku itu yang dikabarkan adalah seorang Alpha.
"Bisakah kita melewati jalan pintas?" tanyaku melihat kemacetan yang kian mengular di depan sana.
Laki-laki dengan janggut tebal berwarna hitam itu menggelengkan kepala. "Tidak ada jalan pintas untuk menuju ke titik tujuan, Nona."
Mendengar jawaban itu, aku menyandarkan tubuh seraya berharap semoga saja pacar Matilda belum sampai di rumah.
Sebuah mobil berwarna merah tua terparkir di depan rumah. Seketika itu aku merasa bersalah terhadap Matilda dan kecewa terhadap diriku sendiri.
Aku terlambat karena kejadian semalam, seharusnya aku tidak melakukan itu, seharusnya aku tidak memilih dare dan membiarkan menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya saja. Semua penyesalan itu hadir memenuhi hati dan pikiranku.
"Matilda, maaf--" Aku tak melanjutkan kalimatku.
Permintaan maaf sudah aku siapkan sebelum tanganku meraih gagang pintu dan membukanya. Namun seketika aku terdiam saat melihat tiga orang yang berada di dalam rumah. Tidak ada yang aneh dengan Matilda dan ibu, namun laki-laki itu.
"Kenapa dia ada di sini?" lirihku.
Tampilannya masih terlihat maskulin seperti semalam. Ia nampak segar tidak seperti aku yang masih acak-acakan. Tidak hanya aku, sepertinya dia juga terkejut karena sepasang mata dengan manik berwarna hijau yang mendadak terbuka lebih lebar daripada biasanya.
Aku meneruskan langkah. Suara sepatu heels yang aku kenakan menggema di seluruh ruangan.
"Amelie, kenapa kamu terlambat?"
Pertanyaan Matilda sama sekali tak terdengar olehku. Pandangan mataku terpaku pada satu titik dengan seorang laki-laki yang berdiri di sana.
Laki-laki dengan wajah tampan dan bola mata berwarna hijau itu juga menatap ke arahku, membuat tatapan mataku seakan terkunci dan tidak bisa melihat ke arah lain selain kepada dirinya.
Serigala dalam diriku rasanya ingin berteriak menyuarakan sesuatu. Namun aku menahannya. Ini tidak seharusnya terjadi.
"Mate!"
Aku ingin menolak kenyataan ini, mate-ku adalah pacar kakak angkatku sendiri. Aku tidak bisa melakukan ini, mengecewakan Matilda adalah hal yang sama sekali tidak ingin aku lakukan.
Semakin dekat bau wangi vanilla dengan kombinasi kayu tercium semakin jelas, menandakan bahwa ia memang benar-benar mate yang sedang aku cari.
"Amelie, ada apa denganmu? Kenapa kamu aneh sekali?" Matilda mengernyitkan dahi. Tidak kunjung mendapat jawaban, Matilda bersuara dengan lebih keras. "Amelie, apa kamu sengaja tidak mendengarkanku?!"
"Ma--Matilda, a--aku--"
"Huh, kamu memang tidak pernah berubah, Amelie!" Ia memutar bola matanya kesal usai memotong kalimatku begitu saja. "Untung saja hari ini dia tidak terlalu sibuk." Lirikan matanya melihat ke arah laki-laki itu sejenak.
"Uhm, aku benar-benar merasa bersalah. Maaf aku terlambat."
"Maafkanlah dia, Matilda," ujar Mama turut berbicara.
Matilda kembali memutar bola matanya. "Okay, okay, atas permintaan mama aku memaafkanmu," ujarnya meskipun terlihat jelas jika ia tidak ikhlas mengatakannya. "Bersihkan dirimu dan bergabung bersama kami nanti."
Aku mengangguk, lantas buru-buru masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana mungkin mate-ku adalah pacar Matilda?" lirihku setelah masuk ke dalam kamar. "Tidak, dia, Matilda adalah luna-nya yang sebenarnya. Bukan aku."
Lima belas menit berlalu, aku keluar dari kamar. Mengambil jus jeruk di atas meja, aku kembali bergabung dengan mereka.
"Amelie, dikarenakan kamu terlambat jadi aku harus mengenalkan dia dua kali kepadamu. Dia adalah Alpha Rexton, pacarku."
Menelan salivaku kuat, salah satu tangan mulai terangkat untuk saling berjabat. Pandangan mataku sama sekali tidak bisa menatap wajah dan matanya.
"Rexton." Ia mendekatkan tubuhnya usai berjabat tangan denganku. "Hi, mate."
Rexton's POV.
Besok pacarku akan membawaku bertemu dengan keluarganya, tentu saja aku merasa sangat senang karena akhirnya aku bisa merasakan manisnya cinta. Apalagi pacarku yang bernama Matilda itu sangat cantik, baik dan yang utama adalah cerdas karena aku akan sangat membutuhkannya untuk membantuku dalam segala hal.
Aku yang tengah duduk di salah satu sofa dalam bar tertegun kala melihat seorang perempuan dari gerombolan tiga perempuan lain. Dress-nya berwarna merah muda yang lembut, begitu juga dengan heels yang dia kenakan. Sepertinya mereka sedang melakukan sebuah permainan.
Perempuan itu berdiri, lantas berjalan ke arahku. Semakin dia mendekat, aku mencium wangi vanilla dengan kombinasi kayu yang kuat. Ia mendekat ke arahku dan wangi itu semakin jelas.
"Mate!"
"H--hai," ujarnya, aku bisa merasakan jika dia sangat canggung. Mungkin belum terbiasa mendekati laki-laki. "Bisakah aku duduk di sini."
Aku tersenyum, sepertinya dia belum menyadari jika kita adalah mate. "Tentu," ujarku yang lantas sedikit bergeser agar ada tempat untuknya duduk dengan nyaman.
"Thank you," ujarnya yang lantas duduk dekat denganku dan aroma itu semakin jelas tercium di hidungku. "Ehm, kamu terlihat begitu tampan."
Sama sekali aku tidak menyangka sebelumnya jika dia akan memuji parasku. Aku memberikan senyuman, lantas mengusap tengkuk karena kecanggungan. Alih-alih meletakkannya lagi di depan, aku memilih untuk meluruskan tanganku pada sandaran sofa melewati belakang tubuhnya.
Wajah cantik di bawah remang cahaya lampu itu begitu menggoda. Kedua alis yang tebal, hidung mancung, sepasang mata hijau dan ... bibir berwarna pink yang glossy itu sangat menggoda. Aku tak sabar merasakan manis bibir ini.
"Kamu juga sangat cantik, Mrs. Pinky." Aku balik memujanya, wajahku semakin mendekat hingga nafasnya bisa aku rasakan menerpa wajahku.
"Uhmm, Mr. Maskulin aku mendapat tantangan untuk--."
"Aku tahu," potongku. "Bagaimana jika kita memesan kamar hotel untuk malam ini, Mrs. Pinky?"
Aku sama sekali tidak yakin jika dia akan menerima tawaranku tersebut. Teman-temannya hanya memberikan dare berupa mengajakku melakukan sex dan seharusnya sudah cukup denganku yang hanya memberikan jawaban ya atau tidak.
Sebuah hal yang sama sekali tidak aku sangka adalah dia yang menganggukkan kepala dan menyetujui saran dariku. Tanganku masuk ke dalam saku celana dan mengambil smartphone di dalamnya, aku membooking kamar hotel dan langsung membawanya pergi ke sana.
Meskipun pengaruh wine yang aku minum semakin terasa, aku mencoba untuk terus fokus berkendara. Setelah lima belas menit berlalu, aku dan dia kini sudah berada dalam sebuah ruangan dengan ranjang berukuran king size di bagian tengahnya.
"Tubuhmu sangat menggoda, Mrs. Pinky." Aku melepaskan pakaiannya satu persatu, begitu juga dengan milikku.
Ia tak memberikan jawaban apapun, mungkin sudah sangat tidak tahan dengan apa yang akan aku lakukan.
Aku memulai penyatuan, dia merintih. Rasanya sangat lembut, hampir semua sisi menyentuh bagian yang lebih lembut dari es krim namun ini terasa sangat hangat.
Milikku merasa nyaman berada di dalam sana, apalagi saat aku menggerakkannya dan terjadi pergesekan antara kita. Aku sangat menyukainya.
"Kamu cantik, sexy dan hot. Siapa kamu?" Aku merasa sangat penasaran, bagaimana bisa aku tidak tahu nama mate-ku sendiri?
"Bukankah lebih baik kita tidak mengetahui siapa nama masing-masing, Mr. Maskulin."
"Why?" Nafasku mulai terengah, aku menyukai nama panggilan darinya untukku. "Bukankah lebih baik jika tahu?"
Dia menggelengkan kepala. "Lebih baik tidak."
Aku tak melanjutkan obrolan ini, sekarang tubuhku terfokus pada rasa yang tidak aku dapatkan pada perempuan lain termasuk Matilda.
Bukannya aku ingin berselingkuh darinya, namun perempuan yang di depanku adalah mate-ku yang sebenarnya. Bagaimana aku mengatakannya?
Aku tidak tahu itu, meskipun ada perasaan bersalah dalam diriku, namun aku tak bisa menghentikan apa yang tengah terjadi.
"Kamu sangat hebat, Mrs. Pinky. Aku menyukai permainanmu."
"Ini karena efek beer yang aku minum terlalu banyak tadi. Maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam permainan teman-temanku." Aku dengar dia masih saja mengelak.
"Tidak, tapi kamu memang hebat. Kamu cukup berani untuk melakukan sex pertama kali dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah kamu kenali." Entah benat atau tidak, tapi itulah yang aku rasakan. Ia cukup hebat untuk bisa melakukan sex pertama kali, apalagi dia melakukannya dengan orang asing yang baru dia temui malam ini di bar.
Tubuhnya berbalik membelakangiku sekarang. Bahunya yang putih mulus terlihat basah setelah permainan panas yang baru berakhir beberapa menit yang lalu.
Bibirku tersungging menciptakan senyuman. Namun tak bertahan lama, senyuman itu menghilang setelah aku teringat dengan pacarku.
"Matilda, apa yang harus aku katakan kepadamu? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
***
Tujuh tahun menunggu, kini baru ketemukan mate-ku saat aku sudah berpacaran dengan perempuan lain. Lalu apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Matilda?
Tidak, dia sudah sangat baik dan hubungan kita berdua sudah terjalin selama dua tahun lamanya. Apalagi kita berdua juga sudah sama-sama serius, dia bahkan hendak mempertemukan aku dengan ibunya. Tidak mungkin jika aku memutuskan hubungan ini begitu saja.
Rumah yang nyaman meskipun tidak terlalu besar ini ditinggali oleh Matilda, ibunya dan adik angkat yang belum aku lihat keberadaannya.
"Maaf, Alpha Rexton, rumah kami tidak besar dan berantakan."
Aku terkekeh. "Tidak masalah, Mama," ucapku merasa senang menggunakan panggilan itu.
Pandangan mataku memperhatikan sekitar. Sebuah bingkai foto mencuri perhatianku. Di sana terdapat tiga orang perempuan, seorang yang lebih tua duduk di tengah sementara dua yang lainnya berdiri di kedua sisi.
Baru saja aku hendak melangkah mendekat, aku mendengar suara kendaraan yang berhenti di depan rumah. Meskipun samar, namun suara itu cukup jelas. Selanjutnya disusul suara langkah kaki yang cepat. Sementara aku kembali mencium aroma vanilla dan kayu yang kuat seperti semalam.
"Itu pasti dia baru pulang dari party." Matilda memutar bola matanya. "Dia selalu melakukan ini, mengacaukan semuanya. Tidak kenal waktu, ceroboh dan kekanak-kanakan."
"Siapa yang baru pulang?" tanyaku.
"Amelie, adik angkat menyebalkan yang sering aku ceritakan kepadamu itu."
Sedetik kemudian pintu rumah terbuka dan aku melihat perempuan yang sama seperti semalam. Aku bisa merasakan kedua mataku melebar begitu pula dengannya saat melihat aku berada di dalam rumah.
"Mrs. Pinky," lirihku, bibirku bergerak, namun tak terdengar sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Aku sama sekali tak menyangka jika adik angkat Matilda adalah mate yang dipilihkan The Mood Goddes untukku. "Di--dia adik angkatmu?"