Bab 1

"Dean jangan lari begitu sayang, nanti jatuh."

Alice menghela nafas pelan saat sang putri tak mendengarkan nasehatnya sedikitpun. Tapi biarlah, jarang jarang juga ia membawa putri kecilnya itu ke pantai seperti hari ini. Alice menatap hamparan laut di hadapannya. Mata wanita berusia 27 tahun itu seketika berubah keruh saat teringat pada seseorang yang sangat ia rindukan.

"Mama!" teriak si kecil Dean kesal menarik ujung dress ibunya. Alice sontak tersadar dari lamunannya.

"Ah iya, ada apa?"

"Mama setiap pergi ke pantai pasti selalu terlihat sedih. Mama teringat pada papa lagi?"

Alice terkekeh pelan, mengalihkan wajahnya untuk mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.

"Hm, memangnya Dean tidak rindu?"

Dua alis Alice terangkat saat pertanyaannya dihadiahi anggukan cepat. Ia lalu jongkok untuk menyesuaikan

tingginya dengan sang anak.

"Dean rindu, tapi Dean tidak akan sedih. Papa pasti sudah bahagia kan? Dia ada di tempat yang sangat

indah ... di bawah laut biru. Jadi mama juga tidak perlu khawatir."

Alice tak bisa lagi membendung air matanya, ia langsung memeluk putri kecil nan cantiknya itu.

Pandangannya menatap jauh lautan luas di hadapannya. Ingatannya melayang pada orang itu. Seseorang

yang sangat ia rindukan kehadirannya.

***

Jeritan dan desahan bergema di salah satu kamar apartemen malam itu. Seorang pria sedang menikmati

tubuh wanita yang meringkuk di bawahnya, sayangnya hal itu tidak berlangsung lama ketika wanita lain

tiba-tiba mendobrak pintu kamar tempat mereka berhubungan badan.

Bam!

"Apa-apaan ini Reza? Apa yang kau lakukan?" teriak wanita itu.

Reza, pria yang asyik dengan aktivitasnya tadi tiba-tiba menjadi gugup. Ia lalu segera menarik selimut

untuk menutupi tubuh telanjangnya dan wanita yang masih berada di bawahnya.

"Tidak, ini tidak seperti yang kau pikirkan Alice, biarkan aku menjelaskannya."

Reza bergegas turun dari tempat tidur. Dia mengenakan pakaiannya secepat mungkin dan melangkah

mendekati Alice, wanita yang merupakan kekasihnya yang kini memergokinya sedang tidur dengan wanita lain. Dengan tatapan menyedihkan, Reza meraih tangan Alice yang masih berdiri di tempatnya dengan mata memerah.

"Dengar, aku hanya ... wanita itu-"

Alice tak bisa lagi menahan air matanya. Jujur ini bukan pertama kalinya dia menemukan Reza tidur dengan wanita lain. Tanpa mau mendengarkan penjelasan pria itu, ia kemudian menepis tangannya dan kemudian lari darinya tanpa peduli seberapa keras pacarnya itu memanggil namanya. Ia pergi ke tempat yang biasa ia kunjungi kapan pun ia ingin menenangkan pikirannya. Dan di sinilah Alice sekarang, di pantai.

Alice duduk di atas batu yang cukup besar.

Mengencangkan jaketnya karena angin malam yang dingin,

gadis itu kemudian terisak pelan. Ingatannya kembali pada Reza. Alice telah menjalin hubungan dengan

pria itu untuk waktu yang lama. Hubungan mereka bahkan sudah terjalin selama 5 tahun. Bagi Alice, itu

bukan waktu yang singkat. Hubungan mereka semakin dekat setelah kedua keluarga mereka menjalin

hubungan bisnis. Ayah Alice menyayangi Reza seperti putranya sendiri, begitu pula keluarga Reza padanya.

Hubungan mereka berjalan baik sampai suatu hari Reza memintanya untuk berhubungan. Alice jelas menolak karena sejak awal dia sudah memberitahu Reza bahwa dia hanya ingin memberikan tubuhnya

kepada Reza hanya setelah mereka menikah. Sejak itu, dia sering melihat kekasihnya itu tidur dengan wanita lain dengan alasan bahwa dia hanya mengikuti cara Alice.

Apakah alasan seperti itu dapat diterima?

Jika Reza benar-benar ingin melakukannya, mengapa tidak menikahinya saja? Kenapa harus dengan wanita

lain?

Pada awalnya Alice dapat menerima alasan itu, tetapi seiring berjalannya waktu, perilaku Reza semakin berubah terhadapnya. Komunikasi yang jarang, hanya bertemu sesekali, sampai akhirnya dia menemukan Reza melakukannya lagi, untuk alasan bodoh yang sama. Dia menikmati perselingkuhan dan menggunakan

prinsip Alice sebagai alasan.

Alice tidak bodoh. Dia berulang kali meminta Reza untuk mengakhiri hubungan mereka tetapi Reza selalu

menggunakan keluarga sebagai alasan. Ayah Alice, yang tahu segalanya, bahkan mendukung Alice untuk

tetap bersamanya. Alice tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sekarang, dia hanya akan menunggu ke mana

takdir membawa dirinya.

Alice menatap laut yang begitu tenang malam ini. Hanya sekali atau dua kali ombak menghantam karang. Sebuah kedamaian, laut selalu memberikan kedamaian bagi Alice, itulah mengapa gadis itu sangat menyukai laut, dia menyukai pantai. Rasa sakit di kepala dan hatinya langsung hilang ketika dia ada di sini. Senyuman kecil muncul di bibir gadis itu.

***

Seekor mermaid mengintip seorang gadis dari balik batu besar. Ini pertama kalinya dia melihat gadis itu

dari dekat, biasanya dia hanya akan melihatnya dari kejauhan. Archer, itulah nama putra mermaid itu,

sudah lama tertarik pada gadis di depannya, meskipun dia tidak mengenalnya, dia bahkan tidak tahu

namanya, tetapi gadis itu berhasil membuatnya jatuh, jatuh cinta. Matanya yang selalu terlihat kosong,

senyum di bibirnya, dan dua kaki ramping yang selalu ia peluk erat. Segala sesuatu tentangnya membuat

Archer jatuh cinta.

"Aku tahu kau pasti ada di sini."

Archer terkejut ketika mendengar suara seseorang di belakangnya. Takut ketahuan oleh gadis itu, dia lalu

meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, meminta Kai, temannya, sesama mermaid untuk diam. Kai

menatap Archer datar.

"Apa kau tidak memiliki hal lain untuk dilakukan? Dengar, jika wanita itu menemukanmu, hidupmu sebagai

mermaid akan berakhir. Kau akan berakhir di museum dan ditonton oleh manusia seumur hidupmu.

Manusia bukan makhluk yang baik!"

Archer yang awalnya menatap gadis itu menoleh ke arah Kai, memutar matanya malas. Ini mungkin yang

ke-132 kalinya Kai mengatakan hal yang sama. Setiap hari Kai selalu melarangnya untuk berhubungan

dengan dunia manusia.

"Urus urusanmu sendiri Kai. Jangan pikirkan aku. Aku tahu apa yang harus dan tidak harus kulakukan."

Kai menghela nafas. Tepat ketika dia akan berbicara lagi, gadis yang diintip Archer tiba-tiba mendekati

mereka. Kai yang menyadarinya menarik Archer untuk menyelam.

***

Alice mengerutkan kening ketika dia mendengar bisikan dari balik batu besar yang berjarak beberapa langkah dari batu tempat dia duduk. Awalnya Alice mengabaikan bisikan itu, berpikir bahwa dia baru saja salah dengar, tetapi ketika bisikan itu semakin keras, dia langsung merinding. Menelan ludah gugup, Alice kemudian mengambil langkah untuk mendekati batu besar itu dan melihat apa yang ada di baliknya.

Alice memejamkan matanya, mungkinkah itu hantu? Tapi apa iya ada hantu di pantai? Alice berpikir itu

tidak mungkin. Tapi hantu bisa ada dimana-mana, kan? Alice menyalakan senter ponselnya dan kemudian dengan cepat mengarahkan senternya ke belakang batu.

Alice mengerutkan kening dalam kebingungan ketika dia melihat tidak ada apa-apa di sana. Hanya percikan

air yang muncul. Mungkinkah itu ikan? Entahlah, Alice memilih untuk mengabaikannya. Tepat ketika

gadis itu hendak melangkah kembali ke kursinya, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Maria, sahabatnya muncul di sana.

"Halo," kata Alice, membuka percakapan.

"Alice kau di mana?" tanya Maria. Dia khawatir ketika dia membaca pesan Alice tentang Reza. Alice

tertawa pelan, Maria adalah satu-satunya alasannya bertahan dengan kehidupannya saat ini. Dia berbagi banyak hal dengan sahabatnya itu.

Bab 2

"Aku di tempat biasa, di pantai," kata Alice dengan santai. Maria masih khawatir di senerang sana.

"Cepatlah pulang. Sudah hampir larut malam, apa kau tidak takut diculik?" Alice menertawakan kata-kata Maria, Mana mungkin dia diculik semudah itu?

"Oke oke, aku pulang. Tenang Maria, kau tidak perlu takut. Alice tidak mudah diganggu."

Alice tertawa ketika Maria masih mengoceh. Tidak ingin membuat temannya khawatir, Alice akhirnya menuruti perintahnya dan meninggalkan pantai.

***

"Jika dia melihat kita lebih awal, maka hidup kita dan masa depan kita pasti selesai!" ujar Kai, jantungnya masih berdebar kencang karena ketakutan.

Bertentangan dengan Kai, Archer malah tersenyum. Senyum yang sangat lebar.

"Alice ... nama yang cantik."

***

"Dunia manusia tidak seindah yang kau pikirkan. Mereka itu menyeramkan, mereka mungkin tidak punya kekuatan seperti kita tapi entah kenapa mereka selalu bisa mengancam keselamatan kita. Jadi berhentilah berpikir untuk naik ke atas sana dan bergaul dengan mereka. Kau mengerti? Harus berapa kali aku menjelaskan kalau-"

"Ide bagus!"

"A- apa?"

Kai terbelalak saat Archer malah tersenyum lebar setelah mendengar peringatannya. Bukannya merasa takut pria itu malah terlihat lebih bersemangat. Tiba-tiba perasaannya berubah tidak enak. Entah kenapa ia yakin ada hal buruk yang mermaid tampan itu rencanakan.

"Terimakasih Kai, karna perkataanmu aku jadi sadar. Aku harus naik ke atas sana dan hidup layaknya seorang manusia untuk tahu apakah pemikiranku selama ini benar atau salah. Aku tidak bisa mengatakan kalau perkataanmu salah jika aku belum membuktikannya sendiri. Aku pergi dulu."

Kai terdiam. Rasanya ekornya tidak bisa berenang setelah mendengar perkataan sahabatnya itu. Kai baru sadar dari lamunannya setelah beberapa saat kemudian Archer sudah menghilang dari depannya.

"Sial!" maki Kai. Ia kemudian berenang menyusul Archer yang pergi entah kemana.

***

"Iya Maria ... aku tahu. Kau tidak perlu khawatir."

Alice menghela nafas panjang saat Maria, sahabatnya yang sekarang sedang menelponnya terus mengingatkannya untuk berhati-hati. Padahal Alice hanya ingin pergi ke pantai yang biasa ia datangi saat pikirannya sedang suntuk. Ia ingin menjernihkan pikirannya bukan untuk bunuh diri atau apalah yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.

"Oke aku paham. Sekarang aku harus pergi, jadi telponnya aku tutup dulu, dah ...."

Alice tersenyum sembari menggeleng pelan mengingat betapa cerewetnya sahabatnya itu. Kalau dipikir-pikir sudah cukup lama ia dan Maria tidak bertemu. Mau bagaimana lagi, Maria agak sibuk belakangan. Namanya sedang naik sebagai seorang YouTuber. Meski begitu, Alice senang karna Maria selalu menyempatkan diri untuk menghubunginya. Alice harus menemui gadis itu nanti.

Alice melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Menikmati perjalanan menuju tempat biasa di mana ia menghabiskan waktu luangnya. Gadis cantik itu tersenyum saat beberapa menit kemudian matanya disuguhi hamparan laut biru dan pasir putih yang cantik. Setelah memarkirkan mobilnya, gadis itu kemudian melangkah cepat menyusuri pantai, duduk di batu karang besar di mana ia biasa menghabiskan waktunya. Cuaca sangat bagus hari ini, meski beberapa kali ada ombak yang cukup tinggi. Alice yang awalnya memakai cardigan bahkan membukanya karna merasa agak kegerahan, menyisakan baju kaos putih dan hotpants membalut tubuh indahnya.

Tiba-tiba Alice merasa sangat ingin berenang, sepertinya akan terasa lebih segar jika ia melompat ke dalam air jernih di depannya. Tanpa pikir panjang, Alice kemudian melompat ke dalam laut dan berenang menuju bagian yang sedikit lebih dalam.

***

"Sial!" teriak Archer saat melihat gadis yang sejak tadi ia intip tiba-tiba melompat ke laut. Matanya terbelalak saat gadis itu tak kunjung timbul ke permukaan. Pikiran buruk tiba-tiba menghampiri Archer. Bagaimana kalau gadis itu bunuh diri? Bagaimana kalau dia berencana mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan dirinya? Archer banyak menemukan manusia yang mengakhiri hidup seperti itu. Entah apa masalah yang mereka hadapai hingga mereka berakhir memutuskan untuk mengambil langkah mengerikan seperti itu. Hal itu juga lah yang memperparah pandangan para mermaid soal manusia. Jika pada sesamanya sama mereka bisa setidak peduli itu, apa lagi pada makhluk yang berbeda seperti mereka.

Archer yang panik langsung berenang menyusul gadis itu. Berusaha sebisa mungkin mengikutinya tanpa ia ketahui, sekedar memastikan apakah benar gadis itu berniat bunuh diri atau tidak.

Archer menghela nafas lega saat tahu bahwa Alice hanya berenang. Ia tersenyum saat melihat senyum lebar di wajah Alice. Jarang sekali ia melihat senyum selebar itu di bibir ranum milik gadis cantik itu. Biasanya jika bukan wajah murung, maka yang ia tunjukkan adalah senyum kecil. Archer dibuat turut senang karenanya. Sayangnya itu tak bertahan lama saat Archer sadar kalau gadis itu mulai terseret ombak. Tanpa pikir panjang, Archer langsung berenang dengan cepat berusaha menyelamatkan Alice.

Alice tersentak saat tiba-tiba kakinya kram, oksigennya semakin habis saat ia merasa tubuhnya diseret ke tengah laut oleh ombak. Alice yang tidak bisa apa-apa hanya berusaha menggerakkan kakinya. Apa ia akan mati di sini? Apa hidupnya akan berakhir di tempat di mana ia paking menikmati waktunya? Itu sangat sadis! Alice masih ingin hidup. Atau kalau pun ia harus mati maka bukan di sini. Saat kesadaran gadis itu mulai hilang, sekelebat bayangan yang terlihat seperti seorang pria mendekatinya dan merengkuh pinggangnya. Alice berubah lega, sadar bahwa ada seseorang yang menyelamatkannya.

Alice terengah saat ia dan pria yang menyelamatkannya akhirnya sampai di pinggir pantai. Menarik nafas berkali-kali, Alice mengucapkan terima kasih pada pria yang tidak ia ketahui namanya itu karna telah menyelamatkannya. Tapi mata Alice terbelalak saat ia melihat bahwa seseorang yang menyelamatkannya bukanlah manusia biasa, melainkan seorang pria tampan dengan otot sempurna membalut tulangnya dan ekor dengan sisik cantik dari pinggang hingga ujung ekornya.

"Ka-kau? Siapa kau?" teriak Alice dengan mata terbelalak.

"Aku? Aku Archer," kata Archer dengan senyum cerah di wajahnya.

Alice menggelengkan kepalanya. Dia kemudian melihat ekor Archer. Tidak, tidak mungkin pria itu adalah mermaid. Mereka tidak nyata. Itu tidak mungkin. Alice kemudian menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mengira pria itu adalah Merman? pasti dia hanya sedang shuting.

"Jadi, kamu sedang membuat film atau apa? Kenapa kamu memakai kostum mermaid seperti itu? Oh, tapi ... sebelumnya terima kasih karena sudah menyelamatkanku."

Dua alis Archer mengerut. Tatapannya jatuh pada ekornya sendiri dan kembali menatap Alice. Oh, gadis itu pasti tidak percaya bahwa dia adalah seorang Merman. Ya, memang sulit dipercaya. Mermaid selalu hidup bersembunyi, di bawah laut yang paling dalam. Manusia bahkan akan sulit menemukan mereka bahkan dengan menggunakan teknologi secanggih apapun, karena di bawah sana tekanan air sangat tinggi. Apapun tak akan berhasil melewatinya. Itu sebabnya keberadaan mereka selalu dianggap sebagai mitos belaka meskipun beberapa orang mengaku pernah melihat wujud mereka.

Bab 3

"Maksudnya? Oh maksudmu ekor ini? Ini ekor asli," ujar Archer santai yang dihadiahi kekehan canggung oleh Alice.

"A- apa?" tanya gadis itu memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Tidak tidak, ia pasti salah dengar. Pria tampan dengan bentuk tubuh sempurna di hadapannya ini, yang beberapa menit lalu menyelamatkan hidupnya itu, pasti adalah manusia biasa seperti dirinya. Bukan Jerman, seperti yang ia bayangkan. Gila saja kalau makhluk mitologi seperti itu benar-benar ada. Ah, pria tampan ini pasti sedang shuting, begitu pikir gadis cantik itu. Alice tertawa canggung. Dia kemudian melihat sekeliling. Namun sejauh mata memandang memang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua, tidak ada kamera atau kru yang bertugas menyorot setiap adegan. Gadis itu mulai berkeringat dingin ia menelan ludahnya gugup.

"Kau pasti bercanda," ujar Alice dengan nada pelan diiringi tawa kecil.

Archer menghela napas. Dia kemudian menggoyangkan ekornya.

"Nah, biar ku jelaskan. Namaku Archer dan aku memang seorang Merman. Ini adalah ekor asli bukan kostum atau apa pun sebutannya. Aku adalah Merman. Seorang Merman yang nyata. Tapi tenang saja, aku bukan makhluk yang berbahaya. Kau aman. Apakah kau punya pertanyaan lain?"

3. Tinggal Bersama

"Apa kau benar-benar mermaid? Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini!" Alice menatap seorang pria dengan tubuh berotot yang alih-alih memiliki ekor daripada kaki di depannya.

"Ya. Kau bisa menyentuhnya jika tidak percaya," kata Archer, mermaid yang menyelamatkan Alice ketika gelombang laut mencoba menyeretnya beberapa menit yang lalu.

Alice bergerak mendekati Archer perlaha. Mengangkat tangannya, ia lalu meletakkan tangan mungil itu perlahan ke arah ekor Archer. Alice terkejut setelah menyentuhnya. Dia segera mundur dengan satu tangan menutupi mulutnya dan tangan lainnya menunjuk ke arah Archer.

"Kau nyata!" teriak gadis itu. Sumpah demi apapun! Ia tak pernah menyangka seumur hidupnya, ia akan bertemu dengan makhluk mitologi yang sejak dulu menjadi impiannya. Ia tak bisa mendeskripsikan betapa campur aduknya perasaannya saat ini. Satu sisi ia merasa takut karena makhluk yang ada di depannya ini terasa asing bagi penglihatannya. Namun di sisi lain ia merasa senang karena sebelum mati, ia bisa melihat sesuatu yang bahkan tidak akan pernah dipercaya oleh orang lain.

"Aku sudah bilang kan ...."

Alice perlahan kembali bergerak mendekati Archer dengan ekspresi tidak percaya di matanya.

"Yah. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mermaid. Sekarang, bisakah kau membantuku?"

Alice mengangguk cepat. Tentu saja ia akan membantu makhluk yang telah menyelamatkan hidupnya itu sebisanya. Ia bukanlah orang yang tak tahu balas budi.

"O-oh, ya, tentu saja. Ada yang bisa ku bantu?" tanya Alice kemudian.

"Aku ingin tinggal beberapa minggu di dunia manusia. Tidak ada yang spesial aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya hidup dengan kalian. Tapi aku tidak mengenal siapapun, jadi boleh aku tinggal di tempatmu? Aku tidak akan melakukan apapun aku bersumpah, lagi pula aku juga bukan makhluk berbahaya."

Alice tampak berpikir, matanya menatap lekat ke arah Archer. Melihat pria itu dari ujung kepala hingga ujung ekor- ya Tuhan! Ekor Archer menghilang! Beberapa detik lalu sesuatu yang penuh sisik itu masih ada di depan mata Alice tapi sekarang ekornya sudah berganti menjadi sepasang kaki. Alice yang terkejut akan fakta itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju mobilnya, apa lagi setelah matanya disuguhi pemandangan tubuh Archer yang hanya ditutupi oleh beberapa helai rumput laut yang Alice jamin akan langsung jatuh saat pria itu berdiri.

Archer menghela nafas panjang saat Alice menghilang dari pandangannya. Ya, dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Apa yang ia harapkan? Gadis yang ia cintai juga akan mencintainya? Itu gila. Bahkan cerita dongeng di dunia mereka tak berakhir seindah itu. Mereka bahkan berasal dari dunia yang berbeda. Mungkin Archer memang harus mendengar perkataan Kai. Tidak ada untungnya juga baginya untuk tinggal di daratan.

Baru saja pria tampan dengan tubuh sempurna itu berniat kembali ke laut, sebuah selimut lembut yang lumayan lebar dengan motif awan terlempar ke arahnya. Archer tentu terkejut, ia spontan berbalik, berusaha mencari dari mana kain itu berasal. Senyum seketika hadir di wajah tampannya saat melihat Alice yang dengan polosnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jadi ini alasan gadis itu pergi meninggalkannya? Lucu sekali. Padahal ia sudah berpikiran buruk soal gadis cantik itu.

"Kau sudah menutup tubuhmu? Aku tidak bisa membawamu ke rumahku dengan keadaan seperti itu. Orang-orang akan berpikiran buruk tentangku," ucap Alice dengan tangan yang masih menutup matanya.

Archer tertawa. Ia kemudian berdiri dan menutup tubuhnya dengan selimut lebar yang tadi Alice berikan.

"Ku pikir kau akan pergi dan meninggalkanku. Ternyata hanya mengambil ini untuk menutup tubuhku?"

Alice menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya memerah malu.

"T- tentu saja aku tidak keberatan kau tinggal di rumahku, kau juga sudah menolongku jadi aku harus balas budi. Aku hanya terkejut saat ekormu menghilang dan ... dan kau dalam keadaan telanjang! untung saja aku selalu membawa selimut dalam mobilku," jelas Alice. Gadis itu tentu tak ingin dianggap gila karena membawa pria telanjang ke rumahnya.

Archer tersenyum dan mengangguk pelan. Ia kemudian berjalan mendekati Alice. Alice yang melihat Archer mendekatinya seketika berjalan mundur dengan tangan menyilang di dadanya.

"M- mau apa kau?"

Archer tertawa keras melihat reaksi itu. Sepertinya mulai hari ini hidupnya akan lebih menyenangkan.

"Ikut denganmu tentu saja. Ayo, dimana rumahmu?"

"Ehm, o-okay." Alice melangkah cepat mendahului Archer, menutupi wajahnya yang memerah malu karna telah berpikir yang tidak-tidak pada Archer. Sedangkan Archer hanya tertawa dan melangkahkan kakinya menyusul Alice.

Archer masuk ke rumah Alice setelah gadis itu membukakan pintu untuknya. Dia tercengang ketika dia disuguhi hal-hal yang belum pernah dia lihat dalam hidupnya sebelumnya.

"Jangan terlalu norak."

Dilan terkekeh. Ia memutar bola matanya malas. Bukankah wajar jika makhluk laut sepertinya terkagum-kagum saat melihat hal-hal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya?

“Kamu tidak bisa melihat orang lain bahagia kan? Ini sesuatu yang baru bagiku, jadi wajar jika aku penasaran, aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku membawamu ke bagian terdalam dari laut."

Alice tertawa pelan. Meninggalkan Archer untuk melihat barang-barang di rumahnya sementara dia mengambil beberapa pakaian ayahnya yang tertinggal di rumahnya. Alice hidup sendiri sejak lulus SMA, tapi terkadang ayahnya menginap di rumahnya ketika mereka merindukan satu sama lain, begitu pula Alice yang terkadang tinggal di rumah ayahnya. Itu sebabnya dia setuju ketika Archer meminta untuk tinggal di rumahnya. Karena Alice memiliki ruangan yang jarang digunakan.

"Pakai ini. Jika kamu ingin hidup seperti manusia maka kamu harus memakai sesuatu untuk menutupi tubuhmu seperti yang dilakukan manusia lainnya. Orang telanjang akan dianggap sebagai orang gila."

Archer mendengus kesal ketika Alice melemparkan sepasang pakaian, mengalihkan perhatiannya yang sibuk melihat hal-hal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

"Tunggu apa lagi? Biar kutunjukkan kamarmu!"

Alice menarik tangan Archer ke kamar yang dulu digunakan ayahnya untuk tidur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED