Bab 1

Sahabat itu adalah suatu bonus di kehidupan kita, karena dengan sahabat kita bisa bertukar cerita dan masalah, tapi jangan salah memilih sahabat. Terkadang sahabat juga akan pergi saat kita sudah tidak punya apa-apa.

(***)

Dingin malam yang menerpa kulit pemuda-pemuda itu ditambah bunyi deru motor yang sangat kuat menambahkan semangat seorang Alfaro untuk lawan balap malam ini.

Brummm! Brummm! Brummm!

"Lo benaran pengen lawan dia?" tanya salah satu teman Faro.

"Lo tenang aja, Stevan, gue pasti bakal menang kok." Entah mengapa temannya ini selalu khawatir tentang dirinya yang jelas saat ini Faro hanya bisa menenenangkan temannya itu untuk tidak berpikiran buruk.

"Iya, gue percaya, tapi lo tetap hati-hati, kita gak tau cara main lawan lo ini gimana," pesan Stevan. Faro hanya berdehem sebagai balasan.

Setelah itu mereka kedatangan seorang temannya lagi, yaitu Rio, teman mereka sekaligus orang yang berkuasa di arena ini. "Faro, lo udah siap? Pengin ketemu lawan lo dulu apa gimana nih?" tanya Rio.

"Pengen ketemu lah, pengen lihat orang yang bakal tanding sama gue," balas Faro dan diberi anggukan kepala oleh Rio dan juga Stevan.

"Tuh, ada di sana, tapi gue cuma mau bilang tutur kata lo yang baik-baik, ya, soalnya dia tuh anak dari pengusaha terkenal, pasti lo kenal Tuan Adam, nah itu bapaknya," ucap Rio. Bukan apa-apa, hanya saja dirinya tidak ingin mendengar jika nanti temannya ini justru mempunyai masalah dengan orang itu, bukannya tidak ingin membantu tapi apalah daya mereka jika di lihat dari sudut pandang Tuan Adam, seperti semut kecil.

"Oke," balas Faro sambil memutar bola matanya.

Saat sedang berada di kerumunan, Faro tetap dengan niatnya yang tadi untuk menemui orang yang akan menjadi lawannya itu. "Halo, gue Faro dan lu? Lu yang bakal tanding sama gue, senang tanding sama lu," sapa Faro santai sambil menampakkan senyumnya yang manis.

"Iya, gue Arlan," jawab Arlan dingin sambil menatap Faro dengan tatapan datarnya.

"Sok kenal nih anak, tapi wajahnya kek familiar deh, siapa, ya?" batin Arlan sambil menatap wajah Faro cukup lama.

"Dih, panjang lebar gue ngomong cuma tiga kata lo jawab? Irit banget sih, ada emas, ya, di mulut lo? Coba, aaaa! Gue pengen lihat!" pinta Faro itu membuat Arlan menatapnya lekat dan tajam.

"Nama panjang lo siapa?" tanya Arlan tanpaingin mengiyakan pinta lelaki itu.

"Aaaa dulu, baru gue jawab," ucap Faro mempermainkan Arlan.

"Gak usah main-main, gue nanya serius," ucap Arlan dengan wajah datarnya.

"Huft, dasar kutub, nama gue it—" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Faro sudah mendengar suara yang memanggil nama mereka berdua untuk berada di garis mulai balap.

"Nanti aja, gue pengin ke sana dulu, selamat ketemu di garis mulai," ucap Faro lalu berjalan santai mengarah ke arah Stevan lebih tepat di mana letak motornya.

Brummm! Brummm! Brummm!

Tak lama datanglah seorang wanita yang berpakaian terbuka ke depan garis mulai sambil membawa bendera hitam putih.

"Are you ready?" tanya wanita itu semangat dan diangguki oleh Faro dan juga Arlan.

“Satu, dua, tiga!”

Saat ini, Arlan lebih dahulu berada di depan sementara Faro masih santai membawa motornya di belakang, di sini terlihat bahwa Faro biasa saja ditinggal jauh oleh Arlan, bahkan dirinya sempat memakan gula getah yang ada di saku celananya itu. Arlan, dirinya membawa motor dengan kecepatan di atas rata-rata dan berbangga di hatinya karena merasa akan menang melawan lelaki itu.

"Udah gak kelihatan aja tuh orang, hai baby, ayo kita perlihatkan ke semua orang kalau kita bisa ngelawan dia," gumam Faro, setelah itu dirinya juga memecutkan motornya.

Lain pula di arena saat ini.

"Lo rasa Faro bisa gak ya ngalahin si Arlan itu?" Tanya Stevan cemas, takut jika Arlan mempunyai niat busuk ke Faro.

"Lo jangan bikin gue ikutan cemas, bego! Lihat aja deh, gue tahu Faro itu gak bisa dikalahin dengan mudah, dia punya seribu kali cara buat ngalahin lawannya saat di jalan," ucap Rio meyakinkan Stevan yang terlihat cemas.

"Gue harap juga gitu," ucap Stevan membuat Rio terdiam dan memilih melihat jalanan.

Benar saja, saat Rio menoleh ke jalan, terlihat kelibat seseorang yang akan sampai ke arena, siapa dia? Tak lama orang itu diselip oleh seseorang. Tak beberapa meter setelah itu, mereka langsung di hebohkan kalau yang mendahului itu adalah Alfaro David.

Teriakan demi teriakan terdengar tak jelas membuat beberapa dari mereka risih. Benar saja, Faro lah yang memenangi perlawanan ini.

"Lo hebat juga, yah, selamat walaupun gue yang menang, pesan dari gue jangan irit bicara," ucap Faro lalu terkekeh.

"Nih uang lo." Arlan memberikan satu amplop yang berisikan uang yang lumayan banyak bagi seorang Faro.

"Makasih." Faro langsung mengambil amplop berisikan uang itu lalu meninggalkan tempat tersebut, tetapi ditahan lagi oleh Arlan.

"Nama panjang lu?" Mengingatkan Faro.

"Dih, masih ingat aja nih orang, baiklah, fans-fansku sekalian, nama panjang gue itu Farooooo gantengg, tahu gak?" ucap Faro bangga dengan senyuman yang merekah pada bibir tipisnya.

"Teman gue serius, eh lu malah becanda," kesal teman Arlan.

"Becanda dikit masa gak boleh? Nama gue itu Alfaro David A. Okey jangan nanya lagi, ya, apalagi yang belakangnya A, gue gak tahu sambungannya apa, Ayam kali ya, yaudah gue pergi dulu," ucap Faro sambil membawa amplop yang berisikan uang.

"Apa itu kamu, Dek?" batin Arlan menatap lelaki itu yang kian menjauh dari dirinya.

Lain lagi ceritanya Faro saat ini, sembari dirinya berjalan mengarah ke teman-temannya, ia mulai bergumam sambil menatap amplop yang tadi diberikan oleh lawannya itu. "Rezeki anak baik dan tampan nih, banyak uang, apa gue bisa jadi kaya?"

"Ya gak bisa lah, bego! Lo aja kerjanya di sekolah ngejahilin guru, belajarnya mah pas besok ada ujian doang, gimana mau jadi orang kaya?" gumam Faro lagi sampai ia di hadapan Stevan dan Rio.

"Tahniah bro, gue senang lo bisa menang. Gimana hari ini? Skuyy ke tempat biasa," ucap Stevan.

"Gue gak bisa kalau hari ini, capek banget gue, pengin bogan di rumah," tolak Faro menolak ajakan Stevan.

"Yaelah, yaudah deh, gue juga capek nih." Stevan tak mau memanjang lebarkan lagi cerita mereka, akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah.

Di sisi lain.

"Gue sekarang ada di dekat lu, lu tunggu dan nikmati aja masa-masa ini, karena bentar lagi lu akan hancur seperti kemarin."

Bab 2

Setelah mendekat dan membawa kebahagian, jangan lagi pergi dan membawa kehancuran. Memang kata cinta membawa bait duka dibelakangnya, tetapi ini soal keluarga bukan pasangan. Maka untuk apa saling menindas sedangkan kita juga keluar dirahim yang sama?

(***)

Malam ini, Faro yang baru saja pulang dari balapan langsung beranjak untuk bebersih dan kini dirinya duduk di kasurnya sambil memikir sesuatu, entah mengapa dirinya merasa seperti ada yang mengawasinya walaupun itu mungkin dari jarak jauh. Tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh, Faro memilih untuk keluar sebentar untuk mengambil angin malam.

"Dingin banget malam ini, bintang sama bulan kok malam ini malu ya buat menampakin sinarnya. Uh, capek buat akting bahagia. Kapan gue bisa ketemu keluarga kandung gue?" gumam Faro sambil meminum kopi panas yang di bawanya keluar tadi.

Tak lama dirinya melihat lagi sosok yang sama seperti di arena sedang menatapnya intens di balik pohon yang berada di depan rumahnya itu, walaupun terlihat jauh tapi itu masih dapat dilihat olehnya.

"Eh, keluar aja lu! Gak usah sembunyi-sembunyi!" teriak Faro ke sosok yang dilihatnya itu dan benar saja, beberapa orang yang memakai pakaian sama datang bermunculan dari setiap arah.

"Apa yang kalian mau! Hah!" teriak Faro sambil membawa ganggang sapu.

"Oh, gue tahu, kalian pengin qosidahan ya, di rumah gue? Haha, bilang dong, gak usah pakai pakaian kek gitu juga kali, haha aneh lu semua," tawa Faro tak sama dengan hatinya yang gusar. Otaknya yang cepat memicu untuk berpikir bagaimana dirinya untuk bisa lari

dari orang-orang itu.

Saat dirinya melihat salah seorang dari mereka yang lagi tersenyum miring menatapnya membuatkan dirinya gugup habis.

"Kalian mau apa sih! Gak usah dekat-dekat sama gue!! Jijik!!" ucap Faro dengan nada tinggi.

"Apa benar kamu Alfaro?" tanya salah seorang itu dengan lembut.

"Kalau iya, kenapa?" Bukan menjawab Faro justru balik bertanya dengan nada sinis.

"Nak Alfaro gak usah takut, kita cuma pengin ketemu kamu doang, apa kamu ada waktu?" tanya salah seorangnya lagi.

"Bilang dong dari tadi, dan asal lu tahu, gue tuh gak takut sama kalian. Sama kalian aja mah mudah banget bikin k.o," ucap Faro menatap tajam ke mereka

"Mau ngapain kalian ketemu gue?" tanyanya lagi

"Kita sahabat Paman kamu, Paman Alex. Apa Pamanmu ada di dalam? Boleh panggilkan dia?" tanya salah satu dari mereka yang jelas-jelas mereka sudah tau tentang hal itu. Mereka cuma ingin mendekati lelaki itu atas suruhan bos mereka.

"Paman Alex udah gak ada, Om, udah meninggal. Itu aja, kan? Yaudah gih sana pulang, saya juga pengin tidur, gak mau buang waktu ngomong sama kalian yang gak jelas," ucap Faro padahal hatinya sedikit sakit saat mengingat kenangan-kenangan yang sudah tercipta antara dirinya dan juga pamannya.15

"Apa?! Udah gak ada?! Kenapa gak ada yang bilang sama kita? Kapan Alex meninggal?" tanyanya lagi.

"Gak usah banyak nanya, deh!!" ketus Faro.

Tanpa aba-aba salah seorang dari orang-orang itu malah memeluk Faro dengan sangat erat. Tak lupa rambutnya juga terasa tertarik. "Aw, sakit!" ringis Faro dengan suara pelan tapi tak diendahkan oleh orang itu.

Orang itu justru mengeratkan lagi pelukannya pada Faro dan bergumam tak jelas dan tidak dimengertikan oleh Faro.

Di lain tempat.

"I found you baby. Abang harap itu beneran kamu." Gumamnya sambil mengingat kembali bagaimana rasanya memeluk anak laki-laki dihadapannya itu tadi.

"Saya jugaberharap seperti itu, semoga tuan muda terakhir bisa ditemukan dengan segera dan bisa menceriakan suasana mansion megah Alziard lagi." Batin supir lelaki itu, Pak Ubaid, supir yang sudah lama bekerja dengan keluarga Alziard.

"Kita ke rumah sakit sekarang!" perintahnya lalu diangguki. Mereka terdiri dari empat orang, termasuk Farhan dan tentunya Pak Ubaid.

Farhan Darril Alziard, putra tertua sekaligus cucu pertama dari keluarga Alziard yang mempunyai paras wajah yang sangat tampan dan tampak sangat berwibawa, ditambah lagi

kesan dingin, datar dan kaya membuat para wanita menggilainya.

Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit dan tidak ingin membuang waktu, Farhan dan dua bodyguardnya langsung mengarah berjalan ke ruangan seseorang yakni dokter kepercayaan keluarga Alziard.

"Tes DNA-nya sekarang! Gak mau tahu, besok pagi harus sudah ada keputusannya dan bawa langsung ke mansion utama." seru Farhan lalu pergi dari sana.

"Huft, datang-datang ga ada salam malah ngasih ini, untung teman, kalau nggak udah gue buang di lautan pasifik, nambah-nambahin pekerjaan amat dah!" gumam dokter itu menatap kepergian Farhan sambil mengomel tidak jelas.

Berbalik ke Faro yang saat ini sudah memilih masuk ke rumah kecilnya itu,

"Paman, Faro kangen candaan paman, Faro kangen buat manja-manja sama paman. Kok Faro masih gak percaya kalau paman udah pergi, terlalu cepat paman pergi sedangkan Faro belum bisa membanggakan paman dan membalas kebaikan paman. Kenapa gak bawa

Faro aja? Paman, tadi sahabat paman datang loh, kok sifat mereka kek orang gila, ya? Faro kira punya masalah, eh, tahunya nggak, aneh sih tadi salah satunya meluk Faro nyaman banget rasanya, kek aku udah lama kenal dia, tapi Faro nggak kenal, terus wajahnya juga tertutup sama masker hitam," gumam Faro sambil menatap langit

hitam tak bercahaya itu.

"Tapi, kayaknya pernah paman bilang ke Faro, ga boleh berburuk sangka ke orang-orang. Ya mungkin mereka orang yang baik, bahkan mereka sempat kaget saat Faro bilang, jika paman udah gaada di dunia. Paman udah ninggalin Faro buat selamanya." Tambah Faro lagi

"Faro tidur dulu, ya, paman. Tuhan, temukanlah Faro sama keluarga Faro. Walau Faro pernah dibuang oleh mereka tapi Faro kangen dan ingin ketemu mereka. Selamat malam semua umat dunia, Faro yang ganteng sejagat raya ini mau bobok dulu." ucapnya lagi yang

terdengar tak jelas itu.

Tak jauh dari tempat tinggal Faro itu, lebih tepatnya pohon besar yang bersebelahan dengan jendela kamar Faro, terdapat seorang remaja seumurannya menatapnya tajam.

"Cih! Banyak bicara, ga perlu lo nemu keluarga lo karna sekarang lo yang bakal mati, Alfaro David Alziard.

"Gue sayang sama lo Far, tapi lo egois, lo serakah, sahabat satu-satunya gue, keluarga semua lo tarik perhatian mereka untuk lo seorang. Lo jahat Faro, lo ga lebih seperti binatang liar yang pantes dibunuh. Gue baik Faro, gue menghentikan semua sakit lo kematian." Katanya sambil tersenyum sinis

"Pernah gak lo rasain mati kebakaran pas tidur? Kalau belum pernah, sini gue bikin lo jadi pernah ngerasain hal itu."

Bab 3

Berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan, tapi entah ketakutan itu mulai ada seperti di kisah hidupku sebelumnya. Jangan berjanji jika bukan dari hati, berjanji biar pasti agar tidak menyakiti diantara pihak.

(***)

Matahari sudah menampakkan cahayanya hingga ke pelosok bumi, tapi tak sedikit pun dari anak lelaki itu terusik dengan sinaran matahari yang tepat terpancar di wajahnya. Tak lama, terdengarlah ketukan pintu dari kamar tersebut yang mengangetkan anak lelaki itu dan dengan cepat dirinya terbangun sambil mengucek matanya.

"Jangan dikucek gitu, nanti merah," ucap seseorang yang baru masuk di kamarnya itu.

Saat matanya terasa mulai sempurna untuk melihat sekeliling, dia dikagetkan dengan kamar dan orang yang ada di hadapannya ini. "Loh, gue di mana?" tanya Faro sambil menepuk pipinya.

"Jangan seperti itu, nanti sakit," ucap salah seorang dari mereka itu lagi.

"Kalian ini siapa? Gue di mana? Kalian culik gue ya? Tapikan gue ga punya apa-apa," tanya Faro dengan tatapan tajamnya.

"Kamu ada di rumah papa, Nak," jawab salah seorang lelaki yang bisa dibilang umuran om-om.

"What? papa? Kejedot pintu ya pak sehingga mengira saya anak anda? Gue mau pulang! Dan satu lagi, gue ga punya keluarga karna semuanya sudah mati. Mati dikenangan laluku" ketus Faro sambil berdiri dari kasur itu.

"Ngapain pulang? Di sini itu rumah kamu, rumah keluarga kandungmu saya papa kamu, dan ini—" Belum sempat selesai orang itu berucap, Faro lebih dulu memotongnya. "Anjing."

"Your language, Faro," kata salah seorang lagi dengan nada yang dingin itu mampu membuatkan keberanian Faro sedikit gentar. "Bodo amat!"

"Sekarang kamu mandi dulu, terus kita sarapan,” ucapnya.

"Lo Arlan, kan? Kenapa lo bisa di sini sama anjing-anjing ini? Lo juga sekongkol, ya, buat nyulik gue terus jual, ngaku lo!" teriak Faro marah sambil menunjuk-nunjuk wajah Arlan.

"Dih, emang siapa yang mau jual adik sendiri?" ucap Arlan terkekeh pelan.

"Bisa gila gue kalau dekat sama kalian!" ketus Faro setelah itu berdiri dan beranjak dari kamar tersebut.

"Kejar, bawa dia kemari!" perintah Arlan pada bodyguardnya. "Baik Tuan," jawap mereka patuh.

Sementara Faro. "Ini kenapa gede banget, ya? Mana gak tahu pintu keluar lagi!"

"Eh, kok gue bisa di sini, ya? Bukannya gue lagi lari dari kebakaran?" Dia memang sempat melarikan diri saat api mulai menyambar di kamarnya.

Flashback on.

"Kebakaran!" teriak seseorang yang masih bisa didengar Faro saat itu.

"Kebakaran?" pikir Faro yang masih berbaring di kasurnya.

"Hm, mungkin cuma perasaan gue aja kali, hoamm, mending tidur," ucap Faro lalu ia terlelap, namun tidak dengan otaknya yang masih berpikir keras tentang arti dari kata orang yang didengarnya tadi.

Tak berselang lama …

Brakkk!

“Faro! Keluar kamu!”

“Faro, kebakaran, keluar!”

Saat Faro melihat api yang cukup besar, langsung saja ia mengambil barang keperluannya dan melompat dari jendela kamar. Saat setelah melompat, rumah itu pun meledak akibat gas yang bocor, ditambah ada minyak yang ada di sana dan itu membuat api menyebar dengan cepat.

Setelah itu dirinya dengan cepat berlari keluar dari rumahnya dan memilih menenangkan hatinya, ia berpikir di mana lagi tempatnya harus tinggal, sedangkan rumah sudah menjadi debu akibat kebakaran. Saat sedang melamun, tidak disangka bahwa ada seseorang dari arah belakang yang menutupi hidung dan mulut Faro dengan kain.

Flashback off.

Hanya itu yang Faro pikirkan sampai dirinya tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di tangga menuju ke bawah, alhasil ia pun terjatuh.

Brughhh! Brughhh! Brughhh!

Faro jatuh dari lantai atas sampai bawah. Kepalanya mengeluarkan darah yang bisa dibilang cukup banyak, dan sekarang dirinya merasakan sakit yang teramat pada bagian kepalanya, hal itu berterusan membuatkannya memilih untuk menutup mata sejenak guna meredakan rasa sakitnya itu, tak lama dirinya pun pingsan.

"Faro!" teriak ketiga lelaki yang berada di depannya.

"Kalian duluan ke mobil, biar papa yang gendong adik kalian! Kita ke rumah sakit sekarang!!" perintah Adam tegas yang diiyakan oleh tiga anaknya itu.

Setelah melewati perjalanan panjang, mereka menunggu dan terus menunggu sang dokter yang menangani Faro, tapi tak ada tanda-tanda dokter itu akan keluar.

"Baru aja bertemu sudah disuguhi dia sakit, kurang ajar juga tuh tangga, awas ya, tunggu gue pulang hancur lu tangga, lihat aja," ucap Rafael kesal dengan tangga yang membuat adeknya itu jatuh.

"Gak usah ngelawak deh, lo Raf," ucap Arlan menatap Rafael dengan tajam.

"Dih, gitu doang marah, cepat tua tahu rasa, gak akan ada yang mau sama lo, biar gak nikah sampai tua," ucap Rafael.

"Udah gak usah berantem, malu-maluin aja

kalian," ucap Farhan menatap mereka berdua dengan datar.

Tak lama keluarlah dokter yang sedari tadi

mereka tunggu.

"Gimana keadaan anak gue? Dia baik-baik aja kan?" tanya Adam khawatir.

"Dia baik-baik aja kok bang, lo tenang aja, by the way, anak? anak lo dimana lagi bang?" Tanya dokter itu. Adam hanya berdehem tidak mengubris pertanyaan dari adik kandungnya itu, Marten.

Setelah Faro udah dipindahin di ruang rawat inap, kalian bisa melihat kondisinya," ucap Dokter Marten itu sekaligus Om mereka.

"Yaudah deh, cepatan!" pinta Arlan menatap ke arah om-nya itu.

Setelah mereka masuk Arlan langsung bertanya pada Papanya. "Kapan sadarnya nih, Pa?"

"Lah, kok nanya papa? Kan bukan papa dokternya," balas Adam sambil terus mengusap lembut kepala anak bungsunya, Faro.

"Papa akan menjadi yang pertama membela

kamu jika ada yang menyakitimu sayang, papa janji akan

buat kamu bahagia dan gak akan merasakan apa itu

kesedihan lagi, Papa janji nak," Ujar Adam sambil menatap wajah anaknya dengan lekat.

"Namun, jika papa melakukan kesalahan maka hukumlah papa seperti apa saja yang au ingin kan, nak. Tapi papa mohon jangan sesekali ninggalin papa mu ini. Karna papa sayang sama Faro." Batin Adam lagi sambil tersenyum tipis

"Sudahlah pa, mending sekarang apa istirahat saja. Biarkan kami yang menjaga adek, kalau ada apa-apa nanti kami bakal membangunkan papa. Papa tenang saja." Kata Arlam kepada papanya itu dan diberi anggukan oleh Farhan dan Rafael.

Namun, lagi dan lagi Adam menolak. Dirinya ingin sekali menjaga anak bungsunya yang selama ini pergi darinya karna sebuah kesalahan lampau. Kesalahan yang membuatkan rumah tangganya hancur berderai seperti debu karna terbakarnya istana.

"Maafkan, kelalaian ku, sayang. Sekarang anak kita sudah bersama ku lagi. Aku janji bakal menjaganya seperti nyawa ku sendiri. Kmau yang tenang disana ya, sayang." Batinnya lagi buat ke sekian kalinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED