Bab 1

"Kenapa … kenapa aku harus hidup dalam kubangan penuh dosa! Kenapa aku tak bisa memanggil seseorang yang berharga dalam hidupku! Apa memang Tuhan tak izinkan aku untuk memanggilmu … Ayah."

Tangis Aleya seketika pecah kala wanita malang itu harus melihat sang lelaki hebat dan gagah di matanya harus pergi meninggalkan dirinya dan keluarganya. Sang mama, hanyalah pekerja serabutan yang harus membanting tulang demi mencukupi dan memenuhi kebutuhan dirinya dan kedua adiknya yang masih bersekolah. Sementara sang ayah, melanglang buana ke negeri orang dan tiada berkabar, entah apakah masih teringat akan istri dan anak-anaknya.

Aleya Cantika Saraswati, nama sebuah nama yang diberikan dengan begitu indah dan sempurna. Nama yang indah untuk wanita yang seharusnya memiliki nasib baik dan jauh dari kata 'malang'. Namun, baginya, pemberian nama yang indah dan bagus tak selalu menjamin nasib baik dan mujur akan selalu berpihak padanya. Aleya adalah seorang gadis yang akan beranjak menjadi seorang wanita dewasa cantik, ayu dan mempesona. Rambut hitam legam terurai yang selalu bersinar kala sinar menerpa, mata bulat coklat almond, wajah oval dengan bulu mata lentik dan bibir tebal bagian bawah yang berwarna merah alami. Sungguh, ciptaan Tuhan yang sangat sempurna … di mata kaum adam, tentunya.

Kepergian sang ayah ke luar negeri membuat Aleya mau tak mau harus membantu sang mama yang tak lagi berusia muda. Sang mama yang hanya pekerja serabutan terkadang masih harus berhutang pada seorang debt collector berhati batu dan sedingin Arktik, Bayu Yoga Pradana. Nama yang cukup bagus untuk seorang debt collector, tapi dia bukanlah debt collector sembarangan! Dia hanya meminjamkan uangnya pada orang-orang 'tertentu' dan tak semua orang bisa meminjam dengan mudah padanya. Parasnya yang rupawan, tubuhnya yang tiada berlemak, rambut pendek yang selalu dibiarkan acak-acakan, juga tato sebuah nama dengan awalan huruf 'A' yang tergambar cukup jelas di tengkuk leher sang debt collector.

"Mbak (panggilan sang mama untuk Aleya), ada apa, Ma?" sahut Aleya yang sedang menyiapkan keperluan adiknya, Kija yang berumur 10 tahun.

"Apa ayahmu sudah ada kabar?"

Aleya menghentikan tangannya yang sedang memasukkan buku ke dalam tas Kija dan mengalihkan pandangannya ke sang mama.

Dengan gelengan kepala, dia menjawab, "Belum, Ma. Ayah sama sekali belum ada kabar."

"Sudah hampir 3 tahun ayahmu pergi ke negeri seberang, tapi selama itu pula dia tiada berkabar. Apakah ayahmu memang telah lupa dengan kita?" suara lirih dari seorang wanita paruh baya mulai menghentak batin Aleya.

Dengan pura-pura tersenyum, Aleya berusaha menenangkan sang mama yang terlihat kalut dan jemari gemetar. Yah, sang mama memang memiliki penyakit parkinson, penyakit yang menyerang sistem saraf yang disertai tremor (gemetar pada anggota bagian tubuh tertentu) apabila telah mengalami panik yang berlebih.

"Mama jangan sedih, Ale yakin ayah pasti ingat dengan kita. Mungkin ayah memang sedang sibuk, Ma." Hibur Aleya seraya mengelus pelan dan lembut punggung sang mama.

"Bagaimana denganmu, Mbak? Kamu keluar sekolah demi Mama dan adik-adikmu. Mama mali sebenarnya … Ma--Ma--Mama--"

Aleya langsung memeluk sang mama di depan adiknya, Kija.

"Sudah, Ma. Sudah. Mama jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Ale sendiri yang ingin keluar dari sekolah. Bukan karena paksaan atau tekanan. Mama jangan menyalahkan diri Mama, ya."

Semakin sang mama menahan untuk tak menangis, semakin Aleya memeluk sang mama dengan erat.

"Kak-Kak." Kija, salah satu adik Aleya berumur 10 tahun menarik-narik kemeja biru navy miliknya

"Ya, ada apa Kija?" Buru-buru ia melepas pelukannya dari sang mama dan menghapus air mata yang sedikit membasahi matanya.

"Itu, mmm---" Kija melihat ke arah sang mama.

"Kija sayang, ada apa, Nak?" Sang Mama kemudian menundukkan tubuhnya dan menyamakan tinggi badan sang putra kedua, Kija.

Seraya melihat ke arah sang kakak, Aleya, Kija mengalihkan lagi pandangannya ke arah sang mama. "Kija, ada apa? Kenapa?" tanya Mama mengusap pinggir wajah sang putra lembut.

"Itu--Kija kemarin dipanggil wali kelas, Kak, Ma." Anak kecil itu lantas menundukkan kepalanya dan tak lama terdengar isakan tangis yang pelan, seakan berusaha ditahan olehnya seraya memainkan jari-jemarinya.

Aleya dan Mama saling berpandangan, "Nanti Kakak yang akan datang ke sekolah dan bicara dengan wali kelasmu. Sekarang, yuk, kita sarapan dan berangkat. Udah hampir telat, lho." Aleya merangkul sang adik yang masih terisak, sementara sang mama mengelus dada dan mencoba menahan tangisnya sekali lagi agar tak pecah dan membuat khawatir anak-anaknya.

'Ya, Tuhan, sebenarnya apa yang dilakukan suami hamba di negeri seberang sana? Kenapa hingga saat ini tak ada satu pun kabar darinya? Apakah dia memang telah melupakan kami?'

****

Aleya dan sang adik, Kija akhirnya tiba di depan gerbang pintu sekolah yang masih dibuka dengan cukup lebar. Sang penjaga sekolah berdiri di samping pagar dan memperhatikan satu per satu murid-murid yang masuk-keluar gerbang sekolah.

"Ayo, Kija kita masuk." Ajak Aleya merangkul Kija.

Namun, tak ada langkah kaki yang bergerak dari anak kecil itu. Kija justru diam mematung menatap sekolahnya yang tergolong bagus di tempat tinggalnya.

"Kija, kenapa malah diam? Ayo masuk, sebentar lagi mau bel masuk," bujuk Aleya.

"Kita--kita pulang saja, Kak. Kija tak mau sekolah. Kija--Kija takut dan malu." Rengek Kija seraya memegang ujung kemeja yang ia kenakan.

"Kija!" panggil salah seorang wanita mengenakan hijab dan berpakaian coklat gading menghampiri mereka berdua.

"Bu Guru," sapa keduanya.

"Selamat pagi, Kija … Anda--?" tanya seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahunan itu sambil menunjuk ke arah Aleya.

"Saya Aleya, Bu Guru. Saya kakaknya Kija." Aleya mengulurkan tangannya pada wanita itu.

"Oh, jadi Anda kakaknya Kija, ya. Saya Sofia. Saya wali kelasnya Kija. Kebetulan jika Anda datang, bisa kita bicara?" tanya Sofia mengurai senyum.

"Bisa, Bu Guru."

"Kakak--" Lagi-lagi Kija menarik ujung kemeja Aleya

"Kija sayang, kamu masuk dulu, ya. Kakak ada perlu dengan wali kelasmu."

Kija, nama yang cukup unik bagi seorang laki-laki. Adik kedua Aleya ini bahkan kerap kali menjadi bahan olokan teman-temannya karena namanya yang sering diplesetkan menjadi 'kijang'. Namun begitu, Kija termasuk anak yang pandai dalam pelajaran atau boleh dikatakan dia adalah salah satu anak yang jenius, sayangnya kepintaran Kija tertutup oleh sifatnya yang pemalu dan tertutup.

"Kija, ayo, masuk dulu. Bu Guru mau ngomong sama Kakakmu, ya." Kali ini Sofia berusaha membujuk Kija yang terlihat tegang dan selalu berada di belakang Aleya.

"Kija, Kakak janji akan menunggumu hingga selesai sekolah."

Sumringah setelah mendengar ucapan sang kakak, Kija, sang adik pun akhirnya luluh dan masuk ke dalam sekolah ditemani sang kakak dan Ibu Sofia, namun tiba-tiba ….

Tin … tin … tiiin ….

Bunyi klakson panjang dari sebuah mobil warna merah tua terdengar sangat nyaring melebihi suara bel sekolah yang juga telah berbunyi. Terkejut, Aleya secara spontan langsung menyingkir ke pinggir jalan sambil mengelus dadanya dan menghampiri sang adik yang masih terkejut.

"Kija, kamu ga apa-apa, Sayang?" Aleya langsung mengusap wajah sang adik yang berkeringat dan memeluk erat.

"Kija, kamu ga apa-apa, Nak?" Sofia juga tak kalah khawatir dengan Kija.

Kija melihat sang kakak dan Bu Sofia dengan tatapan sendu, "Kija ga apa-apa, Kak, Bu." Senyumnya.

"Mbak gimana? Ga apa-apa?" Sofia lini mengalihkan irisnya ke arah Aleya.

"E--enggak apa-apa Bu Guru," sahut Aleya berusaha tersenyum.

Tak lama, Aleya melihat sepasang kaki mungil mengenakan sepatu hitam turun dari mobil mewah itu. Seorang anak kecil dengan rupa blasteran, rambut coklat gelap, dan warna retina mata sama seperti rambutnya tengah melihat sekeliling sekolah dari tempat mobilnya berhenti.

"Ini … sekolahku yang baru?" tanyanya pada seorang wanita berpakaian blazer serba hitam, juga celana panjang model lurus warna hitam dan berkacamata dengan rambut digelung bak SPG.

"Benar, Tuan Reyen. Ini adalah sekolah yang papi Anda pilihkan. Apa Anda tak menyukainya?" tanya wanita itu sambil membetulkan kacamatanya.

"Don't like! Let's go back! You tell my papa, I wanna move. I'm not going school in here! Too pathetic!" Ucapnya kasar langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan kencang.

Bu Sofia yang melihat kejadian itu langsung menghampiri sedan merah yang terparkir tepat di halaman sekolah yang boleh dikatakan mewah itu.

"Selamat pagi, saya Bu Guru Sofia. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Sofia ramah mengulas senyum.

"Halo, saya Rebecca, asisten Tuan Reyen." Ucap wanita berparas blasteran itu menundukkan kepalanya.

"Tuan Reyen?" tanya Sofia memasang ekspresi bingung.

Aleya hanya melihat wajah pria kecil blasteran itu dari kejauhan dan mengajak Kija ke kelasnya.

"Kalau begitu, saya antar adik saya dulu, Bu Guru. Nanti saya akan menemui Anda." Ucap Aleya seraya tersenyum ke arah Sofia dan juga Rebecca dan sejenak melirik ke kaca mobil anti-UV yang tertutup rapat.

****

Sampai di depan kelas, Aleya menghentikan langkahnya dan mengantarkan sang adik masuk ke dalam kelas. Kija yang memang tak pandai bergaul, hanya menundukkan kepalanya dan langsung menuju mejanya. Lagi-lagi, Aleya memasang senyum hangat pada adiknya, namun justru mata sendu yang didapat oleh Aleya.

'Kija, kenapa kau memasang ekspresi wajah seperti itu? Apa kau ingin membuat Kakakmu ini menangis lagi? Tak cukupkah air mata yang Kakak keluarkan jadi air mata terakhir bagi keluarga kita?'

Aleya tak lama meninggalkan kelas sang adik dan menuju ruang guru untuk bertemu dengan Bu Sofia. Namun sayangnya, kehadiran murid baru dan blasteran membuat Aleya terlupakan dan tak kunjung bertemu dengan sang wali kelas. Menunggu dan menunggu, Aleya tanpa sadar tertidur saat ia menyandarkan kepalanya ke dinding tembok putih pucat dekat taman di depan ruang guru. Angin sepoi dan bau tanaman segar menambah rasa kantuknya, hingga ….

"Mbak … Mbak ...Mbak," seseorang tengah mencolek tangan Aleya.

"Oh, Bu--Bu Guru." Terkejutnya sambil mengedipkan matanya yang masih tertahan rasa kantuk.

"Mbak menunggu lama, ya? Maaf, tadi saya mengurus murid baru dulu. Jadi, baru bisa sekarang. Apa kita bisa bicara?" tanya Sofia dengan suara pelan.

"Oh, bi--bisa, Bu. Bisa,"tegas Aleya langsung berdiri.

"Mari, ikut saya."

Aleya dan Sofia akhirnya menuju ruang guru dan duduk bicara empat mata.

"Begini, Mbak. Sebelummya saya minta maaf jika pertanyaan saya sedikit pribadi," ucap Sofia canggung.

"Per--tanyaan pribadi apa, ya, Bu?"

"Apa ayahnya Kija tak pernah kirim uang? Soalnya--" lagi, Sofia merasa canggung dan mengalihkan netranya.

"Soal--nya apa, Bu?"

"Kija suda menunggak pembayaran spp selama 3 bulan, Mbak dan Kepala Sekolah sebenarnya telah memberikan keringanan pada Kija untuk menunda pembayaran spp sekolah, tapi jika bulan depan Kija tetap tak bisa melunasi spp-nya, maka dengan berat hati, pihak sekolah akan men-skorsing Kija sampai ia mampu untuk membayar."

"Baik, Bu Guru. Saya mengerti. Apa masih ada lagi yang ingin Ibu sampaikan?" dengan lirih, Aleya menahan bulir kristal di matanya.

"Itu saja, Mbak. Saya doakan semoga masalah Kija cepat terselesaikan." Senyum Sofia dan berlalu meninggalkan Aleya yang masih duduk di ruang guru.

"Oh, si--silakan, Bu. Saya juga mau keluar."

Akhirnya, tak lama setelah Sofia meninggalkan meja kerjanya, Aleya pun bergegas keluar dari ruang guru. Pandangannya tampak kosong namun sendu melihat ke arah kelas sang adik. Tangannya mengepal kencang seraya menggigit bibir bawahnya dengan kencang, 'Tuhan, apakah ini belum akan jadi air mata terakhirku?'

Bab 2

Aleya hanya bisa menahan gelisah dan getir dalam dada sambil terus menahan sedih, sesak, perih dan malu dalam dirinya. Bagaimana mungkin ayahnya benar-benar tega melupakan kewajibannya! Aleya masih memaklumi jika sang ayah melupakan dirinya juga sang mama, namun kenyataannya ….

'Kenapa ayah tega pada Kija? Bukankah ayah juga tahu jika Kija masih sekolah dan membutuhkan banyak biaya? Tapi, kenapa mama juga tak pernah cerita jika ayah tak pernah mengirim uang?'

Gelisah benar-benar mengelayut di benak Aleya. Wanita cantik itu duduk terpaku di bangku taman sekolah, tak jauh dari ruang kelas sang adik, Kija. Netra coklat itu menatap lurus ke depan namun dengan pikiran yang kosong. Panas semakin lama semakin menampakkan warna kulit kuning langsat wanita ayu nan cantik itu. Desiran angin sepoi menghempaskan rambut hitam lebatnya yang digera. Sesekali, Aleya mengeluarkan napas beratnya seakan dia menanggung semua beban dunia di pundaknya.

"Iya, Tuan. Baik, saya akan menjaga tuan muda dengan baik. Ana jangan khawatir."

Seorang wanita muda nan cantik berpakaian serba hitam dan heels setinggi 5 cm dengan anggun duduk di samping Aleya. Mata Aleya langsung curi-curi pandang ke arah wanita dengan body bak bodyguard namun juga seperti model dengan rambut digelung ke belakang dan sedang menatap gawainya dengan serius.

"Oh, c'mon … why there's no signal in here? Gossshhhh, I need the signal. Need to send these things to Mr. Raphael." Keluh wanita itu dengan ekspresi wajah bingung.

Aleya yang sedari tadi melihatnya diam-diam, memberanikan diri dan berdiri mendekati wanita perawakan bule itu seraya memainkan jemari tangannya di bawah kemejanya, menahan grogi dan gemetar.

"E--ex--ex--" bibir Aleya bergetar menahan grogi.

"Yes," sahut wanita itu mendongakkan kepalanya dan meredupkan sedikit matanya karena silau matahari.

"I--I--I'm sorry, are you--mm-mm--" lagi-lagi Aleya ragu untuk bicara.

"Ada apa, ya? Apa ada masalah, Nona?" wanita itu menyahut ucapan Aleya.

"Anda--Anda bisa bahasa Indonesia?" tanya Aleya terkejut.

"Tentu saja saya bisa. Saya sudah 2 tahun tinggal di Indonesia," wanita itu menjawab dengan logat Indonesia ala orang-orang barat pada umumnya.

Tersenyum, Aleya kemudian dengan ramah berujar, "Maaf sebelumnya, tapi tadi saya mendengar Anda kesulitan untuk mendapatkan sinyal?"

Wanita itu mengangguk.

"Saya bisa membantu Anda," ucap Aleya dengan senyum mengembang.

"Mem--bantu sa--ya? Maksud Anda? Who are you?"

Aleya secara spontan membuka tangannya di hadapan wanita itu, "My name is Aleya." Senyum dan tatapan mata yang ramah tak pernah lepas dari wanita cantik nan ayu itu.

"Rebecca." Balas wanita itu menjabat tangan Aleya. "Jadi, Anda tadi bilang Anda bisa bantu saya? Lalu, bantuan apa yang Anda maksud?" tanya Rebecca sedikit curiga.

"Bukankah tadi Anda mengeluh tentang sinya yang susah, Nona? Di dekat sekolah ini ada sebuah kedai, tak terlalu besar memang, tapi mereka memiliki wi-fi yang mungkin bisa Anda gunakan," jelas Aleya.

Sedikit bingung Rebecca memandang Aleya, "Tidak, terima kasih." Tolak wanita itu kemudian netranya mengarah lagi pada gawai yang dipegang di tangannya.

Mendengar penolakan Rebecca, Aleya langsung kikuk, canggung, dan tersenyum tak jelas sambil melangkah lagi kembali ke tempat duduknya dan sesekali melihat Rebecca yang terlihat keren dengan balutan pakaian ala wanita karir.

'Tuhan, kapan aku bisa seperti dia? Sungguh perbedaan yang tinggi, antara langit dan bumi.'

"Haaaaahhhhh ….," tanpa sadar Aleya mengeluarkan napas dengan panjang dan membuat Rebecca mengalihkan pandangan ke arahnya.

"Apa Anda baik-baik saja, Nona?" tanyanya dengan logat Indonesia yang tak terlalu jelas.

"Ah, ma--maaf kalau saya menggangu Anda sedang bekerja. Silakan, diteruskan saja, Nona. Per--permisi."

Dengan terburu-buru, Aleya berdiri dan menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk hormat pada Rebecca dan segera berlalu.

"How strange she is. I've just talked to her and now she's leaving?" Rebecca menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil.

****

Bug … brak!!

"Aduh!"

"Ouch!"

Aleya dan seorang wanita yang baru saja bertabrakan badan dengannya, sama-sama saling jatuh dan terlihat beberapa buah buku berserakan di lantai. Aleya yang mengusap bahunya yang sakit segera melihat ke arah gadis yang ditabraknya tadi tengah merintih kesakitan dan tampak mengelus bagian belakang tubuhnya.

"Aduhhhhh, siapaaaa sih yang ga punya mata! Jalan ga liat-liat!" teriak gadis itu sambil menunjukkan ekspresi kemarahan dan kesalnya.

Aleya langsung bangun dan menghampiri gadis muda yang masih duduk di lantai sekolah yang kotor itu.

"M--maaf, apa Anda tak apa-apa?" Aleya mengulurkan tangannya ingin membantu gadis itu berdiri.

"Kamu!! Kamu yang tadi nabrak saya, ya! Punya mata ga, kamu!? Atau mata kamu udah pindah ke kaki, hah!" sentak gadis itu menampik tangan Aleya dengan keras hingga memerah.

Aleya menahan rasa sakit di telapak tangannya, dia hanya tersenyum tipis dan beralih ke sisi lain gadis itu bermaksud hendak membantu mengambil buku-bukunya, namun tiba-tiba ….

"Jangan sentuh buku-buku mahalku dengan tangan kotormu! Jijik aku melihatnya!" hardik gadis itu langsung berdiri dan mengambil kasar buku-bukunya.

Tak ayal, suara lantang dan kata-kata kasar gadis itu langsung mengundang perhatian para guru yang ada di sekolah tersebut. Mereka ramai-ramai keluar kelas dan melihat sang gadis sedang memarahi Aleya habis-habisan. Kija, sang adik pun spontan langsung keluar kelas dan tak sengaja menjatuhkan tempat pensil bergambar Captain America milik Reyen.

"Hey, you! Stop!" bentak Reyen dengan suara lantang.

Tak pelak, kegaduhan kini timbul di dua tempat yang berbeda. Sofia yang teralihkan karena suara gaduh di luar kelasnya, kini harus berurusan dengan kegaduhan yang ada di dalam kelasnya sendiri

"Reyen, ada apa?" Sofia buru-buru mendatangi Reyen yang terlihat emosi.

"He's dropping my pencil case!" Kesalnya menunjuk wajah Kija yang terlihat pucat dan jemarinya mulai gemetar.

Sofia melihat ke arah Kija dan berusaha menenangkan muridnya yang ketakutan.

"Kija, apa betul yang dikatakan Reyen?" tanyanya lembut sambil memegang bahu Kija lembut.

Kija menelan saliva-nya kasar, netranya menatap sang guru dan teman barunya dengan ragu dan takut-takut.

"Kija, ada apa? Ibu tanya sekali lagi, apa benar kamu menjatuhkan tempat pensil Reyen?" Sofia mulai meninggikan sedikit intonasi bicaranya.

Kija semakin takut, tegang dan jari-jemarinya gemetar semakin hebat. Sofia pun segera panik, tak terkecuali Reyen! Kija langsung tak sadarkan diri dan membuat Sofia spontan teriak, "Kijaaaaaa!!!!"

Teriakan Sofia sontak membuat Aleya segera berlari menuju ruang kelas sang adik, "Hei! Aku belum selesai bicara padamu! Hei!!" teriak gadis itu.

"Kija! Kija--a--ada apa dengan Kija, Bu Guru?" Aleya datang dan melihat Kija sudah ada di pelukan sang guru. "Kijaaaa!! Ada apa denganmu? Kija … Kija …." Aleya langsung memangku tubuh sang adik yang masih tak sadarkan diri.

"Kita--kita bawa ke ruang UKS, Mbak." Ucap Sofia berusaha menenangkan Aleya yang panik.

****

Aleya dengan sabar duduk di sebelah tubuh sang adik yang masih siuman, tangannya dengan lembut membelai rambut hitam legam milik sang adik. Sementara itu, Sofia sang wali kelasnya juga turut berada di ruang UKS mendampingi Aleya dan Kija. Dengan perlahan, langkahnya mendekati Aleya dan berkata, "Mbak, bagaimana Kija? Apa Kija sebelumnya sudah kurang enak badan?" tanya Sofia berbisik.

Namun Aleya hanya terdiam. Tatapan mata dan tangannya terpaku pada sosok sang adik yang terbaring di kasur UKS sekolah. Sofia menatap keduanya dengan tatapan lirih, 'Kasihan sekali Kija … padahal dia anak yang pandai. Sayang sekali jika harus putus di tengah jalan.'

"Mbak, bisa bicara sebentar?" Sofia kembali berbisik di telinga Aleya.

"Mau bicara apa lagi, Bu? Soal SPP, akan saya usahakan. Saya janji, Ibu tolong jangan beritahu mama kami soal hal ini." Ucap Aleya pelan.

"Bukan. Bukan soal SPP, tapi …." Sofia tak melanjutkan ucapannya.

Aleya melayangkan tatapan datar namun dengan sejuta pertanyaan menggelayut di relung batinnya.

"Kita keluar?" ajak Sofia.

Sofia dan Aleya terkejut ketika mereka bertemu dengan Rebecca, wanita yang menemani Reyen di muka pintu ruang UKS dan tengah berdiri layaknya patung.

"Anda---" Sofia mengangkat sebelah alisnya

"Saya Rebecca, saya asisten tuan Reyen."

"Oh, Nona Rebecca, saya Sofia, wali kelas Reyen," sahut Sofia mengumbar senyum.

"Saya tahu. Saya datang ke sini menemui Anda karena saya ingin meminta kejelasan mengenai apa yang baru saja terjadi. Bagaimana mungkin Anda bisa begitu ceroboh hingga menyebabkan ini terjadi!?" Rebecca sedikit menaikkan intonasi bicaranya.

"S--sbar--sabar, Nona Rebecca. Masalah ini bisa kita selesaikan secara baik-baik. Tak perlu dengan kepala panas. Lagipula, justru yang menjadi korban dalam hal ini adalah Kija." Jelas Sofia menunjuk Kija yang masih belum sadar.

"Kija? Siapa itu Kija?" tanya penasaran Rebecca.

"Kija adalah adik saya, Nona. Saya minta maaf atas nama adik saya perihal masalah ini." Aleya membungkukkan badannya di hadapan Rebecca.

"Apa kita bisa bicara di tempat lain?" tanya Sofia menatap keduanya.

"Bi--"

"Maaf, tapi Tuan Reyen tak bisa menunggu lama. Dia harus segera pulang untuk sekolah berikutnya!" tegas Rebecca dengan ekspresi pongahnya.

"Oh, baiklah kalau begitu, Nona Rebecca. Hati-hati di jalan, sampai ketemu esok hari."

Tak ada jawaban dari Rebecca. Wanita itu langsung pergi meninggalkan ruang UKS tanpa bertanya sedikit pun pada sang wali kelas atau Aleya.

"Maaf, Bu Guru, tadi apa yang ingin Anda bicarakan?" Sofia tiba-tiba bertanya.

"Oh, iya--iya, maaf, saya hampir lupa. Begini Mbak, mengenai biaya sekolah Kija mungkin Mbak bisa mengajukan beasiswa ke sekolah ini."

"Bea--siswa? Bagaimana caranya, Bu?"

"Soal itu, nanti akan saya tanyakan pada bagian tata usaha, ya, Mbak. Sekarang yang terpenting Kija sehat dulu. Tapi, boleh saya tanya sesuatu?"

Aleya mengangguk, "Silakan."

"Sewaktu Reyen bertanya dengan intonasi agak tinggi, kenapa Kija tiba-tiba langsung berubah pucat-pasi wajahnya dan juga saya lihat dia langsung tremor."

Aleya terdiam sejenak, memandang sang wali kelas sendu kemudian berkata, "Apa Anda pernah mendengar tentang Parkinson?"

"Parkinson? Bukankah itu sejenis penyakit yang menyerang syaraf?" ucap Sofia

Aleya mengangguk, "Benar, Bu. Parkinson memang penyakit yang menyerang sistem saraf penderitanya, dan bisa menyebabkan si penderita mengalami tremor (gemetar) bila sudah kelelahan atau panik dan … adik saya, Kija adalah salah satunya." Jelas Aleya menahan tangisnya.

"M--maksud Anda?"

"Kija … dia, mengidap parkinson, Bu Guru."

"Apa? Tapi … bukannya penyakit ini biasanya menyerang pada lansia, ya, Mbak? Bagaimana mungkin anak seusia Kija--" Sofia tak melanjutkan ucapannya dan netranya segera beralih pada sosok mungil yang terbaring di atas kasur ruang UKS yang keras dan tak nyaman.

"Kija …. Tapi, bagaimana mungkin penyakit itu menyerang anak semanis dia?" tanya Sofia masih tak percaya.

"Saya juga tak tahu, Bu Guru. Tapi beberapa kali kami membawanya ke rumah sakit, dokter selalu mengatakan hal yang sama, bahwa Kija ini satu dari 1000 kasus langka yang ada."

"Saya turut menyesal mendengar dan melihat kondisi Kija, Mbak. Akan tetapi, Mbak tetap harus semangat dan memberikan dukungan bagi Kija, ya." Senyum Sofia.

"Terima kasih, Bu Guru. Lalu, soal beasiswa tadi--"

"Oh, itu biar saya yang urus. Mbak jangan khawatir."

"B--benar, Bu?" tanya Aleya tak percaya.

Sofia mengangguk, "Saya yang akan mengurus semuanya. Mbak hanya perlu menyiapkan data-data yang diperlukan untuk persyaratannya." Tukas Sofia menepuk bahu Aleya pelan.

Senyum Aleya sontak mengayun di wajah cantiknya, seakan langit yang tertutup awan kelam, kini berganti menjadi mentari yang bersinar terang. Spontan, Aleya menyambar tangan Sofia dan menggenggamnya erat seraya berkata, "A--apa--apa Ibu sungguh-sungguh? Ibu sungguh-sungguh akan membantu saya?" tanyanya masih tak percaya.

"Iya, Mbak. Saya akan berusaha membantu Kija sekuat tenaga." Sahut Sofia melemparkan senyum manisnya.

"Terima--terima kasih, Bu Guru. Banyak-banyak terima kasih. Saya tak tahu ke mana lagi kaki harus melangkah, terima kasih sekali lagi, Bu Guru." Tak henti-hentinya Aleya membungkukkan badannya di depan Sofia.

"E--e, Mbak. Sudah, Mbak--sudah. Ga enak diliatin orang. Saya segera mengurus beasiswa Kija, ya. Mbak jaga Kija sampai benar-benar sehat."

"Baik, Bu Guru. Sekali lagi terima kasih."

Tak lama, Sofia meninggalkan Aleya dan ruang UKS. Aleya melihat sang adik dari pintu luar ruang UKS sambil berkata, "Kija, kini Kakak tahu ke mana harus melangkah … Kakak janji kau akan baik-baik saja dan bisa mencapai apa yang kau mau."

Bab 3

"Bu Winda, kapan Ibu punya waktu? Kita bisa bahas masalah anggaran sekolah ini di luar sambil makan siang, mungkin."

Bariton seorang pria mengenakan setelan kemeja warna putih dengan dasi warna hitam, celana hitam lurus yang membentuk kakinya agar tampak kurus serta tubuh masih segar untuk seorang pria dengan usia 60 tahun. Dialah Tuan Syam, lelaki paruh baya … katakanlah demikian, pemilik yayasan tempat di mana Kija bersekolah, seorang pria dengan multi talenta, pria dengan pesona dan kharisma di usianya yang tak lagi muda, seorang duda beranak satu, namun sayang, semua talenta dan kharisma yang Syam miliki kadang membuat orang-orang di sekitarnya jengah dan merasa kalau dia adalah orang yang paling pongah di dunia, apalagi bila menyangkut tentang harga diri dan kekuasaan. Selain itu, anggapan uang bisa membuat dunia di tangan kita tampaknya benar adanya. Dengan kekayaan yang dimiliki oleh Syam, dia selalu menebar pesona pada tiap wanita, terutama pada wanita muda yang mulus, dahi licin, pandai bersolek, dan yang penting mau menerima segala kondisi apa pun tanpa banyak mengeluh dan meminta.

"M--maaf, Pak. Tapi, saya sudah ada acara dengan keluarga." Ucap Bu Winda, salah satu guru cantik yang mengajar di sekolah milik Syam sambil menggeser badannya sedikit menjauh dari Syam.

"Kenapa mesti jauh-jauh, sih duduknya, Bu? Nanti jatuh, lho." Gurau Syam dengan tatapan nakalnya mulai melirik ke arah Winda yang terlihat gelisah.

"En--enggak apa-apa, Pak." Balas Winda mulai meremas jari-jari miliknya dan sesekali melirik ke arah luar ruangan milik Syam.

"Ada apa, sih Bu Winda? Sepertinya ada yang sedang dipikirkan? Dari tadi saya lihat Ibu--" Syam mulai menempelkan bahu kirinya di sebelah Winda dan membuat guru cantik itu terkejut.

"Pak, m--mau apa, Bapak?" tanyanya mulai ketakutan.

"Enggak mau apa-apa, cuma saya kok kasihan melihat Ibu agak gelisah dan kaya banyak pikiran gitu." Jelas Syam mengurai senyum nakalnya.

Tok … tok … tok ….

Suara ketukan pintu ruangan milik Syam membuat pria itu segera membuyarkan segala adegan romantis yang sedang ia ciptakan. Sementara Winda, tampak bernapas dengan lega dan bersyukur dengan adanya ketukan pintu tersebut.

'Cih, siapa sih yang berani-beraninya mengganggu kesenanganku?' umpat Syam dalam hati dan tak bisa menyembunyikan kekesalannya.

'Yes, Pak Syam kesal. Terima kasih pada siapa pun itu yang telah mengetuk pintu ruangan 'panas' ini.' Senyum Winda kemudian segera berdiri dan berpamitan dengan Syam.

"Sepertinya Bapak kedatangan tamu dan saya juga masih ada kelas, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, permisi." Tanpa membuang waktu, Winda segera keluar dari ruangan Syam dan berpapasan dengan Sofia ketika menarik pintu ruangan pria itu.

"Bu Sofia,"

"Bu Winda,"

Keduanya sama-sama terkejut.

'Bu Sofia?' gumam Syam segera beranjak dari kursinya dan berjalan ke pintu ruangannya.

"Ah, Bu Sofia." Senyum sumringah Syam.

Winda yang merasakan minyak wangi aroma cengkeh yang biasa dipakai lelaki itu langsung kaku terdiam. "Sa--saya permisi dulu, Bu Sofia." Dengan langkah cepat, Winda bergegas meninggalkan mereka berdua dan kembali ke kelasnya.

"Silakan masuk, Bu Sofia," Syam membuka tangannya dan menyuruh Sofia masuk ke dalam ruangannya diselingi senyum tersirat. "Silakan duduk."

"Terima kasih, Pak." Ucap Sofia merapikan rok panjangnya coklat gadingnya.

"Ada apa ya, Bu? Apa ada masalah?" tanya Syam menyilangkan salah satu kakinya sambil duduk berseberangan dengan Sofia.

"Begini, Pak. Maksud saya datang ke sini adalah untuk membicarakan perihal beasiswa yang disediakan oleh sekolah ini, Pak. Dan kebetulan salah satu murid saya datang dari keluarga yang kurang mampu."

"Hmmm, begitu. Siapa nama murid Ibu?" tanya Syam mengelus-elus dagunya pelan.

"Kija."

"Hah? Siapa? Kija? Hahahhaha …." Syam tiba-tiba tertawa lebar.

"A--apa ada masalah, Pak?" tanya Sofia bingung.

"Tidak--tidak. Hanya saja … Kija? Nama macam apa itu?" Syam tak henti-hentinya tertawa dan itu membuat Sofia geram.

"PAK! Dengan segala hormat, nama itu adalah hadiah terbesar dan terbaik dari orang tua dan juga nama itu adalah DOA!" tegas dan lantang Sofia membalas ucapan sang pimpinan.

Syam langsung berhenti tertawa dan menatap Sofia tajam. "Bu Sofia, Anda berani membentak saya?"

"Maaf, Pak. Tapi itu … karena Anda yang memulainya lebih dulu! Saya hanya meminta Anda bisa bersikap layaknya seorang pimpinan dari sekolah ini!" tegas Sofia sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.

Syam terdiam, kemudian tak lama ia berujar, "Suruh keluarganya menghadap saya, Bu Sofia."

Bu Sofia yang kali ini terdiam. Dia tahu betul bagaimana watak dan sikap pimpinannya, apalagi jika bertemu dengan wanita seperti Aleya. Matanya pasti tak akan berhenti menatap wanita cantik itu.

"Bu Sofia … Bu Sofia, kenapa diam? Saya mau salah satu keluarganya datang menemui saya," ucap Syam sekali lagi dengan tegas.

"Oh, b--baik, Pak. Akan saya sampaikan. Kebetulan, salah satu keluarganya ada di sini."

"Benarkah? Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat panggil ke sini!" perintah Syam.

"Tapi, Pak--"

"Tapi apa lagi?" tanya Syam mulai kesal.

"Saat ini salah satu keluarganya sedang menunggu murid saya yang pingsan di kelas, Pak," Sofia tampak ragu menjelaskan.

"Apa? Pingsan kenapa? Ada apa memangnya?"

"Hanya kesalahan yang biasa dibuat anak kecil, Pak. Tapi, saya tak tahu jika anak ini memiliki 'penyakit' lainnya. Mmm … saya juga bingung bagaimana menjelaskannya, Pak. Lebih baik Bapak tanya langsung saja pada keluarganya."

"Bukankah itu yang saya minta dari tadi, Bu Sofia?" suara bariton Syam mulai keluar dari sela tenggorokannya

"Baik, Pak. Akan segera saya sampaikan. Permisi."

Tanpa banyak kata, Sofia langsung keluar dari ruangan Syam dengan tergesa-gesa dan menghampiri Aleya yang masih berada di ruang UKS.

****

"Kija, kenapa kamu belum bangun juga, Sayang? Apa kamu ga sayang Kakak, mama, Dinda? Bangun, Kija … bangun--"

"Mbak."

Suara lembut Sofia menyela di antara ucapan kesedihan dan kekhawatiran Aleya yang masih duduk di samping sang adik.

"Oh, Bu--Bu Guru." Sofia berdiri dan menghapus air matanya.

"Bagaimana Kija?"

Aleya menggelengkan kepalanya. "Belum sadar, Bu."

Sofia menatap lirih keduanya dan berujar, "Pak kepala yayasan ingin bertemu dengan Anda."

"P--Pak kepala yayasan? Siapa, Bu?"

"Namanya Pak Syam, beliau adalah pimpinan sekaligus pemilik dan merangkap sebagai kepala sekolah di sini. Beliau ingin bertemu dengan Anda."

"Bertemu dengan saya perihal apa, ya, Bu?" tanya Aleya dengan mimik wajah bingung

"Ini soal … beasiswa, Mbak. Beliau ingin bertemu langsung dengan calon oenerima beasiswa. Maaf, tadinya saya pikir saya saja cukup untuk membantu mempermudah urusan. Ternyata--"

"Enggak apa-apa, Bu. Saya juga minta maaf karena sudah merepotkan Ibu dengan masalah ini. Baik, saya akan menemui kepala sekolah, Bu." Balas Aleya sambil tersenyum ramah.

"Oh, y--ya, silakan, Mbak. Tahu ruangan kepala sekolah, kan?"

"Iy, saya tahu, Bu. Permisi."

"Mbak," panggil lagi Sofia.

"Ya, ada apa, Bu?"

"Begini, saya sudah terlalu lama meninggalkan kelas, jadi Kija akan saya titipkan pada petugas UKS yang sedang berjaga," ucap Sofia merasa tak enak hati.

"Baik, Bu. Terima kasih."

Akhirnya, tak menunda lagi, Aleya segera pergi menuju ruang kepala sekolah yang tak jauh dari ruang UKS. Sofia hanya menatap nanar ke arah Aleya sembari bergumam, "Semoga dia tak apa-apa."

Tok … tok … tok ….

"Masuk."

"Selamat siang, Pak."

Syam yang tengah menandatangani beberapa dokumen segera memaku netranya kala melihat seorang wanita muda nan cantik juga berparas ayu tengah memasuki ruangannya.

"Selamat siang, Pak." Sapa wanita itu membungkukkan sedikit badannya.

Syam langsung terpaku layaknya sebuah patung. Duduk diam membisu tanpa sepatah aksara keluar dari mulutnya.

"Permisi, Pak. Apa Anda Pak Syam?" tanya wanita itu yang tak lain Aleya dengan sopan dan mengulas senyum manis bergingsul di atas gigi sebelah kirinya.

Namun Syam tetap terpaku menatap ke arah Aleya tanpa mengedipkan netranya.

"Pak … Pak …" Aley tampak kebingungan.

Akhirnya, mau tak mau dia mendekati Syam dan melihat pria tua itu dari dekat. Mata Syam seakan memiliki sinyal akan wanita cantik yang melintas di hadapannya. Matanya mengikuti gerak tubuh Aleya ke kanan-kiri, membuat wanita cantik itu salah tingkah.

"PAK!" Aleya terpaksa meninggikan intonasi suaranya.

"Eh--oh, ya--ya, ada apa?" tanyanya tergagap.

"Apa Anda Pak Syam? Ketua dan kepala sekolah di sini?" Aleya tak mengendurkan senyumnya.

"Ya, saya Syam. Mbak ini--"

"Perkenalkan, nama saya Aleya. Saya diminta Bu Sofia untuk menemui Anda." Balas Aleya mengulurkan tangannya.

Tanpa ragu, Syam langsung mengeratkan kedua tangannya pada Aleya dengan kencang hingga membuat wanita ayu ini tak nyaman.

"Oh, ma--maaf, kekencengan, ya. Silakan--silakan duduk," Syam dengan semangatnya mengantarkan Aleya ke kursi warna putih dengan pinggiran kayu berwarna coklat gelap.

"T--terima kasih, Pak."

"Mau minum apa?"

"Maaf?" tanya Aleya terkejut.

"Mbak, mau minum apa?" tanya Syam mengumbar senyum.

"Tidak, tidak usah, Pak. Saya datang ke sini bukan untuk minum," tolak Aleya dengan halus.

"Ga apa-apa. Di luar kan cuacanya sedang panas. Mungkin Mbaknya kehausan. Sebentar, akan saya suruh penjaga sekolah membawakan air untuk Mbak." Syam segera meraih pintu ruangannya dan memanggil salah satu penjaga sekolah.

'Kenapa perasaanku tak enak, ya?' gumam Aleya memegang dadanya dan terlihat gelisah.

"Tadi, nama Mbak siapa?"

"Aleya, Pak."

"Oh, ya. Ada apa Mbak Aleya? Ada yang bisa saya bantu?" Syam tak hentinya menatap Aleya dengan mata layaknya pria mata keranjang dan berhidung belang.

"Bu Sofia meminta saya menemui Anda, Pak perihal beasiswa yang bisa adik saya dapatkan di sekolah ini," jelas Aleya merendahkan suaranya.

"Oh, ya--ya, Bu Sofia memang ada cerita ke saya soal itu. Siapa itu, Ki--Ki--"

"Kija, Pak?" sahut Aleya menimpali ucapan Syam.

"Ah, ya. Kija, Anda apanya Kija?"

"Saya kakaknya, Pak."

"Ka--kak?" tanya Syam sedikit tak percaya.

Aleya mengangguk. "Apa ada masalah, Pak?"

"Oh, tidak--tidak,"

Tak lama, terdengar suara ketukan pintu di ruangan Syam dan munculah sesosok pria tengah baya mengenakan topi hitam dan kaos warna putih serta celana bahan hitam dan sandal jepit mengantarkan dua gelas es teh ke ruangan Syam.

"Silakan," ucap Syam menawarkan minuman.

"T--terima kasih, Pak," jawab Aleya merasa sungkan.

"Kija ini, apakah anak yang diceritakan oleh Bu Sofia yang sedang pingsan?"

Lagi-lagi Aleya mengangguk. "Be--benar, Pak."

"Jika saya boleh tahu, kenapa adik Mbak bisa sampai pingsan?"

"Belum makan," celetuk Aleya mencari alasan.

"Belum makan? Tapi Bu Sofia bilang adik Anda pingsan karena bertengkar dengan teman sekelasnya?" Syam mulai menunjukkan seriusnya.

Aleya merasa bingung dan mulai gelisah. Jemarinya dieratkan sekencang-kencangnya hingga memerah. Syam yang melihat sikap Aleya tiba-tiba berpindah posisi duduk di sebelahnya. Sadar akan ketidakberesan pada sang kepala sekolah, Aleya segera berdiri dan berkata, "Maaf, Pak. Saya datang ke sini untuk membicarakan tentang beasiswa bagi adik saya. Bila memang sekolah ini tak menyediakan beasiswa, tak apa. Saya akan mencarinya di tempat lain! Permisi!"

Tanpa banyak basa-basi, Aleya segera keluar ruangan sang kepala yayasan hidung belang tersebut dan kembali ke ruang UKS. Sepanjang jalan menuju ruang UKS, Aleya beberapa kali menyeka cairan berwarna putih berbentuk butiran yang acap kali ingin jatuh di pipi mulusnya. Mata yang sedikit basah menandakan ada suatu beban yang sedang dipendam oleh wanita malang ini. Ayah yang tiada berkabar, sang mama yang harus membanting tulang, dan adik-adiknya yang masih memerlukan banyak biaya untuk sekolah.

Sebuah ruangan yang agak besar dengan tanaman nan hijau merambat di depan ruangan tersebut membuat teduh siapa pun yang melangkahkan kaki melewatinya. Sebuah tulisan yang digantung di sebuah papan berbentuk segi empat warna putih bertuliskan 'Ruang UKS', menjadi tempat Aleya menapaki langkahnya.

Netra yang sendu itu menatap nanar sang adik yang belum jua tersadar dari pingsannya, sementara dirinya harus bergumul dengan waktu demi adik-adiknya.

'Ayah, di manakah dirimu? Apa ayah tahu jika Kija sedang menantimu?'

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

ALEYA

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED