Alexa menatap bayangan dirinya di depan cermin. Sungguh ia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Seorang gadis berkebaya kutu baru bermata bulat, balas menatapnya tajam. Dirinya berkebaya saudara-saudara!
Jikalau tidak karena harus berperan sebagai Jamilah Binti Surip, mungkin seumur hidup ia tidak akan pernah mengenakan pakaian gadis desa seperti ini. Bayangkan ia yang sehari-hari mengenakan ripped jeans dan jaket kulit, tiba-tiba harus berkain kebaya seperti ini. Tadi saja, ia nyaris terjungkal karena keserimpet kain panjang. Ia jadi tidak bisa berjalan cepat, karena kainnya ini membatasi gerakannya.
Rambutnya yang sudah mulai panjang, juga membuatny gerah. Sebenarnya kemarin ia sudah ingin memotongnya dengan model cepak seperti biasanya. Namun papanya melarang. Menurut papanya, penampilannya harus all out saat berperan sebagai cucu Mbok Sari. Mana ada cucu seorang ART yang anggun dan kemayu, punya cucu seperti seorang premanwati?
"Lexa! Mau berapa lama lagi kamu di dalam sana hah?!" Teriakan papanya membuat Alexa dengan cepat meraih koper. Ia sangat mengenal karakter papanya. Jika ia tidak keluar dalam tiga menit, bisa dipastikan pintu kamarnya hanya akan tinggal engselnya saja. Sudahlah, tidak apa-apa hari ini ia berpenampilan sebagai gadis desa. Toh besok lusa ia akan bisa berpenampilan seperti biasanya. Kopernya ini sudah penuh dengan segala atribut dan pakaian kebesarannya.
"Iya, Pa. Lexa sudah selesai kok." Seraya menggeret kopernya ia melangkah ke ruang tamu. Tampak papa, mama, serta Xander kakaknya, telah duduk di sofa. Sementara Mbok Sari dan Pak Hamid duduk di hadapan mereka.
"Nah Pak Hamid, Mbok Sari, Alexa sudah datang. Waktunya berangkat." Axel beringsut dari sofa diikuti oleh istri dan putra sulungnya. Begitu juga dengan Pak Hamid dan Mbok Sari. Sepasang suami istri yang sudah mengabdi puluhan tahun bersama keluarganya. Bahkan sebelum kedua orang tuanya terbunuh.
Ia ingat sekali. Bagaimana Pak Hamid dan Mbok Sari yang pada waktu itu baru menikah, terus membesarkan hatinya saat kedua orang tuanya dimakamkan. Selain Bang Gultom alhamrhum, Pak Hamidlah orang yang paling lama mengabdi padanya. Disusul dengan Mang Tisna, Beli Made, Bang Raju dan Erick. Pak Hamid adalah seorang supir. Sementara lima orang terakhir itu adalah para bodyguardnya. Kempatnya juga telah pensiun karena usia, dan hidup dengan keluarga masing-maaing. Hanya saja, Erick yang usianya lebih muda, sesekali masih berkunjung untuk memberi pelatihan pada pengawal-pengawal baru.
Daddynya, Pierre Delacroix Adams, adalah seorang mafia yang sangat ditakuti di masanya. Sementara mommynya, Aimee Delacroix Adams, adalah seorang istri yang sangat mencintai dan setia sampai akhir pada daddynya. Dan sudah tentu daddynya memiliki banyak bodyguards untuk melindungi dirinya dari musuh-musuhnya. Namun siapa menyangka kalau nyawa kedua orang tuanya malah, melayang di tangan adik angkat mereka sendiri. Texas Delacroix Bimantara. Om sekaligus ayah kandungnya. Kisah cinta bersegi-segi antara daddy, mommy dan omnya telah menumpahkan darah dan dendam. Namun semua itu kini telah berlalu. Satu hal yang pasti, ia tetap memakai nama belakang Delacroix Adams. Bukan Delacroix Bimantara. Karena baginya Pierre adalah ayahnya. Texas hanyalah ayah biologisnya.
Setelah menjadi yatim piatu pada usia dua belas tahun, dengan Lily, adiknya yang masih berseragam SD, Pak Hamid dan kelima bodyguards ayahnya inilah yang menjaganya. Membentuk pribadinya agar kuat, dengan mental yang tak mudah patah. Mereka semua adalah pengganti orang tua baginya dan Lily kala itu.
Kini saat ia harus melepas Mbok Sari dan Pak Hamid, yang telah ia anggap seperti keluarganya sendiri, Axel merasa matanya berair. Namun ia harus. Karena keduanya telah semakin menua dan mereka ingin kembali ke kampung halaman. Menghabiskan masa tua dan sisa hidup di sana. Dekat dengan keluarga dan sanak saudara.
"Pak Hamid, Mbok Sari. Saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas pengabdian Pak Hamid dan Mbok Sari selama ini. Terima kasih atas waktu dan tenaga yang telah Pak Hamid dan Mbok Sari curahkan selama ini kepada keluarga saya."
"Sama-sama, Den Axel. Saya dan Si Mbok juga mengucapkan terima kasih. Karena telah diberi banyak sekali kemudahan selama kami bekerja di sini. Kami telah digaji lebih dari cukup. Diberikan rumah, dan sebidang tanah yang luas untuk hari tua, serta membiayai pendidikan putra putri kami hingga menjadi sarjana di Jakarta. Bahkan sampai membuat anak-anak kami hidup mapan di ibukota ini." Pak Hamid juga menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Sama-sama, Pak. Baiklah. Sekarang saya titipkan Alexa, di kampung halaman Bapak untuk memperbaiki segala kecerobohannya. Saya harap Pak Hamid dan Mbok Sari bisa mendidik Lexa, seperti Pak Hamid dan Mbok Sari dulu mendidik saya dan Lily dulu. Agar Lexa bisa belajar dari semua kesalahannya. Titip Lexa, ya Pak, Mbok? Saya titipkan buah hati saya pada kalian berdua."
Axel menyalami dan memeluk Pak Hamid untuk terakhir kalinya. Ia sadar, bisa saja ini adalah pertemuan mereka terakhir kalinya, karena masalah usia. Setelahnya ia menyalami Mbok Sari.
Kemudian berturut-turut istrinya Raline yang menyalami sembari menangis sedih. Raline pasti berat ditinggalkan oleh mereka berdua. Xander putranya menyusul setelahnya.
"Dan kamu Lexa, turuti apa yang dikatakan oleh Pak Hamid dan Mbok Sari. Ingat, mulai hari ini namamu adalah Jamilah Binti Surip. Anak dari Surip. Putra sulung Pak Hamid dan Mbok Sari."
"Iya, Pa," jawab Alexa takzim.
"Ingat juga, kamu akan tinggal setahun penuh di sana. Tanpa uang saku sepeser pun dari Papa. Kamu akan diberi makan tiga kali sehari oleh Mbok Sari. Setelah itu kamu harus mencari uang saku sendiri. Kalau kamu curang, Papa akan menambahi waktu hukumanmu."
"Siap, Pa!" Alexa mengeraskan suaranya.
"Kamu hanya akan bebas dari hukuman, dengan dua syarat. Menjalani hukumanmu selama setahun penuh, atau kalau ada laki-laki bernyali yang berani melamarmu pada Papa. Itu pun kalau laki-laki itu mampu mengalahkan Papa dan kakakmu di Alcatraz. Kalau dia kalah. Maka dia tidak pantas menjadi menantu Papa. Jelas, Lexa?"
"Jelas, Pa!" Angguk Alexa patuh. Benaknya hanya memikirkan satu hal. Ia akan terdampar selama setahun penuh di Desa Pelem. Karena tidak mungkin ada pemuda setempat yang berani melamarnya. Lebih jauh lagi, mampu mengalahkan keganasan papa dan kakaknya di atas ring tinju.
"Kalau begitu, segeralah berangkat." Perintah Axel. Alexa memeluk mama dan kakaknya. Keduanya memintanya bersabar dalam menjalani hukum. Mereka juga mengatakan kalau waktu setahun itu tidak lama. Ya, memang tidak lama bagi orang yang tidak mengalaminya.
Alexa memandangi seantero rumah sebelum meraih kopernya. Hanya koper inilah hartanya saat ini. Semua uangnya dan fasilitas dari papanya telah dicabut.
"Tinggalkan kopermu, Lexa. Papa sudah mempersiapkan koper tersendiri untukmu. Isinya berbagai macam model kebaya sederhana. Seperti kebaya model kutu baru, kebaya encim dan yang lainnya. Koper barumu sudah ayah siapkan di bagasi mobil. Kamu tinggal bawa badan saja ke desa Pelem. Berangkatlah sekarang."
Selamat tinggal ripped jeans dan jaket-jaket kulit kesayanganku. Sabar ya, setahun lagi aku akan mengenakan kalian semua. Doa kan aku cepat pulang ya?
***
Mobil yang dikendarai oleh Mang Dadang melaju membelah kabut pagi yang masih menggantung di kaki bukit. Alexa menatap sawah-sawah dan tepi hutan yang silih berganti mereka lewati. Ia tidak yakin apakah ia akan betah tinggal di pedesaan seperti ini.
Mobil berjalan tenang dan kali ini mereka melewati perkebunan teh yang luas, dan entah perkebunan apalagi. Sebagai anak kota tentu saja ia tidak familiar dengan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan. Yang ia lihat hanyalah hamparan hijau yang indah seperti lukisan. Sesekali mobil mereka berpapasan dengan mobil lain dan ataupun truk yang lalu-lalang di jalan yang sama. Tak jarang juga bertemu dengan pesepeda, barisan sapi, kambing dan hewan-hewan ternak lainnya di sisi jalan.
Alexa menghela napas kasar. Ia tidak tahu, apakah ia akan betah tinggal di desa seperti ini. Jauh dari keluarganya lagi. Hingga di usianya yang menginjak dua puluh tiga tahun, ia tidak pernah tinggal terpisah dengan orang tuanya. Paling lama adalah seminggu. Itu pun dalam rangka liburan. Bagaimana ia mampu melewati setahun tanpa mereka bahkan di tempat yang asing pula?
"Rumah Mbok masih jauh tidak?" Alexa melayangkan pandangan pada Mbok Sari, yang tampak menikmati pemandangan di sepanjang jalan.
"Sekitar setengah jam lagi, Non. Sabar ya? Nanti Non akan menikmati suasana yang berbeda. Udaranya juga masih bersih. Non pasti akan lebih sehat selama tinggal di sini. Percaya deh sama, Mbok."
Mbok Sari mengelus sayang bahu Alexa yang kini merebahkan kepala pada bahunya. Beginilah sifat Alexa bila tidak ada orang asing di sekitarnya. Kolokan dan manja. Inilah sebenarnya karakter aslinya. Penampilan kasar dan ala premannya, itu hanya tampilan luarnya. Wajar, jika melihat siapa ayah dan kakaknya. Alexa ini memang keturunan mafia dari sananya. Otomatis ia sudah dididik keras sedari lahir. Musuh-musuh warisan maupun musuh baru keluarganya, kerap muncul seperti bayangan. Dan ia harus siap siaga menerima serangan sewaktu- waktu.
"Lebih sehat sih pasti Mbok. Tapi kayaknya Lexa nggak betah tinggal di sini, Mbok. Sepanjang yang Lexa lihat hanya hamparan sawah-sawah, perkebunan dan peternakan. Mau ngapain Lexa di sini Mbok? Masa Lexa harus ngetrack dengan sapi?"
"Harus betah, Non. Ingat, tujuan utama Non ke sini untuk apa? Berapa lama? Setahun itu lama, Non. Kalau Non tidak bisa menyesuaikan diri, Non akan sengsara 365 hari lamanya. Oleh karena itu berdamailah dengan keadaan, Non. Tak kenal maka tak sayang."
Kalimat tanpa tedeng aling-aling Pak Hamid menggedor hatinya. Beginilah Pak Hamid. Ia selalu berbicara tepat pada sasaran. Ia mengamati, menelaah, baru ia akan berpendapat. Pak Hamid adalah salah satu supir yang paling dikagumi papanya. Makanya walaupun Pak Hamid sudah pensiun karena usia, papanya tetap mempertahankannya tinggal di rumah. Jasa Pak Hamid tiada terbayar oleh rupiah. Kecuali Pak Hamid sendiri yang ingin pulang seperti ini. Barulah papanya melepas dengan lega. Itu pun papanya akan memastikan kesejahteraanya di desa. Papanya tidak ingin para pahlawan masa lalunya kekurangan saat usia senja.
"Salah satunya adalah Non harus mencari kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhan, sekaligus menghasilkan uang. Ingat kami tidak boleh memberikan Non apa-apa. Non harus berusaha sendiri."
"Iya, Pak. Tapi saya bisa kerja apa di sini? Sepanjang yang saya lihat hanya sawah, kebun, sekolah," keluh Alexa. Masa ia premanwati jadi guru? Apa pantes?
"Nanti Non akan saya kenalkan dengan Pak Gala. Dia petani dan peternak paling sukses di sini. Bahkan mungkin se nusantara. Bapak pernah melihat Pak Gala ini di televisi. Pak Gala memiliki kebun cabai dan bawang merah seluas
25 hektar di desa Pelem ini. Konon dalam dua kali masa panen, bisa mencapai 28 ribu ton untuk bawang merah. Dan 20 ribu ton untuk cabai merah. Non bisa bekerja di sana kalau Non mau?"
Apa? Jadi buruh kabar di perkebunan. Bah, yang benar saja!
"Lah, masa saya jadi buruh kasar sih, Pak? Mana pantas," Alexa manyun. Premanwati anak mafia Axel Delacroix Adams jadi buruh pemetik cabai merah. Harga diri oh harga diri.
"Kok tidak pantas? Di sini Non adalah cucu saya. Nama Non adalah Jamilah Bin Surip. Pendidikan Non hanya lulusan SMA. Non adalah cucu seorang supir dan pembantu di Jakarta. Tidak ada yang mengenal Alexandra Delacroix Adams di sini. Ingat, setelah Non sampai di rumah saya, saya dan Mbok Sari akan memanggilmu dengan sebutan Milah. Bukan Non Lexa lagi. Mengerti, Non?"
"Mengerti, Pak," jawab Lexa takzim. Ketegasan Pak Hamid dalam meminta jawaban itu sebelas dua belas dengan ayahnya. Di luar, ia memang premanwati. Tetapi bila di rumah, dan menghadapi orang yang lebih tua darinya, ia hanyalah seorang Alexa.
"Kalau Non nggak mau jadi buruh kebun, Non jadi pengajar saja di sekolah. Atau Non bisa menjadi tenaga pengajar di kampung Inggris," Mbok Sari yang merasa kasihan pada Alexa memberi pilihan lagi. Ia tidak seperti suaminya yang tegaan. Ia sudah menganggap Alexa seperti cucunya sendiri.
"Non juga nggak usah takut kesepian di sini. Walau di kampung, tapi di sini sudah ada mesin uang, restaurant, dan kafe-kafe. Cuma kalau ke mall aja yang agak jauh. Karena letaknya di kota Kediri. Sekitar satu jam kalau mau ke sana." Mbok Sari lagi-lagi mencoba membesarkan hati Alexa yang down.
"Mesin uang, restaurant, kafe, semuanya itu memakai uang, Bu. Non Lexa kan tidak punya uang. Makanya harus bekerja dulu, baru bisa menarik uang atau ke kafe dan mall." Bantahan dari Pak Hamid menyadarkan Alexa. Pak Hamid benar. Untuk menikmati itu semua ia harus punya uang. Sementara kantongnya saat ini kosong. Sekedar untuk membeli pulsa saja, ia tidak punya. Sepertinya ia memang harus bekerja.
"Iya, Pak. Lexa akan bekerja di kebun saja. Oh ya, Pak Gala ini usianya seperti papa atau Pak Hamid? Terus galak nggak, Pak? Namanya aja Gala. Jangan-jangan aki-aki ini orangnya gualak poll." Alexa manyun lagi. Bisa stress ia tiap hari dibentak aki-aki galak karena salah dalam bekerja.
"Pak Gala seusia dengan Xander, kakakmu. Tiga puluhan. Kalau masalah galak, kamu benar. Ia galak sekali sehingga dipanggil Pak Gala. Padahal namanya adalah Jenggala Buana Sagara. Keluarganya selalu memanggilnya Gara. Bapak mengenal Gala sedari kecil. Pak Sasongko, ayahnya adalah teman Bapak."
Matiii. Alamat sengsaralah ia setahun ini. Nasib... nasib...
Alexa yang tengah tidur-tidur ayam terbangun saat merasakan tubuhnya terdorong keras ke depan. Mobil yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti mendadak.
"Astaga Mang Dadang, kenapa berhenti mendadak?" Rasa kantuk Alexa hilang mendadak. Ia kaget. Begitu juga dengan Pak Hamid dan Mbok Sari. Keduanya beristighfar seraya mengelus dada.
"Itu lho, Non Lexa. Ada gerombolan ternak yang tiba-tiba melintas. Makanya Mamang jadi mengerem mendadak." Mang Dadang yang terlihat sama kagetnya, berusaha menjelaskan.
"Astaga. Iya. Banyak banget ini sapi-sapi kecil berbaris-baris ya, Mang?Kayak pawai. Mana rapi gitu barisnya." Alexa memandang sapi-sapi kecil yang menyeberang jalan itu dengan perasaan tertarik. Pengembalanya menggunakan sebatang kayu untuk menghalau sapi-sapi yang keluar barisan. Menggemaskan sekali. Ia takjub melihat pemandangan ini. Ia merasa seperti sedang berada di film-film cowboy saja. Yah, cowboy dalam kearifan lokal tentu saja.
"Iya. Tidak apa-apa, Mang. Saya paham. Namanya juga jalanan kampung. Masih banyak ternak-ternak yang berkeliaran. Mamang juga tidak pernah mengendarai sampai ke kampung begini kan?" Pak Hamid menepuk-nepuk punggung Mang Dadang. Pak Dadang mengangguk samar. Sepertinya Pak Dadang masih kaget.
"Non Lexa, itu bukan sapi-sapi kecil. Tapi kambing, Non." Kali ini perhatian Pak Hamid tercurah pada Alexa. Majikan kecilnya itu tampak terpesona pada gerombolan kambing yang melintas di jalan.
"Hah, iyakah? Saya tidak bisa begitu membedakannya, Pak." Alexa nyengir. Setelah insiden rombongan kambing itu berlalu, mobil pun kembali berjalan. Sekitar seperempat jam kemudian, mobil berjalan perlahan memasuki satu halaman rumah yang cukup luas. Rumah ini terlihat lebih luas dibanding dengan rumah-rumah yang telah mereka lewati tadi. Pekarangan rumah ini juga dipenuhi dengan pohon-pohon yang lebat. Ia tidak tahu persis nama pohon-pohon yang sebagian belum berbuah ini. Yang ia kenali hanya tiga macam pohon yang kebetulan sudah berbuah. Yaitu pohon rambutan, pohon mangga dan pohon jeruk.
"Kita sudah sampai, Milah. Inilah rumah kita sekarang. Juga rumahmu selama setahun ke depan." Alexa meringis mendengar Pak Hamid memanggilnya dengan sapaan aneh, yaitu Milah. Pak Hamid benar-benar menjalankan perannya dengan serius. Selama di mobil Pak Hamid tetap memanggilnya dengan sebutan Non Lexa. Tapi begitu menginjakkan kakinya di rumah ini, Pak Hamid langsung memanggilnya dengan sebutan Milah. All out sekali Pak Hamid ini saat sedang berperan bukan?
"Iya, Akung." Alexa kembali nyengir saat memanggil Pak Hamid dengan sebutan Eyang Kakung yang disingkat menjadi akung. Ia merasa lidahnya nyaris keseleo, karena tidak familiar memanggil Pak Hamid dengan sebutan Eyang. Bersama dengan Mbok Sari ia pun turun dari mobil.
"Wah, Akung dan Uti sudah sudah sampai ya?" Seorang pemuda keluar dari rumah dengan tergesa. Si pemuda yang ia taksir seumuran dengan Xander kakaknya, mencium tangan Pak Hamid dan Mbok Sari takzim. Sikapnya santun dan penuh hormat.
Setelah menyalami Pak Hamid dan Mbok Sari, si pemuda kini memandanginya.
"Apa lo liat-liat?" bentak Alexa ketus. Ia balas memandang si pemuda dengan berani. Ia paling tidak suka dipandangi terang-terangan seperti ini. Kesannya seperti melecehkan bukan?
"Jangan kurang ajar begitu, Milah," tegur Pak Hamid. Alexa diam. Ia baru teringat posisinya di sini. Tetapi tatap matanya masih memandang si pemuda dengan pelototan kesal.
"Maaf, Mbak... Milah ya nama Mbak? Saya hanya sedikit kaget melihat Mbak. Soalnya--"
"Kaget ngeliat gue? Lo kira gue hantu apa, sampe lo kaget segala!" sergah Alexa sembari berkacak pinggang.
"Cukup, Milah!" Bentakan bernada amarah dari Pak Hamid, kali ini membuat Alexa menutup mulutnya rapat-rapat. Pak Hamid sepertinya memang benar-benar marah padanya.
"Bicara yang sopan pada Masmu," perintah Pak Hamid lagi. Alexa tidak menjawab teguran Pak Hamid. Tetapi ia menundukkan kepala. Tanda bahwa ia menuruti perintah Pak Hamid. Walau jengkel, tapi ia menuruti semua perintah Pak Hamid.
"Oh ya, Bagus. Ini Jamilah, cucu Akung dan Uti dari Jakarta. Usia Milah masih jauh di bawahmu. Panggil saja dia Milah. Bukan Mbak." Pak Hamid menjelaskan siapa dirinya. Alexa diam saja. Ia kelelahan dan sedang malas bicara.
"Minta maaf pada Mas Bagus sekarang, Milah?" Pak Hamid tiba-tiba berbalik ke arahnya. Tatapan Pak Hamid seolah-olah mengatakan ; jangan berani-berani membantah.
"Gue minta maaf," ucap Alexa dingin. Ia mangkel sekali pada pemuda yang dipanggil Bagus ini. Apalagi si pemuda seperti menertawainya. Ada garis tawa yang terlihat nyata di matanya, yang coba ia sembunyikan. Sialan!
Lo seneng kayaknya gue diomelin ya? Tunggu ya, Bagus yang tidak bagus kelakuannya. Gue bales lo ntar. Liat aja!
"Iya, Milah. Saya sudah memaafkan, Milah dari lubuk sanubari saya yang paling dalam."
Eh sianying. Ini orang meledeknya!
"Milah, Bagus ini adalah anak kerabat Akung. Kedua orang tuanya yang mendiami rumah Akung selama ini. Usia Bagus ini juga lebih tua darimu. Jadi panggil dengan sebutan Mas. Ikuti tutur dan adat istiadat di sini. Ingat, di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung. Paham kamu, Milah?"
"Paham, Akung."
"Sudah... sudah... berdebatnya. Ayo kita masuk, Pak. Non--eh Milah pasti sudah capek duduk terus di mobil. Biar dia rebahan dulu." Alexa meringis saat Mbok Sari hampir salah menyebut namanya.
Masuk surgalah Mbok Sari ini. Si Mbok adalah orang yang paling mengerti dirinya. Ia memang sedang lelah luar biasa.
Untunglah kali ini Pak Hamid tidak memprotes lagi. Pak Hamid pasti juga lelah berjam-jam duduk di dalam mobil. Menit berikutnya Pak Hamid dan Mbok Sari berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Sementara dirinya kembali ke mobil. Ia teringat pada koper dan tas ranselnya. Koper itu sebenarnya bukan menjadi prioritasnya tadinya. Karena koper itu adalah pemberian papanya, yang isinya adalah pakaian-pakaian ajaib yang sudah pasti tidak akan digunakannya. Namun menit-menit terakhir sebelun koper dimasukkan ke dalam mobil, mamanya membisikkan sesuatu. Mamanya mengatakan bahwa dirinya telah menyelipkan beberapa pakaian kesayangannya di sana. Oleh karenanya koper itu sekarang cukup berharga baginya.
Alexa baru saya bermaksud mengeluarkan koper dari bagasi, saat sepasang lengan kuat bermaksud mengangkatnya juga. Bagus rupanya. Alexa dengan segera menepis tangan Bagus. Sok gentle amat sih Bagus ini.
"Lo mau ngapain?" sentak Alexa.
"Ya mau mengangkat koperlah. Masa mengangkat kamu?" goda Bagus. Ia Mencoba berkelakar. Sedari tadi cucu Akung ini manyun terus.
"Kagak usah! Gue bisa ngangkat sendiri. Sanaan lo!" Alexa mendorong Bagus agar menyingkir.
"Astaga, Milah. Nada suaramu itu kok tinggi semua sih? Jadi perempuan kok ndak ada alus-alusnya sedikit pun," keluh Bagus. Ia menggelengkan kepala berkali-kali.
"Mulut, mulut gue. Ya suka-suka gue dong mau ngapain? Lagian masalah halus atau kasar nggak ada hubunganya dengan jenis kelamin. Lo belum jumpa aja sama Bang Andy dan Aak Baim. Itu bedua laki, tapi alusnya ngalah-ngalahin putri keraton. Tahu kagak lo!"
Alexa menepis tangan Bagus yang sepertinya ingin mengangkat kopernya kembali. Sejurus kemudian ia mengeluarkan koper yang berat itu dengan satu gerakan tangkas. Dalam sekejap koper telah berpindah ke tanah. Alexa juga mengeluarkan tas ransel besar dan mencangkong tali tas ransel di sisi kanan dan kiri lengannya. Ransel berat itu kini telah berpidah ke punggungnya.
Ia kemudian mengangkat koper besarnya dan memanggulnya dalam sekali angkat di bahu. Kalo cuma begini mah kecil buatnya. Dalam hal angkat mengangkat, selain tenaga sebenarnya yang dibutuhkan itu adalah teknik mengangkat. Dan ia telah mempelajari semua tehnik-teknik itu sejak kecil. Menurut mamanya, papanya telah melatihnya sejak ia mulai belajar berjalan. Makanya ia familiar dengan hal-hal yang berbau ketangkasan.
Alexa hanya tersenyum tipis saat melihat Bagus melongo. Begini nih kebiasaan laki-laki yang hanya memandang perempuan sebagai objek yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Namun si Bagus ini cepat sekali mengubah air mukanya. Ia berusaha terlihat santai sembari meraih kopor Pak Hamid dan Mbok Sari di lengan kanan dan kirinya sekaligus. Mensejajari langkahnya masuk ke dalam rumah.
Saat sampai di ruang tengah, Alexa negara menurunkan koper dan tas ranselnya. Begitu juga dengan Bagus. Pada saat menurunkan koper itulah pandangan Alexa membentur tiga gelas es teh manis dalam gelas yang besar. Berikut bermacam-macam kue-kue kecil di sana. Sepertinya kedatangan mereka ini telah dipersiapkan dengan baik oleh tuan rumah. Alexa menelan ludah. Ia ngiler saat melihat es teh manis yang segar itu, seakan-akan memanggil-manggilnya.
"Oh ya, silakan diminum dulu es teh manis dan kue-kuenya Akung, Uti, Milah," tawar Bagus ramah. Tanpa perlu disuruh dua kali Alexa segera menyambar es teh manis dan meneguknya dengan cepat. Pak Hamid dan Mbok Sari menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Tanpa disuruh ia juga menyomot sepotong risoles, dan mengunyahnya dengan nikmat. Ia memang lapar sekali. Ketika ia melirik kearah Bagus, seperti saat dia mengangkat koper tadi tadi, pemuda itu itu terlihat takjub. Mungkin dalam benak si Bagus ini, ia rakus. Tapi sebodo teing, ia mau berpikir apa. Yang penting perutnya kenyang. Habis perkara. Mengenai pemikiran orang lain ora urus.
"Oh ya, Gus. Sekarang kegiatanmu apa? Menurut ayahmu, kamu sekarang sudah menjadi petani yang sukses ya di kampung ini? Tidak sia-sia ijazah Sarjana Pertanianmu." Pak Hamid menatap bangga pada Bagus. Anak kecil yang dulu sering digendong-gendongnya setiap kali pulang kampung, sekarang sudah sedewasa dan sesukses ini.
"Ya beginilah, Kung. Setelah tamat kuliah saya mencoba-coba melakukan inovasi-inovasi baru dalam bidang pertanian. Seperti mencoba menanam padi jenis tahan hama."
"Padi tahan hama? Sewaktu Akung muda dulu belum ada jenis padi tahan hama, Gus?" kata Pak Hamid. Bagus tertawa.
"Benar, Kung. Sewaktu saya dulu mencoba membuat inovasi baru ini pun, saya juga ditertawai oleh warga. Kata mereka, saya yang anak sekolahan ini tahu apa tentang pertanian, dibandingkan dengan pengalaman mereka yang sudah puluhan tahun bertani. Satu-satunya orang yang mendukung dan memfasilitasi saya adalah Mas Gala. Mas Gala memberikan saya sebidang tanah yang cukup luas sebagai bahan percobaan padi tahan hama."
"Wah, Gala ini sifatnya sama persis dengan ayahnya. Selalu ingin maju dan mencoba hal-hal baru. Ia juga baik hati ya? Mau memberikan kesempatan padamu untuk berkembang." Pak Hamid makin mengagumi sosok Gala. Anak sahabatnya yang sedari kecil sudah menunjukkan kemandiriannya. Terbukti sekarang nama Gala terkenal dalam bidang pertanian dan peternakan.
"Benar, Akung. Mas Gala itu baik sekali dan tidak mudah menyerah. Kami berdua tidak patah semangat dan terus melakukan inovasi baru itu. Pada akhirnya memang terbukti bahwa padi yang kami tanam lebih unggul dibandingkan dengan mereka. Dan sekarang warga beramai-ramai mengikuti jejak kami." Bagus terkekeh. Menceritakan kembali perjuangannya dalam inovasi menanam padi tahan hama selalu membuatnya bersemangat.
"Oh ya, Gala bagaimana kabarnya sekarang, Gus?" Pak Hamid makin tertarik mendengar kesuksesan anak teman masa kecilnya.
"Wah Kalau Mas Gala tidak usah ditanya lagi, Akung. Lahan cabai dan bawang merahnya sampai 200 hektar. Lahannya tersebar dari Kediri sampai Nganjuk. Terus Mas Gala sekarang membuka pabrik bawang goreng kemasan dan sambal pecel. Laris sekali semua produk-produknya, Akung. Karyawannya saja sekitar 150 orang."
"Wah... wah... wah... Gala memang hebat sekarang."
"Bukan itu saja, Kung. Dua tahun lalu Mas Gala sudah merambah ke usaha Perbankan. Mas Gala mendirikan usaha Bank Perkreditan Rakyat dengan nama Buana Cipta Mandiri. Pokoknya di kampung ini dan sepertinya negeri ini, Mas Gala ada petani dan peternak tersukses." Bagus menunjukkan dua jempolnya. Dia memang sangat mengagumi Gala. Gala bukanlah seorang sarjana peternakan atau pun Sarjana Pertanian seperti dirinya. Gala hanya seorang tamatan SMA yang memiliki mimpi-mimpi besar. Ia memulai semua usahanya dari nol.
"Syukurlah. Akung senang dan bangga mendengarnya. Oh ya, Besok pagi Akung ingin kamu menemani Milah bertemu dengan Gala di perkebunan. Milah ingin bekerja di sana. Sebelumnya Akung sudah mengatakan soal Milah ini pada Pak Sasongko. Kamu tinggal membawa Milah saja ke sana. Iya kan, Milah?" Pak Hamid menoleh ke belakang. Bermaksud membuat Alexa mendengar pembicaraan mereka.
Namun Pak Hamid hanya bisa mengelus dada. Ternyata Alexa telah tertidur di bale-bale, yang terletak di bawah jendela. Ia tertidur pulas dengan berbantalkan kedua lengannya sendiri. Kelelahan, suasana sejuk dan angin sepoi-sepoi sepertinya telah membuat majikan kecilnya ini mengantuk.
"Astaghfirullahaladzim. Milah... Milah..." Pak Hamid hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa tugasnya semakin berat untuk mendidik majikan kecilnya ini.
"Akung, Bagus minta maaf kalau dianggap lancang. Tapi Bagus penasaran. Akung ini orang Jawa. Begitu juga dengan Uti. Pak Surip juga. Tapi kenapa Milah ini ini berwajah seperti orang barat? Maaf kalau pertanyaan Bagus ini menyinggung perasaan Akung. Bagus Hanya penasaran."
"Oh itu. Istri Surip itu blasteran Prancis," sahut Pak Hamid kalem. Ketika melihat Bagus mengangguk-angguk, Pak Hamid geli sendiri. Membayangkan Asih, menantunya yang asli Ciamis, telah ia ubah menjadi Prancis. Tapi biar sajalah. Toh Asih juga tidak pernah ke kampung ini. Jadi rahasianya aman.
Notes. Vote dan komen yang banyak yuk? Biar senang authornya. 😁Muach!
Alexa menginjak pedal gas kian dalam. Saat melakukan aksinya ini, beberapa kali ia menoleh ke samping untuk mengamati aksi lawan-lawannya. Ia sedang menjaga-jaga jarak untuk melakukan slip stream. Yaitu mengikuti pembalap lain yang berada satu baris atau garis di depannya, dengan memanfaatkan aliran udara sekitar untuk mendapatkan momentum menyalip lawan. Saat menyalip ia akan membangun momentum untuk bisa menyusul di area bertekanan angin rendah, di belakang pembalap yang akan ia salip ini. Semakin rendah tekanan anginnya, maka semakin diuntungkanlah dirinya.
Ketika timingnya tepat, ia pun beraksi. Alexa tersenyum puas saat ia berhasil melewati dua pembalap liar di depannya sekaligus. Kali ini ia harus menang! Bulan lalu ia kalah taruhan hingga ia terpaksa melakukan hal curang. Yaitu memakai uang kas club untuk membayar kekalahannya. Dan akibatnya ia diasingkan ke kampung Pelem ini selama setahun penuh sebagai sanksinya. Makanya pada balapan liar kali ini, ia akan membalas kekalahannya bulan lalu. Ia bersumpah!
Mobilnya melaju kian kencang. Kini ia meninggalkan tiga pesaingnya di belakang. Saat akan melakukan putaran menikung, ia segera melakukan teknik rolling speed. Di mana ia akan menggantung gas saat menikung dalam kecepatan tinggi. Teknik ini lakukan agar tenaga mesin mobil tidak melemah atau turun saat menikung. Jadi, mobilnya tetap bisa meluncur dengan kecepatan tinggi di tikungan. Dan lagi-lagi, ia berhasil dengan gemilang.
Yes, satu putaran lagi! Alexa berteriak gembira. Ia akan segera melakukan selebrasi apabila ia berhasil mengalahkan pembalap-pembalap lainnya. Khususnya Brandon Sanjaya. Kakak almarhumah Aliya Sanjaya yang brengsek ini memang raja jalanan juga. Dibutuhkan tehnik dan keakuratan tinggi untuk bisa mengalahkannya.
Setelah tiga kali putaran ia merasa aroma-aroma kemenangan kian dekat. Namun sesuatu terjadi. Saat ia akan menekan pegal gas hingga kandas, seseorang seperti menarik kakinya sehingga ia tidak bisa menginjak gas. Alexa gelagapan. Laju mobil melambat dan ia mulai tertinggal. Tidak bisa. Alexa berusaha menarik kakinya sekuat mungkin. Ketika sesuatu itu tidak juga melepaskan kakinya, ia pun mulai menendang. Sesuatu kembali terjadi. Ia basah kuyub terkena curahan air hujan. Namun ia bingung, ia sedang berada di dalam mobil. Jadi bagaimana mungkin ia kehujanan? Aneh!
"Astaga Neng Lexa, kok si Mbok ditendang sih?"
Hah? Menendang Mbok Sari? Yang benar saja. Mana berani dirinya melakukan hal sedurhaka itu. Dia sangat menyayangi dan menghormati Mbok Sari.
Perlahan Alexa membuka mata. Mengucek-ucek mata dan wajahnya yang basah agar pandangannya bertambah jelas. Astaga, ia bermimpi rupanya. Sebentar... sebentar menendang Mbok Sari? Kaget Alexa memandang ke samping. Ia melihat Mbok Sari meringis sembari memegangi gelas kosong. Astaga, ia benar-benar telah menendang si Mbok rupanya! Durhaka sekali dirinya ini.
"Astaga, Mbok. Lexa minta maaf ya? Lexa nggak sengaja. Lexa tadi lagi mimpi, Mbok." Alexa bangun dengan grubukan. Ia merasa sangat bersalah. Kantuknya hilang entah ke mana.
"Sakit ya, Mbok? Sini, Lexa pijetin. Maaf ya, Mbok?" Alexa mencium lengan Mbok Sari yang tidak sengaja terkena tendangannya. Rasa bersalah terus menggelayuti benaknya.
"Nggak apa-apa. Mbok juga salah karena membangunkan Non tiba-tiba. Ini air minum untuk Non sampai tumpah. Tapi ini udah siang, Non. Non sudah harus bangun." Mbok Sari meletakkan gelas di samping meja kayu.
"Siang? Masa sih, Mbok? Lah masih gelap begini, kok siang?" Alexa yang memindai jam dinding di sudut kamar. Masih pukul 05.05 WIB. Ini masih pagi buta malahan. Kenapa si mbok mengatakan sudah siang?
"Kalau di kampung, pagi itu sekitar jam 04.30 WIB, Lexa. Kalau sudah jam 5 lewat, itu namanya sudah siang. Dan orang yang bangun di atas jam itu, rezekinya sudah hilang karena keburu dipatuk ayam. Begitu, Non?"
"Oalah, Mbok. Jam segini ayamnya juga masih pada tidur kali. Jadi mereka belum sempat matuk." Alexa kembali membuat alasan. Namun ia tidak jadi melanjutkan bantahannya, saat melihat bayangan Pak Hamid berdiri di ambang kamar.
"Jangan terus membantah, Non. Ingat Bapak dan si Mbok lah yang membuat peraturan di sini. Bukan kamu. Atau kamu ingin Bapak mengirim laporan jelek pada papamu?" Kalimat yang diucapkan Pak Hamid seketika membuatnya kecut. Apalagi ketika mendengar nama papanya dibawa-bawa. Bakalan makin diperberatlah hukumannya. Ia memang salah. Sedang dalam masa hukuman, eh malah banyak protesnya pula.
"Baik, Pak. Lexa akan bangun. Ngomong-ngomong Apa yang harus Lexa lakukan di pagi buta seperti ini? Bukan saingan mematuk rezeki bersama ayam bukan?" Alexa mencoba bergurau demi mendinginkan suasana. Ia takut kalau Pak Hamid benar-benar melaporkan kelakuannya pada papanya.
"Menyapu halaman, Non Lexa. Di halaman depan banyak sekali daun-daun kering yang berguguran. Kamu sapu semua daun-daun kering itu dengan sapu lidi. Kumpulkan semuanya dalam keranjang sampah anyaman di teras runah."
Astaga, ia dibangunkan pagi-pagi buta hanya untuk menyapu halaman rumah rupanya. Menunggu terang pun seharusnya tidak masalah bukan? Daun-daun itu toh tidak akan pergi ke mana-mana. Nasib... nasib...
"Agar sorean saja disapunya boleh, Pak. Toh daun-daunnya tetap akan di situ-situ juga. Lagian disapu sekarang juga mubazir. Ntar sore juga bakalan berjatuhan lagi daun-daunnya." Alexa mencoba memberi alasan. Daripada setiap pagi disapu dan sore sudah kembali kotor, Bukankah lebih baik sore saja sekalian disapunya? Jadi cuma sekali jalan bukan?
"Kalau perumpamaan kamu seperti itu, sekarang Bapak tanya. Kalau Non sudah mandi di pagi hari, siang atau sore nanti Non mandi lagi tidak?" Alexa terdiam. Pak Hamid ini ada saja jawabannya. Mana jawabannya bener lagi. Apa yang harus ia sanggah coba?
"Mandi juga kan?" Pak Hamid kembali melanjutkan kalimatnya. "Seperti itulah jawaban Bapak mengenai daun-daun berguguran yang kamu jadikan alasan tadi. Paham, Non?"
"Paham, Pak." Alexa mengangguk takzim. Cara Pak Hamid ini menganalisa sesuatu, sama persis dengan papanya bukan? Tidak di ibukota tidak di kampung, ternyata ia tetap akan melihat bayangan papanya di mana-mana.
Setelah Pak Hamid dan Mbok Sari berlalu, Alexa beringsut dari pembaringannya. Tugas pertamanya sudah menanti. Yaitu membersihkan halaman rumah. Ia harus melakukan semuanya secepat mungkin. Menurut Mbok Sari, ia tidak boleh kalah dengan ayam. Setelah ngetrack dengan sapi, ia juga harus saingan dengan ayam.
Setelah ia mencuci muka agar lebih segar, Alexa mengenakan salah satu kebaya dan kain yang ia ambil sembarang dari dalam lemari. Untuk apa lagi dipilih-pilih. Toh semua modelnya sama saja. Hanya motifnya saja yang berbeda. Papanya ini memang niat sekali menyiksanya. Karena sebenarnya gadis-gadis di kampung ini ia lihat juga jarang menggunakan kebaya-kebaya seperti ini lagi. Kemarin secara selintas saat melewati rumah-rumah penduduk, ia melihat gadis-gadis sebayanya lebih banyak menggunakan kulot dan tunik panjang. Sementara kaum ibu-ibunya mengenakan daster, gamis atau terusan. Hanya dirinya saja yang kerapian menggunakan kebaya dan kain untuk pakaian sehari-hari. Tetapi ia tahu membantah keinginan papanya itu sia-sia saja. Bukannya mendapat kemudahan, malah hanya akan menambah masa hukumannya saja. Papanya itu kalau sudah mengatakan A, sampai mati pun ia akan mengatakan A. Sangat sulit untuk mengubah prinsip papanya.
Setelah berpakaian rapi, ia berjalan ke arah halaman depan. Suasana masih gelap dengan udara dingin yang merasuk hingga ke tulang. Alexa celingukan. Tidak ada orang di teras ini. Baguslah, dengan begitu ia bisa berolah raga sebentar untuk menghangatkan tubuhnya yang nyaris membeku. Udara pagi di pedesaan memang dinginnya luar biasa.
Alexa mulai melakukan gerakan kuda-kuda dalam pencak silat. Ia menapakkan kaki dalam keadaan statis, yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan saat akan menyerang ataupun bertahan. Walau tentu saja gerakan yang tidak sempurna karena menggunakan kain. Tetapi tidak masalah yang penting ia bisa mencari keringat.
Ya, dibanding papa dan kakaknya yang menggandrungi oleh raga keras dan mematikan seperti Muay Thai dan Krav Maga, dirinya lebih menggandrungi seni bela diri dalam negeri yaitu pencak silat. Menurutnya gerakan-gerakan pencak silat itu sangat indah, magis, namun juga mematikan. Dalan setiap gerakannya mengandung filosofi ketimuran. Bukan hanya sekedar asal hantam menghantam.
Setelah kuda-kudanya kuat, ia kemudian melakukan tehnik pola langkah. Dengan lincah ia mulai memindahkan injakan pada satu langkah dan berpindah pada sudut lainnya. Beberapa kali ia keserimpet dan nyaris terjerembab. Namun lama kelamaan ia berhasil menyiasatinya. Semakin lama kini gerakannya semakin cepat. Demikianlah dalam lima belas menit terakhir ia telah berkeringat akibat latihan pencak silatnya. Setelah merasa tubuhnya bugar, barulah ia meraih sapu lidi yang disandarkan di sudut rumah. Detik berikutnya ia telah sibuk menyapu daun-daun yang berguguran dengan semangat. Gerakan-gerakan silatnya telah membuat otot-ototnya yang tadinya kaku menjadi kembali lentur.
Baru saja menyapu beberapa menit, ia mendengar suara-suara aneh di belakang rumah. Sikap tubuhnya seketika siaga. Jangan-jangan ada maling di rumah ini, pikirnya. Ia pun mulai berjalan mengendap-endap menuju pintu penghubung belakang rumah. Tepat ketika pintu penghubung terbuka, ia segera mengayunkan batang sapu lidi kepada bayangan gelap yang ia curigai sebagai maling tersebut. Petuah pertama papanya sangat ia ingat. Yaitu serang musuh secepat mungkin daripada kamu diserang duluan.
Namun di luar dugaannya, bayangan gelap itu ternyata bisa mengelak dengan tangkas. Sebagai gantinya, bayangan gelap yang rupanya adalah seseorang yang bertubuh besar, menangkap pergelangan tangannya dan memutarnya ke belakang punggungnya. Walau kaget, namun Alexa tidak kalah akal. Dengan cepat ia menghantamkan sikunya sekuat mungkin pada bayangan gelap itu, hingga terdengar suara makian tertahan.
"Astaga Milah, apa-apaan ini?" Alexa yang nyaris saja menghajar bayangan gelap itu sekali lagi, menahan gerakannya. Ada Bagus yang berdiri di belakang bayangan gelap itu. Kedua tangan Bagus memegang dua buah ember, yang segera ia lempar sembarangan.
"Apa-apaan lo bilang? Mata lo picek atau bagaimana? Lo kagak ngeliat ini maling nyerang gue!" sembur Alexa kesal. Ini orang kagak ada peka-pekanya jadi manusia. Apa mesti ia dibacok duluan baru Bagus menganggapnya ada apa-apa? Lemah!
"Kamu salah, Milah. Bapak ini bukan maling. Ini Pak Jenggala Buana Sagara, Milah."
"Pak Belanga siapa? Gue kagak kenal. Yang pasti ini orang udah mengendap-endap di rumah Pak--Akung," semburnya kesal. Ia nyaris terpelesat kata saat menyebut Pak Hamid.
"Nama saya Jenggala. Bukan Belanga. Kedua kalimat itu sangat berbeda jauh artinya. Jenggala itu artinya hutan rimba. Sedangkan belanga itu periuk. Jangan sembarangan mengganti nama pemberian orang tua saya. Mengerti kamu!" Sambil menggeram marah, si Belanga ini menekuk kedua pergelangan tangannya. Walau kesakitan Alexa tetap memperlihatkan wajah menantang. Haram baginya mengemis-ngemis agar dilepaskan.
"Mau itu Jeng Lala, Nyai Ajeng, Belanga atau Belatung sekalipun, nama yang paling pantes buat lo itu adalah maling! Ngerti lo!" Alexa memalingkan wajah ke samping. Dengan berani menantang tatapan si Belanga yang masih saja menelikung tangannya ke belakang. Ia sampai harus menelengkan kepalanya agar dapat melihat wajah si Belanga ini.
Kini jarak wajah mereka hanya tinggal sejengkal. Ia bisa merasakan napas hangat si periuk yang menyapu-nyapu ujung hidungnya. Juga kedua bola mata segelap malam yang menatapnya muram. Maling sekarang pada tidak tahu diri sepertinya. Sudah salah, masih galakan dia lagi. Pakai acara memperkenalkan diri segala.
"Sebut saya maling sekali lagi, maka akan saya remukkan kedua tanganmu ini!"
Eh kurang ajar!