"Bagaimana keadaan pasien rawat inap hari ini, Sus? Apa sudah ada perkembangan?" Andrio bertanya pada perempuan berpakaian putih khas medis disampingnya. Kaki panjang pria itu melangkah cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang rawat inap Mawar. Suster-suster berpakaian putih terlihat berlalu lalang di sampingnya. Sesekali dia tersenyum sopan pada suster yang menegurnya.
"Alhamdulillah, semua pasien yang Dokter Surya tangani kondisinya membaik. Bahkan di antara mereka sudah boleh pulang hari ini," jelas perawat ber-nametag Ria Purwati itu.
"Alhamdulillah kalau gitu."
Sesampainya di ruang Mawar, Andrio menyapa pasien-pasiennya dengan ramah.
"Halo, Ibu. Gimana keadaannya hari ini?" Andrio mulai memeriksa seorang ibu yang terbaring di ranjang pertama. Ibu itu menderita penyakit bronkitis akut.
"Halo, Dok. Alhamdulillah Dok sudah mendingan," jawab ibu itu sambil tersenyum.
Andrio mengangguk-angguk sambil memeriksa denyut jantung ibu itu dengan stetoskop yang menggantung di lehernya sejak tadi. "Ada keluhan, Bu?" tanyanya lagi saat dirasa denyut jantung ibu itu berdetak normal.
"Nggak, Dok."
"Kalau begitu berarti Ibu sudah benar-benar sembuh, ya. Alhamdulillah, besok Ibu sudah boleh pulang." Lalu Andrio beralih menganamnesis pasien lain di ruangan itu, sesekali berbicara dengan suster yang mengiringnya sejak tadi.
Andrio kadang masih tak menyangka akhirnya dia bisa sukses menjadi dokter setelah banyak drama yang dia lewati selama ini. Dia bahkan sempat menentang keinginan orang tuanya untuk menjadi dokter. Ya, Andrio tahu ini semua juga tak lepas dari do'a dan harapan orang tuanya selama ini.
Sudah hampir empat tahun Andrio bekerja sebagai dokter umum. Ada banyak hal yang dia inginkan. Namun sampai detik ini belum juga tercapai. Lantaran banyak juga hal yang harus dia selesaikan sebelum mencapai keinginan-keinginan itu. Salah satu keinginan Andrio adalah menjadi dokter spesialis jantung.
***
"Baik kalau begitu sekian rapat pagi ini. Silakan kembali ke ruangan masing-masing."
Alena menutup meeting hari itu dan mempersilakan karyawan-karyawannya keluar lebih dulu. Para karyawan itu pun berbondong-bondong meninggalkan ruangan sambil menenteng tablet dan laptop. Kini hanya menyisakan direktur utama PT GoodFood Sejahtera tbk itu bersama seorang sekretarisnya, Putri Anjani.
Alena tersenyum menatap perempuan berambut pendek itu yang tengah memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Makasih, ya, Anjani," ucap Alena yang terdengar tiba-tiba bagi Anjani hingga perempuan itu menatapnya heran.
"Terima kasih buat apa, Bu?" Sang sekretaris bertanya balik. Pasalnya dia merasa tidak melakukan hal lebih hingga membuat bosnya itu mengucapkan demikian.
"Terima kasih selama ini kamu sudah bantu saya menangani perusahaan ini. Kerja kamu luar biasa. Kalau nggak ada kamu, saya mungkin udah keteteran. Selama ini juga kamu memberitahu saya apa-apa yang saya nggak tahu," jelas Alena panjang lebar mengingat bantuan-bantuan sekretarisnya selama ini.
Anjani balas tersenyum. "Itu sudah tugas saya, Bu. Saya hanya berusaha bekerja dengan baik."
Bagi Anjani mungkin itu tak seberapa, tapi Alena sangat terbantu dengan kinerja bawahannya. Selama ini dia memperhatikan gadis muda itu sangat profesional melakukan pekerjaan. Dia bisa merasakan itu. Dan dia salut dengan gadis muda dihadapannya ini. "Iya, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Sama-sama, Bu. Saya duluan ya, Bu," pamit Anjani yang sudah selesai mengemaskan peralatannya.
"Hmm ...," gumaman Alena menginterupsi gerak Anjani yang hendak berdiri. Melihat itu, sang sekretaris menatapnya penuh tanya. "Sebenarnya saya mau ajak kamu makan di luar, tapi sepertinya kamu buru-buru. Ya udah nggak pa-pa." Alena tersenyum.
Wajah Anjani langsung terlihat tidak nyaman. "Maaf, Bu, tapi saya banyak kerjaan. Kapan-kapan saja, ya, Bu," tolaknya secara halus.
Alena mengangguk. "Iya."
"Kalau begitu saya permisi, Bu."
"Silakan."
Wanita bertubuh semampai itu pun berdiri dan keluar ruangan sambil membawa tas kerjanya.
Alena masih memperhatikan punggung wanita itu sampai dia menghilang di balik pintu.
Entah kenapa dia selalu merasa kagum melihat sekretarisnya itu. Usia Anjani masih 23 tahun, masih sangat muda. Namun, dia sudah menjabat sebagai sekretaris di perusahaan besar. Kinerjanya juga bagus. Meski begitu, dia tetap rendah hati. Dan gadis itu belum memiliki suami atau calon suami.
Alena jadi teringat akan dirinya dulu, sebelum dia menikah. Dirinya baru menjabat sebagai CEO di usia 25 tahunan. Dan sebelum itu dia bekerja semrawutan. Dulu, Alena sedih dengan nasibnya yang tak seberuntung remaja seumurnya. Dia bahkan nyaris menyerah dengan keadaan dan nekat bunuh diri.
Namun, memang benar, rencana Tuhan selalu lebih baik dari yang diperkirakan. Siapa sangka, dirinya yang dulu pernah jadi tukang cilok keliling, juga Cleaning Service, kini menjabat posisi sekarang.
Seandainya dulu dia bunuh diri mungkin dia takkan merasakan nikmat ini. Meski telah bertahun-tahun, kadang Alena masih tak percaya dengan yang dia miliki sekarang. Semuanya terasa seperti mimpi. Semua ini juga berkat bantuan orang-orang paling berjasa dalam hidupnya, Mbah Nani dan mendiang Bu Ratih. Dia tak akan lupakan mereka.
Alena menghela napas dan memutar kursi putarnya sedikit. Tatapannya langsung tertuju pada bingkai foto dirinya yang mengenakan seragam sekolah dan mendiang ibunya, Leyla--yang terletak di atas meja.
Di foto itu terlihat dia sedang merangkul bahu ibunya sambil tersenyum. Dia ingat foto itu di ambil ketika dia lulus SMA. Foto itu sengaja dia pajang di sini agar dia selalu ingat dengan mendiang ibunya. Karena tiap kali dia mengingat ibunya, dia ingat pula dengan penderitaan ibunya dan seberapa sulit hidupnya dulu. Dan itu menjadi penawar kala dia merasa sangat lelah dengan pekerjaannya. Membandingkan drastisnya kehidupannya yang dulu dengan sekarang membuatnya jadi lebih bersyukur.
***
Alena buru-buru pulang ke rumah. Perempuan itu menyetir mobil dengan kecepatan cukup kencang. Dia ingin sampai lebih awal hari ini sebelum suaminya pulang. Agar dapat menyiapkan makanan untuk suaminya itu mengingat akhir-akhir ini suaminya selalu memesan makanan di aplikasi GoFood karena dia selalu pulang telat dan tak sempat memasak.
Di rumah, dia dan suami jarang bertemu dari pagi sampai sore hari begini--kecuali hari libur. Karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Pagi-pagi sekali--paling telat jam tujuh lewat--Alena sudah berangkat ke kantor, dan pulang sore bahkan malam hari. Sedangkan Andrio mulai jam delapan pagi sampai sore juga bekerja di rumah sakit. Jika suaminya itu mendapat giliran jaga malam--dari sore hingga jam sepuluh malam--maka di jam segini mereka tidak ada waktu sama sekali untuk bertemu di rumah. Meskipun begitu keduanya selalu berusaha menyempatkan diri agar mereka punya waktu buat bersama. Seperti sore ini, Alena mengusahakan pulang cepat agar bisa memasakkan suami dan memiliki banyak waktu bersama.
Tanpa terasa mobil yang Alena kendarai tiba di depan rumahnya. Rumah Alena dan Andrio berada di komplek perumahan elit, bergaya minimalis modern. Dari depan, rumahnya terlihat tinggi dan megah karena berlantai tiga. Dinding dan tiang-tiang rumahnya terlihat kokoh karena dibangun dengan material batu. Dengan jendela lebar dan pintu yang terbuat dari kaca. Langit-langitnya tinggi. Dengan halaman kecil yang ditumbuhi rumput buatan. Dipagari dengan pagar besi melebihi tinggi kepala orang dewasa.
Rumah mereka tidak memiliki satpam sebagaimana rumah Bagaskara. Hingga Alena harus turun terlebih dulu untuk membuka pagar. Sebelum akhirnya kembali masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya hingga ke dalam garasi.
Sesampainya di garasi, Alena mematikan mesin mobilnya dan turun dari sana. Dia bernapas lega kala tak menemukan tanda-tanda kepulangan Andrio seperti sepatu kerja yang terletak di tempat penyimpanan sepatu atau pintu yang terkunci dari dalam. Itu artinya dia berhasil sampai lebih dulu. Alena masuk melalui pintu yang terhubung dengan garasi menggunakan kunci yang dia bawa dalam tas.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan, wanita itu mulai mengobok-obok isi kulkas dua pintunya, memilih bahan untuk dimasak.
Namun, tiba-tiba terdengar suara bel menggema. Alena sedikit panik. "Duh, Mas Andrio udah pulang, aku belum sempat masak lagi." Dia menutup kulkas dan buru-buru keluar membukakan tamu yang dia perkirakan suaminya itu.
"Iya, Mas, sebentar!" teriaknya ketika suara bel terdengar lagi.
Namun, ketika pintu utama berbilah ganda itu dibuka, dia sedikit terkejut. Ternyata bukan Andrio yang pulang.
"Mami?"
"Iya, Alena. Ini Mami, kamu pikir siapa?" Wanita yang tak lain adalah Rista itu menatapnya heran karena reaksi Alena di luar dugaan.
Alena tersenyum kaku. "Maaf, Mi. Tadi aku kira Mas Andrio pulang. Silakan masuk, Mi." Alena masuk lebih dulu ke arah ruang tamu. Tak heran sebenarnya, karena wanita yang telah dia anggap ibunya itu memang biasa berkunjung ke rumah menjenguknya. Hanya saja dia terlalu kepikiran dengan suaminya dan tak menyangka Rista mengunjunginya hari ini.
"Andrio belum pulang?" Rista mengiringinya. Mereka duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu itu.
"Belum, Mi."
"Mami ke sini ngantarin makanan, nih, buat kalian." Rista meletakkan rantang besi yang sejak tadi dia jinjing ke atas meja tamu.
"Nggak usah repot-repot, Mi."
"Nggak repot, kok. Kebetulan hari ini Mami masak banyak." Rista memang sudah tahu, Alena dan Andrio jarang makan makanan rumah, mereka lebih sering beli, atau makan di luar.
Alena menyengir. "Tadi aku baru mau masak sebelum Mas Andrio pulang. Eh, Mami udah datang bawain makanan. Makasih, ya, Mi."
"Tuh, 'kan, sekarang nggak usah masak. Makan masakan Mami aja kalian. Banyak ini cukuplah buat kalian berdua."
"Iya, Mi, makasih," ucap Alena sekali lagi.
Rista mengedar pandang di ruang tamu yang luas itu. Merasakan sunyinya suasana rumah Alena yang megah. Rumah itu terlalu besar untuk mereka tinggali berdua.
"Sepi, ya. Sayang rumah sebesar ini sering dikosongin nggak ada penghuninya," gumam Rista.
Alena tak menanggapi. Tatapannya tertuju pada jemarinya yang meremasi dasternya.
"Kalau kalian udah punya anak pasti rumah ini ramai. Mana kamu nggak punya asisten rumah tangga." Meski mampu dan memiliki rumah besar, Alena tak mau menyewa asisten rumah tangga. Karena dia merasa masih mampu jika hanya mengurusi keperluan dirinya dan Andrio.
Alena lagi-lagi hanya diam.
Rista kembali menatap Alena. "Kamu sama Andrio 'kan udah tiga tahun menikah, tapi belum punya momongan juga. Kapan kalian punya anak?"
Raut wajah Alena langsung berubah. Sejak tadi pun dia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Wanita itu memang selalu mendesaknya untuk segera mempunyai anak. Alena tahu maksud ibu tirinya itu baik, tapi dia tidak nyaman tiap kali ditanya demikian.
"Aku dan Mas Andrio hanya berusaha dan menjalani, Mi. Selebihnya Allah yang menentukan," jawab Alena apa adanya.
"Enggak." Rista menggeleng. "Kalian belum berusaha maksimal. Mami tahu kamu tuh pasti terlalu sibuk kerja, makanya jadi kecapekan dan sulit hamil. Karena masing-masing kalian sibuk, mungkin kalian juga ...." Rista menjeda kalimatnya. Agak sungkan mengatakannya. "... Jarang melakukan hubungan suami istri," lanjutnya kemudian dengan intonasi agak pelan.
Alena mengernyit mendengar asumsi maminya yang menurutnya sok tahu. Haruskah dia mengatakan kalau dirinya dan Andrio bahkan melakukan itu hampir tiap malam, meskipun mereka sibuk?
"Kamu tahu apa maksud Mami, Alena? Kalau kamu sungguh-sungguh mau punya anak, kamu harus berhenti kerja. Istirahat di rumah, biar Andrio aja yang kerja."
"Nggak semudah itu, Mi. Lagian aku yakin penyebab aku belum hamil bukan karena aku kecapekan dan sibuk kerja. Ini hanya masalah waktu."
Ya, dia dan Andrio juga sering membahas masalah ini. Dan Andrio sendiri tidak mempermasalahkan kapan mereka punya anak. Bagi Andrio ini hanya masalah waktu.
"Kamu harus dengerin Mami, Alena. Kamu harus berhenti kerja supaya bisa cepat hamil. Kamu istirahat sebentar aja beberapa bulan sampai kamu bisa hamil."
Sungguh, Alena seringkali merasa dongkol tiap kali Rista berbicara seperti itu. Rista terkesan mengatur dan memaksa menuruti kemauannya, padahal dirinya sudah bersuami.
Alena menghela napas. "Tapi perusahaan gimana, Mi?"
"Kamu buat surat pengunduran diri bisa 'kan?"
Alena mengernyit. Kadang dia merasa aneh dengan sikap Rista. Rista sampai menyuruhnya untuk resign agar dia bisa punya anak? Dia tak tahu apakah ibu tirinya itu benar-benar peduli padanya atau ada maksud lain?
"Mengundurkan diri, Mi? Nggak semudah itulah, Mi. Menjadi pemimpin itu juga cita-cita aku. Hasil dari usaha aku dari dulu. Nggak mungkin aku sia-siain gitu aja. Mami nggak lupa 'kan bagaimana susahnya hidup aku dulu?"
Rista terdiam. Sebelum melanjutkan bicaranya. "Kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu yang lain, Alena. Kamu ngerti 'kan maksud Mami?"
"Iya, Mi, tapi--"
"Masalah kamu ini masalah berat, Alena. Kamu sulit punya anak. Kamu harus segera pikirkan jalan keluarnya. Bukannya hanya pasrah. Apa kamu nggak kasihan sama Andrio? Bisa-bisa nanti dia ngelirik perempuan lain, lho, atau malah menikahi perempuan lain." Mata Rista melebar menatap Alena.
Alena sedikit syok mendengarnya. "Mami jangan nakutin aku, deh. Aku percaya Mas Andrio setia sama aku. Nggak mungkin dia begitu."
"Iya, makanya jangan sampai Andrio begitu, kamu harus cepat-cepat punya anak. Nggak kasihan kamu sama dia yang udah baik sama kamu selama ini. Sesetia-setianya Andrio, dia juga laki-laki."
Alena terdiam. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Maminya ada benarnya juga. Selama ini Andrio selalu baik padanya. Tak pernah menuntut apa-apa meskipun dirinya belum bisa memberi keturunan. Dan jujur, sebenarnya dia juga kasihan pada suaminya. Tapi masalahnya dia merasa penyebab dia belum hamil bukan karena kecapekan. Melainkan karena dia memang tidak bisa punya anak.
"Gimana, Alena? Yang Mami bilang bener 'kan?" Pertanyaan Rista membuyarkan lamunan Alena.
"Hmm iya, Mami bener, makasih Mami udah peduli sama aku, tapi aku perlu rundingkan ini sama suamiku dulu." Alena menjawab demikian dengan harapan topik tersebut tidak berlanjut.
Rista tersenyum. "Nah, gitu, dong."
"Sekali lagi makasih, ya, Mi karena udah peduli sama aku."
"Sama-sama, Sayang. Kamu 'kan juga udah Mami anggap anak sendiri."
Alena tersenyum tipis. Tentu dia tak lupa bagaimana dulu mereka saling membenci. Namun, sekarang semua sudah berubah. Waktu yang telah mengubahnya.
Kini wanita itu menjadi pengganti mendiang ibunya, Leyla. Tak pernah terbesit dalam pikiran Alena kalau akhirnya mereka berdua bisa menjalin hubungan baik layaknya anak dan ibu kandung. Meski kasih sayang dan kebaikan Rista tak akan bisa menggantikan kasih sayang dan kebaikan ibu kandungnya.
"Mami nggak bisa lama-lama." Lagi, suara Rista membuyarkan lamunan Alena hingga Alena kembali menatapnya. "Kalau gitu Mami pulang dulu, ya, Alena."
Alena bernapas lega. "Hmm iya, Mi. Titip salam buat Papi dan Alyssa."
Rista mengangguk dan tersenyum. "Nanti Mami sampaikan. Titip salam juga buat suamimu."
"Assalamu'alaikum ...,"
Percakapan keduanya sontak terhenti demi mendengar suara yang mengucapkan salam itu. Keduanya pun menoleh ke arah pintu yang terbuka, di mana telah berdiri sosok lelaki yang amat familier.
"Wa'alaikumussalam, Mas Andrio," sahut Alena, langsung berdiri menghampiri suaminya. Rista yang memang mau pulang pun ikut berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Oh, ada Mami?" ucap Andrio memandangi Rista.
"Iya, Mami datang ngantarin makanan tuh buat kalian." Rista menunjuk rantang makanan yang terletak di meja dengan dagunya.
"Wah ... Nggak usah repot-repot, Mi." Andrio tertawa sungkan. Lalu menyalami tangan ibu mertuanya itu.
"Nggak repot, kok,"
Andrio mengangguk. "Makasih, ya, Mi."
"Iya, Mami pulang dulu, ya." Rista lalu menepuk pundak menantunya.
"Hati-hati, Mi," balasnya.
Alena dan Andrio mengiringi Rista sampai ke teras. Melihat wanita itu masuk mobil sebelum akhirnya mobil tersebut meninggalkan rumah mereka. Alena berdadah ria sebelum akhirnya dia dan suami masuk ke rumahnya yang besar.
"Selain ngantarin makanan, Mami ngomong apa aja sama kamu?" Andrio bertanya demikian seolah tahu ada hal penting yang ibu mertuanya itu bicarakan dengan istrinya.
Alena mengambil rantang di atas meja itu sambil menjawab. "Nggak ngomongin apa-apa, kok." Wanita itu memutuskan untuk tidak berterus terang dulu pada suaminya bahwa maminya mendesaknya untuk segera punya anak dan menyuruhnya berhenti kerja. Dia takut suaminya tidak setuju dan ujung-ujungnya mereka ribut. Pasalnya kejadian seperti ini sudah seringkali terjadi. Setiap mereka membahas masalah anak, ujung-ujungnya pasti bersitegang.
"Kita makan masakan Mami, yuk." Alena mengalihkan topik pembicaraan. "Kamu mandi dulu, dong, ganti baju, habis itu kita makan, ya." Mereka berjalan menuju ruang makan.
Alena meletakkan rantang itu di meja makan.
"Iya, aku mandi dulu," jawab Andrio yang langsung menuju kamar mandi.
***
Selesai mandi dan ganti baju rumahan--dengan kaos tipis dan celana kain--Andrio melihat sajian di atas meja yang sudah Alena tata rapi dalam wadah masing-masing. Di sana ada lumayan banyak jenis makanan. Ada mie spaghetti, ada sayur oseng-oseng, ikan nila bakar dan cumi asam manis.
"Makan, Mas." Alena tiba-tiba muncul sambil meletakkan teko air dan susunan gelas kaca di meja. "Mau makan yang mana? Aku ambilin, ya?"
Andrio duduk di kursi. "Aku mau semuanya, kecuali spaghetti."
"Oke." Alena mulai mengambil piring dan memasukkan nasi serta jenis-jenis makanan itu ke dalam piring untuk suaminya.
"Soalnya nggak enak campur mie," lanjut Andrio tanpa ditanya.
Alena diam saja sambil menyodorkan piring berisi makanan itu di hadapan Andrio. Lalu menyiapkan segelas air putih.
Mereka pun menyantap makanan itu bersama-sama, sesekali Alena memuji masakan Rista, sedangkan Andrio malah mengingat masakan Alena sendiri.
"Kamu emang jarang masak, tapi sekali masak, masakkannya enak banget, restoran aja kalah," tanggap Andrio di sela makannya.
"Kalau muji tuh yang realistis." Alena menatap suaminya tajam sambil makan.
"Di mana letak ketidakrealistisannya?" Andrio memasang tampang bingung.
"Itu tadi bilang masakan aku ngalahin masakkan restoran, lebay kamu,"
"Seenggaknya itu menurut aku. Menurut aku, masakan istriku lebih enak daripada masakan siapa pun." Andrio berucap sambil mengunyah. Dia menyantap makanan itu dengan lahap saking laparnya.
Alena hanya mengulum senyum. Dia tahu suaminya itu selalu berusaha membuatnya senang dengan hal-hal sederhana. Alena pintar masak juga karena diajar oleh Mbah Nani. Hingga tiba-tiba perkataan maminya tadi kembali terngiang dan mengganggu pikirannya.
Alena memperhatikan wajah suaminya yang sibuk makan. "Mas," panggilnya kemudian.
"Iya?"
"Maafin aku, ya."
Lagi-lagi Andrio memasang tampang bingung. "Kenapa malah minta maaf?"
"Maaf aku belum bisa jadi istri yang sempurna buat kamu."
Andrio tersenyum tipis di sela makannya. "Kamu lebih dari sempurna buat aku."
Alena diam mendengarnya. Entahlah, kali ini ucapan suaminya itu benar atau sekadar menyenangkan perasannya.
Bagaimana tidak? Sampai detik ini dirinya belum bisa memberikan keturunan. Dia juga jarang memasak untuk suaminya karena sibuk membuat suaminya jadi sering jajan di luar. Bagaimana mungkin dia bisa jadi sosok istri yang lebih dari sempurna?
"Kamu kenapa?" tanya Andrio kemudian melihat Alena hanya diam.
Alena menggeleng dan tersenyum. "Makasih, ya, Mas?"
Andrio hanya balas tersenyum.
"Aku bersyukur hari ini," ucap Alena lagi. "Kita bisa ketemu dan menghabiskan waktu lebih banyak kayak gini."
Bisa bertemu dan punya banyak waktu di rumah dengan suami adalah nikmat langka dan harus disyukuri bagi Alena mengingat mereka yang jarang bertemu. Kadang Alena dan Andrio merasa mereka tidak seberuntung pasangan lain. Di balik banyaknya harta yang mereka miliki, ada waktu yang mereka korbankan. Hidup memang tidak ada yang sempurna.
***
Setelah melewati makan sore itu, sepasang suami-istri itu menghabiskan waktu di kamar sambil bertukar cerita. Andrio berkisah pada istrinya bagaimana dia menangani pasien-pasien di dua rumah sakit yang berbeda hari ini.
Ya, Andrio bekerja di dua Rumah Sakit Umum Daerah di Jakarta.
Alena pun demikian. Dia menceritakan kesehariannya di kantor seperti meeting, bertemu klien, dan memantau kinerja karyawan-karyawannya. Mengingat pekerjaannya di perusahaan membuat Alena kembali teringat dengan saran Rista yang menyuruhnya resign.
Akhirnya Alena pun tanpa sadar menceritakan percakapan dengan maminya pada suaminya.
"Jadi Mami nyuruh aku berhenti kerja. Menurut kamu gimana, Mas?" Alena baring menyamping, memperhatikan wajah suaminya yang juga menatapnya. Mereka baring berhadap-hadapan dan sudah mengenakan pakaian tidur.
"Kamu mau resign dari perusahaan kamu? Apa nggak sayang perjuangan kamu selama ini?" Andrio malah bertanya balik. Ternyata perkiraan Alena salah, suaminya sama sekali tidak terlihat marah. Dia bahkan tak menyangka kalau suaminya berpikir demikian.
"Itu juga yang aku pikirin. Aku sebenarnya juga nggak mau resign, tapi yang Mami katakan ada benarnya, mungkin aku nggak bisa hamil karena terlalu sibuk. Aku bingung, aku nanya pendapat kamu dulu." Alena hanya mengingkari hatinya. Dia sudah yakin penyebab dia tak bisa punya anak bukan karena kecapekan akibat sibuk kerja, melainkan memang ada yang salah dari hormonnya. Tapi dia takut untuk menerima fakta itu.
Bukannya menjawab, Andrio malah membelai puncak kepala istrinya. Lalu perlahan dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya hingga tubuh keduanya menempel satu sama lain. Andrio memeluk Alena dalam pembaringannya.
Alena mendongak heran menatap Andrio. "Kamu kenapa, Mas? Tadi belum jawab pertanyaan aku. Boleh nggak--"
"Jangan mikirin itu dulu. Kasih aku waktu buat berpikir." Andrio menunduk menatap wajah istrinya.
Alena mengangguk paham. Alena tahu, kalau posisi suaminya sudah seperti ini, artinya tak lama lagi mereka akan melakukannya. Tapi, rasanya Alena belum ingin. Hingga dia masih mengajak suaminya bicara.
"Mas,"
"Iya ...." Andrio membelai lembut rambut Alena.
"Kok kamu santai aja, sih, kita belum punya anak? Apa kamu nggak pengin punya anak?"
Belaiannya di kepala Alena terhenti. Tatapannya mengarah tepat ke manik mata Alena. "Pasangan mana di dunia ini yang nggak mau punya anak?" Dia malah bertanya balik.
"Kalau pengin usaha, dong."
"Ini baru mau usaha."
"Maksud aku bukan usaha itu." Alena terlihat kesal sambil menepuk lengan Andrio. "Kenapa kamu kayak nggak pernah mikirin masalah ini, Mas?"
"Siapa bilang? Aku kepikiran. Dan aku mau secepatnya punya anak." Ucapan Andrio itu makin membuat Alena khawatir. "Tapi kalau emang belum waktunya, aku bisa apa?"
"Kamu nggak benci sama aku?"
"Kenapa aku harus benci istriku sendiri?"
Alena teringat ucapan maminya tadi kalau Andrio bisa saja melirik bahkan menikahi perempuan lain jika dia tak kunjung punya anak. "Hmm maksud aku ... kamu nggak kepikiran buat ... nikah lagi 'kan?" Alena bertanya dengan hati-hati. Jantungnya bahkan berdebar kencang karena takut mendengar jawabannya.
"Kamu ngomong apa, sih?" Andrio mengernyit. "Pasti Mami ya udah ngomong yang nggak-nggak." Raut wajah pria itu berubah. Alena sedikit ciut melihatnya. Andrio tahu bagaimana hubungan Alena dan ibu mertuanya itu dulu. Mereka saling membenci. Rista sempat tidak menyukai Alena. Meski sekarang semuanya baik-baik saja, Andrio tetap khawatir kalau-kalau ibu mertuanya itu menekan dan mempengaruhi pikiran Alena dengan asumsi yang tidak-tidak seperti hal ini.
"Aku cuman nanya ...."
"Nggak, Alena." Andrio menggeleng. "Aku minta kamu jangan berpikir seperti itu, ya. Aku sayang sama kamu." Andrio mengecup kening Alena.
"Mas--"
"Sekarang udah malam. Udah waktunya tidur."
"Iya, tapi--"
Andrio langsung membungkam mulut Alena dengan mengecup singkat bibirnya. Sebelum akhirnya memperdalam ciumannya. Alena pasrah menerima dan membalas ciuman itu.
Seperti biasa, malam itu mereka melakukan ritual sebagai sepasang suami-istri.
***
'Mas, hari ini aku berangkat lebih awal, ya. Aku udah siapin sarapan buat kamu di meja makan. Di makan, ya. I Love You, Mas. Alena'.
Andrio menghela napas membaca tulisan tangan istrinya di selembar sticky note hijau yang tertempel di pintu kulkas.
"Pantas aja dicariin ke mana-mana nggak ada," gumam pria itu seorang diri.
Ya, setelah puas bercinta tadi malam, ketika dia bangun, dia tak mendapati istrinya di sampingnya. Dia pun bergegas bangun mencari istrinya ke hampir seluruh ruangan yang ada di rumah itu, tapi istrinya tak tampak. Dan ketika dia berbalik ke dapur untuk kedua kalinya, dia baru menyadari ada catatan tersebut di pintu kulkas.
Sebenarnya Andrio sudah biasa dengan hal ini. Namun, tadi malam adalah momen yang sangat membahagiakan baginya. Hingga rasanya dia tak ingin cepat-cepat berpisah dari istrinya itu.
Andrio lalu membuang sticky note tersebut di tong sampah kering yang ada di dekat kitchen set. Lalu menuju meja makan, membuka tudung saji.
Ada semangkok nasi goreng kecap dengan sayuran. Juga telur mata sapi di mangkok lain.
Andrio tersenyum. Itu masakan istrinya. Dia tak sabar untuk mencicipinya. Namun, sebelumnya dokter itu bersiap-siap mandi dulu sebelum akhirnya menyantap sarapan seorang diri.
***
Setelah mandi dan sarapan, Andrio bersiap-siap dikamarnya. Pria itu sibuk berkaca, menata rambutnya menggunakan pomade. Dia sudah mamakai kemeja biru dan celana kain hitam.
Dia lalu membuka laci, mencari jam tangan yang biasa dia simpan di sana. Tapi, kali ini jam tangannya tidak ada.
"Di mana, ya? Biasanya juga di sini. Apa Alena yang pindahin?"
Andrio meraba-raba bagian terdalam laci, memastikan lagi arlojinya ada di sana atau tidak. Namun, jemarinya malah menyentuh sesuatu yang lain dalam laci itu. Andrio pun menarik benda itu dengan jemarinya. Ternyata sebuah amplop putih lumayan tebal.
Andrio mengambil amplop itu, meniliknya. "Apa, nih? Tabungan?" Amplop itu tidak direkat.
Andrio tanpa ragu membuka amplop tersebut. Ternyata amplop itu berisi foto-foto. Andrio meniliknya satu-persatu. Ada foto Mbah Nani, juga foto seorang wanita yang tidak dia kenal, tapi Andrio mengira itu adalah foto mendiang ibu kandung Alena. Dan di sana juga ada foto Rista, Bagas dan Alyssa. Dan yang mengherankan adalah hanya foto Rista, Bagas dan Alyssa yang dicoret dengan spidol merah.
"Ini maksudnya apa, sih? Kenapa foto Mami, Papi dan Alyssa dicoret? Dan kenapa Alena nyimpan foto-foto mereka gini?" Andrio mengernyit memperhatikan foto itu dengan saksama. Dia merasa pernah melihat foto-foto itu, tapi di mana?
Sejenak hilang kisahnya yang hendak mencari jam tangan. Kini fokus lelaki itu teralihkan. Dia sibuk memikirkan foto-foto itu. Sampai akhirnya dia ingat ke mana dia pernah melihat foto-foto tersebut.
Ya, di rumah Mbah Nani dulu. Tepatnya di kamar Alena. Waktu dia mengantar Alena yang pingsan karena tenggelam di danau.
Kenapa? Kenapa Alena menyimpan foto keluarga ayahnya dan mencoretnya seperti ini? Maksudnya apa?
Di tengah kebingungannya itu, tiba-tiba selembar kertas bertulis yang ada di sela-sela foto itu jatuh ke lantai. Andrio yang tersadar langsung memungut kertas itu dan membacanya.
'Gue benci kalian! Kalian yang udah buat hidup ibu gue menderita! Gue bakal balas rasa sakit hati ibu gue dan penderitaan itu, liat aja!'
Demikian kalimat yang tertulis di sana.
Andrio menatap tulisan itu tak percaya. "Jadi ... Alena ....?"
Tanpa sadar tangannya sebelah kiri yang tak memegang foto terkepal geram seiring dengan emosi yang mulai menjalari dadanya.