Na, gadis kecil nan cantik itu sedang berada di pangkuan sang Ibu yang sedang mendongeng untuknya.
"Di dalam dasar laut yang paling dalam, terdapat putri duyung yang sedang berenang mendekati permukaan laut. Dan di saat yang sama, ada seorang pria tampan yang sedang berlayar bersama beberapa orang lainnya. Pria itu sedang memandang jauh ke arah lautan yang sangat luas dengan tenang. Putri duyung yang baru saja sampai di permukaan laut memandang pria tersebut dan mulai jatuh cinta pada pandangan pertama. Pria itu tiba-tiba memandang ke arah permukaan laut dimana Putri duyung berada, akhirnya mereka memandang satu sama lain."
"Apakah mereka akan saling jatuh cinta Bu?" tanya Na kepada sang Ibu dan memotong cerita Ibunya.
Tepat di saat sang Ibu hendak menjawab pertanyaan Na, Na perlahan tersadar dari tidurnya karena suara alarm dari ponselnya berdering. Na pun akhirnya terbangun sepenuhnya. Na perlahan mengambil kacamatanya di atas lemari kecil di samping tempat tidur, lalu memakainya.
Setelah kaca mata itu terpasang, Na baru bisa melihat dengan jelas kamarnya. Na menghela nafas, lalu memandang ke arah jendela yang belum ia buka gordennya.
“Kenapa aku terus bermimpi tentang Ibu, apakah aku sangat merindukannya?” gumam Na.
Na mulai beranjak dari kasurnya dan menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Seperti biasanya, Na akan membuat roti lapis untuk sarapan karena itu adalah yang mudah untuk dilakukan di pagi hari. Setelah roti lapis yang Na buat jadi, Na mulai sarapan dengan secangkir susu murni hangat.
Na meletakkan piring dan gelas di wastafel. “Aku akan mencucinya nanti, setelah aku pulang sekolah,” ucap Na kepada dirinya sendiri.
Na pun segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah itu Na keluar dan mengunci pintu rumahnya. Kemudian Na memakai earphone wireless dan juga sarung tangan. Na memakai sarung tangan bukan karena dia merasa dingin, tapi karena alasan tertentu. Lalu Na mulai berjalan menuju halte Bus untuk berangkat sekolah.
Alana, yang biasa dipanggil Na adalah gadis remaja SMA yang tinggal sendirian. Ayah Na meninggal saat dia sedang dinas ke luar negeri dan mengalami kecelakaan. Setelah mendengar kabar duka dari sang Ayah, Ibu Na merasa sangat terpukul dan membuat Ibu Na depresi dan sulit tidur. Ibu Na sering mengonsumsi obat tidur dengan dosis tinggi dan sampai akhirnya dia juga meninggal karena overdosis.
Awalnya Na tinggal bersama sahabat dari kedua orang tuanya. Kemudian setelah SMA Na memutuskan untuk tinggal sendirian. Semua biaya kehidupan Na ia peroleh dari gaji pensiunan Ayahnya dan juga uang asuransi dari kedua orangtuanya. Na tidak tinggal bersama kerabatnya yang lain, karena hubungan keluarga mereka tidak baik.
*****
Na kini sudah tiba di sekolah. Na duduk di bangku paling ujung yang ada di kelas. Biasanya anak laki-laki nakal yang akan duduk di ujung kelas. Tapi bagi Na, duduk disana adalah tempat yang paling nyaman dan jauh dari sorotan mata orang-orang yang membencinya.
Teman-teman Na selalu menganggap bahwa Na pembawa sial karena gosip yang beredar. Orang-orang bercerita bahwa Ayah Na meninggal karena Ayah Na telah melakukan tindak kriminal. Dan Ibu Na sengaja meminum obat sampai overdosis karena hendak bunuh diri. Na pun bukan anak yang terlalu cerdas dan juga tidak pandai bersosialisasi dengan baik.
Na sedang memandang ke arah luar jendela kelas. Teman-teman Na baru saja tiba di sekolah dan berjalan melewati Na kemudian berhenti.
“Aaaw … apa ini, aura apa ini?” ucap Bela seraya tangannya seperti sedang mengibas-ngibaskan udara kosong itu.
“Bela, kamu ini bodoh atau apa? Ini adalah aura sial dari orang yang duduk disana,” sahut Ica dengan melirik ke ara Na yang masih memandang ke arah luar jendela dengan acuh.
“Oh benarkah? Pantas saja, kelas kita tidak pernah memenangkan apapun ketika lomba sekolah diadakan,” sambung Bela lagi. Tapi Na masih tidak menggubris.
Bela kesal karena Na tetap acuh tak acuh dengan bulian mereka. Bela hampir saja menjambak rambut Na, tapi di saat yang sama bel masuk kelas berbunyi. Para siswa pun segera masuk dan duduk di kursi mereka masing-masing. Dan Na juga membenarkan posisi duduknya.
Guru biologi masuk ke dalam kelas dan menyapa para siswa. “Pagi anak-anak!”
“Pagi Pak,” jawab siswa kelas 11 C itu yang hampir terdengar kompak.
“Apakah kalian siap untuk belajar?”
Siswa pun ada yang menjawab siap dan ada juga yang memilih diam. Pak Budi Guru Biologi hanya sedikit tersenyum, kemudian mulai mengabsen mereka satu-persatu.
“Anton!”
“Hadir Pak!”
“Ani!”
“Hadir Pak!”
“Bela!” ….
*****
Jam istirahat tiba. Na memutuskan untuk tidak keluar kelas. Na sibuk dengan pensilnya yang sedang fokus membuat goresan-goresan di atas buku gambarnya yang masih putih polos.
Andre teman Na satu-satunya dan berbeda kelas datang menemuinya, dan hampir saja memegang tangannya yang pada saat itu sedang tidak memakai sarung tangan. Untung saja Na dengan sigap menghindar. Tapi karena hal tersebut, tanpa sengaja Na merusak karyanya tersebut.
Na dan Andre perlahan saling menatap satu sama lain. Na memandang Andre seraya mengangkat kedua alisnya seolah-olah sedang berkata “apa yang telah kamu lakukan pada karyaku Andre?”. Sedangkan Andre hanya tersenyum konyol karena merasa bersalah.
Na pun menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mulai mencoba memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat oleh Andre. Andre merasa tertarik untuk melihat lebih dekat apa yang dilakukan oleh Na. Andre pun duduk menghadap Na di kursi yang ada di depan meja Na.
Andre tercengan dengan keajaiban tangan Na yang dengan mudah memperbaiki gambar yang telah Andre rusak. “Na, kamu memang sangat berbakat dalam menggambar, semuanya bisa menjadi sesuatu yang indah hanya dengan goresan pensil yang kamu buat,” puji Andre.
Na tersenyum kecil mendengar pujian Andre. “Kamu ini ada-ada saja Ndre, sangat pandai memuji,” ucap Na pada Andre.
Andre adalah satu-satunya teman yang dimiliki oleh Na. Karena suda lama sebelum kematian kedua orang tua Na, Na dan Andre sudah berteman. Kedua orang tua mereka juga berteman baik. Jadi hanya Andre dan keluarga Andrelah yang sering memperhatikan dan membantu Na setelah kepergian kedua orang tuanya.
Na dan Andre pun lanjut bercerita hal-hal yang menarik. Walaupun pembahasan mereka tidak bisa membuat Na tertawa lepas seperti yang lainnya. Setidaknya Na tidak merasa bahwa dia benar-benar sendirian di dunia ini. Setelah kematian kedua orang tuanya, Na memilih untuk tidak memiliki banyak teman dan lebih memilih menjadi anak yang pendiam dan tertutup.
Dan salah satu alasannya adalah, setelah kedua orang tuanya tiada. Na tiba-tiba saja mendapatkan keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh siapapun. Yaitu Na bisa mendengar apa isi kepala seseorang jika iya menatap mata orang tersebut dan Na juga bisa melihat masa lalu seseorang jika dia menyentuhnya. Bahkan kadang hanya dengan bersenggolan saja Na bisa melihat masa lalu. Itulah kenapa Na selalu memakai earphone, memakai sarung tangan dan ketika berjalan Na lebih sering menatap ke bawah atau ke sembarang arah agar tidak bisa mendengar pikirkan seseorang.
Di sela perbincangan mereka, Kakak kelas Na dan Andre masuk ke dalam kelas Na. Dia bernama Sandri. Siswi yang ada di dalam kelas itu senyum-senyum menandang ke arah Sandri bahkan sampai ada wajah mereka yang memerah. Karena Sandri adalah pria paling tampan dan pintar di sekolah itu.
Sandri mulai melihat seluruh kelas dan bertanya apakah ada siswa yang bernama Alana. Dengan sedikit kecewa, gadis-gadis itu menunjuk ke arah Na yang masih asik mengobrol dengan Andre.
Lalu salah satu dari siswa memanggil Na. Setelah namanya di panggil, Na segera menoleh dan melihat ke arah Sandri yang kini sudah berada tepat dihadapannya. Dan di saat yang sama mereka saling memandang satu sama lain dengan cukup lama.
BERSAMBUNG~~~
Baik Na dan Sandri tidak ada yang melepaskan pandangan mereka. Dan karena hal itu, siswa yang lain merasa kesal dan menatap dengan penuh amarah terhadap Na. Andre bisa merasakan amarah siswa-siswa wanita yang lainnya dan Andre pun segera mencoba untuk menghentikan tatapan mereka.
Andre menepuk pundak Na dengan pelan dan berkata. “Na, apa yang kamu lakukan? Cepat hentikan apa yang kalian lakukan atau gadis-gadis itu akan mengamuk.”
Na segera memandang ke segala arah kemudian melihat ke arah Andre. “Apa yang kamu katakan Ndre?” tanya Na.
Andre tidak menjawab apa-apa, akan tetapi Andre sedikit melirik ke arah teman-teman di kelas Na. Na pun akhirnya melihat ke arah mereka semua dan melihat tatapan kebencian dari mereka. Sandri juga ikut melihat apa yang dilihat Na.
Lalu Na segera menyudahi tatapannya pada teman-temannya itu, karena dia bisa dengan jelas mendengar kata-kata kebencian yang mereka pikirkan. Na pun kembali melihat ke arah Sandri yang masih melihat siswa lain.
“Apa yang Kak Sandri inginkan dariku?” tanya Na.
Sandri kembali melihat ke arah Na dengan wajah yang tersenyum. “Kamu dipanggil oleh Bapak Kepala Sekolah untuk datang ke ruangannya sekarang,” jawab Sandri.
Tanpa menjawab dan menunjukkan ekspresi apa-apa, Na segera berdiri dan berjalan menuju luar kelas. Baik Sandri ataupun Andre melihat Na yang berjalan semakin jauh. Kemudian Sandri menoleh ke arah Andre, lalu menepuk pundak Andre.
“Aku akan ikut dengannya,” ucap Sandri.
“Iya Kak.”
Sandri dan Na pun sudah tidak lagi terlihat. Bela dan teman-temannya mulai menggunjing Na.
“Dasar wanita murahan, bisa-bisanya dia menggoda Kak Sandri,” ucap Bela dengan kesal.
Andre seketika menoleh dan menatap tajam ke mata Bela. “Apa kalian buta? Kak Sandri yang terlebih dahulu mendekat dan menatap Na, padahal Kak Sandri bisa saja mengatakannya dari jauh,” sela Andre.
Bela dan teman-temannya hanya diam dan terus menatap Andre dengan kesal. Andre mendorong meja yang ada di depannya dengan keras, lalu pergi meninggalkan kelas Na.
*****
“Apa Pak? Saya harus mengikuti lomba itu bersama dengan Kak Sandri?” tanya Na dengan nada terkejut.
“Memangnya kenapa Na, apakah kamu tidak suka jika kita berdua bekerja sama?” tanya Sandri.
Na melirik sedikit ke arah Sandri dengan wajah datar lalu kembali menatap mata Bapak Kepala Sekolah untuk mendengar apa yang ada dipikirannya.
“Apa kamu sedang mengabaikan aku?” Sandri kembali bertanya. Tapi kali ini Sandri bertanya dengan nada yang terdengar kesal.
Na menghela napas setelah dia mendengar isi pikiran Kepala Sekolah yang ternyata memang mengharapkan Na dan Sandri bisa bekerja sama dengan baik untuk lomba membuat cerita komik 2 bulan lagi. Sandri melihat Na yang menghela napas dan merasa bahwa Na benar-benar mengabaikannya.
Sandri hendak mengatakan sesuatu kepada Na. Akan tetapi di saat yang sama, Na berbicara kembali kepada Bapak Kepala Sekolah.
“Pak, gambar yang saya buat memang saya akui bagus, tapi di sekolah ini pasti ada siswa lain yang lebih hebat dari saya Pak. Ditambah lagi, jika saya bekerja sama dengan Kak Sandri, satu sekolah ini bisa-bisa melakukan hal buruk kepada saya.” Na mencoba untuk memberikan penjelasan yang masuk akal.
Sandri yang tadinya hendak bicara kini terdiam, begitu juga dengan Bapak Kepala Sekolah. Sandri mengingat kembali kejadian yang terjadi dikelas Na. Hanya tanpa sengaja saling berpandangan satu kelas sudah sangat marah. Sedangkan Bapak Kepala sekolah mengingat bahwa Na anak yatim dan tidak memiliki teman sama sekali kecuali Andre. Dan Andre juga sudah memiliki kekasih yang tidak mungkin akan selalu ada untuk Na.
*****
Na terlihat sedang melamun di salah satu warung makan. Entah apa yang ada dipikiran Na saat itu. Di sisi lain Sandri juga sedang menuju warung makan dimana Na berada.
“Argh, kenapa Mama menginginkan makanan di warung makan? Tidak tidak, setidaknya Mama bisa memesannya secara online atau meminta bantuan sopir, tapi kenapa Mama justru memintaku untuk melakukan semua ini, padahal aku harus mencari ide untuk komik daring yang akan ikut lomba,” gerutu Sandri seraya berjalan dengan enggan ke arah warung makan.
Lalu ketika Sandri hampir saja tiba di pintu masuk warung makan tersebut, Sandri melihat Na yang sedang melamun. Sandri memperhatikan Na dari jauh.
“Ada apa dengan anak itu? Apakah dia sedang melamun ataukah dia sedang melihat sesuatu?” batin Sandri.
Sandri pun hendak melihat dimana arah mata Na tertuju. Tapi sebelum Sandri mengalihkan pandangannya, tangan Na mulai sibuk merapikan barang-barangnya di warung makan itu dengan mata yang masih fokus ke depan.
Dan tidak lama kemudian Na segera berdiri dan berlari menuju arah yang sedari tadi ia lihat. Sandri juga tanpa berpikir apa-apa mengikuti Na berlari dari belakang tapi tetap menjaga jarak.
Setelah Na berlari cukup jauh, Na tiba-tiba saja melayangkan tendangan kepada seorang pria yang menggunakan pakaian serba hitam dan juga sebuah topi.
Pria itu pun terjatuh ke tanah dan di saat dia menoleh ke arah Na. Pria itu menyadari bahwa bibir bagian ujungnya berdarah. Pria itu pun menggerutu dan marah kepada Na.
“Apa yang kamu lakukan bocah tengik? Apa kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?” pekik Pria itu.
“Aku tahu paman siapa, paman penjahat yang sedang dikejar oleh Polisi bukan?” tanya Na dengan mimik wajah mengejek.
Pria itu semakin kesal dan segera bangun lalu mencoba memukul Na. Tapi untung saja Na dengan cepat menghindar. Pria itu pun menendang Na, tapi Na kembali berhasil menghindar. Di saat Pria itu lengah, Na memukul punggung Pria itu dengan ranting yang tidak sengaja ada di dekatnya.
Pria itu pun tertawa meremehkan Na yang dengan bodohnya memukulnya dengan ranting. “Apa kamu pikir itu akan menyakitiku? Bahkan aku tidak bisa merasakan apa-apa,” ucap pria itu.
Na menunjukkan ekspresi sedikit takut dan perlahan berjalan mundur seraya berkata. “Kenapa di dalam film laga ranting seperti itu bisa menyakiti musuh?”
“Itu hanyalah hal yang dibuat-buat oleh sutradara … tapi aku menjadi penasaran bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku saat ini sedang dikejar oleh polisi?” tanya Pria itu yang kini sudah sampai di hadapan Na yang ketakutan.
“Itu karena Paman sendiri yang bilang bahwa paman akan melarikan diri ke luar negeri karena sudah beberapa hari Polisi mengejar Paman,” jawab Na.
Seketika Pria itu terkejut. Begitu juga dengan Sandri yang baru saja sampai di tempat Na yang sedang mengatur napas. Pria tersebut tiba-tiba saja mencekik Na dengan sangat kuat dan membuat Na kesulitan untuk bernapas. Na memegang erat tangan pria itu berharap Pria itu dapat melepaskan cekikan nya.
BERSAMBUNG~~~
Pria itu mulai tertawa jahat melihat Na yang merasa sangat kesakitan. Di saat yang sama Na melihat masa lalu pria tersebut.
*****
(Masa lalu pria jahat)
Pria itu berjalan di tengah hujan menuju sebuah mobil yang telah ia tabrak. Pria itu bertanya kepada rekannya apakah orang di dalam mobil sudah meninggal.
“Dia sudah kita selesaikan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” jawab rekan pria itu.
Di dalam ingatannya yang lain, pria itu berada di dalam rumah seseorang dengan pakaian serba hitam. Di dalam rumah itu, pria tersebut melihat seorang gadis yang menangis di hadapan jasad Ibunya yang telah tiada karena overdosis. Dan di tangan pria itu ia memegang botol pil tidur.
Na berusaha melihat siapa gadis dan Ibunya itu. Akan tetapi di saat yang sama Sandri telah menghajar pria itu sehingga tangan pria itu lepas dari leher Na.
*****
(Kembali ke masa sekarang)
Sandri dan pria itu berkelahi dengan serius. Sandri melepaskan tinjunya tepat di wajah pria itu dengan kuat sehingga mengakibatkan hidung pria itu patah. Pria itu kembali melawan dengan menendang dan memukul Sandri dengan cepat sehingga Sandri tidak sempat menghindar.
Di sisi lain Na yang masih bingung dengan masa lalu pria itu dan perlahan mendekati pria itu lagi. Na merasa mengenali gadis dan Ibu yang dia lihat. Na melepaskan sarung tangannya dan mencoba menyentuh pria itu. Tapi dengan sigap Sandri menarik Na menjauh. Tapi Na terus mencoba mendekat bahkan sampai mendorong Sandri.
“Apa yang kamu lakukan Na? … Na menjauhlah aku yang akan menghadapinya.”
“Tidak, aku harus menyentuh Paman itu lagi untuk memastikan sesuatu,” jawab Na dengan tatapan kosong.
Sandri terus menghalangi Na untuk mendekati pria itu. Pria itu pun mengambil kesempatan untuk kabur melihat Sandri sedang sibuk mencegah Na.
Di saat yang sama terdengar suara sirine mobil Polisi. Polisi segera menangkap pria itu sebelum ia berlari jauh. Dan rekan Polisi itu mendekati Na dan Sandri.
“Apa kalian baik-baik saja Dek?” tanya seorang Polisi wanita.
“Iya Bu, kami baik-baik saja,” jawab Sandri.
Na tetap diam saja dengan tatapan kosong. Sandri sungguh merasa heran dengan Na. Sandri menghela napas dan merangkul Na.
“Bu, kami akan memberi kesaksian tentang apa yang telah terjadi nanti saja, setelah kami menenangkan diri,” ucap Sandri kepada Polisi wanita itu.
“Baiklah, sebaiknya begitu, teman wanita mu terlihat sangat terkejut … ini kartu namaku, kalian bisa menghubungi nomor ini jika sudah siap memberikan kesaksian,” ujar Polisi wanita itu seraya menyerahkan kartu namanya.
Sandri pun mengambil kartu nama itu. Di kartu nama itu tertera nama Polisi wanita yaitu “Mawar”. Sandri tersenyum dan memasukkan kartu nama itu ke dalam saku jaketnya.
“Iya Bu, terima kasih banyak,” ucap Sandri.
Kemudian Sandri segera menuntun Na berjalan menjauh dari lokasi. Polisi yang tadi memborgol pria jahat mendatangi Mawar. Kemudian melihat Na dan Sandri yang berjalan menjauh.
“Kenapa kamu tidak membawa mereka ke kantor?” tanya Polisi itu yang bernama Eko.
Mawar tersenyum lalu berkata. “Biarkan mereka menenangkan diri terlebih dahulu,” jawab Mawar. Dan Eko hanya menganggukkan kepalanya lalu mereka kembali ke kantor membawa pria jahat.
*****
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Warna jingga yang sangat indah mulai terlihat di langit barat. Ditambah lagi dengan suara deburan ombak yang menenangkan.
Sandri masih berada di sisi Na yang masih saja terdiam setelah kejadian tadi. Sandri tidak tahu harus berbuat apa, maka dari itu Sandri mengajak Na ke pantai dan berharap Na bisa merasa lebih baik.
“Kak!” tiba-tiba saja Na memanggil Sandri.
Sandri terkejut dan segera menoleh ke arah Na. “Iya Na, katakan jika ada hal yang ingin kamu katakan padaku,” ucap Sandri.
“Terima kasih untuk hari ini karena telah membantuku, aku akan menghubungi Kakak besok jika aku siap untuk pergi ke kantor Polisi.”
Lalu setelah mengatakan hal itu, Na menoleh ke arah Sandri. “Aku baik-baik saja, Kakak bisa pulang sekarang, aku akan pulang sendiri nanti,” lanjut Na.
Sandri tidak berkata apa-apa, Sandri segera bangun dan beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Na. Na tidak menoleh sama sekali ke arah Sandri yang berjalan menjauh.
Setela Na merasa bahwa Sandri benar-benar sudah jauh, Na mulai meneteskan air mata. Na mengingat kembali masa lalu dari pria tadi.
“Apakah itu adalah aku dan Ibuku? Kenapa itu terlihat sangat mirip dengan kami berdua pada saat itu?” gumam Na.
Na pun bangun dari tempat dimana dia duduk dan masuk ke salah satu lesehan di dekat pantai. Na memesan makan malam, karena Na merasa sangat lapar dan lemas.
Sembari menunggu Na terus berpikir. “Tapi jika memang aku dan Ibu yang ada di ingatan masa lalu pria itu, kenapa aku tidak ingat padanya? … atau jangan-jangan ini hanya sebuah kemiripan?”
Pikiran Na terus berjalan, kadang dia bertanya, lalu menjawab kemudian menyangkal. Tidak lama kemudian pesanan Na pun sampai. Dan di saat yang sama, Na mendapatkan pesan dari Sandri.
(Isi pesan Sandri)
~”Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini, tapi aku berharap semua baik-baik saja. Jika kamu tidak ingin hadir ke kantor Polisi tidak apa-apa, aku yang akan menjelaskan semuanya nanti. Oh ya, aku sudah membayar makanan yang baru saja kamu pesan, dan aku juga sudah menghubungi Andre agar menjemputmu di pantai”.
Setelah membaca pesan Sandri, Na melihat ke sekeliling lesehan dan juga pantai yang kini sudah mulai gelap. Tapi Na tidak menemukan Sandri disana.
Ternyata setelah Sandri bangkit dari tempat duduknya, dia tidak meninggalkan pantai. Tapi Sandri terus mengawasi Na dari jauh hingga hari semakin gelap. Sandri juga baru ingat bahwa dia harus membeli makanan untuk Mamanya yang sedang hamil.
Di saat yang sama Na menuju lesehan dan memesan makanan. Sandri pun segera mendekati orang yang menerima pesanan Na dan membayar. Setelah itu Sandri menghubungi Andre kemudian mengirim pesan kepada Na sebelum dia pergi.
Karena Na tidak melihat keberadaan Sandri, Na pun lanjut makan malam. Tapi sebelum itu Na mengirim balasan pesan kepada Sandri.
(Isi pesan Na)
~”Terima kasih atas makanannya Kak”.
Sandri yang menerima pesan dari Na pun tersenyum. “Wanita yang menarik,” batin Sandri.
*****
(Flashback ketika Sandri dan Na berada di ruangan Kepala Sekolah)
“Na!” ucap Sandri lirih.
Na dan Kepala Sekolah menoleh secara bersamaan ke arah Sandri. Sandri yang tadinya sedang menunduk kini mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Na.
“Apa yang ingin Kakak katakan?” tanya Na.
Dengan ragu Sandri berkata, “Aku, aku akan menjagamu dari amarah mereka yang iri terhadapmu karena bekerja sama denganku.”
Na dan Kepala Sekolah saling tatap karena heran. “Menjagaku?” tanya Na mengulangi perkataan Sandri.
Sandri menjawab sedikit tergagap. “Em– iya … maksud aku itu, aku, aku akan menjagamu karena lomba ini akan menjadi sorotan dan bisa memancing para siswa baru untuk masuk ke dalam sekolah kita,” jelas Sandri dengan sedikit menyeringai.
Baik Na dan Kepala Sekolah menganggukkan kepala seraya berkata “ooo”, walau penjelasan Sandri masih ambigu bagi mereka.
BERSAMBUNG~~~