Bab 2

Andra menarik napas panjang dan berusaha kembali tersadar setelah tak sengaja mengingat peristiwa menyedihkan itu yang pernah terjadi di dalam kehidupannya.

Lamunan pemuda itu teralih oleh sebuah panggilan telepon yang masuk ke ponselnya di dalam genggaman. Pada layarnya tertera nama Tante Silvi. Wanita royal nomor dua yang sanggup memberikan Andra apa saja.

"Ya, Tante?" Andra segera mengangkat panggilan telepon dari Tante Silvi.

"Andra ... kamu bisa ke sini, Sayang?" Suara Tante Silvi lirih dan mendesah terdengar di telinga Andra.

Andra melirik jam di tangan kirinya. "Tante di mana?"

"Di Rumah Kebun. Kamu ke sini, ya. Cepetan, Sayang." Tante Silvi mendesak sekaligus memohon pada pemuda itu.

"Oke, tunggu aku, ya. Sebentar lagi aku akan ke sana."

Panggilan mati secara sepihak dilakukan oleh Tante Silvi. Andra bergegas ke tempat parkir. Untungnya pemuda itu selalu menyelipkan kunci mobil di saku celana. Sebab situasi yang mendadak seperti barusan, pasti akan membuat Andra lelah jika harus kembali ke apartemen hanya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian, Andra melajukan mobil sport putih membelah jalan tol yang cukup lenggang. Rumah Kebun yang dimaksud Tante Silvi adalah rumah peristirahatan dengan halaman luas yang terletak di pinggir Kota Bekasi.

Wanita kaya itu membeli satu hektar tanah dan membangun sebuah rumah asri di sana. Rumah yang dikelilingi tetumbuhan, pohon buah-buahan dan bunga yang terawat rapi. Jika Tante Silvi menyebutnya Rumah Kebun, Andra menyebutnya villa. Ya. Menurut Andra malah lebih mirip villa-villa di Puncak dengan udara yang menyejukkan.

Satu jam berkendara, akhirnya mobil pemuda itu berhenti di depan pagar tinggi bercat hitam. Security-nya bergegas membuka pintu pagar. Kebetulan mereka sering bertemu. Tante Silvi pun pernah memperkenalkan Andra pada pria asli daerah itu sebagai 'tamu istimewa'.

Pria itu tidak banyak bertanya lagi. Yang dia tahu Andra adalah orang istimewa bagi pemilik rumah alias majikannya sendiri. Sehingga si security tak perlu lagi banyak tanya tentang tujuan Andra datang ke sana.

Ponsel Andra kembali bergetar tak sabar dan berdering lagi. Pemuda itu mengangkatnya secara cepat.

"Ini aku udah di depan, Tante. Baru parkirin mobil."

"Kamu buruan. Langsung aja masuk ke kamar Tante, ya. Cepat!" Desah napas Tante Silvi begitu mendesak.

Mau tidak mau Andra harus turun dari mobil secara tergesa-gesa. Dia menyempatkan diri mengangguk pada Pak Udin—security—lalu melangkah cepat melewati anak-anak tangga menuju lantai dua rumah itu.

Andra mengetuk pintu bercat putih berpadu gold sebelum mendorongnya perlahan-lahan. Di atas ranjang ukir besi, Tante Silvi telentang tanpa busana. Matanya merem melek memainkan sebuah alat berbentuk 'milik pria' yang terbuat dari plastik jelly berwarna kuning.

Walau sadar akan kehadiran Andra, Tante Silvi tetap tak mau menghentikan kegiatannya itu. Tangannya yang lain malah terjulur pada pemuda itu. "Andra, bantuin Tante. Tante on berat."

"Tante abis minum apa, sih?" Andra menggoda. Namun, tetap melangkah ke ranjang mendekati wanita yang tanpa busana itu.

"Jangan nakal. Ayo, bantuin." Tante Silvi merengek lagi.

Tangan Tante Silvi meraih tangan Andra untuk diarahkan ke area pribadi milik wanita itu. "Kamu yang mainin. Cepetan. Ayo."

Andra menurut saja. Dia tak mau membikin Tante Silvi berubah menjadi bad mood. Jempol Andra membelai tonjolan kecil daging yang mencuat di tengah-tengah area sensitif Tante Silvi.

Tante Silvi mendesah. "Cium, Ndra. Please ... mainin lidahmu di situ."

Andra mendekatkan bibir. Aroma khas menguar di seputaran hidungnya. Dengan ujung lidah, Andra mainkan tonjolan itu. Sesekali mengulumnya, mengecapnya. Telunjuk Andra juga bergerak nakal, menusuk-nusuk ke lubang Tante Silvi yang sudah basah oleh cairan bening agak lengket.

Tante Silvi tiba-tiba bergerak dan meracau tak karuan. Tangannya berusaha memasukkan kembali mainan tadi agar melesak lebih ke dalam.

Andra menepis tangan Tante Silvi yang tidak sabaran. Andra sambar benda itu. Dilesakkan keluar masuk dan bergoyang cepat dengan lidahnya masih bergerak nakal.

Tante Silvi semakin menggila. Di satu kesempatan, dia melenguh panjang sambil meremas rambutnya sendiri. Tubuhnya menegang lalu berhenti bergerak, lemas lunglai.

"Udah?" Andra tersenyum.

"Gila, yak. Kalo gak kamu bantuin, Tante gak sampe-sampe dari tadi." Bibir tebal hasil operasi yang dijalani Tante Silvi setahun lalu, tersungging senyum.

"Berarti aku gak dibutuhin lagi, nih? Aku pulang, ya?" Andra sungguh suka menggoda wanita itu.

"Eits ... jangan dulu. Kamu, kan, tau sebelum lima ronde, Tante gak bisa tidur nyenyak." Wanita hiperseks itu menarik dan mendorong tubuh Andra hingga telentang di atas ranjang.

Jemari Tante Silvi yang berhias kutek berwarna hitam, mengendurkan tali pinggang Andra. Membuka resleting lalu membelai milik pemuda itu yang hanya terlapisi celana dalam saja.

Seperti biasa, bersama Tante Silvi, Andra tidak perlu menguras habis tenaga. Bak bayi Andra diperlakukan oleh Tante Silvi. Andra hanya baring telentang dan pasrah pada semua aksi wanita itu.

"Hari ini kamu gak ketemu Siska, Ndra?"

Andra menggeleng. "Belum, Tante."

"Berarti hari ini kamu punyaku, ya?"

Andra terkekeh. Namun matanya langsung berubah meredup saat Tante Silvi memasukkan milik Andra ke dalam mulutnya. Lidah wanita itu menjilat ujung kepala rudal Andra dan dua bolanya yang bergelantung. Jemari Tante Silvi pun menggenggam erat batangan Andra yang keras seperti otot-otot Samson, pelan-pelan diurutnya. Naik-turun.

Akan tetapi tetap saja Andra harus pandai mengontrol diri. Andra tidak boleh keluar sebelum mendapat izin dari wanita itu.

"Akhhh ...." Andra meraih kepala Tante Silvi. Andra sibak rambutnya yang bergelombang. Andra tekan sedikit kepala Tante Silvi lebih mendekat agar milik Andra bisa sepenuhnya berada dalam kuluman wanita itu. Tante Silvy hendak menyudahi, tapi Andra masih menahannya sebentar. "Tahan dulu, Tante. Akhhh ...."

Berkat tak tahan, Andra kelepasan. Andra mengeluarkan cairan dalam mulut wanita itu. Tante Silvi tak marah. Malah meneguk dan menjilati cairan Andra tanpa sisa.

"Sorry, Tante. Aku udah gak tahan. Abis Tante menggairahkan, sih." Andra senyum malu.

"Nakal kamu, ya." Tante Silvi menepuk pelan pipi Andra. "Tapi kamu masih sanggup, kan, beberapa ronde lagi?"

"Tentu dong. Tuh, lihat. Si Otong udah bangun lagi." Andra menunjuk ke arah miliknya yang sudah kembali perkasa.

Tante Silvi duduk di atas perut Andra. Sekali lesakan, rudal pemuda itu sudah menusuk lubang sensitif wanita itu.

Andra merem melek setelah merasakan rapet ,legit, dan menjepit. Selain operasi hidung dan bibir, Tante Silvi juga mengoperasi milik pribadinya.

"Akhhh ...." Sensani nikmat sekali lagi Andra rasakan saat Tante Silvi mulai bergerak naik turun di atas pemuda itu yang masih dengan posisi telentang. Semakin lama semakin cepat tempo yang Tante Silvi buat memompa keperkasaan Andra.

Di detik berikutnya, Tante Silvi mengejang dan berhenti. Andra bisa merasakan cairan hangat menyelubungi benda miliknya.

Tante Silvi bukanlah wanita egois. Tau bahwa Andra belum selesai dia kembali bergerak. Kedua tangan Andra menangkap gunung kembar Tante Silvi yang kenyal. Desahan dan erangan wanita itu berhasil memancing libido Andra. "Aku mau keluar, Tante."

"Di dalam aja. Gak apa-apa, kok." Tante Silvi menjawab di sela napas yang memburu.

Tubuh Andra menegang. Dua sama. Setelah itu Tante Silvi memberikan waktu istirahat hanya sepuluh menit kepada Andra. Hingga adu raga mereka terjadi lagi hingga lima ronde.

***

Hari sudah gelap. Andra merebahkan diri dengan Tante Silvi masih berbaring manja di sebelahnya dalam balutan selimut berwarna kelabu.

Ponsel Andra tiba-tiba berdering. Tanpa melihat pun dia sudah tau bahwa itu panggilan dari Tante Siska.

"Pergilah, Ndra. Temui Siska. Habis ini Tante mau kumpul dengan teman-teman Tante yang lain." Tante Silvi meraih ponselnya. Berkutat sebentar dengan benda itu, lalu dia perlihatkan layarnya pada Andra. "Tante sudah transfer kamu 20 juta, ya."

Andra mengecup pucuk kepala Tante Silvi. "Makasih, Tante." Bergegas pemuda itu bangkit berdiri. Dia meraih baju dan celana yang bertebaran di atas lantai. Andra memakainya kembali secara terburu-buru.

"Tante yang makasih. Kamu mau ke sini jauh-jauh dari Jakarta." Tante Silvi menopang dagu dengan kedua telapak tangannya sembari terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Andra.

Tanpa banyak bicara lagi Andra melambai pada Tante Silvi lalu menuju pintu. Hari sudah gelap tentu saja.

Andra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tak ingin membuat Tante Siska menunggunya terlalu lama.

Di jalanan yang sepi, Andra meraih tutup dasbord lalu membukanya. Andra mengambil sebotol minuman penambah stamina dan menegaknya sampai habis tak bersisa.

Andra sangat membutuhkan minuman ini untuk menghadapi kedua wanita haus kasih sayang dan belaian laki-laki itu.

Di depan sebuah rumah besar bernuansa putih, Andra menghentikan laju kendaraan roda empat miliknya. Rumah itu tanpa penjaga. Namun, semua fasilitas yang terpasang sangat canggih. Pagar yang terbuka sendiri dan juga pintu yang kuncinya hanya membutuhkan sandi-sandi serta sidik jari.

Seperti biasa Andra bebas melenggangkan kaki masuk ke dalam kamar besar di sisi kolam renang. Tak ada sesiapa pun di situ. Namun, telinga Andra mampu menangkap gemericik air dari arah kamar mandi.

Secara mengikuti naluri, Andra melepas semua pakaian tanpa banyak bicara lalu melangkah saja ke sana. Dia mendapati sebentuk badan sintal sedang membelakangi. Andra peluk saja dari belakang, lantas ikut bergabung di bawah curahan air yang berasal dari keran shower.

Tangan Andra mulai bergerak nakal. Jemarinya mendekap sepasang gunung kembar Tante Siska dan meremasnya penuh perasaan. Wanita itu melentingkan tubuhnya ke belakang. Menungging, memasang, bersiap menerima milik Andra yang sudah menegang.

***

Bab 3

Andra sedikit merendahkan kaki-kakinya. Sekali lesak, kewanitaan Tante Siska sudah berhasil Andra bobol. Wanita itu memekik tertahan lalu mendesah. Kali ini Andra yang menggempurnya habis-habisan dari arah belakang. Pemuda itu mengentak-entakkan rudal miliknya menembus area sensitif yang sudah basah.

Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Tante Siska menegang. Dinding-dinding kewanitaannya bisa Andra rasakan berkedut dan mencengkeram.

Andra mencabut dan menggenggam rudal miliknya. Dia membalikkan tubuh Tante Siska menghadap ke arahnya. "Isap, Tante. Please ...."

Tante Siska tersenyum lalu berjongkok. Lidahnya yang nakal memainkan kepala rudal milik Andra, menari-nari, menggelitik membuat sensasi nikmat tiada tiara bagi Andra.

Tante Siska memang terbaik jika mengenai urusan ini. Dia pintar menerbangkan Andra hingga ke awang-awang.

Andra sedikit menggerakkan pinggul. Bergoyang seirama gerakan kepala wanita itu. Namun, Andra belum mau menyerah kalah. Andra menyambar bahu Tante Siska dan membuatnya kembali berdiri. Leher Tante Siska yang sekal dan wangi, Andra ciumi bertubi-tubi.

Bibir Andra turun ke bawah, dia menghisap secuil puting yang keras. Andra benamkan wajahnya di antara gunung kembar Tante Siska yang wangi dan montok.

Andra sangat menyukai aroma alami tubuh Tante Siska.

"Sekalian urutin, Tante. Disayang-sayang, dong," kata Andra saat dia merasakan tangan Tante Siska meraba-raba rudal milik Andra.

Tante Siska patuh. Jemari tangan wanita itu mengurut batangan milik Andra. Dari ujung hingga pangkal. Jika dengan Tante Siska, Andra bisa berlama-lama menikmatinya.

Andra mengambil lagi kendali, lalu dia mengangkat sebelah paha Tante Siska. Lagi-lagi Andra melesakkan rudal ke lubang di sana. Tante Siska merem melek dibuatnya. Begitu menikmati tiap gerakan pinggul Andra. Untuk kedua kalinya Tante Siska mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.

"Kamu malah belum, Ndra. Tante bantu, ya."

Tante Siska mendorong mundur tubuh Andra, mendudukkan pemuda itu ke atas penutup toilet duduk. Sambil membelakangi, Tante Siska mengambil posisi.

"Akhh ... sungguh nikmat." Andra berkata. Dia merasakan kehangatan bokong montok wanita itu.

Tante Siska mulai bergerak. Naik turun. Andra sembari memeluk tubuh Tante Siska dari belakang sambil menciumi leher dan meremas gunung kembar Tante Siska.

"Ahkk ... sungguh nikmat, Tante."

"Aku keluar sekarang, Tante."

Seakan tak peduli, Tante Siska semakin memompa bokongnya. Di saat Andra hendak mencapai puncak, dia menahan gerakan Tante Siska. Membiarkan rudal milik Andra terbenam keseluruhan dan berkedut di dalam liang wanita itu dengan kedua telapak tangan yang masih meremas payudara dan mengecup belakang leher Tante Siska.

"Akhhh ... Tante. Hmm."

***

Mereka berdua makan malam di sisi kolam renang. Tidak ada pembantu atau pun tukang kebun. Tante Siska meminta para asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya itu untuk pergi jika Andra datang berkunjung.

Jadi hanya ada mereka berdua saja sekarang. Sambil mendengarkan beberapa keluhan Tante Siska, Andra menikmati irisan daging steak-nya perlahan-lahan.

"Tadi kenapa teleponku gak diangkat, sih, Ndra?" Tante Siska memasukkan potongan besar daging ke mulutnya. Secara sensual menjilati saus yang menempel pada bibir. Andra tak ingin melewati pemandangan itu dan tak segera menjawab tanya dari Tante Siska.

"Ndra?" Tante Siska mengulang. Heran menatap Andra.

"Bibir Tante seksi." Andra nyengir.

"Kamu pinter, ya mengalihkan pembicaraan."

Andra meraih segelas air putih lalu meneguk setengah isinya. "Tadi aku ganti ban dulu, Tante. Bocor pas di jalan tol."

"Kok, bisa?"

Andra mengedik bahu. "Ya ... mungkin pas lagi apes."

Itu hanya alasan Andra saja. Hubungannya dengan Tante Silvi terjadi di belakang Tante Siska. Tante Siska sama sekali tidak ingin berbagi tubuh Andra dengan wanita lain, sedangkan Tante Silvi sendiri tau akan hal itu. Tante Silvi memaklumi jika dirinya hanya sebagai ban serep saja.

Tante Siska menyelesaikan makannya. Wanita itu mendorong piring yang masih berisi setengah ke tengah meja. Wanita itu berdiri lalu melepaskan piyama handuk yang dia kenakan. Tubuhnya kini menggoda dengan terbalut bikini hitam. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus.

"Tante mau berenang," katanya pada Andra.

Byur!

Tante Siska melompat ke dalam air. Mata Andra tak pernah lepas dari body-nya yang bagai gitar Spanyol.

Tante Siska berenang ke ujung dengan gaya bebas. Berbalik arah dengan gaya telentang. Gunung kembarnya yang padat berisi, menyembul di balik bikini. Mengapung mengkilat tertimpa sinar lampu sisi kolam renang.

Libido Andra naik kembali. Tanpa ragu, pemuda itu melepaskan celana boxer-nya.

Kini badan Andra bugil. Sekali lompat, Andra menyusul Tante Siska ke dalam kolam renang. Andra telah berada di sebelah Tante Siska.

"Hei, kamu tumben mau ikutan?" Tante Siska terperangah.

"Aku gak tahan dengan ini." Sekali rengkuh, Andra menarik tubuh Tante Siska. Pemuda itu memepetkan tubuh Tante Siska ke tepian kolam. Satu kali tarikan tali, bikini Tante Siska terlepas. Sepasang gunung sintal, mengapung bebas. Sekali lahap, Andra menyambar dengan mulutnya. Meremas dan menggigit pelan puting dengan bibir.

Wanita itu melenguh. Menikmati setiap sentuhan bibir Andra. Pemuda itu memang menggila jika bersama dengan Tante Siska. Tak ayal waktu yang dihabiskannya, hanya bercinta saja dengan wanita itu.

"Masukin sekarang, Ndra, ayo masukin!" Tante Siska terpekik-pekik tidak sabaran.

Andra terkekeh dibuatnya. Jemari Andra turun ke bawah, menyibak tali bikini yang dipakai Tante Siska.

Tante Siska telah mengambil posisi, melebarkan kedua pahanya.

Slup!

Rudal milik Andra kembali membobol kewanitaan Tante Siska.

"Ahhh ...." Tante Siska mendesah.

Kecipuk-kecipuk air terdengar menampar-nampar tepian dinding kolam renang saat pasangan berbeda usia itu saling beradu raga.

***

Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam. Andra pamit pulang meski Tante Siska mati-matian menahan kepergiannya. Percuma saja Andra menginap. Andra tidak akan bisa tidur nyenyak di sebelah wanita seksi itu.

Mobil yang Andra kendarai tetap melaju perlahan, meski di simpang empat lampu merah tak ada kendaraan sama sekali.

Menoleh ke arah kanan, Andra menatap seorang ibu dan dua orang anaknya saling peluk dalam dinginnya suhu udara malam. Andra mengedarkan mata ke sekitar. Tak ada lagi warung makan atau toko yang buka.

Andra selalu merasa kasihan jika melihat kondisi seseorang yang terlunta-lunta di jalanan. Rasa dingin yang menusuk kulit, rasa lapar yang menyiksa serta sakit karena cemoohan orang, dulu pernah Andra rasakan waktu dulu ketika pemuda itu memutuskan untuk pergi dari rumah orang tua asuhnya.

Untungnya ada beberapa pengemis yang menawari Andra makanan. Meski hanya nasi putih dan tempe sepotong, perlakuan mereka terus melekat dalam ingatan Andra.

Itu sebabnya, Andra tidak pernah perhitungan pada kaum papa di jalanan. Seringkali Andra memberi uang atau langsung mengajak mereka makan di warung.

Namun, kali ini Andra tidak bisa berbuat banyak. Andra mengetuk-ngetuk setir mobil sambil mencari akal. Ah ... tiba-tiba saja Andra teringat rumah makan cepat saji yang buka selama 24 jam di depan apartemen tempat tinggalnya. Jaraknya dari lampu merah ini tidak begitu jauh lagi.

Andra injak gas setelah lampu hijau menyala. Dia melajukan mobil secara cepat. Memasuki jalur drive thru, Andra memesan empat paket porsi besar ayam goreng beserta nasi, kentang dan juga minuman soda.

Tak menunggu lama, bingkisan berisi makanan tersebut sudah berada di jok sebelah Andra. Andra kendarai lagi mobil ke arah tadi. Lalu sengaja menghentikan lajunya di depan ketiga orang berbaju lusuh yang tidur beralaskan kardus bekas.

Suara mesin mobil Andra, ternyata membangunkan sang ibu. Sehabis mengucek mata dia bangkit duduk. Andra berjongkok di depannya, dengan tangan terjulur menyodorkan tiga bingkisan tadi.

"Makan bareng aku, yok, Bu? Bangunkan anak-anak Ibu. Lebih seru kalo kita makan rame-rame."

Wanita berkulit kecokelatan itu tersenyum senang lantas mengangguk. Dia segera membangunkan kedua bocah dengan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.

Anaknya yang lebih besar bangun terlebih dulu. Matanya berbinar menatap gambar di kantong plastik yang tergeletak di depannya. Dia juga ikut membantu ibunya membangunkan sang adik.

Respons bocah yang kedua sama, semringah. Seperti baru pertama kali melihat makanan yang mahal.

Lima menit kemudian Andra dan ketiga anak-beranak itu makan dengan lahap. Andra sendiri duduk dengan beralaskan kardus yang dipinjamkan si ibu, duduk tanpa canggung menyantap makanan bersama-sama dengan mereka.

Bagi Andra, rasanya seperti mengulang masa lalu. Duduk di trotoar tepi jalan, makan bersama-sama dengan para pengemis. Tak peduli pada tatapan heran atau bergidik jijik dari orang-orang yang berlalu lalang. Bagi Andra saat itu, yang penting hari ini dia dapat makan kenyang dan tidur dengan perut terisi.

Urusan besok, ya, besok saja. Besok mereka bisa bekerja kembali dan mengulang rutinitas yang sama. Karena tidak seperti orang kaya, mereka tidak pernah memikirkan masa depan. Memikirkan ingin jadi apa atau seperti apa nantinya. Tidak menjadi beban orang lain saja mereka sudah bersyukur.

Bagi mereka, impian hanya beban yang membuat diri menjadi malas bekerja keras untuk mencari sesuap nasi.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED